Anda di halaman 1dari 5

REKONSTRUKSI Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang

disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%. Yang harus diutamakan pilihan-pilihan penanggulangan lainnya yang bergantung kepada : a) Nilai lahan atau struktur bangunan itu dibanding dengan biaya langkah-langkah perlindungannya. b) Kesempatan-kesempatan untuk menerapkan peraturan penggunaan tanah dan ketersediaan lokasi-lokasi alternatif. c) Jumlah orang yang terimbas langkah-langkah itu. d) Skala kerugian yang diperkirakan akan menimpa. e) Langkah-langkah perbaikan dan perlindungan dapat ditambahkan pada lahan itu sendiri misalnya perbaikan sistem pengairan tanah (penambahan bahan-bahan yang cukup mampu mengikuti perubahan alur tanah), dan f) Perombakan kemiringan tanah (pengurangan kemirngan yang curam, sebelum mulai dilakukan pembangunan di sana). Dinding-dinding beton yang kuat mungkin dapat menstabilkan lokasi-lokasi bangunan. Bisa juga dipertimbangkan rekayasa-rekayasa teknik berskala besar. Kerentanan bangunan yang didirikan di atas jalur kelongsoran hampir 100%. Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain: a) Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap). b) Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pembangunan). c) Vegetasi kembali lereng-lereng. d) Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian. Tindakan yang dapat dilakukan untuk perlindungan dan perbaikan pasca bencana dalam : a) Pembuatan saluran drainase yang memiliki fungsi : Mengalirkan kelebihan air sehingga tidak merusak tanah, tanaman, dan atau bangunan konservasi lainnya. Mengurangi laju infiltrasi dan perkolasi sehingga tanah tidak terlalu jenuh air

b) Pembuatan Saluran teras yang memiliki fungsi : Menampung air yang mengalir dari tampingan teras Memberikan kesempatan bagi air untuk masuk ke dalam tanah. c) Pengadaan Saluran pembuangan air (SPA) yang berfungsi : Menampung dan mengalirkan air dari saluran pengelak dan atau saluran teras ke sungai atau tempat penampungan/pembuangan air lainnya tanpa menyebabkan erosi. d) Pembuatan Bangunan terjunan air (BTA) yang berfungsi : Mengurangi kecepatan aliran pada SPA sehingga air mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak. Memperpendek panjang lereng untuk memperkecil erosi e) Pembangunan rangka penahan material longsor Brojong yang berfungs : Penahan material longsor dengan volume yang kecil. Konstruksi bangunan tersebut dapat menggunakan bahan yang tersedia di tempat misalnya bambu, batang dan ranting kayu. Untuk menanggulangi longsor dengan volume besar maka bronjong dibuat dari susunan batu dalam anyaman kawat. Sistem ini juga cocok kalau batu yang ada tidak terlalu besar (diameter antara 30-40cm) untuk membangun sistem dari batuan lepas

f) Sumbat jurang bronjong silinder yang berfungsi : Menahan material longsor dan sedimen. Sumbat jurang terdiri dari anyaman kawat berbentuk silinder (sosis) yang diisi dengan batu. Sistem ini lebih fleksibel dan lebih murah dari sistem bronjong g) Pembuatan Bangunan penguat tebing yang berfungsi : Menahan longsoran tanah pada tebing yang sangat curam (kemiringan lebih dari 100%) yang sudah tidak mampu dikendalikan secara vegetatif.

Memperkuat tebing. h) Pembangunan Trap-trap terasering untuk memperkecil sudut lereng yang berfungsi : Menahan longsoran tanah pada tebing/lahan yang curam. Memperkuat lahan berteras, agar bidang olah dan tampingan teras lebih stabil. Melengkapi dan memperkuat cara vegetatif. i) Dam pengendali sistem susunan batuan lepas (loose-rock check dam) yang berfungsi : Menampung erosi, aliran permukaan, dan material longsor yang berasal dari lahan bagian atas. j) Dam pengendali sistem bangunan permanen (check dam) yang berfungsi : Merupakan prioritas terakhir dari metoda pengendalian longsor secara mekanik karena sistem ini membutuhkan biaya yang sangat mahal. Hanya dilakukan apabila metoda lain sudah tidak efektif atau tidak mampu lagi mengendalikan longsor. Merupakan pelengkap dari metoda-metoda vegetatif dan mekanik lainnya. Mengendalikan dan mencegah bahaya banjir, sehingga tidak menjadi bencana yang lebih besar bagi penduduk dan lahan yang berada di bawahnya.

PEMULIHAN (RECOVERY) Terdiri dari serangkaian kegiatan yang merupakan bentuk respon cepat sebagai bagian dari upaya pemulihan (recovery) sebelum dilakukan rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana yang lebih terencana. Tahapan ini dilakukan secara lebih terencana. Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan. Kegiatan pemulihan mencakup kegiatan jangka pendek maupun jangka panjang untuk penanggulangan tanah longsor antara lain antara lain: a) Penyelamatan harta benda yang mungkin masih dapat diselamatkan b) Penataan lokasi atau padat karya untuk pemulihan cepat sarana prasarana umum yang rusak akibat bencana c) Pembersihan kawasan pemukiman yang dapat digunakan kembali. d) Bantuan sarana produksi pertanian

e) Pemberian modal bantuan modal kerja f) Menyiapkan tempat-tempat penampungan sementara bagian para pengungsi seperti tenda-tenda darurat g) Menyediakan dapur-dapur umum h) Menyediakan air bersih dan sarana kesehatan i) Pemberian bantuan pangan dan pelayanan medis j) Pelaksanaan konservasi air dan sumber air di daerah tangkapan hujan k) Penciptaan alat-alat sanitasi yang mampu memaksimalkan kemampuan daya serap air l) Memberikan dorongan semangat bagi para korban bencana gar para korban tersebut tidak frustasi dan lain-lain m) Koordinasi dengan aparat secepatnya

REHABILITASI Tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dilaksanakan secara lebih terarah dan terencana dalam upaya normalisasi prasarana dan fasilitas umum yang sangat penting atau vital dan mendesak bagi keberlangsungan hajat hidup masyarakat. Tahapan ini dilaksanakan berdasarkan atas hasil pendataan terhadap sarana prasarana pedesaan yang mengalami kerusakan dan membutuhkan upaya perbaikan dan rekontruksi kembali. Pendekatan kegiatan yang dilakukan tetap berbasis masyarakat dan dengan mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat padat karya dengan tujuan memperkuat dan atau menjaga kohesi atau ikatan sosial (gotong royong). Sekaligus memberikan pendapatan kepada masyarakat atau warga. Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah dengan dana yang diterima anggota masyarakat sebagai upah kerja atau karena terjadinya transaksi bahan material dan lain-lain, dapat memicu proses-proses produksi ekonomi dan konsumsi sehingga mampu membantu pemulihan ekonomi masyarakat dalam jangka pendek.

PREVENSION Upaya penanggulangan melalui : 1. Mencegah penimbunan beban pada lereng yang terjal. 2. Mencegah pemotongan lereng di bagian kaki pada lereng terjal. 3. Mengendalikan penggerusan sungai yang dapat mengganggu kestabilan lereng.

4. Mengendalikan aliran air permukaan pada lereng. 5. Membuat bangunan penahan pada lereng. 6. Melakukan reboisasi/penghijauan dengan jenis tanaman tertentu, pengaturan penggunaan lahan terutama untuk pemukiman. 7. Membuat saluran terbuka untuk menyalurkan air permukaan, agar tidak terjadi genangan air. 8. Membuat saluran bawah permukaan untuk menyalurkan air tanah yang keluar berupa rembesan air. 9. Menutup retakan dengan tanah lempung. 10. Membuat undak/teras untuk memperkecil sudut lereng. 11. Melakukan pemadatan tanah untuk supaya stabilisasi tanah pada lereng. 12. Disarankan penggunaan lahan yang berupa perbukitan dan pegunungan ditanami tanaman yang berakar kuat. 13. Pemotongan tebing atau penggalian tebing hendaknya menghindari pemotongan yang membuat kemiringan semakin terjal.