Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainankelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I, yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi),

impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit), impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun), impotence (impotensi). Masalah kesehatan utama tersebut di atas yang sering terjadi pada lansia perlu dikenal dan dimengerti oleh siapa saja yang banyak berhubungan dengan perawatan lansia agar dapat memberikan perawatan untuk mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin. B. RUMUSAN MASALAH 1. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia 2. Perawatan lansia sehat 3. Perawatan lansia sakit

BAB II PEMBAHASAN

A. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia menurut Depkes, dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan keluarga, Panti Werda maupun Puskesmas, yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti. Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain: 1. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu dilakukan sendiri. Meskipun demikian, perlu mendapat bimbingan dan pengawasan yang berkesinambungan serta bantuan untuk mencegah terjadinya faktor resiko tinggi dan agar tidak mempercepat ktergantungan kepada orang lain. Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariasi serta mudah dicerna, dan kesegaran jasmani. ( Disarikan dari DEPKES RI, 1999, Pedoman Pembinaan Usia Lanjut) 2. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain, hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet). B. Lansia Sehat Golongan lansia ini secara fungsional masih mandiri atau tidak bergantung pada orang lain. Aktifitas hidup sehari-hari masih penuh walaupun mungkin ada keterbatasan dari segi sosial ekonomi. Asuhan keperawatan dan pelayanan sosial yang diperlukan adalah primary prevention, yaitu berupa health promotion dan specific protection.

Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dan pelayanan sosial harus mampu memberi motivasi dan memfasilitasi lansia. Misalnya dengan membentuk klub lansia atau klub warga senior. Dalam istilah sosial klub ini disebut Karang Werda. Didalam klub ini lansia yang masih mandiri dapat mengadakan beberapa kegiatan fisik/rohani, kejiwaan, social-ekonomi secara bersama-sama. Salah satu kegiatan ini berupa day care atau pusat kegiatan warga senior yang kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan, perawatan fisik ringan, olahraga bersama, atau senam lansia. Selain itu upaya prevensi dan promosi kehatan lain secara bersama-sama atau kegiatan lain yang mungkin bermanfaat untuk semua anggota klub. Misalnya, membentuk usaha ekonomi koperasi. Disini peran perawat sangat penting. Perawat harus mampu menjadi motivator dan keberhasilan kegiatan ini bergantung pada bagaimana kemampuan perawat berkomunikasi dengan lansia. C. Lansia Sakit 1. Lansia dengan penyakit akut dan kronis Populasi golongan ini jelas memerlukan pelayanan kesehatan dan keperawatan khusus. Misalnya memerlukan bangsal akut atau kronis dan rehabilitasi, termasuk penyediaan dana perawatan. Populasi lansia yang termasuk golongan ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yakni: a. Lansia yang sakit akut, ringan atau sedang. Golongan ini memerlukan pelayanan kesehatan atau asuhan keperawatan di Puskesmas atau dokter praktik swasta dan bila perlu dirujuk ke rumah sakit (bangsal geriatri akut). b. Lansia dengan sakit akut berat. Golongan ini memerlukan asuhan keperawatan dan pelayanan geriatri yang lebih lengkap dan spesialistik, karenanya perlu dirawat dibangsal geriatri akut suatu rumah sakit. 2. Lansia yang tidak sadar Ketidaksadaran mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik lansia mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima dan lansia tidak dapat merespon kembali stimulus teresebut. Keadaan tidak sadar dapat terjadi akibat gangguan organik pada otak, trauma otak yang berat, syok, pingsan, kondisi anatesi, gangguan berat yang terkait dengan penyakit tertentu. Seringkali timbul pertanyaan tentang perlu atau tidaknya perawat atau pemberi asuhan berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan kesadaran ini. Bagaimanapun secara etis, penghargaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan mengharuskan penerapan komunikasi pada lansia yang tidak sadar. Pada saat berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan kesadaran, hal yang perlu diperhatikan, yakni perawat atau pemberi asuhan harus berhati-hati ketika melakukan pembicaraan verbal dekat dengan lansia karena ada keyakinan bahwa organ pendengaran merupakan organ terakhir yang mengalami penuruna kemampuan menerima rangsangan pada individu yang tidak sadar. Individu yang tidak sadar seringkali dapat mendengar suara dari lingkungannya walaupun ia tidak mampu meresponnya sama sekali.
3

D. Tindakan Keperawatan Yang Lazim Dilakukan Pada Lansia Sehat Sesuai dengan permasalahan yang dialami lansia disusun perencanaan dengan tujuan agar lansia / keluarga dan tenaga kesehatan terutama perawat baik yang melakukan perawatan di rumah maupun dipanti dapat membantu lansia, sehingga dapat berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik, psikologis dan sosial dengan tidak tergantung pada orang lain. Tujuan tindakan keperawatan pada lansia diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan dasar antara lain : 1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi 2. Meningkatnya keamanan dan keselamatan 3. Memelihara kebersihan diri 4. Memelihara keseimbangan istirahat / tidur 5. Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi yang efektif Tindakan Keperawatan : 1. Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Peran pemenuhan gizi pada lansia adalah untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran dan memperlambat timbulnya penyakit degeneratif seperti kerapuhan tulang (osteoporosis) dan penyakit yang terjadi pada lansia sehingga dapat menjamin hari tua yang sehat dan tetap aktif. Gangguan nutrisi pada lansia dapat disebabkan oleh factor fisik, psikologi dan sosial. Penurunan alat penciuman dan pengecapan, pengunyahan kurang sempurna dan rasa kurang nyaman saat makan karena gigi geligi kurang lengkap, rasa penuh diperut dan sukar buang air besar karena melemahnya otot lambung dan usus akan menyebabkan nafsu makan lansia kurang. Perubahan peran karena tugas-tugas perkembangan pada lansia menyebabkan timbulnya kecemasan dan putus asa, dapat menyebabkan lansia menolak makan atau makan berlebihan. Seringkali keluarga / lingkungan sangat melindungi lansia, tidak memberi kesempatan untuk menentukan keinginan lansia, hal inipun menyebabkan ia menolak makan atau makan berlebihan Masalah gizi yang sering timbul pada lansia adalah : a. Gizi berlebihan Kebiasaan makan banyak waktu muda sukar dirubah. Apabila pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas dapat menyebabkan berat badan berlebihan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya penyakit jantung, penyempitan pembuluh darah, kencing manis, tekanan darah tinggi dan sebagainya. b. Gizi berkurang Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan berkurang dari normal. Bila pemenuhan protein pun berkurang dapat menyebabkan banyak kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki misalnya : rambut cepat rontok, daya tahan terhadap penyakit organ tubuh yang vital. Gizi kurang dapat disebabkan oleh masalah sosial ekonomi gangguan penyakit, serta ketidaktahuan keluarga akan makanan bergizidan kebiasaan makanan yang salah dari usia mudah. c. Kekurangan vitamin
4

Disebabkan karena kekurangan konsumsi buahdan sayuran dalam makanannya. Apalagi bila hal ini ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan. d. Kelebihan vitamin Sering usia lanjut mencoba bermacam-macam vitamin tanpa resep dokter, yang sebenarnya tidak mereka perlukan. Dosis yang berlebihan dari vitamin ini akan terbuang tanpa guna dan mempertinggi biaya. Kebutuhan gizi pada lansia kurang lebih sama dengan kebutuhan nutrisi pada orang dewasa normal, hanya yang mungkin diubah adalah jenis yang utama, bentuk dan pengurangan porsi untuk mengimbangi aktivitasnya. a. Kalori, pada lansia pria adalah 2.100 kalori sedangkan untuk wanita adalah 1.700 kalori, kebutuhan tersebut dapat dimodifikasikan tergantung keadaan usia lanjut, misalnya gemuk atau kurus atau disertai penyakit lain (kencing manis, dll). b. Karbohidrat, dianjurkan 60% dari jumlah kalori. Berikan golongan gula yang mudah diserap karena tidak mengalami pengubahan lebih lanjut pada proses metabolisme, misalnya madu, nasi, buah-buahan yang manis. c. Lemak, pemakaian yang berlebihan tidak dianjurkan karena menyebabkan timbulnya hambatan pada pencernaan dan terjadinya penyakit. Berikan 15 % 20 % dari total kalori yg dibutuhkan. d. Vitamin & mineral, kebutuhannya sama dengan usia muda. Pemenuhan kebutuhan didapatkan dari makanan berupa sayur-sayuran & buah-buahan. e. Air, kebutuhan sekitar 6-8 gls/hr karena menurunnya fungsi ginjal & mencegah konstipasi maka pemasukan air yang banyak sangat dianjurkan. Rencana Makanan Untuk Lansia: a. Berikan makanan porsi kecil tapi sering b. Banyak minum & kurangi makan. Dapat meringankan pekerjaan ginjal & dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan. Hindari makanan yang terlalu asin c. Beri makanan yg mengandung serat, agar buang air besar menjadi mudah & teratur d. Batasi pemberian mkanan yang mengandung tinggi kalori agar badan dalam keadaan seimbang seperti: gula,makanan manis,minyak,makanan berlemak. e. Membatasi minum kopi dan teh, bila perlu diencerkan untuk merangsang gerakan usus & menambah nafsu makan. 2. Meningkatkan Keamanan & Keselamatan Lansia Kecelakaaan sering terjadi pada lansia antara lain: jatuh, kecelakaan lalu lintas dan kebakaran. Hal ini berkaitan dengan proses penuaan dimana fleksibilitas dari kaki mulai berkurang, ditandai dengan timbulnya masalah mobilisasi akibat nyeri, pada sendi-sendi. Situasi tersebut menyebabkan Usila tidak mampu menyanggah tubuhnya dengan baik. Selain itu penurunan fungsi pengindaraan dan pendengaran menyebabkan lansia tidak dapat mengamati situasi sekitarnya,sehingga sering terjadi bahaya kecelakaan lalu lintas dan luka baker. Selanjutnya, kecelakaan / jatuh dapat pula akibat lingkungan yang tidak tepat untuk lansia, misalnya pencahayaan yang kurang, lantai yang licin atau tidak rata, tangga yang tidak diberi tanda pengaman, kursi atau tempat tidur yang mudah bergerak.

Untuk mencegah resiko kecelakaan diatas, beberapa tindakan yang harus dilakukan antara lain: a. klien / lansia 1) Biarkan lansia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan. 2) Latih lansia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi 3) Biasakan menggunakan pengaman tempat tidur jika tidur 4) Jika klien mengalami masalah fisik, misalnya rematik, gangguan persyarafan, latih klien untuk berjalan dan latih klien menggunakan alat bantu berjalan 5) Bantu klien berjalan ke kamar mandi, terutama untuk lansia yang menggunakan obat penenang atau diuretika 6) Menggunakian kacamata jika berjalan atau melakukan sesuatu 7) Usahakan ada yang menemani jika bepergian. b. lingkungan 1) tempatkan klien diruangan khusus dekat ke kantor sehingga mudah di observasi apabila lansia dirawat diruang perawatan lansia 2) letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara menggunakannya 3) gunakan tempat tidur yang tidak terlalu tinggi 4) letakkan meja kecil dekat tempat tidur agar lansia mudah menempatkan alat-alat yang selalu digunakan 5) upayakan lantai bersih, rata, tidak licin dan basah 6) kunci semua peralatan yang menggunakan roda untuk lansia yang menggunakan 7) pasang pegangan dikamar mandi 8) hindari lampu yang redup dan menyilaukan 9) sebaiknya gunakan lampu 70 atau 100 watt 10) jika pindah dari ruangan terang ke gelap ajarkan klie lansia untuk memejamkan mata sesaat 11) gunakan sandal atau sepatu yang beralas karet 3. Memelihara Kebersihan Diri Akibat proses penuaan, sebagian lansia mengalami kemunduran / motivasi untuk melakukan perawatan diri secara teratur. Kadang kala kurangnya perawatan diri pada lansia akibat penurunan daya ingat, sehingga tidak dapat melakukan upaya kebersihan diri secara tepat dan teratur. Hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan lansia pada usia muda. Jika usia tersebut pada saat mudanya orangnya rapi, tentu ia akan tetap melakukan aktivitas perawatan diri dengan baik, perawatan diri yang kurang dapat pula akibat dari kelemahan atau ketidakmampuan fisik lansia. Akibat dari proses penuaan kelenjar keringat berkurang seringkali kulit lansia bersisik dan kering. Upaya yang dilakukan untuk kebersihan diri antara lain: a. Mengingatkan atau membantu lansia untuk melakukan upaya kebersihan diri misalnya, cuci rambut, sikat gigi, ganti pakaian, dll. b. Menganjurkan lansia untuk menggunakan sabun lunak yang mengandung miyak atau berikan skin lotion c. Mengingatkan / membantu lansia untuk membersihkan lubang telinga, mata, dan gunting kuku

4. Memelihara Keseimbangan Istrahat Dan Tidur Pada umunya lansia mengalami gangguan tidur, upaya yang dapat dilakukan antara lain: a. Menyediakan tempat atau waktu tidur yang nyaman b. Mengatur lingkungan yang cukup, ventilasi bebas dari bau-bauan c. Melatih lansia melakukan latihan fisik ringan untuk melancarkan sirkulasi darah dan melenturkan otot-otot. Latihan fisik ini dapat dilakukan sesuai hobby, misalnya berkebun, berjalan santai, dll. d. Memberikan minuman hangat sebelum tidur misalnya, susu hangat. 5. Meningkatkan Hubungan InterPersonal Masalah yang umum ditemukan pada lansia yaitu daya ingat yang menurun, pikun, depresi, lekas marah dan mudah tersinggung serta curiga. Hal ini disebabkan karena hubungan inter personal yang tidak adekuat. Upaya yang dilakukan antara lain: a. Berkomunikasi dengan manusia dengan kontak mata b. Memberikan stimulus / mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan c. Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan lansia d. Memberikan lansia kesempatan untuk mengekspresikan / terhadap respon verbal dan non verbal lansia e. Melibatkan lansia untuk keperluan tertentu sesuai dengan kemampuan lansia f. Menghargai pendapat lansia E. Tindakan Keperawatan Yang Lazim Dilakukan Pada Lansia Sakit Perawat perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan, hal ini harus dilakukan kepada klien lanjut usia yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara berkala bila memperlihatkan kelainan, misalnya: batuk, pilek, dsb. Perawat perlu memberikan penjelasan dan penyuluhan kesehatan, jika ada keluhan insomnia, harus dicari penyebabnya, kemudian mengkomunikasikan dengan mereka tentang cara pemecahannya. Perawat harus mendekatkan diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan sabar dan ramah, sambil bertanya apa keluhan yang dirasakan, bagaimana tentang tidur, makan, apakah obat sudah dimminum, apakah mereka bisa melaksanakan ibadah dsb. Sentuhan (misalnya genggaman tangan) terkadang sangat berarti buat mereka.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia menurut Depkes, dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan keluarga, Panti Werda maupun Puskesmas, yang diberikan oleh perawat Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain: a. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu dilakukan sendiri b. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit

B. Saran .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... ..........................................................................................................................................