Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Teratoma berasal dari bahasa Yunani teratos yang artinya monster dan onkoma yang artinya tumor. Teratoma merupakan jenis tumor sel germinal yang berasal dari sel pluripoten dan tersusun oleh unsur berbagai jenis jaringan yang berbeda dari satu atau lebih ketiga lapisan sel germinal; paling sering ditemukan dalam ovarium atau testis orang dewasa dan pada daerah sacrococcygeus anak-anak. Teratoma berkisar dari jinak (matur, dermoid, dan kistik) sampai ganas (imatur dan padat). 1 Willis mendefinisikan teratoma sebagai tumor atau neoplasma yang tersusun oleh jaringan multipel yang bersifat asing bagi tempat dimana tumor itu tumbuh. Tumor ini dapat mengandung elemen kulit, jaringan neural, gigi, kartilago, kalsifikasi, lemak dan mukosa usus. 2 Tumor ini tersusun dari ketiga lapis embrionik. Biasanya jinak, tetapi dapat mengandung elemen ganas. Tempat bervariasi, paling sering pada area sakrokoksigeus (40%). Tempat lainnya termasuk mediastinum anterior, ovarium, retroperitoneum, testis dan leher. 3 Empat puluh tujuh persen dari teratoma ditemukan di daerah sacrokoksigeal dan sacrokoksigeal ini adalah tumor yang sering terjadi pada bayi baru lahir, dengan insiden dari 1 : 40.000 kelahiran. Dan rasio pria : wanita adalah 1 : 4.
4

Teratoma sakrokoksigeus merupakan varian yang tersering (45-65%

kasus), selain gonad (10-35%), mediastinal (10-12%), retroperitoneal (3-5%), cervical (3-6%), presakral (3-5%) dan susunan saraf pusat (2-4%). 2 Sekitar 20% dari teratoma sakrokoksigeus merupakan tumor ganas. Teratoma lebih banyak terjadi pada perempuan, tetapi keganasan teratoma lebih banyak terjadi pada laki-laki. Seluruh spesimen harus dieksisi oleh ahli patologi untuk mencari elemen keganasan. Terapi radiasi dan kemoterapi khususnya penggunaan Cytoxian, vincristine dan actinomycin seharusnya menjadi

pertimbangan terapi pada pasien ketika elemen keganasan ditemukan. Sayangnya, hampir tidak ada bayi baru lahir yang selamat ketika mereka teratoma yang diderita merupakan tipe keganasan. Jumlah kematian pada anak-anak dengan teratoma sakrokoksigeum benigna harus diminimalkan. Dalam survei rantai luas oleh American Academy of Pediatric tahun 1973, 2 persen dari pasien yang dioperasi untuk penyakit benigna meninggal post operasi, setengahnya disebabkan oleh perdarahan sedangkan

setengah lainnya disebabkan oleh meningitis. Ada beberapa kematian yang terjadi pada kelompok benigna, tetapi semua itu berhubungan dengan anomali yang terkait. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI Os sacrum orang dewasa yang besar dan berbentuk baji, terbentuk dari lima vertebra sacralis yang bersatu. Os sacrum memberi kekuatan dan kemantapan pada pelvis dan meneruskan berat tubuh kepada cingulum membri inferioris melalui articulation sacro-iliaca. Basis ossis sacri dibentuk oleh permukaan cranial vertebra sacralis I. Processus articularis vertebrae sacralis I bersendi dengan processus articularis inferior vertebrae lumbalis V. Tepi ventral corpus vertebrae sacralis I yang menganjur kearah ventral adalah promontorium (os sacrum). Pada facies pelvica dan facies dorsalis terdapat empat pasang foramen sacralis guna jalan keluar cabang-cabang keempat nervus sacralis paling cranial dan pembuluh pengiringnya. Facies pelvica ossis crani adalah licin dan cekung. Keempat garis transversal member petunjuk mengenai tempat terjadinya persatuan vertebrae sacrales. Facies dorsalis ossis crani adalah kasar dan cembung. Persatuan processus spinosus membentuk crista sacralis mediana. Hiatus sacralis yang berbentuk seperti U terbalik, terjadi karena tidak adanya lamina arcus vertebrae dan processus spinosus pada vertebra sacralis IV dan vertebra sacralis V. Hiatus sacralis mengantar ke canalis sacralis, yakni ujung kaudal canalis vertebralis. Cornu sacrale yang mewakili processus articularis inferior vertebrae sacralis V, menonjol ke kaudal dari masing-masing sisi hiatus sacralis dan membantu untuk menentukan tempat letak hiatus sacralis. Pars lateralis ossis sacri mempunyai facies articularis yang berbentuk seperti telinga dan merupakan bagian articulation sacro-iliaca. Vertebrae coccygea yang meruncing adalah sisa-sisa kerangka ekor embriologis. Vertebrae coccygea ini telah menjadi kecil dan tidak memiliki pediculus arcus vertebrae, lamina arcus vertebrae, atau processus spinosus. Ketiga

vertebra kaudal bersatu pada usia setengah baya untuk membentuk os coccygis yang menyerupai paruh dan bersendi dengan os sacrum. 6

B. ETIOPATOLOGI Teratoma tersusun atas berbagai jenis sel parenkimal yang berasal lebih dari satu lapisan germinal dan sering berasal dari ketiga lapisan. Tumor ini berasal dari sel-sel totipoten, umumnya pada garis tengah atau paraxial. Lokasi yang paling sering adalah sakrokoksigeal. Karena berasal dari sel totipoten, sehingga sering ditemukan di kelenjar gonad (29%). Sejauh ini, lokasi gonad yang paling sering terjadi adalah pada ovarium, disusul pada testis. Kista teratoma kadang muncul pada sequestered midline embryonic cell rests dan bias pada mediastinum, retroperitoneal, servikal, dan intracranial. Sel-sel berdiferensiasi sesuai lapisan germinal, yang terdiri dari berbagai jaringan pada tubuh, seperti rambut, gigi, lemak, kulit, otot dan jaringan endokrin. 7 Teratoma terbentuk dan berkembang selama kehidupan intrautrin, dapat menjadi sangat besar pada teratoma sakrokoksigeus seiring dengan perkembangan fetus. Teratoma sakrokoksigeus muncul dari primitif knot atau hensens node. Hensens node adalah suatu agregasi dari sel totipotensial yang merupakan pengatur utama pada perkembangan embrionik. Semula terletak di bagian posterior embrio yang bermigrasi secara caudal pada minggu pertama kehidupan didalam ekor embrio, akhirnya berhenti di anterior tulang ekor (coccyx). Alur migrasi dari sel germinal menunjukan lokasi dan patologi yang paling sering terdapat teratoma (sakrokoksigeus dan gonad). Sel-sel ini dapat meluas ke postero-inferior masuk daerah glutea dan /atau postero-superior masuk ke rongga abdominopelvik. Pemisahan sel totipotensial dari hansens node mungkin menyebabkan munculnya teratoma sakrokoksigeus. Sel pleuripotensial ini

melarikan diri dari kontrol pengatur embrionik dan berdiferensiasi masuk dalam jaringan yang tidak biasa ditemukan pada daerah sakrokoksigeus. Tumor terjadi dekat dengan tulang ekor, dimana konsentrasi terbesar primitif sel berada untuk waktu yang lama selama masa perkembangan. 8

C. GAMBARAN KLINIK Secara klinis, Tumor paling sering muncul sebagai massa yang menonjol antara coccyx dan anus yang biasa ditutupi dengan kulit normal yang intak. Beberapa pasien, seluruh atau sebagian benjolan terletak pada permukaan retrorektal atau retroperitoneum. Pada bayi dan anak-anak, Tumor muncul sebagai massa pada daerah sakropelvis yang menekan kandung kemih dan rectum. Seringnya gejala obstruksi pada traktus urinarius yang disebabkan oleh kompresi ureter dan urethra terhadap pubis atau kompresi ureter terhadap pinggiran pelvis dan terjadi kesulitan defekasi sebagai tanda obstruksi yang mungkin tidak cukup dikenali. Sebagian kecil pasien dapat mengalami paralysis, nyeri, atau kelemahan pada kaki, terutama pada stadium lambat dari invasi maligna dari tumor. Pada teratoma sakrokoksigeus pada fetus, jika tumornya besar, dapat menyebabkan distosia, kesulitan melahirkan dan perdarahan atau laserasi tumor. 8

D. DIAGNOSIS BANDING Prinsip pertimbangan diagnosis banding pada bayi dengan masa posterior ke koksigeus adalah meningokel, kordoma, duplikasi rectum, tumor neurogenik, lipoma dan hemangioma. Untungnya, teratoma memilliki
5

penampilan

karakteristik yang membuat diagnosis pada bayi relatif mudah.

E. DIAGNOSIS

1. Prenatal
USG prenatal dapat mendeteksi tumor ini mulai pada usia kehamilan 13 minggu. USG menunjukkan peningkatan ukuran uterus, placentomegaly, polihidramnion, hidrops fetalis, massa inhomogen pada sakrum dengan gambaran kalsifikasi. Ibu pasien bergejala polihidramnion, meningkat kadar alfa fetoprotein darah sebelum partus dan partus prematur. Bila gejala ini timbul sebelum usia 30 minggu kehamilan maka prognosis anak adalah buruk. Persalinan akan beresiko

pada ibu sehingga untuk menghindari distosia atau ruptur tumor dianjurkan untuk dilakukan sectio cesarea bila ukuran tumor lebih dari 5 cm atau tumor lebih besar dari diameter fetus.

2. Postnatal
Teratoma benign hanya sedikit bergejala atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Massa pada pelvis yang besar dapat menyebabkan dekompresi traktus urinarius maupun rektum. Defisit neurologis jarang terjadi, bila terjadi mengindikasikan malignansi. Tanda metastasis perlu dicari pada anak lebih tua.

Diagnosis teratoma sakrokoksigeus

biasanya

ditegakkan

melalui

pemeriksaan fisik. Tumor ini biasanya didiagnosa ketika ditemukan benjolan sacrum yang besar setelah kelahiran yang sulit atau obstruksi pada kelahiran. Anamnesis didapatkan adanya nyeri rectum, konstipasi, dan adanya sebuah benjolan. Teratoma sakrokoksigeus juga sering didiagnosa sebelum bayi lahir dengan pemeriksaan ultrasonografi fetal. Laporan bertahap diagnosis antenatal

pada teratoma sakrokoksigeus menunjukkan bahwa sebagian besar fetus yang didiagnosa teratoma sakrokoksigeus kemungkinan meninggal sebelum kelahiran. Diagnosis prenatal penting karena tumor ini mungkin cukup besar untuk menyebabkan distosia dan ruptur dari tumor dengan perdarahan masif dapat terjadi selama kehamilan. Pada sebagian besar kasus, teratoma sakrokoksigeus sangat khas sehingga diagnosisnya sangat jelas. Kadang-kadang, bagaimanapun diagnosis tidak begitu jelas dan adanya lesi lain seperti kondroma, fibroma, duplikasi rektal, terutama mielomeningocele dan tumor neurogenic presakral, harus dikeluarkan. Apabila sulit membedakan teratoma sacrococygeal dengan lesi lain, studi diagnostic seperti Foto polos, Ultrasonografi, computer tomografi (CT) atau MRI. Foto thoraks membantu menyingkirkan penyakit metastase. Foto polos pada sacral dapat menunjukkan adanya kalsifikasi dalam tumor. Ultrasonografi berguna untuk menentukan sifat lesi (padat atau kistik, adanya komponen intraabdominal dan keterlibatan hati). Baik CT Scan lateral dan magnetic resonance imaging (MRI) akan menunjukkan perluasan intrapelvis dan intraspinal dari lesi sacral dengan rincian yang jelas. Beberapa teratoma mengandung elemen yolk salk, dimana mengeluarkan alfafetoprotein. Deteksi AFP dapat membantu

memperjelas diagnosis dan sering digunakan sebagai marker untuk rekurensi atau efektifitas pengobatan, tapi metode yang jarang pada diagnosis awal. Pada satu tahap, AFP meningkat pada 31 dari 32 teratoma maligna. AFP juga ditemukan meningkat pada cairan amnion jika infan menderita teratoma. 8

F. STADIUM Klasifikasi Altman membagi tumor berdasarkan fungsi bentang

anatominya ke dalam 4 kelompok : 1. Altman I : eksternal tumor yang mendominasi, dengan perluasan minimal 2. Altman II : eksternal tumor dengan perluasan signifikan intrapelvis.

3. Altman III : tumor eksternal dengan perluasan intra-abdominal 4. Altman IV : hanya tumor intrapelvis, tidak dapat dilihat dari luar. 9

G. PENATALAKSANAAN Teratoma sakrokoksigeus harus dieksisi lengkap. Lesi Tipe I dan II dapat dimulai pada daerah posterior melalui chevron insisi dan sagital. Lesi tipe III dan IV harus insisi tambahan transversal pada perut bagian bawah. Bagian penting

pada prosedur termasuk pengangkatan lengkap pada tumor intak, ligasi arteri sakral tengah, dan eksisi tulang ekor ( coccyx ) bersama tumor.

Jika tumor secara histologi benigna ( hanya jaringan matur) atau mengandung jaringan embrionik tanpa maligna seutuhnya, eksisi lengkap adekuat. Jika lesi benigna (97 %), tidak diindikasikan terapi lanjutan. Untuk Tumor yang agresif dan terdapat jaringan malignan seutuhnya, pembedahan eksisi sendiri tidak adekuat dan pasien harus mendapatkan kemoterapi dan atau radioterapi. Pasien dengan rekurensi kanker dan tidak dapat dieksisi diberikan terapi VAC (vinkristin, dactinomycin, cyclophosphamide) ditambah radiasi lokal. Pasien ini harus dievaluasi setiap 3 bulan selama 2 tahun pertama dengan pemeriksaan rectal dan jumlah AFP. Pasien yang diperkirakan rekurensi harus dievalusi dengan pemeriksan radiologi yang sesuai, Ultrasonografi dan/ atau CT.

Lesi ini paling baik direseksi dalam 24 jam pertama, sejak usus tidak dikoloni pada 24 jam pertama setelah kelahiran., mengurangi resiko infeksi pada daerah yang terkontaminasi feses selama reseksi. Perioperatif antibiotic diberikan segera sebelum pembedahan dan dilanjutkan 24-48 jam setelah operasi. 8

10

H. KOMPLIKASI Infeksi luka umumnya tidak terjadi, tetapi sama seperti pada seluruh pembedahan bayi baru lahir lainnya, antibiotik spektrum luas diberikan 5 hingga 7 hari. Luka infeksi yang terjadi ditangani dengan tidak ada perbedaan dengan luka infeksi lainnya di bagian tubuh mana saja, dan seharusnya tidak menjadi suatu masalah serius. Kontinesia urin dan feses tergantung dari derajat kerusakan

nervus yang terlibat dan kerusakan ketika waktu pembedahan dan distorsi sejumlah otot levator. Perlu untuk memperbaiki otot levator sesudah eksisi tumor akan memberikan hasil inkontinensia feses seminimal mungkin. 5

I. PROGNOSIS Mortalitas berada dalam batas 15 hingga 20 persen untuk operasi yang dilaksanakan segera setelah kelahiran, dan hampir tiga kali jumlahnya jika dilaksanakan 1 bulan atau lebih setelah kelahiran (Ravitvh 1951). Peningkatan mortalitas berhubungan dengan adanya eksisi yang tertunda oleh karena adanya ruptur dan perdarahan dan adanya perluasan maligna. Gambaran ini menegaskan bahwa perlunya intervensi pembedahan pada periode kelahiran baru yang lebih cepat. 10 Secara keseluruhan, dengan tingkat kesuksesan hidup lebih dari 95%, prognosis dari bayi baru lahir dan anak-anak penderita sacro-coccygeal teratoma baik. Pasien dengan maligna sacro-coccygeal teratoma akan menghadapi prognosis yang kurang menyenangkan dibandingan pasien dengan gambaran histologi benigna, tetapi perbaikan substansial telah dicatat sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Angka pasien yang hidup 80%-90% bisa dicapai di sub kelompok tumor maligna. 9

11

BAB III LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur TTL Jenis Kelamin Agama Alamat` MRS : : : : : : : AM 14 hari Kotamubagu, 5 September 2012 Perempuan Islam Pobundayan Lk. IV RT. II 19 September 2012

B. ANAMNESIS Keluhan Utama : Benjolan pada pinggul sejak lahir Benjolan pada pinggul dialami penderita sejak lahir. Ukuran benjolan tetap dan tidak nyeri. Riwayat lahir dibidan, cukup bulan. Riwayat ANC 4x didokter. Konsumsi obat-obatan (-) dan alcohol (-) Riwayat Penyakit Dahulu : (-)

Riwayat Penyakit Sekarang :

12

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Kehamilan

: :

(-) Riwayat lahir dibidan, cukup bulan. Riwayat ANC 4x didokter. Konsumsi obat-obatan (-) dan alcohol (-), BB lahir 3600 gram.

C. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital Kepala Leher Thorax Abdomen Ekstremitas Status Lokalis : : : : : : : : : Baik Compos mentis N : 140x/m, R : 40 x/m, S : 36,9C Conjungtiva Anemis (-) Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Benjolan ukuran 6x6 cm, konsistensi kenyal, mobile. D. FOLLOW UP RUANGAN 21/9/12 : S : demam (-) O : SB : 36,5c Status lokalis : benjolan ukuran 6x6 cm, batas tegas, NT (-)

13

A : Teratoma Sacro-Coccygeal P : Rencana eksisi tumor

22/9/12 :

S : demam (-) O : VS : dbn Status lokalis : benjolan ukuran 6x6 cm, konsistensi kenyal, NT (-) A : Teratoma Sacro-Coccygeal P : Rencana eksisi tumor (25/9/12) Pasien rencana pulang

26/9/12 :

S : Demam (-) O : VS : dbn St lokalis reg sacrum : Luka terawat, darah (+), pus (-) A : Post Operasi hari I eksisi tumor P : - rawat luka/hari - Aff kateter - Cek DL, HCG & AFP - IVFD : RL : D5NS1/2 - Terapi : Beatrix, 2 x 250, Ranitidin, 2 x amp, Ketorolac, 3 x amp

14

27/9/12 :

S : (-) O : VS : dbn St lokalis regio sacrum : luka terawat, pus (-), darah (-) A : Post op hari II (eksisi tumor) P : - Beatrix 2 x 250 mg iv, Ranitidin 2 x amp, Ketorolac 3 x amp - Rawat luka

28/9/12 :

S : Demam (-) O : VS : dbn Luka op terawat, pus (-) A : post eksisi teratoma hari ke III P : Cefixime syr 2 x 1 cth

29/9/12 :

S : Demam (-) O : VS dbn Luka op terawatt, pus (-) A : Post eksisi teratoma hari ke IV P : Cefixime syr 2 x 1 cth

30/9/12 :

S:

Demam (-)

15

O : VS dbn Luka op terawat A : Post eksisi teratoma hari ke V P : Cefixime syr 2 x1 cth

1/10/12 :

S : Demam (-) O : VS dbn Luka op terawat A : Post eksisi teratoma hari ke VI P : Cefixime syr 2 x1 cth, tunggu hasil PA

E. HASIL LABORATORIUM 20/09/12 : Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit 11300/mm3 5.51 x 106/mm3 17.6 g/dL 53.1 % 455 x 103/mm3

21/09/12 :

INR PPT APTT

1.18 13.6 detik 43.6 detik

Protein Total 5.5 g/dL

16

Albumin Globulin SGOT SGPT Na K Cl 27/09/12 : AFP

3.7 g/dL 1.8 g/dL 25 U/L 13 U/L 135 mEq/L 5.7 mEq/L 99 mEq/L >400.000 IU/mL

F. LAPORAN OPERASI Tanggal Operasi 25 September 2012, jam 10.00-12.00, lama operasi 2 jam. Dengan diagnosa pra-bedah Teratoma Sacro-Coccygeal dan diagnosa postbedah Teratoma Sacro-Coccygeal. Penderita telungkup dalam GA Asepsis dan Antisepsis lapangan operasi Insisi chevron diperdalam lapis demi lapis hingga mencapai permukaan tumor Jaringan tumor dibebaskan dari jaringan sekitar secara tajam dan tumpul Preservasi rectum Os coccygeus di eksisi bersama jaringan tumor pada batas sacrococcygeal junction Kontrol perdarahan Luka operasi dicuci dengan air steril sampai bersih Lapisan operasi ditutup lapis demi lapis

17

Intruksi post operasi : IVFD RL : D5NS1/2 = 1 : 1 20 gtt/mnt (mikrodrips) Beatrix / Ceftriaxone 2x250mg IV Ranitidine 2x1/4 amp IV Ketorolac 3% 1 amp dalam kolf IVFD Periksa DL post OP

18

BAB IV DISKUSI Pasien perempuan, umur 14 hari masuk dengan keluhan benjolan pada pinggul sejak lahir. Benjolan pada pinggul dialami penderita sejak lahir. Ukuran benjolan tetap dan tidak nyeri. Riwayat lahir dibidan, cukup bulan dengan berat badan lahir 3600 gram. Riwayat ANC 4x didokter. Konsumsi obat-obatan (-) dan alcohol (-). Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak baik, kesadaran kompos mentis. Tanda vital pasien, nadi 140 x/m, respirasi 40 x/m dan suhu badan 36,9C. Tanda vital pada pasien adalah normal dimana nilai normal untuk pasien baru lahir adalah nadi 140x/m, respirasi 30-40 x/m dan suhu 36C-37,5C.
11

Pemeriksaan fisik pada kepala : conjungtiva tidak anemis, pada leher, thorax, abdomen dan ekstremitas tidak ada kelainan. Status lokalis pada pasien ini terdapat benjolan ukuran 6x6 cm dengan konsistensi kenyal dan mobile. Pada tanggal 27 September 2012 dilakukan pemeriksaan penanda tumor dengan hasil AFP >400 IU/mL dimana nilai normalnya 10 IU/mL. Beberapa teratoma mengandung elemen yolk sac, dimana mengeluarkan alfa fetoprotein. Deteksi AFP dapat membantu memperjelas diagnosis dan sering digunakan sebagai marker untuk rekurensi dan efektifitas pengobatan, tetapi metode yang jarang pada diagnosis awal. Level plasma dari alfa-fetoprotein (-FP) dan untuk perluasan yang lebih sedikit, beta-human chorionic gonadotropin (-HCG) harus dapat ditemukan untuk menjadi penanda yang paling jelas adanya keganasan (secara berurutan, tumor yolk sac dan koriokarsinoma). Sayangnya, pada saat bayi (-FP) meningkat dan perlahan secara tetap menurun ketika lewat dari 1 tahun kehidupan, sangat sulit untuk menemukan hal yang dapat membedakan tumor antara tumor tipe benigna atau maligna, ketika bayi baru lahir dan selama 1 bulan sejak kelahiran. 9 Pada tanggal 07 September 2012 dilakukan foto sacro-coccygeus AP / Lateral dengan hasil : trabeculasi tulang normal, tidak tampak osteolitik, curve sacrococcygeus masih normal, tidak tampak fraktur dan tampak soft tissue mass

19

daerah

coccygeus

dengan

komponen

kalsifikasi.

Apabila

sulit

membedakan teratoma sacrococygeal dengan lesi lain, studi diagnostic seperti Foto polos, Ultrasonografi, computer tomografi (CT) atau MRI.

Foto thoraks membantu menyingkirkan penyakit metastase. Foto polos pada sacral dapat menunjukkan adanya kalsifikasi dalam tumor. Ultrasonografi berguna untuk menentukan sifat lesi (padat atau kistik, adanya komponen intraabdominal dan keterlibatan hati). Baik CT Scan lateral dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) akan menunjukkan perluasan intrapelvis dan intraspinal dari lesi sacral dengan rincian yang jelas. 8 Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan maka penderita didiagnosis dengan teratoma

sakrokoksigeus. Pada tanggal 25 September 2012 dilakukan operasi eksisi tumor dengan lama operasi 2 jam. Dengan diagnosa pra-bedah Teratoma Sacro-Coccygeal dan diagnosa post-bedah Teratoma Sacro-Coccygeal. Pembedahan ini menggunakan insisi chevron yang diperdalam lapis demi lapis hingga mencapai permukaan tumor. Teratoma sakrokoksigeus harus dieksisi lengkap. Lesi Tipe I dan II dapat dimulai pada daerah posterior melalui chevron insisi dan sagital. Lesi tipe III dan IV harus insisi tambahan transversal pada perut bagian bawah. Bagian penting pada prosedur termasuk pengangkatan lengkap pada tumor intak, ligasi arteri sakral tengah, dan eksisi tulang ekor (coccyx) bersama tumor.

Jika tumor secara histologi benigna (hanya jaringan matur) atau mengandung jaringan embrionik tanpa maligna seutuhnya, eksisi lengkap adekuat. Jika lesi benigna (97 %), tidak diindikasikan terapi lanjutan. Untuk Tumor yang agresif dan terdapat jaringan malignan seutuhnya, pembedahan eksisi sendiri tidak adekuat dan pasien harus mendapatkan kemoterapi dan atau radioterapi. Pasien dengan rekurensi kanker dan tidak dapat dieksisi diberikan terapi VAC (vinkristin, dactinomycin, cyclophosphamide) ditambah radiasi lokal. Pasien ini harus dievaluasi setiap 3 bulan selama 2 tahun pertama dengan pemeriksaan rectal dan jumlah AFP. Pasien yang diperkirakan rekurensi harus dievalusi dengan pemeriksan radiologi yang sesuai, Ultrasonografi dan/ atau CT.

20

Lesi ini paling baik direseksi dalam 24 jam pertama, sejak usus tidak dikoloni pada 24 jam pertama setelah kelahiran., mengurangi resiko infeksi pada daerah yang terkontaminasi feses selama reseksi. Perioperatif antibiotic diberikan segera sebelum pembedahan dan dilanjutkan 24-48 jam setelah operasi. 12 Follow Up pasien MRS tanggal 21 September 2012 didapatkan, S : demam (-), O : SB 36.5C; status lokalis : benjolan ukuran 6x6 cm, batas tegas, nyeri tekan (-), A : Teratoma Sacro-coccygeus, P : rencana eksisi tumor. Follow Up pasien post-bedah tanggal 26 September 2012 didapatkan, S : demam (-), O : vital sign dalam batas normal; status lokalis : luka terawat, darah (+), pus (-), A : Post operasi hari I eksisi tumor, P : rawat luka, aff kateter, cek DL, HCG dan AFP, IVFD RL : D5, Beatrix, ranitidine, ketorolac. Follow Up pasien hari teakhir pada tanggal 1 Oktober 2012 didapatkan, S : demam (-), O : Vital sign dalam batas normal; luka operasi terawat, A : post eksisi teratoma hari ke VI, P : cefixime syr 2x1 cth. Kesimpulan berdasarkan hasil follow up pasien ini adalah baik.

21

DAFTAR PUSTAKA 1. Hartanto Huriawati, Koesoemawati Herni, Salim Ivo. Kamus Kedokteran Dorlan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2002. 2. Ilmu Bedah. Teratoma Sacrococcygeus. 2012. Available on :

http://ilmubedah.info/teratoma-sacrococcygeus-20120713.html. 3. Seymour Schwartz, Shires Tom, Spencer Frank. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Ed 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000. 4. Burge David, Griffiths Mervyn, Steinbrecher Henrik. Paediatric Surgery. Ed 2. Hodder Arnold, 2005. 5. Coran Arnold, Behndt Douglas, Weintraub William. Surgery of the Neonate. Boston : Little, Brown and Company, 1978. 6. Moore Keith, Agur Anne. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hipokrates, 2002. 7. Medscape Reference. Cystic Teratoma. 2012. Available on :

http://emedicine.medscape.com/article/281850-overview#a0104 8. When Youll Be A Doctor. Teratoma Sakrokoksigeus. 2010. Available on: http://dokterblogger.wordpress.com/2010/11/11/teratoma-sakrokoksigeus/ 9. Oldham Keinth, Colombani Paul, Foglia Robert. Principles and Practice of Pediatric Surgery. Vol 1. Lippincott Williams & Wilkins, 2005. 10. Haller Alex, Talbert James. Surgical Emergencies in the Newborn. Philadelphia : Lea & Febiger, 1972. 11. Tanda-tanda Vital dan Pemeriksaan Fisik pada Bayi. 2011. Available on : http://freyadefunk.wordpress.com/2011/11/16/tanda-tanda-vital-danpemeriksaan-fisik-pada-bayi/ 12. Four Season News. Penjelasan Tentang Teratoma Sakrokoksigeus. Available on : http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/01/penjelasantentang-teratoma.html

22