Anda di halaman 1dari 18

RESPONSI KASUS KEHAMILAN LEWAT WAKTU

Disusun oleh : Welly Husain Suwono, S.Ked NPM : 07700162 PEMBIMBING : dr. Muljadi Amanullah, SpOG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN/SMF KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan responsi kasus ini tepat pada waktunya. Laporan kasus yang berjudul Preeklampsia Berat ini disusun dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah Syarifah Ambami Rato Ebu (SYAMRABU) Bangkalan. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan kepada penulis: 1. dr. Muljadi Amanullah, Sp.OG, selaku Kepala Bagian / SMF Kebidanan dan Kandungan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (SYAMRABU) Bangkalan dan dosen pembimbing Bagian / SMF Kebidanan dan Kandungan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (SYAMRABU) Bangkalan. 2. dr.Raudatul Hikmah, Sp.OG, selaku dosen pembimbing Bagian / SMF Kebidanan dan Kandungan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (SYAMRABU) Bangkalan. 3. dr. Bambang Soetjahjo, Sp.OG, selaku dosen pembimbing Bagian / SMF Kebidanan dan Kandungan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (SYAMRABU) Bangkalan. 4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan kepada penulis. Akhirnya saya menyadari bahwa dalam penulisan responsi kasus ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi kesempurnaan responsi kasus ini. Semoga responsi kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan khususnya kepada saya dan kepada pembaca dalam menjalankan praktek sehari-hari sebagai dokter. Terima kasih.

Bangkalan, Desember 2011

Penulis

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Kehamilan lewat Waktu (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah atau melebihi 42 minggu. Insiden Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5 - 7 %. Variasi insiden postterm berkisar antara 2-31,37%. Etiologi Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta). Menurut dr. Bambang Fadjar, SpOG dari Rumah Sakit Asih, Jakarta Selatan, penyebab kehamilan lewat waktu adalah kelainan pada janin sehingga tidak ada kontraksi dari janin untuk memulai proses persalinan. Kelainan janin tersebut antara lain anensephalus, hipoplasia, kelenjar supra renal janin, dan janin tidak memiliki kelenjar hipofisa, kelainan pada plasenta yang berupa tali pusat pendek dan kelainan letak kehamilan. Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :

Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering. Tidak diketahui. Primigravida dan riwayat kehamilan lewat waktu. Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi. Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.

Faktor genetik juga dapat memainkan peran Jumlah kehamilan atau persalinan sebelumnya dan usia juga ikut mempengaruhi

terjadinya kehamilan lewat waktu. Bahkan, ras juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan lewat waktu. Data menunjukkan, ras kulit putih lebih sering mengalami kehamilan lewat waktu ketimbang yang berkulit hitam. Di samping itu faktor obstetrik pun ikut berpengaruh. Umpamanya, pemeriksaan kehamilan yang terlambat atau tidak adekuat (cukup), kehamilan sebelumnya yang lewat waktu, perdarahan pada trisemester pertama kehamilan, jenis kelamin janin (janin laki-laki lebih sering menyebabkan kehamilan lewat waktu ketimbang janin perempuan), dan cacat bawaan janin. Resiko Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik. Kehamilan lewat waktu dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan CPD. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum. Diagnosis Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan

janin yang jarang. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan lewat waktu, antara lain : 1. HPHT jelas. 2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu. 3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler,dan 19-20 minggu dengan fetoskop). 4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu. 5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan penilaian biometrik janin pada trimester I kehamilan dengan USG. Penyimpangan pada tes biometrik ini hanya lebih atau kurang satu minggu. Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik >20%) mempunyai sensitifitas 75% dan tes tanpa tekanan dengan KTG mempunyai spesifisitas 100% dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau postterm. Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan. Tanda kehamilan lewat waktu yang dijumpai pada bayi dibagi atas tiga stadium : 1. Stadium I. Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas. 2. Stadium II. Gejala stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. 3. Stadium III. Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat. Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan :
1. Tes tanpa tekanan (Non Stress Test).

Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar

janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur.
2. Gerakan janin.

Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali / 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normalrata-rata 10 kali / 20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi.

Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 34% asfiksia. Penatalaksanaan Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score). Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain:
1. Induksi persalinan dengan pemasangan balon kateter Foley. 2. Induksi dengan oksitosin. 3. Bedah seksio sesaria

Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain :

Tidak hipertensi Tidak ada oligohidramnion Kehamilan tunggal Tidak ada riwayat seksio sesaria His lemah Bukan grande multipara Ukuran panggul normal

Tidak ada disproporsi sefalopelvik Janin presentasi kepala Serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya. Tabel pengukuran pelvik dapat dilihat dibawah ini : Score Pendataran Serviks Pembukaan Serviks Penurunan Kepala dari Hodge 3 Konsistensi Serviks Posisi Serviks 0 0-30% 0 -3 Keras Ke belakang 1 40-50% 1-2 -2 Sedang Searah sumbu jalan lahir 2 60-70% 3-4 -1 Lunak Ke depan 3 80% 5-6 +1+2

Bila nilai pelvis >8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil. Bila PS >5, dapat dilakukan drip oksitosin. Bila PS <5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudianlakukan

pengukuran PS lagi. Tatalaksana yang biasa dilakukan di RSUD SYAMRABU ialah induksi dengan oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan NST, serta diukur skor pelviknya. Jika keadaan janin baik, skor pelvis >5, dan syarat-syarat induksi oksitosin memenuhi, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose5%. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 15 menit sebanyak 4 tetes hingga timbul his yang adekuat. Maksimal 40 tetes bila tidak kunjung adekuat. Selama pemberian infus,kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan

tidak muncul, pasien diistirahatkan 24jam dengan syarat kesejahteraan janin baik. Apabila drip oksitosin gelombang 2 gagal, dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria. Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 12 Maret 2011. Saat ini tanggal 22 Desember 2011. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 284. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 40,5. Jadi, usia kehamilannya saat ini 40 minggu.

BAB II LAPORAN KASUS


I. II. Identitas Pasien Nama Umur Pekerjaan Penghasilan Isteri : Ny. S Suami : Tn. M Isteri : 39 th Suami : 43 th Isteri : Ibu rumah tangga Suami : Pedagang Isteri : Suami : Tak menentu Alamat : Jl. Raya Langkap - Burneh No. RM : 110411 Anamnesa (tanggal 21/12/2011 oleh DM Welly H S) Pasien datang ke poli kandungan dengan keluhan usia kehamilan yang lewat waktu namun tidak dirasakan tanda-tanda akan melahirkan. Perkiraan pasien usia kehamilannya mencapai 10 bulan. Pasien masuk kamar bersalin pukul 10.30 tanggal 21 Desember 2011. Keluhan utama Usia kehamilan lewat bulan Riwayat Penyakit Sekarang Tidak dirasakan mules / kenceng-kenceng Tidak ada riwayat keluar darah dan lendir pervaginam Tidak ada riwayat keluar cairan pervaginam Dirasakan adanya gerakan janin Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada riwayat kelaianan jantung, paru, hati, ginjal, DM, hipertensi dan leainan lain yang dapat berpengaruh pada kehamilan. Ada riwayat seksio sesaria 2,5 tahun lalu karena ketuban pecah premature (KPP)

Riwayat Sosial Tidak merokok dan minuman alkohol Tidak minum jamu Minum obat dari bidan Haid Haid terakhir tanggal 4 Maret 2011 Perkiraan persalinan tanggal 11 Desember 2011 Menarche umur 11 th Siklus teratur Lama : Sedang Dysmenorrhea : Ya Riwayat Obstetrik GIII PI00II Nikah 1 kali Hamil pertama usia kehamilan 12 minggu, Abortus Hamil kedua usia kehamilan 9 bulan, lahir seksio sesaria karena kpp, jenis kelamin laki-laki, berat badan lahir 3500 g, hidup, usia 2 th 10 bulan Hamil ketiga hamil ini III. Status Presens (21/12/2011) Keadaan umum : Cukup Kesadaran : Compos mentis Tinggi badan & Berat Badan : 155 cm & 55kg Vital sign Tensi : 110/80 mmHg RR : 18x/menit Kepala Ikterus : (-) Dypsneu : (-) Anemi : (-) Cyanosis : (-) Leher Nadi : 84x/menit Suhu : 36,8 C

Trakea ditengah Tidak ada benjolan abnormal Tidak ada bendungan vena Thorax Simetris Tidak ada benjolan, massa, luka bekas operasi, dan bentukan

abnormal lainnya. Jantung + + S1 S2 tunggal Murmur (-) gallop (-) Suara napas vesikuler Wheezing (-) ronki (-) Abdomen Bising usus 5X/menit Hepar tidak teraba dan tidak nyeri tekan Lien tidak teraba dan tidak nyeri tekan Ginjal tidak teraba dan tidak nyeri tekan Genitalia eksterna : oedem vulva (-) Ekstremitas oedem + + + + + +

Paru-paru

Payudara normal

Akral hangat

Reflex fisiologis (+) Reflex patologis (-) IV. Status Obsterikus Muka Chloasma gravidarum (-)

Leher Thorax

Exophthalmus (-)

Struma (-)

Mammae : Membesar dan Tegang

Abdomen Inspeksi : Perut membesar kedepan, simetris Palpasi : Leopold I : Tinggi fundus ateri 3 jari bawah processus xyphoideus (30 cm) Leopold II : Letak punggung kanan Leopold III : Bagian terbawah janin Kepala, Kepala belum masuk pintu atas panggul Leopold IV : 4/5

Perkusi : tympani meteorismus (-)

Auskultasi : Denyut jantung janin (+) (12-11-12)

Pemeriksaan dalam Tidak ada pembukaan Ketuban (+)

V. Laboratorium

Hb : 9,4 g % (talquist)
VI. Diagnosa

GIII PI00II PD/T/H dengan riwayat Sectio Caesaria 2,5 th lalu, tidak inpartu VII. Terapi Prinsip penatalaksanaan kehamilan lewat waktu adalah terminasi. Dikarenakan adanya kontraindikasi induksi oksitosin, yaitu riwayat Sectio Caesaria 2,5 th lalu, maka dilakukan terminasi perabdomianal yaitu Sektio Caesaria. Persiapan Ibu :

Penderita diberi makanan yang mudah dicerna pada malam sebelum operasi Puasa sekitar 6 jam sebelum operasi Pasang infus RL Flas I Pasang Dauer cateter Lakukan scerent

Laporan Operasi Sectio Caesaria : 1. Antiseptic lapangan operasi dengan betadine 10 % dan dipersempit dengan kain steril 2. 3. Insisi kulit perut dan subkutis low midline pada bekas luka operasi Sayatan kecil pada fasia musculus recti abdommis dan dengan bantuan

pinset anatomis lalu fascia digunting kebawah dan keatas 4. M. Recti abdommis di kuakkan secara tumpul ke lateral sehingga

peritoneum bebas

5.

Peritoneum parietalis dijepit dengan pinset anatomis, diangkat, digunting

keatas dan bawah, pinggir-pinggirnya di klem (peritoneal klem) 6. Eksplorasi : Uterus sebesar aterm Adneksa kanan kiri normal

Terapi LSCS (Lower Segment Caesarean Section) : jari. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala Blader flap Insisi segmen bawah rahim melintang (transversal) 10 cm berbentuk

konkaf sampai endometrium. Endometrium ditembus secara tumpul dengan

Apgar Score 8-9 / jenis kelamin laki-laki / berat 2600 g / panjang 48 cm 7. no.2. 8. Cavum abdomen ditutup langsung, dijahit lapis demi lapis. Ketuban jernih Plasenta di fundus lengkap, dilahirkan secara manual Segmen bawah rahim dijahit secara jelujur festoon dengan benang cromix

- Fascia m.recti abdominis dijahit secara jelujur feston dengan benang safil no.1 - Kulit dijahit satu-satu side. Diagnosa Pre Operasi (DPO) : GIII PI00II PD/T/H dengan riwayat Sectio Caesaria 2,5 th lalu, tidak inpartu Diagnosa Durante Operasi (DDO) : GIII PI00II PD/T/H dengan riwayat Sectio Caesaria

2,5 th lalu, tidak inpartu Terapi : LSCS (Lower Segment Caesarea Section) Terapi Post Operasi : Infus RL & D5 2:2 Clavamox 3x1 vial Drip induxin 1 amp sampai dengan 24 jam Vitamin B1 3x1 amp Kalnex 3x1 amp Pospargin 3x1 amp

BAB III PEMBAHASAN


Telah dilaporkan suatu kasus wanita 39 tahun dengan usia kehamilan 42 minggu dengan diagnosa GIII PI00II PD/T/H dengan riwayat Sectio Caesaria 2,5 th lalu, tidak inpartu. Selanjutnya akan dibahas :
1. Apakah diagnosa pasien sudah tepat?

Pasien ini didiagnosa GIII PI00II PD/T/H dengan riwayat Sectio Caesaria 2,5 th lalu, tidak inpartu. Tinggi fundus uterus 31 cm, taksiran berat janin 2790 gram. Diagnosis terhadap pasien diperkuat oleh tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT), yaitu tanggal 04 maret 2011. Taksiran persalinannya ialah 11 desember 2011. Berdasarkan HPHT pasien, usia kehamilannya ialah 42 minggu. Syarat kehamilan lewat waktu ialah kehamilan yang telah lewat 42minggu. Maka diagnosa untuk pasien ini sudah tepat.
2. Apakah pelaksanaan pada kasus ini sudah tepat?

Prinsip dari kehamilan lewat waktu adalah terminasi kehamilan segera. Pada kasus ini terminasi secara induksi tidak dilakukan karena adanya kontraindikasi yaitu pasien pernah operasi section caesaria 2,5 th yang lalu. Maka terminasi dilakukan dengan seksio caesaria.
3. Apa penyebab kehamilan lewat waktu pada kasus ini?

Faktor penyebab dari kehamilan lewat bulan ialah kelainan janin (anensephalus, hipoplasia, kelainan kelenjar suprarenal janin, janin tidak memiliki hipofisa), tali pusat pendek, dan kelainan letak janin. Faktor lain ialah kesalahan dalam penanggalan, primigravida, riwayat serotinus, jenis kelamin laki-laki, dan genetik. Pada kasus ini, pasien tidak memiliki riwayat kehamilan serotinus dan tidak ada keluarga yang punya riwayat serotinus, juga tidak ditemukan kelainan pada janin, baik anatomik dan fisiologik janin, maupun kelainan letak janin maupun tali pusat. Jadi kemungkinan besar penyebab kehamilan lewat waktu pada pasien ini adalah jenis kelamin janin laki-laki.

BAB IV KESIMPULAN
1. Kehamilan lewat Waktu (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih

dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haidterakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah atau melebihi 42 minggu.
2. Pada ibu ini tidak dirasakan mules / kenceng-kenceng, tidak ada riwayat keluar darah dan

lendir pervaginam, tidak ada riwayat keluar cairan pervaginam. Sedangkan dari pemeriksaan dalam belum ada pembukaan serviks. Sehingga dapat dikatakan ibu ini tidak inpartu.
3. Diagnosa akhir GIII PI00II PD/T/H dengan riwayat Sectio Caesaria 2,5 th lalu, tidak

inpartu.
4. Karena kehamilan telah lewat dari waktu persalinan seharusnya,tidak ada tanda-tanda

persalinan, dikhawatirkan terjadi gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim sehingga harus dilakukan terminasi segera. Pada ibu ini dikarenakan adanya kontraindikasi induksi oksitosin, maka Terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio cesarea.

DAFTAR PUSTAKA
Wiknjosastro H.Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Dalam Ilmu Kebidanan hal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,Jakarta 2005. Cunningham FG et al.Postterm Pregnancy. Williams Obstetric, 22st ed.Mc.Graw Hill Publishing Division, New York, 2005.

Mansjoer Arif, et al. Induksi persalinan. Dalam kapita selekta kedokteran ed.3 cet. Media Aesculapius, Jakarta. 2000. Mochtar, Rustam. Postmatur . Dalam: Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi,Obstetri Patologi ed.2. EGC:Jakarta. 1998. Widohariadi, H. Dkk. Penatalaksanaan Kehamilan Lewat Waktu.Pedoman Diagnosa Dan Terapi Bag/SMF Ilmu kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya. 2009. http://emedicine.medscape.com/article/261369-overview