Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS PEMBENTUKAN OTORITAS JASA KEUANGAN Oleh: Hary Koot

Abstrak Penulisan ini bersifat deskriptif analitis yaitu penulisan yang bertujuan untuk menggambarkan secara umum tentang prospek dan mekanisme Otoritas Jasa Keuangan dalam mengawasi lembaga keuangan bank dan non bank di Indonesia. Penelitian ini mengunakan pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang didapat dari studi pustaka yang meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian menggambarkan prospek dan mekanisme Otoritas Jasa Keuangan dalam mengawasi bank dan lembaga keuangan non bank. Penelitian juga menunjukan manfaat pembentukan Otoritas Jasa Keuangan ini. Dalam hal pengawasan terhadap bank di Indonesia selama ini, peran yang dilakukan Bank Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal itu ditandai dengan adanya berbagai kasus; mulai dari BLBI, skandal Bank Bali sampai skandal Bank Century. Pengantar Perkembangan perekonomian global telah mendorong peningkatan fungsi perbankan. Sebagai lembaga keuangan, perbankan memegang peranan yang sangat penting dalam suatu sistem keuangan negara. Bank merupakan badan usaha yang berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat, baik dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kredit kepada masyarakat. Melalui fungsi perbankan ini diharapkan dapat meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah diamanatkan dalam pembukaan Undangundang dasar 1945 alinea keempat sebagai tujuan Negara Indonesia. Berdasarkan tujuan negara tersebut diselenggarakan pembangunan Negara Indonesia. Tetapi pada implementasinya telah terjadi penyimpangan, khususnya di bidang perbankan, antara lain ketidak hati-hatian dunia perbankan dalam mengelola dana dari masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan kurang

memadainya perangkat hukum yang dapat memayungi terbentuknya sistem keuangan nasional yang baik.Penyimpangan ini telah mengakibatkan distorsi praktek ekonomi pasar yang mengakibatkan fondasi perekonomian nasional menjadi lemah. Seharusnya perekonomian nasional dapat mampu tumbuh dengan stabil dan berkelanjutan, menciptakan kesempatan kerja yang luas dan seimbang di semua sektor perekonomian, dan memberikan kesejahteraan secara adil kepada seluruh rakyat Indonesia, sehingga penyimpangan tersebut harus cepat diperbaiki.Untuk itu dalam melakukan tugasnya ini bank sebagai lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat perlu mendapatkan pengawasan yang efektif. Pada mulanya Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Bank Indonesia bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-undang. Dalam perjalanannya Bank Indonesia dalam menjalankan tugas pengawasan terhadap bank sering mengalami kesalahan.Hal ini dapat dilihat dari banyaknya terjadi kasus-kasus yang akhirnya merugikan masyarakat dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank, misalnya kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), Skandal Bank Bali dan Skandal Bank Century. Untuk mengatasi berbagai tantangan di atas, maka perlu dilakukan penyesuaian mekanisme perumusan kebijakan moneter dan penataan kembali kelembagaan.Berdasarkan apa yang telah diamanatkan oleh Undang-undang nomor 3 tahun 2004 tentang Bank Indonesia pada pasal 34 ayat 1 telah mengamanahkan untuk membentuk suatu lembaga yang Independen dalam mengawasi sektor jasa keuangan Indonesia. Langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat akuntabilitas, transparansi, dan kredibilitas Bank Indonesia tanpa mengurangi makna independensi lembaga negara tersebut. Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat beberapa pokok permasalahan yang akan penulis bahas dalam skripsi ini, yaitu sebagai berikut, pertama, menapa dibentuk lembaga Otoritas Jasa Keuangan? Kedua, bagaimana landasan pembentukan dan pengaturan Otoritas Jasa Keuangan? Ketiga, bagaimana

koordinasi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dalam melakukan pengawasan terhadap lembaga keuangan?

Pengawasan Perbankan Di Indonesia Yang Belum Optimal Bank Indonesia merupakan Bank sentral yang peran dan kedudukannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia. Peranan bank sentral dalam sistem ekonomi suatu Negara adalah sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan financial markets. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh bank sentral terhadap interest rate, penentuan jumlah kredit dan jumlah uang beredar, yang semuanya mempengaruhi financial markets serta tingkat inflasi. Posisi bank sentral yang begitu penting dan berperan sangat dominan dalam sistem ekonomi suatu Negara, maka bank sentral mempunyai fungsi sebagai lender of last resort.Fungsi sebagai lender of last resort ini adalah fungsi bank sentral dalam mengatasi kesulitan yang di alami oleh perbankan yang tidak sering terjadi. Pada dasarnya bank sentral diberi kebebasan untuk melakukan kontrol terhadap sistem keuangan Negara, karena pada hakekatnya tujuan utama pendirian bank sentral menjaga stabilitas harga dan memelihara pertumbuhan ekonomi dan kestabilan keuangan. Selain menjaga kestabilitas keuangan Bank Indonesia juga mempunyai peran dalam pengawasan dan pengaturan.dalam hal pengawasan dan pengaturan Bank Indonesia diarahkan untuk mengoptimalkan fungsi perbankan Indonesia. Dalam hal pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap dunia secara esensial tugas pokok Bank Indonesia menjalankan fungsi stabilisasi sistem keuangan negara. Termasuk dalam tugas pokok itu adalah menjaga inflasi agar tidak menjadi tinggi, menjaga interest rate dan menjaga kestabilan nilai mata uang, dan mengatur kredit. Mengingat Bank Indonesia adalah milik negara atau bank milik pemerintah, maka Bank Indonesia yang dipersiapkan oleh pemerintah itu perlu adanya suatu prinsip yang di pegang oleh Bank Indonesia dalam pengawasan di

dunia perbankan yaitu : prinsip indenpendensi, prinsip akuntabilitas dan prinsip transparansi. Tetapi melihat maraknya kasus pembobolan bank yang terjadi hingga saat ini mengindikasikan lemahnya pengawasan bank yang dilakukan Bank Indonesia. Hasil investigasi pelanggaran perbankan selama tahun 2004-2009 menunjukkan bahwa jumlah pelanggaran perbankan mencapai 1.139 kasus. Sangat ironis memang deretan fakta yang terjadi ditengah-tengah usaha pemerintah memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan perbankan dan keuangan nasional. Pemberlakuan beberapa regulasi seperti peraturan Bank Indonesia tentang penerapan prisip mengenal nasabah, penerapan management resiko, undang-undang tindak pidana pencucian uang dan undangundang anti korupsi nampaknya belum bisa menyeret aktor-aktor intelektual dalam kejahatan yang terjadi di dunia perbankan. Dapat dilihat dari beberapakasus seperti kasus BLBI, skandal Bank Bali, skandal Bank Global, Tbk dan yang terakhir menarik perhatian adalah skandal Bank Century.

Landasan Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan Awal pembentukan Otoritas Jasa Keuangan berawal dari adanya keresahan dari beberapa pihak dalam hal fungsi pengawasan Bank Indonesia. Ada 3 hal yang melatarbelakangi pembentukan Otoritas Jasa Keuangan perkembangan industri sektor jasa keuangan di Indonesia, permasalahan lintas sektoral industri jasa keuangan dan amanat Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia (Pasal 34). Pasal 34 Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia merupakan respon dari krisis Asia yang terjadi pada tahun 1997-1998 yang berdampak sangat berat terhadap Indonesia, khususnya pada sektor perbankan. Krisis pada tahun 1997-1998 yang melanda Indonesia mengakibatkan banyaknya bank-bank yang mengalami koleps sehingga banyak yang mempertanyakan pengawasan Bank Indonesia terhadap bank-bank. Kelemahan kelembagaan dan pengaturan yang tidak mendukung diharapkan dapat diperbaiki sehingga tercipta kerangka sistem keuangan yang lebih tangguh. Reformasi dibidang hukum

perbankan diharapkan menjadi obat penyembuh krisis dan sekaligus mencitakan penangkal dalam pemikiran pemasalahan-permasalahan di masa depan. Untuk itu terbentuklah ide awal pembentukan Otoritas Jasa Keuangan yang sebenarnya adalah hasil kompromi untuk menghindari jalan buntu pembahasan undang-undang tentang Bank Indonesia oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Pada awal pemerintahan Presiden Habibie, pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Bank Indonesia yang memberikan

independensi kepada bank sentral. Rancangan Undang-Undang ini disamping memberikan independensi tetapi juga mengeluarkan fungsi pengawasan perbankan dari Bank Indonesia. Ide pemisahan fungsi pengawasan dari bank sentral ini datang dari Helmut Schlesinger, mantan Gubernur Bundesbank (bank sentral Jerman) yang pada waktu penyusunan rancangan undang-undang (kemudian menjadi Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia) bertindak sebagai konsultan. Mengambil pola bank sentral Jerman yang tidak mengawasi bank. Di Jerman, pengawasan industri perbankan dilakukan oleh suatu badan khusus yaitu Bundesaufiscuhtsamt fur da kreditwesen. Pada waktu Rancangan Undang-Undang tersebut diajukan muncul penolakan yang kuat oleh kalangan DPR dan Bank Indonesia. Sebagai kompromi maka disepakati bahwa lembaga yang akan menggantikan Bank Indonesia dalam mengawasi bank tersebut juga bertugas mengawasi lembaga keuangan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlihat bahwa pemisahan fungsi pengawasan tersebut adalah memangkas kewenangan bank sentral. Nantinya Otoritas Jasa Keuangan akan mengawasi seluruh industri jasa keuangan yang ada di Indonesia. Usulan untuk membagi kewenangan di bidang pengaturan dan pengawasan bank kepada 2 (dua) lembaga, yaitu Bank Indonesia dan lembaga penyedia jasa keuangan atau yang dikenal dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bentuk dari sistem ini merupakan hal baru dalam sejarah perkembangan di bidang perbankan Indonesia, mengingat bentuk pengaturan dan pengawasan perbankan sebelumnya berada di dalam satu lembaga saja, yaitu Bank Indonesia. Namun nantinya tugas mengawasi bank berada di tangan Otoritas Jasa Keuangan.

Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia ditetapkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan akan dibentuk paling lambat tahun 2010. Namun Sebelum diamandemenkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia menjadi Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia bunyi ketentuannya adalah Lembaga Pengawas Jasa Keuangan/LPJK (yang kemudian menjadi Otoritas Jasa Keuangan) paling lambat sudah harus dibentuk pada akhir Desember 2002. Tetapi dalam penyusunan Undang-undang Otoritas Jasa Keuangan terdapat masalah yang harus diindentifikasi yang selanjutnya dikaji dan dianalisa kebaikan dan kelemahannya, serta menelaah praktek-praktek dalam membentuk suatu lembaga pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan.Dalam hal ini perlu dipertimbangkan prinsip-prinsip untuk melakukan reformasi dan organisasi lembaga-lembaga yang melaksanakan fungsi pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan, yaitu independensi, terintegrasi, dan menghindari benturan kepentingan.

Koordinasi Otoritas Jasa Keuangan Dalam Fungsi Pengawasan Terhadap Lembaga Keuangan Di Indonesia Dalam hal pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada industri keuangan baik bank maupun non bank berada di satu atap atau sistem pengawasan terpadu, sehingga sistem pengawas bisa bertukar informasi dengan mudah. Hal ini dapat menghindari adanya putusnya informasi antara badan pengawas bank dan non bank yang telah ada di Indonesia sebelumnya. Sebagai contoh kasus bailout Bank Century yang telah terjadi yang hingga sampai saat ini belum terselesaikan. Dalam kasus tersebut Bank Indonesia sebagai pengawas bank menganggap PT. Antaboga sudah di awasi Bapepam- LK karena merupakan produk reksa dana, tetapi Bapepam LK juga tidak mengetahui keberadaan PT. Antaboga karena produk ini di jual dilingkungan bank. Sistem pengawasan terpadu ini dapat meminimalisasi kemungkinan berbenturannya kordinasi antar lembaga. Jika ada berbagai lembaga pengawas dalam suatu sistem keuangan banyak tantangan yang harus dihadapi salah satunya

adalah memastikan kordinasi antar lembagalembaga agar terciptanya konsistensi dalam menentukan suatu kebijakan atau menentukan siapa yang bertanggung jawab atas suatu kebijakan tersebut. Tetapi pada kenyataannya sering terjadainya kegagalan kordinasi dalam bentuk pengawasan yang dilakukan oleh lembaga pengawasan terhadap dunia perbankan. Dalam proses pengawasan terpadu ini membutuhkan undangundang baru, tetapi memungkinkan menjadi kesempatan untuk kepentingan tertentu di sektor keuangan dalam membatasi proses efektifitas aturan dan pengawasan. Dengan adanya proses pengawasan terpadu akan berbenturan dengan sistem pengawasan sektoral yang sudah ada sebelumnya. Hal ini dapat menjadi kendala yang besar dalam proses pengawasan terpadu. Salah satu cara dalam mengatasi masalah tersebut adalah dengan mencabut aturan pengawasan sektoral dan melakukan pembentukan pengawasan terpadu. Tetapi yang perlu diperhatikan, dalam hal ini jangan sampai proses pembentukan aturan baru dapat di manfaatkan dan di gunakan oleh kepentingankepentingan tertentu. Dalam sistem pengawasan terpadu terdapat dua persoalan penting mengenai perubahan tata kelola yang akan dihadapi menuju sistem pengawasan terpadu yang di inginkan. Kegagalan dalam mengatasi persoalan tersebut, secara efektif akan mengurangi kemampuan lembaga pengawasan yang baru dalam kewenangannya melakukan pengawasan. Kedua persoalan tersebut adalah : Pertama, kesepakatan mengenai pemindahan pegawai dari lembaga pengawasan yang lama ke lembaga pengawasan yang baru. Dalam hal ini ketika sudah ada beberapa lembaga pengawas dan kemudian di gabungkan menjadi satu lembaga pengawas akan memunculkan ketegangan antar keduanya. Untuk mencegah hal tersebut dapat dilakukan dengan cara pemindahan pegawai dari lembaga yang lama ke lembaga pengawas yang baru, tetapi harus di sertai dengan kesepakatan antar dua lembaga untuk meninjau dan menempatkan kedudukan ulang para pegawai dan juga membentuk struktur pengawasan yang teratur agar tidak terjadi benturan atau persaingan antar pegawai yang sebelumnya bekerja di lembaga yang berbeda.

Kedua, Perubahan budaya kerja, di setiap lembaga pengawas yang berbeda tentunya memiliki suatu budaya kerja yang beda pula. Budaya kerja dalam hal ini telah terjadi suatu kebiasaan yang di sebabkan oleh beberapa faktor seperti tata kelola dari masingmasing lembaga dan pendekatan umum pengawasan terhadap lembaga keuangan.Untuk itu dengan adanya penggabungan menjadi satu lembaga pengawas harus di ciptakan budaya kerja yang mencakup dari setiapsetiap lembaga pengawas yang sudah ada sebelumnya.

Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1. Bank sentral dalam sistem ekonomi suatu negara memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan keuangan pasar di Indonesia. Dalam menjalankan tugas wewenangnya Bank Indonesia selaku bank sentral, mempunyai wewenang melakukan pengawasan terhadap bank-bank yang ada di Indonesia. Dalam melaksanakan fungsi tersebut, Bank Indonesia menggunakan prinsip kehatian-kehatian, yaitu prinsip independensi, transparansi, dan akuntabilitas. Namun demikian,

pengawasan Bank Indonesia belum dilaksanakan secara efektif. Kasus pembobolan bank yang terjadi hingga saat ini mengindikasikan lemahnya pengawasan bank yang dilakukan Bank Indonesia. Pemberlakuan beberapa regulasi seperti peraturan Bank Indonesia tentang penerapan prisip mengenal nasabah, penerapan management resiko, undang-undang tindak pidana pencucian uang dan undang-undang anti korupsi nampaknya belum bisa menyeret aktor-aktor intelektual dalam kejahatan yang terjadi di dunia perbankan. 2. Untuk itu dilakukan pembentukan Otoritas Jasa Keuangan berawal dari adanya kelemahan pengawasan perbankan nasional. Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan merupakan amanat Pasal 34 Undang-Undang No. 3 tahun 2004 tentang Bank Indonesia. Pasal 34 tersebut merupakan respon dari krisis Asia yang terjadi pada tahun 1997-1998 yang berdampak sangat berat terhadap Indonesia, khususnya pada sektor perbankan.Untuk itu

terbentuklah ide awal pembentukan Otoritas Jasa Keuangan yang sebenarnya adalah hasil kompromi untuk menghindari jalan buntu pembahasan undang-undang tentang Bank Indonesia oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Otoritas Jasa Keuangan mempunyai tujuan agar keselurahan kegiatan dalam sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan dan akuntabel serta mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. Selain itu Otoritas Jasa Keungan berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan didalam sektor jasa keuangan. Dalam Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan diatur hal-hal sebagai berikut: tugas dan wewenang, struktur

keorganisasian, perlindungan terhadap masyarakat, kerahasiaan informasi, rencana kerja dan anggaran, pelaporan dan akuntabilitas, hubungan kelembagaan, penyidikan, sanksi. 3. Dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan perbankan dilaksanakan secara terpadu, yaitu melalui Otoritas Jasa Keuangan.Pengawasan ini berbeda dengan pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia yang hanya melakukan fungsi pengawasan terhadap dunia perbankan. Namun untuk pengawasan non bank di awasi oleh lembaga lain, seperti yang salah satunya pengawasan di dunia pasar modal adalah Bapepam-LK. Fungsi pengawasan yang terpisah itu dapat terjadinya masalah-masalah terhadap kordinasi antara lembaga pengawas di lembaga sektor keuangan.Untuk itulah Otoritas Jasa Keuangan hadir dan dapat membuat pembaharuan fungsi pengawasan di dunia bank dan non bank. Setelah Rancangan Undang-Undang ini disahkan menjadi Undang-Undang, banyak tantangan yang akan dihadapi yaitu beberapa politisi menggunakan proses politik terbuka pada perubahan struktur pengawasan untuk diadakannya suatu perundingan guna mendorong perwujudan suatu peangawasan terpadu dengan cepat tidak peduli optimal atau tidak. Dalam sistem pengawasan terpadu terdapat dua persoalan penting, yaitu pertama, perubahan tata

kelola yang akan dihadapi menuju system pengawasan terpadu yang di inginkan. Kedua, kegagalan dalam mengatasi persoalan tersebut, secara efektif akan mengurangi kemampuan lembaga pengawasan yang baru dalam kewenangannya melakukan pengawasan.

Saran Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dirumuskan saran, sebagai berikut: 1. Dalam hal pengawasan yang dilakukan dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap lembaga keuangan harus dilakukan dengan berdasarkan dengan prinsip-prinsip independensi, transparansi dan akuntabel.Prinsip-prinsip tersebut hanya dijadikan sebagai tulisan belaka yang tidak dijalankan. Karena hingga saat ini kasus-kasus dalam fungi pengawasan masih banyak terjadi dan melibatkan pihak pemerintah dalam menentukan kebijakan. Agar tidak terjadi benturan antara Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dalam pelaksanaan pengawasan terhadap bank, maka perlulah adanya kejelasan mengenai pembagian otoritas dan koordinasi antara Bank Indonesia dengan Otoritas Jasa Keuangan dalam pengawasan perbankan.Untuk itu, diperlukan adanya suatu revisi dari Undang-undang Bank Indonesia mengenai fungsi pengawasannya yang telah diambil alih oleh Otoritas Jasa Keuangan. 2. Pengisian keanggotaan Dewan Komisioner yang berasal dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, hendaknya tidak menjadi perpanjangan tangan dari pemerintah. Intervensi dari pemerintah akan menjadi percuma dan pembentukan Otoritas Jasa Keuangan ini adalah hanyalah menjadi boneka bagi pemerintah dalam menjalankan kepentingannya. Maka diharapkan pihak-pihak dalam Otoritas Jasa Keuangan bertindak tegas apabila ada intervensi dari pemerintah. 3. Dalam rangka mewujudkan Otoritas Jasa Keuangan yang efektif dan tidak dijadikan lahan politik untuk kepentingan pribadi atau kelompok, maka Otoritas Jasa Keuangan harus bisa mengakomodir fungsi pengawasan di dunia bank dan non bank. Dengan demikian, dana yang dihimpun dari

10

masyarakat

tidak

dimanfaatkan

oleh

pihak-pihak

tertentu

untuk

kepentingannya seperti pada kasus-kasus yang banyak terjadi pasca reformasi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN DALAM SKRIPSI Buku Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Sinar Grafika 2009. Amiruddin dan Asikin , Zainal, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Matraman : Rajawali pers, 2003 Badan Pembinaan Hukum Nasional, Pengkajian Hukum Tentang Kemandirian Bank Sentral, Jakarta : Departemen Hukum dan Perundangaundangan, 2000 Bank Indonesia, Studi Hukum Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Jakarta : Penerbit Bank Indonesia, 2002. Darwam, M. Rahardjo, dkk: Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa, Jakarta: LP3ES, 1995 Darwam, M. Rahardjo dkk, Independesi BI Dalam Kemelut Politik, Jakarta : Cidesindo, 2001 Ganda, Permadi Praja, Dasar dan Prinsip Pengawasan Bank, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka, 2004. Ismail, Maqdir, Skandal Bank Bali, Perkara Hukum atau Politik, Jakarta : Alvabet, 1999 Ismail, Maqdir, Bank Indonesia Indepedensi, Akuntabilitas dan Transparansi, Jakarta : Fakultas Hukum, Universitas Al-Azhar Indonesia, 2007. ____________, Bank Indonesia Dalam Perdebatan Politik dan Hukum, Jakarta : Navila Idea, 2009. Kaligis , O.C., Antologi Tulisan Ilmu Hukum, Bandung : Alumni 2009

11

Rachbini, Didik J. Suwidi Tono, dkk, Bank Indonesia : Menuju Independensi Bank Sentral, Jakarta: PT. Mardi Maluyo, 2000 Napitupulu, Ria Diana Winanti, Lembaga Penjamin Simpanan Di Indonesia, Jakarta: BIS, 2010. Sitompul, Zulkarnain, Problematika Perbankan, Bandung : Penerbit Book Terrace and Library, 2005. Husein, Yunus , dkk, Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Perubahan UndangUndang Perbankan, (UU No. 7 Tahun 1992 Jo. UU No. 10 Tahun 1998), Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Nasional Departmen Huku dan Ham, 2007

Artikel/Makalah Harian Umum Kompas tanggal 26 Agustus 2010. Naskah akademik pembentukan otoritas jasa keuangan Pandangan Fraksi-franksi, Dalam Rapat Pembahasan RUU tentang OJK Kiryanto, Ryan, Otoritas Jasa Keuangan dan Kepentingannya, Kompas, 14 Juni 2003 S. Batunanggar, Strategi Pengawasan Bank Yang Efektif, Jakarta: Institusi Bankir Indonesia, edisi Nomor 78 Juli-Agustus 1999 Syahdeini, Sutan Remy, beberapa pokok pemikiran mengenai reformasi hukum perbankan di Indonesia, Makalah yang tidak diterbitkan, tahun 2001. Tim Penelitian UGM dan UI, Kajian Akademik, Alternatif Struktur Otoritas Jasa Keuangan yang Optimum, 2010 Sitompul, Zulkarnain, Artikel yang berjudul Menyambut Khadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pilars No.02/Th. VII/12-18 Januari 2004. Sitompul, Zulkarnain, Memberantas Kejahatan Perbankan : tantangan pengawasan Bank, Jurnal Hukum Bisnis vol. 24-No.1-Tahun 2005

12

Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Bank Indonesia Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Internet Bank Indonesia, Peran Bank Indonesia dalam stabilitas keuangan, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Peran+ Bank+Indonesia/Peran+BI/. Bank Indonesia, Tujuan Pengaturan dan Pengawasan Bank, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Ikhtisar+Perbankan/Pengaturan+dan +Pengawasan+Bank/Tujuan+dan+Kewenangan/ Bank Indonesia, Transparasi dan akuntabilitas kebijakan moneter.http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Transparansi+dan+Akuntabilit as/ Independensi Bank Indonesia (perspektif historis), http://matakuliah. files.wordpress.com/2007/09/independensi-bank-indonesia.pdf Nasution, Marah Sutan, Berharap Pada OJK, berita/baca/lt4eb0a7465d187/berharap-pada-ojk. http://hukumonline.com/

Trilogi pembangunan pada masa orde baru, blogspot.com/2010/11/trilogi-pembangunan.html

http://londo43ver.

Sitompul, Zulkarnain, Menyambut Kedatangan Otoritas Jasa Keuangan, http://www.sippm.unas.ac.id.

13