Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Pelvis adalah daerah batang tubuh yang letaknya dibawah cavum abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke ekstremitas inferior. Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh tulang, ligamentum dan otot. Pelvis berfungsi untuk menstransmisi berat badan melalui sendi sakro iliaka ke ilium ,asetabulum dan dilanjutkan ke femur. Selain itu panggul berfungsi melindungi struktur-struktur yang berada didalam rongga panggul. Pada rongga panggul perempuan terdapat bermacam-macam organ. Selain banyak pembuluh darah dan serabut syaraf, juga banyak terdapat organ-organ yang berhubungan dengan organ reproduksi dan organ seksual. Nyeri panggul pada perempuan disini mengacu pada rasa sakit di perut bagian bawah pusar. Nyeri ini dapat menyertai berbagai kondisi. Nyeri panggul bisa saja merupakan tanda bahaya dari kesuburan, gangguan pencernaan seperti IBS, atau sebuah tanda untuk keadaan darurat yang mengancam jiwa. Sifat nyeri dapat sementara atau menahun, dari nyeri ringan sampi nyeri berat hingga dapat menimbulkan gangguan psikologis. Untuk mencari penyebab nyeri pelvis, diperlukan anamnesis dan pemeriksaan yang seksama, bahkan dengan menggunakan alat khusus dan ditunjang oleh pemeriksaan laboratorium. Diketahui bahwa terdapat sejumlah keadaan yang dapat menimulkan rasa nyeri pada pelvis sehingga diperlukan evaluasi yang cermat sampai dijumpai penyebab utama.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anatomi Pelvis

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. sacrum, ilium, ischium, pubis, pubic symphisis, acetabulum, obturator foramen, coccyx, (red dotted line) linea terminalis Tulang dan ligament dari pelvis berfungsu untuk melindungi dan menyangga organ panggul dan jaringan penggantungnya. Tulang panggul (os coxae) terdiri atas 3 bagian: Os Ilium : otot-otot untuk fleksi pinggul musculus iliacus dan otot psoas di medial os ilium, Terdiri atas: Ala (sayap atas) Krista iliaka : SIAS, SIAI Linea arkuata / linea terminalis Incisura ischiadicus mayo

Os Ischium Os Pubis Posisi anatomis dari pelvis adalah


- SIAS dan tuberculum pubicum dalam satu bidang frontal /coronal - Os.coccyges ( ujung ) dan symphisis pubica ( tepi atas ) dalam satu bidang

horizontal - Facies pelvina ossis sacri menghadap ke bawah Cavitas pelvis yang terbentuk seperti corong menjadi tempat bermukimnya vesica urinaria ,alat kelamin pelvis ,rectum ,pembuluh darah,dan pembuluh limfe serta sarafsaraf.Pelvis dibentuk oleh os. coxae ,os. sacrum dan os. Coccyges. Pelvis dibagi menjadi dua oleh apertura pelvis superior menjadi : 1. Pelvis mayor /cavitas pelvis spuria ( palsu ) o o o Terletak diatas apertura pelvis superior ( aditus pelvis ) Ditempati oleh beberapa visera abdomen ,misalnya : colon sigmoideum Batasnya : ventral lateral dorsal o o o o : dinding abdomen : fossa iliaca dextra et sinistra : VL 5,VS 1

2. Pelvis minor /cavitas pelvis vera ( asli ) Terletak antara apertura pelvis superior dan inferior Ditempati oleh visera pelvis .misalnya : sistema genitalis ,vesica Dibawahnya dibatasi oleh diagphragma pelvis Pelvis minor penting dalam ilmu kebidanan karena merupakan terusan

urinaria,rectum dan ureter

yang dibatasi oleh tulang-tulang dan harus dilalui oleh fetus pada proses kelahiran. Apertura pelvis superior dibentuk oleh dua linea terminalis dextra dan sinistra .batas-batasnya adalah o o o o Kranial Dorsal : symphisis pubica : crista pubica

Pectin ossis pubis Linea arcuata ossis ilii

o o

Ventral ala ossis sacri Promontorium ossis sacri

Bentuk apertura pelvis superior penting karena merupakan lubang masuk yangharus dilalui oleh kepala fetus untuk memasuki cavitas pelvis sewaktu persalinan. Apertura pelvis inferior ,batasnya adalah o o o o o o o o Kaudal symphisis pubica Ramus inferior ossis pubis dan tuber ischiadicum Ligamentum sacrotuberale Ujung os.coccyges Art.lumbosacralis Art. Sacrococcygeum Art sacroiliaca Symphisis pubica

Articulatio articulatio di pelvis:

Selama kehamilan ligamentum-ligamentum vertebropelvik mengendur akibat pengaruh hormon-hormon ,sehingga memungkinkan gerakan antara bagian kaudal columna vertebralis dan pelvis terjadi secara lebih bebas.discus intrapubicus melonggar dan menyebabkan bertambahnya jarak antara kedua os pubis .Os .coccyges juga bergerak ke arah dorsal pada kelahiran bayi .semua perubahan ini memudahkan lewatnya janin melalui pelvis. Pelvis laki-laki dan wanita berbeda dalam beberapa aspek karena fungsinya yang juga berbeda : Struktur umum Pelvis mayor Pelvis minor Apertura pelvis superior Pelvis laki-laki Tebal,berat Dalam Sempit , dalam Jantung ( android memanjang mediolateral Apertura pelvis ( platypelloid ) Relatif sempit Relatif luas Pelvis wanita Tipis , ringan Dangkal Lebar ,dangkal Bulat ( gynecoid ) memanjang mediolateral.

),

ventodorsal

( anthropoid ) ,memanjang

inferior Arcus pubis Foramen obturatum Acetabulum Spina ischiadica Perlekatan otot Bentuk pelvis Fascia pelvis

Sempit ( angulus pubicus ) Bundar Besar Lebih runcing Jelas Seperti corong

infra

Lebar ( arcus intra pubicus ) Lonjong Kecil Tidak runcing Tidak jelas Silinder

a. Fascia diaphragmatis pelvis merupakan bagian dari fascia pelvis parietalis dan terdiri dari : 1. Fascia diaphragmatis pelvis superior o o ani) o Fascia melanjutkan diri sebagai fascia endopelvina yang menutupi vesica urinaria ,vagina dan rectum 2. Fascia diaphragmatis pelvis inferior o o Menutupi permukaan bawah m.levator ani dan m coccygeus Membentuk dinding medial fossa ischiorectalis Menutupi facies pelvina m.levator ani dan m.coccyges Antara spina ischiadica dan corpus ossis pubis ( symphisis osseum pubis )

menenbal membentuk arcus tendineus fasciae pelvis ( arccus tendineus m.levatoris

b. Fascia pelvis yang terdiri dari : 1. Fascia pelvis parietalis o o o o o Melapisi bagian dalam dinding abdomen dan dinding pelvis yaitu fascia Terputus karena melakat pada linea terminalis Sebagian membentuk fascia diaphragmatis pelvis superior dan inferior dan Menutupi permukaan pelvic m.obturator internus ,m.piriformis transversa abdominis dan fascia iliaca

terpisah dari peritoneum parietale oleh lemak extra peritoneal ,m.coccygeus ,m.shincer urethrae dan m.levator ani. Melekat pada periosteum ossis ilii,tepat kaudal dari tepi pelvis

Pada wanita : melekat pada permukaan dorsal corpus ossis pubis ,vesica

urinaria ,cervix uteri ,vagina dan rectum umtuk membentuk lig.pubivesicale ,lig.transversuma colli uteri dan lig sacro uterium. o Pada pria : melekat pada rectum .prostata ,vesica urinaria ,dan os.pubis.fascia yang melekat pada prostata dan vesica urinaria membentuk lig.puboprostaticum mediale dan lig.puboprostaticum laterale. o o o o o Sebagian menjadi fascia obturatoria ( menutupi dinsing lateral pelvis ) Fascia obturatoria menutupi m.obturator internus Dibagian depan os sacrum tidak terdapat fascia Fascia ini melengkung menebal membentuk arcus tendineus m.levatoris Fascia obturatoria berhubungan dengan fascia khusus disebut lunata .fascia

ani ( pertemuan fascia obturatoria dengan fascia diaphragmatis pelvis superior ) lunata membentuk canalis pudendus

2. Fascia pelvis visceralis ( endopelvic) o o o o o o Membungkus visera pelvis dan melekatkan satu dengan lainnya dan juga Dibentuk oleh jaringan extraperitoneal Antara peritoneum dan fascia pelvis parietalis Ke atas sebagai jaringan extraperitoneal abdomen Bersifat membranosa ,areolar ,berlemak Penebalan dibeberapa tempat membentuk selubung pembuluh darah atau dengan fscia pelvis parietalis

ligamentum. Spatium retropubicum terletak antara fascia pelvis A. Nyeri Pelvik I. Definisi Definisi. Nyeri pelvik yang terjadi pada abdomen bagian bawah wanita dan dapat berasal duri siStem reproduksi wanita, saluran kemih bagian bawah, atau saluran pencemaran.

II. Etiologi
1. Endometriosis 2. Kista ovarii 3. Penyakit inflamatorik pelvik 4. Torsi adneksa 5. Apendisitis 6. Leiomiomata uterin 7. Kehamilan ektopik 8. Infeksi saluran kemih, mittelschmerz, keganasan, dan nyeri psychogenic.

III. Epidemiologi Keluhan nyeri pelvik terdapat kurang lebih 1-2% dari pasien yang datang ke tempat perawatan primer.

1. 2. 3.

Endometriosis (terjadi sebanyak 45-50% pada wanita dengan nyeri pelvik kronik) Kista ovarii-m (menyebabkan sebanyak 40% nyeri pelvik) Penyakit inflamatorik pelvik (bertsinggung jawab terhadap 20% nyeri pelvik akut pada pasien-pasien wanita) Torsi adneksa (bertanggung jawab sebanyak "6% dari nyeri pelvik akut) Apendisitis (bertanggung jawab untuk 10% nyeri pelvik akut) Leiomiomata uterin (fibroid) (menyebabkan 5% nyeri pelvik kronik) Kehamilan ektopik (menyebabkan 1-2% nyeri pelvik akut) Infeksi saluran kemih, mittelschmerz, keganasan, dan nyeri psychogenic.

4. 5. 6. 7. 8.

IV. Kemungkinan Diagnosis Nyeri Pelvik A. Endometriosis Endometriosis biasanya ditemukan pada wanita yang berusia antara 25 dan 45 tahun. Faktor-faktor genetik berperanan dalam terjadinya masalah ini. Wanita multipara atau hamil pada usia dini dalam kehidupan produk mempunyai insidens yang rendah. B. Kista ovarium

C. Penyakit inflamatorik pelvik (PID, pelvic inflammatory disease)

Lebih dari satu juta kasus penyakit Inflamatorik pelvik terjadi setiap tahun. Dua puluh persen di antaranya adalah remaja. Wanita remaja yang aktif secara seksual mempunyai risiko paling tinggi menderita kondisi ini. Faktor- aktor lainnya meliputi ras bukan kulit putih, episode PID sebelumnya, dan mungkin, penggunaan alat kontraseptif intrauterin (IUD). C. Torsi adneksa Seringkali merupakan tanda pertama tumor ovarium. Ini lebih sering pada tumor yang ukurannya kecil sampai sedang, Jika kondisi di-sebabkan oleh kista, ini paling sering terjadi selama tahun-tahun praduktif. Torsi yang disebabkan oleh tumor maligna ovarium lebih sering terjadi' pada wanita tua kulit putih. D. Apendisitis Terjadi lebih sering pada dekade kedua dan ketiga, dengan , puncaknya pada pertengahan antara 13-19 tahun. Kemungkinan pria menderita dua kali lipat lebih banyak pada periode ini; ratio jenis kelamin harnpir sama pada kolompok usia lainnya. E. Leiomiomata uterin (fibroid) Terdapat sebanyak 50% pada wanita saat / otopsi. Fibroid ini mungkin disertai dengan obesitas dan hipertensi pada * wanita kulit hitam dan lebih sering terjadi pada tahun-tahun reproduktiff selanjutnya,
F. Kehamilan ektopik

Frekuensi jenis kehamilan ini meningkat dengan bertambahnya usia dan lebih sering pada kulit hitam dan wanita dengan riwayat PID sebelumnya, pembedahan pelvis, atau, mungkin, penggunaan IUD. Jumlahnya berkisar 5 sampai 25 per 1000 kehamilan. G. Infeksi Saluran Kemih Insidens infeksi saluran kemih (UTI) pada wanita meningkat pada usia mulai dengan pubertas. Insidens meningkat dengan cepat setelah menopause. Kurang lebih 20% dari seluruh wanita paling tidak mengalami satu episode UTI selama hidupnya. UTI lebih sering terjadi selama kehamilan. H. Mittleschmerz

Nyeri yang berhubungan dengan ovulasi mungkin ditemukan pada beberapa wanita pada pertengahan siklus menstruasi. H. Keganasan. Keganasan uterus dan ovarium diperkirakan terjadi 11% dan 4%, secara berturut-turut, dari seluruh kanker pada wanita I. Nyeri psikogenik Wanita yang mengalami kesulitan dalam mengatasi stres pada hubungan pribadinya dan mempunyai sikap abnormal mengenai seksualitas diiinya maupun pasangannya dapat mengalami nyeri pelvik. Faktor-faktor risiko meliputi depresi, pelecehan seksual dan fisik sebelum nya, di fungsi seksual yang sekarang, dan alkohoiisme. I. Paioflsiologi. Nyeri dari organ-organ pelvik berasal dari ujung saraf pada dinding arterial dan peritoneum. Karena alasan ini ini mungkin sulit ditunjukkan lokasinya oleh pasien. Nyeri servik uterus mungkin terasa pada daerah lumbal dan sakral. Nyeri fundus uteri mungkin dilaporkan pada area hipogastrika. Nyeri ovarium ganwarannya sangat bervariasi. A. Endometriosis (lihat Bab 13, Dismenorea). B. Kista ovarium munpkin terjadi dari folikel yang hancur yang kemudian terisi dengan cairan daripada mengalami resorbsi. Kista lutein akibat perdarahan ke dalam korpus li'teum dengan distensi dinding lutein. Sel-sel darah biasanya diresorbsi, meninggalkan cairan yang jernih. encer. Nyeri akibat tekanan pada ovarium atau struktur-struktur lainnya. Ruptura jenis kista lainnya akanmenyebabkan iritasi peritoneal dan nyeri yang hebat.
C. PID biasanya mulai sebagai infeksi endoserviks. Selama menstruasi, penghalang

mukosa serviks menipis dan memungkinkan infeksi naik dari endometrium ke mukosa tuba. Organisme penyebab yang khas adalah Neisseiia gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis. Gelain itu, anaerob, ter-masuk spesies Bacteroides, dan bakteri entenk mungkin terlibat karena lingkungan yang nyanan dlbentuk oleh oryanisme-organisme yang ditular-kan secara seksual. Nyeri akibat proses

inflamasi akut disebabkan oleh infeksi. Penyumbuhan biasanya terjadi dengan pembentukan jaringan parut dan perlekatan. Infertilitas adalah komplikasi PID yang sering terjadi meskipun terapi adekuat. Pada satu penelitian, tingkat infortil!tas berkisar dari 11% setelah satu episode PID sampai 54% setelah tiga atau lebih episode PID. Bukti-bukti menunjukkan bahwa beratnya inflamasi tuba secara langsung berhubungan dengan infertilitas. D. Torsi adneksa seringkali terjadi pada kista ovarium yang kecil sampai sedang atau tumor yang padat. Arah putaran biasanya searah jarum jam, dan biasanya terjadi satu atau lebih putaran. Torsi menyebabkan stasis vena dan juga dapat mengakibatkan oklusi arterial total dan gangren. E. Apendisitis F. Fibroid uterus
G. Kehamilan ektopik tuba, Implantasi dari ovum yang telah difertilisasi terjadi di

mana saja sepan-jang perjalanannya pada tuba fallopian jika transpor normal embrio terlambat, seringkali disebabkan oleh tuba yang mengalami iaringan parut. Pertum-buhan embrio menyebabkan nyeri dan ruptura tuba. Terdapat potensial perdarahan yang fatal kecuali embrio diangkat dengan pembedahan. H. Infeksi raturan kemih (UTI) I. Mittelschmerz. Etiologi timbulnya nyeri pada kondisi ini tidak jelas, tapi nyeri dapat terjadi akibat sejumlah kecil perdarahan yang disebabkan oleh ruptura folikel atau akibat pember.gkakan ovarium yang disebabkan oleh tumbulinya folikel. J. Keganasan. Nyeri akibat invasi tulang, saraf dan organ pelvik biasa terjadi pada keganasan dari saluran reproduksi wanita pada'Stadium lanjut. K. Nyeri pelvik psikogenik adalah respons somatik akibat masalah psiko-sosial yang tidak terpecahkan. II. Gejala-gejala

III. Tes laboratorium

A. Jumlah sel darah putih berguna dalam mempersempit diagnosis banding dari nyeri abdominal atau pelvik. Jumlah yang meningkat menunjukkan adanya inflamasi atau infeksi, seperti PID, apendisitis, atau infeksi saluran kemih. Akan tetapi, jumlah yang normal tidak mengesampingkan kemung-kinan-kemungkinan tersebut. B. Urinalisis. Adanya piuria atau hematuria menunjukkan bahwa sumber nyeri mungkin berasal dari saluran kemih. Seperti sel darah putih, permintaan urinalisis dibenarkan pada sebagian besar kasus nyeri abdominal dan pelvik, meskipun spesifisitasnya rendah.
C. Pewarnaan Gram dari sekret endoservikal dapat membantu menegakkan diagnosis

infeksi gonokokal pada PID. Tes ini tidak mahal dan telah tersedia, meskipun sensitivitasnya agak rendah.
D. Ultrasonogram mungkin merupakan tes non invasif yang paling berg untuk

diagnosis nyeri pelvik. Ini terutama berguna untuk mengevaluasi adneksa dan dalam mendeteksi kehamilan ektopik dan abses ovariuifif tuba. Kegunaannya sebaiknya dlpertimbangkan pada setiap kasus nyeri didiagnosis secara jelas dengan cara yang lebih murah
E. Kultur bakterial dengan menggunakan agar Thayer-Martin, dari sekret

pelvik yang tidak dapat

endoservikal dapat merh. bantu dokter dalam menegakkan diagnosis infeksi| gonokokal. Tes telah tersedia, dan relatif tidak mahal, dan lebih sensitif di bandingkan dengan pewarnaan Gram. Karena sifat infeksi polimikrobial dari saluran reproductive bagian atas, kultur endoserviks tidak memberikan gambaran infeksi yang sebanarnya.
F. Tes Immunoassay enzim untuk C trachomatis pada sekret endoservikal adalah tes

yang cepat, tidak mahal, dan secara teknik mudah dilakukam Tes yang positit benar-benar menunjukkan adanya infeksi oleh C trachomatis. 1 Tes ini mempunyai sensitivitas 80% dan spesifisitas 99%. Tes ini mempunyai keterbatassn yang sama seperti kultur bakterial.
G. DNA probe untuk N gonorrhea dan C trachomatis. Teknologi baru ini' sekarang

tersedia dalam bentuk perlengkapan komersil. Tes untuk kedua

organisme

dilakukan dari apusan cervical atau uretral tunggal, Tes Ini mempunyai sensitivitas 9B% untuk N gonorrhoeae dan 92% untuk C trachomatis Spesifisitasnya adalah

99% untuk kedua organisme. Tes ini mempunyai

keuntungan perubahan waktu

21- jam dan sebaiknya tersedia pada sebagian laboratorium rumah sakit.
H. Tes kehamilan. Immunoassay yang terkait enzim untuk korionik gonadoptropin

urin akan positif pada 95% dari seluruh kehamilan ektopik. Immunoassay -hCG serum akan positif pada hampir 100% kasus.
I. Laju endap darah. Tes ini adalah bagian kriteria diagnostik untuk PIP (lihat Tabel

49-2). Kondisi-kondisi lain yang disertai dengan respons inflammatory , juga menyebabkan naiknya 'LED. Ini mempunyai keuntungan karena biayanya yang rendah.
J. Kuldogentesis .Aspirasi cairan dengan jarum dari jalan buntu posterior berguna

dalam diagnosis PID. Adanya darah yang tidak membeku menambah dugaan adanya ruptura kista ovarium atau kehamilan ektopik. Tes ini paling tepat jika dicurigai adanya perdarahan ke dalam kavitas polvik. Tes Ini mempunyai kerugian yaitu merupakan prosedur invasif.
K. Laparoskopi adalah "standar emas" untuk diagnosis nyeri pelvik. Pemeriksaan ini

invasif sehingga mempunyai derajat risiko, meskipun risiko ini sangat rendah jika tes dilakukan oleh dokter yang berpengalaman. Nilai utamanya adalah menentukan penyebab yang dapat diobati pada nyeri pelvik yang tidak terdiagnosis sebelumnya.
L. Biopsi endometrial sebaiknya dipertimbangkan pada setiap wanita dengan nyeri

pelvik dan perdarahan vaginal pasca menopause. Contoh jaringan dapat dilakukan dalam kondisi rawat jalan dengan menggunakan instrumen seperti kuret Novak, aspirator Vabra, atau kuret endometrial Pipelle. Instrumen yang terakhir mempunyai keuntungan yaitu biasanya tidak memerlukan dilatasi servikal. analgesia, atau anestesia.
M. Apusan Papanicolaou (Pap) dan kolposkopi keduanya digunakan untuk

mengevaluasi serviks dengan gambaran yang abnormal pada wanita dengan nyeri pelvik. Apusan Pap tidak mahal dan mudah dilakukan dan dapat mendeteksi lesilesi yang tidak terlihat pada kolposkop. Pemeriksaan ini mempunyai tingkat negatif semu yang signifikan 5-10% dan tidak mempunyai kemampuan untuk mendeteksi karsinoma endometrial. Kolposkopi, yang merupakan visualisasi langsung dari mukosa servikal dan pola vaskular, memungkinkan penentunn luasnya lesi

abnormal dan digunakan untuk mengidentifikasi area untuk biopsi. Kerugian kolposkopi adalah tidak dapat mendeteksi lesi-lesi endoserviks dan diperlukan latihan khusus. IV. Pengobatan A. Endometriosis (lihat Bab 13, Dismenorea) B. Massa ovarium yang bergerak pada pemeriksaan pelvik dan tampak kistik dan lebih kecil atau sama dengan lima centimeter pada ultrasonograti biasanya adalah kista benigna dan dapat ditemukan pada satu siklus menstruasi. Kista ovarium fungsional menghilang pada waktu itu. Karena kemungkinan neoplasia atau endometriosis, kista yang menetap lebih lama dari empa* sampai enam minggu sebaiknya dievaluasi lebih lanjut dergan laparoskopi atau laparatomi. Kontraseptif oral, dari berbagai jenis dan pada dosis biasa, mungkin uigunakan untuk mempercepat resolusi kista dengan menekan ovulasi (lihat Bab 99, Kontrasepsi). Kista ovarium yang lebih besar dari enam sentimeter sebaiknya diatasi dengan pembedahan. Massa ovarium pada wanita pasca menopause sebaiknya dievaluasi dengan pembedahan karena kamungkinan keganasan lebih tinggi. C. PID 1. Perawatan rumah sakit. Pasien-pasien dengan kondisi berikut sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk pengobatan dengan antibiotik parenteral dan pengawasan yang ketat: diagnosis yang tidak pasti, dugaan abses pelvik, kehamilan, penyakit berat, ketidakmampuan untuk mentoleransi regimen rawat jalan, dan tidak responsif terhadap pengobatan rawat jalan dalam 72 jam. Pasien-pasier, dengan,/o//ow~up yang dapat diper-caya namun tidak dapai dijamin sebaiknya diobati sebagai rawat inap, Perawatan rumah sakit juga dipertimbangkan pada semua pasien nuli para dan pasien lain yang menginginkan kehamilan pada masa yang akan datang. 2. Terapi antibiotik rawat jalan yang disarankan terdapat pada Tabel 49-3.' D. Torsi adneksa rnembutuhkan perawatan rumah saklt segera dan intervansll operasi. Fungsi tuba dan ovarium mungkin dapat diselamatkan jika masalah'l diatasi sebelum timbul infark. E. Apendisitis (lihat Bab 42 Nyeri Perut). Pasien-pasien yang dicurigai men-j derita apendisitis akut sebaiknya dirawat di rumah sakit dan dievaluasi olah | dokter bedah.

F. Fibroid uterin (lihat Bab 13, Dismenorea) G. Kehamilan ektopik adalah gawat darurat bedah, terutama jika terjadi rupturaj tuba. Stabilisasi hemodinamik dan persiapan bedah sebaiknya dimulffj segera setelah diagnosis. H. Infeksi saluran kemih (UTI) (lihat Bab 16, Disuria pada Wanita). I. Mittelschmerz tidak rnembutuhkan terapi spesifik kecuali pemulihani keyakinan pada kasus-kasus yang ringan. Kontraseptif oral, dengan meng-? hambat ovulasi, mungkin berguna pada pasien-pasien dengan nyeri arrtarai| menstruasi yang hebat J. radinsi, dart;, kemoterapi. Terapi pasti bersifat individual sesuai dengan stadium, jenisj; jaringan dan keinginan pasien. Pengobatan seperti Ini melibatkan ahli onkoA logi yang biasa dengan pengobatan keganasan genital wanita. 1. Statistik untuk tingkat hidup lima tahun pada pasien-pasien dengan* kanker serviks berkisar dari 100% untuk pasien-pasien dengan lesi |m situ, sampai 72% untuk pasien-pasien dengan lesi invasif yang terbatas^ pada serviks, sampai delapan persen untuk pasien-pasien dengan?! kanker yang menyebar keluar pelvis minor. 2. Statistik tingkat hidup lima tahun pada karsinoma endometrial juga' bervariasi. Untuk pasien-pasien dengan kanker terbatas pada korpus; uteri, 74% bertahan hidup; untuk pasien-pasien dengan keganasan, meluas sampai keluar pelvis minor, 10% bertahan hidup. 3. Statistik tingkat hidup lima tahun untuk karsinoma ovarium berkisar dari 72% untuk pasien-pasien dengan lesi terbatas pada satu ovarium' sampai empat persen untuk pasien-pasien dengan penyakit metastatic atau mengenai kedua ovarium. Keganasan seringkali diobati dengan kombinasi pembedahan,

DAFTAR PUSTAKA
Leveno, Kenneth J at al . 2009. Obstetri Williams panduan ringkas Ed 21. Jakarta: EGC Manuaba, Ida Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC Sastrawinata, Sulaiman. 2004. Obstetric Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Ed 2. Jakarta: EGC www.menegpp.go.id/aplikasidata/index.php?option=com... Diunduh pada tanggal 19 Maret 2012 pukul 21.00 http://www.tribunnews.com/2012/03/08/angka-kematian-ibu-di-indonesia-tertinggi-seasean Diunduh pada tanggal 19 Maret 2012 pukul 21.00