Anda di halaman 1dari 2

Batuk Kronik Berulang gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu berturut-turut dengan atau tanpa disertai gejala

respiratorik maupun respiratorik. Biasanya jenis batuknya terus menerus, produktif (berdahak), atau seperti gonggongan anjing. Waktu batuk terutama malam hari, lebih hebat pada waktu bangun pagi, dan hilang pada waktu anak tidur. Pencetusnya bias makanan, iklim/udara, kegiatan jasmani seperti berlari, ataupun infeksi saluran nafas akut serta debu rumah atau binatang, dll. Gejala lainnya yang berhubungan dengan respiratorik adalah : sesak nafas, mengi, nafas berbunyi, nyeri dada bila bernafas. Gejala non respiratorik adalah : panas, nafsu makan turun, sakit kepala, keringat malam hari, berat badan turun, meriang, dll. Tanyakan riwayat asthma / alergi dalam keluarga, atau kontak dengan penderita tubercolusis

Dikatakan BKB (Batuk Kronis Berulang) bila pada pasien tersebut belum diketahui penyebab batuknya. Beberapa diagnosis banding BKB : 1. Bronchitis : 1. Bronchitis virus 2. Bronchitis kimiawi keasap rokok, zat inhalasi 3. Bronchitis karena infeksi bakteri 4. Sinobronchitis 2. Asthma 3. Infeksi Spesifik 1. Fibrosis kistik 2. Infeksi mycoplasma pneumonia 3. TBC 4. Penyakit Paru Supuratif 1. Fibrosis kistik 2. Bronchietasis 3. Infeksi sekunder pada atelektasis, benda asing ataupun kista 5. Lesi Lokal 1. Benda asing / corpus alienum 2. Tumor / kista 3. Trakeomolasia 6. Batuk Psikogen 7. Batuk Refleks

Patof

Batuk dimulai dari suatu rangsangan pada reseptor batuk. Reseptor ini berupaserabut saraf non mielin halus yang terletak baik di dalam maupun di luar rongga toraks.Yang terletak di dalam rongga toraks antara lain terdapat di laring, trakea, bronkus, dandi pleura. Jumlah reseptor akan semakin berkurang pada cabang-cabang bronkus yangkecil, dan sejumlah besar reseptor di dapat di laring, trakea, karina dan daerah percabangan bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran telinga, lambung, hilus,sinus paranasalis, perikardial, dan diafragma.

Serabut afferen terpenting ada pada cabang nervus vagus yang mengalirkan rangsang darilaring, trakea, bronkus, pleura, lambung, dan juga rangsangan dari telinga melalui cabangArnold dari nervus vagus. Nervus trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus paranasalis, nervus glosofaringeus, menyalurkan rangsang dari faring dan nervus frenikusmenyalurkan rangsang dari perikardium dan diafragma. Oleh serabut afferen rangsang ini dibawa ke pusat batuk yang terletak di medula, di dekat pusat pernafasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini oleh serabut-serabut afferennervus vagus, nervus frenikus, nervus interkostalis dan lumbar, nervus trigeminus, nervusfasialis, nervus hipoglosus, dan lain-lain menuju ke efektor. Efektor ini berdiri dari otot-otot laring, trakea, bronkus, diafragma,otot-otot interkostal, dan lain-lain. Di daerahefektor ini mekanisme batuk kemudian terjadi

Foto thoraks umumnya dilakukan pada kasus dengan infeksi yang diragukan etiologinya spesifik atau non spesifik, bronkiektasis dan proses paru yang lain yang secara klinis belum jelas. Gambaran radiologik paru dapat berupa adanya masa, konsolidasi, kista, kavitas, kelainan kardiovaskuler dan lain-lain.