Anda di halaman 1dari 14

I.

Subjetif Nama Umur BB Jenis kelamin No. RM Ruang kelas Tanggal MRS Keluhan : EK : 2 tahun : 12 kg : Perempuan : 055882 : Aster : 9-3-2010 : sesak, panas, batuk,pilek

II. Objektif Data klinik Tgl/keluhan 9/3/10 Panas + sesak + Batuk berdahak + pilek muntah + + Ma/Mi +/+ Bak/ba b +/+ asesmen Bronkopneumoni dg 10/3/10 11/3/10 + + + /+ -/+ bronkeale Bronkiolitis asma dg

asma bronkiale Bronkiolitis dg asma bronkiale

Data Laboratorium Tgl/lab 9/3/10 10/3/10 N 100x/min 104x/min RR 40x/min 35x/min S 38,3 37,7 BJ 1,025 pH 6 Leukosit 25 Eritrosit 10 Udem Urin Kuning agak keruh, 11/3/10 100x/min 30x/min 37,8 khas -

III. ASSEMENT

Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru, pembagian secara anatomis :

Pneumonia lobaris Pneumonia lobularis (bronkopneumonia) Pneumonia interstisialis (bronkiolitis)

Bronkopneumonia suatu cadangan pada parenkim paru yang meluas sampai bronkioli atau dengan kata lain peradangan yang terjadi pada jaringan paru melalui cara penyebaran langsung melalui saluran pernafasan atau melalui hematogen sampai ke bronkus.(Riyadi sujono&Sukarmin,2009). Bronkopneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi jamur dan seperti bakteri, virus, dan benda asing( Ngastiyah,2005). Pada bagian atas selama beberapa hari suhu tubuh naik sangat mendadak sampai 39-40 derajat celcius dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Pada anak-anak disebabkan virus Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSP. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh dan tidak adanya mekanisme pertahanan paru, sehingga mikroorganisme berkembang biak menimbulkan infeksi penyakit. Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui berbagai cara, antara lain : Inhalasi langsung dari udara, aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring. Perluasan langsung dan penyebaran secara hematogen. Pertahanan yang tubuh tidak kuat sehingga mikroorganisme melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya.Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi, terjadi pelepasan mediatormediator inflasmasi dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan menyebabkan suhu tubuh pasien meningkat. Bronkopnemonia pasien diduga disebabkan oleh infeksi virus dengan suhu tubuh pasien 38,3 pada hari pertama dan 37,7 pada hari kedua dan 37,8 pada hari ketiga, disertai batuk berdahak serta sesak pada hari pertama dan nafsu makan buruk, Peningkatan leukosit menjadi 2,5 juga disebabkan adanya infeksi mikroorganisme. Pengaktifan jalur komplemen juga mengakibatkan perpindahan eksudat plasma kedalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus sehingga meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin sehingga Ph darah pasien menurun menjadi 6.

Bronkiolitis akut merupakan penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang sering ditemukan pada bayi-bayi, terjadi akibat obstruksi pada saluran-saluran napas kecil-kecil atau bronkiolus (Richard,1993). Penyebab utama bronkiolitis adalah infeksi Respiratory Syncitial Virus (RSV) yang memiliki morbiditas tinggi, terutama pada anak dengan resiko tinggi dan imunokompromais. Virus lainnya yang menyebabkan bronkiolitis adalah parainfluenza, influenza dan adenovirus. Virus ditularkan melalui percikan ludah. Meskipun pada orang dewasa RSV hanya menyebabkan gejala yang ringan, tetapi pada bayi bisa menyebabkan penyakit yang berat (Syarifuddin,2009). Bronkiolitis ditandai oleh adanya obstruksi bronkioler yang disebabkan oleh edema dan penimbunan lendir serta debris-debris seluler maupun yang diakibatkan oleh invasi virus ke dalam akar-akar yang lebih kecil dari cabang-cabang bronkus (Richard,1993). Invasi virus menyebabkan obstruksi bronkiolus akibat akumulasi mucus, debris dan edema. Terjadi retensi aliran udara pernapasan berbanding terbalik (dengan radius lumen pangkat empat), baik pada fase inspirasi maupun fase ekspirasi. Terdapat mekanisme klep yaitu terperangkapnya udara yang menimbulkan overinflasi dada. Pertukaran udara yang terganggu menyebabkan ventilasi berkurang dan hipoksemia, peningkatan frekuensi napas sebagai kompensasi. Pada keadaan sangat berat dapat terjadi hiperkapnia. Obstruksi total dan terserapnya udara menyebabkan atelektasis (Arif, 2000). Manifestasi klinisnya yaitu biasanya didahului infeksi saluran napas atas dengan batuk pilek, tanpa demam atau hanya subfebris. Sesak napas makin hebat, disertai napas cepat dan dangkal. Terdapat dispnu dengan expiratory effort, retraksi otot bantu napas, napas cepat dangkal disertai napas cuping hidung, sianosis sekitar hidung dan mulut, gelisah, ekspirium memanjang atau mengi. Jika obstruksi hebat suara napas nyaris tak terdengar, ronki basah halus nyaring kadang terdengar pada akhir atau awal ekspirasi, suara perkusi paru hipersonor (Arif, 2000). Asma Bronkiale merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya respon yang berlebihan dari trakea dan bronkus terhadap berbagai macam rangsangan, yang mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang tersebar luas diseluruh paru dan derajatnya dapat berubah secara sepontan atau setelah mendapat pengobatan (Tjen Daniel, 1991). Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus

terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. (Tanjung, 2003). Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor- faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. (Tanjung, 2003). Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. (Tanjung, 2003). IV. PLAN Tujuan terapi yang dilakukan adalah mengobati brokopneumoni dan bronkiolitis yang disertai asma brokiale untuk dapat menghilangkan keluhan yaitu berupa sesak, demam, batuk dan pilek. Selain itu diberikan pula terapi-terapi lainnya yang dapat meningkatkan kondisi nyaman dan sehat pasien. Selain itu, dilakukan pula terapi non farmakologis untuk mencegah memburuknya kondisi pasien dan mencegah komplikasi. Berikut adalah komposisi terapi yang diresepkan oleh dokter:

Terapi/tgl O2 2L/menit Infus D5% 10 tpm Inj Ampicillin 2x 500 mg Inj Gentamicin 2x 20 mg Inj Dexa 3x 1/3 Ampul PCT syr 3x1 cth Fartolin syr 3x 1 cth

9/3/10

10/3/10

11/3/10

Terdapat beberapa komposisi terapi yang mengalami perubahan, berikut adalah komposisi terapi yang kami sarankan:
1. Mengobati Brokopneumoni dan Bronkiolitis yang Disertai Asma Brokiale

Berdasarkan patofisiolgi bronkopneumonia, bronkolitis dan asma bronkiale disebabkan oleh adanya infeksi bakteri dan virus yang menimbulkan inflamasi pada daerah paru yang menimbulkan manifestasi klinik berupa sesak, demam, batuk dan pilek. Sehingga terapi farmakologi yang sebaiknya diberikan adalah: Antibiotik sebagai agen antiinfeksi Berdasarkan guideline terapi bronkopneumonia pada anak usia dua tahun, first line terapi antibiotiknya adalah ampicillin. Selain itu ampicillin diberikan untuk mencegah infeksi nosokomial. Ampicillin yang diberikan adalah dalam bentuk dry syrup agar lebih nyaman dan mudah pemberiannya pada pasien anak-anak. Ampicillin dry syrup Dosis Indikasi : 50-100 mg/kg/hari : treatment pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri, treatment atau

profilaksis pada infeksi endocarditis, infeksi yang disebabkan bakteri streptococci, pneumococci, meningcocci, beberapa strain pada H. influenza, Salmonella, Shigella, E. Coli, Enterobacter dan Klebsiella. Interaksi Mekanisme : tidak ada interaksi obat dalam resep ini : menghambat dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih

penicilin-binding protein (PBPs) yang akan menghambat langkah transpeptidasi final pada sintesis peptidoglikan dalam dinding sel bakteri, sehingga akan menghambat biosintesis dinding sel. Bakteri akhirnya lisis karena aktivitas yang terus-menerus dari enzim autolytic dinding sel ketika pembentukan dinding sel terhenti.

Pada terapi yang kami sarankan, kami tidak memberikan gentamicin sebagai tambahan antibiotik karena terlalu berlebihan, dimana pemberian antibiotic yang terlalu berlebihan pada anak sangat berbahaya karena dapat membuat anak resisten. Selain itu menurut Lacy, C.F et al. (2006) terdapat interaksi pada pemakaian gentamicin bersamaan dengan antibiotic golongan penicillin (Ampicillin) yaitu berupa terjadinya penurunan efek gentamicin bila dikonsumsi bersamaan dengan penicillin. Selain itu kami tidak memberikan agen antiviral untuk mengobati infeksi, pada infeksi akibat RSV fisrt line therapy yang digunakan adalah ribavirin namun batas umur minimal yang dapat diberikan ribavirin adalah 3 tahun sedangkan pasien baru berusia 2 tahun. Sehingga terapi yang kami sarankan untuk mengatasi infeksi akibat RSV adalah dengan terapi nonspesifik dengan pemberian agen yang dapat meningkatkan sistem imun anak misalnya dengan pemberian stimuno. Stimuno syrup Kandungan Dosis Indikasi Mekanisme : ekstrak Phyllanthus niruri (meniran, herbal asli Indonesia). : 1 sendok takar (5 ml), 1-3 kali sehari. : membantu sistem imun tubuh agar bekerja lebih aktif dan dapat : Imunomodulator berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam

memperbanyak produksi antibodi sehingga kekebalan tubuh lebih kuat. menjalankan fungsinya menguatkan sistem imun tubuh (imuno stimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imuno supresan) sehingga kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal menjaga kita tetap sehat ketika diserang oleh virus, bakteri atau mikroba lainnya. Interaksi : tidak ada interaksi dengan obat lain dalam resep ini Agen antiinflamasi

Antiinflamasi yang kami pilih adalah dexamethasone dalam bentuk injeksi karena untuk memudahkan pemberian pada pasien anak yang sulit bila memakan obat dalam bentuk tablet. Menurut Dipiro (2005), dexamethasone merupakan antiinflamasi golongan steroid memiliki daya antiinflamasi yang cukup kuat dan biasa digunakan untuk terapi pada gangguan sistem pernapasan sehingga baik untuk digunakan pada kasus ini. Dexamethasone

Dosis Indikasi

: 0,08-0,3 mg/kg/hari atau 2,5-10 mg/m2/hari dibagi dosis setiap 6-12 jam : Sistemik: terutama sebagai anti inflamasi atau imunosupressan agen

dalam berbagai jenis penyakit termasuk diantaranya alergi, dermatologi, endokrin, hematologi, inflamasi, neoplastic, sistem saraf, renal, respiratori, rematik, dan autoimun; dapat digunakan dalam management edema cerebral, pembengkakan kronik, sebagai agen diagnostic. Interaksi Mekanisme : dapat meningkatkan efek paracetamol. : menurunkan inflmasi dengn menekan migrasi neutrophil. Menurunkan

produk mediator inflamasi, pembalikan dari kenaikan permeabilitas kapiler, menekan sistem respon imun normal. Agen mukolitik dan bronkodilator

Berdasarkan keluhan pasien mengalami sesak dan batuk berdahak untuk pengobatan gejala tersebut diberikan ekpektoran sebagai obat batuk berdahak yang bekerja dengan cara membuat hancur formasi dahak sehingga dahak tidak lagi memiliki sifat-sifat alaminya. Dipilih obat kombinasi sirup bronchitin sirup yang berisi : Paracetamol 200mg Indikasi demam. Mekanisme Interaksi : inhibisi sintesis prostaglandin di SSP dan memblok impuls rasa sakit : tidak ada interaksi dengan obat lain dalam resep ini perifer; produksi antipiresis dari inhibisi hipotalamus pusat regulasi-panas : Meringankan rasa sakit pada sakit kepala, sakit gigi, menurunkan

Efedrin HCL 8mg Indikasi : digunakan untuk obat asma, sebagai bronkodilator (pelega saluran nafas) karena ia bisa mengaktifkan reseptor beta adrenergik yang ada di saluran nafas. Mekanisme : efedrin mengaktifkan -reseptor dan -reseptor pasca-sinaptik terhadap noradrenalin secara tidak selektif. Kedua, efedrin juga dapat meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin dari ujung saraf. Sifatnya tidak selektif dapat mengaktifkan

reseptor alfa adrenergik pada pembuluh darah perifer dapat menyebabkan efek vasokonstriksi atau penciutan pembuluh darah. Gliceryl Guaiakolat 50 mg Indikasi Mekanisme : produksi sputum yang tidak normal. : memiliki aktivitas sebagai ekspektoran dnegan meningkatkan volume

dan mengurangi kekentalan sputum yang terdapat ditrakea dan bronki. Dengan meningkatkan reflek batuk dan memudahkan untuk membuang sputum, menaikkan volume cairan respiratory dan menurunkan viskositas mukus. 2. Terapi lain-lain Pada saat masuk rumah sakit pasien datang dengan kondisi sesak yang cukup parah, sehingga untuk pertolongan pertama diberikan terapi oksigen untuk memenuhi kebutuhan pasien akan oksigen. Namun terapi oksigen ini hanya diberikan pada hari pertama karena hari berikutnya sesak pasien sudah mulai berkurang. O2 Dosis Indikasi Interaksi Mekanisme : 2L/menit sampai sesak hilang : untuk mencegah terjadinya hipoksia yaitu keadaan dimana sel-sel dalam : tidak ada interaksi dengan obat lain dalam resep ini : oksigenase, memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21% pada

tubuh kekurangan oksigen.

tekana 1 atm sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh. Untuk membantu asupan nutrisi pasien agar pasien memperoleh energi sehingga tidak akan merasa lemas, diberikan pula infuse D5% Infus D5% Kandungan : Setiap 100 mL dari Injeksi Dekstrosa 5% USP, mengandung dekstrosa monohidrat 5 g dalam air untuk injeksi. Nilai kalori 170 kkal / L. Osmolaritas adalah 252 mOsmol / L (calc.), yang sedikit hipotonik. Dosis : 10 tpm

Indikasi Mekanisme

: Terapi parenteral untuk memenuhi kebutuhan air dan kalori karbohidrat : Meningkatkan kadar glukosa dalam darah, sehingga dapat memenuhi

pada pasien yang mengalami dehidrasi. kebutuhan akan kalori. Konsentrasi dektrose akan menurun apabila terjadi penurunan jumlah protein dan nitrogen dalam tubuh, dan juga dapat memicu pembentukan glikogen. Dextrose merupakan senyawa monosakarida yang sangat cepat diserap. Metabolismenya akan menghasilkan CO2, air, dan sumber energy. Interaksi : tidak ada interaksi dengan obat lain dalam resep

Secara singkat terapi yang kami sarankan dapat dilihat dalam table di bawah ini: Obat O2 2L/menit Infus D5% 10 tpm Ampicillin syrup Inj Dexa 3x 1/3 Ampul Bronchitin syrup 3x cth Stimuno syr 3 x 1 cth KIE Edukasi Keluarga Dilakukan pada saat pasien akan dipulangkan. Yaitu dengan memberitahukan :

9/3/10

10/3/10

11/3/10

Informasi mengenai penyakit bronkiolitis Bagaimana cara membersihkan jalan nafas dengan menggunakan penghisap gelembung. Segera memanggil bantuan atau membawa pasien ke rumah sakit kembali jika didapatkan Cara pencegahan penyakit dan penyebarannya dengan menghindari anak dari paparan

gangguan pernafasan asap rokok ataupun zat yang mengiritasi lainnya, melakukan cuci tangan, dll. Edukasi petugas medik Pengawasan Untuk pasien yang dirawat inap penting dilakukan pengawasan sistem jantung paru dan jika ada indikasi dilakukan pemasanagpulse oxymetri Oksigenasi

Oksigenasi sangat penting untuk menjaga jangan sampai terjadi hipoksia, sehingga memperberat penyakitnya. Pemberian oksigen ketika saturasi oksigen menetap dibawah 91% dan dihentikan ketika saturasi oksigen menetap diatas 94%. Pengaturan Cairan Berikan tambahan cairan 20 % dari kebutuhan rumatan jika didapatkan demam yang naik turun atau menetap (suhu > 38,5 0C). Cara pemberian cairan ini bisa secara intravena atau pemasangan selang nasogastrik. Akan tetapi harus hati-hati pemberian cairan lewat lambung karena dapat terjadi aspirasi dan menambah sesak nafas, akibat lambung yang terisi cairan dan menekan diafragma ke paru-paru. MONITORING a. Awasi frekuensi jantung / irama. Rasional : Takikardia biasanya ada karena demam/ dehidrasi. Tetapi juga dapat merupakan respon terhadap hipoksemia. b. Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktifitas senggang. Rasional : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/ konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi. c. Tinggikan kepala dan dorong untuk sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif. Rasional : tindakan ini mengingatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran secret untuk perbaikan ventilasi. d. Berikan terapi oksigen dengan benar. Rasional : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman dengan tepat dalam toleransi pasien. e. Berikan humidifier tambahan, misalnya nebulizer. Rasional : Memberikan kelembaban pada membrane mukosa dan membantu pengenceran secret untuk memudahkan pembersihan. f. Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan.

Rasional : Adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme) atau keterbatasan keuangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, dan atau lambatnya respon terhadap terapi. Untuk menunjang diagnosis dilakukan beberapa pemeriksaan yaitu sebagai berikut: 1. Pemeriksaan Radiologis Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan kavitas dan gambaran air bronchogram (airspace disease) oleh Streptococcus pneumoniae, segmental disease (bronkopneumonia) oleh Staphylococcus, virus, atau mikoplasma, dan interstitial disease ( pneumonia interstitial) oleh virus dan mikoplasma. Distribusi infiltrat pada segmen apical bolus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini biasa dimana saja. Infiltrat di lobus atas sering disebabkan oleh Klebsiella, tuberculosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia. Ulangan foto perlu dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya infeksi sekunder/ tambahan, efusi pleura penyerta yang terinfeksi atau pembentukan abses. Pada pasien yang mengalami 2. Pemeriksaan Laboratorium Leukositosis pada infeksi oleh karena bakteri, leukosit normal/rendah pada infeksi virus/mikoplasma, infeksi berat dimana sudah tidak ada respon leukosit, serta pada orang tua. Faal hati mungkin terganggu. 3. Pemeriksaan Bakteriologis Bahan berasal dari sputum, darah. Aspirasi nasotrakeal/ transtrakeal, aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronkoskopi, atau biopsy. Untuk terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus garam, burri gin, quelling test dan Z neilsen. Kuman yang predominan pada sputum yang disertai PMN yang kemungkinan merupakan penyebab infeksi. Kultur kuman merupakan pemeriksaan utama praterapi dan bermanfaat untuk evaluasi terapi selanjutnya. 4. Mpemeriksaan Khusus perbaikan klinis ulangan foto dada dapat ditunda karena resolusi pneumonia berlangsung 4-12 minggu.

titer antibody virus, legionela dan mikoplasma, nilai diagnostik bila titer tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen. Daftar Pustaka Arif, Mansjoer, dkk., 2000, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3, FKUI, Jakarta. Dipiro, 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, The McGrawHill Companies, Inc.,USA. Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio. Ngastiyah, 1999, Perawatan Anak Sakit, Jakarta : EGC Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC. Richard, C Victor Behrman, 1993, Ilmu Kesehatan Anak Edisi 12, EGC, Jakarta. Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2009, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1, Yogyakarta : Graha Ilmu. Smeltzer, S. C, Bare, B. G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2 Edisi *. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Syarifuddin, Rauf, 2009, Standar Pelayanan Medik, FKUH, Makassar. Tanjung, 2012. D., 2003, Asuhan Keperawatan Asma Bronkial,

http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-dudut2.pdf,

Diakses 21 November

Tjen, Daniel, 1991, Alergi dan Asma Bronkhiale, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI 1

BRONKOPNEUMONI, BRONKOLITIS DAN ASMA BRONKIALE

DISUSUN O

Disusun oleh: KELOMPOK 1 Rupa Lesty M. Furqon Putri Kusuma Wardani Rara Amalia Fadiah Rahminawati Ritonga Winanti handayani Sani Zakkia Alawiyah Ifa Muttiatur Rosidah Rahmawati Fitria (G1F009059) (G1F009067) (G1F010001) (G1F010003) (G1F010005) (G1F010007) (G1F010009) (G1F010011) (G1F010013)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2012