Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ilmu pengetahuan dan teknologi Nuklir semakin berkembang dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang kedokteran. Bidang kedokteran dapat dibedakan menjadi 2 macam. Pertama, radiologi, yaitu aplikasi teknologi nuklir dalam bidang kedokteran yang memanfaatkan sumber radiasi tertutup (sealed source) ataupun sumber radiasi yang dibangkitkan dengan bantuan peralatan. Kedua, kedokteran nuklir, yaitu aplikasi teknologi nuklir dalam bidang kedokteran yang memanfaatkan sumber radiasi terbuka (unsealed source). Ilmu kedokteran nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka yang berasal dari desintegrasi inti radionuklida buatan untuk mempelajari perubahan fisiologis, anatomi dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian kedokteran. Akhir-akhir ini, kedokteran nuklir berkembang pesat. Dewasa ini, hampir semua kota besar di Pulau Jawa mempunyai sedikitnya satu rumah sakit yang dilengkapi dengan unit kedokteran nuklir (PDIN BATAN, 2008). Ginjal berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membuang sampah metabolisme dan racun dalam darah melalui urine. Tidak berfungsinya ginjal dapat berakibat serius, 1

bahkan dapat berujung pada kematian. Dewasa ini, jumlah penderita kerusakan fungsi ginjal meningkat terutama di kota-kota besar, disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, stress, kurang berolahraga, makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan lainnya. Selain itu, kerusakan fungsi ginjal juga dapat disebabkan karena keturunan. Banyak penderita yang tidak menyadari kelainan fungsi ginjalnya sampai ketika ginjalnya benar-benar rusak, hal ini karena ginjal termasuk organ dalam yang prosesnya tidak kasat mata sehingga membutuhkan alat tertentu untuk mendeteksi fungsinya. Perkembangan pemanfaatan zat radioaktif pada zaman modern ini sangat berkembang dengan pesat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan teknologi dalam pemanfaatannya. Pemanfaatan sumber radioaktif khususnya Iodium-131 Hippuran dibidang kesehatan / Kedokteran Nuklir membawa manfaat yang besar guna pendeteksian serta terapi penyembuhan kepada penderita. Dalam penelitian ini yang dibahas pada Kedokteran Nuklir adalah Kamera Gamma, karena disini selain dosisnya rendah, juga diteliti Uptake , paparan radiasi dan Waktu singgah radiasi. Penelitian ini akan memperlihatkan bagaimana radiasi tersebut bisa masuk ke tubuh pasien dan bisa dideteksi dengan program Medic View khususnya bagian ginjal manusia.

1.2. Rumusan Masalah


Dalam penelitian ini, penulis merumuskan masalah yaitu Bagaimanakah melakukan analisis dan mencatat data waktu singgahuptake radiasi pada ginjal kiri, ginjal kanan dan kandung kemih dengan menggunakan program Medic View, program SPSS 13 dan program statiska 6.

1.3. Batasan Masalah


Penelitian ini dibatasi dengan menganalisis data diagnosis ginjal karyawan BATAN. Untuk menghitung paparan radiasi yang diterima serta melihat grafik hubungan paparan radiasi tersebut terhadap uptake kedua ginjal dan kandung kemih dengan menggunakan program Medic View, program SPSS 13 dan program statiska 6.

Radiofarmaka yang digunakan adalah Tc-99m DTPA (Technitium99m DTPA).

1.4. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini, yaitu : 1. Mempelajari Penggunaan Program Medic View 2. Mempelajari Analisis data dan Mendapatkan Nilai Waktu Singgah Radiofarmaka pada ginjal kiri, ginjal kanan, dan Kandung Kemih. 3. Mempelajari Analisis data dan Mendapatkan Nilai Uptake Radiasi pada Ginjal Kiri dan Ginjal Kanan.

1.5. Manfaat Penelitian


Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini, yaitu : untuk memperluas wawasan dalam ilmu Fisika, khususnya Fisika

Eksperimen tentang pengukuran Radiasi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bahan bacaan dan informasi, untuk memahami program program dalam pencitraan kanker melalui radioaktif salah satunya program Medic View dan sebagai syarat untuk menyelesaikan mata kuliah Fisika Eksperimen II Jurusan Fisika Universitas Andalas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka Pada tahun 2009 telah dilakukan penelitian penentuan akumulasi Tc99m MDP pada beberapa titik fokus tubuh menggunakan TLD-100 di instalasi kedokteran nuklir Dr.M. Djamil Padang oleh Yunia Fitri pada pertengahan tahun 2009, salah satu titik pengukuran tersebut adalah dibagian tulang punggung, dada, dan kandung kemih. Dari penelitian dilakukan analisis trend paparan radiasi menggunakan TLD-100 dengan tujuan menentukan aktivitas dosis paparan radiasi yang diterima pasien, mengetahui prediksi paparan radiasi dan besarnya paparan radiasi pada proyeksi organ jantung, ginjal dan kandung kemih selama pemeriksaan renografi, serta mengetahui dan menganalisa trend paparan radiasi pada masing-masing organ selama pemeriksaan berlangsung. (Yunia Fitri, 2009). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa rerata aktivitas dosis paparan radiasi yang diterima adalah (4,17 0,76) mCi dan paparan 0,02526)

radiasi yang diterima pada organ jantung adalah (0,0828 mSv/pemeriksaan, ginjal (0,0910 kandung kemih (0,0935

0,04067) mSv/pemeriksaan, dan

0,03030) mSv/pemeriksaan. (Yunia Fitri,

2009). Pratikum ini lebih difokuskan pada radiasi, dimana untuk mengetahui analisis korelasi uptake renografi terhadap paparan radiasi pada ginjal kiri, ginjal kanan dan kandung kemih. 5

2.2 Landasan Teori

2.2.1

Radiasi Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang

dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik / cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu penerangan, alat pemanas makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain. Selain benda-benda tersebut ada sumber-sumber radiasi yang bersifat unsur alamiah dan berada di udara, di dalam air atau berada di dalam lapisan bumi. Beberapa di antaranya adalah Uranium dan Thorium di dalam lapisan bumi, Karbon dan Radon di udara serta Tritium dan Deuterium yang ada di dalam air. Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas jaringan yang merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit fungsional terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna seperti pembelahan, pernafasan, pertumbuhan dan lainnya.

2.2.2

Radioaktivitas Radioaktivitas suatu unsur timbul dari radioaktivitas satu atau

lebih isotopnya. Banyak sekali unsur dalam alam tidak memiliki isotop radioaktif. Namun demikian, isotop seperti itu dapat disiapkan supaya

menjadi radioaktif secara artifisial (buatan) dan dapat berguna dalam penelitian biologi dan kedokteran sebagai perunut. Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan terjadi pada sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini adalah sebuah proses acak, sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom. Satuan Internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah becquerel (Bq). Jika sebuah material radioaktif menghasilkan sebuah kejadian peluruhan tiap satu detik, maka dikatakan material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena biasanya sebuah sampel material radioaktif mengandung banyak atom, 1 Bq akan tampak sebagai tingkat aktivitas yang rendah. Satuan yang biasa digunakan adalah dalam orde gigabecquerel. Jenis Peluruhan Radioaktivitas di antaranya : 1. Partikel Alpha () Partikel alpha mempunyai volume dan muatan listrik positif yang besar. Partikel ini tersusun dari 2 proton dan 2 neutron, sehingga identik dengan inti atom Helium. Daya ionisasi partikel alpha sangat besar. Karena mempunyai muatan listrik yang besar, maka partikel alpha mudah dipengaruhi oleh medan listrik yang ada di sekitarnya dan setelah terlepas dari sumbernya hanya mampu menjangkau jarak sejauh 4-5 cm di dalam media udara. 7

Gambar 2.1 Daya tembus masing-masing partikel (Sumber: http://www.batan.go.id/ ) 2. Partikel Beta () Partikel beta mempunyai ukuran dan muatan listrik lebih kecil dari partikel alpha. Daya ionisasinya di udara 1/100 kali daya ionisasi partikel . Dengan ukurannya yang lebih kecil, partikel mempunyai daya tembus yang lebih besar dari partikel . Karena muatannya yang kecil, daya jangkau partikel di udara bisa sejauh 9 cm, untuk selanjutnya dibelokkan oleh medan listrik di sekitarnya. 3. Sinar Gamma () Sinar gamma tidak mempunyai besaran volume dan muatan listrik sehingga dikelompokkan ke dalam gelombang elektromagnetik. Daya ionisasinya di dalam medium sangat kecil, yaitu sekitar 1/10.000 kali daya ionisiasi partikel . Karena tidak mempunyai muatan listrik, maka sinar gamma tidak terbelokkan oleh medan listrik di sekitarnya, sehingga daya tembus sangat besar dibandingkan dengan daya tembus partikel atau .

Gambar 2.2 Sinar-sinar radioaktif (Sumber: http://edukasi.depdiknas.go.id/ )

2.2.3 Bidang Bidang Ilmu Kedokteran


Bidang kedokteran dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : A. Radiologi Radiologi, yaitu aplikasi teknologi nuklir dalam bidang

kedokteran yang memanfaatkan sumber radiasi tertutup (sealed source) ataupun sumber radiasi yang dibangkitkan dengan bantuan peralatan, misalnya penggunaan jarum berupa sumber radiasi Co60, Ra226, sinar-X dan linear accelerator (linac). B. Kedokteran Nuklir Kedokteran nuklir, yaitu aplikasi teknologi nuklir dalam bidang kedokteran yang memanfaatkan sumber radiasi terbuka (unsealed source), misalnya penggunaan sumber radioaktif I131, P32, Tc99m, dan lain sebagainya. Pada kedokteran nuklir, radioisotop dimasukkan ke dalam tubuh pasien (in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine dan sebagainya, yang diambil dari tubuh pasien yang dikenal dengan studi in-vitro. 9

Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) sejak tahun 1990-an mengembangkan teknologi nuklir untuk bidang kesehatan. Salah satunya, Batan mengembangkan detektor fungsi ginjal renograf yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan alat pemeriksaan biasa yang sudah bisa dioperasionalkan untuk menunjukkan hasil analisis kilat dan akurat dalam waktu 20 menit. Sebelumnya alat pemeriksaan fungsi ginjal sudah ada yang disebut kamera Gamma namun masih banyak kekurangannya antara lain yaitu peruntukan tidak sepesifik kepada fungsi ginjal, dan biaya menggunakan kamera Gamma memerlukan biaya yang mahal. Renograf tidak memerlukan ruangan besar, selain alat ini lebih murah dan mudah mengoperasikannya, sehingga pasien tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Kamera Gamma itu sendiri merupakan alat yang digunakan pada penggambaran medikal nuklir atau disebut dengan nuclear medicine, untuk melihat dan menganalisa atau mendiagnostik gambaran dari tubuh manusia dengan cara mendeteksi berkas radiasi dari radioisotop yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Jika dibandingkan dengan metode scanning dengan kamera gamma yang sudah konvesional, hasil deteksi fungsi ginjal dengan renograf selain cepat juga murah dan aman, biaya produksi alat renograf Batan hanya sekitar Rp 200 juta. Metode pendeteksian fungsi ginjal dengan renograf pertama kali dengan menyuntikkan radioisotop ke pembuluh darah pasien. 10

Kemudian ditunggu selama lima menit agar radioisotop mengalir sampai ke kedua ginjal dan segera diradiasi nuklir. Jenis radioisotope yang digunakan adalah Tenisium (Tc 99m) dengan waktu paruh hanya enam jam. Bisa juga menggunakan Iodium ( I 131 Hippuran ) dengan waktu paruh delapan hari. Waktu paruh menunjukkan masa peluruhan zat radioaktif. Seperti radioisotop iodium yang memiliki waktu paruh sampai delapan hari, di dalam tubuh akan meluruh lebih cepat karena terbuang melalui urine. Pada praktiknya, dalam dua hari zat radioaktif dari iodium itu sudah meluruh sehingga aman digunakan. Pasien tidak perlu berpuasa, hanya perlu mengosongkan kantung kemih dengan cara kencing saja. Dari radiasi nuklir menghasilkan kurva renogram yang kemudian diolah ke dalam program komputer. Kurva renogram yang dihasilkan itu sama dengan hasil dari kamera gamma yang biasa dipakai di sejumlah rumah sakit yang harganya mencapai Rp 6 milyar per unit. Setelah 20 menit hasil analisis fungsi ginjal pun dapat diperoleh. Meskipun harus menggunakan radioisotop, namun dosis yang digunakan dalam renograf lebih rendah dan memiliki waktu paro yang pendek sehingga aman bagi pasien yang menggunakannya. Waktu paruh radioaktif adalah periode waktu yang diperlukan zat radioaktif untuk meluruh menjadi separo.Di masa mendatang, akan dikembangkan agar mudah dibawa kemana saja. Beberapa rumah sakit sudah 11

menggunakan alat ini, diantaranya RS Bethesda Jogjakarta, RS Kartini Jepara, RS POLRI Kramatjati, serta RS PKU Muhammadiyah.

2.2.4 Sistem dan Fungsi Ginjal


1. Sistem Ginjal Ginjal adalah organ tubuh yang berbentuk kacang polong yang berfungsi membuang cairan proses metabolisme tubuh yang tidak berguna dalam bentuk urine. Ginjal manusia terdiri dari dua buah, terletak pada sebelah kiri dan kanan pada bagian tubuh. Posisi ginjal kiri dan kanan tidak simetris, posisi ginjal kiri terletak pada kira-kira 23 cm di atas garis horizontal posisi ginjal kanan.

Gambar 2.3 Bentuk dan posisi ginjal kiri dan kanan (Sumber: Djuningran, 2007) Masing-masing ginjal mempunyai satuan fungsional kira-kira berjumlah 1,2 juta yang disebut nefron. Fungsi nefron dapat dibagi menjadi dua bagian :

12

Gambar 2.4 Bagian-bagian Ginjal (Sumber: http://id.wikipedia.org/ ) a. Bagian glomerulus, yang berfungsi sebagai penapis (filter). b. Bagian tubulus yang berfungsi memproses hasil tapisan untuk direabsorbsi atau dibuang dalam bentuk urine. Secara bersama-sama masing-masing nefron melakukan

penapisan, reabsorbsi, dan sekresi sehingga terbentuk urine yang harus dikeluarkan. Terbentuknya urine menunjukkan bahwa ginjal

mempunyai kemampuan untuk beraktivitas. 2. Fungsi Ginjal Secara garis besar, fungsi ginjal adalah : a. Pengatur keseimbangan volume dan komposisi cairan tubuh yang meliputi volume darah dan konsentrasi ion-ion unsur K, Na, Mg, Ca, dan sebagainya. Kegagalan ginjal dalam mengatur keseimbangan volume komposisi cairan tubuh akan menunjukkan indikasi kegagalan ginjal menahun atau mendadak. b. Pengatur keseimbangan asam dan basa meliputi konsentrasi ion H dalam cairan ekstraseluler tubuh. Kegagalan ginjal dalam mengatur

13

keseimbangan asam akan mengakibatkan koma untuk penderita yang cairannya bersifat basa. c. Pengatur tekanan darah, tekanan dalam tubuh, yang juga dilakukan oleh syaraf dan hormon sebagai pengatur tekanan darah jangka pendek, pergeseran cairan kapiler dan vaskuler stress relaxtion sebagai pengatur jangka menengah, sedangkan ginjal sendiri sebagai pengatur tekanan jangka panjang. Kegagalan ginjal dalam mengatur tekanan darah menunjukkan indikasi kerusakan nefron atau menunjukkan perubahan koefisien filtrasi glomerolus. Indikasi ini adalah sebagian dari indikasi penyakit ginjal yang disebabkan oleh kegagalan fungsi ginjal (Djuningran, 2007).

2.2.5 Radioisotop
Radioisotop atau sering disebut juga radionuklida adalah zat beradiasi yang dapat memancarkan sinar gamma dengan waktu paruh tertentu, pada kondisi ini yang digunakan pada pemeriksaan ginjal antara lain : I-131 Hippuran, Tc-99m, dan I-123. Contoh dari radioisotop buatan adalah Tc99m, yaitu atom yang memiliki nomor atom 43 dan nomor massa 99 dan Memancarkan sinar gamma dg Energi foton 140 KeV

2.2.6 KIT
Kit adalah zat yang di campur dengan radioisotop untuk mencapai organ yang kita kehendaki antara lain; 1.Hipurran. 2.DTPA (dietil tripenta acetic acid) 14

3.EC (distil cycteine) 4.MAG3 5.DMSA 6.Glukoheptonate KIT ini akan terakumulasi pada organ yang menjadi target atau sasaran radiasi untuk proses pencitraan. Khusus untuk KIT DTPA adalah KIT yang merupakan bahan farmaka yang ditandai dengan TC99m untuk mencapai targetnya yaitu ginjal yang akan didiagnosa.

2.2.7 Renografi dan Renogram


Renografi adalah salah satu alternatif pemeriksaan fungsional untuk mendeteksi keadaan fungsi organ target yaitu ginjal baik secara menyeluruh maupun secara satu persatu. Renogram adalah rekaman atau tampilan dalam bentuk kurva dari fungsi ginjal melalui alternatif renografi.

2.2.8 Uptake
Uptake adalah kemampuan organ untuk menyerap radiofarmaka yang diberikan melalui pembuluh vena.

2.2.9 TLD-100 Dan TLD-Reader


TLD-100 (Termo Luminase Detector-100) adalah suatu detektor yang ditempelkan pada tubuh pasien sebagai detektor panas akibat radiasi yang keluar dari tubuh pasien. Kegunaanya adalah untuk mengetahui apakah radiasi yang keluar dari tubuh pasien tidak melebihi ambang keamanannya terhadap lingkungan.

15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Alat Dan Bahan Penelitian 1) Bahan - Bahan Tc-99 DTPA Tc-99 DTPA digunakan sebagai perunut radioaktif yang peralatan medis yang disuntikkan ke dalam tubuh.

Gambar 3.1 Tc-99 DTPA (Sumber: Yunia Fitri, 2009) Gas Nitrogen Berguna untuk menjga kelembaban TLD-100 yang akan dibaca menggunakan TLD reader.

Gambar 3.2 gas nitrogen (sumber: Yunia Fitri, 2009)

16

2) Alat - Alat 1. Seperangkat Komputer dan Bentuk Aplikasinya

Gambar 3.3 Perangkat Lunak Program Medic View Pada Komputer (Sumber: PRPN BATAN, 2007) 2. Kamera Gamma Kamera Gamma digunakan untuk memotret radiasi gamma yang ditangkap oleh detektor pada organ tubuh (ginjal dan kantung kemih).

Gambar 3.4 Kamera Gamma (Sumber: www.dbh.nhs.uk) 3. TLD-100 Detektor (TLD-100) digunakan untuk menangkap radiasi pada organ tubuh. 17

Gambar 3.5 TLD-100 (Sumber: Yunia Fitri, 2009 - info nuklir.com) 4. TLD-Reader TLD Reader adalah alat baca TLD model 2000 A dan B buatan harshaw. Yang berfungsi untuk membaca hasil cacahan dari dosis yang diserap TLD.

Gambar 3.6 TLD- reader (sumber: Yunia Fitri, 2009) 5. Dose Calibrator Dose calibrator suatu model 35-056 millicuriea merupakan alat untuk menghitung dosis dari aktivitas suatu radioisotop.

Gambar 3.7 dose calibrator (sumber : nucmeditoturials.com) 18

3.1 a.

Prosedur Percobaan Pengambilan data dengan menggunakan program Medic View Diinstal program Medic View pada computer, lalu pada desktop akan tampilan icon medic view, diklik icon tersebut untuk membuka program dan diklik OK terus sampai tampilan program medic view keluar. Untuk memasukkan data yang akan dikerjakan, maka menu OPEN IMAGE pada toolbar program medic view tersebut diklik dan dipilih datanya pada folder data pasien yang telah disimpan. Setelah dipilh, dibuka image tersebut dan akan tampil bentuk bentuk ginjalnya. Lalu diklik salah satu data ginjal yang terlihat jelas untuk dikerjakan. Setelah itu diklik STUDIES dan dipilih KIDNEYMAG3. Setelah itu diklik Left Kidney dan dibentuk ginjal sebelah kanan begitu juga pada Right Kidney dan Heart , jangan lupa setelah membentuknya masing-masing diklik finish. Setelah proses selesai diklik RESULT. Dari hasil penelitian tersebut bisa dilihat bentuk grafik dan nilai uptake, Tmax, Tmax dari ginjal kanan dan kiri yang diperoleh. Setelah diperoleh data tersebut diklik Save Dekstop, dan disave data tersebut pada folder yang diinginkan. Kalau di klik Report akan terlihat hasil data secara rinci. Maka selesailah data pasien yang dikerjakan. Untuk data berikutnya dilakukan langkah-langkahnya sama seperti sebelumnya. Diulangi proses tersebut sampai data yang diperoleh memuaskan dan terlihat bagus seperti gambar berikut : 19

Gambar 3.8 Hasil akhir data analisis ginjal. (sumber : program Medic View) b. Pengolahan data dengan menggunakan program spss13 Pada Program spss13 ini praktikan mencari nilai dari mean, range, maximum, minimum serta standar deviasi. Langkah-langkah mengoperasikan program spss13 yang pertama dibuka program spss 13 dan akan ada dua lembaran kerja yaitu variable view dan data view, diclik variable view, pada kolom name ketik variabel-variable (tanpa menggunakan spasi) yang diperlukan serta tentukan type variabel pada kolom type . Misalnya variable view: kode type string. Pada data view, masukkan nama pasien(kode pasien), setelah itu di clik data view, isi data yang dibutuhkan. Clik menu analyze, repots, kemudian case summarize. Pindahkan variabel yang dibutuhkan. Clik statistic, dari kolom statistic pindahkan apa saja yang mau dimunculkan nilainya ke kolom cell statistic, misalnya mean, range, maximum, minimum serta standar deviasi, kemudian continue. Ok. Lalu akan muncul hasil outputnya, kemudian copy ke lembar kerja word. Langkah-langkah program tersebut dilakukan

20

sebanyak tiga kali, yaitu masing-masing untuk membuat tabel antara transit time dengan ginjal kiri, ginjal kanan, dan kandung kemih. c. Membuat grafik dengan menggunakan program Statistic 6 Grafik yang akan praktikan buat merupakan grafik hubungan paparan radiasi TLD-100 waktu singgah ginjal kanan dan ginjal kiri. Grafik hubungan paparan radiassi TLD-100 dengan uptake ginjal kanan, uptake ginjal kiri serta uptake kandung kemih. Adapun langkah-langkah menjalankan program statistic 6 yang pertama dibuka program statistica 6, lalu double klik di var1,kemudian ketik nama variabel 1, Ok. Setalah itu double klik di var2,kemudian ketik nama variabel 2, Ok. Diinput data yang diinginkan sesuai dengan var1 dan var2 . Dipilih menu graphs, scatterplots, variabel(tentukan apa yang menjadi sumbu x dan sumbu y), clik advanced. Kemudian Graph type: regular, fit: linear. Pada kolom statistics tandai dengan mengklik correlation and regression equation, setelah itu diklik Ok, maka akan muncul output, pindahkan/ copy grafik ke lembaran word.

21