Anda di halaman 1dari 59

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Penyakit asam urat atau biasa dikenal sebagai penyakit gout merupakan gangguan metabolik yang sudah dikenal oleh Hipokrates pada zaman Yunani kuno. Pada waktu itu gout dianggap sebagai penyakit kalangan sosial elite yang disebabkan karena terlalu banyak makan, minum anggur, dan seks. (Price, 2005). Penyakit asam urat ini merupakan kelompok penyakit heterogenous yang berhubungan dengan defek genetik pada metabolisme purin (hiperusisemia). Pada keasaman ini bisa terjadi oversekresi asam urat atau defek renal yang mengakibatkan penurunan ekskresi asam, atau kombinasi keduanya (Smeltzer,2001). Pengertian ini menerangkan bahwa tingginya angka penyakit asam urat disebabkan karena banyaknya seseorang mengkonsumsi makanan kaya protein (purin) dan diperberat dengan banyaknya seseorang mengkonsumsi alkohol yang menyebabkan kelebihan asam urat dalam tubuh karena terhambatnya pembuangan asam urat. Dari beberapa data yang diperoleh, prevalensi gout di Amerika Serikat pada tahun 1986 dilaporkan adalah 13,6/1000 pria dan 6,4/1000 perempuan. Prevalensi gout bertambah dengan meningkatnya taraf hidup. Prevalensi diantara pria African American lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pria caucasian (Sudoyo, 2007).
1

Di Amerika Serikat, Laki-laki yang berumur di atas 18 tahun prevalensinya mencapai 1,5%. Di Selandia Baru didapatkan 1-18 perseribu penduduk menderita asam urat. Dan untuk indonesia sendiri, asam urat banyak dijumpai pada etnis Minahasa, Toraja, dan Batak. Prevalensi tertinggi terdapat pada penduduk pantai dan yang paling tinggi yaitu di daerah Manado-Minahasa, ini dikarenakan kebiasaan mereka

mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar. Angka kejadian asam urat di Minahasa sebesar 29,2% pada tahun 2003. (http://maulanusantara.wordpress.com). Penelitian terakhir yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada tanggal 8 maret 2004 memuat artikel hasil karya dr Choi dan rekannya, yang berjudul Purine-Rich Foods, Dairy and protein Intake, and risk of Gout in Men. Dr Choi dan rekannya melakukan penelitian ini selama 12 tahun terhadap 47.150 laki-laki yang berusia 40 sampai 75 tahun pada tahun 1986 saat penelitian mulai dilakukan, didapatkan 730 kasus gout baru atau sekitar 15/1000 penduduk (1,5%) (dr Juandy Jo, 2007, http://usmanhungkul.wordpress.com). Di Indonesia belum banyak publikasi epidemiologi tentang artritis pirai. Pada tahun 1935 seorang dokter kebangsaan Belanda bernama Van Der Horst telah melaporkan 15 pasien artritis pirai dengan kecacatan (kelumpuhan anggota gerak) dari suatu daerah di Jawa Tengah pada masyarakat kurang mampu (Sudoyo 2007). Kemudian dari hasil penelitian tahun 1988 oleh dr. John darmawan di Bandung, Jawa Barat, menunjukan bahwa, diantara 4.683 orang berusia

15-45 tahun yang diteliti, diperoleh 0,8% sampel menderita asam urat tinggi (1,7% pria dan 0,05% wanita diantaranya sudah mencapai tahap Gout Arthritis) (http://www.bintangmawar.net.) Salah satu penelitian dari Departemen IPD FKUI, menjelaskan

bahwa penyakit gout artrithis merupakan salah satu penyakit masyarakat perkotaan dari 11 hasil penyakit yang ditemukan diantaranya adalah anemia, profil gangguan psikosomatik, gangguan muskuloskeletal dan kadar asam urat pada berbagai kelompok usia, jenis kelamin dan indeks masa tubuh pada penduduk perkotaan, profil kadar asam urat dan hiperurisemia pada sindroma metabolik, prevalensi penyakit tifoid, perilaku penggunaan antibiotik, prevalensi diabetes mellitus pada populasi umur berusia 25-64 tahun, prevalensi sindroma metabolik pada populasi umum berusia 25-64 tahun, keluhan saluran cerna bagian bawah, dan dispepsia pada penduduk perkotaan di lima wilayah DKI Jakarta (Amril,2007). Dapat kita simpulkan dari beberapa paragraf di atas bahwa faktor latar belakang budaya dan kebiasaan mempengaruhi angka kesakitan asam urat disetiap negara dan masing-masing wilayah tertentu, selain itu juga hal tersebut merupakan faktor yang dapat mempengaruhi penilaian atau persepsi nyeri dari setiap pasien asam urat untuk menggambarkan respon nyeri yang dirasakan. Masalah yang paling banyak dikeluhkan pada pasien asam urat adalah nyeri sendi ketika penyakit tersebut kambuh, nyeri sendi ini disebabkan karena penumpukan kristal monosodium urat di dalam tubuh pada daerah persendian. Manifestasi klinis yang digambarkan pada nyeri

sendi pasien asam urat adalah nyeri hebat pada malam atau pagi hari, nyeri terasa tertusuk benda tajam, dan teraba panas di bagian tubuh yang terasa nyeri. Menurut Masslow, seorang pelopor psikologi mengatakan bahwa kebutuhan rasa nyaman merupakan kebutuhan dasar setelah kebutuhan fisiologis yang harus terpenuhi. Seseorang yang mengalami nyeri akan berdampak pada aktivitas sehari-harinya. Orang tersebut akan terganggu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidurnya, pemenuhan individual, juga aspek interaksi sosialnya yang dapat berupa menghindari percakapan, menarik diri, dan menghindari kontak (Potter dan Perry, 2005). Menurut Priharjo, 1993 dalam pelaksanaan nyeri biasanya digunakan manajemen secara farmakologi atau obat-obatan baik analgetika narkotika atau non narkotika. Tindakan paliatif harus didahulukan sebelum penggunaan obat-obatan, misalnya dengan mengatur posisi yang tepat, massage, atau kompres hangat. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan nyeri sendi dilakukan dengan teknik non farmakologis yaitu kompres hangat, pengaturan diet, masase kutaneus, distraksi, teknik nafas dalam, dan teknik imajinasi. Tinjauan lain selain lebih ekonomis adalah control nyeri yang lebih adekuat dan tidak ada efek samping (Istichomah, 2007). Menurut peneliti upaya paliatif Kompres hangat ini dirasakan lebih unggul dibandingkan dengan tindakan paliatif lainnya dikarenakan tindakan ini lebih efektif dan efisien serta didapat hasil yang optimum dibandingkan

dengan teknik paliatif lainnya. Selain itu juga, pasien dapat mengerjakannya dengan mandiri tanpa dibantu oleh orang lain. Kompres hangat adalah pengompresan yang dilakukan dengan menggunakan buli-buli panas yang dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri yang dirasakan akan berkurang atau hilang (Perry & Potter, 2005). Peneliti tertarik untuk melihat pengaruh dari kompres air hangat terhadap perubahan nyeri sendi untuk para pasien Asam urat. Selain obat dan terapi untuk pertolongan pertama. Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah pelunakan jaringan fibrosa, membuat otot tubuh lebih rileks, menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri, dan memperlancar pasokan aliran darah. Untuk itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang Pengaruh Teknik Kompres Hangat Terhadap Perubahan Nyeri Sendi Pada Pasien Asam Urat di Puskesmas Beringin Banjarbaru Tahun 2013.

B.

Rumusan Masalah Dari permasalahan di atas maka perlu dibuat penelitian sebagai berikut : Adakah Pengaruh Teknik Kompres Hangat Terhadap Perubahan Nyeri Sendi Pada Pasien Asam Urat di Puskesmas Beringin Tahun 2013.

C.

Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik kompres hangat terhadap perubahan nyeri sendi pada pasien asam urat di Puskesmas Beringin Tahun 2013. 2. Tujuan Khusus Untuk Mengidentifikasi :
a.

Karakteristik responden (usia dan jenis kelamin) pada pasien asam urat.

b.

Gambaran Nyeri Sendi (Skala nyeri, Intensitas nyeri, dan Durasi penurunan nyeri) pada pasien asam urat.

c.

Tingkat nyeri sendi sebelum diberikan kompres hangat.

d. Tingkat nyeri sendi setelah diberikan kompres hangat.

e.

Pengaruh jenis kelamin terhadap nyeri setelah diberikan kompres hangat.

f.

Pengaruh umur terhadap nyeri setelah diberikan kompres hangat.

D.

Manfaat Penelitian Bagi Institusi Keperawatan


a. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pendidikan keperawatan

khususnya dalam praktek non farmakologis dalam perubahan nyeri sendi pada pasien dengan asam urat di puskesmas.

b. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh mahasiswa keperawatan

sebagai literatur tambahan untuk materi yang telah didapat dan juga sebagai bahan pertimbangan penelitian lebih lanjut tentang pengetahuan masyarakat tentang teknik kompres hangat terhadap perubahan nyeri sendi pada pasien dengan asam urat.
c. Sebagai salah satu bentuk apresiasi penulis dalam mengaplikasikan

ilmu yang selama ini telah diperoleh di bangku kuliah, dan memperoleh pengalaman dibidang penelitian perawatan kesehatan masyarakat, khususnya pengetahuan tentang pengaruh teknik kompres hangat terhadap perubahan nyeri sendi pada pasien dengan penderita asam urat. Bagi pelayanan kesehatan. Hasil pelayanan ini dapat menjadi masukan bagi pelayanan keperawatan baik di tingkat puskesmas dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan nyeri sendi pada pasien asam urat. Bagi Masyarakat
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh individu (sampel),

sebagai bahan informasi mengenai penyakit asam urat dan penanganan nyeri sendi dengan kompres hangat pada asam urat. Sehingga individu (sample), dapat turut serta dalam melaksanakan penanganan nyeri sendi non farmakologis dengan teknik kompres hangat yang tepat untuk asam urat. b. Dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang pelaksanaan teknik kompres hangat pada perawatan asam urat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Konsep Dasar Asam Urat 1. Gout Pengertian Asam Urat (pirai) merupakan kelompok keadaan heterogenous yang

berhubungan dengan defek genetik pada metabolisme purin (hiperurisemia). (Suzanne C. Smeltzer, 2001) Penyakit asam urat atau dikenal sebagai penyakit gout merupakan suatu penyakit akibat terjadinya penimbunan kristal monosodium urat di dalam tubuh sehingga menyebabkan nyeri sendi (Gout Arthritis), benjolan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh (tophi) dan batu pada saluran kemih. (www.bintangmawar.net) Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat dalam tubuh dan dijumpai pada semua makanan sari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah, kacang-kacangan) ataupun hewan (daging, jeroan, ikan sarden). Jadi asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak boleh berlebihan. Setiap orang memiliki asal urat di dalam tubuh, karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat. Sedangkan pemicunya adalah makanan, dan senyawa lain yang banyak mengandung purin. Tubuh telah menyediakan 85% senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari makanan hanya sekitar 15% (www.dechacare.com)

2.

Etiologi Asam Urat

Berdasarkan penyebabnya, penyakit asam urat di golongkan menjadi 2, yaitu :


a.

Penyakit gout primer. Penyebabnya kebanyakan belum diketahui (idiopatik). Hal ini di

duga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan

meningkatnya produksi asam urat. Atau bisa juga diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh (Perry & Potter, 2005).
b. Penyakit gout sekunder.

1)

Meningkatnya produksi asam urat karena pengaruh pola makan

yang tidak terkontrol, yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang berkadar purin tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa organic yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk salam kelompok asam amino, yang merupakan unsur pembentukan protein.
2)

Produksi asam urat juga dapat meningkat. Karena penyakit pada

darah (penyakit sumsum tulang, polisitemia, anemia hemolitik), obatobatan (alkohol, obat-obat kanker, vitamin B12, diuretika, dosis rendah asam salisilat). 3)
4)

Obesitas (kegemukan). Intoksikasi (keracunan timbal). Pada penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik.

Dimana akan ditemukan mengandung benda-benda keton (hasil buangan metabolisme lemak) dengan kadar yang tinggi. Kadar benda-benda keton

10

yang meninggi akan menyebabkan kadar asam urat juga ikut meninggi (Perry & Potter, 2005). 3. Patofisiologi Asam Urat Dalam keadaan normal, kadar asam urat di dalam darah pada pria dewasa kurang dari 7 mg/dL dan pada wanita kurang dari 6 mg/dL. Dan apabila konsentrasi asam urat dalam serum lebih besar dari 7,0 mg/dl dapat menyebabkan penumpukan kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan peningkatan atau penurunan secara mendadak kadar asam urat dalam serum. Jika kristal asam urat mengendap dalam sendi, akan terjadi respon inflamasi dan diteruskan dengan terjadinya serangan gout. Dengan adanya serangan yang berulang-ulang, penumpukan kristal monosodium urat yang dinamakan thopi akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan telinga. Akibat penumpukan Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan disertai penyakit ginjal kronis (Smeltzer,2001). Gambaran kristal urat dalam cairan sinovial sendi yang asimtomatik

menunjukkan bahwa faktor-faktor non-kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang terutama berupa IgG. Dimana IgG akan meningkatkan fagositosis kristal dan dengan demikian dapat memperlihatkan aktifitas imunologik (Long,2001).

11

Perjalanan penyakit asam urat mempunyai 4 tahapan, yaitu :


a.

Tahap 1 (Tahap Gout Arthritis akut)

Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan arthritis yang khas untuk pertama kalinya. Serangan artritis tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu sekitar 5-7 hari. Bila dilakukan pengobatan maka akan lebih cepat menghilang. Karena cepat menghilang maka penderita sering menduga kakinya hanya keseleo atau terkena infeksi, sehingga tidak menduga terkena penyakit gout arthritis dan tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada pemeriksaan kadang-kadang tidak ditemukan ciri-ciri penderita terserang penyakit gout arthritis. Ini karena serangan pertama berlangsung sangat singkat dan dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting), maka penderita sering berobat ke tukang urut dan pada saat penderita sembuh, penderita menyangka hal itu dikarenakan hasil urutan/pijatan. Namun jika dilihat dari teori, nyeri yang diakibatkan asam urat tidak boleh dipijat ataupun diurut, tanpa diobati atau diurut sekalipun serangan pertama kali ini akan hilang dengan sendirinya (Long 2001).
b. Tahap 2 (Tahap Gout interkritikal)

Pada tahap ini penderita dalam keadaan sehat selama rentang waktu tertentu. Rentang waktu setiap penderita berbeda-beda. Dari rentang waktu 1-10 tahun. Namun rata-rata rentang waktunya antara 1-2 tahun. Panjangnya rentang waktu pada tahap ini menyebabkan seseorang lupa bahwa dirinya pernah menderita serangan gout Arthritis akut. Atau menyangka serangan pertama kali yang dialami tidak ada hubungannya dengan penyakit Gout Arthritis (Long 2001).
c.

Tahap 3 (Tahap Gout Arthritis Akut Intermitten)

12

Setelah melewati masa Gout Interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala, maka penderita akan memasuki tahap ini yang ditandai dengan serangan arthritis yang khas seperti diatas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yang jarak antara serangan yang satu dengan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama serangan makin lama makin panjang, dan jumlah sendi yang terserang makin banyak. Misalnya seseorang yang semula hanya kambuh setiap setahun sekali, namun bila tidak berobat dengan benar dan teratur, maka serangan akan makin sering terjadi biasanya tiap 6 bulan, tiap 3 bulan dan seterusnya, hingga pada suatu saat penderita akan mendapat serangan setiap hari dan semakin banyak sendi yang terserang. d. Tahap 4 (tahap Gout Arthritis Kronik Tofaceous)

Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini akan terbentuk benjolan-benjolan disekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai Thopi. Thopi ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium urat. Thopi ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang disekitarnya. Bila ukuran thopi semakin besar dan banyak akan mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakana sepatu lagi. 4. Faktor Resiko terjadinya Asam Urat

Tidak semua orang dengan peningkatan asam urat dalam darah (hiperuremia) akan menderita penyakit asam urat. Namun ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan seseorang menderita penyakit asam urat, diantaranya (Noer 2001) :

13

a. Pola makan yang tidak terkontrol. Asupan makanan yang masuk ke

dalam tubuh dapat mempengaruhi kadar asam urat dalam darah. Makanan yang mengandung zat purin yang tinggi akan diubah menjadi asam urat. b. Seseorang dengan berat badan yang berlebihan (obesitas).
c. Suku bangsa tertentu. Menurut penelitian, suku bangsa di dunia

yang paling tinggi prevalensinya terserang asam urat adalah orang maori di Australia. Prevalensi orang maori terserang penyakit asam urat tinggi. Sedangkan di Indonesia prevalensi tertinggi pada penduduk pantai dan yang paling tinggi di daerah ManadoMinahasa karena kebiasaan atau pola makan ikan dan

mengkonsumsi alkohol.
d. Peminum alkohol. Alkohol dapat menyebabkan pembuangan asam

urat lewat urine ikut berkurang, sehingga asam urat tetap bertahan di dalam darah. e. Seseorang yang berumur 45 tahun biasanya pada laki-laki, dan perempuan saat umur menepouse.
f. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit asam

urat. g. Seseorang kurang mengkonsumsi air putih. h. Seseorang dengan gangguan ginjal dan hipertensi. i. Seseorang yang menggunakan obat-obatan dalam jangka waktu lama. j. Seseorang yang mempunyai penyakit diabetes mellitus.

14

5.

Manifestasi Klinis Manifestasi klinis yang ditimbulkan pada penyakit asam urat antara lain adalah sebagai berikut (Price, 2005) : a. Nyeri hebat pada malam hari, sehingga penderita sering terbangun saat tidur.
b.

Saat dalam kondisi akut, sendi tampak terlihat bengkak, merah dan teraba panas. Keadaan akut biasanya berlangsung 3 hingga 10 hari, dilanjutkan dengan periode tenang. Keadaan akut dan masa tenang dapat terjadi berulang kali dan makin lama makin berat.

c. d.
e.

Disertai pembentukan kristal natrium urat yang dinamakan thopi. Terjadi deformitas (kerusakan) sendi secara kronis. Berdasarkan diagnosis dari American Rheumatism Association (ARA), seseorang dikatakan menderita asam urat jika memenuhi beberapa kriteria berikut : 1) Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam cairan sendi. 2) Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam thopi, di tentukan berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi. 3) Di dapatkan 6 dari 12 kriteria di bawah ini : a)
b)

Terjadi serangan arthritis akut lebih dari satu kali. Terjadi peradangan secara maksimal pada hari pertama gejala atau serangan datang.

15

c)

Merupakan arthritis monoartikuler (hanya terjadi di satu sisi persendian).

d) e)

Sendi yang terserang berwarna kemerahan. Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak.

f)

Serangan nyeri unilateral (di salah satu sisi) pada sendi metatarsophalangeal.

g)

Serangan nyeri unilateral pada sendi tarsal (jari kaki). Adanya thopi (Deposit besar dan tidak teratur yang berasal dari natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi.

h)

i)

Terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah (lebih dari 7,5mg/dL).

j)

Pada gambaran radiologis tampak pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja).

k)

Pada gambaran radiologis tampak kista subkortikal tanpa erosi.

l)

Hasil kultur cairan sendi menunjukkan nilai negative.

Serangan asam urat biasanya timbul secara mendadak atau akut, dan kebanyakan menyerang pada malam hari. Jika asam urat menyerang, sendi-sendi yang terserang tampak merah, mengkilat, bengkak, kulit di atasnya terasa panas disertai rasa nyeri yang sangat hebat, juga persendian yang sulit digerakkan (Muhammad, 2010).

16

Menurut Budiyanto (2000) mengatakan, bahwa pasien dengan gejala gout arthritis akan mengalami peradangan pada satu atau beberapa persendian. Sendi metatarsophalangeal dengan jari kaki pertama. Tapi tidak jarang sendi lutut, tarsal, dan pergelangan kaki juga ikut terlibat. Nyeri yang biasa dikeluhkan pasien adalah tajam dan terkadang membuat pasien tidak bisa berjalan. Pada beberapa orang, nyeri dirasakan terutama setelah bangun tidur. 6. Penatalaksanaan Penatalaksanaan asam urat secara umum, dapat diatasi dengan menggunakan pengobatan modern (kimia) atau pun pengobatan tradisional.
a.

Pengobatan Modern (Konvensional/Kimia) Pengobatan modern ini biasa diperoleh dengan menggunakan resep

dokter. Obat-obatannya antara lain (Soeparman, 2001) : 1) Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS), yang berfungsi untuk mengatasi nyeri sendi akibat proses peradangan.
2) Kortikosteroid, yang berfungsi sebagai obat anti radang dan

menekan reaksi imun. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk tablet atau suntikan dibagian sendi yang sakit. 3) Imunosupresif, yang berfungsi untuk menekan reaksi imun. Obat ini jarang digunakan karena efek sampingnya cukup berat yaitu dapat menimbulkan penyakit kanker dan bersifat racun bagi ginjal dan hati. 4) Suplemen antioksidan yang diperoleh dari asupan vitamin dan mineral yang berkhasiat untuk mengobati asam urat. Asupan

17

vitamin dan mineral dapat diperoleh dengan mengkonsumsi buah atau sayuran segar atau orange, seperti wortel.
b. Pengobatan Tradisional (Herbal)

Tanaman obat yang digunakan untuk penyakit asam urat/gout berfungsi sebagai anti radang, penghilang rasa sakit (analgesik), membersihkan darah dari zat toksik, peluruh kemih (diuretik) sehingga memperbanyak urin, dan menurunkan asam urat. Adapun jenis tanaman berkhasiat obat yang dapat digunakan untuk mengatasi asam urat diantaranya yaitu (Saraswati, 2009 dalam Muhammad, 2010) : 1) Mengkudu (Morinda Citrifolia). Buah ini dipercaya memiliki

khasiat sebagai pengurang rasa nyeri dan anti-inflamasi alamiah. Ekstraknya dapat menghambat enzim siklooksigenase-2 (COX-2) yang akan menyingkirkan penimbul rasa nyeri, prostaglandin (PEG). Mengukudu juga mengandung senyawa scopoletin yang memiliki sifat anti-inflamasi. 2) Sambiloto. Efeknya adalah anti-radang, menghilangkan nyeri, dan

penawar racun. 3) Kumis kucing. Efeknya adalah anti-radang, peluruh kemih,

menghancurkan batu ginjal dari kristal asam urat.


4)

Daun salam. Efeknya adalah sebagai peluruh kencing, penghilang

nyeri. 5) c. Alang-alang. Efeknya adalah peluruh kemih. Pengobatan Modalitas

18

Terapi non farmakologis yang dapat digunakan sebagai alternative pilihan dalam pengobatan diminore primer adalah: 1) Kompres hangat Kompres hangat adalah pengompresan yang dilakukan dengan

mempergunakan buli-buli panas yang di bungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri sendi yang dirasakan akan berkurang atau hilang (Perry & Potter,(2005). Menurut Bare & Smeltzer (2001), kompres hangat mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Menurut Bobak (2005), kompres hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas dapat meredakan iskemia dengan menurunkan ketegangan otot dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera, meningkatkan aliran darah, dan meredakan nyeri. Menurut Price & Wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat disalurkan melalui konduksi (botol air panas). Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan dapat meningkatkan aliran darah. Kompres hangat adalah metode yang digunakan untuk meredakan nyeri dengan cara menggunakan buli-buli yang diisi dengan air panas yang ditempelkan pada sendi yang nyeri

19

2) Olahraga Olahraga secara teratur dapat menimbulkan aliran darah sirkulasi darah pada sendi menjadi lancar sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Pelepasan endorfin alami dapat meningkat dengan olah raga teratur yang akan menekan pelepasan prostaglandin, selain itu mampu menguatkan kadar beta endorfin yaitu suatu zat kimia otak yang berfungsi meredakan rasa sakit (Sadoso, 1998). 3) Berhenti merokok dan mengkomsumsi alkohol. Kebiasaan-kebiasaan buruk ini, mempunyai efek negatif terhadap tubuh manusia, pada perokok berat dapat meningkatkan durasi terjadinya nyeri, hal ini berkaitan dengan peningkatan volume dan durasi perdarahan selama nyeri. Dengan menghindari dan menghilangkan kebiasaan tersebut, diharapkan efek negatif dapat dihilangkan sehingga nyeri tidak terjadi (Medicastore,2004). 4) Pengaturan diet Cara mengurangi dan mencegah rasa nyeri saat menstruasi, dianjurkan mengkomsumsi makanan yang banyak mengandum kalsium dan makanan segar, seperti sayuran, buah-buahan, ikan, daging, dan makanan yang mengandung vitamin B6 karena berguna untuk metabolisme estrogen (Sutrasni, 2004). Menurut Bare & Smeltzer (2001) penanganan nyeri secara

nonfarmakologis terdiri dari: 1) Masase kutaneus Masase adalah stimulus kutaneus tubuh secara umum, sering dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena masase membuat relaksasi otot. 2) Terapi panas

20

Terapi panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah kesuatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. 3) Transecutaneus Elektrikal Nerve Stimulaton ( TENS) TENS dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-nesiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut yang menstramisikan nyeri. TENS menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang di pasang pada kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung pada area nyeri. 4) Distraksi Distraksi adalah pengalihan perhatian dari hal yang menyebabkan nyeri, contoh: menyanyi, berdoa, menceritakan gambar atau foto dengan kertas, mendengar musik dan bermain satu permainan. 5) Relaksasi Relaksasi merupakan teknik pengendoran atau pelepasan ketegangan, contoh: bernafas dalam-dalam dan pelan. 6) Imajinasi Imajinasi merupakan khayalan atau membayangkan hal yang lebih baik khususnya dari rasa nyeri yang dirasakan. 7. Diagnosa

Setelah kita mengetahui faktor penyebab dan gejala asam urat, tugas kita sekarang ialah bagaimana cara mengetahui atau mendiagnosa asam urat dan komplikasinya. Hal inilah yang menjadi penanda dan penetapan apakah kita benar-benar terserang penyakit asam urat ataukah tidak. Sebab dalam hal ini, kita

21

melakukan diagnosa dengan berbagai cara untuk mendapatkan kesimpulan yang valid dan akurat (Kusyanti, 2006). Dr. Prapti Utami membagi diagnosa asam urat ini ke dalam tiga cara. Diagnosa asam urat dilakukan dengan pemeriksaan lewat laboratorium, pemeriksaan radiologis, dan cairan sendi. Selain itu, kita juga bisa melakukan diagnosa melakukan diagnosa melalui roentgen. a. Pemeriksaan Laboratorium Seseorang dikatakan menderita asam urat ialah apabila pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar asam urat dalam darah diatas 7 mg/dL untuk pria dan lebih dari 6 mg/dL untuk wanita. Selain itu, kadar asam urat dalam urin lebih dari 760-1000 mg/24 jam dengan diet biasa. Disamping hal tersebut, sering juga dilakukan pemeriksaan gula darah, ureum, dan kreatinin, disertai pemeriksaan profil lemak darah untuk menguatkan diagnosis (Kusyanti, 2006). Pemeriksaan gula darah dilakukan untuk mendeteksi ada dan tidaknya penyakit diabetes mellitus. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk mengetahui normal dan tidaknya fungsi ginjal. Sementara itu pemeriksaan profil lemak darah dijadikan penanda ada dan tidaknya gejala aterosklerosis (Kusyanti, 2006). b. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologis digunakan untuk melihat proses yang terjadi dalam sendi dan tulang serta untuk melihat proses pengapuran di dalam tofus (Kusyanti, 2006). c. Pemeriksaan dengan Roentgen Selain itu, kita juga bisa melakukannya dengan cara Roentgen. Pemeriksaan ini baiknya dilakukan pada awal setiap kali pemeriksaan sendi. Dan,

22

jauh lebih efektif jika pemeriksaan roentgen ini dilakukan pada penyakit sendi yang sudah berlangsung kronis. Pemeriksaan roentgen perlu dilakukan untuk melihat kelainan baik pada sendi maupun pada tulang dan jaringan di sekitar sendi (Ketria, 2009). Seberapa sering penderita asam urat untuk melakukan pemeriksaan roentgen tergantung perkembangan penyakitnya. Jika sering kumat, sebaiknya dilakukan pemeriksaan roentgen ulang. Bahkan kalau memang tidak kunjung membaik, kita pun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Tetapi demikian, dalam melakukan pemeriksaan roentgen, kita jangan terlalu sering. Sebab, pemeriksaan roentgen yang terlalu sering mempunyai risiko terkena radiasi semakin meningkat. Pengaruh radiasi yang berlebihan bisa mengakibatkan kanker, kemandulan, atau kelainan janin dalam kandungan pada perempuan. Oleh karena itu, kita harus ekstra hati-hati dan harus bisa meminimalisasi dalam melakukan pemeriksaan roentgen ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya berbagai risiko tersebut. 8. Komplikasi a. Radang sendi akibat asam urat (gouty arthritis) Komplikasi hiperurisemia yang paling dikenal adalah radang sendi (gout). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa, sifat kimia asam urat cenderung berkumpul di cairan sendi ataupun jaringan ikat longgar. Meskipun hiperurisemia merupakan faktor resiko timbulnya gout, namun hubungan secara ilmiah antara hiperurisemia dengan serangan gout akut masih belum jelas. Athritis gout akut dapat terjadi pada keadaan konsentrasi asam urat serum yang normal. Akan tetapi, banyak pasien dengan hiperurisemia tidak mendapat serangan athritis gout.

23

Gejala klinis dari Gout bermacam-macam yaitu, hiperurisemia tak bergejala, serangan akut gout, gejala antara(intercritical), serangan gout berulang, gout menahun disertai tofus Keluhan utama serangan akut dari gout adalah nyeri sendi yang amat sangat yang disertai tanda peradangan (bengkak, memerah, hangat dan nyeri tekan). Adanya peradangan juga dapat disertai demam yang ringan. Serangan akut biasanya puncaknya 1-2 hari sejak serangan pertama kali. Namun pada mereka yang tidak diobati, serangan dapat berakhir setelah 7-10 hari. Serangan biasanya berawal dari malam hari. Awalnya terasa nyeri yang sedang pada persendian. Selanjutnya nyerinya makin bertambah dan terasa terus menerus sehingga sangat mengganggu Biasanya persendian ibu jari kaki dan bagian lain dari ekstremitas bawah merupakan persendian yang pertama kali terkena. Persendian ini merupakan bagian yang umumnya terkena karena temperaturnya lebih rendah dari suhu tubuh dan kelarutan monosodium uratnya yang berkurang. Trauma pada ekstremitas bawah juga dapat memicu serangan. Trauma pada persendian yang menerima beban berat tubuh sebagai hasil dari aktivitas rutin menyebabkan cairan masuk ke sinovial pada siang hari. Pada malam hari, air direabsorbsi dari celah sendi dan meninggalkan sejumlah MSU. Serangan gout akut berikutnya biasanya makin bertambah sesuai dengan waktu. Sekitar 60% pasien mengalami serangan akut kedua dalam tahun pertama, sekitar 78% mengalami serangan kedua dalam 2 tahun. Hanya sekitar 7% pasien yang tidak mengalami serangan akut kedua dalam 10 tahun.

24

9.

Pencegahan Asam urat darah adalah hasil pemecahan dari protein yang secara khusus

disebut purin dan selanjutnya 75 persen asam urat dibuang oleh tubuh melalui urine. Peningkatan kadar asam urat dapat terjadi akibat produksi lebih banyak dari pada pembuangan asam urat. Penyakitnya sendiri tidak bisa dicegah, tetapi beberapa faktor pencetusnya bisa dihindari (misalnya cedera, alkohol, makanan kaya protein). Untuk mencegah kekambuhan, dianjurkan untuk minum banyak air, menghindari minuman beralkohol dan mengurangi makanan yang kaya akan protein. Banyak penderita yang memiliki kelebihan berat badan, jika berat badan mereka dikurangi, maka kadar asam urat dalam darah seringkali kembali ke normal atau mendekati normal. B. Konsep Dasar Kompres Hangat 1. Definisi Kompres hangat adalah suatu prosedur menggunakan kain / handuk yang telah di celupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian tubuh tertentu. Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Tindakan ini selain untuk melancarkan sirkulasi darah juga untuk menghilangkan rasa sakit, merangsang peristaltic usus, pengeluaran getah radang menjadi lancar, serta memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien. Pemberian kompres dilakukan pada radang persendian, kekejangan otot, perut kembung, dan kedinginan.

25

Menurut Perry dan Potter (2005), kompres hangat dilakukan dengan mempergunakan buli-buli panas yang dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri sendi yang dirasakan pada pasien asam urat akan berkurang atau hilang. Menurut Bare & Smeltzer (2001), kompres hangat mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Menurut Bobak (2005), kompres hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi otot dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera,

menigkatkan aliran darah di daerah persendian. Menurut Price & wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat disalurkan melalui konduksi (botol air panas). Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan dapat meningkatkan aliran darah. Kompres air hangat dilakukan dengan tujuan membuat otot tubuh lebih rileks, menghilangkan rasa sakit, dan membuat tenang pasien. 2. Manfaat Efek Panas Panas digunakan secara luas dalam pengobatan karena memiliki efek dan manfaat yang besar. Adapun manfaat efek panas adalah (Gabriel, 1996) :

26

a.

Efek Fisik

Panas dapat menyebabkan zat cair, padat, gas mengalami pemuaian ke segala arah. b. Efek Kimia

Sesuai dengan pernyataan Van Hoff bahwa rata-rata kecepatan reaksi kimia di dalam tubuh tergantung pada temperatur. Menurunnya reaksi kimia tubuh sering dengan menurunnya temperatur tubuh, permeabilitas membran sel akan meningkat sesuai dengan peningkatan suhu, pada jaringan akan terjadi peningkatan metabolisme seiring dengan peningkatan pertukaran antara zat kimia tubuh dengan cairan tubuh. c. Efek Biologis

Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipothalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas dihipotalamus dirangsang, sistem effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan aliran darah ke setiap jaringan khususnya yang mengalami radang dan nyeri bertambah dan diharapkan akan terjadi penurunan nyeri sendi pada jaringan yang meradang (Tamsuri, 2007). 3. Mekanisme Kerja Panas

Energi panas yang hilang atau masuk ke dalam tubuh melalui kulit dengan empat cara yaitu : secara konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Prinsip kerja kompres hangat dengan mempergunakan buli-buli panas yang dibungkus kain

27

yaitu secara konduksi dimana terjadi perpindahan panas dari buli-buli panas ke dalam sendi yang nyeri dan akan melancarkan sirkulasi darah dan menurunkan ketegangan otot sehingga akan menurunkan nyeri sendi pada klien asam urat. Kompres hangat dapat dilakukan dengan menempelkan kantong karet yang diisi air hangat atau dengan buli-buli panas (WWZ) atau handuk yang telah direndam di dalam air hangat ke bagian tubuh yang nyeri dengan suhu air sekitar 50-60C, karena pada suhu tersebut kulit dapat mentoleransi sehingga tidak terjadi iritasi dan kemerahan pada kulit yang dikompres. Sebaiknya diikuti dengan latihan pergerakan atau pemijatan. Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah pelunakan jaringan fibrosa, membuat otot tubuh lebih rileks, menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri, dan memperlancar pasokan aliran darah. 3. Konsep Dasar Nyeri Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Stimulus yang dapat berupa stimulus yang bersifat fisik dan/atau mental, sedangkan kerusakan dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seorang individu (Mahon, 1994, dalam perry dan potter, 2005). Menurut McCaffery (1980) : Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri. Nahon menemukan empat atribut pasti untuk pengalaman nyeri, yaitu : nyeri bersifat individu, tidak menyenangkan, merupakan suatu kekuatan yang mendominasi, dan bersifat tidak berkesudahan (1994). 3.1 Reseptor Nyeri

28

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespons hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosiseptor. Secara anatomis, reseptor nyeri (nosiseptor) ada yang bermielin dan ada juga yang tidak bermielin dari saraf aferen. Berdasarkan letaknya, nosiseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus), somatik dalam (depp somatic), dan pada daerah viseral. Karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nosiseptor kutaneus berasal dari kulit dan subkutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dilokalisasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen, yaitu : a. Serabut A delta

Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan transmisi 6 30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam, yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan.
b.

Serabut C

Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan transmisi 0,5 2 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi. . Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral. Reseptor viseral. reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal, dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya difus (terus-menerus).

29

Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia, dan inflamasi. Nyeri viseral dapat menyebabkan nyeri alih (reffered pain), yaitu nyeri yang dapat timbul pada daerah yang berbeda/ jauh dari organ asal stimulus nyeri tersebut. Nyeri pindah ini dapat terjadi karena adanya sinaps jaringan viseral pada medulla spinalis dengan serabut yang berasal dari jaringan subkutan tubuh. Berdasarkan jenis rangsang yang dapat di terima oleh nosiseptor, di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis nosiseptor yaitu : nosiseptor termal, nosiseptor mekanik, nosiseptor elektrik, dan nosiseptor kimia. Adanya berbagai macam nosiptor ini memungkinkan terjadinya nyeri karena pengaruh mekanis, kimia, listrik, atau karena perubahan suhu. Serabut nyeri A delta merupakan serabut nyeri yang lebih banyak dipengaruhi oleh rangsangan mekanik dari pada rangsangan panas dan kimia, sedang serabut nyeri jenis C lebih dipengaruhi oleh rangsangan suhu, kimia dan mekanik kuat. 3.2 Transmisi Nyeri Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosiseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan.
a.

Teori Spesivisitas (Specivicity Theory) Teori Pola (Pattern Theory) Teori Gerbang Kendali Nyeri (Gate Control Theory)

b. c.

3.3 Neuroregulator Nyeri

30

Neuroregulator atau substansi yang berperan dalam transmisi stimulus saraf dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu neurotransmiter dan

neuromodulator. Neurotransmiter mengirimkan impuls-impuls elektrik melewati rongga sinaps antara dua serabut saraf, dan dapat bersifat sebagai penghambat atau dapat pula mengeksitasi. Sedangkan neuromodulator bekerja untuk memodifikasi aktivitas neuro tanpa mentransfer secara langsung sinyal-sinyal menuju sinaps. Neuromodulator dipercaya bekerja secara tidak langsung dengan meningkatkan atau menurunkan efek partikuler neurotransmiter. Beberapa neuroregulator yang berperan dalam penghantaran impuls nyeri antara lain adalah (Patel, 2007) : a. Neurotransmiter - Substansi 1. Ditemukan pada neuro nyeri di kornudorsalis (peptida ektisator). 2. Diperlukan untuk menstramisikan impuls nyeri dari perifer ke otak. 3. Menyebabkan vasodilatasi dan edema. -Serotonin 1. Dilepaskan oleh batang otak dan kornudorsalis untuk menghambat transmisi nyeri. -Prostaglandin 1. Dibangkitkan dari pemecahan pospilipid di membrane sel. 2. Dipercaya dapat meningkatkan sensitivitas terhadap sel. b. Neuromodular 1) Endorfin (morfin Endogen)
a) Merupakan substansi sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh.

31

b) Diaktivasi oleh daya stres dan nyeri.


c) Terdapat pada otak, spinal, dan traktus gastrointestinal.

d) Memberi efek analgesik. 2) Bradikinin a.Dilepaskan dari plasma dan pecah disekitar pembuluh darah pada daerah yang mengalami cedera. b.Bekerja pada reseptor saraf perifer, menyebabkan peningkatan stimulus nyeri. c.Bekerja pada sel, menyebabkan reaksi berantai sehingga terjadi pelepasan prostaglandin. 3.4 Konsep Nyeri

Menurut Mc. Caffery (1979), nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang, dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Menurut Assosiasi Nyeri Internasional (1979) disebutkan bahwa nyeri adalah suatu Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan baik secara actual maupun seperti tersebut diatas. Menurut Kozier dan Erb (1983), nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang dimanifestasikan sebagai penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman dan fantasi luka. Mengacu pada teori dari Asosiasi Nyeri Internasional, pemahaman tentang nyeri menitik beratkan bahwa nyeri adalah kejadian fisik, yang tentu saja untuk penatalaksanaan nyeri menitikberatkan pada manipulasi fisik atau menghilangkan kausa fisik. Adapun definisi dari Kozier dan Erb, nyeri diperkenalkan sebagai suatu pengalaman emosional yang penatalaksanaannya tidak hanya pada pengelolaan

32

fisik semata, namun penting juga untuk melakukan manipulasi (tindakan) psikologis untuk mengatasi nyeri. 3.5 Klasifikasi Nyeri a. Klasifikasi Berdasarkan Waktu Kejadian

Nyeri dapat dikelompokkan sebagai nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi dalam waktu (durasi) dari satu detik sampai dengan kurang dari enam bulan, sedangkan nyeri kronis adalah nyeri yang terjadi dalam waktu lebih dari enam bulan. Nyeri akut umumnya terjadi pada cedera, penyakit akut, atau pada pembedahan dengan awitan yang cepat dan tingkat keparahan yang bervariasi (sedang sampai berat). Nyeri akut dapat dipandang sebagai nyeri yang terbatas dan bermanfaat untuk mengidentifikasikan adanya cedera atau penyakit pada tubuh. Nyeri jenis ini biasanya hilang dengan sendirinya dengan atau tanpa tindakan setelah kerusakan jaringan menyembuh.
b. Klasifikasi berdasarkan Lokasi

Berdasarkan lokasi nyeri, nyeri dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu nyeri superfisial, nyeri somatik dalam, nyeri viseral, nyeri alih, nyeri sebar, dan nyeri bayangan (fantom). Nyeri superfisial biasanya timbul akibat stimulasi terhadap kulit seperti pada laserasi, luka bakar dan sebagainya. Nyeri jenis ini memiliki durasi yang pendek, terlokalisir, dan memiliki sensasi yang tajam. Nyeri somatik dalam (deep somatic pain) adalah nyeri yang terjadi pada otot dan tulang serta struktur penyokong lainnya, umumnya nyeri bersifat tumpul dan distimulasi dengan adanya peregangan dan iskemia.

33

Nyeri viseral adalah nyeri yang disebabkan oleh kerusakan organ internal. Nyeri yang timbul bersifat difus dan durasinya cukup lama. Sensasi yang timbul biasanya tumpul. Nyeri sebar (radiasi) adalah sensasi nyeri yang meluas dari daerah asal ke jaringan sekitar. Nyeri jenis ini biasanya dirasakan oleh klien seperti berjalan/bergerak dari daerah asal nyeri ke sekitar atau ke sepanjang bagian tubuh tertentu. Nyeri dapat bersifat intermiten atau konstan. Nyeri fantom adalah nyeri khusus yang dirasakan oleh klien yang mengalami amputasi. Nyeri oleh klien dipersepsikan berada pada organ yang telah diamputasi seolah-olah organnya masih ada. Contohnya adalah pada klien yang menjalani operasi pengangkatan payudara atau pada amputasi ekstremitas. Nyeri alih (referred pain) adalah nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral yang menjalar ke organ lain, sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat atau lokasi. Nyeri jenis ini dapat timbul karena masuknya neuron sensori dari organ yang mengalami nyeri ke dalam medula spinalis dan mengalami sinapsis dengan serabut saraf yang berada pada bagian tubuh lainnya. Berdasarkan pada organ tempat timbulnya, nyeri dapat dikelompokkan dalam : nyeri organik, nyeri neurogenik, dan nyeri psikogenik. Nyeri organik adalah nyeri yang diakibatkan adanya kerusakan (aktual atau potensial) organ. Penyebab nyeri umumnya mudah dikenali sebagai akibat adanya cedera, penyakit, atau pembedahan terhadap salah satu atau beberapa organ. Nyeri neurogenik adalah nyeri akibat gangguan neuron, misalnya pada neuralgia. Nyeri ini dapat terjadi secara akut maupun kronis.

34

Nyeri psikogenik adalah nyeri akibat berbagai faktor psikologis. Gangguan ini lebih mengarah pada gangguan psikologis dari pada gangguan organ. Klien yang menderita memang benar-benar mengalaminya. Nyeri ini umumnya terjadi ketika efek-efek psikogenik seperti cemas dan takut timbul pada klien. 3.6 Respons Tubuh Terhadap Nyeri Respons fisik timbul karena pada saat impuls nyeri ditransmisikan oleh medula spinalis menuju batang otak dan talamus, sistem saraf otonom terstimulasi, sehingga menimbulkan respons yang serupa dengan respons tubuh terhadap stress. Pada nyeri skala ringan sampai moderat serta pada nyeri superfisial, tubuh bereaksi membangkitkan General Adaptation Syndrome (Reaksi Fight or Flight, dengan merangsang sistem saraf simpatis. Sedangkan pada nyeri yang berat dan tidak dapat ditoleransi serta nyeri yang berasal dari organ viseral, akan mengakibatkan stimulasi terhadap saraf parasimpatis. Tabel 2.3 Respons Fisiologis Tubuh Terhadap Nyeri Reaksi Simpatis Dilatasi lumen bronkus, Memungkinkan penyediaan oksigen yang lebih banyak. Memungkin transpor oksigen lebih besar ke dalam jaringan tubuh (sel). Vasokontriksi perifer Meningkatkan tekanan darah dengan Efek

peningkatan frekuensi napas. Denyut jantung meningkat

memindahkan suplai darah dari perifer ke organ viseral, otot, dan otak. Memungkinkan penyediaan energi tambahan

35

Peningkatan glukosa darah

bagi tubuh. Mengendalikan suhu tubuh selama stress.

Diaforesis Tegangan otot meningkat Dilatasi pupil

Menyiapkan otot untuk mengadakan aksi. Menghasilkan kemampuan melihat yang lebih baik. Menyalurkan energi untuk aktivitas tubuh

Penurunan motilitas usus Parasimpatis Pucat

yang lebih penting.

Disebabkan suplai darah yang menjauhi perifer.

Kelelahan otot Tekanan darah dan nadi menurun. Frekuensi napas cepat, tiak teratur.

Karena kelemahan. Pengaruh stimulasi nervus vagal. Karena mekanisme pertahanan yang gagal untuk memperpanjang perlawanan tubuh terhadap stress (nyeri).

Mual dan muntah, Kelemahan

Kembalinya fungsi gastrointestinal akibat pengeluaran energi yang berlebihan.

3.7 Respons Psikologis Respons psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien. Klien yang mengartikan nyeri sebagai sesuatu yang negatif cenderung memiliki suasana hati sedih, berduka, ketidakberdayaan, dan dapat berbalik menjadi rasa marah dan frustasi. Sebaliknya pengalaman yang positif akan menerima nyeri yang dialaminya. Pemahaman dan pemberian arti bagi nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan, persepsi,

36

pengalaman masa lalu, dan juga faktor sosial budaya.Respons perilaku yang timbul pada klien yang mengalami nyeri dapat bermacam-macam. Meinhart dan Mc. Caffery (1983) menggambarkan tiga fase perilaku terhadap nyeri yaitu : antisipasi, sensasi, dan fase nyeri. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tentang nyeri meliputi : a. Usia b. Jenis kelamin c. Budaya d. Pengetahuan tentang nyeri dan penyebabnya e. Makna nyeri f. Perhatian klien g. Tingkat kecemasan h. Tingkat energi i. Tingkat stress j. Pengalaman sebelumnya k. Pola koping l. Dukungan keluarga dan sosial Pengukuran subjektif nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pengukuran seperti Skala Visual Analog, Skala Nyeri Numerik, Skala Nyeri Deskriptif atau skala nyeri Wong-Bakers untuk anak-anak. Namun, pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007). Menurut Smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut : Gambar 2.1 Skala Nyeri Menurut Smeltzer

37

1) skala intensitas nyeri deskritif

2) Skala identitas nyeri numerik

3) Skala analog visual

4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan : 0 :Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.

4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat

mengikuti perintah dengan baik.

38

7-9 :

Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi

10 :

Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.

Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan (Potter, 2005). Skala deskriptif merupakan alat penguluran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskripsian verbal (Verbal Dessriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak dengan karakter yang sama sepanjang garis. Pendeskripsian ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Skala penilaian numerik (Numerical Rating Scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terpeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992. Skala analog visual (Visual Analog Scale, VAS) merupakan suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat pendeskripsi verbal pasa setiap ujungnya. Skala ini memberikan klien kebebasan

39

penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukur keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memiliki satu kata atau satu angka (McGuire;1984). Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005). Pada penelitian ini digunakan skala wong yaitu dalam Skala analog visual (Visual Analog Scale, VAS) dimana kita bisa melihat skala nyeri dengan rawut wajah klien dan skala ini juga diikuti skala dengan penilaian numerik agar mempermudah peneliti mengobservasi skala nyeri yang dirasakan responden. Gambar 2.2 Skala nyeri menurut wong

II.3.8

Tingkat Nyeri

a. Skala Intensitas Nyeri Keterangan :

40

Skala 10 : sangat dan tidak dapat dikontrol oleh klien Skala 9, 8, 7 : Sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol oleh klien dengan aktifitas yang bisa dilakukan. Skala 6 : Nyeri seperti terbakar atau ditusuk-tusuk. Skala 5 : Nyeri seperti tertekan atau bergerak. Skala 4 : Nyeri seperti kram atau kaku. Skala 3 : Nyeri seperti perih atau mules Skala 2 : Nyeri seperti melilit atau terpukul Skala 1 : Nyeri sepeti gatal, tersetrum atau nyut-nyutan Skala 0 : Tidak ada nyeri. b. Tipe Nyeri Keterangan : Skala : 10 Tipe nyeri sangat berat Skala : 7-9 Tipe nyeri berat Skala : 4-6 Tipe nyerisedang. Skala : 1-3 Tipe nyeri ringan c. Daftar Nilai Kekuatan Otot Kekuatan otot dinilai dengan angka 0 (nol) sapai 5 (lima) : Skala 0 : Otot sama sekali tidak mampu bergerak, tampak berkontraksi, bila lengan/ tungkai dilepaskan, akan jatuh 100% pasif. Skala 1 : Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh. Skala 2 : Mampu menahan tegak yang berarti mampu menahan gaya gravitasi (saja), tapi dengan sentuhan akan jatuh.

41

Skala 3 : Mampu menahan tegak walaupun sedikit didorong tetapi tidak mampu melawan tekan/dorongan dari pemeriksa. Skala 4 : kekuatan kurang dibandingkan sisi lain Skala 5 : kekuatan utuh. Uji kekuatan otot sekali-kali bukan membandingkan

kekuatan pasien dengan sipemeriksa (Augustinus, 2003 ;36).

BAB III
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A.

Landasan Teori

42

Penyakit asam urat atau dikenal sebagai penyakit gout merupakan suatu penyakit akibat terjadinya penimbunan kristal monosodium urat di dalam tubuh sehingga menyebabkan nyeri sendi (Gout Arthritis), benjolan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh (tophi) dan batu pada saluran kemih. (www.bintangmawar.net) Gout atau asam urat adalah penyakit di mana terjadi penumpukan asam urat dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat produksi yang meningkat, pembuangannya melalui ginjal yang menurun, atau akibat peningkatan asupan makanan kaya purin. Gout terjadi ketika cairan tubuh sangat jenuh akan asam urat yang kadarnya tinggi. (dr Juandi Jo, 2007, www.wordpress.com) Serangan asam urat biasanya timbul secara mendadak atau akut, dan kebanyakan menyerang pada malam hari. Jika asam urat menyerang, sendi-sendi yang terserang tampak merah, mengkilat, bengkak, kulit di atasnya terasa panas disertai rasa nyeri yang sangat hebat, juga persendian yang sulit digerakkan (Muhammad, 2010). Menurut Budiyanto (2000) mengatakan, bahwa pasien dengan gejala gout arthritis akan mengalami peradangan pada satu atau beberapa persendian. Sendi metatarsophalangeal dengan jari kaki pertama. Tapi tidak jarang sendi lutut, tarsal, dan pergelangan kaki juga ikut terlibat. Nyeri yang biasa dikeluhkan pasien adalah tajam dan terkadang membuat pasien tidak bisa berjalan. Pada beberapa orang, nyeri dirasakan terutama setelah bangun tidur. Terapi non farmakologis yang dapat digunakan sebagai alternative pilihan dalam pengobatan diminore primer adalah: 1) Kompres hangat

43

Kompres hangat adalah pengompresan yang dilakukan dengan mempergunakan buli-buli panas yang di bungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri sendi yang dirasakan akan berkurang atau hilang (Perry & Potter,(2005). Menurut Bare & Smeltzer (2001), kompres hangat mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan

mempercepat penyembuhan. Menurut Bobak (2005), kompres hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas dapat meredakan iskemia dengan menurunkan ketegangan otot dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera, meningkatkan aliran darah, dan meredakan nyeri. Menurut Price & Wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat disalurkan melalui konduksi (botol air panas). Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan dapat

meningkatkan aliran darah.

44

Kompres hangat adalah metode yang digunakan untuk meredakan nyeri dengan cara menggunakan buli-buli yang diisi dengan air panas yang ditempelkan pada sendi yang nyeri Menurut Bobak (2005), kompres hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi otot dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera,

menigkatkan aliran darah di daerah persendian. Menurut Price & wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat disalurkan melalui konduksi (botol air panas). Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan dapat meningkatkan aliran darah. Kompres air hangat dilakukan dengan tujuan membuat otot tubuh lebih rileks, menghilangkan rasa sakit, dan membuat tenang pasien. Menurut Bare & Smeltzer (2001) penanganan nyeri secara non farmakologis terdiri dari: 1). Masase kutaneus Masase adalah stimulus kutaneus tubuh secara umum, sering dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena masase membuat relaksasi otot. 2). Terapi panas

45

Terapi panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah kesuatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. 3). Transecutaneus Elektrikal Nerve Stimulaton ( TENS) TENS dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-nesiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut yang menstramisikan nyeri. TENS menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang di pasang pada kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung pada area nyeri. 4).Distraksi Distraksi adalah pengalihan perhatian dari hal yang menyebabkan nyeri, contoh: menyanyi, berdoa, menceritakan gambar atau foto dengan kertas, mendengar musik dan bermain satu permainan. 5)Relaksasi Relaksasi merupakan teknik pengendoran atau pelepasan ketegangan, contoh: bernafas dalam-dalam dan pelan. 6)Imajinasi Imajinasi merupakan khayalan atau membayangkan hal yang lebih baik khususnya dari rasa nyeri yang dirasakan.

B. Kerangka Konsep

46

Variabel Independent Kompres Hangat C.

Variabel Dependent Nyeri Sendi

Variabel Dependent Nyeri Sendi

Pre Karakteristik : Umur Jenis Kelamin Latar Belakang Budaya

Post

ket : : : Diteliti Berhubungan

47

C. Hipotesis Dalam penelitian diajukan hipotesis yaitu : Ha :


1. Ada pengaruh dilakukan teknik kompres hangat dengan perubahan

nyeri sendi pada pasien asam urat. 2. Ada faktor-faktor lain (jenis kelamin, umur) terhadap nyeri sendi setelah diberikan kompres hangat.
3. Ada pengaruh antara jenis kelamin dengan perubahan nyeri sendi. 4. Ada pengaruh antara umur dengan perubahan nyeri sendi. 5. Ada perbedaan tingkat nyeri sendi pada pasien asam urat setelah

diberikan teknik kompres hangat. Ho :

48

Tidak ada pengaruh dilakukan teknik kompres hangat dengan perubahan nyeri sendi pada pasien asam urat.

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Rancangan yang digunakan pada penelitian yaitu dengan pendekatan eksperimental semu tujuan dari rancangan tersebut adalah untuk mengetahui pengaruh teknik kompres hangat terhadap perubahan nyeri sendi pada pasien asam urat di Puskesmas Beringin Banjarbaru Tahun 2013. Jenis desain yang

49

digunakan yaitu Quasy Experiment Design di mana pada rancangan ini merupakan bentuk desain eksperiment yang lebih baik validitas internalnya dari pada rancangan pre eksperimental dan lebih lemah dari true eksperimental. Pada sampel penelitian sebelum dan sesudah dilaksanakan perlakuan dilakukan observasi dilakukan secara total sampling. Kemudian dilakukan pretest pada sampel tersebut, dan diberikan perlakuan yang kemudian diukur dengan posttest setelah perlakuan.data pretest dan posttest dianalisa perbedaanya. B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menderita nyeri sendi akibat asam urat di Puskesmas Beringin Banjarbaru Tahun 2013, populasi diambil dari bulan Maret-Mei 2013. 2. Sampel Sampel penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik

pengambilan sampel dengan teknik total sampling. Sampel yang digunakan adalah pasien asam urat dengan nyeri sendi yang berobat kepuskesmas beringin. Besar sampel dihitung dari 3 bulan terakhir sebelum penelitian yaitu dengan jumlah 18 orang. Adapun karakteristik sampel yang dapat dilakukan atau layak diteliti, yakni : a. Kriteria Inklusi:

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti (Nursalam 2008). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

50

1) Bersedia untuk menjadi responden. 2) Penderita asam urat yang sedang mengalami nyeri. 3) Pasien asam urat yang saat diteliti sedang Tidak mengalami radang (kemerahan, panas, trauma luka, trauma bakar, perdarahan) dibagian sendi yang nyeri. b. Kriteria Eksklusi :

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subjek yang tidak memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam 2008). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Tidak bersedia untuk dijadikan responden. 2) Bukan penderita asam urat. 3) Pasien Asam Urat yang saat diteliti tidak mengalami nyeri Sendi. 4) Pasien asam urat yang saat diteliti sedang mengalami radang (kemerahan, panas, trauma luka, trauma bakar, perdarahan) dibagian sendi yang nyeri. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur berupa lembar observasi yang berisi data pribadi responden yaitu nama, umur, jenis kelamin, dan latar belakang budaya, untuk mengukur gambaran nyeri sendi digunakan respon fisiologis yang ditampilkan oleh pasien dilihat dari Visual analisis scale (VAS) dimana skala ini memperlihatkan gambaran raut wajah klien dan skala ini diikuti dengan penilaian numerik agar mempermudah peneliti mengobservasi skala nyeri yang dirasakan pasien secara objektif. Penelitian ini

51

juga dilengkapi dengan skala pre dan post intervensi agar peneliti mengetahui pengaruh perlakuan (teknik kompres hangat) yang diberikan oleh pasien terhadap perubahan skala nyeri sendi. C. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pengaruh Teknik Kompres Hangat Terhadap Perubahan Nyeri Sendi Pada Pasien Asam Urat. 2. Variabel terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penurunan nyeri sendi pada pasien asam urat. 3. Variabel pengganggu Variable pengganggu dalam penelitian ini adalah bukan penderita asam urat. 4. Variabel terkontrol Variabel terkontrol dalam penelitian ini adalah umur, dan jenis kelamin.

5. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah penurunan nyeri sendi. D. Definisi Operasional Penyakit asam urat atau dikenal sebagai penyakit gout merupakan suatu penyakit akibat terjadinya penimbunan kristal monosodium urat di dalam tubuh sehingga menyebabkan nyeri sendi (Gout Arthritis), benjolan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh (tophi) dan batu pada saluran kemih. (www.bintangmawar.net)

52

Serangan asam urat biasanya timbul secara mendadak atau akut, dan kebanyakan menyerang pada malam hari. Jika asam urat menyerang, sendi-sendi yang terserang tampak merah, mengkilat, bengkak, kulit di atasnya terasa panas disertai rasa nyeri yang sangat hebat, juga persendian yang sulit digerakkan (Muhammad, 2010). Manifestasi klinis yang ditimbulkan pada penyakit asam urat antara lain adalah sebagai berikut :
-

Nyeri hebat pada malam hari, sehingga penderita sering terbangun saat

tidur.
-

Saat dalam kondisi akut, sendi tampak terlihat bengkak, merah dan

teraba panas. Keadaan akut biasanya berlangsung 3 hingga 10 hari, dilanjutkan dengan periode tenang. Keadaan akut dan masa tenang dapat terjadi berulang kali dan makin lama makin berat. Dan bila berlanjut akan mengenai beberapa sendi dan jaringan bukan sendi.
-

Disertai pembentukan kristal natrium urat yang dinamakan thopi. Terjadi deformitas (kerusakan) sendi secara kronis.

Berdasarkan diagnosis dari American Rheumatism Association (ARA), seseorang dikatakan menderita asam urat jika memenuhi beberapa kriteria berikut : 1). Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam cairan sendi. 2). Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam thopi, di tentukan berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan

mikroskopik dengan sinar terpolarisasi.

53

Di dapatkan 6 dari 12 kriteria di bawah ini : -

Terjadi serangan arthritis akut lebih dari satu kali. Terjadi peradangan secara maksimal pada hari pertama gejala atau

serangan datang.
-

Merupakan arthritis monoartikuler (hanya terjadi di satu sisi

persendian).
-

Sendi yang terserang berwarna kemerahan. Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau

membengkak.
-

Serangan nyeri unilateral (di salah satu sisi) pada sendi

metatarsophalangeal.
-

Serangan nyeri unilateral pada sendi tarsal (jari kaki). Adanya thopi (Deposit besar dan tidak teratur yang berasal dari

natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi.
-

Terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah (lebih dari

7,5mg/dL).
-

Pada gambaran radiologis tampak pembengkakan sendi secara

asimetris (satu sisi tubuh saja).


-

Pada gambaran radiologis tampak kista subkortikal tanpa erosi. Hasil kultur cairan sendi menunjukkan nilai negative.

Kompres hangat adalah metode yang digunakan untuk meredakan nyeri dengan cara menggunakan buli-buli yang diisi dengan air panas yang ditempelkan pada sendi yang nyeri.

54

Menurut Bobak (2005), kompres hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi otot dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera,

menigkatkan aliran darah di daerah persendian. Menurut Price & wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat disalurkan melalui konduksi (botol air panas). Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan dapat meningkatkan aliran darah. Kompres air hangat dilakukan dengan tujuan membuat otot tubuh lebih rileks, menghilangkan rasa sakit, dan membuat tenang pasien. E. Prosedur Penelitian Pengumpulan data akan dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku yaitu sebagai berikut :
1. Telah mendapat izin melakukan penelitian dari program studi ilmu

keperawatan fakultas kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru


2. Telah mendapat Ijin dari Puskesmas Beringin Banjarbaru

3. Setelah mendapatkan ijin peneliti akan mengidentifikasi responden penelitian sesuai dengan kriteria inklusi.
4. Menjelaskan pada calon responden tentang tujuan dan manfaat

penelitian dan meminta kesediaannya untuk menjadi responden.

55

5. Jika calon responden setuju, maka responden menandatangani ijin inform concern. 6. Mengobservasi dengan lembar observasi kepada responden. 7. Mengukur sebelum dilakukan intervensi.
8. Melakukan tindakan kompres hangat.

9. Mengukur ulang serta mengobservasi responden. 10. Analisis data. F. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui data primer yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dengan cara memberikan treatment/perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian guna membangkitkan sesuatu kejadian/keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya. Penelitian ini merupakan penelitian kausal (sebab akibat) yang pembuktiannya diperoleh melalui komparasi/perbandingan antara : Kondisi subjek sebelum perlakuan dengan sesudah diberikan perlakuan. Perlakuan yang dilakukan kepada sampel/responden diberikan kepada pasien yang mengalami nyeri sendi akibat asam urat. Perlakuan yang dilakukan kepada responden adalah dengan memberikan teknik kompres hangat kepada pasien asam urat yang mengalami nyeri sendi. Metode pengolahan data yang digunakan adalah tabulasi dengan program komputerisasi. G. Analisis Data

56

Data yang terkumpul dianalisa dan diinterpretasikan lebih lanjut guna menguji hipotesis dengan bantuan program komputer secara univariat dan bivariat. 1. Analisis Univariat Dilakukan terhadap tiap-tiap variabel dari hasil penelitian, analisa ini menggambarkan tentang distribusi frekuensi dan presentase dari tiap-tiap variabel yang dikehendaki dari table distribusi. Variabel umur menjadi kelompok < 45 tahun dan 45 tahun dan variable jenis kelamin menjadi pria dan wanita dan beberapa gambaran nyeri sendi yaitu durasi perubahan nyeri, intensitas nyeri, dan skala nyeri pre dan post intervensi. 2. Analisis Bivariat Uji beda dua mean independen Uji beda dua mean digunakan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Tahapan yang harus dilalui adalah:
1)

Menentukan selisih pre-test da post-test pada setiap kelompok. Menguji homogenitas varian Analisis dengan T independen. Uji beda dua mean dependen Uji ini digunakan untuk melihat perbedaan pengaruh teknik kompres

2) 3)

hangat, tingkat nyeri sebelum dilakukan tindakan (pre-test), dan tingkat nyeri setelah tindakan (post-test). Tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu uji normalitas, setelah diketahui hasilnya normal maka dilakukan pengujian dengan

57

uji T dependen. Jika hasilnya tidak normal maka dilakukan pengujian non parametrik yaitu uji wilcoxon (Hastono, 2007) Analisa bivariat untuk mengetahui pengaruh pemberian teknik kompres hangat terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien asam urat, yaitu menggunakan Uji T (T-Test) dengan batas kemaknaan (nilai alpha) 5%. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan 0,05. Penolakan terhadap hipotesis apabila Pvalue 0,05 berarti ada pengaruh atau ada perbedaan bermakna, sedangkan gagal penolakan terhadap hipotesa apabila Pvalue > 0,05 berarti tidak ada perbedaan atau tidak ada hubungan yang bermakna antara keduanya.

DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah. Terapi Panas dan Dingin. http://kompreshangat.com. Diakses tanggal 25 Februari 2011 jam 22.30, 2010. Amril. 2007. IPD : Gelar Hasil Penelitian Surveilens Beberapa Penyakit Perkotaan di Lima Wilayah DKI Jakarta tahun 2006. http://DEPKES.htm. Diakses tanggal 26 Februari 2011 jam 20.35, 2007. Hastono, Sutarito Priyo. Analisis Data Kesehatan. Depok : FKM UI, 2007.

58

Nursalam. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan Edisi 2 Pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta: Salemba Medika, 2009. Kusyanti, Eni. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta : EGC, 2006. Long, Barbara C. Perawatan Medical Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : EGC, 2001. Mubin, A. Halim. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosis dan Terapi. Jakarta : EGC, 2007. Muhammad, Asadi. Waspadai Asam Urat. Jogjakarta : Diva Press, 2001. Noer, H. M. Sjaifoellah. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI, 2001. Patel, Pradip R. Lecture Notes Radiologi. Jakarta : Erlangga, 2007. Potter, Patricia A dan Anne Griffin Perry. Buku Ajar Fundamental keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktek. Jakarta : EGC, 2005. Price, Sylvia A. Dan Lorraine M. Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Volume 2. Jakarta : EGC, 2005. Sari, Ermala. Pengaruh Penggunaan Kompres Hangat dalam Pengurangan Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif di Klinik Hj. Hamidah Nasution Medan Tahun 2010. Diakses tanggal 30 februari 2011. Jam 18.00, 2010. Setiawati, S. Proses Pembelajaran dalam Pendidikan Kesehatan. Jakarta : Trans Info Media, 2008. Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC, 2001. Soeparman. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI, 2001. Sudoyo, Aru W. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit dalam Fakultas Kedokteran UI, 2007. Sustrani, Lanny, dkk. Asam Urat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2004. Tambayong, Jan. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC, 2000.

59

Tamsuri. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : EGC, 2007. Utami, Prapti. Tanaman Obat Untuk Mengatasi Rematik dan Asam Urat. Jakarta : Agro Media Pustaka, 2005. http://www.bintangmawar.net (Asam Urat) diakses tanggal 13 Februari jam 20.30, 2011. http://maulanusantara.wordpress.com (Info Asam Urat) diakses tanggal 25 Februari jam 20.00, 2011. http://Pharmaceutical-Care-Penyakit-Artritis.htm (Pharmaceutical care untuk penyakit arthritis rematik) diakses tanggal 25 Februari jam 20.35, 2011. http://usmanhungkul.wordpress.com (Nyeri Asam Urat) diakses tanggal 25 februari, jam 18.00, 2011.

Anda mungkin juga menyukai