Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN A.

Pengertian Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Budi Anna Kelliat, 2009). Isolasi sosial adalah suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi, kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan, serta mengalami kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian (Balitbang, 2005).

B. Etiologi Terjadinya faktor ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi di antaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, keadaan menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain.

C. Tanda dan gejala Tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial antara lain : kurang spontan, apatis (acuh tak acuh), ekspresi wajah kurang berseri, tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri, tidak ada atau kurang komunikasi verbal, mengisolasi diri, tidak sadar terhadap lingkungan sekitar, asupan makanan dan minuman terganggu, retensi urine dan feses, aktivitas menurun, kurang energi, rendah diri, dan postur tubuh berubah misalnya sikap fetus/janin (pada posisi tidur). Adapun gejala klinis sebagai berikut : 1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit 2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri 3. Gangguan hubungan sosial 4. Percaya diri kurang 5. Menciderai diri

D. Rentang respon Respon Adaptif Menyendiri Manipulasi Otonomi 1. Respon adaptif Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. Sikap yang termasuk dalam respon adaptif antara lain : menyendiri/respon dalam merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya, otonomi/kemampuan dalam menentukan dan menyampaikan ide dan pikiran serta perasaan, bekerja sama/kemampuan saling membutuhkan, interpersonal.
2. Respon maladaptive

Respon Maladaptif Kesepian Menarik diri Impulsif

dan

interdependen/saling

ketergantungan

dalam

hubungan

Respon maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat. Yang termasuk perilaku respon maladaptif antara lain : Menarik diri (mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain), ketergantungan (gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain), manipulasi (mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam), dan curiga (gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain). E. Faktor terjadinya masalah Menurut (Stuart. G. W ; 2007 ) isolasi sosial di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain : 1. Faktor Predisposisi a. Faktor tumbang Tugas perkembangan pada fase tumbang tidak terselesaikan
b. Faktor komunikasi dalam keluarga

Komunikasi yang tidak jelas (suatu keadaan dimana seorang menerimapesan yang saling bertentangan dlm waktu yg bersamaan), ekpresi emosi yang tinggi dalam keluarga yg menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga. c. Faktor Sosial Budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial, disebabkan norma norma yang salah dianut keluarga, seperti : anggota keluarga tidak produktif

( lansia, berpenyakit kronis dan penyandang cacat) diasingkan dari lingkungan sosialnya. d. Faktor biologis Gangguan dalam otak, seperti pada skizofrenia terdapat struktur otak yang abnormal (atropi otak, perubahan ukuran dan bentuk selsel dalam limbik dan daerah kortikal). 2. Faktor presipitasi a. Faktor eksternal Stressor sosial budaya : stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya keluarga. b. Faktor Internal Stresor psikologik : stres terjadi akibat ansietas berkepanjangan disertaiakibat keterbatasan kemampuan mengatasinya.

F.

Mekanisme koping Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Kecemasan koping yang sering digunakan adalah regresi, represi dan isolasi. Sedangkan contoh sumber koping yang dapat digunakan misalnya keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman, hubungan dengan hewan peliharaan, menggunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian, musik, atau tulisan, (Stuart and sundeen,1998)

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009)

Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak tergolongkan maka jenis penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah : a. Electro Convulsive Therapy (ECT) Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.

Indikasi : 1) Depresi mayor Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang menetap. Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada ECT. Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak dapat menerima antidepresan. 2) Maniak Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain berbahaya bagi klien. 3) Skizofrenia Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapi bermanfaat pada skizofrenia yang sudah lama tidak kambuh. 4) Psikoterapi Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur kepada klien. 5) Terapi Okupasi Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang. 2. Penatalaksanaan Keperawatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Tujuannya adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. (Keliat, 2004).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitas pasien Meliputi nama klien, usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis. 2. Alasan masuk Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai. 3. Faktor presipitasi/riwayat penyakit sekarang 4. Faktor predisposisi Gangguan jiwa sebelumnya, anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, pengalaman masa lalu klien yang tidak menyenangkan, riwayat gangguan tumbuh kembang. 5. Status mental Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung, kemampuan penilaian dan daya tilik diri. 6. Aspek fisik Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan. 7. Aspek psikososial a. Konsep diri 1) Citra tubuh : mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak disukai. 2) Identitas diri : status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai lakilaki/perempuan. 3) Peran : tugas yang diemban dalam keluarga/kelompok dan masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut. 4) Ideal diri : harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan penyakitnya. 5) Harga diri : hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah.

b. Genogram c. Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat. d. Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah. 8. Aktifitas sehari-hari a. Makan b. BAB / BAK c. Mandi d. Berpakaian/berhias e. Istirahat & tidur f. Penggunaan obat
g. Pemeliharaan kesehatan h. Aktivitas di dlm rumah i. Aktivitas di luar rumah

B. Analisa data 1. Isolasi sosial : menarik diri a. Data subjektif Klien mengatakan bingung dalam memulai pembicaraan karena menurut klien tidak ada bahan pembicaraan untuk berinteraksi. b. Data objektif Klien lebih banyak berdiam diri, kontak mata kurang, klien sering menyendiri, klien tidak pernah memulai pembicaraan, maupun perkenalan, afek tumpul (hanya mampu tertawa saat ada simuluus perawat tertawa) 2. Gangguan konsep diri a. Data subjektif Klien mengatakan dirinya jelek, badannya terlalu kurus. Klien mengatakan malu bila bertemu dengan orang yang baru dikenal. Klien mengatkan takut berbicara banyak karena takut menyakiti hati orang lain. b. Data objektif Klien tidak percaya diri ketika berbicara dengan orang lain. Klien jarang memulai pembicaraan dengan orang lain. Klien tidak mau menatap wajah lawan bicara. 3. Koping individu tidak efektif a. Data subjektif Klien mengatakan bila dia marah di lebih memilih untuk menyendiri dan berdiam diri tidak ingin berbicara degan orang lain atau terkadang dia memarahi orng tuanya. b. Data objektif

Klien tampak selalu menyendiri. Klien terlihat jarang berbicara dengan orang lain. Klien selalu diam. C. Diagnosa keperawatan
1. Isolasi sosial : menarik diri 2. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah 3. Koping individu tidak efektif

D. Intervensi keperawatan 1. Isolasi sosial Tujuan umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain Tujuan Khusus :
a. Tuk 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya

Kriteria evaluasi :
1) klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada/terhadap perawat wajah

cerah, tersenyum, mau berkenalan, ada kontak mata, bersedia menceritakan perasaan, bersedia mengungkapkan masalahnya, bersedia mengungkapkan masalahnya. Intervensi : 1) Bina hubungan saling percaya dengan: Beri salam setiap berinteraksi. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi kllien Buat kontrak interaksi yang jelas Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien b. Tuk 2 : Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri Kriteria evaluasi : 1) klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri dari diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Intervensi : 1) Tanyakan pada klien tentang: Orang yang tinggal serumah / teman sekamar klien Orang yang paling dekat dengan klien di rumah/ di ruang perawatan Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut Orang yang tidak dekat dengan klien di rumah/di ruang perawatan

Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain 2) Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain. 3) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya c. Tuk 3 : Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri. Kriteria evaluasi : 1) interaksi dengan klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan sosial, misalnya banyak teman, tidak kesepian, bisa diskusi, saling menolong, dan kerugian menarik diri, misalnya : sendiri, kesepian dan tidak bisa diskusi. Intervensi : 1) Tanyakan pada klien tentang manfaat hubungan sosial, Kerugian menarik diri. 2) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri. 3) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
d. Tuk 4 : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap

Kriteria evaluasi : 1) klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan perawat, perawat lain, klien lain dan kelompok. Intervensi : 1) Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial . 2) Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan / berkomunikasi dengan perawat lain, klien lain dan kelompok. 3) Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi 4) Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi 5) Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. 6) Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan. e. Tuk 5 : Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial. Kriteria evaluasi : 1) klien dapat menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial dengan orang lain dan kelompok. Intervensi :

1) Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah berhubungan sosial dengan orang lain dan kelompok. 2) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
f. Tuk 6 : Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial

Kriteria evaluasi : 1) keluarga dapat menjelaskan tentang pengertian menarik diri, tanda dan gejala menarik diri, penyebab dan akibat menarik diri, cara merawat klien menarik diri. 2) keluarga dapat mempraktekkan cara merawat klien menarik diri. Intervensi : 1) Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi prilaku menarik diri. 2) Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku menarik diri
3) Jelaskan pada keluarga tentang pengertian menarik diri, tanda dan gejala

menarik diri, penyebab dan akibat menarik diri, cara merawat klien menarik diri. 4) Latih keluarga cara merawat klien menarik diri. 5) Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan 6) Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi. 7) Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien di rumah sakit. g. Tuk 7 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik. Kriteria evaluasi : 1) klien menyebutkan manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama,warna,dosis, efek terapi dan efek samping obat. 2) klien mendemontrasikan penggunaan obat dgn benar 3) klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter Intervensi : 1) Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama , warna, dosis, cara , efek terapi dan efek samping penggunan obat 2) Pantau klien saat penggunaan obat 3) Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar 4) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
5) Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal

yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Kusuma, Farida dan Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika. Fitria, Nita. 2008. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta : Salemba Medika. Townsend, M. C. 2009. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri : Rencana Asuhan dan Medikasi Psikotropik. Terjemahan dari Nursing Diagnosas in Psychotropic Medications, oleh Devi Yulianti dan Ayura Yosef. 5th ed. Jakarta : EGC. Doenges, M. E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), Edisi 3. Jakarta : EGC.