Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL USAHA

INTEGRASI BUDIDAYA ITIK ALABIO DENGAN PAKAN ALTERNATIF DARI LIMBAH PRODUKSI TAPE SINGKONG DI KEL. GAMBUT KAB. BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Oleh : Kelompok Ternak Cahaya Kupang


Sekretariat: jln. Pematang panjang km. 5 Rt. 001/001 kec. Gambut Kab.Banjar Kalimantan Selatan 70652 Telp. 0511 7477794 / 085248637635

Judul Proposal

Integrasi Budidaya Itik Alabio Dengan Pakan Alternatif dari Limbah Produksi Tape Singkong Di Kel. Gambut Cahaya Kupang Jl. Pematang panjang km. 5 RT. 001/001 kec. Gambut

Nama Kelompok Alamat

: :

Perihal

Permohonan Bantuan

Gambut,

November 2012

Mengetahui PPL Kayu Bawang,

Ketua Kelompok,

Astyana Rahayu, S.Pt NIP 19690825 199103 2 009

Ahyudin Syarif

Disetujui Lurah Gambut,

PENDAHULUAN

Latar Belakang Pemanfaatan limbah pertanian yang belum lazim dimanfaatkan sebagai bahan pakan sudah mulai banyak dilakukan, hal ini menjadi salah satu pilihan alternatif akibat masih kekurangan bahan pakan tiap tahunnya. Fakta menyatakan bahwa kebutuhan pakan Indonesia terus meningkat (FAO, 2003) seiring dengan meningkatnya permintaan akan produk pangan asal hewan, tetapi hal itu tidak diimbangi oleh pertambahan produksi bahan pakan yang signifikan, menurut data, pada tahun 2005 produksi total pakan Indonesia mencapai 7 juta ton untuk menutupi kekurangan itu, pemerintah masih mengandalkan impor dari negara lain sebagai jalan keluar untuk menutupinya. Indonesia selama ini tiap tahunnya masih harus mengimpor beberapa bahan pakan, sebagai contoh adalah jagung yang nilai importasinya mencapai 1,6 juta ton dan kedelai 1,5 juta ton/tahun. Penyerap tertinggi kebutuhan pakan di Indonesia adalah ternak unggas, dari seluruh total kebutuhan, peternakan unggas mengambil bagian sampai 90% dari total kebutuhan itu (TANGENDJAJA, 2007). Potensi kulit singkong di Indonesia sangat melimpah, seiring dengan eksistensi negara ini sebagai salah satu penghasil singkong terbesar di dunia dan terus mengalami peningkatan produksi dalam setiap tahunnya (BPS, 2008). Dari setiap berat singkong akan dihasilkan limbah kulit singkong sebesar 16% dari berat tersebut. Data tahun 2008 menyatakan bahwa produksi singkong Indonesia sebesar 20.794.929 ton (BPS, 2008) jadi saat ini potensi ketersediaan kulit singkong bisa mencapai 3.327.188,6 ton/tahun. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi fermentasi dapat meningkatkan kandungan protein dan menurunkan kadar serat kasar dan HCN kulit singkong. Oleh karena itu, kulit singkong berpotensi menjadi salah satu lternatif bahan pakan untuk ternak unggas termasuk itik alabio yang banyak dibudidayakan di Kalimantan Selatan. Pemeliharaan itik alabio mempunyai prospek yang cerah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi protein hewani asal ternak, ditunjang dengan kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Upaya pengembangan itik alabio dalam skala agribisnis mempunyai peluang dan prospek yang menjanjikan. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penjualan telur di pasar dan permintaan konsumen yang terus meningkat. Dalam usaha

itik sebagai penghasil telur konsumsi, peternak kesulitan menyediakan bahan pakan basal berupa sagu, karena ketersediaan pohon sagu makin terbatas, bahkan peternak harus mendatangkannya dari Kalimantan Tengah. Harga pakan yang makin melambung menyebabkan biaya produksi terus meningkat. Untuk mengantisipasi harga pakan komersial yang melambung tinggi, perlu digalakkan pemanfaatan bahan pakan lokal alternatif untuk menekan biaya produksi, sehingga keuntungan peternak dapat ditingkatkan. Di daerah kami Kel. Gambut Kab. Banjar mayoritas masyarakatnya adalah petani dan khususnya di RT.01 di sekitar tempat kami hampir 30% masyarakatnya menggeluti usaha tape, dari proses produksi tape tersebut sangat banyak kulit singkong yang tidak dimanfaatkan bahkan menjadi limbah yaang berbau busuk apabila dibuang begitu saja, hal ini menjadi potensi yang sangat besar apabila bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak khususnya itik maka dari itu kami dari kelompok ternak Cahaya Kupang mengusulkan usaha Integrasi Budidaya Itik Alabio Dengan Pakan Alternatif dari Limbah Produksi Tape Singkong Di Kel. Gambut

TUJUAN Tujuan dari usaha ini sebagai berikut: 1. Membudidayakan itik secara intensif dengan menggunakan campuran pakan alternatif yaitu limbah kulit singkong yang tidak dimanfaatkan. 2. Memanfaatkan kulit singkong dari hasil samping/limbah produksi pembuatan tape singkong. 3. Meningkatkan peternakan kelompok yang masih menggunakan sistem semi intensif dan tradisional 4. Menjadi pemuda produktif percontohan untuk bisa ditularkan kepada pemuda lain di Kab. Banjar

GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA Budidaya itik Pada babarapa tahun terahir ini usaha peternakan itik petelur semakin banyak diminati sebagai salah satu alternatif usaha peternakan unggas penghasil telur yang cukup menguntungkan. Khususnya dengan pemeliharaan secara intensif. Namun demikian, perlu diingat bahwa beternak itik tidaklah semudah beternak ayam ras petelur. Hal ini terutama disebabkan karena bibit itik yang ada selama ini bukan merupakan bibit ternak yang sepenuhnya telah dijinakkan seperti halnya ayam ras, dan masih banyak faktor lingkungan yang ikut mempengaruhi performa ternak itik. Dua pilihan budidaya itik petelur yang umum dilakukan adalah sistem gembala (angon) atau dikandangkan (intensif). Budidaya itik digembalakan sepintas menguntungkan , karena membutuhkan pakan tambahan, namun sebenarnya produktifitasnya tidak maksimal. Bila produktifitas itik kandang bisa mencapai 80%, itik angon paling paling 50%. Menggembalakan itik juga banyak tantangannya. Sebagai contoh adanya mina padi, maka petani akan rugi jika itik masuk ke area sawahnya. Disisi lain sawah yang diberi urea tablet akan memberikan dampak tidak baik pada itik jika sampai termakan, yang menyebabkan itik tidak berproduksi atau mandul. Umumnya, di daerah Kel. Gambut itik dipelihara petani masih secara tradisional, peternak menggiring ternaknya secara berpindah-pindah dari sawah satu ke sawah yang lain. Pemeliharaan itik dengan cara digembalakan sehingga kurang produktif. Maka dari itu perlu adanya perubahan konsep pemeliharaan sacara tradisional tersebut ke arah intensif dengan cara mengandangkan itik sehingga produksi telurpun meningkat. Jenis Itik Itik yang kami pilih adalah Itik Alabio ( Anas Platurynchos Borneo ) karena memiliki produktivitas tinggi di Menurut Biyatmoko (2005a), itik alabio termasuk itik lokal unggul dwi fungsi, karena selain mampu memproduksi telur yang tinggi, rata-rata 214,72 butir/tahun, juga potensial sebagai penghasil daging dibanding itik lokal lain di Indonesia, seperti itik tegal, itik karawang, itik mojosari, itik turi, itik magelang, dan itik bali. Populasi itik alabio di Kalimantan Selatan selama 13 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi.

Gambar 1. Itik Alabio Sistem Kandang Sistem kandang yang kami pilih adalah kandang postal adalah seperti gambar di bawah ini. Konstruksi kandang postal dengan dinding dari belahan-belahan bambu ataupun kawat ram ditujukan untuk sistem pemeliharan itik secara intensif.

Gambar 2. Sistem Kandang Postal

Potensi Ketersediaan Pakan 1. Kulit Singkong Kulit singkong merupakan limbah hasil pengupasan pengolahan produk pangan berbahan dasar umbi singkong. Kulit singkong terkandung dalam setiap umbi singkong dan keberadaannya mencapai 16% dari berat umbi singkong tersebut (SUPRIYADI, 1995). Dari hasil survei kelapangan rata-rata masyarakat di lingkungan RT.01 disekitar tempat kami mengolah singkong sebanyak 60 Kg sedangkan produsen tape singkong ada kurang lebih 30 orang, maka dari itu bisa

dihitung 60 Kg x 30 orang =1800 Kg Singkong perhari. 16% dari 1800 Kg singkong adalah 288 Kg kulit singkong sangat potensial untuk dimanfaatkan. 2. Dedak Dedak padi adalah hasil samping dari produksi penggilingan padi, karena mayoritas masyarakat dikelurahan Gambut adalah petani maka ketersedian dedak sangat banyak dan potensial untuk mengembangkan budidaya itik. 3. Pakan Campuran lainnya Ikan petek/rucah yang banyak tersedia biasa digunakan oleh peternak itik di tempat kami dalam bentuk basah yang dipotong kecil-kecil. Selain itu juga ada Keong (Achatina fulica) yang ditumbuk segar sebagai sumber protein/Ca untuk itik dan makanan alternatif lainnya. Penyakit Pada Itik Selama ini itik terkenal sangat tahan terhadap penyakit jika dibandingkan dengan ayam, sehingga dalam usaha peternakan itik masalah penyakit biasanya tidak terlalu menonjol. Penyakit utama yang bisa timbul pada peternakan itik adalah kolera dan aflatoksikosis yang menyerang itik dara maupun dewasa. Penyakit kolera disebabkan oleh bakteri dan dapat menular ke jenis unggas lain. Pada bentuk akut itik terlihat lesu, anoreksia, keluar cairan dari hidung dan mulut, dan akhirnya mati. Sedangkan bentuk kronis ditandai dengan adanya gangguan pernapasan dan syaraf, radang persendian serta pembengkakan pada balung dan pial. Penyakit yang lain disebut aflatoksikosis karena disebabkan oleh racun aflatoksin yang dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus yang tumbuh subur di daerah tropis dengan kelembaban tinggi, terutama pada bahan pakan seperti jagung, kedele, kacang tanah dan biji-bijian lain. Gejala itik yang keracunan aflatoksin adalah lemah, anoreksia, bulu kusam, terjadi kelumpuhan dan akhirnya mati. Bila dibedah ditemukan pendarahan dan cairan pada rongga perut. Hati membesar bisa sampai lima kali ukuran normal dengan warna putih kekuningan dan mengeras. (Panduan Budidaya Dan Usaha Ternak Itik, L. Hardi Prasetyo dkk 53)

Keadaan Usaha Kelompok Ternak Cahaya Kupang Skala usaha Kelompok Tingkat produksi telur Kebutuhan pakan Harga pakan Harga jual telur Harga jual itik afkir : 150 ekor (8 orang) : 65 % : 160 gram/ekor/hari (pakan kering) : Rp 2700 per kg : Rp 1.400 per butir : Rp 25.000 per ekor

Keperluan Biaya Untuk Pengembangan Usaha : Keperluan Biaya : bibit itik pakan air dan listrik obat dan sekam peralatan Pembuatan Kandang perawatan kandang tenaga kerja : Rp 20.000.000 (500 ekor itik dara) : Rp 46.400.000 : Rp 500.000 : Rp 1.000.000 : Rp 400.000 : (dikerjakan secara swadaya) : Rp 500.000 : Rp 4.800.000 Total : Rp 73.600.000

PENUTUP Demikianlah paparan singkat proposal rencana usaha pengembangan kelompok ternak kami. Sangat besar harapan kami untuk mendapatkan bantuan ini, kedepan kami berencana akan mensharekan cara budidaya itik secara intensif kepada pemuda lain di Kec. Gambut dengan harapan akan banyak para peternakanpeternakan yang berbasis pemuda sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga serta mengurangi tingginya angka pengangguran.

Susunan Struktur Kelompok Ternak Cahaya Kupang : Ketua Sekretaris Bendahara Anggota : Ahyudin Syarif : Hairullah : Abd. Karim : M. Riduan Farhan Nawari Fery Fauzi Hairuddin Aksari Akbar Jani Zainuddin Hamjani Syaifunnajidi Rezali Fadli