Anda di halaman 1dari 5

REFLEKSI KASUS

HERNIA INGUINALIS LATERALIS

Diajukan kepada : dr. Syamsul Burhan, Sp.B.

Disusun oleh : Harnugrahanto 20070310078

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA SMF ILMU BEDAH RSUD SARAS HUSADA PURWOREJO 2011

A. Kasus : Pasien anak laki laki 14 tahun datang ke IGD bersama keduaorang tuanya mengeluh adanya benjolan di lipat paha kanan. Keluhan sudah dirasakan sejak usia 3 tahun, dan berangsur-angsur membesar seiring pertumbuhan pasien. Benjolan hilang timbul, jika dalam keadaan kelelahan habis beraktifitas benjolan semakin membesar bisa sebesar buah apel. Pasien tidak mengeluh apa-apa, tidak demam, tidak nyeri pada benjolan. Makan minum baik, BAK baik berwarna jernih, BAB baik tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan KU: baik, terpasang infus di tangan kanan. Kesadaran Komposmentis, Kesan Gizi Kurus. TD: 100 / 70 mmHg, Nadi: 80 x/menit,RR: 21 x/menit, T: 36 C BB 34 kg TB 150 cm. Status Generalisata: dbn (Dalam Batas Normal). Status Lokalisatar regio Inguinalis dextra. Inspeksi : Tampak benjolan lonjong pada lipatan paha sebelah kanan, terlihat lipatan paha sebelah kanan lebih tinggi daripada sebelah kiri, kulit berwarna sama dengan warna kulit sekitarnya, tanda-tanda infeksi tidak ada, tidak ada hematom. Palpasi : Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), perabaan benjolan tidak terasa panas, berbentuk bulat lonjong sebesar telur puyuh, konsistensi kenyal padat, batas atas tidak tegas, bisa dimasukkan, Valsava Test (+), Tes Invaginasi (+) teraba benjolan di ujung jari. Perkusi : Tidak dilakukan. Auskultasi : Bising Usus (-). Pemeriksaan penunjang tampak normal. Oleh dokter IGD di assesmen sebagai hernia inguinalis lateralis dextra dan dikirim ke unit bedah untuk direncakan operasi. B. Masalah yang dikaji : Bagaimanakah diagnosis pada kasus diatas? C. Pembahasan : Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangrene.

Hernia inguinalis lateralis Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis, berbeda dengan hernia medialis yang langsung menonjol melalui segitiga Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk. Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong sedangkan hernia medial berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi di sebelah kanan atau kiri. Hernia yang di kanan biasanya berisi sekum dan sebagian kolon asendens, sedangkan yang di kiri berisi sebagian kolon desendens. Pemeriksaan Hernia Inguinalis Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus ada kulit skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari harus diletakkan dengan kuku menghadap ke luar dan bantal jari ke dalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul kanan pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanalis inguinalis sejajar dengan ligamentum inguinalis dan digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan.

Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-tiba yang menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia, suruh pasien berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terusmenerus pada massa itu. Jika pemeriksaan hernia dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini tidak akan menimbulkan nyeri. Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan jari telunjuk kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah kedua teknik ini dan lihatlah cara mana yang dirasakan lebih nyaman.

Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya, suatu hernia inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi massa itu dapat dipakai untuk menentukan apakah ada bunyi usus di dalam skrotum, suatu tanda yang berguna untuk menegakkan diagnosis hernia inguinal indirek.

Transluminasi Massa Skrotum Jika dinemukan massa skrotum, lakukanlah transluminasi. Di dalam suatu ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi pembesaran skrotum. Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat ditembus sinar. Transmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung cairan serosa, seperti hidrokel atau spermatokel.

D. Referensi Dunphy, J.E., and Way LW, eds. Current surgical diagnosis and Treatment, 5th ed. California; Lange medical Publication, 1981 : 1517-40. Gardner, B. and Shaftan, Surgical Emergencies in the Child, eds. Pediatric surgical Emergencies, ed. Philadelphia : J.B Lippincott company, 1990 : 552-8 Macraflane DA, Thomas LP, Textbook of surgery, 4th ed. London : ELBS, 1997 : 234-45. Harun R. Parameter Kliniks sebagai Petunjuk Diagnosis Dini Hernia Inguinalis Eksterna Strangulata di RSDK Semarang, Semarang : Lab. Ilmu Bedah FK UNDIP/RSDK. Nylus LM, Bombeck CT, Hernia, in : Sabiston DC Jr. eds. Textbook of surgery, 6th ed. Philadelphia : WB Saunders company, 1988 : 1151-60. Junaidi P., Atiek S., Husna A., Hernia, Dalam : Kapita Selekta Kedokteran FK UI, Jakarta : Media Aesculapius : 1991 : 352-9. Sjamsuhidajat R., de Jong W, Hernia, Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah, eds. Revisi, Jakarta : EGC : 1988 : 696-719.