Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sebagai mahasiswa program studi D3 Fisioterapiselama proses pendidikan yang mengacu pada permasalahan dalam bidang gerak dan fungsi, dapat diaplikasikanuntuk melayani masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pengalaman belajar ditatanan nyata yang salah satunya adalah programpraktik Rehabilitasi Berbasis Masyarakat(RBM).Sasaran kesehatan masyarakat adalah seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga, dan kelompok; baik yang sehat maupun yang sakit, khususnya mereka yang beresiko tinggi dalam masyarakat RW 7 Kelurahan Banyu Urip Surabaya.Praktik RBM merupakan suatu upaya rehabilitasi yang dilakukan kepada masyarakat untuk mengetahui atau mengkaji, dan mengatasi masalah-masalah dalam bidang gerak dan fungsi dengan memberikan intervensi fisioterapi.Mahasiswa fisioterapi memberikan layanan kepada individu atau kelompok individu dalam bentuk layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk memperbaiki, mengembangkan dan memelihara gerak dan kemampuan fungsi yang maksimal selama perjalanan kehidupan individu atau kelompok

masyarakat tersebut. Selama proses praktik RBM, mahasiswa program studi

D3fisioterapiSTIKES Katolik St. Vincentius a Paulo melalui Institusi akan bekerjasama dengan dinas kesehatan setempat dan masyarakat itu sendiri dalam menyelesaikan permasalahan gerak dan fungsidi masyarakat yang kami temukan yaitu antara lain gangguan keseimbangan, nyeri punggung bawah, pelvic floor exercise untuk ibu nifas, senam hamil, nyeri bahu, nyeri lutut, dan stroke.

1.2 1.2.1

Tujuan Tujuan Umum Mahasiswa diharapkan mampu memberikan bentuk pelayanan fisioterapi berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam bidang gerak dan fungsi di masyarakat.

1.2.2 1)

Tujuan Khusus Mampu memahami dan menerapkan konsep konsep ilmu fisioterapi di masyarakat dalam bidang gerak dan fungsi pada masyarakat

2) 3)

Mengkaji masyarakat yang memiliki keluhan dan pemberdayaan diri Melaksanakan tindakan fisioterapi di masyarakat secara preventif dan promotif

4)

Mengevaluasi tindakan fisioterapi yang diberikan kepada masyarakat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Masyarakat dan Kesehatan Masyarakat

2.1.1 Definisi Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu system adat istiadat tertentu yang bersifat continue dan terikat suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 2012). Ilmu kesehatan masyarakat berasal dari baha inggris; public healt. Seorang ahli kesehatan masyarakat dari yale university, prof. winslow, telah membuat batasan yang sampai saat ini masih relevan, yakni kesehatan masyarakat adalah ilmu dan dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta meningkatkan efesiensi hidup melalui upaya atau usaha-usaha

perorganisasian masyarakat untuk : 1. Meningkatkan sanitasi lingkungan, 2. Kontrlo infeksi dimasyarakat, 3. Pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, 4. Peroganisasian pelayanan medis dan perawatan, 5. Diagnosis dini, pencegahan penyakit, dan pengembangna aspek sosisal yang akan mendukung agar setiap orang dimasyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatanya (Wahit, 2012). Praktik RBM merupakan suatu upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi masalah- masalah kecacatan dan untuk meningkatkan kesejahteraan penderita cacat. Proses alih peran secara bertahap dari tenaga kesehatan ( fisioterapis ) kepada klien (individu, kelompok, maupun masyarakat) sehingga nantinya mereka bisa lebih mandiri dalam hal menyelesaikan masalah kesehatan khususnya dalam ruang lingkup gerak dan fungsi. Fisioterapi memberikan layanan kepada individu atau kelompok individu dalam bentuk layanan promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk memperbaiki, mengembangkan dan memelihara gerak dan kemampuan fungsi yang maksimal selama perjalanan kehidupan individu atau kelompok tersebut. 2.1.2 Tujuan RBM Dalam pelaksanaan RBM kami memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut: 2.1.1 Tujuan Umum

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran praktik RBM, mahasiswa diharapkan mampu memberikan bentuk layanan fisioterapi berupa layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam bidang gerak dan fungsi di masyarakat 2.1.2 Tujuan khusus

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran praktik RBM, mahasiswa diharapkan mampu: 1) Menerapkan konsep epidemiologi biostatic, demografi dan konsep ilmu social budaya, ilmu perilaku dan konsep-konsep ilmu biomedik, perkembangan anak, Geriatri, dan ekologi dalam menerapkan pelayanan fisioterapi di masyarakat 2) Memahami pasien/klien yang ditemui adalah pasien/klien sebagai anggota kelompok masyarakat 3) Mengkaji pasien/klien akan self care dan pemberdayaan diri masyarakat 4) Menyusun rencana tindakan fisioterapi di masyarakat 5) Melaksanakan pengelolaan fisioterapi di masyarakat dengan menggunakan sumber-sumber yang ada dan potensial serta menggunakan tehnik yang tepat, termasuk menyusun strategi pendidikan kesehatan di masyarakat 6) Mengevaluasi pengelolaan fisioterapi di masyarakat 7) Menghayati peranan fisioterapi sebagai tim rehabilitasi/kesehatan dan bekerja sama secara efektif dan efisien

2.1.3 Sasaran Kesehatan Masyarakat Sasaran kesehatan masyarakat adalah seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga, dan kelompok, baik yang sehat maupun yang sakit, khususnya mereka yang beresiko tinggi dalam masyarakat.

2.1.4 Strategi Kesehatan Masyarakat Memberikan bentuk pelayanan fisioterapi berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam bidang gerak dan fungsi di masyarakat. 2.2 Konsep Sehat Sakit

2.2.1 Definisi Konsep ini adalah konsep yang kompleks dan

multiinterpretasi.Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi sehat maupun sakit.Sehat adalah kondisi yang normal dan alami.Sehat bersifat dinamis yang statusnya terus menerus berubah.Kesehatan mempengaruhi tingkat fungsi seseorang, baik dari segi fisiologis, psikologis dan demensi sosiokultural (Asmadi, 2008). Sehat Menurut: 1) WHO keadaan seimbang yang sempurna, baik fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. 2) Menurut Parson sehat adalah kemampuan optimal individu untuk menjalankan pera dan tugasnya secara efektrif. 3) Menurut undang-undang kesehatan RI No 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa, soaial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Asmadi, 2008). Sakit adalah keadaan tidak normal/sehat, sebagai tolak ukur

sakit/penyakit adalah jika terjadi perubahan dari nilai rata-rata normal yang ditetapkan. Definisi menurut: 1) Parson ketidakseimbangan fungsi normal tubuh manusia, termasuk jumlah system biologis dan kondisi penyesuaian. 2) Bauman ada criteria keadaan sakit yaitu : adnya gejala, persepsi

tentang keadaan sakit yang dirasakan dan kemampuana beraktivitas seharihari yang menurun. 3) Batasan medis mengemukan dua bukti sakit yaitu tanda dan gejala. 4) Perkins suatu keadaan tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan pada aktivitas sehari-hari, baik aktivitas jasmani maupun social (Asmadi, 2008).

Rentang sehat sakit adalah suatu skala ukur hipotesa untuk mengukur keadaan sehat/kesehatan seseorang.Kedudukan seseorang pada skala tersebut bersifat dinamis dan individual karena dipengaruhi oleh factor pribadi dan lingkungan. Pada skala ini sewaktu-waktu seseorang bisa berada dalam keadaan sehat, namun dilain waktu bisa bergeser keadaan sakit.(Asmadi, 2008).

2.3

Gangguan-gangguan Penatalaksanaannya

Pada Fungsi Dan Gerak Di Masyarakat dan

2.3.1

Gangguan keseimbangan Definisi keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak.Selain itu definisi keseimbangan juga memiliki definisi yakni kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam posisi kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot yang minimal.Keseimbangan terbagi atas dua kelompok, yaitu keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis.Gangguan

keseimbangan pada lansia seringkali dihubungkan dengan besarnya resiko jatuh. Keseimbangan postural diklasifikasikan menjadi 2 yaitu: 1) Keseimbangan statik. Keseimbangan statik adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat memelihara keseimbangan tubuhnya pada suatu posisi tertentu selama jangka waktu tertentu.Misalnya padaanak yang menirukan patung. 2) Keseimbangan dinamik. Keseimbangan dinamik merupakan keseimbangan pada saat tubuh melakukan gerakan atau saat berdiri di atas landasan yang bergerak (dynamic standing) yang akan menempatkannya dalam kondisi yang tidak stabil, dan pada keadaan ini kebutuhanakan kontrol keseimbangan postural semakinmeningkat. Misalnya

keseimbangan saat berjalan, naik di atas perahu, ataupun berlari di atas treadmill. Sistem Informasi Sensoris yang Mempengaruhi Keseimbangan Lansia Sistem informasi sensoris yang mempengaruhi keseimbangan lansia meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris : 1) Visual Visual memegang peran penting dalam sistem sensoris. Cratty & Martin (1969) menyatakan bahwa keseimbangan akanterus berkembang sesuai umur, mata akan membantu agar tetap fokus pada titik utama untuk mempertahankan keseimbangan, dan sebagai monitor tubuh selama melakukan gerak statik atau dinamik. Dengan informasi visual, maka tubuh dapat

menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. 2) Sistem vestibular Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris vestibular berada di dalam telinga. Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural. 3) Somatosensoris Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi-kognitif.Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medula spinalis. Impuls dari alat indra ini dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain , serta otot di proses di korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang.

Penatalaksanaan fisioterapi yang direncanakan untuk memberikan intervensi adalah sebagai berikut : Pengertian latihan keseimbangan Latihan keseimbangan adalah latihan khusus yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kekuatan otot pada anggota bawah (kaki) dan untuk meningkatkan sistem vestibular/kesimbangan tubuh. Organ yang berperan dalam sistem keseimbangan tubuh adalah balance perception. Latihan keseimbangan sangat penting pada lansia (lanjut usia) karena latihan ini sangat membantu mempertahankan tubuhnya agar stabil sehingga mencegah terjatuh yang sering terjadi pada lansia. Setiap tahunnya di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 300.000 kasus patah tulang pada hip disebabkan karena terjatuh. Latihan keseimbangan ini sangat berguna untuk memandirikan para lansia agar mengoptimalkan kemampuannya sehingga menghindari dari dampak yang terjadi yang disebabkan karena ketidakmampuannya.Otak, otot dan tulang bekerja bersama-sama menjaga keseimbangan tubuh agar tetap seimbang dan mencegah terjatuh.Ketiga organ ini merupakan sasaran yang terpenting dan harus dioptimalkan pada latihan keseimbangan. Tujuan Latihan Keseimbangan Latihan keseimbangan bertujuan untuk mengasah sensitivitas sensor proprioseptif. Prinsip gerakan latihan keseimbangan cukup mudah hanya dengan duduk kemudian berdiri yang dilakukan berulang - ulang, tetapi dapat menjadi sulit bagi mereka yang keseimbangannya terganggu akan merasa seperti jatuh ketika berdiri. Indikasi dan Kontraindikasi Latihan Keseimbangan 1) Indikasi : Klien yang memiliki gangguan keseimbangan 2) Kontraindikasi : Riwayat fraktur pada ekstremitas bawah, hipotensi ortostatik, atrofi di salah satu atau kedua tungkai. Gerakan-gerakan dalam Latihan Keseimbangan

a. Pasien duduk dikursi dengan bersandar dan kedua tangan berada di atas paha. Kemudian pasien diminta untuk meluruskan salah satu kaki ke depan hitung satu detik, kemudian kembali. Dilakukan hingga 5 kali dan bergantian dengan kaki satunya (Elizabeth Best-Martini, 2003).

b. Pasien duduk dikursi dengan bersandar dan kedua tangan berada di atas paha. Pasien diminta untuk mengangkat salah satu kakinya ke atas dengan hitungan satu detik kemudian kembali. Dilakukan hingga 5 kali bergantian dengan kaki satunya (Elizabeth Best-Martini, 2003)

c. Pasien duduk dikursi dengan bersandar dan kedua tangan berada di atas paha. Pasien diminta untuk menaruh salah satu tumitnya di depan ibu jari kaki sebelahnya. Kemudian kembali keposisi awal, dilakukan bergantian dengan kaki satunya dengan hitungan 5 kali setiap kaki (Elizabeth Best-Martini, 2003).

d. Pasien duduk dikursi, tidak perlu bersandar dan kedua tangan berada di atas paha. Gerakkannya salah satu kaki di bawah masuk kearah belakang (kolong kursi). Kemudian kembali keposisi awal dan dilakukan bergantian dengan kaki satunya dengan hitungan 5 kali setiap kaki (Elizabeth Best-Martini, 2003).

e. Pasien berdiri tegak di belakang kursi dengan kedua tangan berpegang pada sandaran kursi. Gerakannya pasien mengangkat salah satu kakinya ke atas kemudian kembali posisi awal dengan hitungan 8 kali dan dilakukan bergantian dengan kaki satunya. Pengulangan sebanyak 5 kali setiap kaki. (Sue Scott, 2008)

f. Pasien berdiri tegap di belakang kursi dengan kedua tangan berpegang pada sandaran kursi. Gerakan, pasien menekukkan lutunya kemudian kembali ke posisi awal. Dengan hitungan 5 kali (Lindy Clemson, 2008).

g. Pasien berdiri tegap di belakang kursi dengan kedua tangan berpegangan pada sandaran kursi. Gerakan : berdiri dengan menumpu pada ujung ibu jari kaki 1-4

hitungan, kembali ke posisi semula dengan hitungan 5-8. Diulangi 3 kali (Lindy Clemson, 2008)

h. Pasien berdiri tegap di belakang kursi (kursi berada di samping pasien) dengan salah satu tangan berpegang pada sandaran kursi. Gerakan pasien mengangkat salah satu kaki ke samping tahan satu detik kemudian kembali. Dilakukan bergantian pada kaki satunya dengan pengulangan 5 kali setiap kaki (Sue Scott, 2008)

i. Pasien berdiri tegap di belakang kursi (kursi berada di samping pasien) dengan salah satu tangan berpegang pada sandaran kursi. Gerakan : berjalan dengan kaki yang sejajar (tumit berada di depan ibu jari) (Lindy Clemson, 2008).

j. Posisi berdiri tegak, tanpa ada halangan atau bantuan di sekitar. Pasien berjalan lurus ke depan dengan salah satu tumit kaki ada di depan ujung ibu jari. Lakukan bergantian sambil berjalan (Lindy Clemson, 2008)

k. Posisi berdiri tegak, tanpa ada halangan atau bantuan di sekitar. Pasien berjalan dengan posisi tangan terbuka di samping setinggi dada (Lindy Clemson, 2008)

2.3.2

Nyeri Punggung Bawah Pengertian Nyeri Punggung Bawah (NPB) adalah sindroma klinis yang ditandai dengan gejala utama nyeri atau perasaan tidak enak di daerah tulang punggung bagian bawah. Penyebab NPB antara lain iritasi pada saraf, otot dan lesi pada tulang, aktifitas berlebih, tekanan pada otototot serta cidera pada otot dan ligamen, proses degeneratif, kelainan kongenital, merokok, obesitas. Penyebab NPB antara lain iritasi pada saraf, otot dan lesi pada tulang, aktifitas berlebih, tekanan pada otot-otot serta cidera pada otot dan ligamen, proses degeneratif, kelainan kongenital, merokok, obesitas Tujuan pemberian latihan pada NPB :

10

a. Mengurangi hiperlordosis tulang belakang dan memperbaiki postur tubuh. b. Membiasakan diri untuk melakukan gerakan gerakan yang sesuai dengan gerakan ergonomis tulang punggung. Latihan ditujukan untuk : a. Mengurangi gaya yang bekerja pada tulang punggung dengan cara mengurangi berat badan. b. Memperkuat otot otot yang kurang kuat, terutama otot perut, otot pantat, dan otot punggung. c. Meregangkan otot otot yang memendek, terutama otot punggung dan otot paha bagian belakang. d. Mengurangi posisi bahu dan punggung bagian atas yang terlalu menekuk ke depan. e. Mengurangi kekakuan pada otot punggung bawah. Beberapa hal penting sebelum melakukan latihan : a. Tidak ada penyakit lain yang membahayakan bila dilakukan latihan b. Latihan dilakukan setiap hari, pagi dan sore dan selalu dimulai dengan intensitas yang ringan dan secara bertahap ditingkatkan. c. Latihan dilakukan pada dasar yang datar, dianjurkan dilantai dengan alas karpet. d. Posisi awal latihan adalah berbaring terlentang, lutut fleksi, kedua telapak kaki menempel lantai seluruhnya dan kedua lengan dan tangan rileks di samping tubuh e. Setiap latihan diulangi 5x dan bertahap dinaikkan sampai 10x, dilakukan dengan pelan pelan dan hati hati, tidak perlu tergesa gesa dan jangan terlalu banyak dengan cara mengejan. Teknik Latihan (Peggy A. Houglum, 2010) a. Pelvic tilting Tujuan : untuk menguatkan otot gluteus maksimus, mencegah hiperlordosis tulang belakang. Teknik : posisi awal tidur terlentang diatas matras. Kedua lutut ditekuk dan kedua telapak kaki rata pada permukaan matras. Kemudian ratakan

11

pinggang dengan menekan pinggang kebawah matras dengan mengkontraksikan otot perut dan otot pantat.Setiap kontraksi ditahan 5 hitungan kemudian rileks.Ulangi latihan ini sebanyak 10 kali.

b. Lutut ke dada Tujuan : untuk meregangkan otot punggung yang tegang dan kaku. Teknik : posisi awal tidur terlentang diatas matras. Kedua lutut ditekuk dan kedua telapak kaki rata pada permukaan matras.Kemudian tekuk satu lutut ke arah dada sejauh mungkin, dan kedua tangan membantu mendorong lutut ke arah dada. Dilakukan secara bergantian dengan kaki yang lain dengan gerakan yang sama. Setiap gerakan ditahan selama 5 hitungan, dan latihan ini diulangi sebanyak 10 kali.

c. Meregangkan tubuh bagian lateral Tujuan : untuk meregangkan otot lateral tubuh yang tegang. Teknik : dengan tangan dibawah kepala dan siku menempel pada alas, paha kanan disilangkan ke paha kiri kemudian tarik ke samping kanan dan kiri sejauh mungkin, lakukan juga dengan menyilangkan paha kiri di atas paha kanan.

d. Sit up Tujuan : untuk menguatkan otot perut dan punggung bawah Teknik : posisi awal tidur terlentang diatas matras. Kedua lutut ditekuk dan kedua telapak kaki rata pada permukaan matras.Kemudian pelan pelan menaikkan kepala dan leher sehingga dagu menyentuh dada, dan kedua bahu juga ikut terangkat.Gerakan ini ditahan sampai 5 hitungan dan rileks.Latihan ini diulangi sebanyak 10-25 kali.

e. Hidung ke lutut Tujuan : untuk memperkuat otot perut dan meregangkan otot paha samping

12

Teknik : posisi awal tidur terlentang diatas matras. Kedua lutut ditekuk dan kedua telapak kaki rata pada permukaan matras.Kedua lutut ditekuk dan kedua telapak kaki rata pada permukaan matras.Kemudian tekuk satu lutut ke arah dada sejauh mungkin, kedua tangan membantu mendorong lutut ke arah dada dan angkat kepala hingga dagu menyentuh dada. Dilakukan secara bergantian dengan kaki yang lain dengan gerakan yang sama. Setiap gerakan ditahan selama 5 hitungan, dan latihan ini diulangi sebanyak 10 kali.

f. Hiperekstensi sendi paha Tujuan : untuk menguatkan otot gluteus dan punggung bawah serta meregangkan otot fleksor paha Teknik : dengan posisi tengkurap, tungkai ditarik ke atas, ulangi pada kaki sebelahnya.

Pencegahan NPB 1. Waktu berdiri : Jangan memakai sepatu hak tinggi Jangan berdiri waktu yang lama, selingi dengan jongkok Bila mengambil sesuatu ditanah, jangan membungkuk, tetapi tekuklah lutut Bila mengangkat benda berat, regangkan kedua kaki lalu tekuklah lutut dan punggung tetap tegak dan angkatlah barang tersebut sedekat mungkin dengan tubuh.

2. Waktu berjalan : berjalanlah dengan posisi tegak, rileks, dan jangan tergesa gesa

3. Waktu aktivitas : aktivitas dengan menggunakan postur yang benar 4. Waktu duduk : pilihlah tempat duduk dengan kriteria : Busa jangan terlalu lunak

13

Punggung kursi berbentuk huruf S. Bila duduk seluruh punggung harus sebanyak mungkin kontak dengan kursi

5. Waktu tidur : waktu tidur punggung dalam keadaan mendatar (jangan pakai alas per) 6. Olahraga : Hindari olahraga yang akan meningkatkan stress pada punggung. Dianjurkan olahraga perorangan seperti renang dan jogging

2.3.3

SenamNifas Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. 1) Senam Nifas (Pelvic Floor) Senam nifas adalah latihan jasmani yang dilakukan oleh ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih dimana fungsinya adalah untuk mengembalikan kondisi kesehatan, untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan memperbaiki regangan pada otot-otot setelah kehamilan, terutama pada otot-otot bagian punggung, dasar panggul dan perut. Senam nifas dapat di mulai 6 jam setelah melahirkan dan dalam pelaksanaanya harus dilakukan secara bertahap, sistematis dan kontinyu.

2.3.3.2. Tujuan Senam Nifas (Pelvic Floor) Senam nifas dapat dilakukan oleh ibu-ibu pasca persalinan, dimana senam nifas mempunyai tujuan untuk : 1) Membantu mencegah pembentukan bekuan (thrombosis) pada pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari

ketergantungan peran sakit menjadi sehat dan tidak bergantung.

14

2)

Mengencangkan otot perut, liang senggama, otot-otot sekitar vagina maupun otot-otot dasar panggul.

3) 4) 5) 6) 7) 8)

Memperbaiki regangan otot perut. Untuk relaksasi dasar panggul. Memperbaiki tonus otot pinggul. Memperbaiki sirkulasi darah. Memperbaiki regangan otot tungkai. Memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan. Berdasarkan banyaknya tujuan dari senam nifas, dapat diambil

tindakan intervensi pelvic floor exercise yang juga merupakan salah satu tujuan dari senam nifas tersebut. Tujuan dari pelvic floor exercise itu sendiri antara lain menguatkan otot-otot dasar panggul sehingga memberikan support atau sanggahan yang baik untuk organ panggul dan isinya, mengontrol tekanan intra-abdomen, menjaga kontinensia (melalui serabut saraf simpatis) ke sfingter uretra dan anus, seksual respon dan fungsi reproduksi. 2.3.3.3. Indikasi dan Kontraindikasi Senam Nifas (Pelvic Floor) Pada setiap senam yang dilakukan oleh ibu-ibu pasca persalinan memiliki beberapa indikasi dan kontraindikasi seperti disebutkan dibawah ini : Indikasi : 1. Involusi seluruh organ tubuh 2. Dinding perut lembek dan lemas, striae gravidarum 3. Pelebaran pembuluh darah 4. Tonus dan elastisitas kulit menurun 5. Rasa sakit pada punggung Kontra indikasi : 1. Ibu yang mengalami komplikasi selama persalinan (Ibu dengan pendarahaan). 2 . Ibu yang menderita anemia. 3 . Ibu dengan kehamilan pre-eklamsi

15

4 . Ibu-ibu dengan kelainan-kelainan seperti ginjal atau diabetes, mereka diharuskan istirahat total sekitar 2 minggu. 5. Ibu dengan kelainan jantung dan paru-paru. Bila disuruh banyak beraktivitas tentu akan makin capek yang membuat kerja jantung makin payah 6. Ibu dengan persalinan secsio cecaria. Pada mereka yang sesar, beberapa jam setelah keluar dari kamar operasi pernapasanlah yang dilatih guna mempercepat penyembuhan luka. Sementara latihan untuk mengencangkan otot perut dan melancarkan sirkulasi darah ditungkai baru dilakukan 2-3 hari setelah ibu dapat bangun dari tempat tidur. Sedangkan pada persalinan normal, bila keadaan ibu cukup baik, semua gerakan senam bisa dilakukan. 2.3.3.4. Persiapan Senam Nifas Sebelum melakukan senam nifas, perlu melakukan beberapa persiapan agar senam yang dilakukan maksimal, persiapan tersebut seperti : 1. Mengenakan baju yang nyaman untuk olahraga 2. Minum air putih yang cukup 3. Dapat dilakukan di tempat tidur 4. Dapat diiringi musik 5. Perhatikan keadaan ibu 2.3.3.5. Pelaksanaan Senan Nifas 1) 2) Dosis Latihan : Setiap gerakan ditahan selama 5-10 detik kontraksi, diikuti rileks selama 10 detik Dilakukan sebanyak 8-12 kali. Diulangi sebanyak 4 sesi Setiap sesi istirahat selama 2 menit Dan dilakukan 3 kali perhari Latihan senam nifas (Sri Kustini, 2011) : 1. Menjepit bantal Posisi tidur telentang, kedua lutut ditekuk, diantara kedua lutut diberi bantal.Gerakkan lutut seolah menjepit bantal disertai

menegangkan otot-otot dasar panggul dengan cara seolah-olah

16

menahan kencing dan berak. Latihan ini dapat dilakukan bersamaan dengan saat menghembuskan nafas

2. Kaki gunting Tidur telentang salah satu tungkai disilangkan di tungkai yang lain. Gerakkan tungkai saling merapat antara satu dengan yang lain. Bersamaan dengan hal itu kencangkan otot-otot dasar panggul seperti menahan kencing dan berak.

3. Menahan perut Posisi duduk di atas kursi dengan bantalan lunak, kedua tangan di atas paha. Kencangkan dada dan perut, sehingga badan agak condong ke depan. Bersamaan dengan hal itu kencangkan otot-otot dasar panggul seperti menahan kencing dan berak. Latihan ini dapat dilakukan bersamaan dengan menghembuskan nafas. 4. Duduk berdiri Posisi duduk di kursi, dengan kedua tangan di atas paha.Angkat pantat dan badan hingga hampir berdiri (jangan sampai berdiri) sambil mengencangkan otot-otot dasar panggul (seperti menahan kencing dan berak) dan rapatkan kedua paha.Lakukan gerakan ini dengan cepat.

2.3.4

Nyeri Lutut Pengertian osteoartritis (OA, dikenal juga sebagai artritis

degeneratif, penyakit degeneratif sendi) adalah kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujungujung tulang penyusun sendi. Pada sendi, suatu jaringan tulang rawan yang biasa disebut dengan nama kartilago biasanya menutup ujung-ujung tulang penyusun sendi. Suatu lapisan cairan yang disebut cairan synovial terletak di antara tulang-tulang tersebut dan bertindak sebagai bahan pelumas yang mencegah ujung-ujung tulang tersebut bergesekan dan saling mengikis

17

satu sama lain. Pada kondisi kekurangan cairan synovial lapisan kartilago yang menutup ujung tulang akan bergesekan satu sama lain. Gesekan tersebut akan membuat lapisan tersebut semakin tipis dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa nyeri. Penyebab osteoartritis bermacam-macam.Beberapa penelitian

menunjukkan adanya hubungan antara osteoarthritis dengan reaksi alergi, infeksi, dan invasi fungi. Riset lain juga menunjukkan adanya faktor genetic yang terlibat dalam penurunan penyakit ini. Namun demikian, beberapa faktor risiko terjadinya osteoartritis adalah sebagai berikut: Wanita berusia lebih dari 45 tahun Kelebihan berat badan Aktivitas fisik yang berlebihan, seperti para olahragawan dan pekerja kasar Menderita kelemahan otot paha Pernah mengalami patah tulang disekitar sendi yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat Gejala Umum 1) Persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan. Pada mulanya hanya terjadi pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambahburuk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukangerakan tertentu , terutama pada waktu menopangn berat badan, namun bisa membaik bila diistirahatkan . Pada beberapa penderita, nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama,misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari. 2) Adanya pembengkakan/peradangan pada persendian (Heberdens dan Bouchards nodes) 3) Persendian yang sakit berwarna kemerah-merahan. 4) Kelelahan yang menyertai rasa sakit padapersendian 5) Kesulitan menggunakan persendian 6) Bunyi pada setiap persendian (crepitus). 2.3.5 Nyeri Bahu

18

Nyeri bahu merupakan keluhan yang dirasakan pada saat aktifitas gerak terutama melibatkan sendi bahu. Keadaan seperti ini apabila dibiarkan dalam waktu yang relatif lama menjadikan bahu akan menjadi kaku dan akan memperparah sendi bahu tersebut. Faktor penyebab yang terjadi pada sendi bahu dibagi menjadi dua yaitu faktor gerak dan fungsional (movement & function), dan faktor penyebab neurogenik.Faktor gerak dan fungsi bisa terjadi karena adanya tendinitis supraspinatus, tendonitis bisipitalis, kapsul adesiva, bursitis, ruptur pada otot.Sedangkan faktor penyebab neurologic bisa tejadi karena adanya lesi pada saraf bracialis. Etiologi dari nyeri bahu seperti adanya faktor degeneratif, trauma (fraktur dan dislokasi sendi bahu), peradangan dan adanya tumor. Tanda dan gejalanya seperti adanya nyeri disekitar bahu, kesulitan beraktivitas seperti mengankat bahu atau mengerakan bahu, adanya kaku disekitar bahu. 2.3.6 Latihan Ibu Hamil Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukan bagi ibu hamil.Senam hamil memiliki prinsip-prinsip gerakan khusus yang disesuaikan dengan kondisi ibu hamil.Latihan-latihan pada senam hamil dirancang khusus untuk menyehatkan dan membugarkan ibu hamil, mengurangi keluhan yang timbul selama kehamilan, serta mempersiapkan fisik dan psikis ibu dalam menghadapi persalinan. 2.3.7 Stroke Stroke di definisikan sebagai defisit (gangguan) fungsi sistem saraf yang terjadi mendadak dan di sebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (Pinzon, 2010).Menurut Mulyatsih 2010 stroke adalah Brain Attack atau serangan otak sesuai dengan istilah serangan kejadian stroke hampir selalu tiba-tiba dengan gejala yang beragam. Gejala yang paling sering di temukan adalah keadaan lumpuh separuh badan dengan atau tampa penurunan kesadaran.stroke sering dihubungkan dengan keadaan stress walaupun hal ini tidak selalu ada.

19

BAB III PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI

Dari hasil pengkajian yang kita dapatkan di masyarakat Kelurahan Banyu Urip RW 07 Surabaya didapatkan tujuh kasus di bidang Fisioterapi. Dimana kami memfokuskan penatalaksanaan fisioterapi tiga dari tujuh kasusu tersebut. Tiga kasus yang kita fokuskan itu antara lain, gangguan keseimbangan, nyeri pinggang bawah dan ibu nifas. Untuk lebih jelasnya kami akan bahas di bawah ini: 3.1 Gangguan Keseimbangan Dari pemeriksaan terhadap masyarakat dengan keluhan gangguan

keseimbangan, kami mendapatkan hasil bahwa penyebab dari masalah ini adalah nyeri lutut dan memiliki riwayat jatuh.Dimana aktifitas yang membuat keluhan semakin memberat ialah pada saat klien berdiri, berjalan jauh dan

jongkok.Keluhan dirasakan berkurang pada saat istirahat.Kebanyakan pada masyarakat di kawasan Kelurahan Banyu Urip RW 07 Surabaya memiliki aktifitas keseharian sebagai ibu rumah tangga.Dari keluhan diatas klien mengeluhkan keterbatasan aktifitas klien sebagai ibu rumah tangga.Pada kasusu ini masyarakat tidak pernah berupaya untuk menjalani pengobatan dikarenakan sifat keluhannya tidak diraskan terus-menerus dalam waktu 24 jam. Berdasarkan keluhan yang muncul, maka kami memberikan intervensi latihan keseimbangan dengan tujuan untuk mengasah sensitivitas sensor proprioseptif. Prinsip gerakan latihan keseimbangan cukup mudah hanya dengan duduk kemudian berdiri yang dilakukan berulang - ulang, tetapi dapat menjadi sulit bagi mereka yang keseimbangannya terganggu akan merasa seperti jatuh ketika berdiri. Dengan masalah di atas, sebelumya kami telah merencanakan intervensi yaitu dengan melakukan pemberian leaflet mengenai latihan untuk menangani gangguan keseimbangan yang memiliki manfaat untuk memandirikan klien agar mengoptimalkan kemampuannya sehingga menghindari dari dampak yang terjadi yang disebabkan karena gangguan keseimbangan tersebut. Pada pelaksanaannya kami melakukan secara konseling individu dengan pemberian leaflet yang berisi latihan keseimbangan.

20

Hasil evaluasi dari pemberian intervensi kepada masyarakat dengan gangguan keseimbangan, masyarakat merasa senang karena terbantu dengan intervensi yang kita berikan dan juga masyarakat dapat melakukan intervensi tersebut karena gerakan-gerakan pada latihan dalam kasus ini mudah dilakukan serta bermanfaat. 3.2 Nyeri Punggung Bawah Pada pemeriksaan di masyarakat dengan keluhan nyeri punggung bawah di kawasan Kelurahan Banyu Urip RW 07 Surabaya, kami mendapatkan hasil bahwa mayoritas penyebab dari kasus ini adalah proses penuaan dan aktifitas yang berlebihan serta tidak melakukan gerakan secara ergonomis dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Keluhan dirasakan memberat dengan saat duduk lama, berdiri lama, membungkuk dan setelah melakukan aktifitas yang berlebihan seperti pada saat bekerja.Keluhan berkurang pada saat klien istirahat dan memberikan balsam pada area yang sakit.Aktifitas masyarakat umumnya sebagai pegawai swasta.Pada kasus ini aktifitas klien sebagai pegawai swasta terganggu sehingga dalam bekerja tidak dapat maksimal. Berdasarkan keluhan yang muncul dalam kasus ini kami memberikan latihan untuk mengurangi nyeri punggung bawah dan memberikan contoh gerakan ergonomis.Tujuan dari pemberian latihan tersebut yaitu mengurangi hiperlordosis tulang belakang dan memperbaiki postur tubuh, serta membiasakan klien untuk melakukan gerakan gerakan yang sesuai dengan gerakan ergonomis tulang punggung. Dengan masalah di atas, sebelumya kami telah merencanakan intervensi yaitu pemberian leaflet dan pemberian penyuluhan nyeri punggung bawah di balai RW 07 Kelurahan Banyu Urip Surabaya pada kegiatan posyandu lansia. Pemberian latihan untuk mengurangi nyeri punggung bawah mempunyai manfaat untuk mengurangi gaya yang bekerja pada tulang punggung dengan cara mengurangi berat badan, memperkuat otot otot yang kurang kuat, terutama otot perut, otot pantat, dan otot punggung, meregangkan otot otot yang memendek, terutama otot punggung dan otot paha bagian belakang, mengurangi posisi bahu dan punggung bagian atas yang terlalu menekuk ke depan dan mengurangi kekakuan pada otot punggung bawah. Pada pelaksanannya kami melakukan penyuluhan dengan memberikan leaflet dan demo gerakan-gerakan pada latihan untuk

21

mengurangi nyeri punggung bawah dan gerakan gerakan yang sesuai dengan gerakan ergonomis tulang punggung, gerakan gerakan yang sesuai dengan gerakan ergonomis tulang punggung. Hasil evaluasi dari pemberian intervensi kepada masyarakat dengan gangguan nyeri punggung bawah, masyarakat merasa senang karena terbantu dengan intervensi yang kita berikan dan juga masyarakat dapat melakukan intervensi tersebut karena gerakan-gerakan pada latihan dan gerakan-gerakan ergonomis dalam kasus ini mudah dilakukan serta bermanfaat. 3.3 Ibu Nifas Hasil pemeriksaan masyarakat pada ibu nifas di kawasan Kelurahan Banyu Urip RW 07 Surabaya, didapatkan mayoritas menjalani proses persalinan secara normal. Keluhan yang dirasakan klien paska persalinan yaitu bengkak pada kaki dan mayoritas menjelaskan tidak ada keluhan paska persalinan.Pada kasus ini mayoritas klien tidak pernah melakukan senam nifas yang dalam hal ini kami memfokuskan pelvic floor exercise. Pada kasus ini kami memberikan pelvic floor exercise yang bertujuan untuk menguatkan otot-otot dasar panggul sehingga memberikan support atau sanggahan yang baik untuk organ panggul dan isinya, mengontrol tekanan intraabdomen, menjaga kontinensia (melalui serabut saraf simpatis) ke sfingter uretra dan anus, seksual respon dan fungsi reproduksi. Pada kasus ini sebelumya kami telah merencanakan intervensi yaitu dengan melakukan pemberian leafletmengenai pelvic floor exercise yang memiliki manfaat untuk memulihkan dan memperbaiki regangan otot-otot dasar panggul paska melahirkan. Pada pelaksanaannya kami melakukan secara konseling individu dengan pemberian leaflet yang berisi pelvic floor exercise . Hasil evaluasi dari pemberian intervensi kepada ibu nifas, klien merasa senang karena terbantu dengan intervensi yang kita berikan dan juga klien dapat melakukan intervensi tersebut karena gerakan-gerakan pada pelvic floor exercise ini mudah dilakukan serta bermanfaat.

22

BAB IV PEMBAHASAN

Kegiatan di masyarakat yang kami lakukan selama dua minggu meliputi : pengkajian data, penyuluhan lansia, senam lansia dan intervensi secara konseling pada tiga kasus yaitu; LBP, Ibu Nifas, dan Gangguan Keseimbangan. Kegiatan pertama yang kita lakukan adalah melakukan pengkajian data, dimana data tersebut kami peroleh dari S1 keperawatan. Dari data diatas ditemukan tujuh permasalahan yang ada di bidang fisioterapi, yaitu : LBP, gangguan

keseimbangan, ibu nifas, nyeri lutut, nyeri bahu, nyeri leher, dan stroke. Berikut merupakan tabel dari hasil pengkajian yang didapatkan dari masyarakat RW 07 Kelurahan Banyu Urip Surabaya mengenai ketujuh kasus yang telah kami peroleh. Sumber data : Pendataan RW 07 Kelurahan Banyu Urip Surabaya oleh Mahasiswa Fisioterapi Angkatan 2010 RT No KELUHAN 1 Gangguan Keseimbangan 2 Nyeri Punggung Bawah 3 Pelvic Floor Exercise pada ibu nifas 4 5 Senam Hamil Nyeri Bahu 1 1 1 1 1 1 4 2 3 1 4 5 3 2 6 2 18 I II III IV V VI VII VIII IX 1 X 1

23

6 7

Nyeri Lutut Stroke

1 1

1 1

1 1

2 1

1 -

1 1

7 6

Dari ketujuh kasus tersebut kami mengangkat 3 kasus di RW 07 sebagai bahan permasalahan kami dan sebagai bahan pengkajian kami di masyarakat. Ketiga kasus yang kami angkat antara lain gangguan keseimbangan, nyeri punggung bawah, dan pelvic floor exercise pada ibu nifas. Alasan kami mengangkat ketiga kasus tersebut yaitu selain karena beberapa kasus diantaranya banyak ditemukan di masyarakat, tidak membutuhkan biaya yang besar, mudah dimengerti, dan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di RW 07 Kelurahan Banyu Urip Surabaya melalui upaya preventif dan promotif yang telah kami berikan kepada masyarakat setempat. Pengkajian di masyarakat dapat dilakukan dengan baik karena kami membagi-bagi dalam beberapa kelompok dalam setiap RT dan bimbingan dari ibu kader dalam menunjukkan wilayahwilayah pada RW 07 serta menemani mahasiswa dalam melakukan pengkajian. Namun ada juga hambatan yang kami temukan saat melakukan pengkajian, antara lain masyarakat tidak mau bekerja sama dalam melakukan tanya jawab, kesulitan dalam bahasa, dan ada masyarakat tidak berada ditempat karena sedang bekerja atau kepentingan diluar rumah. Kegiatan yang kedua adalah melakukan penyuluhan tentang LBP pada RW 07 di Balai RW.Penyuluhan dimulai setelah lansia melakukan senam atau pukul 09:00 WIB.Penyuluhan tentang LBP tersebut kami bagi menjadi 3 kloter masingmasing waktunya adalah 30 menit. Disetiap kloter disertai tanya jawab yang tujuannya untuk mengetahui apakah lansia tersebut mengerti atau kurang memahami tentang LBP. Pada penyuluhan pertama, lansia yang mengikuti penyuluhan sangat mengerti tentang bahan yang kami berikan.Karena pada kloter pertama peserta atau lansia yang hadir tidak begitu banyak, sehingga tempat yang digunakan tidak panas dan nyaman bagi lansia.Hambatan yang kami temui adalah keterbatasaan kapasitas tempat untuk melakukan contoh intervensi yang kami berikan untuk penangan LBP.Kloter kedua dilakukan dengan waktu 30 menit.Pada kloter ini lansia yang hadir sangat banyak, sehingga ruangan yang

24

kami gunakan melebihi dari kapasitas.Akibatnya banyak lansia yang keluar sebelum penyuluhan selesai dan kurang memahami serta kurangnya antusias tentang materi yang diberikan.Namun ada beberapa lansia yang tetap mengikuti dan bertanya tentang materi yang kami berikan.Kloter ketiga seharusnya dilakukan selama 30 menit, namun adanya keterbatasan waktu, maka kami sedikit mempercepat penjelasan tentang LBP. Pada sesi ini kami membatasi jumlah lansia yang akan mengikuti sesuai dengan kapasitas ruangan yang kami gunakan. Pada kloter ini, lansia mengerti dan memahami, sehingga pada sesi pertanyaan lansia banyak yang mengajukan pertanyaan tentang LBP. Pada minggu kedua kami ditugaskan untuk menjadi kordinator senam sebelum mahasiswa S1 keperawatan melakukan penyuluhan.Prinsip gerakan yang kami berikan pada senam lansia adalah Low High Impact.Lansia yang hadir mengikuti senam sebanyak 23 orang.Mereka sangat semangat megikuti senam yang kami berikan.Tapi ada seorang lansia yang tidak bisa mengikuti senam sampai selesai, karena kecapaian.Para lansia hampir bisa mengikuti semua gerakan yang diperagakan oleh instruktur. Setelah mengikuti senam kami memberikan snack dan air kapada lansia, lalu para lansia langung masuk kedalam ruangan untuk mengikuti penyuluhan yang akan diberikan oleh S1. Kegiatan keempat di masyarakat adalah pemberian intervensi secara konseling.Pemberian konseling yang kami berikan yaitu pada kasus LBP, senam nifas, dan gangguan keseimbangan. Pada kasus LBP, kami tidak melakukan konseling karena sudah diberikan pada saat penyuluhan LBP pada minggu

pertama. Sedangkan pada pemberian konseling senam nifas dan gangguan keseimbangan tidak bisa dilakukan karena, klien tidak berada di tempat dan merupakan kontraindikasi dilakukan senam nifas.

25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Selama proses praktik RBM di RW 7 Kelurahan Banyu Urip Surabaya, mahasiswa program studi D3 Fisioterapi STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo melalui Institusi akan bekerjasama dengan dinas kesehatan setempat dan masyarakat itu sendiri dalam menyelesaikan permasalahan gerak dan fungsi di masyarakat yang telah ditemukan dan dikaji yaitu antara lain gangguan keseimbangan, nyeri punggung bawah, pelvic floor exercise untuk ibu nifas, senam hamil, nyeri bahu, nyeri lutut, dan stroke. Namun dari ketujuh permasalahan yang ada di masyarakat tersebut kami hanya memfokuskan intervensi pada tiga kasus saja antara lain; gangguan keseimbangan yang ditangani dengan pemberian latihan

keseimbangan, nyeri punggung bawah yang ditangani dengan latihan nyeri punggung bawah beserta cara pencegahan nyeri punggung bawah dan posisiposisi ergonomis bagi tubuh, yang terakhir adalah pemberian pelvic floor exercise pada ibu nifas. Kami juga melakukan evaluasi untuk memastikan keberhasilan intervensi yang diberikan pada masyarakat dengan keluhan tersebut diatas.Dari evaluasi tersebut kami menarik kesimpulan, bahwa warga merasa terbantu dalam mengatasi keluhannya dengan adanya kegiatan ini, warga juga merasa bahwa intervensi yang kami berikan mudah untuk dilakukan secara mandiri sehingga keluhan yang mereka rasakan bisa berkurang. 5.2. Saran Masyarakat diharapkan dapat terus mengaplikasikan intervensi yang telah diberikan sehingga kualitas hidup masyarakat dapat terus

meningkat.Sedangkan saran bagi penulis yakni diharapkan agar dapat menjadi pengalaman belajar dan bahan evaluasi, sehingga pada saat terjun ke masyarakat untuk memberikan intervensi secara preventif dan promotif dalam waktu ke depan dapat berjalan dengan lebih baik.

26

DAFTAR PUSTAKA Asmadi. 2008.Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta: EGC Batticaca, B. Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan Sistem Syaraf. Jakarta : Salemba Medika Darmojo, Boedhi. 2004. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta : FKUI Best-Martini, Elizabeth. 2003. Exercise for Frail Elders. USA : Human Kinetics. Kisner, Carolyn. 2007. Therapeutic Exercise: Foundation and Technique. Philadelphia: F. A Davis Company Koentjaraningrat. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Salemba Medika. Kushartanti, Wara. 2004. Senam Hamil Menyamankan Kehamilan, Mempermudah Persalinan. Yogyakarta: Penerbit Lintang Pustaka Kustini, Sri. 2011. Jurnal Fisioterapi Volume 11: Pelatihan Terpadu (Kegel dan Core Stability) Meningkatkan Kekuatan Otot Dasar Panggul Wanita Multipara. Jakarta : Ikatan Fisioterapi Indonesia Lionel, Ginsberg. 2005. Neurologi. Jakarta : Erlangga Clemson, Lindy. 2008. Stepping on Building Confidence and Reducing Falls, a Community-Based Program for Older People. Sydney : Sydney University Press Luklukaningsih, Zuyina. 2009. Sinopsis Fisioterapi Untuk Terapi Latihan. Yogyakarta : Mitra Cendikia Press Houglum, Peggy A. 2010. Therapeutic Exercise for Musculoskeletal Injuries. USA : Human Kinetics. Pudjiastuti, Sri Surini., Budi Utomo. 2002. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta : EGC Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.
27

Scott, Sue. 2008. Able Bodies Balance Training. USA : Human Kinetics. Soejono, Czeresna Heriawan. 2000. Pedoman Pengelolaan Kesehatan Pasien Geriatri. Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Vini, Theresia., dkk. 2007. Buku Pintar Nyeri Tulang dan Otot. Jakarta : Erlangga http://contoh-askep.blogspot.com/2008/09/latihan-keseimbangan-posturalpada.html http://dhaenkpedro.wordpress.com/keseimbangan-balance/ http://fisiosby.com/aspek-fisioterapi-syndroma-nyeri-bahu/ http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoartritis http://seripayku.blogspot.com/2009/04/latihan-keseimbangan.html http://www.scribd.com/doc/53483286/6/H-Proses-Fisioterapi http://www.totalkesehatananda.com/osteoarthritis1.html

28