Anda di halaman 1dari 8

Modul 13

Modul 13 BAB

TEORI-TEORI KOMUNIKASI INTERPRETIF DAN KRITIS

Tujuan Intruksional Khusus:


Mahasiswa mampu menjelaskan teori-teori komunikasi interpretif dan kritis secara benar.

PENDAHULUAN

Teori-teori komunikasi interpretif dan kritis termasuk dalam kategori


perspektif subyektif. Suatu pendekatan yang mengasumsikan bahwa pengetahuan tidak mempunyai sifat yang obyektif dan tetap. Lebih khusus lagi, realitas sosial dianggap sebagai interaksi-interaksi sosial yang bersifat komunikatif. Secara umum semua teori yang termasuk kategori teori-teori interpretif dan kritis mempunyai asumsi dasar yaitu: Manusia bertindak, dan tindakannya memiliki arti, oleh karenanya interpretasi diperlukan untuk memahami perilaku manusia. Walaupun demikian teori interpretif dan kritis berbeda dalam beberapa aspek penting. Teori interpretif ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia, atau untuk menginterpretasikan makna-makna. Sedangkan teori kritis berkaitan dengan cara-cara dimana kondisi manusia mengalami kendala dan berusaha menciptakan berbagai metode untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

8.1. Teori-Teori Interpretif


Teori interpretif muncul dalam berbagai bentuk. Seringkali ilmuwan sosial tertarik untuk memahami cara-cara di mana para anggota suatu budaya atau kelompok sosial memahami tindakan-tindakan mereka; atau para ilmuwan sosial tersebut berharap untuk dapat menerjemahkan makna-makna lokal ke dalam pengertian yang dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih luas.

Fenomenologi -- Alfred Schutz Secara umum fenomenologi dapat dilihat dari perspektif teori sekaligus metodologi. Fenomenologi berupaya mengungkapkan bagaimana anggota masyarakat menggambarkan dunia sehari-harinya terutama bagaimana individu dengan kesadarannya membangun makna dari hasil interaksi dengan individu lainnya. Singkatnya Fenomenologi adalah studi mengenai bagaimana manusia mengalami kehidupannya di dunia. Studi ini melihat objek dan peristiwa dari perspektif orang yang mengalami. Ketika orang bertindak dalam kehidupan sehari-harinya, mereka membuat tiga asumsi dasar: mereka berasumsi bahwa realitas dan struktur kehidupan adalah konstan, yaitu bahwa kehidupan akan tetap tampak seperti semula. Mereka beranggapan bahwa pengalaman mereka terhadap kehidupan adalah valid. Sehingga, orang menganggap bahwa persepsi mereka terhadap peristiwa adalah akurat. Orang melihat dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk bertindak dan mencapai sesuatu, dan mempengaruhi kehidupan. Karya Schutz penting bagi teori komunikasi karena menempatkan

komunikasi sebagai faktor penting bagi realitas yang dialami seseorang. Realitas bagi kita tergantung pada apa yang kita pelajari dari orang lain dalam komunitas sosial budaya kita, yang terbentuk dalam suatu situasi historis. Pengertian dan pemahaman kita, pada dasarnya timbul dari komunikasi kita dengan orang lain. Lebih jauh lagi, dalam setiap konteks ruang, waktu dan historis individu memiliki dan menerapkan pengetahuan (stock of knowledge) yang terdiri dari semua fakta, kepercayaan, keinginan, prasangka, dan aturan yang dipelajari dari pengalaman pribadi dan pengetahuan siap pakai yang telah tersedia. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

Menurut Schutz, pengetahuan terdiri atas: a. Pengetahuan pertama yang bersifat pribadi dan unik bagi setiap individu dalam interaksi tatap muka dengan orang lain.

b. Pengkhasan (typication) yang telah terbentuk dan dianut semua anggota suatu
budaya, terdiri dari mitos, pengetahuan, budaya dan akal sehat. Menyangkut motif ketika kita berinteraksi dengan orang lain, Schutz membaginya menjadi dua, yaitu:

a. motif untuk (in order to motives): merupakan tujuan yang digambarkan sebagai
maksud, rencana, harapan, minat, dan sebagainya yang berorientasi masa depan.

b. motif karena (because motives): merujuk pada pengalaman masa lalu individu
(aktor) karena itu berorientasi masa lalu.

Etnometodologi - Harold Garfinkel Etnometodologi adalah sebuah aliran sosiologi Amerika, yang dikemukakan pada awalnya oleh Harold Garfinkel dalam tahun 1940-an, dan secara sistematis dikenal sejak dipublikasikannya karya Harold Garfinkel di tahun 1967, yaitu: Studies in Ethnomethodology (George Ritzer 1992: 396). Mehan and Wood dalam Neuman (1997:346-347) mendefinisikan etnometodologi sebagai keseluruhan penemuan, suatu metode, suatu teori, suatu pandangan dunia, pandangan etnometodologi berasal dari kehidupan. Dengan sederhana etnometodologi memiliki batasan sebagai kajian common sense, etnometodologi sebagai kajian dari observasi penciptaan yang digunakan terus menerus dalam interaksi sosial dengan lingkungan yang sewajarnya. Heritage menyatakan bahwa etnometodologi dapat didefinisikan sebagai kajian mengenai pengetahuan, aneka ragam prosedur dan pertimbangan yang dapat dimengerti oleh anggota masyarakat biasa, mereka bisa mencarai jalan dan bisa bertindak dalam keadaan di mana mereka bisa menemukan dirinya sendiri. Menurut Muhadjir (2000:129-130) etnometodologi berupaya untuk memahami bagaimana masyarakat memandang, menjelaskan dan menggambarkan tata hidup mereka sendiri. Istilah etnometodologi berkaitan dengan konsepsi teoretik fenomena sosial. Etnometodologi mengacu pada kegiatan ilmiah yang menganalisis metode-metode

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

atau prosedur-prosedur yang digunakan manusia untuk menuntun mereka dalam berbagai kegiatan kehidupan kesehariannya. Secara umum etnometodologi menurut Philip Jones (1985:75) memiliki tiga asumsi: 1. Kehidupan sosial sifatnya rentan. Apapun bisa terjadi dalam interaksi sosial. 2. para aktor tidak pernah menyadari ini, 3. mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan yang praktis yang penting untuk membuat dunia itu nampak seperti yang diinginkannya. Etnometodologi selain sebuah teori juga adalah metodologi, yang memiliki kekuatan sebagai metode yang otonom, terutama untuk mengupas berbagai masalah sosial. Etnometodologi merupakan kelompok metode dalam ranah penelitian kualitatif yang memusatkan kajiannya pada realita yang memiliki penafsiran praktis. Ia merupakan pendekatan pada sifat kemanusiaan yang meliputi pemaknaan pada perilaku nyata.

Interaksionis Simbolik Interaksi simbolik dapat dikatakan sebagai sebuah tubuh dari teori dan penelitian interaksi yang simbolis. Interaksionisme simbolik berawal dari pemikiran beberapa tokoh antara lain, seperti, William James, Charles Horton Cooley, John Dewey, James Mark Balduin, William I. Thomas dan George Herbert Mead. Walaupun jika ditelusuri lebih awal lagi akan kita dapati nama-nama seperti Georg Simmel dan Max Weber (Mulyana. 2001:68 ; Sunarto. 2000: 233-234). Akan tetapi dari semua tokoh-tokoh tersebut George H. Mead bisa dikatakan sebagai tokoh utama peletak dasar teori tersebut. Perspektif interaksionisme simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka (Mulyana 2001:70). Dengan mengikuti Mead, teoritisi interaksionisme simbolik cenderung menyetujui pentingnya interaksi sosial. Di mana makna bukan berasal dari proses mental yang menyendiri, tetapi berasal dari interaksi. Manusia mempelajari simbol dan makna di dalam interaksi sosial. Interaksionisme simbolik memusatkan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

perhatian terutama pada dampak dari makna dan simbol terhadap tindakan dan interaksi manusia. Dalam proses interaksi sosial, manusia secara simbolik mengkomunikasikan arti terhadap orang lain yang terlibat (Ritzer & Douglas. 2004: 293-294). Mead menjelaskan proses interaksi simbolik terjadi dalam tiga unsur utama, yaitu pikiran (mind), diri (self) dan masyarakat (society). Hal ini terlihat dalam bukunya yang terkenal: Mind, Self and Society (1972). Ketiga unsur ini saling berkait satu sama lain. Ketika seseorang berinteraksi, sebenarnya pikiran merekalah yang sedang bekerja dengan memproduksi simbol dan mengartikan simbol yang diterima dari orang lain. Proses pertukaran dan interaksi ini tidak terlepas dari konteks masyarakatnya tersebut. Teori interaksionisme simbolik juga berhutang budi pada Herbert Blumer. Murid Mead ini berusaha merinci dan menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolik. Menurut interpretasi Blumer, (dalam Poloma. 2003: 258 ; Sunarto: 2000.235) interaksionisme simbolik didasarkan pada tiga premis, yaitu:

a). Manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dipunyai
sesuatu tersebut baginya. Dengan demikian tindakan seorang penganut agama Hindu di India terhadap seekor sapi akan berbeda dengan tindakan seorang muslim di Pakistan, karena bagi masing-masing orang tersebut mempubyai makna yang berbeda.

b). Makna tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang
dengan sesamanya. Mengapa dalam masyarakat kita merah bermakna berani, dan putih suci? Makna yang diberikan orang pada konsep merah atau putih ini muncul dari proses interaksi.

c). Makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran


digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.

yang

Ketika seseorang yang belum anda kenal menyapa anda Selamat pagi , maka tindakan anda tergantung penafsiran anda, apakah si pemberi salam itu adalah orang yang sopan, sok akrab, atau mempunyai maksud-maksud yang buruk. Singkatnya menurut Margaret M. Poloma (2003:264) interaksionisme simbolis yang diketengahkan Blumer memiliki ide-ide dasar yang dapat diringkas sebagai berikut: Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

1.

Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling bersesuaian melalui tindakan bersama membentuk apa yang dikenal sebagai organisasi atau struktur sosial.

2. Interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. 3. Obyek-obyek tidak mempunyai makna yang intrinsik; makna lebih merupakan produk interaksi simbolis. 4. Manusia tidak hanya mengenal obyek eksternal, mereka dapat melihat dirinya sebagai obyek. Pandangan terhadap diri sendiri ini, sebagaimana dengan semua obyek, lahir di saat proses interaksi simbolis. 5. Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri. 6. Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok; hal ini disebut sebagai tindakan bersama yang dibatasi sebagai; organisasi sosial dari perilaku tindakan-tindakan berbagai manusia.

Teori Dramaturgis : Erving Goffman Erving Goffman memberikan sumbangan penting terhadap kajian mengenai interaksi. Untuk menjelaskan tindakan manusia, Goffman menggunakan analogi drama dan teater. Karena alasan inilah Goffman disebut sebagai seorang dramaturgist. Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis berupa buku: Presentation of Self in Everyday Life (1959). Goffman menyatakan bahwa individu yang berjumpa orang lain akan mencari informasi mengenai orang yang dijumpainya atau menggunakan informasi yang telah dimilikinya, yang bertujuan untuk mendefinisikan situasi. Dalam proses ini masing-masing pihak akan berusaha mengendalikan perilaku orang lain dengan jalan memberikan pernyataan yang dapat menghasilkan kesan yang diinginkannya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukkan bagi orang lain. Usaha mempengaruhi kesan orang lain ini dinamakan impression management. (Sunarto. 2000:46). Goffman melihat banyak kesamaan antara pementasan teater dengan berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan tindakan sehari-hari. Kehidupan diibaratkan teater, interaksi sosial di atas panggung yang menampilkan Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

peran-peran yang dimainkan para aktor. Seringkali sang aktor melakukan pengelolaan kesan (impression management) itu tanpa sadar, namun adakalanya juga disengaja untuk meningkatkan status sosialnya dimata orang lain. Goffman membagi kehidupan sosial itu menjadi:

Wilayah depan (Front region)


Ini adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu menampilkan peran formal atau bergaya, bak memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara. Wilayah depan ibarat panggung depan (front stage) yang ditonton khalayak.

Wilayah belakang (Back region)


Ini adalah tempat atau peristiwa yang memungkinkannya mempersiapkan perannya di wilayah depan. Wilayah belakang ibarat panggung belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di pangging depan. Contoh-contoh pengelolaan kesan itu dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, keramahan yang ditunjukkan resepsionis hotel, pegawai bank, pelayan toko atau pelayan restoran kepada tamu, agar tamu terkesan dan datang lagi atau agar mereka memperoleh tip, dll.

Teori Penjulukan (Labelling Theory) Lahirnya teori penjulukan (labelling theory) diinspirasi oleh teori

interaksionisme simbolik dari Herbert Mead dan telah berkembang sedemikian rupa dengan riset-riset dan pengujiannya dalam berbagai bidang seperti kriminologi, kesehatan mental (pengidap schyzophrenia), kesehatan, dan pendidikan. Teori penjulukan merupakan wujud penolakan terhadap teori struktural fungsional, khususnya teori struktural devian. Suatu teori di mana menganggap penyimpangan sebagai perilaku yang merupakan karakter yang berlawanan dengan norma-norma sosial. Teori penjulukan berupaya menekankan pada pentingnya melihat penyimpangan dari sudut pandang individu yang menyimpang (devian). Teori penjulukan menyatakan bahwa proses penjulukan dapat sedemikian hebat sehingga korban-korban missinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruhnya. Karena berondongan julukan yang bertentangan dengan pandangan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI

Modul 13

mereka sendiri, citra diri asli mereka sirna, digantikan citra diri baru yang diberikan orang lain. Labelling theory memang memusatkan kajian terhadap reaksi orang lain (di luar dirinya) dan pengaruh yang ditimbulkan sebagai akibat untuk kemudian menghasilkan penyimpangan. Dampak penjulukan itu jauh lebih hebat dan tidak berhubungan dengan kebenaran penjulukan tersebut, terutama bagi orang dalam posisi lemah. Reaksi yang diberikan objek yang dijuluki terhadap orang lain membenarkan penjulukan tersebut. Maka nubuat itu dipenuhi dengan sendirinya, dan dalam kasus ini menjadi realitas bagi si penjuluk dan orang yang dijuluki. Orang yang dikatakan menyimpang dan mendapatkan perilaku tertentu sedikit banyak akan mengalami stigma, dan jika dilakukan secara terus menerus dirinya akan menerima atau terbiasa dengan sebutan tersebut.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Farid Hamid S.Sos.,MSi TEORI KOMUNIKASI