Anda di halaman 1dari 15

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Menurut

Undang-Undang

Kesehatan

No.36

Tahun

2009

Pasal

3,

pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, ditetapkan bahwa sasaran pembangunan kesehatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pencapaian tersebut tercermin dari indikator dampak pembangunan kesehatan, yaitu: menurunnya angka kematian bayi dari 34 menjadi 24/1000 kelahiran hidup, menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjadi 118/100.000 kelahiran hidup, menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 18,4 % menjadi kurang dari 15,0% dan meningkatnya umur harapan hidup (UHH) dari 70,6 tahun menjadi 72,0 tahun (Sarjuni, 2009). Hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001, menurut penyebab kematian tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti transisi demografi. Proses ini diprediksi akan berjalan terus seiring dengan perubahan status sosial ekonomi dan gaya hidup. Proporsi penyebab kematian oleh Penyakit Menular di Indonesia telah menurun sepertiganya dari 44% menjadi 28%, sedangkan akibat Penyakit Tidak Menular mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari 42% menjadi 60% (Depkes, 2008). Berdasarkan data WHO, tahun 2000 PTM diperkirakan mencapai 60% kematian di dunia dan diprediksikan pada tahun 2020 PTM mencapai 73% kematian di dunia (Soemantri, dkk, 2005).

Penyakit PTM atau degeneratif telah banyak muncul di Indonesia, yang penyebabnya tidak terlepas dengan pola makan, diantara penyakit degenerative yakni hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, kanker dan obesitas. Penyakit degeneratif adalah penyakit yang sulit untuk diperbaiki yang ditandai dengan degenerasi organ tubuh yang dipengaruhi gaya hidup (Walqvist (1997) dalam Modul Gizi Kesmas (2008)). Gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003). Salah satu penyakit degeneratif yang perlu diwaspadai adalah hipertensi. Hipertensi adalah penyebab kematian utama ketiga di Indonesia untuk semua umur (6,8%), setelah stroke (15,4%) dan tuberculosis (7,5%) (Depkes, 2008). Menurut JNC 7 (2003), hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg pada seseorang yang tidak sedang makan obat antihipertensi (Yogiontoro, 2006). Hipertensi sering disebut the silent killer. Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup, terutama dalam pola makan. Pola makan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat kasar, dan rendah lemak bergeser ke pola makan baru yang rendah karbohidrat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menggeser mutu makanan ke arah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh makin kuatnya arus budaya makanan asing yang disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi. Disamping itu, perbaikan ekonomi menyebabkan berkurangnya aktifitas fisik masyarakat tertentu. Perubahan pola makan dan aktifitas fisik ini berakibat semakin banyaknya penduduk golongan tertentu mengalami masalah gizi lebih berupa kegemukan dan obesitas yang berdampak pada timbulnya penyakit degeneratif (Almatsier, 2001). Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala, sehingga baru disadari bila telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung atau stroke. Tidak jarang hipertensi ditemukan secara tidak sengaja pada waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau datang dengan keluhan lain. Hasil Riskesdas

(2007), Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%). Provinsi Jawa Timur, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Riau, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tengah Tenggara Barat, merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7,2%, ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7,6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0,4%). Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24,0%, atau dengan kata lain sebanyak 76,0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis. Kira-kira jumlah orang dewasa yang menderita hipertensi pada tahun 2000 sebanyak 972 juta orang dan akan meningkat hingga 60% pada tahun 2025 menjadi sekitar 1,56 milyar orang.5 Penderita hipertensi meningkat di Jawa Tengah dari 143,82 kasus per 1.000 penduduk di tahun 2005 menjadi 166,07 kasus per 1.000 penduduk di tahun 2006.7 Hipertensi menempati peringkat kedua dari sepuluh besar penyakit yang ada di puskesmas Semarang pada tahun 2009.8 Angka kejadian meningkat dari 18.011 pada tahun 2008 menjadi 33.065 pada tahun 2009.9

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada peneliti ini adalah: 1. Meningkatnya prevalensi Penyakit Tidak Menular di Indonesia 2. Perubahan gaya hidup yang menyebabkan meningkatnya prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia. 3. Terlambatnya deteksi dini pada orang hipertensi yang menyebabkan meningkatnya resiko komplikasi hipertensi

4. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk meminum obat anti hipertensi.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui gambaran tekanan darah dan faktor-faktor yang berhubungan di Puskesmas Jelambar I yang berobat di balai pengobatan umum pada periode Januari Februari 2013. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Diketahuinya sebaran tekanan darah tinggi, normal, dan rendah pada pengunjung Puskesmas Jelambar I yang berobat di balai pengobatan umum periode Januari Februari 2013. 2. Diketahuinya sebaran pengunjung puskesmas berdasarkan usia, jenis kelamin, keturunan, gaya hidup, status gizi, konsumsi kopi, konsumsi garam. 3. Diketahuinya hubungan antara usia, jenis kelamin, keturunan, gaya hidup, status gizi, konsumsi kopi, konsumsi garam, dengan tekanan darah. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti a. Sebagai bagian dari tugas dalam rangka menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta. b. Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian. c. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan masyarakat pada

umumnya dan pemuka masyarakat pada khususnya.

d. Menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah dipelajari pada saat kuliah. e. Mengetahui gambaran tekanan darah dan faktor-faktor yang berhubungan pada pengunjung Puskesmas. f. Melatih bekerja sama dalam tim. 1.4.2 Bagi perguruan tinggi a. Realisasi Tri Dharma perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi atau tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. b. Memperkenalkan Fakultas Kedokteran UKRIDA kepada masyarakat. 1.4.3 Bagi Instansi Kesehatan Diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah sebagai referensi yang bermanfaat untuk mencegah terjadinya peningkatan darah tinggi. 1.4.4 Bagi Masyarakat Diharapkan dapat menjadi masukan bagi masyarakat dan keluarga tentang komplikasi hipertensi seperti stroke sehingga pasien penderita hipertensi dapat melakukan upaya-upaya untuk mencegah komplikasi tersebut.

Bab III Metodologi Penelitian

3.1.

Desain Penelitian Desain yang digunakan adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional mengenai gambaran tekanan darah dan faktor-faktor yang berhubungan di Kelurahan Jelambar I, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

3.2.

Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dimulai terhitung bulan Januari 2013 di Kelurahan Jelambar I, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

3.3.

Sumber Data Data primer yang diambil dari responden dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner yang sudah diuji coba, terhadap responden. Data sekunder yang diambil dari Rekam Medis.

3.4.

Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah seluruh pengunjung Puskesmas di Kelurahan Jelambar I, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang akan diteliti sebanyak 54 orang. Teknik Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan

Consecutive Sampling.

3.5.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi adalah pengunjung yang berusia 25 tahun di Kelurahan Jelambar I periode Januari - Februari 2013 yang bisa membaca dan bersedia mengikuti penelitian.

Kriteria eksklusi adalah seluruh pengunjung dengan penyakit jantung, ginjal dan kencing manis. Serta seluruh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Jelambar I.

3.5.1. Besar sampel Melalui rumus di bawah ini didapatkan besar sampel penelitian sebagai berikut : n1 = ( Z ). p.q L n2 = n1 + ( 10%.n1 ) Keterangan : n1 : Jumlah sampel minimal n2 : Jumlah sampel ditambah substitusi 10% Z : Tingkat batas kepercayaan, dengan = 5%. Didapat Z pada kurva distribusi normal = 1,96 p : Proporsi variabel yang ingin diteliti, yaitu besarnya prevalensi hipertensi. Prevalensi di Indonesia menurut SKRT 2004 adalah 14% = 0,14 (Depkes, 2007) q : 100% - p 100% - 14% = 86% = 0,86

L : Derajat kesalahan yang masih dapat diterima adalah 10% Berdasarkan rumus di atas didapatkan angka sebagai berikut : n1 = ( Z )2 . p . q L2 = ( 1,96 )2 . ( 0,14 ) . ( 0,86 ) ( 0,1 )2

= 46,25

Untuk menjaga kemungkinan adanya responden yang drop out, maka dihitung : n2 = n1 + ( 10% . n1 ) = 46,25 + ( 10% . 46,25 ) = 46,25 + 4,625 = 50,875 (dibulatkan menjadi 51 responden)

3.5.2. Teknik pengambilan sampel Teknik Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Consecutive Sampling.

3.6.

Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini digunakan variabel dependent (terikat) dan variabel independent (bebas). Variabel terikat adalah gambaran tekanan darah.

Variabel bebas adalah keturunan, jenis kelamin, usia, konsumsi kopi, olah raga, merokok, konsumsi garam, pengetahuan tetang tekanan darah, dan status gizi.

3.7.

Cara Kerja 1. Menghubungi Kepala Puskesmas untuk mendapatkan informasi mengenai warga yang hipertensi di Kelurahan Jelambar I. 2. Menghubungi Kepala Kelurahan Jelambar I, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat yang menjadi tempat penelitian untuk melaporkan tujuan diadakannya penelitian di tempat tersebut. 3. Menghubungi para petugas Puskesmas agar bersedia dalam membantu kegiatan penelitian.

4. Melakukan uji coba kuesioner pada pengunjung yang memenuhi kriteria dan tidak menjadi responden di tempat lain (Puskesmas Tanjung Duren Utara). 5. Melakukan pengumpulan data dengan membagikan kuesioner pada seluruh pengunjung yang memenuhi kriteria di Puskesmas Jelambar I. 6. Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data. 7. Penulisan laporan penelitian. 8. Pelaporan penelitian.

3.7.1. Pengumpulan data Data primer dikumpulkan dengan memakai kuesioner yang telah diuji coba melalui kunjungan responden ke Puskesmas.

3.7.2. Pengolahan data Terhadap data-data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan dengan proses editing, verifikasi, dan koding. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program komputer, yaitu program Statistical Package for Social Sciences (SPSS).

3.7.3. Penyajian data Data yang didapat disajikan secara tekstular dan tabular.

3.7.4. Analisis data Data yang telah diolah akan dianalisa sesuai dengan cara uji statistik menggunakan uji Chi-square.

3.7.5. Interpretasi data Data diinterpretasi secara deskriptif korelatif antar variabel-variabel yang telah ditentukan.

3.7.6. Pelaporan data Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan dihadapan staf pengajar Program Pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) dalam forum pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UKRIDA.

3.8.

Definisi Operasional 1. Penyakit hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah 140 mmHg (tekanan sistolik) dan / atau 90 mmHg (tekanan diastolic) (joint National Committee on Prevention Detection,Evaluation, and Treatment of High Pressure VII,2003). Klasifikasi hipertensi menurut JNC-VII 2003 Kategori Normal Prehipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 Sistolik (mmHg) 120 120-139 140-150 160 Diastolik (mmHg) 80 80-90 90-99 100

Posisi pasien yang akan diukur bisa berbaring, duduk atau berdiri, dengan catatan posisitangan atau lengan rileks tidak tegang. Yang paling ideal adalah posisi berbaring dengan kondisitenang dan tidak berbicara. Manset dilingkarkan diseputar lengan dan di pompa agar udara masuk ke manset dan menekan arteri. Fungsinya adalah menghentikan aliran darah sementara di lengan. Stetoskop di tempelkan di lengan bagian depan tepat diatas siku, atau di daerah pembuluh darah arteri. Udara dari manset dikeluarkan secara perlahan sambil dengan stetoskop mendengarkan denyut tekanan. Ketika suara ketukan denyut pertama, merupakan petunjuk bahwa pada saat itu

merkuri di alat ukur menunjukkan tekanan darah sistolik. Ketika proses mengeluarkan udara dari manset berlangsung, lama kelamaan suara ketukandenyut tekanan akan hilang, nah pada saat hilangnya suara denyut tersebut merupakan patokan dimana merkuri pada alat ukur menunjukkan tekanan darah diastolik. Penunjukan kuran menggunakan satuanmm Hg dan penulisan hasil pengukuran sebagai contoh seperti berikut : 130 / 80 mm Hg, yang artinya tekanan sistolik 130 mm Hg dan tekanan diastolik 80 mm Hg.

2. Indeks massa tubuh merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Obesitas merupakan peningkatan berat badan dengan IMT 25 kg/m2 akibat akumulasi lemak yang berlebihan.

Alat ukur : timbangan berat badan orang dewasa dan meteran dinding. Cara kerja menentukan IMT: sampel diukur terlebih dahulu berat badannya dengan timbangan kemudian diukur tinggi badannya dan dimasukkan ke dalam rumus di bawah ini:

IMT =

Berat Badan (kg) {Tinggi Badan (m)}2

Kemudian interpretasikan hasil yang didapat ke dalam tabel di bawah ini

INDEKS MASA TUBUH (IMT) < 17 17.0 - 18.5

KATEGORI

KEADAAN

18.5 - 25.0 >25.0 - 27.0

Kekurangan berat badan tingkat berat Kurus Kekurangan berat badan tingkat ringan Normal Normal Kelebihan berat badan tingkat Gemuk

>27

ringan Kelebihan berat badan tingkat berat Skala dalam pengukuran IMT adalah numerik.

3. Usia definisi: usia yang diukur dari tunggal, bulan, dan tahun saat dilakukan penelitian dikurangi tanggal, bulan dan tahun lahir subyek yang sesuai dengan yang tercantum dalam KTP atau Kartu Keluarga. Jika ada kelebihan usia, kurang dari 6 bulan dibulatkan ke bawah, dan bila terjadi kelebihan usia lebih dari 6 bulan dibulatkan ke atas. cara ukur: wawancara, KTP alat ukur: kuesioner Hasil ukur: usia dalam tahun 25 45 tahun = 1 Lebih dari 45 tahun = 2

Skala pengukuran : nominal. 4. Jenis kelamin Definisi: tanda seks sekunder yang dapat dilihat dan dikonfirmasikan dengan melihat Kartu Tanda Penduduk (KTP) cara ukur: wawancara, KTP Alat ukur: kuesioner Hasil ukur: 1. Wanita = 1 2. Pria = 2 Skala pengukuran: nominal. 5. Pengetahuan Definisi : segala informasi yang diketahui yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran ini dapat dipengaruhi oleh faktor dari

dalam seperti motivasi dan faktor dari luar seperti informasi. Data ini di dapat dengan cara penggunaan kuisioner dan di nilai secara scoring. Cara ukur : wawancara Alat ukut : kuisioner Hasil ukur: Baik = score 6 12 Cukup = score 13 19 Kurang = score 20 27 Skala : Ordinal 6. Merokok Definisi : apakah pasien merokok atau tidak, tanpa melihat jenis rokok, frekuensi pasien merokok, dan lamanya pasien merokok. cara ukur : wawancara Alat ukut : kuisioner Hasil ukur : ya = 1, tidak = 2. skala : nominal 7. Minum kopi definisi : apakah pasien minum kopi atau tidak, tanpa melihat jenis kopi, banyaknya kopi yang diminum dalam sehari, dan lamanya pasien minum kopi. cara ukur : wawancara alat ukur : kuisioner Hasil ukur : ya = 1, tidak = 2. skala : nominal. 8. konsumsi garam Definisi: seberapa banyak responden mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi garam. Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner dengan sistem skoring Hasil ukur:

A. B. C. D. Skala: Ordinal 9. Olah raga

Ikan asin = kali dalam seminggu Ikan sardine dalam kaleng = kali dalam seminggu Kornet dalam kaleng = .. Kali dalam seminggu Tidak pernah

Definisi: seberapa sering pasien berolah raga dalam waktu satu minggu atau 1 bulan. Cara ukur: Wawancara Alat ukur: Kuesioner Hasil ukur: a. b. c. d. 3-4 x seminggu 1-2 x seminggu 1-2 x sebulan tidak pernah

Skala : Ordinal

3.8.1

Data Umum

3.8.2. Data khusus

3.9.

Etika Penelitian Responden yang diwawancara untuk pengisian kuesioner pada penelitian ini diberi jaminan kerahasiaan terhadap data-data yang diberikan dan berhak menolak untuk menjadi responden.

2.5 Kerangka Konsep

Gaya Hidup :

- Aktifitas Fisik - Konsumsi buah dan sayur - Konsumsi makanan berlemak dan jeroan - Konsumsi minuman berkafein - Konsumsi alkohol - Riwayat merokok - Olahraga

Status Gizi

Gambaran Tekanan Darah

Faktor Lain :
- Keturunan

Tingkat Stress

Karakteristik Individu :
-

Usia Jenis Kelamin Status Pernikahan

Keterangan : Hubungan yang diteliti Hubungan yang tidak diteliti