Anda di halaman 1dari 17

BAB 1 KASUS IDENTITAS Nama Pasien Agama Alamat Rumah Bekasi : Fari : Islam : Bojong 04/02 Kampung Bojong

Sari, Kec. Kedung waringin : Bekasi, 8 Mei 2004

Tempat dan Tanggal Lahir Umur Orang Tua/wali Ayah Nama Agama Alamat Bekasi Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Agama Alamat Bekasi Pekerjaan

: 6 tahun

: Nasin : Islam : Bojong 04/02 Kampung Bojong Sari, Kec. Kedung waringin

: Buruh :: Endah : Islam :Bojong 04/02 Kampung Bojong Sari, Kec. Kedung waringin

: Ibu Rumah Tangga : Anak Kandung

Hubungan dengan orang tua Suku bangsa I. RIWAYAT PENYAKIT

: Sunda

KELUHAN UTAMA KELUHAN TAMBAHAN sakit

: Panas sejak 4 hari Sebelum Masuk Rumah Sakit : Batuk, pilek, ruam-ruam merah, mual, muntah, sesak,

Perut, pusing, susah buang air besar, kencing lancar, nafsu makan turun.

A. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT SEKARANG (Lengkap, Rinci, Kronologis, Jelas, dan terarah) Seorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan berat badan 18 kg dengan keluhan demam sejak 4 hari SMRS. Demam yang dialami tinggi, demam terus menerus, tidak diukur, tidak ada kejang. Kemudian 2 hari SMRS os mengalami batuk dan pilek, batuk berdahak namun dahak sulit untuk dikeluarkan. Saat berada di RS os mengalami ruam-ruam merah yang pertama kali muncul pada tengkuk dan belakang telinga, kemudian menyebar ke badan, tangan dan kaki. Ruam-ruam merah tidak terasa gatal. Os mengatakan bahwa os juga merasakan pusing, mual, muntah 2 kali/hari selama 2 hari, isi muntah makanan dan air, os juga mengalami sakit perut, sesak saat demam tinggi, susah BAB, hanya 2 kali dalam 4 hari, BAK lancar, nafsu makan menurun, os merasa mudah silau jika melihat cahaya. Os mengatakan bahwa di dekat rumah os ada yang sedang menderita penyakit campak. Os juga mengatakan bahwa tidak ada orang di rumah yang menderita penyakit yang sama. Os juga mengatakan bahwa os sering jajan jajanan di luar. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan disangkal.

B.

RIWAYAT KEHAMILAN/KELAHIRAN

KEHAMILAN MORBIDITAS KEHAMILAN Ibu tidak pernah mengalami sakit selama masa kehamilan. KELAHIRAN Perawatan Antenatal Tempat kelahiran

Penolong persalinan

Cara persalinan

Masa gestasi

Keadaan bayi Di rumah

Sebulan sekali kontrol bidan

bidan

Penyulit Kelainan: (-) Tindakan : spontan Aterm/cukup bulan Berat Lahir: 3700 g Panjang : 49 Lingkar Kepala: tidak diukur

Pucat (-) Biru(-) Kuning(-) Kejang (-) Nilai Apgar : tidak di ukur Kelainan bawaan : (-)

Kesimpulan Riwayat kehamilan/kelahiran: Perawatan antenatal baik, persalinan tidak ada penyulit. C. RIWAYAT PERKEMBANGAN : (ibu lupa) Bulan

Pertumbuhan gigi Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri

: 4 Bulan : 8 Bulan : 9 Bulan

Berjalan Bicara

: 12 Bulan : 18 Bulan

Membaca dan Menulis : 4 tahun

Perkembangan pubertas Rambut pubis : (-) bulan

Gangguan perkembangan mental/emosi : Tidak terdapat gangguan perkembangan mental dan emosi Kesimpulan Riwayat Perkembangan : Riwayat perkembangan sesuai usia

D.

RIWAYAT MAKANAN ASI/PASI Buah/Biskuit Bubur Susu Nasi Tim

Umur (bulan) 0-2 2-4 4-6 6-8 ASI ASI ASI ASI

10-12 ASI

Umur diatas 1 tahun Jenis Makanan Nasi/pengganti Sayur 1-2x/ hari Daging Telur (-) Ikan (-) (-) Frekuensi dan Jumlah 1 centong/ 2x sehari

Tahu 2 potong/ hari Tempe (-) 1x/hari susu kental manis Bendera

Susu (merk/takaran) Lain-lain

Kesulitan makan

: terdapat kesulitan makan

Kesimpulan Riwayat Makanan

: Kualitas dan kuantitas makanan dinilai kurang

E.

RIWAYAT IMUNISASI DASAR (UMUR) Ulangan (umur)

VAKSIN BCG -

POLIO CAMPAK HEPATITIS MMR TIPA -

Kesimpulan riwayat imunisasi : tidak di imunisasi sama sekali semenjak lahir

F.

RIWAYAT KELUARGA

a. Corak reproduksi No. Tgl lahir Jenis Kelamin Hidup Lahir mati Abortus Mati

(sebab) 1 2 3 4 5

Keterangan Kesehatan Hidup Pasien

1989 Laki-laki

1991 Perempuan Hidup 1993 Laki-laki 2000 Laki-laki Hidup Hidup -

b. Riwayat Pernikahan Ayah Ibu

Nama Nasin Endah Perkawinan ke Ke-2 Ke-1 15 Tamat SD

Umur saat Menikah22

Pendidikan terakhirTamat SD (tamat?Kelas/tingkat) Agama Islam Islam

Suku BangsaSunda Sunda Keadaan Kesehatan Kosanguinitas Baik Baik

Penyakit, bila ada -

Kesimpulan Riwayat Keluarga : Baik c. Riwayat Keluarga orang tua pasien : Riwayat keluarga orang tua baik d. Riwayat anggota keluarga lain yang serumah : Riwayat anggota keluarga lain yang serumah baik.

G.

RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN : Perkampungan padat penduduk.

Perumahan

Keadaan rumah : Rumah sendiri, 2 kamar, 1 kamar mandi, 3 jendela, penghuni rumah 6 orang, Rumah dibersikan iap hari, kamar mandi dibersikan 1 kali/ hari,pembuangan wc langsung ke empang dekat rumah. Sumber air tanah. Daerah/lingkungan : lingkungan padat, dekat dengan sungai, dan daerah persawahan. Kesimpulan Keadaan Lingkungan : status ekonomi pasien kurang, dengan keadaan lingkungan yang padat dan kurang terawat.

H.

RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DI DERITA Umur Penyakit Umur Penyakit Umur

Penyakit

Alergi Cacingan

Difteria -

P. jantung P. ginjal

P. Darah -

Diare -

Demam berdarah Demam tifoid Otitis Parotis -

Kecelakaan Kejang TBC -

Radang paru -

Morbili -

Operasi

Lain-lain

Kesimpulan Penyakit Dahulu: pasien baru pertama kali dirawat di rumah sakit

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 5 November 2010 pukul 15.00

Keadaan umum Kesan sakit Status mental Kesadaran : Tampak sakit berat : Tampak tenang : Compos mentis

Anemis (-). Ikterik (-), Sianosis (-), Dyspnoe (-)

Data Antropometri Berat badan Panjang badan Status gizi Tanda vital Frekuensi nadi Tekanan darah Suhu : 120 x / mnt : 110/60 mmHg : 38,3 C : 18 kg : 118 cm : 18/21 x 100% = 83% (gizi kurang)

Pernapasan

: 32 x/ menit

Status generalis Kepala deformitas (-). Mata : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata,

: Pupil bulat isokor, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

refleks cahaya langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung (+/+), injeksi konjungtiva (+) Hidung Mulut Telinga : Normoseptia, mukosa hiperemis (-), sekret (+),deformitas (-). : Mukosa mulut lembab, tidak ada kelainan, bercak koplik (-) : Normotia, serumen (-/-), sekret (-/-)

Leher

: KGB submandibular kanan-kiri teraba membesar..

Thorak : Bentuk dan gerak simetris, deformitas (-), Dinding dada terlihat simetris, tidak ada bagian dada yang tertinggal. Jantung : Inspeksi : Ictus cordis terlihat di garis midclavikularis kiri- ICS 5. : Ictus cordis teraba di garis midclavikularis kiri- ICS 5. Perkusi : Batas jantung normal.

Palpasi

Auskultasi : BJ 1,2 reguler, murmur (-), gallop (-) Paru : Inspeksi : pergerakan hemithoraks simetris kanan kiri, tidak ada bagian yang tertinggal, retraksi dinding dada (-) Palpasi : Vokal fremitus simetris. Perkusi : sonor di kedua lapang paru Auskultasi : Suara nafas vesikuler, Ronkhi -/-, wheezing -/-.

Abdomen rash)

: Inspeksi

: Datar, kulit terlihat kemerahan (makulopapular

pada seluruh kulit abdomen

Auskultasi Palpasi Perkusi

: Bising usus (+) : Supel, Nyeri tekan (-), pembesaran hepar - lien (-) : Timpani diseluruh lapang abdomen.

Genital

: Laki-laki, tidak ada kelainan.

Ekstremitas : makulopapular rash (+) di keempat ekstremitas, Akral teraba hangat (+) di keempat ekstremitas, sianosis (-) Capillary refill time < 2, Oedem(-) di keempat ekstremitas. Tulang belakang Susunan saraf : Lurus bentuk normal, tidak skoliosis. : Refeks fisiologis Bicep (+/+), Refleks fisiologis Patella (+/+).

Kulit : Kemerahan, terdapat makulopapular rash diseluruh tubuh, kulit sawo matang, kering, turgor kulit baik.

II.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium 2 November 2010

Darah tepi: Hemoglobin : 12,8 gr% Leukosit : 6.800

Hematokrit : 39% Trombosit : 204.000

Hitung jenis 0/0/0/71/22/7

VIII.

RESUME

Seorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan berat badan 18 kg dengan keluhan demam sejak 4 hari SMRS. Demam yang dialami tinggi, demam terus menerus, tidak diukur, tidak ada kejang. Kemudian 2 hari SMRS os mengalami batuk dan pilek, batuk berdahak namun dahak sulit untuk dikeluarkan. 1 hari SMRS os mengalami ruam-ruam merah yang pertama kali muncul pada tengkuk dan belakang telinga, kemudian menyebar ke badan, tangan dan kaki. Ruam-ruam merah tidak terasa gatal. Os mengatakan bahwa os juga merasakan pusing, mual, muntah 2 kali/hari selama 2 hari, isi muntah makanan dan air, os juga mengalami sakit perut, sesak saat demam tinggi, susah BAB, hanya 2 kali dalam 4 hari, BAK lancar, nafsu makan menurun, os merasa mudah silau jika melihat cahaya. Os mengatakan bahwa di dekat rumah os ada yang sedang menderita penyakit campak. Os juga mengatakan bahwa tidak ada orang di rumah yang menderita penyakit yang sama. Os juga mengatakan bahwa os sering jajan jajanan di luar. Dari pemeriksaan fisik, didapatkan pasien tampak sakit berat, kepala, hidung, mulut, telinga, thoraks, abdomen dalam batas normal, pada mata didapatkan injeksi pada konjungtiva, kedua KGB submandibular teraba membesar, tampak kemerahan (makulopapular rash) di batang tubuh dan keempat ekstremitas. Pemeriksaan darah rutin dalam batas normal. IX. DIAGNOSIS KERJA Diagnosa kerja : Morbili : Gizi kurang

Diagnosa status Gizi

Diagnosa imunisasi : Tidak diimunisasi

X.

Diagnosis Banding

Rubella Roseola infantum

XI.

Penatalaksanaan: Kuratif : IVFD 3A Ampisilin Cloramfenikol Promotiif : Tirah baring 30 tpm 3x750 mg i.v 3x500 mg i.v

Berikan masukan cairan air yang cukup Menjaga kelembaban dan kehangatan ruangan Lindungi pasien dari cahaya langsung dan kuat selama masa fotofobia Pemberian Vitamin A 100.000 IU, bila malnutrisi 150.000 IU per hari. XII. Prognosis : Ad bonam : Ad bonam : Ad bonam

Ad vitam Ad fungsionam Ad sanasionam

XIII.

Anjuran

Pemeriksaan IgM anti campak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Definisi (1)

Campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus Paramyxovirus yang memiliki gejala klinis yang terdiri dari 3 stadium, yakni stadium masa tunas, prodormal, dan stadium erupsi. Masa inkubasi 10-12 hari, stadium prodormal ditandai becak koplik pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan, koriza dan batuk yang semakin berat. Stadium akhir dengan ruam makulopapular di leher, muka tubuh, lengan, hingga kaki berturut-turut dan disertai dengan demam tinggi

2.

Etiologi (1)

Campak adalah virus RNA dari family Paramyxoviridae genus Morbili virus. Virus campak berada di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam. Virus tetap aktif minimal dalam 34 jam pada temperature kamar, 15 minggu dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperature 35 derajat Celcius, dan beberapa hari dalam suhu 0 derajat Celcius. Virus tidak aktif pada pH rendah. Virus campak menunjukkan antigenisitas yang homogeny. Infeksi dengan virus campak memicu pembentukan Nutralizing antibody, komplemen fixing antibody dan hemaglutinin inhibition antibody. Imunoglobulin IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak, muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi setelah 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terus terukur. IgM menunjukkan pertanda baru terkena infeksi atau baru mendapatkan vaksinasi, sedangkan IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibody IgA sekretori dapat dideteksi dari sekret nasal dan

terdapat di seluruh saluran napas. Daya efektivitas vaksin virus campak yang hidup dibandingkan dngan virus campak yang mati adalah adanya IgA sekretori yang hanya dapat ditimbulkan oleh vaksin virus campak hidup.

3.

Epidemiologi(1)

Di Indonesia,menurut survey kesehatan rumah tangga, campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan urutan ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0,77%). Campak merupakan penyakit endemis, terutama di negara sedang berkembang. Dari penelitian retrospektif, dilaporkan bahwa campak di Indonesia ditemukan sepanjang tahun.

4.

Patofisiologi (1)

Penularan campak terjadi secara droplet melaui udara, sejak 1 sampai 2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Virus masuk ke dalam limfatik local, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuclear, kemudian mencapai kelenjar getah bening regional, disini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuclear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak (sel Worthin), sedangkan limfosit T (T suppressor dan T helper) yang rentan terhadap infeksi, turut aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal terbentuklah focus infeksi, yaitu ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih dan usus. Pada hari 9-10, focus infeksi yang berada di epitel saluran napas dan konjungtiva, akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada 1 sampai 2 lapis sel, pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem salauran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, yang dapat tanda pasti untuk menegakkan diagnosis.

Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makupapular pada hari ke 14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi pada kulit. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami deficit sel T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis, tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel yang nekrotik di epitel nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dll. Dalam keadaan tertentu pneumonia juga dapat terjadi, selain itu campak dapat menyebabkan gizi kurang.

5.

Gejala klinis (1)

Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koryza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari, diikuti timbulnya ruam yang memiliki cirri khas yaitu diawali dari belakang telinga menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan, kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh, dan selanjutnya mengalami hiperpugmentasi dan kemudian mengelupas. Pada stadium prodormal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonik campak ( bercak koplik ). Meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua kasus manifestasinya jelas. Pada pasien yang mengidap gizi kurang, ruam dapat berdarrah dan mengelpas atau bahkan pasien meninggal sebelum ruam timbul. Diagnosis campak dapat ditegakkkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu. Seperti pada pemeriksaan sitologi ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosahidung dan pipi, pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM spesifik. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal. Diagnosis banding antara lain rubella, demam skarlatina, ruam akibat obat, eksantema subitum, dan infeksi stafilokokus.

6.

Diagnosis (1)

Biasanya dibuat hanya dari gambaran klinis khas, konfirmasi laboratorium jarang diperlukan. Selama stadium prodormal dapat ditemukan sel raksasa multinuklear pada pulasan mukosa hidung. Virus dapat diisolasi pada biakan jaringan, dan diagnosis didukung dengan kenaikan titer antibody yang dapat dideteksi pada serum pada fase akut dan konvalesens. Angka sel darah putih cenderung rendah dengan limfositosis relatif. Pada ensefalitis campak, pungsi lumbal dapat menunjukkan kenaikan proterin dan sedikit kenaikan limfosit, dengan kadar glukosa normal.

7.

Komplikasi (3,4)

Komplikasi utama adalah otitis media, pneumonia, dan ensefalitis, myokarditis dan SSPE, enteritis, kebutaan, laryngitis akut, kejang demam.

8.

Pengobatan (1,2)

Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simptomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan anti konvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak pada penyulit dapat dirawat inap, diberikan vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila ditemukan malnutrisi diberikan 1500 IU tiap hari. Apabila terdapat penyulit, maka diberikan obat untuk mengatasi penyulit yang timbul yaitu :

Bronkopneumonia diberikan antibiotic Ampisilin 100 mg per kg BB per hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan Kloramfenikol 75 mg per kg BB per hari intravena dalam 4 dosis dan Oksigen 2 liter/menit sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai 3 hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberculin dilakukan seteah anak sehat kembali ( 3-4 minggu kemudian) karena uji tuberculin biasanya negative atau anergi pada saat anak menderita campak. Terjadi anergi karena adanya gangguan delayed hipersensitifity disebabkan oleh sel Limfosit T yang terganggu fungsinya. Enteritis, pemberian cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi.

Otitis media, diberikan klotrimoksasol sulfametoksasol (TMP sulfametoksasol 4 mg per kgBB per hari dibagi dalam 2 dosis. Ensefalopati perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga kebutuhan untuk mengurangi edem otak disamping pemberian kortikosteroid. Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah. 9. Pemantauan (3)

Pada kasus campak dengan komplikasi bronkopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau adanya infeksi terhadap tuberculosis. Pantau gejala klinis serta lakukan uji tuberculin 1-3 bulan setelah penyembuhan.

10.

Diagnosis banding (4)

Eksantema subitum, rubella, infeksi karena echovirus, virus Koksaki, Adnovirus, Mononukleosis nukleosa, Toksoplasmosis, Meningokoksemia, Skarlet fever dan ruam karena obat. 11. Prognosis (1,3)

Biasanya akan sembuh setelah 7-10 hari setelah ruam muncul. Kematian biasanya disebabkan oleh komplikasi yang mungkin timbul, seperti encephalitis dan bronkopneumonia. Angka kematian di AS menurun pada tahun-tahun ini sampai tingkat rendah untuk semua kelompok umur, terutama karena keadaan sosioekonomi membaik tetapi juga karena terapi antibacterial efektif untuk infeksi sekunder.

12.

Pencegahan (1)

Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Imunisasi aktif

Imunisasi campak awal dapat diberikan pada usia 12-15 bulan tetapo mungkin diberikan lebih awal pada daerah dimana penyakitn terjadi. Karena angka serokonversi tidak 100% dan mungkin ada beberapa imunitasnya berkurang, imunisasi kedua diberika sebagai MMR (mump-measles-rubella). Dosis ini dapat diberikan saat anak masuk sekolah atau sekolah menengah. Remaja yang memasuki perguruan tinggi sebaiknya juga harus mendapatkan imunisasi campak yang kedua.Respon terhadap vaksin campak hidup tida dapat diramalkan jika telah diberika immunoglobulin dalam 3 bulan sebelum imunisasi. ANergi terhadap tes tuberculin dapat berkembang selama 1 bulan atau lebih setelah vaksin campak diberikan. Kontra indikasi pemberian vaksin campak yaitu pada anak dnegan leukemia dan pada merela yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif. Penggunaan vaksin virus tidak aktif tidak dianjurkan. Imunisasi pasif

Menggunakan kumpulan serum orang dewasam kumpulan serum konvalesenm globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma dengan dosis 0,25 mL/kg diberikan secara intramuscular dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik sesegera mungkin.

Daftar Pustaka

1. Nelson, Waldo E. Buku Ilmu Kesehatan Anak. 1999. Edisi 15.hal 1068-1071. EGC : Jakarta.. 2. Soedarmo, Sumarmo. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. 2008. Edisi II. Hal.109-119. Badan penerbit IDAI : Jakarta. 3. Pusponegoro, Hardiono. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. 2004. Edisi I. Hal 95-98. Badan penerbit IDAI : Jakarta. 4. Ismoedijanto. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. 2008. Edisi III. Hal 234-235 Penerbit Universitas Airlangga : Surabaya. 5. Garna, Herry. Pedoman Diagnosis dan Terapi. 2005. Edisi III. Hal 209-211. 7175. Penerbit Universitas Padjajaran : Bandung.

Anda mungkin juga menyukai