Anda di halaman 1dari 22

BAB I

(PENDAHULUAN)

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam pembahasan pada makalah ini awalnya kami mulai dari sebuah skenario yang diberikan yaitu : MODUL XVII (PENGLIHATAN) SKENARIO 4 LENSA MATA SEPERTI KACA MATA

Ny. R (55 th) datang ke Poliklinik dengan keluhan blurred vision tanpa nyeri, pandangan berkabut, fotofobia, diplopia, mata berair. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. KGD adrandom mencapai 250 mg/dl. Dokter menganjurkan operasi. 3 tahun setelah operasi Ny. R mengeluh sering sakit kepala. Dari hasil pemeriksaan dokter dijumpai Tekanan Intra Okuler meninggi.

1.2 Tujuan Pembahasan Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki tujuan yang diharapkan berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis. Dimana tujuannya dibagi menjadi dua macam. Yang pertama secara umum makalah ini bertujuan menambah wawasan mahasiswa/i dalam kelompok diskusi. Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah sebagai berikut :
1

a) Melengkapi tugas SGD (small group discussion) skenario 4 modul XVII. b) Menambah pengetahuan pembaca tentang Penglihatan c) Sebagai bahan referensi mahasiswa/i fakultas kedokteran UISU semester V dalam menghadapi ujian akhir modul. Itulah beberapa tujuan dalam penyusunan makalah ini dan juga sangat diharapkan dapat berguna bagi setiap orang yang membaca makalah ini. Semoga seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.

1.3 Pembatasan Masalah Dalam penyusunan makalah ini kami dihadapkan pada suatu sistem yaitu ada suatu masalah yang harus disusun dalam suatu skema, dimana skema itu juga sekaligus menjadi pembatasan masalah yang akan dibahas pada makalah ini. Berikut merupakan pembatasan masalah dari skenario 4 modul 17.

1.4 Metode dan Teknik Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana, dimana kami menggunakan metode dan teknik secara deskriptif dimana tim penyusun mencari sumber data dan sumber informasi yang akurat lainnya. Setelah itu dianalisis sehingga diperoleh informasi tentang masalah yang akan dibahas. Setelah itu, berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut disimpulkan

sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.Seperti itulah gambaran sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan makalah ini.

BAB II ( SUB PEMBAHASAN )

2.1 LEARNING OBJECTIVE (LO) Mengetahui dan memahami Katarak dan Glaukoma: Definisi dan Klasifikasi Etiologi Patofisiologi Tanda dan Gejala Pemeriksaan Penunjang Penatalaksanaan Komplikasi

BAB III (PEMBAHASAN)

3.1 KATARAK Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa. Penuaan merupakan penyebab katarak yang terbanyak, tetapi banyak juga faktor lain yang mungkin terlibat, antara lain : trauma, toksin, penyakit sistemik, merokok, dan herediter. Katarak akibat penuaan merupakan penyebab umum gangguan penglihatan. Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparansinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Temuan tambahan mungkin berupa vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga turut berperan dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif, sinar ultraviolet, dan malnutrisi. Katarak matur adalah bentuk katarak yang seluruh proteinnya telah mengalami kekeruhan; katarak imatur memiliki sebagian protein transparan. Jika mengambil air, lensa akan menjadi intumesen. Pada katarak hipermatur, proteinprotein dibagian korteks lensa telah mencair. Cairan ini bisa keluar dari kapsul yang utuh, meninggalkan lensa yang mengerut dengan kapsul keriput. Katarak

hipermatur yang nukleus lensanya mengambang dengan bebas didalam kantung kapsulnya disebut sebagai katarak morgagni. Sebagian besar katarak tidak terlihat pada pengamatan sepintas sampai lensanya menjadi cukup keruh untuk menyebabkan gangguan penglihatan yang berat. Dengan semakin keruhnya lensa, fundus okuli akan semakin seluit untuk dilihat, sampai akhirnya refleks fundus menjadi hilang sama sekali. Pada stadium ini, katarak biasanya telah matur, dan pupil menjadi putih. Derajat klinis pembentukan katarak, dengan menganggap bahwa tidak terdapat penyakit mata lain, terutama dinilai berdasarkan hasil uji ketajaman penglihatan Snellen. Secara umum, penurunan ketajaman penglihatan berhubungan langsung dengan kepadatan katarak.

Katarak Terkait Usia Proses kondensasi normal dalam nukleus lensa menyebabkan terjadinya sklerosis nuklear setelah usia pertengahan. Gejala yang paling dini mungkin berupa membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata. Ini merupakan akibat

meningkatnya kekuatan fokus lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser ke miopia. Gejala-gejala lain dapat berupa diskriminasi warna yang buruk atau diplopia monokular. Sebagian besar katarak nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik.

Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Perubahan hidrasi serat lensa menyebabkan terbentuknya celah-celah salam pola radial di sekeliling daerah ekuator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering asimetrik. Katarak subkapsular posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior bagian sentral. Di awal perkembangannya, katarak ini cenderung menimbulkan gangguan penglihatan karena adanya keterlibatan sumbu

penglihatan. Gejala-gejala yang umum, antara lain glare dan penurunan penglihatan karena pada kondisi pencahayaan yang terang. Kekeruhan lensa disni dapat timbul akibat trauma, penggunaan kkortikosteroid, peradangan atau pajanan radiasi pengion.

Katarak Anak-Anak Katarak anak-anak dibagi menjadi dua kelompok : katarak kongenital (infantilis), yang terdapat sejak lahir atau segera sesudahnya; dan katarak didapat, yang timbul belakangan dan biasanya berkaitan dengan sebab-sebab spesifik. Kedua tipe tersebut dapat unilateral atau bilateral. Sekitar sepertiga kasus katarak bersifat herediter, sepertiga lainnya sekunder terhadap penyakit metabolik atau infeksi atau berkaitan dengan berbagai sindrom. Sepertiga yang terakhir terjadi karena sebab yang tidak ditemukan. Katarak didapat paling sering disebabkan oleh trauma, baik tumpul maupun tembus. Penyebab lainnya adalah uveitis, infeksi mata didapat, diabetes dan obat-obatan.

Temuan Klinis Kekeruhan lensa kongenital sering terjadi dan sering tidak bermakna secara visual. Kkekeruhan parsial atau kekeruhan di luar sumbu penglihatan atau tidak cukupp padat untuk mengganggu transmisi cahaya, tidak memerlukan terapi selain observasi untuk menilai progresitivitasnya. Katarak kongenital sentral yang padat memerlukan tindakan bedah. Katarak kongenital yang menyebabkan gangguan penglihatan yang bermakna harus dideteksi secara dini, sebaiknya di ruang bayi baru lahir oleh dokter anak atau dokter keluarga. Katarak putih yang padat dan besar bisa tampak sebagai leukokoria, yang dapat dilihat oleh orang tuanya; namun, banyak katarak padat yang tidak terlihat oleh orangtua. Katarak infantilis unilateral yang padat, terletak ditengah, dan garis tengahnya lebih besar dari 2 mm akan menimbulkan ambliopia deprivasi permanen bila tidak diterapi dalam 2 bulan pertama kehidupan sehingga memerlukan tindakan bedah sesegera mungkin. Katarak didapat tidak terlalu memerlukan penanganan segera seperti pada katarak infantilis karena usia anak sudah lebih tua dan sistem penglihatannya sudah lebih matang. Penilaian bedah didasarkan atas lokasi, ukuran, dan kepadatan katarak, tetapi hasil suatu periode pengamatan dan uji ketajaman penglihatan subjektif dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Karena katarak unilateral pada anak tidak akan menimbulkan gejala atau tanda yang selalu diketahui oleh orangtuanya, program-program pemeriksaan skrining penting untuk menemukan kasus-kasus tersebut.

Terapi Terapi bedah untuk katarak infantilis dan katarak pada masa kanak-kanak awal adalag ekstraksi lensa melalui insisi limbus kecil dengan menggunakan alat irigasi-aspirasi mekanis. Jarang diperlukan fakoemulsifikasi. Prognosis Prognosis penglihatan pasien katarak anak-anak memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis pasien terkait usia. Adanya ambliopia dan terkadang anomali pada nervus opticus atau rertina membatasi tingkat pencapaian penglihatan pada kelompok pasien tersebut. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan pascaoperasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.

Katarak Traumatik Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab yang sering; penyebab lain yang lebih jarang adalah anak panah, batu, kontusio, pajanan berlebih terhadap panas, dan radiasi pengion. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa. Pasien sering kali adalah seorang pekerja industri yang pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain.

Katarak Sekunder Akibat Penyakit Intraokular ( KATARAK KOMPLIKATA) Katarak dapat terbentuk akibat efek langsung penyakit intraokular yang mempengaruhi fisiologi lensa. Katarak biasanya berawal di daerah subkapsular posterior dan akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit-penyakit intraokular yang sering berkaitan dengan pembentukan katarak adalah uveitis kronik atau rekuren, glaukoma, retinitis pigmentosa, dan ablatio retinae. Katarakkatarak ini biasanya unilateral. Prognosis visual tidak sebaik katarak terkait-usia biasa.

BEDAH KATARAK Metode operasi yang umum dipilih untuk katarak dewasa atau anak besar adalah meninggalkan bagian posterior kapsul lensa sehingga dikenal sebagai ekstraksi katarak ekstrakapsular. Penanaman lensa intraokular merupakan bagian dari prosedur ini. Insisi dibuat pada limbus atau kornea perifer, bagian superior atau temporal. Pada ekstraksi katarak ekstrakapsular bentuk ekspresi nukleus, nukleus lensa dikeluarkan dalam keadaan utuh, tetapi prosedur ini memerlukan insisi yang relatif besar. Korteks lensa disingkirkan dengan penghisapan manual atau otomatis. Saat ini, fakoemulfikasi adalah teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular yang paling sering digunakan. Teknik ini menggunakan vibrator ultrasonik genggam untuk

10

menghancurkan nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan korteks dapat diaspirasi melalui suatu insisi berukuran sekitar 3 mm. Ukuran insisi tersebut cukup untuk memasukkan lensa intraokular yang dapat dilipat. Ekstraksi katarak intrakapsular, suatu tindakan mengangkat seluruh lensa berikut kapsulnya, jarang dilakukan pada saat ini. Insiden terjadinya ablatio retinae pascaoperasi jauh lebih tinggi dengan tindakan ini dibandingkan dengan pascabedah ekstrakapsular; namun, bedah intrakapsular tetap merupakan suatu prosedur yang berguna, khususnya bila tidak tersedia fasilitas untuk melakukan bedah ekstrakapsular.

3.2 GLAUKOMA Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang; biasanya disertai peningkatan tekanan intraokular. Pada sebagian besar kasus, glaukoma tidak disertai dengan penyakit mata lainnya (glaukoma primer). Klasifikasi Klasifikasi glaukoma berdasarkan etiologi: 1. Glaukoma primer 2. Glaukoma kongenital 3. Glaukoma sekunder 4. Glaukoma absolut

11

Klasifikasi galukoma berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokular: 1. Glaukoma sudut terbuka 2. Glaukoma sudut tertutup

Patofisiologi Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan aliran keluar aqueous humor akibat kelainan sistem drainase sudut bilik mata depan (glaukoma sudut terbuka) atau gangguan akses aqueous humor ke sistem drainase ( glaukoma sudut tertutup). Mekanisme utama penurunan penglihatan pada glaukoma adalah apoptosis sel ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan lapisan intidalam retina serta berkurangnya akson di nervus optikus. Diskus opticus menjadi atrofik, disertai pembesaran cawan optik. Efek peningkatan tekanan intraokular dipengaruhi oleh perjalanan waktu dan besar peningkatan tekanan intraokular. Pada glaukoma sudut tertutup akut, tekanan intraokular mencapai 60-80 mmHg, menimbulkan kerusakan iskemik akut pada iris yang disertai edema kornea dan kerusakan nervus opticus. Pada glaukoma sudut terbuka primer, tekanan intraokular biasanya tidak meningkat lebih dari 30 mmHg dan kerusakan sel ganglion terjadi setelah waktu yang lama, sering setelah beberapa tahun. Pada glaukoma tekanan normal, sel-sel ganglion retina mungkin

12

rentan mengalami kerusakan akibat tekanan intraokular dalam kisaran normal, atau mekanisme kerusakannya yang utama mungkin iskemia caput nervi optici.

Penilaian Secara Klinis Tonometri Tonometri adalah pengukuran tekanan intraokular. Instrumen yang paling luas digunakan adalah tonometer aplanasi Goldmann, yang dilekatkan ke slitlamp dan mengukur gaya yang diperlukan untuk meratakan daerah kornea tertentu. Ketebalan kornea berpengaruh terhadap keakuratan pengukuran. Tekanan intraokular mata yang korneanya tebal, akan ditaksir terlalu tinggi; yang korneanya tipis, ditaksir terlalu rendah. Kesulitan ini dapat diatasi dengan tonometer kontur dinamik Pascal. Tonometer Schiotz adalah tonometer portabel; tonometer ini mengukur indentasi kornea yang ditimbulkan oleh beban yang diketahui sebelumnya. Gonioskopi Sudut bilik mata depan dibentuk oleh pertemuan kornea perifer dengan iris, yang di antaranya terdapat anyaman trabekular. Konfigurasi sudut ini memberi dampak penting pada aliran keluar aqueous humor. Lebar sudut bilik mata depan dapat diperkirakan dengan pencahayaan oblik bilik mata depan, menggunakan sebuah senter atau dengan pengamatan kedalaman bilik mata depan perifer menggunakan slitlamp.

13

Pemeriksaan Lapangan Pandang Pemeriksaan lapangan pandang secara teratur berperan penting dalam diagnosis dan tindak lanjut glaukoma. Penurunan lapangan pandang akibat glaukoma itu sebdiri tidak spesifik karena gangguan ini terjadi akibat defek berkas serat saraf yang dapat dijumpai pada semua penyakit nervus opticus; namun, pola kelainan lapangan pandang, sifat progresivitas, dan hubungannya dengan kelainankelainan diskus optikus merupakan ciri khas penyakit ini. Perubahan paling dini adalah semakin nyatanya bintik buta. Perluasan kontinyu ke lapangan pandang daerah Bjerrum. Daerah-daerah penurunan lapangan pandang yang lebih parah di dalam daerah Bjerrum dikenal sebagai skotoma Seidel. Pengecilam lapangan pandang perifer cenderung berawal di perifer nasal sebagai konstriksi isopter. Lapangan pandang perifer temporal dan 5-10 derajat sentra baru terpengaruh pada stadium lanjut penyakit Berbagai cara untuk memeriksa lapangan pandang pada glaukoma adalah automated perimeter, perimeter Goldmann, Friedmann field analyzer, dan layar tangent.

Terapi Pada Peningkatan Tekanan Intraokular Terapi Medis Penyekat adrenergik-beta dapat digunakan tersendiri atau dikombinasi dengan obat lain. Larutan timolol maleat 0,25% dan 0,5%, betaxolol 0,25% dan

14

0,5%, levobunolol 0,25% dan 0,5%, metipranolol 0,3% serta carteolol 1% dua kali sehari dan gel timolol maleate 0,1%, 0,25% dan 0,5% sekali setiap pagi adalah preparat-preparat yang tersedia saat ini. Kontraindikasi utama pemakaian obat ini adalah penyakit obstruksi jalan napas kronik dan defek hantaran jantung. Penghambat anhidrase karbonat seistemik acetazolamide adalah yang paling banyak digunakan, tetapi terdapat alternatif, yaitu dichlorphenamide dan metgazolamide digunakan pada glaukoma kronik bila terapi topikal kurang memuaskan serta pada glaukoma akut dengan tekanan intraokular yang sangat tinggi dan perlu segera dikontrol. Acetazolamide dapat diberikan per oral dalam dosis 125-250 mg sampai empat kali sehari atau sebagai Diamox Sequels 500 mg sekali atau da kali sehari, atau dapat diberikan secara intravena. Analog prostaglandin - larutan bimatoprost 0,003%, latanoprost 0,005%, dan travoprost 0,004%, masing-masing sekali setiap malam, dan larutan unoprostone 0,15% dua kali sehari meningkatkan aliran keluar aqueous melalui uveosklera. Obat parasimpatominetik meningkatkan aliran keluar aqueous humor dengan bekerja pada anyaman trabekular melalui kontraksi otot siliaris. Pilocarpine jarang digunakan sejak ditemukan analog prostaglandin, tetapi bermanfaat pada sejumlah pasien. Obat ini diberikan dalam bentuk larutan 0,5-6% yang diteteskan hingga empat kali sehari atau bentuk gel 4% yang diberikan sebelum tidur. Carbachol 0,75-3% adalah obat kolinergik alternatif. Obat-obat

parasimpatomimetik menimbulkan miosis disertai penglihatan suram, terutama

15

pada pasien katarak, dan spasme akomodatif yang mungkin mengganggu pada pasien muda. Ablasio retinae adalah kejadian yang jarang namun serius. Epinephrine, 0,25-2% diteteskan sekali atau dua kali sehari, meningkatkan aliran keluar aqueous humor dan sedikit banyak disertai penurunan pembentukan aqueoous humor. Terdapat sejumlah efek samping okular eksternal, termasuk refleks vasodilatasi konjungtiva, endapan adrenokrom, konjungtivitis folikular, dan reaksi alergi. Obat-obat hiperosmotik mengubah darah menjadi hipertonik sehingga air tertarik keluar dari vitreus dan menyebabkan penciutan vitreus. Selain itu, juga terjadi penurunan produksi aqueous humor. Penurunan volume vitreus bermanfaat dalam pengobatan glaukoma sudut tertutup akut dan glaukoma maligna yang menyebabkan pergeseran lensa kristalina ke anterior dan menimbulkan penutupan sudut. Glycerin oral, 1 mL/kg berat badan dalam suatu larutan 50% oral dingin dicampur dengan jus lemon, adalah obat yang sering digunakan, tetapi harus hatihati bila digunakan pada pengidap diabetes. Pilihan lain adalah isosorbide oral dan urea intravena atau manitol intravena. Konstriksi pupil sangat penting dalam penatalaksanaan glaukoma sudut tertutup akut primer dan pendesakan sudut pada iris plateau. Dilatasi pupil penting dalam pengobatan sudut akibat iris bombe karena sinekia posterior.

16

Apabila penutupan sudut disebabkan oleh pergeseran lensa ke anterior, digunakan sikloplegik untuk merelaksasi otot siliaris sehingga aparatus zonular menjadi kencang dalam upaya menarik lensa ke belakang.

Terapi bedah dan laser a. iridoplasti, iridektomi & iridotomi perifer Blokade pupil pada glaukoma sudut tertutup paling baik diatasi dengan membentuk saluran langsung antara bilik mata depan dan belakang sehingga tidak ada perbedaan tekanan di antara keduanya. Iridotomi perifer paling baik dilakukan dengan laser YAG walaupun laser argon mungkin diperlukan pada iris berwarna gelap. Tindakan bedah iridektomi perifer dilakukan bila iridotomi laser YAG tidak efektif. Iridotomi laser YAG menjadi suatu tindakan pencegahan bila dikerjakan pada sudut sempit sebelum serangan penutupan sudut. b. trabekuloplasti laser Penggunaan laser untuk menimbulkan bakaran melalui suatu lensa-genio ke anyaman trabekular akan memudahkan aliran keluar aqueous humor; ini terjadi karena efek yang dihasilkan pada anyaman trabekular dan kanal Schlemm, atau adanya proses-proses selular yang meningkatkan fungsi anyaman trabekular. Teknik ini dapat diterapkan pada beragam bentuk glaukoma sudut terbuka, dan hasilnya bervariasi tergantung pada penyebab yang mendasari. Penurunan tekanan biasanya memungkinkan pengurangan terapi medis dan penundaan tindakan bedah glaukoma. Pengobatan dapat
17

diulang. Trabekuloplasti laser dapat digunakan dalam terapi awal glaukoma sudut terbuka primer. Pada sebagian besar kasus, tekanan intraokular

perlahan-lahan akan kembali ke tingkat preterapi dalam 2-5 tahun. c. bedah drainase galukoma Meningkatnya efektivitas terapi medis dan laser telah menurunkan kebutaan akan bedah drainase glaukoma, tetapi tindakan bedah mampu menghasilkan penurunan tekanan intraokular yang lebih berarti. Trabekulektomi adalah prosedur yang paling sering digunakan untuk memintas saluran-saluran drainase normal sehingga terbentuk akses langsung aqueous humor dari bilik mata depan ke jaringan subkonjungtiva dan orbita. Komplikasi yang utama adalah fibrosis jaringan episklera, yang menyebabkan penutupan jalur drainase baru tersebut. Hal ini lebih mudah terjadi pada pasien baru berusia muda, pasien berkulit hitam, pasien glaukoma akibat uveitis, dan pasien yang pernah menjalani bedah drainase glaukoma atau tindakan bedah lain yang melibatkan jaringan episklera. Terapi adjuvan pra dan pascaoperasi dengan antimetabolit, seperti 5fluorouracil dan mitomycin C memperkecil risiko kegagalan bleb dan dikaitkan dengan kontrol tekanan intraokular yang baik. Akan tetapi, terapi ini dapat menimbulkan komplikasi yang berkaitan dengan bleb, misalnya rasa tidak nyaman terus-menerus pada mata, infeksi bleb, atau makulopati akibat hipotoni okular persisten. Trabekulektomi mempercepat

pembentukan katarak secara nyata. Penanaman selang silikon untuk mebentuk saluran keluar permanen bagi aqueous humor dalah tindakan alternatif untuk mata yang tampaknya tidak
18

berespons terhadap trabekulektomi. Ini meliputi mata dengan glaukoma sekunder dan glaukoma pascabedah tandur kornea. Vuskokanolostomi dan sklerektomi dalam dengan implan kolagen menghindarkan dilakukannya insisi ketebalan penuh ke dalam mata. Penurunan tekanan intraokular yang dihasilkan tidak sebaik trabekulektomi, tetapi komplikasi yang timbul mungkin lebih sedikit. Goniotomi dan trabekulektomi adalah teknik-teknik yang bermanfaat untuk mengobati glaukoma kongenital primer, yang tampaknya terdapat sumbatan drainase aqueous humor di bagian dalam anyaman trabekular. d. tindakan siklodestruktif Kegagalan terapi medis dan bedah pada glaukomalanjut dapat menjadi alasan untuk mempertimbangkan tindakan destruksi corpus ciliare dengan laser atau pembedahan untuk mengontrol tekanan intraokular. Krioterapi, diatermi, terapi laser YAG, atau laser dioda dapat digunakan untuk menghancurkan corpus ciliare. Terapi biasanya diberikan dari luar melalui sklera, tetapi telah tersedia sistem aplikasi endoskopi

19

BAB IV (PENUTUP)

4.1 KESIMPULAN Katarak merupakan gangguan pada lensa mata akibat dari hidrasi lensa atau denaturasi protein ataupun keduanya yang berjalan secara progresif. Katarak ini sering mengenai pada orang-orang usia produktif dan juga pada orang yang sudah lanjut usia, hal ini mungkin terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya katarak seperti terkena pajanan sinar radiasi secara langsung dan berkala, trauma, penyakit sistemik, adanya zat pathogen yang menginvasi dan juga kurangnya pengetahuan terhadap bagaimana cara

mencegahnya.

4.2 SARAN Dalam penyelesaian makalah ini kami juga memberikan saran bagi para pembaca dan mahasiswa yang akan melakukan pembuatan makalah berikutnya : Kombinasikan metode pembuatan makalah berikutnya. Pembahasan yang lebih mendalam mengenai metode penelitian . Beberapa poin diatas merupakan saran yang kami berikan apabila ada pihak-pihak yang ingin melanjutkan penelitian terhadap makalah ini, dan

20

demikian makalah ini disusun serta besar harapan nantinya makalah ini dapat berguna bagi pembaca khususunya mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU semester V / 2012dalam penambahan wawasan dan ilmu pengetahuan.

21

DAFTAR PUSTAKA

1.

Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

2.

Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. 2000. Oftalmologi umum (General ophthalmology) edisi 17. EGC: Jakarta.

22