Anda di halaman 1dari 23

PERALIHAN HIDUP DAN KEUTUHAN HIDUP Efesus 2:1-10 Kotbah Epistel Minggu, 18 Maret 2012 Letare (bersukacitalah; Yes

66:10a; Mzm 25:15a) I. Pendahluan 1. Perikop ini adalah surat apostel Paulus yang ditujukan kepada jemaat Efesus. Surat ini ditulis oleh Paulus ketika ia ada dalam penjara (3:1). Tikhikus adalah orang yang ditugaskan oleh Paulus sebagai pengantar surat ini (Kol 4:7), ditulis kurang lebih tahun 62-63 M. 2. Kota Efesus terletak di probinsi Roma, di wilayah Asia, terletak di pantai barat Turki modern. Letaknya di muara sungai Kayster di antara pegunungan Koroses dengan laut. Kota ini termasuk kota pelabuhan, dan kegiatannya umumnya adalah kegiatan perdagangan, pusat eksport dan juga termasuk pusat keagamaan. Di kota ini banyak terdapat kuil-kuil, juga patung-patung untuk disembah yakni patung kaisar Romawi (Kladius, Hadrianus dan Severus) juga ada synagoge tempat orang Yahudi berkebaktian, dan tempat ini juga dipakai Paulus sebagai basis penginjilannya (Kis 19:8) 3. Surat Efesus ini merupakan surat edaran yang ditujukan kepada jemaat kristen bekas kafir yang diwakili oleh jemaat Efesus. 4. Jemaat Efesus adalah jemaat yang dikasihi oleh Paulus, dan ia pernah tinggal di Efesus sekitar 2,5 tahun lamanya. 5. Tujuan surat ini adalah agar jemaat tetap dalam iman jangan diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran sesat seperti hukum taurat yang menuntut kelakuan (legalism) juga ajaran yang menuntut supaya kembali kepada kehidupan lama, percaya kepada tahyul, perjinahan, dukun, sihir dan berhala-berhala, dsb.

II. Keterangan 1. Status orang yang percaya


Status orang yang percaya kepada Kristus adalah status yang baru yakni anak-anak Allah (warga kerajaan surga) walaupun ia masih tinggal dan hidup di dunia ini. Setiap orang hendaknya mempertahankan statusnya jangan kembali lagi kepada status yang lama yakni hidup dalam kekafiran (kegelapan). Hidup orang percaya adalah sejalan dengan statusnya dalam segala perbuatannya. Kasih karunia Tuhanlah yang telah mengubah status kita dari yang lama kepada yang baru, bukan karena jasa dan perbuatan baik kita (ay 4,8) Dalam mempertahankan status ini tentu ada tantangan dan benturan-benturan di sanasini, tetapi janganlah hal itu membuat kita surut kebelakang, kembali kepada status yang lama. Semakin banyak tantangan hendaknya setiap orang kristen itu semakin giat dalam pekerjaan Tuhan (5:9-11).

2.

Status lama

Status lama atau kehidupan lama adalah kehidupan yang menuju kepada kematian hidup, tidak ada di sana sukacita, damai dan pengharapan.

Dalam kehidupan lama manusia itu hidup tanpa Kristus. Hidup tanpa Kristus menuju kematian, diperbudak dan dimurkai. Ketiga kata kerja ini melukiskan keadaan manusia yang sudah mati (ay 1). Sebagaimana yang disebut Yohannes dalam Yohanes 11:25, Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati artinya barangsiapa yang tidak hidup dalam Kristus (percaya) dia sesungguhnya adalah mati. Selanjutnya keadaan manusia dalam status lama adalah diperbudak, ia diperbudak oleh dunia ini dengan segala pengaruh, hasrat dan keinginannya dan juga dengan segala sistem politik dan nilai-nilai duniawi yang bertentangan dengan keingingin Allah (ay 2), juga manusia tunduk dan taat kepada penguasa-penguasa kerajaan angkasa (iblis dengan kuasanya memperbudak manusia itu dengan kepercayaan kepada kuasa-kuasa angkasa seperti dewa-dewi, horoscope, matahari, bulan, bintang, angin dsb). Juga manusia itu diperbudak oleh hawa nafsu daging dan pikiran jahatnya (ay 3). Dan hidup manusia itu ada dibawah kuasa murka Allah. Dengan demikian manusia itu sedang berjalan menuju kebinasaan dan kematian yang kekal (Rm 6:23, upah dosa adalah maut).

3.

Status Baru

Kehidupan orang yang percaya kepada Kristus adalah kehidupan yang baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor 5:17) Dengan kehidupan baru nyata dan jelas perbedaan yang menyolok antara kehidupan yang lama yang kosong, yang tidak berdaya menghadapi dunia ini, sehingga ia diperbudak oleh dunia ini. Beda dengan kehidupan dalam Kristus yakni kehidupan yang penuh anugerah dan kehidupan yang diperbaharui dan dibangkitkan untuk hidup dalam kemuliaan kuasa pemerintahan dan kedaulatan Kristus (ay 6). Dalam kehidupan baru, kita memiliki tujuan hidup yang pasti dan Tuhan menyertai sehingga kita memperoleh kekuatan, semangat dan pengharapan dalam menjalani hidup ini hingga kepada kehidupan kekal bersama Kristus di surga. Sebab Tuhanlah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).

4.

Anugerah Allah

Hidup baru di dalam Kristus adalah hasil karya Tuhan semata-mata, tidak ada sedikitpun jasa dan perbuatan baik manusia. Status kita dirobah oleh Tuhan Allah, dari status lama yang sudah rusak oleh dosa manusia Adam, sekarang dikembalikan kepada status yang baru dalam Adam yang baru yakni Kristus. Melalui anugerah Tuhan ini, manusia dapat mengambil bagian dalam kodrat Ilahi dan luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan ( 2 Ptr 1:4). Begitu sempurna anugerah Tuhan ini, sehingga kita tidak bisa mengelak untuk bersukacita dalam hidup ini (letare) dan memuji-muji Tuhan (doksologi) sebagaimana disebut dalam 1:3 dan 3:21, Bagi Dialah kemuliaan.........

III. Aplikasi

Ingatlah bahwa kita telah ditebus dengan harga yang mahal (1 Kor 6:20), tampillah sebagai manusia yang berharga dan mahal. Kita bukan anak-anak murahan yang suka hidup dengan kelakuan yang tidak karuan dan tidak bermanfaat, marilah kita hidup

tampil beda dengan dunia ini. Kita hidup dengan penuh semangat, kuat dan optimis, karena kita tahu bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang menghidupkan, sehingga kita tidak dikuasai/diperbudak oleh keinginan dunia ini (harta, hawa nafsu duniawi, korupsi, menipu, perbutan kekuasaan dsb) tetapi kitalah yang menguasai mereka. Sehingga hidup kita berkwalitas, bermanfaat dan menyukakan hati Tuhan ( 5:10-12; 1 Kor 10:31) Agar kita dapat mempertahankan status kita selaku anak Allah, kita harus meminta kekuatan dari Tuhan, yang telah memberikan status itu kepada kita, agar kita dapat menjadi saksi-saksi Kristus dalam banyak perbuatan yang baik. Supaya kita memiliki kwalitas dan nilai tambah dalam hidup ini, marilah kita meniru Kristus, yang tetap mengasihi orang yang tidak patut dikasihi.

DALAM KRISTUS EF 2:1-10 By. Antonius Agus Sumaryono I. Pengantar Dalam Efesus ini gambaran yang dibawa adalah mengenai Gereja Universal. Bab dua ini dibagi dalam dua perikop. Bab 2:1-10 berisi tentang peralihan hidup dari kehidupan lama kepada kehidupan baru dalam Kristus, sedangkan bab 2:11-22 berisi tentang keutuhan hidup dalam jemaat. II. Analisa Teks 2:1-10 Kamu dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (ayat 1). Penulis Efesus pertama-tama ingin mengingatkan pembacanya bahwa mereka sekarang hidup dalam kegembiraan kristen dan memperoleh hak istimewa dari hidup kristen. Mereka diingatkan apa yang telah dirasakan sebelum menjadi kristen. Sekarang, mereka digambarkan bahwa hidup lama sebagai satu tindakan dari kematian. Mereka telah mati karena kesalahan dan dosa (traspasses, paraptma) dan (sin, hamartia). Konsekwensi dari dosa adalah mati yang mana hidup manusia mengarah kepada sesuatu yang dapat disebut mati[1]. Kematian adalah satu gambaran yang tepat dari akibat dosa. Menurut Paulus tiap-tiap orang berdosa adalah orang mati, karena hubungannya dengan Allah telah dirusak.[2] Kata kematian dipakai sebagai kiasan dari perubahan hidup rohani dan moral. Paulus ingin menghidupkan kembali dari kematian atau disebut sebagai peralihan (transformed). Peralihan dari mati ke hidup yang dihasilkan dalam kehidupan mereka telah disempurnakan oleh karena Kristus. Hidup adalah kekayaan kesadaran baru dari kebaikan dan semua itu memperoleh kepenuhannya dalam Kristus. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (ayat 2). Kesalahan dan dosa digambarkan sebagai suatu peristiwa yang berjalan
[ [

dalam dunia. Maksud dari ayat ini ditujukan kepada orang non Yahudi, yang mana mereka masih percaya pada dewa penguasa lain (penguasa dunia). Dewa bangsa Yunani yang mereka sebut ain digambarkan sebagai seorang penguasa kekuasaan udara. Kata udara ini digunakan untuk mengindikasi ruang antara bumi dimana manusia tidak patuh dan berdosa dengan surga di mana Tuhan berkuasa dengan otoritas yang tidak diragukan. Dalam zaman kuno, udara sebagai kekuasaan dari bermacam-macam roh, diantaranya roh iblis. Ain ini berupa roh yang bekerja di dunia dalam anak yang tidak patuh, sedangkan dalam tradisi Yahudi anak yang tidak patuh diungkapkan dengan arti orang yang tidak patuh kepada Tuhan. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain (ayat 3). Arti dari ayat ini mempunyai karakteristik bahwa mereka hidup dalam penderitaan daging, karena mereka hidup di dalamnya. Mereka dipaksa hidup seperti sebelum kekristenan, artinya hidup dalam ketidakpatuhan. Kadangkala dalam Perjanjian Baru khususnya tulisan Paulus, kata daging digunakan dalam satu cara alami yang diartikan dalam aspek fisik dari kodrat manusia. Paulus menuliskan itu untuk menggambarkan dasar hukum kodrat yang mana dengan mudah menentang hukum Tuhan dan bersekutu dengan setan. Di sini, penulis Efesus berkeinginan untuk menegaskan bahwa dosa-dosa nafsu daging telah merasuk ke dalam tubuh dan pikiran. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkanNya kepada kita (ayat 4). Di sini, Allah digambarkan dengan dua sifat yakni kaya belaskasihan dan penuh cinta. Rahmat merupakan satu kata yang beberapa kali dipakai oleh penulis Efesus untuk menggambarkan keramahan Tuhan kepada siapa saja yang pantas menerimanya. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Maha Kasih dan kaya rahmat. Penekanan penulis Efesus ini yakni bagaimana kebesaran Allah yang kaya rahmat itu sangat mencintai manusia sebagai orang yang berdosa. Oleh karena itu, manusia memperoleh rahmat yang melimpah karena Allah sebagai sumber segala rahmat dan kasih mau mengampuni kita, orang-orang yang berdosa. Telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan dan di dalam Kristus Yesus, Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga (ayat 5-6). Di sini Allah menunjukkan kebesaranNya dengan menghidupkan Kristus yang mati karena kesalahan-kesalahan kita. Rahasia keselamatan Allah melalui Kristus adalah wujud dari kasih Allah seperti yang telah ditulis dalam ayat sebelumnya. Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Kristus telah dihidupkan oleh Allah supaya Ia ditinggikan begitu pula dengan kita. Hidup baru adalah keselamatan atas dasar rahmat. Tuhan menghidupkan kita bersama dengan Kristus yang bangkit dengan kita dan mendudukkan kita dalam Kerajaan Surga. Kata made to sit sulit untuk ditafsirkan karena kata ini dalam bentuk lampau. Kata yang serupa dalam Injil memakai bentuk akan datang (Luk 22:30; Mat 19:29). Yakobus dan Yohanes meminta untuk duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus bila Ia datang sebagai Raja. Hak duduk dalam Kerajaan Surga merupakan hak khusus hanya untuk Tuhan, tetapi semua itu dijanjikan kepada kita yang percaya kepadaNya. Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karuniaNya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus

(ayat 7). Banyak ahli menuntut bahwa dalam konteks ini masa yang akan datang harus diartikan salah satu kehidupan setelah mati, atau dimulai ketika masa sekarang berakhir dengan kedatangan kedua Kristus. Kedatangan kedua Kristus sebagai pembuka dalam masa yang akan datang. Paulus melihat wajah Gereja sebagai satu kelanjutan tugas di atas dunia. Hal ini adalah bagian penting dari penulis bahwa penulis tidak hanya menghadirkan kembali esensi pengajaran dari Paulus tetapi dimana format pengajaran ini tidak lagi dapat digunakan untuk merubah waktu, penulis hanya menafsikan ulang atas teks ini. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (ayat 810). Tiga ayat ini adalah satu kesimpulan yang mengilhami dari teologi Paulus. Keistimewaan utama dalam ayat ini adalah keselamatan, Allah mempunyai bagian dalam keselamatan manusia. Dalam Efesus, keselamatan termasuk satu kata yang mencakup banyak makna Paulus mengartikannya dalam beberapa pernyataan antara lain sebagai pembenaran, pendamaian, pengangkatan dan lain-lain. Demikian juga apa yang Paulus katakan tentang pembenaran dalam Roma. Penulis mengatakan tentang keselamatan sebagai berkat karunia iman, kita diselamatkan. Keselamatan bukan semata-mata hasil usaha kita tetapi suatu pemberian dari Allah. Itu semua dikerjakan oleh Allah, Allah memberi dari permulaan sampai pada akhir. Oleh karena itu orang diharapkan untuk tidak memegahkan diri sendiri karena semuanya itu adalah pekerjaan Allah. Penegasan atas keselamatan dalam hal ini adalah hidup dalam iman yang diciptakan oleh Kristus Yesus. Banyak komentator mempunyai pendapat bahwa kata pemberian di sini diartikan untuk menggambarkan iman membawa kepada keselamatan. Penulis menegaskan kembali bahwa segala sesuatu tentang keselamatan ini adalah sebagai pemberian Allah. Kita tidak selamat oleh pekerjaan kita sendiri tetapi kita diselamatkan karena pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang baik digambarkan sebagai tindakan yang mana Allah telah mempersiapkan sebelumnya, bahwa kita akan berjalan dalam pekerjaan Allah. III. Analisa Teks 2:11-22 Perikop kedua (2:11-22) terbagi dalam tiga bagian yaitu: 1. Situasi sebelum Kristus - keterpisahan dan perseteruan (2:11-12) 2. Perdamaian oleh darah Kristus (2:13-18) 3. Persatuan dalam jemaat (2:19-22) 1. Situasi sebelum Kristus keterpisahan dan perseteruan Dalam perikop ini Rasul Paulus mengawali frase ini dengan kata karena itu, untuk menyatukan perikop sebelumnya di mana para pendengarnya sebagai seorang Kristen telah menerima dan mengalami segala kebaikan Allah, seperti telah tertulis dalam Ef. 1:3 - 2:10. Rasul Paulus juga mengajak pendengarnya untuk mengingat kembali akan keadaan mereka di masa lampau, ketika mereka belum menjadi warga Keluarga Allah. Hal ini dikatakan oleh Paulus untuk mengajak mereka mensyukuri akan segala Kasih Allah yang saat ini mereka rasakan. Ada dua situasi yang menggambarkan hidup mereka di masa silam, yang kini semua itu telah diperdamaikan oleh Kristus. Dua situasi itu adalah: a). Relasi mereka dengan orangorang Yahudi yang menyebut mereka orang-orang tak bersunat (2:11), yang membawa

mereka kepada jurang keterpisahan dan perseteruan. b). Bahwa hidup mereka tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, hidup tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia (2:12). a) Sunat menurut orang Yahudi adalah tanda istimewa, tanda perjanjian Allah dengan umatNya, tanda yang menjadikan mereka umat Allah dan milik Allah. Menurut orang Yahudi hanya mereka sajalah umat Allah itu (karena tanda sunat yang mereka lakukan), sedangkan orang-orang tak bersunat bukan termasuk umat Allah. Oleh karena itulah Orang Yahudi memandang rendah mereka yang tidak bersunat. Sebutan tak bersunat itulah yang membuat mereka terpisah dengan orang Yahudi dan terjadi perseteruan di antara mereka. Akan tetapi Paulus mengkritik tanda sunat yang menjadi kebanggaan Orang Yahudi itu, dengan menegaskan bahwa semua itu hanyalah tanda lahiriah belaka yang dikerjakan oleh tangan manusia. Bahkan dalam suratnya kepada jemaat lain, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa sunat yang sejati bukanlah yang bersifat lahiriah dan jasmani, tetapi sunat yang secara rohani yaitu sunat di dalam hati. (Rm.2:28). Dalam Flp. 3:3 Paulus meneguhkan iman orang-orang Kristen, baik Yahudi maupun non Yahudi bahwa merekalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. b) Situasi kedua yang telah diubah oleh Kristus adalah hidup mereka di dunia ini. Sebelumnya hidup mereka digambarkan sebagai hidup tanpa Kristus, yang artinya bahwa mereka tidak memiliki siapapun untuk bergantung. Karena mereka bukan orang Yahudi, mereka bukan termasuk orang yang bersunat, sehingga dengan demikian mereka tidak mendapatkan bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan. Hidup mereka dikatakan juga tanpa harapan dan tanpa Allah. Harapan dalam arti hidup sesudah kematian (tanpa masa depan), sebab bagi mereka yang tidak mengenal kebangkitan, kematian merupakan suatu keputus-asaan. Hidup tanpa Allah di dunia ini artinya bahwa mereka hidup tanpa iman akan Allah yang menopang hidup mereka seperti sekarang ini. Semenjak mereka menjadi Kristen, hidup mereka diperdamaikan dari situasi permusuhan dan dari situasi kesendirian yang tanpa harapan. Mereka dibebaskan dari segala situasi yang tidak memberi janji yang pasti. 2. Perdamaian oleh Darah Kristus. (2:13-18) Tetapi situasi yang dahulu itu sekarang tidak ada lagi. Mereka sekarang hidup dalam situasi yang lain, suatu situasi yang sama sekali baru, yakni suatu situasi hidup di dalam Kristus Yesus. Dialah yang menciptakan perubahan situasi itu. Oleh Dia atau lebih tepatnya oleh darah-Nya, mereka yang dahulu jauh sudah menjadi dekat. Yang dimaksud dengan oleh darahNya adalah lewat kematian-Nya di salib. Oleh Paulus, Yesus disebut sebagai Damai sejahtera (2:14), karena Ia telah menjadi pendamai manusia, damai dengan Allah dan damai dengan sesama kristen apapun suku bangsanya. Tembok perseteruan antara dua bangsa telah dirubuhkanNya. Tembok pemisah dalam arti metafor yakni suatu pola pikir dan penafsiran yang salah, yang membawa dua suku bangsa hidup dalam permusuhan, saling curiga dan membenci satu sama lain, khususnya antara Yahudi dan orang-orang kafir. Permusuhan inilah yang telah dilebur oleh Kristus, sehingga sekarang antara Yahudi dan orang kafir bersatu dalam persahabatan yang luar biasa. Melalui kamatianNya, Kristus juga telah membatalkan hukum taurat dengan perintah-

perintah dan peraturannya sebagai hal yang menentukan. Tujuan dari melakukan itu adalah untuk menciptakan ciptaan baru dalam diriNya dari dua kelompok, Yahudi dan bangsa lain (2:15). Dengan cara demikian, malalui salib, Ia mendamaikan keduanya kepada Allah dalam satu tubuh, dengan menghilangkan permusuhan diantara mereka (2:16). Tubuh yang satu ini merupakan sebuah istilah yang menunjuk baik kepada tubuh jasmani Kristus yang dibunuh, dan kepada tubuhNya, Gereja yang terdiri dari bangsa Yahudi dan bangsa lain. Maka dari itu, dengan kedatanganNya dan dengan tindakanNya, Ia memaklumkan kedamaian baik kepada bangsa Yahudi yang dekat dan bangsa lain yang berada jauh (2:17). Akibatnya, keduanya dapat mendekati Bapa dalam satu Roh (2:18). 3. Persatuan dalam Jemaat (2:19-22) Ketika umat Allah hanya terdiri dari orang-orang Israel, orang kafir tidak termasuk di dalamnya. Mereka disebut sebagai orang asing. Akan tetapi sekarang, umat Allah itu adalah komunitas umat Kristiani yang baru, di mana orang Kristen kafir juga termasuk di dalamnya. Sejak dipersatukan oleh Kristus Yesus mereka bukan lagi orang asing melainkan kawan sewarga dengan orang-orang kudus dan menjadi anggota Keluarga Allah (2:19). Keluarga Allah itu dibangun atas dasar para rasul dan para nabi dan Kristus Yesus adalah batu penjurunya. Para Rasul di sini tidak terbatas pada kedua belas rasul Yesus, karena Paulus yang tidak termasuk kelompok ini tetap sebagai rasul. Para nabi tidak menunjuk pada tokohtokoh Perjanjian lama melainkan kepada sekelompok orang Kristen tertentu yang pelayanannya masih dinyatakan dalam karya-karya Kristen lama sesudah semua rasul meninggal. Kristus Yesus disebut sebagai batu penjuru GerejaNya. Arti dari kata Yunani akrogoniaios yang diterjemahkan sebagai batu penjuru ini telah menjadi bahan perdebatan yang serius. Kata batu penjuru ini terdapat hanya sekali dalam Septuaginta yaitu dalam Yes. 28:16, dan di situ kata itu memiliki arti yang jelas yaitu suatu batu yang menempati tempat yang penting dalam pondasi bangunan. Akan tetapi lepas dari arti itu, setiap ahli mengambil kata itu untuk arti yang berbeda-beda menurut bidang mereka masing-masing. Ada yang mengartikan bahwa batu penjuru itu adalah batu yang memahkotai suatu bangunan (menurut Jeremias), ada pula yang mengartikan sebagai batu yang berada di puncak pyramid atau tugu, yang diletakkan paling akhir, sebagai pengunci dari keseluruhan struktur bangunan. (dalam leksikon Patristik Yunani). Bagaimanapun juga, batu penjuru yang dimaksud dalam Efesus ini adalah batu penjuru dari suatu pondasi, dan bukan puncak dari monumen, batu terakhir yang membuat suatu bangunan sempurna. Gereja Yesus Kristus adalah Gereja yang kuat dan langgeng (abadi), yang tetap mampu bertahan dalam lajunya waktu, jika Gereja itu tetap dibangun dalam garis yang tetap mengacu pada Kristus sebagai batu penjurunya. Gereja Kristus yang walaupun terdiri dari bermacammacam jemaat lokal, semuanya tetap berdasar pada kebenaran melalui para rasul dan para nabi dan bersatu dalam segala hal yang mereka kerjakan dan tetap berpihak pada Yesus Kristus maka Gereja itu akan tetap tumbuh dan berkembang, menjadi suatu bangunan bait Allah yang kudus. Dalam Kristus, para pembaca bukan Yahudi ini dibangun menjadi kenisah yang kudus juga, tempat Allah bersemayam.

BESARNYA KASIH KARUNIA ALLAH Efesus 2:1-10


* Efesus 2:1-10 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. 2:3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. 2:4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, 2:5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan -2:6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, 2:7 supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Penjelasan : A. Hidup dalam kebinasaan (2: 1-3).

* Efesus 2:1-10 2:1 LAI TB, Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. KJV, And you hath he quickened, who were dead in trespasses and sins; TR, Translit interlinear, kai {dan} humas {kalian} ontas {dahulu adalah} nekrous {mati} tois paraptmasin {dalam pelanggaran2} kai {dan} tais hamartiais {dalam dosa2} 2:2 LAI TB, Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. KJV, Wherein in time past ye walked according to the course of this world, according to the prince of the power of the air, the spirit that now worketh in the children of disobedience: TR, Translit interlinear, en {di dalam} hais {(dosa2 ini) yang} pote {dahulu} periepatsate {kalian telah hidup} kata {menurut} ton aina {kebiasaan/ periode} tou kosmou {dunia} toutou {ini} kata {menurut} ton arkhonta {para penguasa} ts exousias {dari wilayah kekuasaan} tou aeros {di angkasa} tou pneumatos {yaitu roh} tou {yang} nun {sekarang} energountos {bekerja} en {di dalam/ di antara} tois huiois {anak-anak} ts apeitheias {ketidaktaatan/ durhaka} 2:3 LAI TB, Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. KJV, Among whom also we all had our conversation in times past in the lusts of our flesh, fulfilling the desires of the flesh and of the mind; and were by nature the children of wrath, even as others. TR, Translit interlinear, en {di dalam} hois {(orang2 ini) yang} kai {juga} hmeis {kami} pantes {semua} anestraphmen {kami hidup} pote {dahulu} en {dalam} tais epithumiais {hawa-nafsu2} ts sarkos {daging (tubuh yg dikuasai dosa)} hmn {kami} poiountes {(dengan) malakukan} ta thelmata {keinginan2/ hawa nafsu} ts sarkos {daging (tubuh yg dikuasai dosa)} kai {dan} tn dianoin {dorongan2 hati} kai {dan} men {adalah} tekna {anak2} phusei {secara natur} orgs {kemurkaan2} hs {sama seperti} kai {juga} hoi loipoi {yg lain} Dalam ketiga ayat pertama dalam pasal dua ini, Paulus melukiskan situasi dan cara hidup anggota jemaat yang berasal dari bangsa-bangsa non Yahudi (kafir) pada waktu dahulu, sebelum mereka bertobat dan menerima Kristus sebagai

Tuhan dan Juruselamat mereka. Lukiskan itu Paulus mulai dengan: Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (ayat 1). Paulus, seperti yang telah dikatakan tadi, mau melukiskan mujizat perbuatan (pekerjaan) Allah, yang dialami juga oleh anggota-anggota jemaat yang berasal dari bangsa-bangsa kafir. Untuk itu ia bertolak dari situasi mereka pada waktu yang silam. Ia katakan, bahwa pada waktu itu mereka "mati" (Yunani, nekros). Kematian itu, menurut dia, disebabkan oleh "pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa mereka" (Yunani : " - tois paraptomasin kai tais hamartiais = pelanggaran-pelanggaran dosa-dosa. - paraptomata dan - hamartias tidak dapat didiferensiasikan (bandingkan Efesus 1:7 = Kolose 1:14; juga Roma 5:12,15,20; 4:25 = 1 Korintus 15:7), seperti yang hendak dibuat orang, bukan saja pada waktu dahulu (antara lain oleh Agustinus dan Hieronymus), tetapi juga pada waktu ini (antara lain oleh Klopper dan Von Soden), Paraptomata dan hamartiais sama. Keduanya - sebagai pengertian kembar - mengungkapkan "kepenuhan dosa-dosa" yang menguasai hidup orang-orang kafir. Kepada dosa yang banyak ini mereka telah menyerahkan hidup dan diri mereka. Karena itu mereka "mati". Lukisan ini Paulus teruskan dalam ayat. 2: Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Yang paling penting dalam ayat ini ialah kata - pote (= dahulu, pada waktu itu bandingkan 2:11,13; 5:8; juga Kolose 3:7; dll.), yang jelas membedakan waktu ini dan waktu yang silam. Pada waktu yang silam (= waktu dahulu) mereka "hidup di dalam dosa". Kata - periepatsate (= berjalan keliling) banyak dipakai oleh Paulus dalam surat-suratnya (bandingkan Roma 6:4 ; 8:4 ; 13:13 ; dll.: Efesus 2:10 ; 4:1, 17; 5:2,8,15 ; Kolose 1:10 ; 2:6; 3:7 ; 4:5). Dalam bahasa Indonesia kata ini diterjemahkan dengan: "hidup" (LAI), Kata ini sebenarnya bermakna: hidup, berada di dalam, terus-menerus melakukan. Dalam lanjutan kalimat (ayat) ini Paulus jelaskan mengapa ia katakan, bahwa mereka hidup di dalam dosa. Pertama: karena mereka mengikuti jalan dunia ini. Hidup mereka pada waktu yang silam bukanlah hidup yang bebas. Hidup itu mereka tempuh menurut ukuran (jalan) suatu kuasa yang tinggi, yang menguasai mereka. Ungkapan - aina tou kosmou toutou, yang diterjemahkan di sini dengan "mengikuti jalan dunia ini" adalah suatu ungkapan yang sulit ditafsirkan. Pendapat penafsir-penafsir tentang ungkapan ini tidak sama. H Schlier berpendapat, bahwa pada suatu pihak ungkapan ini hampir sama artinya dengan ho ain auts (1 Korintus 1:20; 2-6; 3:18) dan ho kosmos autos (1 Korintus 3:19; 5:10; 7:31), yang Paulus sering pakai,

Kata Yunani kosmos di sini ialah dunia sebagai keseluruhan ruang hidup dan ain ialah dunia sebagai keseluruhan periode dunia. Pada pihak lain ungkapan itu berbeda dengan ho ain autos dan ho kosmos autos. Ain, sesuai dengan Efesus 2:7; 3:9,11, harus kita anggap sebagai oknum, pribadi. Ia bertindak sebagai Allah dan mau menguasai hidup manusia. JAC Van Leeuwen: Ungkapan ini harus kita tafsirkan menurut Galatia 1:4: ain adalah suatu periode, suatu waktu yang sedang berlangsung. Genitif, yang dikuasai ain, hampir sama dengan genitif possesif: kosmos ini, dalam manifestasinya, mencirikan aion, periode dunia; ia (=kosmos) menyatakan diri dalam Paraptomata dan hamartiais pada ayat 2. FW Grosheide: ain baiklah kita tafsirkan sebagai dunia dalam gerak, hampir sebagai waktu yang sedang berlangsung. Sulitnya ialah, bahwa dalam nas kita ini aion dihubungkan dengan kosmos. kosmos itu tidak tetap diam, ia mengalami suatu waktu, suatu ain. Paulus katakan di sini, bahwa kita harus memperhatian perkembangan dunia, yang nampaknya tenang dan diam. Dahulu anggota-anggota jemaat di Efesus mengikuti gerak waktu. Roh waktu itu menguasai hidup mereka. Mereka benar-benar hidup di dalam dunia. Kedua: karena mereka menaati penguasa kerajaan angkasa. Untuk dapat memahami maksud kalimat ini kita harus memperhatikan tanggapan orang ("gambaran-dunia") pada waktu itu. Menurut tanggapan itu, dunia ini terdiri dari beberapa lapisan (bandingkan 2 Korrintus 12:2; Filipi 2: 11; 1 Tesalonika 4: 17). Lapisan udara atau angkasa didiami oleh roh - roh-roh jahat - yang mempunyai pengaruh buruk atas manusia. Dalam nas kita dikatakan, bahwa ada suatu arkhn yang mempunyai exousia, yaitu ar: Yang dimaksudkan di sini dengan arkhn ialah penguasa, pemerintah. Arkhn ini, seperti yang dikatakan di atas, mempunyai "exousia" adalah lingkup kuasa/ wewenang. Daerah pemerintahan ini ialah ar = udara, angkasa (yang biasa di lukiskan sebagai tempat yang "gelap", bandingkan Efesus 6:12 ; Kolose 1:13). Ketiga: roh yang sekarang bekerja di antara orang-orang durhaka. Penafsir seperti Ewald, Robinson, Meinertz, Sehmid, Huby, Dibelius menganggap tou pneumatos (= dari roh) sebagai apposisi dari ton arkhonta (= penguasa): penguasa dari kerajaan angkasa adalah roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. H Schlier, sekalipun setuju dengan anggapan ini, lebih cenderung untuk menafsirkan tou pneumatos sebagai apposisi-yangmenerangkan dari genitivus tou aeros: udara/angkasa = roh, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Roh (jahat) itu sekarang sedang bekerja. Sekarang sesudah segala sesuatu yang

Tuhan Allah kerjakan dalam Yesus Kristus - dalam kematian dan kebangkitanNya - dan sesudah pekerjaan itu diberitakan oleh para rasul (3:1 dyb.). Sekarang, sesudah Tuhan Allah mencurahkan Roh-Nya atas segala daging (Kis. 2) dan Injil Kerajaan Allah diproklamasikan sampai ke ujung bumi. Sekarang - atau lebih baik: justru sekarang - roh (jahat) itu mati-matian bekerja di dalam manusia, supaya ia berontak terhadap (= mendurhaka kepada) Tuhan Allah. Ungkapan huiois ts apeitheias yang diterjemahkan di sini dengan "orang-orang atau anak-anak durhaka" adalah ungkapan Ibrani. Ungkapan-ungkapan Ibrani semacam ini banyak dipakai dalam Perjanjian Baru: "anak-anak murka" (Efesus 2:3), "anak-anak terang" (Efesus 5:8), "anak-anak terang dan anak-anak siang" (1 Tesalonika 5:5), "anak-anak kutuk" (2 Petrus 2:14), dan lain-lain. Yang dimaksudkan di sini dengan "orang-orang/anak-anak durhaka" ialah orang-orang yang tidak percaya dan taat kepada Firman Allah (bandingkan Roma 2:6 ; 11:30 dyb.; 15:31 ; 1 Petrus 2:8 ; 3:1 ; 4:17; Ibrani 3:18 dyb.; 4:6 ; 11:31). Bukan hanya orang-orang Kristen-non Yahudi saja yang hidup di dalam dosa. Orang-orang Kristen-Yahudi pun demikian. Hal itu diterangkan oleh Paulus dalam ayat 3: Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Dalam bahasa aslinya ayat ini mulai dengan en hois (= yang di antaranya, di antara siapa). Umumnya penafsir-penafsir berpendapat, bahwa en en hois harus dihubungkan dengan "huiois ts apeitheias " (= orang-orang durhaka). Paulus mau katakan, bahwa dahulu mereka (= orang-orang KristenYahudi) juga hidup di antara orang-orang durhaka ini. Kata anestraphmen, yang diterjemahkan di sini dengan "terhitung", sebenarnya berarti "hidup" dan sama dengan periepatsate yang disebut dalam ayat 2. Anestraphmen, seperti yang nyata dari ayo 3 ini, ialah hidup yang berlangsung dalam suatu persekutuan (bnd. 2 Korintus 1:12; 1 Timotius 3:15; 1 Petrus 1:17; 2 Ptr. 2:18; Ibrani10:33; 13:18). Mereka (= orang-orang Kristen Yahudi) tidak lebih baik daripada orang-orang Kristen-non Yahudi. Dalam dosa, mereka solider. Hal itu Paulus nyatakan dalam kata-kata hmeis pantes (= kami semua): Paulus dan semua orang KristenYahudi, tidak ada yang terkecuali. Bilamana dan sampai berapa jauhkah mereka hidup "di antara orang-orang durhaka"? Jawab Paulus: ketika mereka (= "kami") hidup di dalam hawa-nafsu daging dan menuruti kehendak daging mereka (= "kami") yang jahat. Paulus pertama-tama menyebut "hawa-nafsu daging" (= epithumiais ts sarkos). epithumia = keinginan, keinginan yang buruk/jahat, hawa nafsu (bandinglan Roma 1:24; 6:12-14; Galatia 5:24; Efesus 4:22; 1 Timotius 6:9; 2 Timotius 2:22; 3:6; 4:3 ; Titus 2:12 ; 3:3 ; bnd. juga Roma 7:7 ; Ga!. 5:16 ; 1 Tes. 4:5). Sarx = daging, daging/ tubuh yang berdosa, yang menjadi suatu kuasa dan yang memerintah manusia. Sesuai dengan itu

sarx dapat juga bermakna: seluruh manusia sebagai "anak-murka". sarx ini menimbulkan keinginan-keinginan jahat (hawa-nafsu) yang disebutkan di atas dan membuat manusia menjadi egois, jahat, yang mau hidup dari kebenaran sendiri (bandingkan Roma 7:7 dyb.; 13:14 ; Galatia 5:16, 24). Hawa-nafsu daging ini, menurut Paulus, memimpin orang kepada "kehendak daging" thelmata ts sarkos dan kehendak daging itu kepada perbuatan. Keduanya - kehendak daging dan perbuatan - adalah pekerjaan sarx. Kita dapat berkata: demikian caranya sarx bekerja. JAC Van Leeuwen: Dalam kehendak sarx tidak ada kesatuan, tidak ada arah; kehendak itu tidak mengikuti sesuatu norma, tidak dikuasai oleh suatu pikiran atau perasaan yang tidak berubah-ubah, tetapi berada di bawah pengaruh affek dan dorongan nafsu. Itulah sebabnya di sini dipakai bentuk-jamak ta thelmata. Hidup di dalam dosa ini - yaitu di dalam hawa-nafsu dan menurut kehendak daging - tidak berlangsung di luar, tetapi di dalam pengetahuan mereka. Mereka melakukannya dengan sadar menurut "pikiran mereka yang jahat" (= tn dianoin). Dianoia = pikiran dan pertimbangan yang sadar dari sarks. Dengan menekankan sarx dan dianoia di dalam manusia, maka Paulus mau mengatakan bahwa manusia dalam totalitasnya dengan sadar menuruti "kehendak daging"-nya dan pelaksanaannya dari kehendak itu. Mereka, demikian Paulus, "pada dasarnya adalah orang-orang yang dimurkai", "sama seperti yang lain". Sekali lagi pada akhir bagian ini, Paulus menyamakan orang-orang Kristen-Yahudi dengan "orang-orang lain", in concreto dengan orang-orang non-Yahudi. phusei, yang diterjemahkan di sini dengan "pada dasarnya, secara natur", Phusei ialah ungkapan untuk keadaan manusia alamiah (phusis = alam, kodrat, watak), seperti yang ada di dalam dan dari dirinya sendiri (dan bukan di dalam dan dari anugerah/kasih-karunia Allah). Phusei di sini menyatakan ketidak-mungkinan eksisten manusia mengelakkan murka Allah.

Top BP Merdeka dlm Kristus Post subject: Re: VOCAL IBRANI Posted: Tue Dec 16, 2008 6:48 am

B. Hidup dalam keselamatan (2:4-7).

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm Posts: 8089

* Efesus 2:4-7 2:4 LAI TB, Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, KJV, But God, who is rich in mercy, for his great love wherewith he loved us, TR, Translit interlinear, ho de {tetapi} theos {Allah} plousios {kaya} n {adalah} en {dalam} eleei {rahmat} dia {dengan} tn polln {yang banyak} agapn {kasih} autou {-Nya} hn {Seorang yang)} gapsen {Ia telah mengasihi} hmas {kita} 2:5 LAI TB, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan -KJV, Even when we were dead in sins, hath quickened us together with Christ, (by grace ye are saved;) TR, Translit interlinear, kai {bahkan} ontas {sekalipun} hmas {kita} nekrous {mati} tois paraptmasin {dalam pelanggaran2} sunezopoisen {Ia telah menghidupkan (kita) bersama} t khrist {dengan Kristus} khariti {karena kasih-karunia} este sessmenoi {kalian telah diselamatkan} 2:6 LAI TB, dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, KJV, And hath raised us up together, and made us sit together in heavenly places in Christ Jesus: TR, Translit interlinear, kai {dan} sungeiren {telah membangkitkan (kita) bersama (Dia)} kai {dan} sunekathisen {mendudukkan (kita) bersama (Dia)} en {di} tois epouraniois {surga} en {di dalam} khrist {Kristus} isou {Yesus} 2:7 LAI TB, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. KJV, That in the ages to come he might shew the exceeding riches of his grace in his kindness toward us through Christ Jesus. TR, Translit interlinear, hina {supaya} endeixtai {Ia menunjukkan} en {pada} tois aisin {saman2} tois {yang} eperkhomenois {akan datang}huperballonta {yang melimpah2} plouton {yang besar} ts kharitos {kasih-karunia} autou {-Nya} en {dalam} khrstotti {kebaikan} eph {terhadap} hmas {kita} en {di dalam} khrist {Kristus} isou {Yesus}

Dalam situasi seperti yang digambarkan di atas itulah Allah bertindak. Ia tidak membiarkan manusia binasa dalam dosanya. Ia menyelamatkannya dari kematian-nya. Itulah yang diberitakan oleh Paulus. Ia mulai dengan: TetapiAllah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita (ayat 4). Kalimat ini belum selesai, akan dilanjutkan lagi nanti dalam ayat-ayat yang berikut. Dalam ayat ini bagiannya yang pertama mulai dengan "tetapi" (= de) : suatu pertentangan, sesuatu yang sama sekali lain daripada yang dikatakan dalam ayat 1:3 Ganti-berkata-kata tentang usaha penguasa kerajaan angkasa yang jahat, Paulus sekarang berkata-kata tentang Allah yang rahmani dan rahimi. Ganti memberitakan dosa dan kebinasaan, ia sekarang memberitakan penebusan dan keselamatan. Tetapi dengan perkataannya ini ia seolah-olah mencoret apa yang dikatakannya dalam ayat-ayat yang sebelumnya dan kembali kepada pemberian tentang perbuatanperbuatan Allah yang besar dan dahsyat, seperti yang ia uraikan dalam seluruh pasal 1. Ia seolah-olah bersorak-sorai: "Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat ..." Allah seperti yang telah dikatakan di atas (lihat tafsiran 1:18!), ialah Allah yang kaya (= plousios). Kekayaan ini berlaku juga bagi eleos (= rahmat) Allah: pengertian yang mengungkapkan "sifat"-Nya yang rahmani dan rahimi terhadap orang berdosa. . Kita tidak dapat mengatakan, bahwa rahmat itu perlu, karena manusia jatuh ke dalam dosa. Hal itu bertentangan dengan lanjutan ayat ini: "karena kasih-Nya yang besar". Di sini ada sesuatu yang tidak dapat kita jelaskan. Cukup kalau kita dengar, bahwa rahmat Allah itu adalah begitu besar, sehingga Ia dapat menyelamatkan orang-orang berdosa (Roma 11:30-32). Dasar yang terakhir ialah kasih Allah yang besar (polln disini harus diartikan secara kwalitatif dan kwantitatif). Kasih ini Ia limpahkan kepada kita. Dalam bahasa aslinya tertulis: "kasih, yang dengannya Ia mengasihi kita" (= agapn autou hn gapsen hmas. Dengan menyebut dua kali kata "kasih" (Yunani : agapa dari Allah itu, maka Paulus bukan saja sekali lagi menggaris-bawahi besarnya kasih itu, tetapi juga pikiran, bahwa kasih tersebut dilimpahkan kepada kita, orang-orang berdosa. Yang dimaksud di sini dengan "kasih Allah yang besar-besar ialah kasih yang Ia nyatakan dalam Kristus, atau lebih tegas, dalam kematian dan kebangkitan-Nya, seperti yang ditulis dalam Efesus pasal 1. Karena kasih yang besar ini Tuhan Allah "telah menghidupkan kita

bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih-karunia kamu diselamatkan" (ayat 5). Ayat ini, seperti yang dikatakan di atas, menjangkau kembali kepada ayat 1 dan karena itu harus diterjemahkan sebagai berikut : Juga kita, sekalipun kita telah mati karena pelanggaranpelanggaran kita (Allah) telah menghidupkan kita bersamasama dengan Kristus - oleh kasih-karunia kamu diselamatkan. Juga kita, artinya seluruh jemaat, baik orang-orang Kristen-Yahudi maupun orang-orang Kristen-non Yahudi. Mereka semua, yang "telah mati karena pelanggaran-pelanggaran mereka" telah Allah hidupkan bersama-sama dengan Kristus. Itulah Injil, yang Paulus mau sampaikan kepada mereka, anggota-anggota jemaat di Efesus. Begitu besar kasih Allah kepada orang-orang berdosa, sehingga anak-Nya sendiri Yesus Kristus: Ia serahkan ke dalam maut untuk keselamatan mereka: Tetapi mungkinkah itu? Mungkinkah murka dan kasih Allah disebutkan bersama-sama dalam suatu kalimat? Paulus katakan Mungkin! Justru di situlah letaknya kebesaran kasih Allah. Hal itu dinyatakan kepada Paulus oleh Yesus Kristus. Yesus Kristus ini telah memasuki kematian kita, supaya dengan jalan itu kita boleh dihidupkan kembali. Seorang penafsir, FW Grosheide: Orang-orang berdosa ialah orang-orang yang mati. Karena itu. mereka harus dihidupkan, kalau mereka mau menjadi apa-apa. Dari diri mereka sendiri mereka tidak dapat hidup kembali. Hidup itu datang kepada. mereka dengan cara yang sangat khusus. Kristus bangkit kembali sebagai buah-sulung. Ia hidup dan memberikan kehidupan kepada orang-orang berdosa. Apa yang diuraikan dengan panjang lebar dalam 1 Korintus 15:21 dyb. dikatakan di sini dengan pendek dan tegas. Paulus yakm, bahwa anggota-anggota jemaat di Efesus tahu, bagaimana penebusan (penyelamatan) itu telah berlangsung dan bahwa mereka sendiri mendapat bagian di dalamnya. Hal itu nyata dari khariti este sessmenoi , karena kasih-karunia kamu diselamatkan, kata-kata, yang mungkin ditambahkan sebagai suatu peringatan (bandingkan Kejadian 49:18). Benar-benar diselamatkan oleh Kristus sendiri. Hal itu tidak boleh dilupakan. Dalam beberapa kata, Paulus di sini merangkum seluruh pekerjaan Kristus. Tuhan Allah melakukannya dalam hubungan dengan Kristus (Kolose 3:3). Kalimat perfek este sessmenoi menyatakan: keselamatan itu telah berlangsung dan tetap berlangsung sampai sekarang. Mereka telah diselamatkan dan tetap menjadi orang-orang yang diselamatkan. Hal itu mungkin karena kasih-karunia Allah ( lihat Efesus 1:2).

Dalam ayat 6 Paulus melanjutkan beritanya ini: dan di dalam Kristus Yesus ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga. Pikiran yang terkandung dalam ayat ini adalah paralel (sejajar) dengan pikiran yang terkandung dalam 1: 19 dyb. Di situ dikatakan tentang kuasa Allah yang hebat, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus. Di sini dijelaskan, bahwa hal itu Ia buat untuk jemaat-Nya. Tuhan Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga. Bagi jemaat-Nya hal itu berarti, mereka juga dibangkitkan dari antara orang mati dan ditempatkan bersama-sama dengan Kristus di sorga. Tiga kali Paulus memakai "bersama-sama"(= sun) dalam bagian ini: menghidupkan bersama-sama (= sunezopoisen, membangkitkan bersama-sama (=sungeiren dan menempatkan bersama-sama (=sunekathisen). Tetapi cara pemakaiannnya tidak sama. Dalam ayat yang lalu - ayat 5 - Paulus tidak memakai "dalam Kristus" (en khrist), tetapi lebih umum: dengan Kristus (= t khrist). Ketiga ungkapan ini dengan jelas mengatakan, bahwa semuanya adalah karya Allah dalam Kristus untuk anggota-anggota jemaat. Karena itu pada "bersama-sama" yang pertama mereka diperingatkan: "oleh kasih-karunia kamu diselamatkan". "Bersamasama yang kedua dan ketiga itu menjelaskan "bersama-sama" yang pertama - Mereka dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus, karena itu mereka mendapat bagian dalam hidup-Nya. Mereka ditempatkan bersama-sama dengan Dia di sorga, karena itu mereka memperoleh tempat mereka yang tetap. H Schlier menganggap ayat 6 sebagai pendapat yang mulamula dari Paulus tentang baptisan. Dalam ayat ini bukan saja dikatakan bahwa kita ditempatkan "di dalam sorga" (= en tois epouraniois), tetapi juga "di dalam Kristus" (= en khrist). Hal ini menyatakan, bahwa "kita" ditempatkan bersama-sama dengan Kristus di dalam sorga bukan di dalam eksistensi kita, tetapi di dalam Krisus Yesus, artinya sebagai orang-orang yang mempunyai eksistensinya di dalam Dia. Itu yang dimaksudkan oleh baptisan. Dibaptis artinya: dalam Kristus dan dengan ditempatkan di dalam sorga. Di samping "dengan Kristus" (= sun khrist). Paulus di sini memakai juga "dalam Kristus" (en khrist). Ini bukanlah plerophori rhetoris, tetapi cara pengungkapan yang teliti. Karena orang-orang mati (= orang-orang berdosa) dalam baptisan dipersatukan dengan Kristus dan dihidupkan kembali, karena mereka dibangkitkan dari antara orang-orang mati (dalam persatuan dengan Kristus oleh baptisan) dan ditempatkan di dalam sorga, karena itu mereka menggantikan eksistensi mereka dengan suatu eksistensi yang baru, yaitu eksistensi "dalam Kristus". Dan sebaliknya, karena mereka dalam baptisan mendapat eksistensi "dalam Kristus", mereka juga dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dan ditempatkan di sorga. Demikianlah mereka sekarang berada dalam Kristus dengan

Dia di sorga. Mereka berada di sana sebagai tubuh dari Dia yang adalah Kepala jemaat. Pandangan ini, menurut Schlier, adalah konsekuensi dari ajaran, bahwa orang-orang yang dibaptis itu mati, dikuburkan dan bangkit kembali dan berada sekarang "dalam Kristus." Mengapa Tuhan Allah berbuat demikian? jawabnya Paulus berikan pada ayat 7: supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kekayaan yang melimpah-limpah dari kasih-karunia-Nya kepada kita dalam Kristus Yesus. Itulah maksud dan tujuan yang utama dari pekerjaan Allah. Ia berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya: supaya ia menunjukkan (= hina endeixtai...) Kata endeixtai, (aorist, aktif) berasal dari kata endeiknumi dan berarti: menunjukkan, mendemonstrasikan, begitu rupa, sehingga nyata (= tampak, kelihatan) kepada tiap-tiap orang. Apakah yang Ia tunjukkan? Atau lebih tepat: Apakah yang akan Ia tunjukkan (pada masa/periode yang akan datang)? Menurut nas kita, "kekayaan yang melimpah-limpah dari kasih-karunia-Nya". Tuhan Allah menyelamatkan manusia dari ke-"mati"annya (ayat 1 dan 3) dan membawanya kepada kemuliaan, supaya ia dari zaman ke zaman dari masa/periode - melihat pekerjaan (= kasih karunia) Allah yang Ia kerjakan dalam Anak-Nya, Yesus Kristus. Sama seperti dalam 1:7 dan 18 (bnd. 3:8, 16) Paulus di sini memakai kata ploutos (= kekayaan), yang memperkuat pengertian huperballon (= melebihi ukuran, melimpah-limpah): kata ini bukan saja mengandung arti kuantitatif, tetapi juga arti kualitatif, sama seperti kata Indonesia "kekayaan", yang mengingatkan kita kepada kilau, cahaya, dan sebagainya. Pekerjaan Allah selamanya kaya dan mulia. Dalam nas kita kekayaan dan kemuliaan itu mengenai kharis (= kasih-karunia) Allah. Ada penafsir antara lain FW Grosheide - yang menghubungkan kekayaan yang melimpah-limpah dari anugerah Allah ini dengan apa yang Allah buat pada waktu-waktu - masamasa/periode-periode - yang akan datang di antara orang-orang kafir (Efesus3:8). Dalam nas ini kuantitas dari anugerah Allah, menurut mereka, tampak dengan jelas, justru karena orang-orang kafir jauh terpisah dari Allah, lebih jauh daripada orang-orang Yahudi, yang juga tidak disebut dalam hubungan ini. Berkelbach van der Sprenkel melihatnya dalam perspektif yang lebih luas. Ia katakan, bahwa dalam kasih-karunia (= kharis) Allah, seperti yang ia tampak dalam hidup jemaat di dunia ini, terletak suatu unsur eskatologis yang kuat. Dalam nas ini Paulus dengan tegas mengakui pekerjaan Allah yang mencakupi seluruh kosmos. Kebaikan (= khrstots) Allah kepada jemaat ialah tempat, dari mana terang pekerjaan Allah menyinarkan cahayanya ke atas perspektif-perspektif yang

jauh. Dalam lanjutan nas kita ini Paulus jelaskan apakah isi kharis (= kasih-karunia/ anugerah) Allah itu: "kebaikan-Nya kepada kita dalam Yesus Kristus". Bagian kalimat en khrstotti eph hmas en khrist isou harus dianggap sebagai suatu ungkapan dan erat berhubungan dengan bagian kalimat yang mendahuluinya: Kasih-karunia Allah, yang diakui sekarang dalam iman, sekali kelak akan tampak dalam kekayaannya yang melimpah-limpah kepada tiap-tiap orang "dalam kebaikan kepada kita dalam Kristus Yesus". Khrstots (= kebaikan) boleh dikatakan sama artinya dengan (= kasih-karunia) Allah itu: "kebaikan-Nya kepada kita dalam Yesus dan tidak berkata-kata tentang anugerah atau kasih-karunia yang mengampuni dosa. Ia adalah kebaikan Allah, yang tidak diharapkan oleh manusia yang berdosa, tetapi yang dilimpahkan atas mereka (eph hmas) dalam Kristus, artinya dalam persekutuan dengan Dia, oleh pekerjaan-Nya. Arti Khrstots dapat kita lihat dalam nas-nas seperti Roma 2:4 di mana kata ini dipakai bersama-sama dengan anokh (= kesabaran) dan makrothumia (= panjang sabar), dan Titus 3:4, di mana kata itu dihubungkan dengan philanthrpia (= kasih kepada manusia). Lawan khrstots ialah apotomia (= kekerasan), bandinglan Roma 11:12.

Top BP Merdeka dlm Kristus Post subject: Re: VOCAL IBRANI Posted: Tue Dec 16, 2008 7:00 am

C. Hidup dalam pengucapan syukur (2:8-10).

Efesus 2 :8-10 2 :8LAI TB, Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, KJV, For by grace are ye saved through faith; and that not of yourselves: it is the gift of God: TR, Joined: Fri Jun Translit interlinear, t gar {sebab/ karena} khariti {anugerah} este 09, 2006 5:20 pm sessmenoi {kamu/ kalian telah diselamatkan} dia {melalui} ts pistes

Posts: 8089

{iman} kai {dan} touto {ini} ouk {bukan} ex {karena} humn {kalian} theou {dari Allah} to dron {pemberian} 2:9 LAI TB, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. KJV, Not of works, lest any man should boast. TR, Translit interlinear, ouk {bukan} ex {dari} ergn {pebuatan2 kalian (dari pelakukan hukum2 taurat)} hina {supaya} m {jangan} tis {ada orang} kaukhstai {menyombongkan diri} 2:10 LAI TB, Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. KJV, For we are his workmanship, created in Christ Jesus unto good works, which God hath before ordained that we should walk in them. TR, Translit interlinear, autou {-Nya} gar {karena} esmen {kita adalah} poima {ciptaan} ktisthentes {diciptakan} en {dalam} khrist {kristus} isou {Yesus} epi {untuk} ergois {perbuatan2} agathois {yg baik} hois {yang} protoimasen {menyiapkan sebelumnya} ho theos {Allah} hina {supaya} en {di dalam} autois {mereka} peripatsmen {kita hidup} Dalam ayat 8 Paulus kembali lagi kepada apa yang telah ia katakan dalam ayat 5 dan serentak menjelaskannya lebih lanjut. Ia katakan: Sebab karena kasih-karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan usahamu, tetapi pemberian Allah. Kata "Sebab" (=gar) menghubungkan ayat ini dengan parenthese dan ayat 5. Dengan memakai kata ini Paulus seolah-olah mau mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan dalam paren-these di atas adalah benar: Mereka diselamatkan karena kasih-karunia. Dan ia menambahkan, oleh iman (= dia ts pistes). Iman adalah alat untuk memperoleh keselamatan atau - kalau mau - kasih-karunia Allah. Iman dalam arti ini kita banyak dapati dalam surat-surat Paulus. Kecuali dalam nas kita, kata itu .disebut dalam Kolose (2:12 sebagai alat (tangan) yang menerima kebangkitan dalam Kristus, dalam Efesus 3:17 sebagai alat (jalan) yang membawa Kristus masuk dan berdiam di dalam hati anggota-anggota jemaat, dalam Roma 3:22 sebagai jalan yang memimpin kepada dikaiosun (= kebenaran), dalam Filipi 3:9 (bandingkan Roma 3:30; Galatia 2:16) sebagai jalan yang memimpin kepada dikaithenai (= kebenaran), dalam Galatia 3:20 sebagai jalan yang memimpin kepada status anak. Seluruh bagian ini sangat personal langsung mengenai tiap-tiap anggota Jemaat.. Halini dapat kita lihat antara lain pada kata "kamu/ kalian" yang beberapa kali dipakai dalam ayat 8 ini dan ayat 9. Tetapi dengan pistis (iman) segi subyektifnya secara khusus menonjol ke muka. Paulus

mengetahui. hal itu. Dan ia juga mengetahui, bahwa perkataannya dapat disalah-tafsirkan. Karena itu ia menjelaskan: Itu bukan usahamu! Sebenarnya tertulis: Itu bukan dari kamu (= touto ouk ex umn )! Itu adalah pemberian Allah (= theou to dron). Anggota-anggota jemaat harus tahu, bahwa keselamatan mereka bukanlah hasil usaha mereka sendiri, tetapi pemberian Allah. Malahan lebih daripada itu. Juga iman mereka adalah anugerah (kasih-karunia)-Nya. Dalam ayat yang berikut - ayat 9 - Paulus lanjutkan penjelasan ini: Itu bukan pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri! Ada penafsir antara lain FW Grosheide - yang menduga, bahwa Paulus sangat berat memberikan tekanan pada kasih-karunia Allah itu ialah karena di dalam jemaat Efesus terdapat anggapan yang salam tentang hubungan antara pekerjaan (=ergn) dan keselamatan (= steria). Dugaan ini mempunyai dasar yang kuat. Pertama, karena dalam nas ini Paulus memakai "pekerjaan" dalam bentuk-jamak: ergn. Dan ergn / erga (dalam Perjanjian Baru) biasanya adalah erga nomou (= pekerjaan hukum Taurat, Roma 3:20; 28; Galatia 2: 16; 3:2,5,10), atau - ditinjau dari sudut lain erga ts sarkos (= pekerjaan/perbuatan daging, Galatia 5:19) atau juga erga tou skotous (= pekerjaan/perbuatan kegelapan, Roma 13:12; Efesus 5:11; dll.). Dari nas-nas ini dan nas-nas lain (umpamanya Roma 9:12, 32; 11:6; bandingkan 2 Timotius 1:9) nyata, bahwa yang Paulus maksudkan dengan erga dalam nas kita ialah erga nomou, yaitu pekerjaan/perbuatan yang salah menafsirkan hukum Taurat dan yang karena itu menonjolkan diri sendiri sebagai prestasi manusia (tanpa "bantuan" dari pihak Allah). Kedua karena dalam ayat yang berikut - ayat 10 - Paulus berkata-kata tentang erga agatha (= pekerjaan baik) sebagai lawan dari erga nomou. Untuk meniadakan anggapan yang salah ini, demikian penafsir-penafsir itu, maka Paulus menegaskan: Itu bukan pekerjaan kamu (= ouk ex ergon)! Itu adalah pemberian Allah. Karena itu jangan kamu memegahkan diri! Ungkapan "memegahkan diri" Paulus pakai di sini dalam artinya yang hakiki. Ungkapan itu menyatakan usaha pembangunan diri sendiri, yang tidak berdasar atas pemberian Allah, tetapi atas prestasi manusia, baik dalam bentuk pekerjaan/perbuatan, maupun dalam bentuk pengetahuan (bandingkan Roma 2:17 ; 23 ; 1 Korintus 1:29 dyb.; 3:12; 4:7; Filipi 3:3 (kaukhaomai; Roma 4:2; Galatia 6:4 (kaukhma; Roma 3:27 (kaukhsis); bandingkan phusio, yang dipakai berganti-gantian dengan kaukhaomai (bandingkan 1 Korrintus 4:6, 19-19; 5:2 ; 8:1 ; 14:4 ; Kolose 2:18). "Jangan kamu memegahkan diri" artinya: Jangan kamu menyangka bahwa pekerjaan yang kamu kerjakan di dalam atau di luar jemaat itu adalah suatu jasa, dan bahwa karena itu keselamatanmu dapat kau peroleh berdasarkan jasa-jasamu, ataupun berdasarkan kesalehan melakukan ketentuanketentuan Taurat itu sehingga kamu mengharapkan segala sesuatu dari dirimu sendiri. Semuanya adalah kasih-karunia Allah. Penting kita perhatikan di sini bahwa kata sentral dalam ayat-ayat ini bukanlah "iman"

(= pistis), tetapi "kasih-karunia" (=kharis) yang muncul lagi dalam kata "pemberian" (=dron) Allah. Dalam ayat 10 Paulus memberikan motivasi dari perkataannya itu. Ia katakan: Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, sebagai lingkungan hidup kita. Yang dimaksudkan di sini dengan "kita" ialah anggota-anggota jemaat, yang dibangkitkan dari antara orang-orang mati dan ditempatkan bersama-sama dengan Kristus di sorga. Mereka adalah ciptaan baru. ktiz adalah pengertian yang mencakup baik ciptaan yang pertama, maupun ciptaan yang kedua (bandinglan pada satu pihak Roma 1:25 ; 1 Korintus 1:9 ; Efesus 3:9 ; Kolose 1:16 ; 1 Timotius 4:3 ; Wahyu 4:11 ; 10:6 ; ktisis: Roma 1:20, 25 ; 8:29 ; dll.; ktisma: 1 Timotius 4:4 ; dll.; dan pada pihak lain Efesus 2:15 ; Kolose 3:10 ; kain ktisis: 2 Korintus 5:17 ; Galatia 6:15). Mereka mendapat eksistensinya di dalam Kristus. Hal itu nyata dari ungkapan ktisthentes en khrist {kristus} isou (= diciptakan dalam Kristus Yesus). Bukan apa? Jawab Paulus: Untuk melakukan pekerjaan baik (= epi ergois agathois). "[url=http://www.blueletterbible.org/lang/lexicon/Lexicon.cfm? Strongs=G1909]Epi[/color]" bentuk datif menyatakan tujuan (bandingkan Galatia 5:13; Filipi 3:12; 1 Tesalonika 4:7; 2 Timotius 2:14). Dalam surat-surat Paulus ergon agathon (= pekerjaan baik), kecuali dalam 1 Timotius 2:10, hanya kita temui dalam bentuktunggal (bandingkan Roma 2:7; 13:3). Sungguhpun demikian, Paulus kadang-kadang berkata-kata juga tentang pan ergon agathon (= 5:10; 2 Timotius 2:21; 3:17; Titus 1:16; 3:1). Anggota-anggota jemaat tidak diselamatkan oleh pekerjaan/perbuatan baik, tetapi diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan/perbuatan baik. Keselamatan itu bukan pekerjaan/perbuatan manusia, tetapi pekerjaan/perbuatan Allah. Segala sesuatu, yang kita butuhkan untuk keselamatan kita, Ia berikan. Malahan keselamatan kita sendiri adalah pemberian-Nya. Tugas kita ialah: menerima pemberian itu dan - sebagai tanda pengucapan syukur kita meneruskannya kepada (membagibagikannya dengan) orang lain. Untuk itu Ia telah mempersiapkan pekerjaan/perbuatan baik bagi kita, supaya kita boleh hidup di dalamnya. Yang Paulus maksudkan di sini dengan "hidup di dalam pekerjaan baik" _ lawannya "hidup di dalam dosa", ayat 2 - ialah: terus-menerus melakukan pekerjaan baik. Suatu hidup, yang sesudah diselamatkan oleh Kristus dan dipersatukan dengan Dia, bukan hanya mungkin, tetapi juga harus (wajib).