P. 1
Makalah PLH

Makalah PLH

|Views: 973|Likes:
Dipublikasikan oleh Elis Listiandini
Contoh makalah untuk SMP pelajaran PLH
Contoh makalah untuk SMP pelajaran PLH

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Elis Listiandini on Feb 09, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2014

pdf

text

original

BAB I SEJARAH JAWA BARAT

Temuan arkeologi tertua mengenai penghuni Jawa Barat ditemukan di Anyer dengan ditemukannya budaya logam perunggu dan besi dari sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman Buni (Bekasi kuno) dapat ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon. Jawa Barat pada abad ke 5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara. Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara akibat serangan kerajaan Sriwijaya berdasarkan prasasti Kota Kapur (Tahun 686), kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Ciserayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor). Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi ancaman kepada Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cirebon lepas dari Kerajaan Sunda atas bantuan Kesultanan Demak. Pelabuhan Cirebon kemudian menjadi Kesultanan Cirebon yang merdeka dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian menjadi Kesultanan Banten. Untuk menghadapi ancaman Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak, Sri baduga Maharaja, raja Sunda saat itu meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan bangsa Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang dikenal dengan Luso-Sundanese Treaty, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut Padrao di tepi sungai Ciliwung di sekitar daerah Tugu.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

1

Meskipun

perjanjian

pertahanan

keamanan

dengan

Portugis

telah

dibuat,

pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan, menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon. Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan jatuh ke tangan Kesultanan Mataram. Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB. Namun Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

2

BAB II BIOGEOGRAFI WILAYAH JAWA BARAT

I. SELAYANG PANDANG PROPINSI JAWA BARAT I. 1 Makna bentuk dan motif lambang

Secara keseluruhan lambang Pemerintah Propinsi Jawa Barat berbentuk bulat telur dengan hiasan pita di bagian bawahnya yang berisikan motto Jawa Barat. Makna daripada bentuk dan motif yang terdapat dalam lambang ialah : A. Bentuk bulat telur pada lambang Jawa Barat berasal dari bentuk perisai yang banyak dipakai oleh para laskar kerajaan zaman dahulu, makna perisai sebagai penjagaan diri. B. Kujang yang berada di tengah-tengah adalah senjata pusaka yang tajam serba guna bagi masyarakat Sunda masa lalu. Lima lubang pada kujang melambangkan dasar negara, Pancasila. C. Setangkai padi yang terdapat di sisi sebelah kiri melambangkan bahan makanan pokok masyarakat Jawa Barat sekaligus juga melambangkan kesuburan pangan, dan jumlah padi 17 menggambarkan tanggal Proklamasi Republik Indonesia. D. Kapas yang berada di sebelah kanan melambangkan kesuburan sandang, dan 8 kuntum bunga menggambarkan bulan proklamasi Republik Indonesia. E. Gunung yang terdapat di bawah padi dan kapas melambangkan bahwa daerah Jawa Barat terdiri atas daerah pegunungan.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

3

F. Sungai dan terusan yang terdapat di bawah gunung sebelah kiri melambangkan di Jawa Barat banyak terdapat sungai dan saluran air yang sangat berguna untuk pertanian. G. Petak-petak yang terdapat di bawah gunung sebelah kanan melambangkan banyaknya pesawahan dan perkebunan. Masyarakat Jawa Barat umumnya hidup mengandalkan kesuburan tanahnya yang diolah menjadi lahan pertanian. H. Dam/bendungan yang terdapat di tengah-tengah bagian bawah antara gambar sungai dan petak, melambangkan kegiatan di bidang irigasi yang merupakan salah satu perhatian pokok mengingat Jawa Barat merupakan daerah agraris.

1.2 Makna Warna Warna yang mendominasi pada lambang Jawa Barat adalah hijau, makna warna-warna yang dipergunakan dalam mewarnai motif lambang adalah: A. Hijau bermakna kesuburan dan kemakmuran tanah Jawa Barat B. Kuning bermakna keagungan, kemulyaan dan kekayaan. C. Hitam bermakna keteguhan dan keabadian. D. Biru bermakna ketentraman atau kedamaian E. Merah bermakna keberanian. F. Putih bermakna kemurnian /kesucian atau kejujuran. 1.3 Moto Daerah Motto daerah Jawa Barat adalah “Gemah Ripah Repeh Rapih”, kata gemah-ripah dan repeh-rapih merupakan kata majemuk yang mempunyai arti sebagai berikut : - Gemah-ripah : subur makmur, cukup sandang dan pangan. - Repeh-rapih : rukun dan damai atau aman sentosa. Arti dari motto daerah Jawa Barat secara keseluruhan ialah menyatakan bahwa Jawa Barat merupakan daerah yang kaya raya/subur makmur didiami oleh banyak penduduk yang hidup rukun dan damai.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

4

1.4 Arti Kata Sunda Dalam buku “Sejarah Sunda” karya R. Ma’mun Atmamihardja yang diterbitkan tahun 1958, arti kata Sunda menurut penyelidikannya dapat disimpulkan sebagai berikut: dalam bahasa Sansekereta : Sunda artinya bersinar, terang, nama dewa Wisnu, nama satria buta dalam cerita “Upa Sunda dan Ni Sunda : dalam bahasa Kawi : Sunda artinya air, tumpukan, pangkat, waspada; dalam bahasa Jawa : Sunda artinya bersusun menyusun), berganda, kata atau suara, naik, terbang; dalam bahasa Sunda : Sunda artinya bagus, indah, unggul, cantik, menyenangkan. 1.5 Kabupaten dan Kota Di Jawa Barat No. Kabupaten/Kota Ibu kota 1 Kabupaten Bandung Soreang 2 Kabupaten Bandung Barat Ngamprah 3 Kabupaten Bekasi Bekasi 4 Kabupaten Bogor Cibinong 5 Kabupaten Ciamis Ciamis 6 Kabupaten Cianjur Cianjur 7 Kabupaten Cirebon Sumber 8 Kabupaten Garut Garut 9 Kabupaten Indramayu Indramayu 10 Kabupaten Karawang Karawang 11 Kabupaten Kuningan Kuningan 12 Kabupaten Majalengka Majalengka 13 Kabupaten Purwakarta Purwakarta 14 Kabupaten Subang Subang 15 Kabupaten Sukabumi Pelabuanratu 16 Kabupaten Sumedang Sumedang 17 Kabupaten Tasikmalaya Singaparna 18 Kota Bandung Bandung 19 Kota Banjar Banjar 20 Kota Bekasi Bekasi 21 Kota Bogor Bogor 22 Kota Cimahi Cimahi 23 Kota Cirebon Cirebon 24 Kota Depok Depok 25 Kota Sukabumi Cisaat 26 Kota Tasikmalaya Tasikmalaya II. BIOGEOGRAFI JAWA BARAT 2.1 Pengertian Biogeografi (Bioregion)

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

5

Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari pola distribusi tumbuhan dan hewan dengan menggunakan pendekatan analisis spatial (mengacu pada posisi, obyek, dan hubungan diantaranya dalam ruang bumi, termasuk permukaan bumi, dibawah permukaan bumi, perairan, kelautan dan bawah atmosfir), atau Biogeografi adalah Penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi. Pada awalnya konsep biogeografi banyak mendapatkan kritik karena jarang sekali menyentuh faktor-faktor lingkungan alam lainnya dalam satu ekosistem dan faktor manusia dengan aktivitasnya terhadap terjadinya pola distribusi tumbuhan dan hewan tersebut. Hal ini kemudian dipandang sebagai satu kelemahan mendasar dari konsep biogeografi. Karena itu, dalam perkembangan selanjutnya biogeografi mulai menyentuh faktor-faktor ekosistem dan kegiatan-kegiatan manusia untuk memahami pola distribusi organisme mahluk hidup (tumbuhan dan hewan) dalam suatu lingkungan geografi pada masa lalu dan pada saat ini. Bersamaan dengan perkembangan tersebut kemudian muncul istilah baru yang dikenal sebagai konsep Bioregion. Bioregion Jawa Barat merupakan Kawasan/lingkungan fisik wilayah Jawa Barat yang pengelolaanya tidak ditentukan oleh batasan politik dan administrasi, tetapi oleh batasan geografi, komunitas manusia serta system ekologi. Dengan demikian, bioregion jugamempunyai pengertian ekoregion, yaitu pengelolaan kawasan yang didasarkan pada prioritas ekosistem dan habitat alami setempat.

cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa2.2 Kondisi Geografis dan faktor lingkungan Jawa Barat 2.2.1 Letak Geografis Dan Astronomi Letak Geografis Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat. Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

6

Letak astronomisnya antara 5”50’-7”50’Lintang Selatan dan antara 104”48’-108”48’ Bujur Timur. Luas Jawa Barat setelah Banten memisahkan diri dari Jawa Barat adalah lebih kurang 4.417.000 ha (44.170 km2), dengan jumlah penduduk sebanyak 36.456.576 jiwa (BPS tahun 2000). 2.2.2 Luas Daerah Propinsi Jawa Barat memiliki luas 3, 7 juta hektar dengan berbagai tipe ekosistem, mulai dari ekosistem pegunungan, rawa, hingga pantai dan daerah pesisir berbatu di selatan hingga dataran tanah aluvial di utara. Keragaman ekosistem ini akan mempengaruhi tingkat keanekaragaman pada tingkat jenis. Hampir 60 % daerah Jawa Barat merupakan daerah bergunung dengan ketinggian antara 500–3.079 m dpl. sedangkan 40 % merupakan daerah dataran yang memiliki variasi tinggi antara 0–500 m dpl. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa wilayah Jawa Barat didominasi daerah pegunungan atau dataran tinggi. 2.2.3 Iklim Iklim di Jawa Barat hampir selalu basah kecuali untuk daerah pesisir yang berubah menjadi kering pada musim kemarau, dengan curah hujan berkisar antara 1000 mm s/d 6000 mm. Pada daerah selatan dan tengah, intensitas hujan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah utara. Musim hujan di daerah Jawa Barat lebih lama, karena pada waktu musim timur (arus angin dari benua Australia) tiba, angin barat belum hilang dan masih menurunkan hujan. Di daerah ini angka rata-rata curah hujan di atas 2.000 mm, di beberapa daerah pantai curah hujannya antara 3.000-5.000 mm. Jumlah hari hujan di daerah tinggi, misalnya Bogor adalah 352 hari per tahun, dan di daerah rendah 138 hari per tahun.

2.2.4 Curah Hujan Curah hujan di daerah tengah dan selatan yang lebih tinggi memberikan kontribusi dalam profil hutan yang masih dapat dijumpai saat ini. Apabila diperhatikan, meskipun bukan

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

7

satu-staunya penyebab, kondisi hutan daerah tengah dan selatan relatif lebih baik dibandingkan daerah lainnya. 2.2.5 Suhu Udara Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Pada umumnya suhu udara rata-rata di Jawa Barat beragam dari 180C-220C. Selain curah hujan, kondisi Jawa Barat bagian selatan pun didominasi oleh daerah pegunungan dengan beberapa gunung berapi yang sudah tidak aktif diantaranya adalah) dan beberapa yang aktif 2.2.6 Pegunungan Demikian pula dengan daerah tengah Jawa Barat yang juga didominasi oleh pegunungan. Beberapa gunung tinggi yang masih aktif yaitu Gn. Gede-Pangrango (3.019 m) , Gn. Ciremai (3.078 m) dan Gn. Tangkuban Perahu (2.076), Gn. Galunggung (2.168 m), Gn. Cikurai (2.800 m), Gn. Papandayan (2.622 m), dan Gn. Guntur (2.249 m). serta beberapa gunung yang sudah tidak aktif adalah Gn. Salak (2.211 m), Gn. Halimun (1.744 m), Gn. Ciparabakti (1.525 m) dan Gn. Cakrabuana (1.721 m). Gn. Patuha (2.434 m), Gn. Wayang-Windu (2.182 m), Gn. Malabar (2.350 m), Gn. Kendang (2.608 m), Gn. Talaga Bodas (2.241 Kondisi yang masih didominasi oleh pegunungan ini pun telah memberikan kontribusi dalam perlindungan dan pelestarian terhadap ekosistem alami.

2.2.7 Hutan Daerah selatan merupakan daerah yang memiliki luasan hutan yang dominan di Jawa Barat, dan 9.5% diantaranya merupakan hutan alami. Dan hampir 60% wilayah hutan yang ada di Jawa Barat berada di daerah selatan. Luas hutan yang ada di Jawa Barat mencapai 864,87 ribu Ha, yang terdiri atas 612,05 ribu Ha merupakan hutan konservasi yang terdiri dari hutan lindung, cagar alam, taman nasional dan hutan mangrove, sedangkan sisanya yaitu seluas 252,82 ribu Ha merupakan hutan produksi. Hutan mangrove yang ada di Jawa Barat terhampar di pantai utara. Tipe hutan yang ada di Jawa Barat dapat dikatakan lengkap, mulai dari hutan

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

8

daerah pesisir yaitu hutan mangrove dan hutan dataran rendah (lowland forest) hingga hutan sub alpin. 2.2.8 Wilayah Aliran Sungai (WAS) Sementara itu daerah utara Jawa Barat merupakan daerah dataran sedang hingga dataran rendah. Dataran rendah ini didominasi oleh dataran aluvial. Pada daerah ini terdapat dua wilayah aliran sungai (WAS) besar dan sangat berpengaruh pada daerah Jawa Barat bermuara ke pantai utara, yaitu WAS Citarum dan WAS Cimanuk. Daerah utara Jawa Barat merupakan daerah yang sangat subur dan merupakan daerah pesawahan yang terbesar di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut maka populasi manusia terbesar dan industri di Jawa Barat berada pada daerah ini. Oleh karena itu kawasan utara ini memiliki tingkat ancaman dan kerusakan yang lebih tinggi dibandingkan daerah tengah dan selatan. Di dataran Jawa Barat mengalir sungai utama di antaranya: Citarum (268 km), Cimanuk (258,4 km), Cidurian (181,5 km), Cipunegara (148 km), ciujung (147,2 km),Cisadane (144 km), Citanduy (130 km), Ciliwung (118,5 km), disamping itu terdapat beberapa sungai lain yang panjangnya kurang dari 110 km. Daerah Jawa Barat memiliki 9 wilayah aliran sungai, antara lain: WAS Citarum (671,9 ribu Ha), WAS Cisadane-Ciliwung (372 ribu Ha), WAS Cipunagara-Cilamaya (443,5 ribu Ha), WAS Cimanuk (450 ribu Ha), WAS Cisanggarung – Ciwaring (260,4 ribu Ha), WAS Cimandiri – Ciletuh (349,25 ribu Ha), WAS Cibuni – Cilaki (420,42 ribu Ha), WAS Citanduy (261,86 ribu Ha), WAS Ciwulan – Ciputrapinggan (413,84 ribu Ha). Selain itu Jawa Barat juga memiliki pengairan darat berupa danau atau waduk seluas 19,4 ribu Ha. 2.2.9 Danau/Situ Tidak sedikit danau/situ yang terdapat di daerah Jawa Barat baik yang terwujud secara alamiah maupun buatan manusia. Danau atau situ yang paling dikenal adalah : Situ Bagendit di Garut, Situ Gede di Tasikmalaya, Situ Panjalu di Ciamis. Danau Jatilihur di Purwakarta, Waduk Darma di Kuningan, Danau Rentang di Indramayu, Situ Cileunca di Pangalengan Bandung, Situ Patenggang di Ciwidey Bandung, Situ Lembang di Lembang. 2.2.10 Pesisir Pantai

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

9

Pada kedua pesisir yaitu pesisir utara dan pesisir selatan, masing-masing memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Pada pesisir utara pantai jarang sekali ditemukan gugusan terumbu karang, tetapi daerah ini kaya akan padang lamun dan pantainya lebih banyak didominasi oleh hutan mangrove. Sedangkan pesisir selatan merupakan pantai yang memiliki tipologi berbatu dan berpasir, sehingga sering ditemukan gugusan terumbu karang. 2.2.11 Faktor Lingkungan Kondisi faktor lingkungan yang berbeda pada kawasan utara dan selatan, demikian pula dengan tingkat kepadatan penduduk, telah mempengaruhi tingkat ancaman yang berbeda terhadap keanekaragaman hayati. Kawasan utara yang memiliki ancaman kelestarian relatif lebih tinggi memerlukan upaya perlindungan sekaligus rehabilitasi. Melalui perlindungan dan rehabilitasi diharapkan tingkat keanekaragaman hayati kawasan Utara Jawa Barat dapat ditingkatkan dimasa yang akan datang. Sementara kawasan selatan dan tengah yang relatih masih baik kondisi

keanekaragaman hayatinya memerlukan upaya yang terutama berperan dalam perlindungan dan perencanaan wilayah yang baik, dan berpihak pada kelestarian lingkungan. 2.3 Keanekaragaman Flora Jawa Barat mempunyai keanekaragaman tumbuhan yang tinggi. Di Jawa Barat terdapat 3.882 jenis (spesies) tumbuhan berbunga dan tumbuhan paku asli Jawa Barat dan 258 jenis yang dimasukkan dari luar. Perbandingan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk tumbuhan asli adalah 3.882:2.851:2.717. Khusus untuk anggrek (Orchidaceae) di Pulau Jawa, di Jawa Barat terdapat 607 jenis alami, 302 jenis (50 %) hanya ada di Jawa Barat (Van Steenis dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965). Menurut Comber (1990) di Jawa Barat terdapat 642 jenis anggrek dan yang hanya terdapat di Jawa Barat 248 jenis. Tumbuhan yang termasuk pohon, di Jawa Barat terdapat 1.106 jenis (Prawira, tbt.) dengan 51 jenis disebut dengan pohon-pohon yang penting, diantaranya jati (Tectona grandis), rasamala (Altingia excelsa), kepuh (Sterculia foetida), jamuju (Podocarpus imbricatus), bayur (Pterospermum javanicum), puspa (Schima wallichii), kosambi (Schleichera oleosa), beleketebe (Sloenea sigun), pasang (Lithocarpus spp.), pedada (Sonneratia alba), bakau (Rhizhopora mucronata), dll.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

10

Tipe-tipe vegetasi yang ada di Jawa Barat adalah (Van Steenis dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965):

• •

• •

• •

Vegetasi litoral, termasuk di sini jenis-jenis tumbuhan lamun seperti setu (Enhalus acoroides), Thalassia hemprichii, dan berbagai jenis alga seperti Gelidium, Gracilaria dan Euchema yang menghasilkan agar-agar Hutan bakau (mangrove), antara lain bakau (Rhizophora spp.), pedada (Sonneratia spp.), api-api (Avicennia spp.), tarungtung (Lumnitzera littorea). Formasi pantai antara lain formasi Barringtonia yang ditandai oleh keben (Barringtonia asiatica), ketapang (Terminalia catappa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), dll. Hutan rawa dataran rendah, antara lain reungas (Gluta renghas), bungur (Lagerstroemia spp.), cangkring (Erythrina fusca) dll. Hutan hujan dataran rendah dan perbukitan. Formasi ini terdapat pada ketinggian di bawah 1500 dpl. (Zona tropis 1-1000 dpl., zona submontana 1000-1500 dpl.). Antara lain berbagai jenis bambu (Bambusa spp., Gigantochloa spp.), mara (Mallotus spp., Macaranga spp.), kareumbi (Omalanthus populneus), dan teureup (Artocarpus elasticus) dll. Hutan hujan pegunungan (zona Montana) pada ketinggian 1500-2400 m dpl. Antara lain rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus spp.), saninten (Castanopsis argentea), hamirung (Vernonia arborea), puspa (Schima wallichii), huru (Litsea spp., Phoebe spp.), jamuju (Podocarpus imbricatus), dan kihujan (Engelhardia spp.) dll. Danau dan rawa pegunungan, tumbuhan rawa seperti Eriocaulon spp., Xyris campestris, dll. Lumut Sphagnum ditemukan di Gunung Gede dan Patuha. Vegetasi sub alpin, di atas 2400 m dpl. Daerah ini lebih miskin dariapada hutan hujan pegunungan, didominasi oleh suku Ericaceae seperti cantigi (Vaccinium spp.), Rhododendron spp., gandapura (Gaultheria spp.), dan jenis-jenis lain yang khas seperti ramo kasang (Schefflera spp.), kiteke (Myrica javanica), jirak (Symplocos sessilifolia) dll. Menurut Van Steenis (1972) terdapat 39 jenis tumbuhan pegunungan yang

dikategorikan jarang (‘rare’) di Jawa Barat, 18 jenis diantaranya sejauh ini diduga endemik (Meskipun ada diantaranya yang ditemukan di tempat lain). Di antara yang endemik tersebut, 11 jenis adalah anggrek (Orchidaceae). Sebelumnya Van Steenis (dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965) menyebutkan ada dua jenis yang endemik di Jawa Barat yaitu Heynella lactea (Tjadasmalang) dan Silvorchis colorata (di sekitar Garut). Menurut Van Steenis (dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965) di Pulau Jawa, dari 6.543 jenis yang ada, 1.523 jenis (23,4 %) adalah tanaman budidaya, sisanya adalah tumbuhan liar (4.598 jenis) dan tumbuhan asing yang ternaturalisasi (413 jenis). Sebagian dari tumbuhan alami terdapat di kawasan konservasi yaitu hutan lindung, cagar alam, suaka margasatwa dan taman nasional. Di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango terdapat 844 jenis tumbuhan berbunga (Sunaryo & Rugayah, 1992).

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

11

Semua jenis tumbuhan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, yang mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat lokal dikenal sebagai etnobotani. Penelitian etnobotani di Jawa Barat sudah banyak dilakukan, antara lain di Kampung Naga (Suandharu, 1998), Cinangka (Murdiati dkk. 1992), Gunung Halimun (Nizma & Darnaedi, 1992; Panggabean & Ladjar, 1992), Pangandaran (Zuhud & Yuniarsih, 1992), dll. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat lokal akan semakin terkikis dengan kemajuan teknologi. 2.4 Keanekaragaman Fauna Secara umum dunia fauna dapat dikelompokkan kedalam: serangga, pisces, amfibi, reptil, aves dan mamalia. Dari kelompok-kelompok tersebut ada fauna yang langsung berhubungan dengan kepentingan manusia yaitu bisa bermanfaat bagi manusia, bersifat hama, disukai untuk dipelihara atau dikonsumsi dan juga fauna dengan status khusus seperti fauna endemik (hanya ditemui di suatu daerah tertentu), langka/hampir punah dan punah. Dalam proyek ini, inventarisasi/ dokumentasi pendahuluan terhadap kelompok-kelompok fauna di atas yang dijumpai di daerah jawa barat telah dilakukan (lihat sub Bab 4.1 dan 4.2). Berdasarkan hasil-hasil yang terdokumentasi, maka dapat dibuat deskripsi singkat yang berkaitan dengan masing-masing kelompok fauna tersebut, yaitu : Kelompok serangga Kelompok ini memiliki berbagai macam manfaat. Salah satu peran serangga yang sangat penting secara ekologis adalah dalam proses penyerbukan (polinasi) yang dilakukan oleh kupu-kupu. Akan tetapi kelimpahan dan keanekaragaman spesiesnya dewasa ini semakin berkurang yang disebabkan oleh beberapa faktor penting yaitu berkurangnya habitat dan eksploitasi untuk diperdagangkan karena umumnya kupu-kupu karena keindahannya. Karena dalam siklus hidupnya serangga biasanya mengalami proses metamorfosis, ada fasefase tertentu dari proses tersebut yang kurang disukai oleh manusia yaitu pada fase larva atau yang lebih dikenal dengan nama ulat. Pada fase ini, serangga biasanya dianggap hama oleh para petani karena merusak tanaman. Di habitat alami, belalang dan jengkrik adalah kelompok serangga yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan burung, reptil dan amfibi. Akan tetapi jenis-jenis belalang tertentu

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

12

apabila populasinya tidak terkendali dapat bersifat hama terhadap tanaman bididaya seperti padi sehingga petani mengalami gagal panen. Kelompok pisces Pada dokumentasi awal ini, inventarisasi difokuskan pada ikan-ikan air tawar yang dijumpai pada daerah aliran sungai citarum dan tiga waduk besar di wilayah jawa barat, yaitu Jatiluhur, Cirata dan Saguling. Dari hasil survey lapangan, ikan-ikan air tawar yang dijumpai pada daerah-daerah tersebut di atas dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu:
• • •

Ikan yang menjadi ciri khas Sungai Citarum o tagih/baung, hampal, keting dan udang batu Ikan khas Sungai Citarum yang tidak ditemukan lagi setelah pembangunan waduk o tawes, lelawak, sengal, arengan, walangi Ikan yang masih bisa ditemukan di sungai dan waduk o deleg, sidat/moa, betok, pepetek, kebo gerang, julung-julung, keting, bereum panon, beunter, sepat, paray, betutu/bodo, jeler, oleng, gabus, belut Ikan budidaya yang diintroduksi ke perairan waduk o patin, ikan mas, nila, gurame Ikan hias yang diintroduksi ke perairan waduk o arwana, golsom, oskar Ikan yang secara tradisi dikonsumsi oleh masyarakat sekitar o tagih/baung Ikan atau udang yang dijumpai pada bulan/periode tertentu o udang batu Kelangkaan dan kepunahan beberapa jenis ikan ‘indigenous’ di daerah aliran Sungai

• • • •

Citarum diakibatkan oleh beberapa hal yaitu: perubahan habitat dari sungai ke danau/waduk, pencemaran dan ‘overfishing’ yang dilakukan untuk kebutuhan pangan. Jenis-jenis ikan yang punah tersebut, yaitu arengan, lelawak, sengal, tawes. walangi belum sempat didomestikasi sehingga informasi yang berkaitan dengan spesies-spesies tersebut tidak banyak. Kelangkaan dan kepunahan beberapa spesies ikan terjadi juga sebagai akibat penggunaan pestisida terutama untuk ikan-ikan yang mendiami ekosistem binaan seperti sawah seperti ikan-ikan kecil/impun dan belut sawah. Kelompok amfibi dan reptil

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

13

Kelompok amfibi dan reptil yang ditemukan di lapangan statusnya semakin hari akan semakin langka. Hal ini diakibatkan karena habitat yang tersedia semakin berkurang dan belum satupun dari jenis kelompok ini yang sudah bisa didomestikasi dan dibudidaya. Kelangkaan beberapa spesies kelompok ini terjadi sebagai akibat perburuan oleh manusia untuk dikonsumsi dan dipelihara antara lain: katak sawah, katak catang, beberapa jenis ular, biawak, bunglon, kura-kura, dll. Beberapa jenis amfibi dan reptil masih sering dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat adalah biawak (disekitar daerah aliran Sungai Citarum dan waduk, danau Sanghyang di Tasikmalaya), kura-kura (disekitar daerah aliran Sungai Citarum dan waduk, sungai-sungai di daerah Bogor/Sentul) Kelompok aves Kelangkaan jenis burung lebih disebabkan karena nilai ekonomis burung yang sangat tinggi sebagai hewan peliharaan sehingga penagkapan liar tidak bisa dihindarkan disamping ketersediaan habitat yang semakin berkurang. Sebagai contoh burung madu di daerah Tangkuban Parahu, berdasarkan laporan terakhir dari hasil survey mahasiswa Biologi-ITB, spesiesnya tidak lebih dari tiga, hal ini disebabkan karena habitatnya terutama sebagai tempat/sumber makanan semakin berkurang sehingga kondisi ini akan menjadi faktor pembatas pertumbuhan populasi burung tersebut. Berdasarkan hasil survey di daerah danau-danau kecil di Sentul/Bogor, beberapa jenis burung air atau yang mencari makan di daerah perairan masih bisa dijumpai seperti belekok, bangau dan raja udang. Beberapa jenis burung sudah bisa dibudidaya/ditangkar dan didomestikasi Kelompok mamalia Kelangkaan jenis mamalia disebabkan oleh dua faktor utama yaitu aktivitas perburuan dan habitat aslinya terganggu. Salah satu contoh penurunan drastis kelompok ini adalah jarang dijumpainya lagi banteng di Hutan Sancang (Garut) dan di Pangandaran. Banteng ini sebenarnya sudah lama menjadi maskot di kedua daerah tersebut.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

14

Usaha penangkaran kelompok mamalia yang ada seperti penangkaran Rusa di Ranca Upas akan sangat bermanfaat bagi kelestarian spesies ini dan juga bisa dijadikan tempat tujuan wisata dan pendidikan/penelitian. Manusia memanfaatkan hewan ini untuk hobi/kesenangan, sumber makanan dan kulitnya untuk bahan sandang.

cara perkawinan dan bBAB III SOSIOANTROPOLOGI JAWA BARAT I. PENGERTIAN SOSIOANTROPOGI

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

15

Sosioantropologi diambil dari kata “Society/social’ (masyarakat) dan “Antropologi”. Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih banyak. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di negaranegara yang telah membangun sangat diperlukan bagi pembuatan-pembuatan kebijakan dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. Antropologi secara garis besar dipecah menjadi dua bagian, yaitu antropologi fisik/biologi dan antropologi budaya. Dengan demikian Sosioantropologi adalah suatu ilmu yang mengkaji sifat-sifat dan hubungan antar masyarakat serta kebudayaannya. Masyarakat (society) dan kebudayaan (culture) saling bergantung satu sama lain. Masyarakat tidak mungkin merupakan satu kesatuan fungsional tanpa kebudayaan. Demikian pula sebaliknya. Individu-individu hanya sebagai medium ekspresi kebudayaan dan melangsungkannya dengan pendidikan terhadap generasi berikutnya.

II. SOSIOANTROPOLOGI JAWA BARAT Kultur alam Priangan adalah daratan tinggi berbukit- bukit landai dan terkadang juga tajam dengan lembah yang curam. Udaranya sejuk segar, zaman dulu bangsa Belanda memanfaatkan keadaan alam Priangan menjadi suatu daerah perkebunan teh dan karet, hingga saat kini kita dapat menjumpai sisa-sisa perkebunan yang membalut sebagian perbukitan alam Priangan. Sebagai peninggalan kerajaan Padjadjaran yang pernah jaya, kreativitas seni budaya Priangan adalah tubuh sosok seni yang terkenal lemah gemulai, lengkingan suling serta dibalut oleh merdunya suara Priangan mendayu-dayu seperti semilirnya angin perbukitan. Tinggalan lain berasal dari peninggalan Prabu Siliwangi yaitu seorang Pemangku Tahta Kerajaan Padjadjaran yang legendaris, kini mahkotanya tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Kabupaten Sumedang, sedangkan tinggalan lainnya adalah Candi Cangkuang di Leles Garut dengan gaya arsitektur Hindu peninggalan abad ke 8. Upacara- upacara adat Priangan ada yang telah dimodifikasi agar lebih menarik dan menjadi seni pertunjukan untuk dipersembahkan kepada khalayak, misalnya upaentuk prosesi lainnya. Kreativitas lainnya adalah Angklung yang telah diangkat menjadi citra musik Indonesia. Angklung telah berhasil memikat perhatian bangsa lain di luar negeri. Para penggemar selalu mengharapkan agar setiap misi kesenian Indonesia yang akan digelar di luar negeri senantiasa menyertakan angklung pada bagian acara yang disajikan, kita patut bangga

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

16

karena dimana angklung bergetar, disana terdapat ciri Indonesia. Demikian memasyarakatnya angklung di Jawa Barat, karena semula angklung adalah alat musik tradisional masyarakat Jawa Barat yang kemudian diangkat oleh Pak Daeng Sutigna dengan “Angklung Diatonis”. Kini hampir setiap sekolah dan Perguruan Tinggi mempunyai perkumpulan angklung yang siap disuguhkan. Untuk meningkatkan citra angklung di Indonesia khususnya Jawa Barat, ITB telah menyelenggarakan seminar tentang Panduan Angklung yang menghadirkan para pembicara “Pakar Kebudayaan Tingkat Nasional”. Untuk mengetahui cara pembuatan angklung, Saung Angklung Udjo Ngalagena di Padasuka Bandung siap setiap saat dan tak pernah sepi dari para pengunjung baik nusantara maupun asing. Beberapa jenis kesenian lainnya yang siap dikemas agar menarik para pelancong diantaranya Tari Keurseus, Tayuban, Jaipongan, Silat, Ketuk Tilu, Cianjuran, dan Longser. Dalam aspek seni rupa, Bandung adalah salah satu daerah yang menjadi potensi nasional disamping Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Di Bandung juga terdapat Galeri-galeri yang siap menyuguhkan pameran seni rupa dan desain. Demikian pula dalam seni arsitektur dan desain, Bandung adalah termasuk kota mode di Indonesia. Untuk mengetahui cara pembuatan angklung, Saung Angklung Udjo Ngalagena di Padasuka Bandung siap setiap saat dan tak pernah sepi dari para pengunjung baik nusantara maupun asing. Beberapa jenis kesenian lainnya yang siap dikemas agar menarik para pelancong diantaranya Tari Keurseus, Tayuban, Jaipongan, Silat, Ketuk Tilu, Cianjuran, dan Longser. Dalam aspek seni rupa, Bandung adalah salah satu daerah yang menjadi potensi nasional disamping Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Di Bandung juga terdapat Galeri-galeri yang siap menyuguhkan pameran seni rupa dan desain. Demikian pula dalam seni arsitektur dan desain, Bandung adalah termasuk kota mode di Indonesia.

III.
• • • • • • •

Beberapa Obyek Wisata Di Jawa Barat Pantai Pangandaran, Ciamis Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi Gunung Tangkuban Perahu Puncak, Bogor - Cianjur Ciater, Subang Linggajati, kuningan Kebun Raya Bogor

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

17

• • • • • • • • • • • •

Taman Safari Indonesia Taman Wisata Mekarsari Keraton Kasepuhan, Cirebon Keraton Kanoman Cirebon Situ Patenggang, Ciwidey Cipanas, Garut Pantai Ujung Genteng, Sukabumi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung Kebun Raya Cibodas Waduk Jatiluhur, Purwakarta Taman Bunga Nusantara, Cianjur Observatorium Bosscha, Bandung Beberapa Rumah Adat Di Jawa Barat

IV.

1. Rumah Adat Citalang 2. Rumah Adat Lengkong 3. Rumah Adat Panjalin V. Beberapa Kampung Adat Di Jawa Barat 1. Kampung Cikondang 2. Kampung Kuta 3. Kampung Mahmud 4. Kampung Urug 5. Kampung Dukuh 6. Kampung Naga 7. Kampung Pulo 8. Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar

VI.

Makanan Khas JAWA BARAT: comro, bala-bala,

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

18

Bandung : lomie, lotek, batagor, siomay?, karedok sayur dan karedok leunca, soto bandung, peuyeum bandung, colenak, mie kocok, bandrek, bajigur Bogor : lumpia bogor, asinan, ayam kuning, laksa, gohiong, sekba, soto mi ciseeng, kue pepes, pangsit pengantin, toge goreng

VII.

Beberapa kesenian khas dari berbagai daerah di Jawa Barat diantaranya adalah:

1. Kota Bandung Benjang, Angklung, Jaipongan, Reak, Pantun Buhun, Sandiwara, Tembang Sunda Cianjuran, Calung, Calempungan, Degung, Debus, Gondang, Jenaka Sunda, Kliningan, Kuda Lumping, longser, Pencak Silat Tayub, Tari Keurseus, Wayang golek, Qasidah, Arumba, Reog, Forum Sastra Bandung, Studi Barli, Studio Jeihan, Nasyid, Pop Sunda, Gending Karesemen, Wayang Purwa 2. Kabupaten Bandung Ujungan, Beluk, Wayang golek, Longser, Badawang, Angklung Buncis, Gamelan Renteng, Bangkong Reang, Bangkong Ciseke, Wawacan, Janaka sunda, Buncis, Calung, Lukisan Khas Jelekong, Celempungan, Tembang Sunda Cianjuran, Degung, Debus, Gondang, Jaipongan, Kliningan, Kuda Lumping, Kuda Renggong, Kacapi Suling, Pencak Silat, Pantun, Rudat, Reog, Sandiwara, Tayub, Kacapi Biola, Seni Rupa. 3. Kota Cimahi Wayang Ibuk, Angklung, Seni Lukis. 4. Kabupaten Garut Lais, Bangkolung, Badeng, Surak Ibra, Hadro, Tembang Cigawiran, Dodombaan, Gesrek, Pantun Beton, Bangreng, Rampak Kohkol, Gembyung, Karinding, Reog, Buncis, Rudat, Pencak Silat, Dug Kol, Calung, Wayang golek, Degung. 5. Kota Tasikmalaya Degung, Orkes Melayu, Angklung, Bangkolung, Qasidah, Calung, Silat, Reog, Kuda Lumping. 6. Kabupaten Tasikmalaya Upacara sepitan, Gusaran, Buncis, Sunatan Buhun di Pilemburan, Nyawen, Dug Kol Reog

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

19

Aneka Jaya, Terebang Gesek, Terebang Gebes, Rudat, Rajah(Tumbal), Beluk, Calung Renteng, Karinding, Jajanen, Terebang Sejak, Pencak Silat, Qasidah, Kutiplak. 7. Kabupaten Ciamis Ronggeng Gunung, Genjring Bonyok Tepak Lima, Badud, Janeng, Gondang Buhun, Tayub, Karinding, Beluk, Reog Dongkol, Celempungan, Tari Badaya, Ronggeng Amen, Drama, Wayang Golek, Calung, Degung, Kuda Lumping, Bangseter (Kacapi Siter), Sandiwara, Manorek, Seni Silat, Akrobat, Qasidah, Gemyung, Tanjidor, Ketoprak, Wayang Kulit, Sintren, Rudat, Rampak Bedug, Singa Depok, Langgeran (Prajurit tari), Angklung Buncis, Lebon, Pantun, Bongbong (Maca Wawacan), Bangklung (Terbang Calung), Tepak Lima, Jimrut/Caria, Egrang, Seni Lais, Ronggeng Kreasi, Debus, Janaka Sunda, Karesmen Adat, Angguk, Arumba, Kuda Kepang, Kacapi Sunda (Cianjuran), Rengkong, Tari Klasik, Tari Kreasi, Ronggeng Kreasi, Rudat, Duggig. 8. Kota Banjar Calung, Wayang kulit, Sintren, Wayang Golek, Calung, Reog, Degung, Orkes Melayu, Silat, Akrobat, Gondang Buhun, Gonggo (Teater Tradisional), Hadrlroh (Tagonian Bahasa Jawa), Teater. 9. Kabupaten Sumedang Bangreng, Kuda Renggong, Jentreng/ Tarawangsa, Goong Renteng, Rengkong, Sampyong, Beluk, Kuda lumping, Umbul, Rampak Sekar, Genjring, Reog, Reak/Buncis, Celempungan, Pantun Beton, Kacapi, Tembang/Cianjuran, Munduh Mantu, Lais, Mapag Panganten Arumba, Tayub, Lontang, Longser Parugpug. 10. Kabupaten Cianjur Karinding, Bangkong Reang, Kuda Lumping, Bedor, Calung modern, Seni Dulak, Reak, Tutunggulan, Rampak Kohkol. 11. Kabupaten Sukabumi Bedug lojor, Betok, Cador, Gekbreng, Gondang buhun, Jipeng, Pantun Buhun, Parebut Seeng, Kliningan, Degung, Kacapi Suling, Kacapi Lawak, Orkes Melayu, Band, Qasidah, Vokal Group, Mawalan, Angklung, Sandiwara, Wayang Golek, Topeng, Ketuk Tilu Buhun, Buncis, Kuda Lumping, lais, Cepet, Ubrug, Bangkolung, Debus, Ujungan Kuda Kepang, Reak, Uyeg, Reog, Calung, Lukis.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

20

12. Kota Sukabumi Uyeg Baru, Degung, Kliningan, Kacapi suling, Orkes Melayu, band, Qasidah, Calung, Reog, Pencak Silat, Gotong Sisig, Betok. 13. Kota Bogor Tari Payung Padjadjaran, Tari Ular, Tunil Bogor, Cador, Janaka Sunda, Qasidah. 14. Kabupaten Bogor Lenong, Ajeng, Blantek, Angklung Gubrag, Kendang Pencak Cimandean, Tanji, Pantun Buhun, Jipeng, Cibatokan. 15. Kabupaten Majalengka Tari Topeng Beber, Seni reog, Seni Gemyung, Jenaka Sunda, Seni Longser, Sampyong, Organ Tunggal, Jaipong kombinasi, Qasidah Modern, Seni Kuda Renggong, Orkes Melayu, Wayang Purwa, Musikalisasi Puisi (Konser Kampung), Aneka Seni Teater Modern, Gaok. 16. Kabupaten Cirebon Goong Renteng, Jaran Lumping, Genjring Atraksi, Pantun, Tari Baksa, Bray Terbang Gembyung, Tekes/ Sobrah, Topeng Lakon, Topeng Losari 17. Kota Cirebon Topeng Tayub, Wayang Cirebon, Debus Cirebon, Sintren, Lais, Tarling Klasik, Rudat, Mastres, Topeng Beling. 18. Kabupaten Kuningan Buroq, Cingcowong, Bray Terbang Gembyung, Goong Renteng, Panahan, Pesta Dadung, Rudat, Saptonan, Sintren, Tari Buyung, Tari Baksa, Kemprongan. 19. Kabupaten Indramayu Tarling Dangdut, Sandiwara, Sintren, Organ Tunggal, Kuda Lumping, Singa Gotong, Singa Dangdut, Topeng, Silat Macapat, Qasidah, Genjring Rudat Akrobat, Terbang Randu Kentir. 20. Kabupaten Subang Dongbret, Genjring bonyok, Sisingaan, Banjet, Doger, Bajidoran, Rengkong, Tayub, Goong Renteng, Lokat, Jajangkungan, Topeng Jati, Gembyung Buhun, Sintren, Adem ayem, Burok, Kikijingan, Beluk, Kuda Kepang, Kecapi Biola, Kliningan, Toleat.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

21

21. Kabupaten Purwakarta Buncis Purwakarta, Tung Brung, Ngaleungeuh Pare, Celempungan, Cador, Bajidoran, Pencak Silat, Degung, Jaipongan, Cianjuran, Rampak Sekar, Calung, Beluk, Seni Ulin Kobongan, Kuntulan, Sandiwara. 22. Kabupaten Karawang Topeng Banjet, Ajeng, Ketuk Tilu, Jombret/Dongbret, Qasidah Tradisional, Kliningan, Tanji, Calung, Bajidoran, Gotong singa, Wayang Golek Purwa, Jaipongan, Pupuh, Degung, Paduan Suara, Kacapi Suling, Drum Band, Reog, Pesta Laut, Tarian Soja. 23. Kabupaten Bekasi Tanjidor, Topeng, Calung, Wayang Golek, Wayang Kulit, Jaipongan, Kliningan, Degung, Qasidah, Tari, Teater, Teater Lenong, Vokal Grup. 24. Kota Bekasi Topeng, Topeng Tambun, Wayang Kulit, Wayang Kulit Gaya Surakarta, Ujungan, Calung, Degung, Tanji, Jaipongan, Kliningan. 25. Kota Depok Wayang Kulit Melayu, Seni Lenong, Topeng Cisalak, Ajeng, Degung, Orkes Melayu, Dangdut, Qasidah, Wayang Golek, Kliningan.` KABUPATEN CIREBON DAN INDRAMAYU Sebagai daerah yang terletak pada perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah, proses akulturasi antara dua kultur masyarakat Sunda dan Jawa tidak dapat terhindar lagi. Kedua kultur tadi kemudian menjadi satu, dan kemudian melahirkan sub kultur mandiri, hal ini dapat terlihat jelas dari bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu. Perjalanan sejarah pada abad 14 dan 15 dimana daerah ini menjadi pusat pengembangan agama Islam, juga turut mewarnai kultur Cirebon. Pengaruh agama Islam mengakar pada relung-relung kalbu masyarakat. Nilai- nilai tradisi dan warna kesenian tradisional Cirebon selalu berdasarkan falsafah agamis. Beberapa peninggalan diantaranya rebana digunakan dalam susunan waditra pada sebagian besar kesenian tradisional. Kemudian situs peninggalan sejarah dan purbakala tersebar di seluruh wilayah Cirebon. Makam Sunan Gunung Jati yang dihiasi dengan berbagai bentuk keramik peninggalan masa pemerintahan Kaisar Ming dan Song dari daratan Tiongkok

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

22

menunjukan adanya pengaruh Cina yang melekat di daerah Cirebon yang merupakan peninggalan Putri Ong Tin Nio yang dipersunting Sunan Gunung Jati. Sedangkan Gua Sunyaragi yang dirancang oleh arsitek Cina yang bernama Sam Cay Kong merupakan tempat peristirahatan pada masa lalu. Sebagai peninggalan kesultanan, Cirebon memiliki empat buah keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan. Setiap setahun sekali keraton-keraton tersebut diramaikan dengan upacaraupacara tradisional “Muludan” yang berintikan “Turun Jimat”. Sedangkan di daerah tempat sepanjang pantai, para nelayan berlabuh setiap tahun menyelenggarakan “Nadran“(Pesta Laut), yaitu mempersembahkan sasajen kepada penguasa laut.

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

23

BAB IV PEMBIASAAN POLA/GAYA, PERILAKU HIDUP SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK BIOGEOGRAFI DAN SOSIOANTROPOLOGI SERTA PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM

PEMBIASAAN POLA/GAYA HIDUP YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK BIOGEOGRAFI DAN SOSIOANTROPOLOGI WILAYAH JAWA BARAT 1. Pola/Gaya Hidup yang sesuai : • Kebiasaan gotong royong • Kekeluargaaan • Hidup sederhana 2. Pola/Gaya hidup yang tidak sesuai : • Biat tekor asal sohor • Individualistis • Membuang sampah dimana saja • Merusak fasilitas umum PEMBIASAAN PERILAKU HIDUP YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK BIOGEOGRAFI DAN SOSIOANTROPOLOGI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN • • • • • • • • Membuang sqampah pada tempatnya Mengambil ikan hanya yang besar saja Menangkap burung-burung untuk dibudidayakan Merawat bunga Menanam tanaman Tidak membuang limbah sembarangan Memelihara kebersihan lingkungan Dsb

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

24

PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM Sumber Daya Alam yang ada di Wilayah Bogor : 1. Flora : Pertanian, perkebunan, kehutanan 2. Fauna : Perikanan, peternakan 3. Energi : PLTA Cianteun, Tenaga Panas Bumi di gunung salak 4. Pertambangan : Emas, Galian C 5. Pariwisata : Puncak, kebun Raya, Gn Pancar

Prinsip-prinsip dalam Pemanfaatan SDA : • Konservasi SDA • • • Memperhatikan etika lingkungan Reboisasi Tebang pilih

Unsur-unsur dalam pelestarian SDA : • Perilaku manusia • • • • Keadaan Ruang Waktu Proses interaksi

Usaha pelestarian SDA dapat dilakukan dengan cara : • • Pelestarian secara Insitu Pelestarian secara eksitu

Konservasi insitu adalah upaya pelestarian sumber daya alam dalam kawasan habitat aslinya. Konservasi eksitu adalah upaya pelestarian sumber daya diluar kawasan habitat aslinya. Penghargaan untuk pelestarian tingkat nasional adalah Adipura dan Kalpataru

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

25

DAFTAR PUSTAKA

http://bencana.net/topik/berita/kerusakan-lingkungan.html http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=45&display=8&entry=4 http://bk.menlh.go.id/?module=pages&id=di http://uinsuka.info/ejurnal/index.php?option=com_content&task=view&id=88&Itemid=52 http://walhi-jogja.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=22 http://www.bangrusli.net/index.php?option=com_content&task=view&id=478 http://www.kompas.com/read/xml/2008/02/04/20395360/kerusakan.lingkungan.perburuk.citra. indonesia http://www.indonesia.go.id/id/index.php? option=com_content&task=view&id=3959&Itemid=335 http://habibiaja.blogspot.com/2008/06/lingkungan.html http://www.gatra.com/2002-08-12/artikel.php?id=19684 http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1009 http://www.indonesia.go.id/id/index.php? option=com_content&task=view&id=2566&Itemid=1347 http://www.indonesia.go.id/id/index.php? option=com_content&task=view&id=3520&Itemid=1942 http://www.indonesia.go.id/id/index.php? option=com_content&task=view&id=6078&Itemid=1804 http://www.indonesia.go.id/id/index.php? option=com_content&task=view&id=3012&Itemid=1580 http://www.jabarprov.go.id/jabar/public/33393/kabkot_detail.htm?id=70445&menu.id=70461 http://www.jabarprov.go.id/jabar/public/33393/kabkot_detail.htm?id=70529 http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/21/kesra02.html http://kataloghukum.blogspot.com/2008/01/prinsip-common-but-differentiated.html

SMA Negeri 1 Cigombong

Pendidikan Lingkungan Hidup Karakteristik Biogeografi dan Sosioantropologi Wilayah Jawa Barat

26

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->