Anda di halaman 1dari 18

MEKANIKA

DINAMIKA SISTEM PARTIKEL

MAKALAH
Disusun untuk memenui tugas mata kuliah Mekanika yang dibina oleh Bapak Nasikhudin

Oleh : Adiyat Makrufi Charisma P. W. Ferdiana Ika Wati Maratus Sholihah Regina Petty Yolanda (100321400984) (100321400989) (100321405240) (100321400895) (100321400893)

Kelompok IV Kelas C / Offering C

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FISIKA Oktober 2011

BAB VI DINAMIKA SISTEM PARTIKEL

A. SistemPartikel dan Pusat Massa Pada hakekatnya hukum kekekalan energi mekanikberkaitandengan momentum linear, momentum angular, dan energi terapan. Beberapa ahli berpendapat dalam sistem terdapat suatu interaksi antara benda makro dengan mikro. Jika sebuah sistem berisi sejumlah N partikel, symbol bilangannya 1,2,n. Massa partikel adalah , , dan letaknya pada jarak , , . Untuk beberapa sistem

partikel, pusat massa terletak di R(X,Y,Z). Sehingga didapat hubungan. ( + , )R= n 1 m k k + + +


atau =

n 1 m k k

oleh karena itu : R=


Z

(1)

r1 mn rn

m1 r2 m2 Y

rk X mk X mk Gambar 1. Sistem partikel dengan beberapa massa pada jarak yang berbeda dari titik asal.

Dalam hal ini M =

merupakan jumlah kesulurahan massa dan penjumlahan

ari k=1 ke k=N. Berdasarkan komponen maka dapat dituliskan : X= ,Y= ,Z= (2)

Dari persamaan (1) didapat bahwa pusat massa merupakan pusat rata rata dari massa berat. Kecepatan v = pada pusat massa dapat diperoleh dengan differensiasi

persamaan (1) terhadap t, oleh karena itu, v= = k (3)

Komponen komponen kecepatanpadapusatmassadapatditulis

= =

k,

= =

k,

= =

(4)

Percepatan

didapat dengan mendifferensialkan lagi yaitu : = k (5)

atau, dalam komponen k, k, k (6)

Selanjutnya akan didiskusikan Pemkaian tiga hukum kekekalan yang menjadi dasar yaitu: (1)Kekekalan momentum linier, (2)Kekekalan momentum sudut, (3) Kekekalan energi. Dan juga terdapat dua pemecahan pada masalah ini yaitu : (1) Hukum hukum Newton, (2)Prinsip kesamaan.

B. Kekekalan Momentum Linier Sebuah partikel bermassa m dengankecepatan v dan dengan momentum linear, hukum II Newton menyatakan : =

(7) , dan = (8)

Dalam hal ini adalah gaya luar yang bekerja pada Jika m konstan =

) =

(9)

Selanjutnya, jika = 0, adalah konstan, ini adalah konservasi dari hukum kekekalan momentum linear untuk partikel tungggal. Pada sistem N partikel, seperti pada gambar (1), gerak partikel ke k dari massa ) dan percepatan . Gaya total gaya : 1. Jumlah gaya eksternal 2. Jumlah gaya internal yang diterapkan pada partikel pada partikel . , pada jarak dari titik asal dan dengan kecepatan ( = merupakan penjumlahan dua

bekerja pada partikel

dengan n 1 partikel dalam sistem

Jadi persamaan gerak untuk partikel = + = ,

sesuai dengan hukum Newton adalah : (10) (11) pada partikel, karena vektor alami dari persamaan

1,2,..n

Dalam hal ini

adalah gaya partikel ke

(10), dalam hal ini 3n untuk orde ke-2 secara persamaan differensial dapat terpecahkan. Persamaan (10 )dapat diselesaikan dengan menggunakan pusat koordinat massa.

Momentum untukpartikel = =

diberikanoleh : = + (12) (13)

Persamaan (10) diambil dari :

Jumlah kedua sisi meliputi semua N partikel,

Bilamana adalah jumlah momentum linier pada system partikel N partikel dan gaya luar total yang bekerja pada sistem, maka :

, (16)

(15)

Selanjutnya jumlah gaya dalam yang bekerja pada semua system partikel sama dengan nol

(17) (18)

Kombinasi Persamaan (15), (16), dan (17) dengan pers (14) didapatkan : Teorema Momentum untuk sistem partikel :

Kekekalan momentum linier : perubahan rata rata pada momentum liniear adalah sama dengan gaya terapan luar total. Jadi bila jumlah semua gaya terapan luar sama dengan nol, maka momentum liniear total dari sistem ini adalah konstan . = konstan, jika = 0 Pusat koordinasi massa (20) (19)

(21)

Sehingga dapat disimpulkan Pusat massa pada sistem partikel bergerak seperti halnya partikel tunggal bermassa m bekerja pada gaya tunggal F sama dengan jumlah semua gaya luar yang bekerja pada sistem. Dua buah pendekatan differensial : 1. Hukum II Newton 2. Prinsip dari kerja nyatanya, sesuai dengan persamaan (11) :

merupakan gaya dorong pada partikel Newton.

menuju partikel

. Sesuai dengan hukum III

(22)

Dengan menggunakan persamaan (11) jumlah semua gaya internal adalah (23)

Pada pembuktian terdahulu, diasumsikan bahwa gaya internal datang secara berpasangan. Kerja yang dilakukan oleh gaya internal sesungguhnya untuk partikel ke adalah : pada suatu simpangan (24)

Kerja total yang dilakukan oleh seluruh gaya internal adalah :


r

(25)

sama untuk semua partikel, jika total kerja yang dilakukan oleh gaya internal sama dengan * + (26)

nol untuk semua perpindahan maka : Karena tidak nol maka:

C. KEKEKALAN MOMENTUM SUDUT Momentum sudut dari partikel tunggal didefinisikan pada bentuk perkalian silang yaitu: (27)

Pada system partikel N momentum sudut total dapat ditulis : (28)

Turunan persamaan (28) terhadap waktu menghasilkan

(29)

Suku pertama bagian kanan diabaikan karena hasil perkalian silangnya sama dengan nol ( xm =0), sedangkan m , dari persamaan (10) sama dengan gaya total yang bekerja pada partikel k, diperoleh :

(30)

Dalam hal ini merupakan gaya luar total yang bekerja pada partikel k, dan sebagai gaya dalam yang bekerja pada partikel sama dengan nol, dalam hal ini, ( ) (31) menuju . Suku kedua pada ruas kanan

Olehkarena

- , maka persamaan dapat dinyatakan seperti gambar (2) (32)

Penerapan ini sama dengan nol jika gaya dalam adalah pusat. Karena kedua partikel ini saling tarik menarik atau tolak menolak sehingga suku bagian kanan persamaan (30) dihilangkan dan persamaannya menjadi :

(33) , maka torka totalnya adalah (34) (35)

Jika merupakan torka pada partikel


Dan

Kekekalan momentum sudut, untuk sistem yang tertutup , satu sama lain tidak bekerja gaya luar, torka total menjadi nol, dalam hal ini momentum sudutnya konstan dalam besar dan arah yakni

(36)

D. KEKEKALAN ENERGI Pada beberapa situasi, gaya total yang bekerja pada partikel dalam sistem adalah suatu fungsi posisi partikel pada sistem. Gaya k pada partikel kth adalah : k = ke + ki = k ( 1, 2......, n) dalam hal ini k=1,2,....,N (37) Gaya luar ke dapat tergantung pada posisi k dari partikel k, sedangkan gaya dalam ki tergantung pada posisi relatif dari partikel-partikel relatif lain terhadap partikel k, yakni =
k k1

dan sebagainya. Jika gaya

k1 memenuhi

kondisi, (38)

Dan, fungsi potensial : Sehingga dimana k=1,2,...N Gerak partikel kth dinyatakan sebagai : Dengan menggunakan persamaan (40) didapat

(39)

(40) (41)

(42)

Mengalikan persamaan pertama dengan persamaan ketiga ( ) =


k

k1

, persamaan kedua dengan

k1

, dan

, dan menambahkannya sehingga diperoleh, dengan k = 1, 2, .......N (43a)

Jumlah meliputi semua nilai k, maka Dalam hal ini Dan Oleh karena itu persamaan (43b) dapat dinyatakan atau K + V = E = konstan Yang merupakan Hukum Kekekalan Energi. Jika gaya luar tidak gayut pada posisi dan potensial Vi gayut pada posisi relatif pasangan partikel, maka (48) Selama : Dapat diperoleh bahwa : (50) (49) (46) (45) dengan K= Energi Kinetik (44) ( ) (43b)

Sistem ini merupakan gaya pergesaran dalam, seperti gaya pergeseran ini gayut pada kecepatan relatif dari partikel dan bukan gaya pusat, sehingga hukum kekekalan energi, persamaan (46) tidak dapat dicapai sebagai sistem.

E. Gerak Sistem dengan Variabel Massa Roket Teknologi roket berdasarkan pada prinsip sederhana kekekalan momentum linear. Sebuah roket terdorong kedepan dengan penyemburan massa yang arahnya terbalik (kebelakang) dalam bentuk gas sebagai hasil pembakaran bahan bakar.

Gaya dorong roket merupakan reaksi menuju gaya dorong ke belakang dari gas yang keluar dari tempat pembakaran bahan bakar. Untuk menentukan kecepatan roket pada waktu meninggalkan bumi seperti ditunjukkan gambar3 dala hal ini t sebagai waktu, massa roket (m) yang bergerak dengan kecepatan v relaif dengan beberapa system koordinat tertentu (bumi). Kecepatan gas merupakan u terhadap roket, sedang kecepatan u + v terhadap system koordinat tertentu. Pada interval waktu antara t dan t+dt, sejumlah pembuangan gas adalah dm= -dm, sedangkan massa roket adalah Momentum system pada saat t yakni Dan momentum system pada saat t+dt adalah proket
gas

dan kecepatan (51)

(52)

Perubahan momentum selama selang waktu dt adalah:

(53)

Dalam hal ini dm dv ditiadakan, sedangkan persamaan (53) dapat dinyatakan sebagai ,

(54)

Catatan bahwa ditulis sebagai:

adalah kecepatan dari gas yang keluar. Persamaan (54) dapat

(55)

Dalam hal ini

sebagai gaya gravitasi, gaya gesek udara, atau beberapa gaya sebagai gaya daya dorong mesin roket. Oleh

luar lainnya, sedangkan

karena dm/dt bernilai negative, daya dorong berlawanan dengan kecepatan u dari gas yang dikeluarkan. Gaya setimbang. untuk

diperlukan untuk menjaga keadaan

(56) (57)

= 0 persamaan (55) sebagai,

perkalian kedua sisi dengan dt/m dan diintegrasikan, tergantung pada dua faktor, , kecepatan dari gas yang dikeluarkan dan atau , karena m0>m maka, (58)

Kecepatan akhir 1) Besar nilai

2) Besar nilai m0/m, dalam hal ini m0 merupakan massa awal roket dan bahan bakar, sedangkan m sebagai massa akhir saat semua bakar telah digunakan. Besar nilai m0/m digunakan untuk satelit pesawat/ roket. Penambahan nilai m0/m digunakan untuk satelit dan pesawat luar angkasa meninggalkan bumi. Untuk posisi roket dekat permukaan bumi , maka gaya gravitasi tak dapat diabaikan sehingga disubstitusi dalam persamaan (55) dan didapat: (59) Dan hasil integrasinya, ( ) dan ( ) (60) berlawanan dengan , maka persamaan (60) (61)

Hasilnya,

Pada saat t=0 dan besar kecepatan menjadi (bentuk scalar) :

Pada keadaan awal, daya dorong roket harus cukup besar untuk mengatasi gaya gravitasi m0g.

Sabuk Conveyer Ditinjau sabuk-berjalan untuk menghitung gaya , diperlukan sabuk berjalan bergerak horizontal dengan kecepatan sedangkan massa pasir (barang) yang diberikan pada sabuk

tersebut dm/dt. Missal M sebagai massa sabuk dan m sebagai massa pasir pada sabuk tersebut. Momentum total pada system,sabuk dan pasir pada sabuk yaitu, Karena M dan

konstan, sedangkan m berubah maka

(62)

Dalam hal ini

(63) merupakan gaya yang digunkan pada sabuk-berjalan. Daya yang

disuplai oleh gaya agar sabuk-berjalan dapat melaju v yakni, ( ) (64)

Dalam hal ini besar daya dua kali laju perubahan energy kinetiknya, dan hokum kekekalan energy mekanik tidak dapat diterapkan disini. Daya yang lepas digunakan untuk bekerja berlawanan dengan gaya gesek. Ketika pasir mengenai sabuk-berjalan maka harus

dipercepat dari kelajuan nol sampai kelajuan sabuk-berjalan menempuh jaraj tertentu. Pada pengamat yang berada pada sabuk, pasir yang jatuh ke bawah harus bergerak horizontal dengan kelajuan v pada arah berlawanan dengan sabuk. Sabuk-berjalan menggerakkan pasir bermassa dm dengan gaya horizontal yakni, (65)

Dalam hal ini merupakan koefisien gesekan kinetic antara sabuk dan pasir. Jadi percepatan pasir adalah

,sehingga (66)

Jarak x yang ditempuh oleh pasir yang mengalami perubahan kelajuan dari v ke 0 yakni, (67) Dan kerja yang dilakukan oleh gaya gesekan adalah (68)

Daya yang hilang digunakan oleh gaya gesek yakni, ( ) (69)

G. Tumbukan Tak Lenting Pada tumbukan antar partikel, ada kemungkinan energi kinetik akhir lebih kecil dari pada energi kinetik awal, maka pada kondisi ini sistem menyerap energi, dan dinamakan endoergenic atau tumbukan jenis pertama, sedangkan tumbukan yang menghasilkan energi kinetik akhir lebih besar daripada energi energi kinetik awal, maka sistem melepas energi, dan dinamakan exoergenic atau tumbukan jenis kedua. Jika energi kinetik awal Ki dan energi kinetik adalah Kf, maka energi disintegrasi () dapat dinyatakan sebagai : jika > 0 <0 0 exoergik, tumbukan tak lenting jenis kedua endoergik, tumbukan tak lenting jenis pertama exoergik, tumbukan tak lenting jenis kedua Kf - Ki(96) (97a) (97b) (97c)

Seperti tampak pada gambar 8, tumbukan tak lenting antara dua partikel bermassa m1 yang bergerak dengan kecepatan
1i

terhadap sebuah partikel bermassa m2 yang diam, dan


3f

menghasilkan dua partikel baru dengan massa m3 dan m4 yang bergerak dengan kecepatan dan
4f

yang membentuk sudut 3 dan 4 terhadap sumbu-x. Sedangkan K1, K2, K3, dan K4

merupakan energi kinetik partikel m1, m2, m3, m4, dan energi disintegrasinya Q. Berdasarkan hukum kekekalan momentum dan energi kinetik, dapat ditulis m1
1i = m3 3f.cos3 4f.cos4

+ m4

(98) (99) (100)

0 = m3

3f.sin3 -

m4

4f.sin4

Dan K1 + Q = K3 + K4

y m3
3
3f

m1
1i

m2 4 Setelah tumbukan
4f

Sebelum tumbukan

Gambar 8. Tumbukan tak elastis antara dua partikel

Dengan demikian akan diperoleh, (m4


2 4f)

= (m1

2 1i) +

(m3

2 3f)

2m1m3

1i. 3f.cos3

(101)

Dan mengkombinasi persamaan (100) dan (101) dan menggunakan relasi energi kinetik K1, K3, danK4, akan diperoleh energi disintegrasinya Q yakni,

(102) Ditinjau sebuah objek bermassa m1bergerak dengan kecepatan


1 menabrak

sebuah objek lain

yang diam bermassa m2 , dan kemudian kedua objek menempel setelah tumbukan dan kecepatannya
2= 2.

Menurut hukum konservasi momentum maka, (103)

Dalam hal ini energi kinetik tidak kekal, sehingga Q = Kf Ki = (m1 + m2) v22 - m1 v12 subtitusikan persamaan (103) untuk didapatkan,

Q = K1

(104)

Yang bernilai negatip dan tumbukannya bersifat endoergik. Jadi energi minimumnya (energi ambang) dinyatakan dengan persamaan

(105) Untuk reaksi endoergic K1 harus menjadi (K1) ambang. Hukum kekekalan momentum dan energi yang diperlukan pada tumbukan satu dimensi antara dua buah objek seperti pada gambar 9, yakni m1 m1
1i

+ m2
2

2i

= m1
2i 2

1f

+ m2
2 1f +

2f

(106)
2 2f

1i

+ m2

= m1

m2

(107)

Dalam hal ini dihasilkan,


1i

2i

2f

1f

(108a) (108b) (109)

Atau (

relatif)f

=-(

relatif)i

Koefisien restitusi (e) = -

Dalam hal ini, e=1 untuk tumbukan lenting dan e=0 untuk tumbukan tak lenting sempurna, untuk tumbukan tak elastis e berada diantara 0 dan 1.

m1
O
1i 1i -

m2
2i 2i = -( real)i

m1

m2
1f 1i 2i = ( real)f 2f X

Gambar 9. Tumbukan lenting satu dimensi antara dua massa m1 dan m2

H. Sistem Koordinat Pusat Massa Dua Benda Suatu sistem berisi dua objek bermassa m1 dan m2 pada jarak r1dan r2 dari titik asal O, seperti gambar 10., sedangkan
i 12

dan

merupakan gaya luar yang bekerja pada m1 dan m2


i

adalah gaya dalam yang bekerja antara m1 dan m2 , dan F21 sebagai gaya

dalam yang bekerja antara m1 dan m2, sesuai dengan hukum III Newton,

i 12 =

- F21i= f

(110)

Sedangkan gaya luar total yang bekerja pada suatu sitem F=


1 e

(111)

Mengikuti hukum II Newton, gerak dua benda dalam sistem lab dapat ditulis sebagai : (112) (113) Koordinat pusat massa dapat dinyatakan dengan persamaan,

(114) Dan koordinat relatif (r) diberikan oleh


1

(115)

Sedangkan reverse transformasi diberikan dengan persamaan


1=

R+ m2 CM r2 R r1
O

(116)

m1

Gambar 10. Pusat massa dan gerak rektif untuk sistem tetap pada dua partikel

Dan

2=

R-

(117)

Penjumlah persamaan (112) dan (113) akan diperoleh,

Dengan menggunakan persamaan (110), (111), dan (114), didapatkan persamaan, (m1 + m2) = F Atau M = F (118)

sebagai percepatan pusat massa sistem M (m1 + m2) karena gaya luar

Selanjutnya

dengan mengalikan persamaan (112) dengan m2 dan persamaan (113) dengan m1 dan kemudian menguranginya, didapatkan persamaan : m1m2 (
1 e

2)

= m2

- m1F2e + m2F12i + m1F21i

dari persamaan (110), didapat

(119) Untuk khasus khusus, Atau 1 e

=F2e = 0

(120) (121) tersebut proposional dengan massanya, sehingga

Gaya luar yang bekerja pada objek persamaan (119) menjadi m1 m2 1 - 2) = (m1 + m2) f

(122)

Oleh karena massa reduksi didefinisikan sebagai = dan


1

(123) 2,

maka persamaan (122) r = f (124)

Merupakan persamaan gerak benda bermassa yang diberif gaya iternal f = F21i sehingga menghasilkan percepatan (r) seperti pada persamaan (118). Untuk menentukan momentum linier (P), anguler (L), dan total energi kinetik K dalam koordinat pusat massa (CM) maka ditinjau kembali kecepatan pusat massa yakni, (125) Dan kecepatan relatif (v) v = = 1 - 2 Sedangkan invers tranformasinya dinyatakan sebagai, (127) (126)

(128) Dengan demikian total momentum linier sistem yakni, P = m1 1 + m2 2 = M (129)

Dan total momentum sudut sistem yakni, L = m1(r1 x 1) + m2(r2 x 2) Subtitusi untuk 1 dan 2 dari persamaan (127) dan (125), didapatkan L = M (R x ) x (rx 2) Sedangkan untuk energi kinetiknya diberikan oleh persamaan K = m1 r12 + m2 r22 Dengan mensubtitusikan 1 dan 2 didapat K = M 2 + 2 Atau K = M
2

(130)

(131)

(132)

(133)

+ 2

I. Tumbukan dalam Sistem Koordinat Pusat Massa Sebelumnya telah dibahas tumbukan elastik dan tak elastik antar dua benda dari sudut pandang pengamat yang diam dalam sistem koordinat laboratorium (SKL). Pada banyak kasus, akan memudahkan apabila pengamatan dilakukan dalam dalam sistem koordinat yang bergerak terhadap SKL. Umumnya sistem koordinat yang digunakan adalah sistem koordinat pusat massa (SKPM), di mana tumbukan diamati oleh pengamat yang ada di pusat massa yang tentunya ikut bergerak dengan kecepatan yang sama dengan pusat massa. Misalkan sebuah partikel bermassa m1 di x1 bergerak dengan kecepatan v1i, sementara sebuah partikel bermassa m2 di x2 diam seperti ditunjukkan gambar 11 pusat massa xc diberikan oleh (m1 + m2)xc = m1x1 + m2x2 (135)

Sementara kecepatan pusat massa diperoleh dari differensiasi persamaan 135 yaitu (m1 + m2)vc = m1x1 + m2x2 (136)

Dimana vc = dxc/dt, untuk situasi seperti yang ditunjukkan gambar 11, x1=v1 dan x2=0, sehingga kecepatan pusat massa vc terhadap SKL diberikan oleh

vc

v1i , dimana adalah massa tereduksi.

(137)

Gambar 11. Kecepatan m1 dan m2 dan pusat massanya dalam sistem koordinat lab (SKL).

m1

CM

m2
X

v1i

v2i = 0

Misalkan tumbukan antara m1 dan m2 diamati oleh pengamat yang berada dalam SKPM yang bergerak dengan kecepatan vc. Kecepatan m1 dan m2 terhadap SKPM adalah v1i dan v2i (tanda aksen menunjukkan bahwa besaran digambarkan dalam SKPM).

m1
O

CM

m2

x
v1i = v1i- vc v2i = - vc

CM m2 Gambar 12. Gerak partikel m1 dan m2 pada sistem koordinat pusat massa (SKPM). Gambar 12 menunjukkan gerak kedua partikel terhadap SKPM. Momentum tiap partikel sebelum tumbukan dalam SKPM adalah v1i v2i = 0

Jadi momentum linier total dari sistem dalam SKPM sebelum tumbukan adalah

Bahwa momentum linier total sebelum tumbukan sama dengan nol merupakan salah satu sifat penting dari SKPM. Hal ini berakibat agar momentum liniear kekal, momentum linier total setelah tumbukan harus nol juga. Dipandang dari SKPM dua partikel bermassa m1 dan m2 saling mendekat dalam garis lurus dan setelah tumbukan saling menjauh dalam garis lurus juga dengan kecepatan awal yang sama, seperti ditunjukkan dalam gambar 13(a). Garis yang menghubungkan kedua partikel yang saling menjauh dapat juga membentuk sudut c (dalam SKPM). Sebagai perbandingan, gambar 13(b) menunjukkan tumbukan yang diapandang dari SKL.
Y

(a)

m1 v1
O L

v1f
X L

m1

m2 m2

V2f

(b)

Y m1 O v1i = v1i - vc v2f = vc SEBELUM v2i m2

m1v1f = v1i - vc X m2

SESUDAH

Gambar 13. Tumbukan antara dua partikel bermassa m1 dan m2 yang dilihatdari (a) SKPM (b) SKL Selanjutnya akan dibahas masalah bagaimana cara kembali dari SKPM ke SKL dan hubungan antara sudut yang dibuat oleh partikel setelah tumbukan dengan arah mula-mula baik dalam SKL maupun SKPM. Dalam SKPM, kecepatan akhir dan arah partikel setelah tumbukan ditunjukkan pada gambar 13(a). Untuk menentukan kecepatan akhir partikel dalam SKL, maka prosedur untuk berubah dari SKL ke SKPM dapat dibalik. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan ke kecepatan akhir v1f = (v1i vc) dan v2f = vc, kecepatan pusat massa vc seperti ditunjukkan oleh gambar 14, dapat ditentukan hubungan L dan L dalam SKL dan Ldalam SKPM. Dengan menguraikan ke dalam komponennya, persamaan (143) dapat dituliskan v1f cos L = vc + v1f cosC v1f sin L Y vc v1f O X c L v1f v1f sinC (145) (146)

L Dengan saling membagi akan diperoleh v2f v2f

tan

L=

vc

(147)

atau tan L = Dimana

(148)

(149)

Nilai dari vc dan v1f diberikan oleh persamaan (137) dan (135). Dari persamaan (137)

vc =

v1i =

v1i

(150)

Dimana adalah massa tereduksi dan v1i adalah kecepatan relatif awal (= v1i v2i = v1i 0 =v1i). Kecepatan relatif akhir, v1f (= v1i), dari persamaan (138) sama dengan

v1f =

v1f =

v1f

(151)

Gabungan tiga persamaan tersebut (dan dengan memperhatikan bahwa kecepatan akhir sama dengan kecepatan awal dalam SKPM), diperoleh

(152)

Untuk tumbukan tak lenting v1i v1f sehingga persamaan (145) menjadi

tan L =
Untuk tumbukan lenting, v1i = v1fsehingga persamaan (153) menjadi

(153)

tan L =
Ditinjau beberapa kasus khusus dari persamaan (154) untuk tumbukan lenting :

(154)

Kasus (a) : Jika m1 = m2, seperti dalam khusus tumbukan antara neutron dan proton, persamaan (154) dapat dituliskan sebagai

tan L =
sehingga L =

= tan

(155) (156)

Karena dalam SKPM c dapat memiliki nilai antara 0 dan , maka L dapat memiliki nilai maksimum . Kasus (b) : Jika m2 >m1, persamaan (154) dapat dituliskan sebagai

tan L
sehingga L C

= tan c

(157) (158)

Kasus (c) : Jika m1 >m2, partikel yang menumbuk lebih berat dibandingkan partikel sasaran. Dalam kasus ini, L harus sangat kecil, tidak peduli berapa nilai c.Hal ini bersesuaian dengan persamaan (90) yang menyatakan bahwa L tidak dapat lebih besar nilainya dibandingkan dengan nilai maksimum maks.

Anda mungkin juga menyukai