P. 1
Analisis Faktor Resiko Pada Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Kabupaten Sumenep

Analisis Faktor Resiko Pada Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Kabupaten Sumenep

|Views: 103|Likes:
Dipublikasikan oleh Sakriani Nohe

More info:

Published by: Sakriani Nohe on Feb 11, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

ANALISIS FAKTOR RESIKO PADA KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH Di KABUPATEN SUMENEP Pipit Festy w¹ Program Studi

Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu kesehatan UMSurabaya pipitbiostat@yahoo.com

Abstrak Bayi Berat Badan Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan kematian pada masa perinatal.Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko pada kejadian Berat Badan Lahir rendah. Penelitian ini

menggunakan disain kasus kontrol yang dilakukan pada 337 sampel ibu hamil yang melahirkan cukup bulan (37 bulan), kasus 209 ibu dan kontrol 128 ibu

yang memenuhi kriteria inklusi. Populasi adalah semua ibu hamil di wilayah Puskesmas kota Sumenep. Data diperoleh dari Laporan Kohort ibu hamil selama tahun 2009 sampai Maret tahun 2010. Untuk mengetahui faktor resiko kejadian BBLR menggunakan metode Regresi Logistik. Variabel yang berhubungan secara bermakna adalah Hemoglobin ibu, LILA ibu, Penambahan Berat badan selama kehamilan, Pendidikan ibu. Hasil nilai Odds Rasio berturut turut adalah 3,366 pada HB ibu, 8,624 pada penambahan berat badan ibu, 4,346 pada pendidikan dan 6,307 pada LILA, nilai tersebut dapat menyatakan risiko terhadap kejadian berat badan lahir rendah. Kata kunci: Berat Badan bayi Lahir Rendah. Pendahuluan Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakt.Keberhasilan pembangunan di suatu wilayah juga dapat dilihat dari angka kematian bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH). Di Indonesia angka kematian bayi dan angka kematian ibu adalah 35 per 1000 kelahiran hidup dan 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sudah menunjukkkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar

1

1 %). BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan umur kehamilan. paritas lebih dari 3 (9. (Dinas Kesehatan Kota Sumenep.8%.1996). 2006). 2008). Kondisi kesehatan ibu ketika memasuki kehamilan belum seperti yang diharapkan.5 cm ( 29 %).Salah satu upaya yang dilakukan antara lain adalah peningkatan program kesehatan ibu dan anak pada tingkat puskesmas meliputi kegiatan promotif dan preventif yaitu perawatan selama masa kehamilan dan pemeriksaaan rutin selama kehamilan sehingga dapat mendeteksi terjadinya penyulit selama kehamilan.4 %) .2%.2 %). mengalami kematian 6. . 2008).000 bayi setiap tahun) (Saraswati. Indikator lain meliputi kehamilan dini kurang dari 18 tahun (4. Titiek. Tingginya angka BBLR bisa mempengaruhi kualitas Sumber daya manusia di masa depan oleh karena itu berbagai upaya perlu dilakukan untuk menurunkan angka BBLR (Setyowati. kehamilan terlalu tua lebih dari 34 tahun (11 %).6%. Di Kabupaten Sumenep Propinsi Jawa Timur dilaporkan prevalensi BBLR dari tahun 2007 sampai dengan 2009 berturut-turut yaitu 3. dan 4. 4.5 %. Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23. prevalensi BBLR 7.9 %) dan jarak persalinan yang terlalu dekat kurang dari 2 tahun (5.E.200 – 900.2 39 per 1000 kelahiran hidup. serta keadaan ekonomi yang rendah merupakan risiko untuk melahirkan BBLR. anemia pada ibu hamil ( 50.5% kali lebih besar daripada bayi lahir dengan berat badan normal. (yaitu sekitar 459. BBLR merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal (Depkes. ibu mengalami kekurangan gizi pada saat sebelum hamil dan hamil. Meskipun demikian masih terdapat beberapa wilayah yang masih menunjukkan anggka kematian bayi cukup tingi (BPS 2008). 2005). Wanita Usia Subur yang menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang berisiko melahirkan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Depkes RI.

sehingga dapat memberikan masukan bagi Dinas Kesehatan setempat Tinjauan Pustaka Bayi Berat Badan Lahir Rendah Definisi Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Pengklasifikasian Berat badan bayi saat dilahirkan sesuai kriteria WHO (Bobak.1999 ).3 Berdasarkan masalah-masalah yang berkaitan tersebut di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang faktor resiko kejadian Berat badan lahir rendah di Kabupaten sumenep tahun 2009 . Berat badan saat ini dilahirkan dibagi dalam dua kelompok yaitu : bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram (BBLR) dan bayi dengan BB minimal 2500 gram (normal) kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kabupaten . Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahan dalam penelitian ini adalah : Apa faktor risiko pada Sumenep? Tujuan Penelitian Mengetahui faktor risiko kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kabupaten Sumenep. dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Manfaat Penelitian Memberikan informasi tentang faktor risiko kejadian Berat Badan Lahir rendah.

berupa kartu pemeriksaan kehamilan. paritas. pertambahan berat badan selama kehamilan. dan pertumbuhan placenta. kebiasaan merokok. atau minum alkohol. dismatur dapat terjadi pada preaterm. Populasi pada penelitian ini adalah semua bayi yang lahir pada bulan Januari tahun 2009 s/d maret tahun 2010. pendidikan. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB-KMK). Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kahamilan. Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK).1999) 1.1 Faktor Risiko Penyebab BBLR Faktor-faktor penentu Berat Badan Lahir meliputi (Kartiaji. 2. tinggi badan. dan post aterm. genetika. Neonatus Cukup Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NCB-KMK). Faktor lingkungan yaitu taraf sosial ekonomi. sumber data sekunder dari Dinas . Faktor ibu yang meliputi a. Prematuritas murni yaitu bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan sesuai dengan masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK) 2. Faktor biologi yaitu umur. Faktor intrinsik yaitu jenis kelamin. LILA b. jarak antar kehamilan. berat badan pra hamil. dan laporan kohort ibu hamil.3. METODE PENELITIAN Penelitian dengan desain kasus kontrol ini dilakukan terhadap sumber data sekunder BBLR Dinas Kesehatan Kota Sumenep. dan ketinggian tempat tinggal. 2. suku bangsa. aterm. kegiatan fisik.4 Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan : 1. penyakit infeksi. perawatan kesehatan.

Puskesmas Moncek.5 Kesehatan Kota Kabupaten Sumenep dan tercatat pada Laporan kohort ibu hamil pada 5 puskesmas yaitu Puskesmas Batang-batang.Kriteria eksklusi adalah ibu yang tidak kontak dengan petugas kesehatan. Kontrol adalah bayi dengan lahir lebih 2500 gram. Cara pengambilan sampel kasus dan sampel kontrol diperoleh dari laporan bulanan persalinan dari Dinas kesehatan Sumenep dibuat daftar kejadian BBLR dan bukan BBLR pada tahun 2009 s/d Maret 2010. sedangkan variabel independen adalah : 1. Kasus adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 gram sesuai dengan kriteria ). Umur ibu (X1) 2.Kemudian di pilih 5 Puskesmas dengan kejadian terbanyak. Puskesmas Guluk . Ukuran LILA ibu (X7) 8. Kadar Hb ibu (X6) 7. Basar sampel 337 ibu yang terdiri dari 209 kasus dan 128 kontrol.Untuk mendapatkan data peneliti dibantu oleh bidan desa yang kemudian dilakukan pengambilan data melalui kohort ibu hamil.Terdapat 209 kasus dan 128 kontrol. Puskesmas Kangayan. Variabel dan Pengkasifikasi Data Sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah Berat Badan Lahir Rendah (Y).Kasus dan kontrol disesuaikan dengan lokasi dan waktu. Jarak Kelahiran (X5) 6.Guluk di . Status Pekerjaan ibu (X3) 4. Kabupaten Sumenep. Jumlah anak (X4) 5. Tinggi Badan ibu (X9) Pengolahan dan Tahapan Analisis Data Puskesmas Pragaan. Penelusuran kejadian BBLR dengan data yang lengkap digunakan sebagai data penelitian. Pendidikan Ibu (X2) 3. Kenaikan Berat Badan ibu (X8) 9.

9 <4 4 <2th 2th <11 gr% 113 15 88.Hasil Penelitian Data sampel tentang Berat Badan Bayi Lahir pada 5 puskesmas di kota Sumenep selama penelitian sejumlah 337 balita yang terdiri dari 209 (62%) bayi dengan berat badan bayi normal atau lebih 2500 gram.6 11 . Tabel 1.Analisis data dilakukan secara berjenjang. yaiyu analisis univariatuntuk melihat gambaran distribusi frekwensi kejadian BBLR dan bukan BBLR .5 12.8 201 8 96.1 45.8 Jarak kelahiran Kadar HB 50 78 66 39.2 54.2 11.9 51. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.6 97 112 23 46.8 7. Distribusi Kasus dan Kontrol Menurut karakteristik ibu Karakteristik Kategori ibu Umur ibu Pendidikan ibu <35 >35 SD >SD Tidak Bekerja Kasus F 112 16 119 9 Kasus % 87. bivariat untuk mengetahui kemungkinan variabel yang masuk model dan multivariat menggunakan regresi logistik.1 60. dan 128 (38%) bayi memiliki berat kurang dari 2500 gram.4 53.9 Status pekerjaan ibu Jumlah anak 119 9 93 7 113 96 54.2 3.6 Pengolahan data Analisis data yang digunakan adalah dengan metode regresi logistik dengan bantuan program komputer.1 45.5 93 7 Control F 194 15 113 96 Control % 92.

3 93.4 54.4%) Sebagian besar yaitu 208 ibu mengalami peningkatan berat badan selama kehamilan kurang dari 9 kg .2%) Sebagian ibu yang melahirkan bayi dengan Berat Badan < 2500 gram adalah ibu dengan hemoglobin < 11 g% sejumlah 66 0rang atau . Bayi dengan berat badan kurang 2500 gram dilahirkan oleh ibu yang memiliki penambahan berat kurang dari 9 kg sebesar 120 orang(57.5 cm 23.6 42. Sebagian ibu bekerja 232 orang.4 86.5 cm adalah atau 181 ibu.1 21 188 10 90 Karakteristik ibu berdasarkan distribusi berat badan lahir: Sebagian besar ibu hamil (232) adalah berpendidikan 113 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan sekolah dasar sebanyak 2500 gram. .5 cm Kenaikan Berat badan TB <145cm 145cm <9kg >9kg 62 70 58 120 8 48.7 45.5 cm adalah 70 orang atau (71.6%). sedangkan ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan < 2500 gram adalah ibu status bekerja yaitu 119 orang (51.8 6.9 89.9 14 114 10. sedangkan untuk bayi dengan berat badan haemoglobin 2500 gram sebagian besar di lahirkan ibu dengan 11 g% adalah 186 ibu atau 75% Sebagian besar bayi dengan Berat badan ukuran LILA 2500 gram dilahirkan ibu dengan 23. sedangkan bayi dengan berat badan < 2500 gram sebagian dilahirkan ibu dengan ukuran LILA < 23.1 57.7 11 gr% LILA <23.3 186 28 181 88 121 89 13.

HB ibu.383 Df 1 1 1 1 Sig .338 1.5 cm) Penambahan berat badan (< 9 kg) B S. 3.366 6.8 Pada analsis multivariate menggunakan regresi logistik dilakukan uji secara simultan untuk melihat adanya pengaruh antara variabel prediksi dengan variabel respon.5 cm) +2.624 1.366 kali dibandingkan hamoglobin ibu 11 gram % dengan asumsi variabel lainnya konstan.436 5.183 .015 Dari tabel juga dapat dilihat bahwa model regresi logistik yang didapatkan adalah sebagai berikut.002 . Variabel Pendidikan ( SD) HB (<11g%) LILA(< 23..346 kali dibandingkan berpendidikan > Sekolah Dasar dengan asumsi variabel lainnya konstan.842 .469pendidikan SD) +1.155P enambahanBB( 9 kg) ( Berdasarkan nilai Exp B dapat diketahui nilai Odds Rasio adalah.842LILA( 23. 1 P(BBLR) 1 + exp -4. Jika hamoglobin ibu < 11 gram% maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 3. 4.564 55.E Wald 9. 2. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dari 9 variabel hanya 4 variabel saja menjadi variabel prediksi yaitu pendidikan ibu.155 .307 8.080 1 .224 .224HB( 11g%)+1. Constanta -4. .906 28.000 . 2.183+1.455 24. LILA ibu.000 . Faktor risiko pada kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Wilayah Puskesmas di Kabupaten Sumenep tahun 2009 No 1. 1.345 2. Tabel 2.469 . Jika ibu berpendidikan Sekolah Dasar maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 4.266 12.483 1.000 .000 Exp(B) 4.346 3. penambahan berat badan ibu.

Jika penambahan berat badan ibu < 9 kg maka kecenderungan untuk 23. 4.trimester II sekitar 3 Kg dan Trimester III 5-6 kg.5 cm mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 8. Ibu hamil yang KEK sebaiknya mendapatkan makanan tambahan dan peyuluhan yang berkualitas. kadar HB ini tergantung pada asupan nutrisi ibu selama hamil.9 3. dimana pada trimester I pertambahan 1 kg . Penambahan berat badan berpengaruh pada berat bayi baru lahir. sedangkan bayi BBLR berisiko kematian dan gangguan tumbuh kembang.5 cm maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 6. LILA merupakan indikator status gisi ibu hamil. HB kurang dari 11 g/dl berisiko menderita anemia zat besi yang dapat berakibat pada terjadinya kelahiran dengan berat badan lahir rendah. 9 kg dengan asumsi variabel Penambahan berat badan ibu normal adalah berkisar 9 kg.624 kali dibandingkan penambahan berat badan ibu lainnya konstan.307 kali dibandingkan LILA ibu dengan asumsi variabel lainnya konstan. Jika LILA ibu < 23. KEK berdampak negatif terhadap ibu hamil dan janin yang dikandung berupa peningkatan kematian ibu. Anemia pada ibu hamil dapat mengakibatkan kekurangan suplai oksigen ke jaringan sehingga mengganggu pertumbuhan janin.5 cm berisiko menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang dapat menyebabkan prematuritas dan risiko Berat Badan Bayi Rendah. Ibu hamil dengan ukuran LILA kurang 23. Kadar HB ibu hamil normal adalah 11 g/dl . Kematian bayi merupakan indikator status kesehatan masyarakat yang penting berhubungan dengan anak sebagai investasi bangsa.5 cm sebelum kehamilan berisiko menderita Kekurangan Energi Kalori. Untuk itu .12 kg. Sehingga dapat diasumsikan penambahan yang sesuai berkontribusi terhadap berat badan bayi sehingga menentukan bayi tergolong dalam berat badan kurang dari 2500 gram atau berat badan bayi lebih dari 2500 gram. Di Indonesia batas ambang LILA normal adalah 23. Lila diasumsikan ukuran yang tidak terpengaruh dengan berat badan ibu dan bayi dalam kandungan.

Pengetahuan kesehatan yang tinggi menunjang perilaku hidup sehat dalam pemenuhan gizi ibu selama kehamilan. semakin tinggi pula pengetahuan kesehatan. Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai kemungkinan pengetahuan tentang kesehatan juga tinggi.10 ibu hamil yang menderita anemia perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. atau individu. Jika hamoglobin ibu < 11 gram% maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 3.Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang pentingnya asupan nutrisi selama kehamilan. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu. Petugas kesehatan hendaknya memeriksa HB sedini mungkin. 1.346 kali dibandingkan berpendidikan > Sekolah Dasar. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya.2007) .Pendidikan kesehatan pada hakekatnya merupakan suatu usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. pendidikan ibu dan HB ibu. Jika ibu berpendidikan Sekolah Dasar maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 4.Sebaliknya pendidikan yang kurang menghambat perkembangan seseorang terhadap nilai nilai yang baru di kenal (Notoadmojo.366 kali dibandingkan hamoglobin ibu 11 gram % . Tingkat pendidikan ibu mengambarkan pengetahuan kesehatan. LILA ibu. Pendidikan yang tinggi memudahkan seseorang menerima informasi lebih banyak dibandingkan dengan pendidikan rendah.Oleh karena itu perlu dilakukan pendidikan kesehatan oleh tenaga kesehatan. maka dapat diambil beberapa simpulan antara lain faktor risiko kejadian berat badan lahir rendah di lima Wilayah Puskesmas Kabupaten Sumenep adalah penambahan berat badan. kelompok. 2. karena makin mudah memperoleh informasi yang didapatkan tentang kesehatan lebih banyak dibandinkan dengan yang berpendidikan rendah. .

(2008) Profil Dinas Kesehatan Kota Sumenep 2008. Turhayati ER.624 kali dibandingkan penambahan berat badan ibu Saran 9 kg 1. (2005) Profil Kesehatan Indonesia 2005. Melakukan studi lanjut tentang aspek budaya mempengaruhi ibu dalam perawatan masa kehamilan terhadap kejadian BBLR..R. New York : Chapman And Hall.307 kali dibandingkan LILA ibu 23. . Desember 2006. Health Statistic. hal 140-143. Peningkatan pelayanan kesehatan melalui program KIA pada tingkat Puskesmas dalam hal penyuluhan antenatal care. Jakarta.. (1993) Classification And Regression Trees.11 3. Departemen Kesehatan RI. Yayasan Bina Pustaka Sarwono FKUI. (1999) Maternal Nursing Care Plans. Jakarta:Depkes RI Departemen Kesehatan RI. Stone. Jika penambahan berat badan ibu < 9 kg maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 8.N0. Jakarta: Depkes RI. John Wiley and Sons. Pusat Data dan Informasi.5 cm 4.J. (1996) An Introduction to Categorical Data Analysis. ( 1999) Ilmu Kebidanan. Mosby Company Breiman L. J. DAFTAR PUSTAKA Agresti A. Pusat Data dan informasi.5 cm maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 6.A Olshen . Heath Statistic. USA Bobak. 3. (2008) Profil Kesehatan Indonesia 2007. Dinas Kesehatan Kota Sumenep. Jurnal Kesehatan Masyarakat V0l 1. 2. Dinas Kesehatan Kota Sumenep.H Friedman . deteksi Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Wiknjosastro H.C. (2006) Hubungan Pertambahan Berat Badan Selama Kehamilan dengan Berat Lahir Bayi di Sukaraja Bogor Tahun 2001-2003. Jika LILA ibu < 23.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1. Jakarta Priyatno. Bandung . John Wiley and Sons.. Bandung Lewis dan J Roger. (2005) Faktor Resiko Ibu Hamil yang mempengaruhi BBLR FKM-Unair Surabaya.12 Hermiyanti S. Penelitian Gizi dan Makanan jilid 21: 27 Setyowati Titiek (1996) Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR. Presented at the 2000. Pratisto A. Luknis Sabrani. (1999) Berat Badan Lahir Rendah dan Penanganannya. 3.. (2009) SPSS untuk Analisis Korelasi. Yogyakarta Rogayah. PT Alex Media Komutindo. Sudjana. hal 106-110. ( 2005) Kesehatan Neonatal di Indonesia. (2000) An Introduction to Classification and Regression Trees (CART) Analysis. Desember 2006. Hosmer. Rustam Mochtar. Jakarta. Saraswati.. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. E. Depkes RI. Duwi. Jakarta. DW dan S Lemeshow.. (1998) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan. (1998) Resiko ibu Hamil Kurang EnergiKronis (KEK) dan Anemia untuk melahirkan Bayi dengan BBLR. (2006) Faktor Kesehatan Reproduksi Ibu Hamil dan Hubungannya dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Sukabumi Tahun 2005-2006. Regresi. Kartiaji. Jakarta. (2002) Teknik Analisis Regresi dan Korelasi Bagi Para Peneliti. Pustaka Utama. dan F Mola (2000) Multivariate data analisis and modeling through classification and regression trees Computational Statistics dan data analisis. Ida Bagus. Jakarta. Elsevier. Siciliano R. (2009) Statistik Menjadi Mudah dengan SPSS 17. Manuaba. No. Penerbit Tarsito. E. (1998) Patologi Kebidanan. dan Multivariate. Jakarta: Lokakarya Nasional Kesehatan Neonatal. (2000) Applied Logistic Regression. (2000) Modul Biostatistik & Statistik Kesehatan. dan Keluarga Berencana. Hanifah. second Edition. FKUI. Gava Media. Saraswati.

(1998) Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR. Penerbit Tarsito.13 Sudjana. Ikatan Ahli Gizi. Yogyakarta Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi.. Bandung Suharjon B (2008) Analisis Regresi Terapan Dengan SPSS. (2005) Metoda Statistika. Graha Ilmu. . Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->