Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN ANALISIS DETERJEN

OLEH: NAMA NO. BP KELOMPOK REKAN KERJA : REGINA MARDATILLAH : 1110942045 : II (DUA) : 1. ADE FEBRIANDI 3. DURA VENDELA (1110942027) (1110942043) 2. TIARA WAHYUNI (1110942031)

HARI / TANGGAL PRAKTIKUM : SABTU/ 3 NOVEMBER 2012

ASISTEN: LUCIANA GUSTIN

LABORATORIUM AIR JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2012 BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan Tujuan dari praktikum analisis deterjen ini adalah mengukur kadar kandungan MBAS (Methylene Blue Active Substance) pada sampel air. 1.2 Metode Percobaan Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah spektrofotometri. 1.3 Prinsip Percobaan Prinsip percobaaan pada praktikum ini adalah surfaktan anionik beraksi dengan biru metilen membentuk pasangan ion biru yang larut dalam pelarut organik. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 652 nm. Serapan yang terukur setara dengan kadar surfaktan anionik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Eksisting Wilayah Sampling Pada percobaan analisis deterjen ini, praktikan mengambil sampel di goronggorong Banda Bakali, Padang. Pengambilan sampel dilakukan pada hari Jumat tanggal 2 November 2012 pukul 16.50-17.00 WIB pada koordinat 05657.54 Lintang Selatan dan 1002276.98 Bujur Timur. Air sampel yang berada di gorong-gorong Banda Bakali ini berasal dari aliran limbah rumah tangga diberbagai rumah. Kondisi fisik air sampel yang diambil praktikan bau, tetapi tidak terlalu keruh. Sekitar wilayah pengambilan sampel terdapat berbagai macam limbah rumah tangga yang dibuang di pinggir-pinggir sungai. Sehingga keberadaan sampah disekitar mencemari sungai dan mengurangi nilai estetika yang ada. Berdasarkan kondisi eksisting wilayah sampling, praktikan memperkirakan bahwa kandungan deterjen di wilayah ini cukup tinggi. Hal ini disebabkan limbah domestik/ rumah tangga warga setempat yang dialirkan ke gorong-gorong Banda Bakali ini. 2.2 Teori 2.2.1 Umum Deterjen berasal dari bahasa latin yaitu detergere yang berarti membersihkan. Deterjen merupakan penyempurnaan dari produk sabun. Deterjen sering disebut dengan istilah deterjen sintetis yang mana deterjen berasal dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Masalah sabun dapat dikurangi dengan menciptakan deterjen
yang lebih efektif yaitu deterjen sintetik. Deterjen sintetik ini harus mempunyai beberapa sifat, termasuk rantai hipofilik yang panjang dan ujung ionik polar. Juga ujung yang polar tidak membentuk garam yang mengendap dengan ion-ion dalam air sadah, sehingga tidak mempengaruhi keasaman air (Hart, 1998).

2.2.2 Komponen Deterjen Komponen penyusun deterjen sebagai berikut: Surfaktan (Surface Active Agent)

Deterjen termasuk dalam kelas umum yang disebut dengan surfaktan yakni senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan mengandung satu ujung hidrofil dan satu ujung hidrofob. Surfaktan (Surface Active Agent) menurunkan tegangan permukaaan air dan mematahkan ikatan hidrogen pada permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala hidrofiliknya pada permukaan air dan ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air (Fessenden, 1982). Pada umumnya, gugus hidrofobik merupakan gugus hidrokarbon yang berantai panjang dan gugus hidrofil merupakan gugus dengan kepolaran yang tinggi yang dapat meningkatkan kelarutan. Berdasarkan sifat dan gugus hidrofiliknya surfaktan dibagi menjadi empat jenis (Fessenden, 1982): Surfaktan anionik, yaitu surfaktan dengan bagian aktif pada permukaannya mengandung muatan negatif. Contohnya alkil benzena sulfonat linier, alkohol sulfat (AS), Alkohol Eter Sulfat (AES), Natrium Laurel Eter Sulfat (NLES); Surfaktan kationik, yaitu surfaktan dengan bagian aktif pada permukaannya mengandung muatan positif. Contohnya ammonium kuarterner; Surfaktan nonionik, yaitu surfakatan dengan bagian aktif permukaannya tidak mengandung muatan apapun. Contohnya alkohol etoksilat, polioksietilen (R-OCH2CH); Surfaktan ampoterik, yaitu dapat bersifat nonionik, kationik dan anionik didalam larutannya, jadi surfaktan ini mengandung muatan negatif maupun positif pada bagian aktif permukaannya. Contohnya sulfobetain (RN+ (CH3)2CH2CH2SO3-9. Builder (bahan pembentuk) Buider adalah suatu bahan yang dapat menambah kerja dari bahan penurun tegangan permukaaan dengan cara menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Builder juga

berfungsi untuk mencengah mengendapnya kembali kotoran-kotoran yang terdapat pada bahan yang akan dicuci (Permono, 2002). Pengisi (Filter) Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku yang berguna untuk memperbanyak dan memperbesar volume. Selain itu, juga sebagai pembantu proses meningkatnya kekuatan ionik dalam larutan pencuci. Contohnya natrium sulfat (Na2SO4), natrium klorida dan natrim pospat (Fessenden, 1982). Bahan Tambahan (Aditif) Bahan aditif sebenarnya tidak harus ada. Namun beberapa produsen selalu mencari hal baru akan bahan ini, karena dapat memberi nilai lebih pada deterjen tersebut (Fessenden, 1982). Bahan Pewangi Bahan pewangi termasuk bahan tambahan. Jenis parfum untuk deterjen dibagi dua yaitu parfum umum dan parfum eksklusif. Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal masyarakat. Sedangkan parfum eksklusif mempunyai aroma yang khas dan tidak ada produsen lain yang melunakkannya (Fessenden, 1982). Deterjen ada yang bersifat kationik, anionik, maupun nonionik. Semuanya membuat zat yang lipolifik mudah larut dan menyebar di perairan. Selain itu, ukuran zat lipolifik menjadi lebih halus, sehingga mempertinggi intensitas racun. Beberapa deterjen ada yang bersifat persisten, sehingga terjadi akumulasi. Seperti halnya dengan DDT, deterjen jenis ini sudah tidak boleh digunakan lagi (Soemirat, 1983).

2.3 Klasifikasi Deterjen


Berdasarkan dapat tidaknya zat aktif terdegradasi, detergen terbagi atas dua bagian yaitu, deterjen keras dan deterjen lunak (Ratna, 2010).

Deterjen Keras Deterjen keras mengandung zat aktif yang sukar dirusak oleh mikroorganisme meskipun bahan itu telah di pakai dan telah di buang. Hal ini diakibatkan adanya rantai cabang pada atom karbon, akibatnya zat tersebut masih aktif dan jenis inilah yang dapat menyebabkan pencemaran air, seperti alkil benzena sulfonat. Deterjen Lunak Deterjen ini mengandung zat aktif yang relatif mudah untuk di rusak mikroorganisme karena umumnya zat aktif ini memiliki rantai karbon yang tidak bercabang, sehingga setelah dipakai, zat aktif ini akan rusak, contohnya Linier alkil benzene sulfonat.

Berdasarkan bentuk fisiknya, deterjen dibedakan atas (Andang, 2001): 1. Deterjen Cair Secara umum, deterjen cair hampir sama dengan deterjen bubuk. Hal yang membedakan hanyalah bentuknya: bubuk dan cair. Produk ini banyak digunakan di laundry modern menggunakan mesin cuci kapasitas besar dengan teknologi yang canggih. 2. Deterjen Krim Deterjen krim bentuknya hampir sama dengan sabun colek, tetapi kandungan formula keduanya berbeda. 3. Deterjen Bubuk Berdasarkan keadaan butirannya, deterjen bubuk dapat dibedakan menjadi 2: Deterjen bubuk berongga Butiran deterjen jenis ini mempunyai volume per satuan berat yang besar karena adanya rongga tersebut. Butiran deterjen jenis berongga dihasilkan oleh proses spray drying, yaitu terbentuknya butiran berongga karena hasil dari proses pengabutan yang dilanjutkan proses pengeringan. Kelebihan deterjen bubuk berongga dibandingkan dengan deterjen bubuk padat adalah volumenya lebih besar. Dengan berat yang sama, deterjen bubuk dengan butiran berongga tampak lebih banyak dibandingkan dengan deterjen padat. Kelemahan deterjen berongga ini adalah biaya yang ,mahal sehingga deterjen ini tidak bisa diproduksi baik dalam skala kecil maupun menengah.

Deterjen bubuk padat/masif

Butiran deterjen yang padat merupakan hasil olahan proses pencampuran kering (dry mixing). Kelebihan deterjen bubuk padat, yaitu untuk membuatnya tidak diperlukan modal besar karena alatnya termasuk sederhana dan berharga murah. Kekurangannya adalah karena bentuknya padat maka volumenya tidak besar sehingga jumlahnya terlihat sedikit.
Berdasarkan ion yang dikandungnya, deterjen dibedakan atas (Andang, 2001): 1. Cationic Detergents Deterjen yang memiliki kutub positif disebut sebagai cationic detergents. Digunakan sebagai tambahan bahan pencuci yang bersih, selain itu juga mengandung sifat anti kuman yang membuatnya banyak digunakan di rumah sakit. Kebanyakan deterjen jenis ini adalah turunan dari ammonia. 2. Anionic Detergents Deterjen jenis ini adalah merupakan deterjen yang memiliki gugus ion negatif. 3. Neutral atau Non-Ionic Detergents Nonionic detergen banyak digunakan untuk keperluan pencucian piring. Karena deterjen jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apa pun, deterjen jenis ini tidak bereaksi dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Nonionic detergents kurang mengeluarkan busa dibandingkan dengan ionic detergents.

2.4 Manfaat dan Dampak Deterjen Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas dalam bentuk produk-produk seperti (Ratna, 2012): 1. Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo, sabun cuci tangan, dll. 2. Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling populer di masyarakat. 3. Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk penggunaan manual maupun mesin pencuci piring. 4. Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai, pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll. Secara umum dari sekian banyak gabungan bahan kimia sintesis di dalam

deterjen, hampir semuanya membawa bahaya pada penggunanya. Sebuah penelitian dilakukan oleh University of Washington melaporkan bahwa semua deterjen melepaskan, setidaknya satu karsinogen yang menurut EPA masuk dalam kategori berbahaya atau beracun (hazardous dan toxic). Namun, label pada produk tidak mencantumkan bahan beracun ini pada konsumen. Contohnya yaitu formaldehide yang merupakan karsinogen yang tak diragukan lagi lagi bahayanya bagi kesehatan. Bau formaldehide yang menyengat kemudian ditutupi oleh bahan pengharum sintesis. Bersama gas formaldehide, bahan pengharum sintesis ini, menurut EPA, ternyata bisa mengiritasi sistem pernapasan manusia dan menyebabkan mual (Sarikartika, 1999). Selain berpotensi merugikan kesehatan, bahan-bahan deterjen juga berpotensi merusak lingkungan. Banyak bahan berbahaya yang terkandung di dalam deterjen, seperti pewangi sintetis, phthalates, dan pewarna buatan, termasuk dalam kategori petrokimia, yaitu bahan kimia sintetis yang terbuat dari minyak bumi. Belum lagi jika kita berbicara mengenai limbahnya. Air limbah bekas cucian, sampo dan sabun disebut juga greywater, biasanya dibuang sembarangan ke selokan, yang kemudian akan bermuara di sungai dan laut. Penggunaan ABS sebagai surfaktan dalam deterjen merupakan penyebab dari penumpukan limbah rumah tangga di sungai dan laut. Busa menumpuk yang dihasilkan ABS ini sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga membuat air sungai dan laut menjadi kekurangan oksigen sehingga membahayakan kelangsungan biota yang hidup di dalamnya. Bukan hanya mati, biota sungai dan laut juga bisa cacat akibat mutasi gen (Sarikartika, 1999). Teknik Pengolahan Limbah Deterjen Penanggulangan limbah deterjen dapat dilakukan dengan berbagai teknik pengolahan misalnya biologi yaitu dengan bantuan bakteri, koagulasi-flokulasiflotasi, adsorpsi karbon aktif, lumpur aktif, khlorinasi dan teknik representatif lainnya tergantung dari efektifitas kebutuhan dan efisiensi finansial.

Proses Biologis Proses biologis dapat dikelompokkan berdasarkan pemanfaatan oksigen, sistem pertumbuhan, proses operasi. Ditinjau dari pemanfaatan oksigennya, proses biologis untuk mengolah air buangan dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama, yaitu : proses aerobic, proses anaerobic, proses anoksid dan kombinasi antara proses aerobik dengan salah satu proses tersebut. Berdasarkan sistem pertumbuhannya, proses pengolahan biologis terbagi atas: sistem pertumbuhan tersuspensi, sistem pertumbuhan yang menempel pada media inert yang diam atau kombinasi keduanya. Proses biologis dapat pula dikelompokkan atas dasar proses operasinya. Ada tiga macam proses yang termasuk dalam cara pengelompokan ini, yaitu : Proses kontinu dengan atau tanpa daur ulang; Proses batch; Proses semi batch. Proses kontinu biasa digunakan untuk pengolahan aerobik, sedangkan proses batch atau semi batch lebih banyak digunakan untuk sistem anaerobic. Apabila BOD tidak melebihi 400 mg/L, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/L, proses anaerob menjadi lebih ekonomis. Koagulasi- Flokulasi- Flotasi Cara koagulasi umumnya berhasil menurunkan kadar bahan organik (COD,BOD) sebanyak, 40-70 %. Deterjen mempunyai sifat koloid. Karakteristik dari partikel koloid dalam air sangat dipengaruhi oleh muatan listrik dan kebanyakan partikel tersuspensi bermuatan negative. Cara mendestabilkan partikel dilakukan dalam dua tahap. Pertama dengan mengurangi muatan elektrostatis sehingga menurunkan nilai potensial zeta dari koloid, proses ini lazim disebut sebagai koagulasi. Kedua adalah memberikan kesempatan kepada partikel untuk saling bertumbukan dan bergabung, cara ini dapat dilakukan dengan cara pengadukan dan disebut sebagai flokulasi. Deterjen dan sabun mampu memecah minyak dan lemak membentuk emulsi sehingga dapat diendapkan dengan menambahkan inhibitor garam alkali seperti kapur dan soda. Buih yang terbentuk akan dapat dihilangkan dengan proses

skimming (penyendokan buih) atau flotasi. Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Adsorpsi Karbon Aktif Adsorpsi menggunakan karbon aktif dapat digunakan untuk mengurangi kontaminasi detergen. Detergen yang merupakan molekul organik akan ditarik oleh karbon aktif dan melekat pada permukaannya dengan kombinasi dari daya fisik kompleks dan reaksi kimia. Karbon aktif memiliki jaringan porous (berlubang) yang sangat luas yang berubah-ubah bentuknya untuk menerima molekul pengotor baik besar maupun kecil. Lumpur Aktif Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Klorinasi Detergen mempunyai ikatan ikatan organik. Proses klorinasi akan memecah ikatan tersebut membentuk garam ammonium klorida meskipun akan menghasilkan haloform dan trihalometan jika zat organiknya berlebih. Metoda Analisis Deterjen Metoda analisis deterjen yang digunakan adalah spektrofotometri, yaitu suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu

sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Metode spektofotometri dapat digunakan apbila larutan berwarna, jernih dan tidak ada partikel-partikel lainnya yang akan menggangu kerja dari spektofotometer. Pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri (Saputra, 2009).
Peraturan

Peraturan pemerintah terkait analisis deterjen kelas, yaitu:

tercantum dalam Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia No.82 tahun 2001 yang dibagi kedalam empat

1. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 2. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan ,air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 3. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk imengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut; 4. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

BAB III PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Erlenmeyer 200 mL 2 buah; Gelas ukur 25 mL 1 buah; Gelas ukur 10 mL 1 buah; Corong 2 buah; Beaker glass 400 mL 2 buah; Spatula 1 buah; Kuvet spektro 2 buah; Corong pisah 2 buah; Rak kuvet spektro 1 buah; Labu semprot 1 buah; Statip 4 buah; Tabung reaksi 2 buah; Pipet tetes 3 buah. 3.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Larutan biru metilen; Larutan indikator fenolftalein; NaOH 1 N; H2SO4 1 N dan 6 N; Na2SO4 anhidrat; Aquadest.

3.3 Cara Kerja Cara kerja dari percobaaan analisis deterjen ini adalah: 50 ml sampel dimasukkan ke dalam corong pisah. Agar netral ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein dan NaOH 1 N sampai warna larutan menjadi merah muda; H2SO4 ditambahkan sampai warnanya hilang; 25 ml larutan metilen biru ditambahkan; Larutan diekstraksi dengan 10 ml CH2Cl2 (diklorometan) biarkan selam 30 detik. Dan dibiarkan terjadi pemisahan fase. Di goyang perlahan, apabila terbentuk emulsi ditambahkan isopropil alkohol; Lapisan bawah (CH2Cl2) dipisahkan dan dilakukan ekstraksi menggunakan kertas saring dan Na2SO4 anhidrat; Ekstraksi dilakukan sebanyak 3 kali dan gabungkan hasil ekstraksi; Blanko diperlakukan seperti langkah 1-6; Larutan sampel dan blanko dimasukkan ke dalam kuvet, dibaca panjang gelombang 652 nm dengan spektrofotometer. 3.4 Rumus Rumus Regreasi

a=

b=

(y )(x ) (x )(x y ) n ( ) x x n y ( )( ) x x y n ( ) x x
i i i i i 2 2 i i i i i i 2 2 i i

Keterangan: y = Nilai absorban x = Konsentrasi larutan standar (mg/L) n = Banyak data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data
Larutan standar MBAS (Methylene Blue Active Substance)
Larutan Standar (mg/L)(x) 0,00 0,01 0,02 0,04 0,08 0,10 0,111 0,227 0,528 0,967 1,242 Absorban(y) 0,000

= 0,25
Sumber: Data Praktikum Laboratorium Air Fakultas Teknik Universitas Andalas, 2012

= 3,075

Larutan Sampel
Konsentrasi (ppm) X
Sumber: Data Praktikum Laboratorium Air Fakultas Teknik Universitas Andalas, 2012

Absorban 0,294

4.2 Perhitungan
Larutan Standar MBAS (Methylene Blue Active Substance)
Larutan Standar (mg/L) (x) 0,00 0,01 0,02 0,04 0,08 0,10 = 0,25 Absorban (y) 0,000 0,111 0,270 0,528 0,967 1,242 = 3,075 xi . yi 0 0,00111 0,00454 0,02112 0,07736 0,12420 = 0,22833 0,0001 0,0004 0,0016 0,0064 0,01 = 0,0185 xi 2 0

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Air Fakultas Teknik Universitas Andalas, 2012

Rumus Regresi Linear kurva : y = a + bx Keterangan : y = Nilai Absorban x = Konsentrasi Larutan (ppm)

a=

b=

(y )(x ) (x )(x y ) n ( ) x x n y ( )( ) x x y n ( ) x x
i i i i i 2 2 i i i i i i 2 2 i i

Masukkan nilai x dan y ke dalam persamaan agar didapat nilai a dan b

a=

( 3,075 )( 0,0185 ) ( 0,25 )( 0,22833 ) 2 6( 0,0185 ) ( 0,25 )

5,68875 x10 2 5,70825 x10 2 0,111 0,0625 = 1,95 x10 4 = 0,0485

= - 4,0206 x 10-3
6( 0,22833 ) ( 0,25 )( 3,075 )

b=

6( 0,0185 ) ( 0,25 )

1,36998 0,76875 = 0,111 0,0625 0,60123 = 0,0485 = 12,3964948

Jadi persamaan regresi linearnya: y = 12,3964948x - 0,0040206


dhgt251659264fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument1fHidde n0fLayoutInCell1

Grafik Hubungan antara Absorban dan Larutan Standar (mg/L)

Perhitungan kadar surfaktan pada sampel air Blanko = 0,000 mg/L Sampel y = 12,3964948x 0,0040206 0,294 = 12,3964948x 0,0040206 0,294 + 0,0040206 = 12,3964948x

0,2980206 = 12,3964948x x = 0.0240 mg/L Jadi konsentrasi sampel air adalah 0.0240 mg/L.

4.3 Pembahasan Pada praktikum analisis deterjen ini, praktikan mengambil sampel di goronggorong Banda Bakali, Padang. Kondisi eksisting wilayah pengambilan sampel terdapat berbagai macam limbah rumah tangga yang dibuang di pinggir-pinggir sungai, air sampel yang diambil bau. Praktikan melakukan percobaan untuk

mengukur kadar kandungan MBAS (Methylene Blue Active Substance) pada sampel air. Metode praktikum yang digunakan adalah spektofotometri. Dari data yang diperoleh dapat diketahui konsentrasi sampel air adalah 0.0240 mg/L. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menetapkan batas kandungan MBAS (Methylene Blue Active Substance) jauh dibawah standar

yang telah ditetapkan yaitu kadar deterjen pada air buangan sebesar 200

g/L

sama dengan 0,2 mg/L. Berdasarkan derajat penyimpangan (R) yang didapat sebesar 0.9982652, maka data yang dihasilkan cukup akurat. Apabila derajat penyimpangan (R) besar dari satu maka penyimbangan yang terjadi besar. Konsentrasi surfaktan pada wilayah pengambilan sampel praktikan masih berada dibawah standar hal ini dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan sampel yang dilakukan pada sore hari, dimana aktivitas warga setempat tidak terlalu sibuk. Sehingga limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Pengambilan sampel dilakukan beberapa saat setelah hujan turun. Sehingga terjadi pengenceran yang menyebabkan kadar surfaktan pada air sampel berkurang dan dibawah standar baku mutu. Titik pengambilan sampel diambil pada kedalaman 10 cm. Sehingga penetrasi cahaya yang masuk ke perairan juga akan memepengaruhi kondisi sampel praktikan. Aplikasi dalam bidang teknik lingkungan apabila mengetahui kadar deterjen suatu sampel akan mempermudah engineer lingkungan untuk mengetahui kualitas air tersebut, dan memudahkan kita untuk menentukan perlakuan pengolahan yang tepat pada air tersebut sehingga dapat diolah kembali menjadi air baku yang dapat dimanfaatkan. Apabila suatu badan air mengandung kadar surfaktan yang tinggi, maka upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak pencemaran air ini dapat dimulai dari hal kecil seperti mengubah pola hidup atau kebiasaan masyarakat yang sering membuang air sisa pencucian ke badan air. Selain itu perlu adanya pembaharuan dari segi bahan pembuat deterjen, dimana bahan tersebut harus ramah lingkungan, sehingga dapat meminimalisir potensi terjadinya pencemaran air akibat

terkontaminasi oleh limbah yang disebabkan deterjen. Beberapa hal yang mempengaruhi hasil praktikum seperti kesalahan dalam

pengambilan sample. Saat melakukan praktikum praktikan bisa saja melakukan kesalahan seperti saat ekstraksi larutan dengan mengeluarkan gas yang berada dalam corong pisah.

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapa disimpulkan bahwa:

Nilai konsentrasi analitas deterjen sampel air adalah 0.0240 mg/L; Sampel air praktikan berada dibawah standar yang telah ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.82 tahun 2001tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menetapkan batas kandungan MBAS (Methylene Blue Active Substance) yaitu kandungan deterjen pada air buangan sebesar 200 g/L sama dengan 0,2 mg/L; Manfaat analisis deterjen ini dibidang teknik lingkungan untuk mengetahui kualitas air tersebut, dan memudahkan kita untuk menentukan perlakuan pengolahan yang tepat pada air tersebut sehingga dapat diolah kembali menjadi air baku yang dapat dimanfaatkan; Penanggulangan limbah deterjen dapat dilakukan dengan berbagai teknik pengolahan misalnya biologi yaitu dengan bantuan bakteri, koagulasi-flokulasiflotasi, adsorpsi karbon aktif, lumpur aktif, khlorinasi dan teknik representatif lainnya tergantung dari efektifitas kebutuhan dan efisiensi finansial. 5.2 Saran Saran yang dapat praktikan berikan setelah melakukan praktikum ini, sebagai berikut: Memahami objek praktikum; teliti dalam melakukan praktikum; mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan praktikum sebelum praktikum dimulai; berhati-hati dalam menggunakan alatalat praktikum; teliti dan cermat saat melakukan ekstraksi spektofotometri;

DAFTAR PUSTAKA
Andang, S Ilyani . 2001. Klasifikasi Deterjen. http://www.mailarchive.com/tlusakti@ypb.or.id/msg00343.html Akses 7 November 2012 URL: Tanggal

Fessenden, J Ralp. 1982. Kimia Organik Edisi ke Empat Jilid II. Jakarta: Erlangga

Hart, Harold. 1998. Kimia Organik Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga Permono, Ajar. 2002. Membuat Deterjen Bubuk. Jakarta: Penebar Swadaya Ratna. 2010. Metode Pengolahan Detergen. URL: www.chem.is.try.org/Tinjauan Pada Suatu Instalasi Pengolahan Air Tanggal Akses 7 November 2012 Saputra, Edy Yoky. 2009. Spektofotometri. URL: http://www.chem-is try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/spektrofotometri/ Tanggal Akses 7 November 2012 Sarikartika. 1999. Deterjen. URL:http://www.sarikartika.wordpress.com/deterjen Tanggal akses 31 Oktober 2012 Slamet, Juli Soemirat. 1983. Kesehatan Lingkungan. Bandung: ITB

DOKUMENTASI
Hari/ Tanggal : Jumat/ 2 November 2012 Waktu Lokasi Koordinat : 16.50-17.00 WIB : Gorong-gorong Banda Bakali : 05657.54 Lintang Selatan dan 1002276.98 Bujur Timur

Titik Sampling

Kondisi Eksisting Wilayah Sampling