Anda di halaman 1dari 44

KONSEP KEPERAWATAN GAWAT DARURAT DAN SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU

Bencana & Korban Masal di Indonesia 1980 2007

Bencana & Korban Masal di Indonesia 1980 2007

Bencana & Korban Masal di Indonesia 1980 2007

Bencana & Korban Masal di Indonesia 1980 2007

Bencana & Korban Masal di Indonesia 1980 2007

LATAR BELAKANG
INDONESIA

SUPERMARKET BENCANA
Bencana alam (Natural Disaster) Gempa,

Gunung meletus, Tsunami, Banjir, Banjir bandang, Tanah longsor, Angin Puyuh Karena ulah manusia (Man-Made Disaster)..
Kegagalan teknologi, Kecelakaan massal, Kebakaran hutan dll

Kedaruratan Kompleks....
Konflik sosial, Terorisme dll

Fix the roof while the sun shine Jhon f. Kennedy

Keadaan tenang merupakan kesempatan untuk mempersiapkan diri, memperbaiki kelemahankelemahan, menyempurnakan berbagai prosedur pemantapan organisasi dan lain-lain.

Kesiapan dalam bentuk safe

community.

Konsep Gawat Darurat


GAWAT
Keadaan yang menimpa seseorang atau banyak orang akibat suatu perjalanan penyakit atau rudapaksa Terjadinya secara :
Mendadak Dimana saja Menyangkut siapa saja
:
.

DARURAT
Sifatnya mengancam jiwa perlu penanganan segera secara :
Cermat Tepat Cepat

Bila tidak segera ditangani mengakibatkan kematian, kecacatan, kehilangan anggota tubuh

PHTLS & Prevention

Three peaks of trauma related deaths


First peak Laceration of brain brainstem aorta spinal cord heart

Second peak Extradural Subdural Hemopneumothorax Pelvic fractures Long bone fractures Abdominal injuries

Third peak Sepsis Multi organ failure Secondary Brain Injury

DEATHS
1 hour 3 hours

TRAUMATOLOGI
Pada penderita yang meninggal akibat trauma :
50% meninggal ditempat kejadian 30% meninggal sebelum 4 jam 20% meninggal sebelum 4 minggu

Jam-jam pertama adalah saat yang amat penting untuk terapi definitif

time saving is life saving

Resuscitation :
Pemulihan kehidupan seseorang yang tampaknya meninggal.

Cardiopulmonary resuscitation (CPR)


Memulihkan kembali kerja jantung dan paru, setelah henti jantung atau kematian mendadak nyata yang disebabkan oleh syok listrik, tenggelam, gagal pernafasan atau penyebab lain. Kamus istilah kedokteran, dr. Difa Darwis, Gitamedia Press

PENDERITA DENGAN HENTI NAFAS DAN JANTUNG


Resusitasi Sebelum 1 Menit ------- 98% Selamat
Resusitasi Sesudah 4-5 Menit ------50% Selamat Resusitasi Sesudah 10 Menit ------ 1% Selamat

Menit-menit pertama adalah saat yang amat penting untuk resusitasi ABC

time saving is life saving

AKIBAT PENANGANAN PRE HOSPITAL YANG BURUK


Pasien dirujuk tanpa dilakukan resusitasi terlebih dahulu mati di jalan Penderita dirujuk tanpa kontrol perdarahan syok irreversibel, mati di jalan
Pasien dirujuk tanpa stabilisasi fraktur paraplegi, cedera cervical dll

PENGALAMAN MENANGANI GEMPA JOGJA 2006


Enam puluh lima penderita datang di IRD RS DR. Sardjito, dalam keadaan meninggal padahal pada waktu berangkat dari tempat kejadian masih hidup. Dua puluh tiga penderita datang dalam keadaan paraplegia. Tujuh belas penderita mengalami tetanus 3 minggu kemudian.

LATAR BELAKANG
Setiap penderita gawat darurat berhak mendapatkan pertolongan, begitu pula setiap orang yang menemui penderita gawat darurat wajib memberikan pertolongan. Penderita gawat darurat memerlukan pertolongan segera pada menit menit pertama atau pada jam jam pertama. Kegagalan memberikan pertolongan pada kesempatan pertama akan mengakibatkan kematian dan kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Latar belakang lanjutan


Yang dapat segera memberikan pertolongan kepada penderita gawat darurat adalah kita sendiri yang berada dilokasi sekitar korban. Bantuan dari luar biasanya datang setelah 1 atau 2 hari ( yo-yo phenomen ). Pertolongan gawat darurat hanya akan berhasil baik apabila penanganan pre hospital dan hospital bisa diberikan secara optimal secara terintegrasi.

Latar belakang lanjutan


Sistem penanggulangan gawat darurat terpadu melibatkan berbagai sektor dan disiplin yang harus bekerja sama dalam memberikan pertolongan gawat darurat. Menggali potensi wilayah untuk bisa mewujudkan sistem ini adalah pekarjaan besar yang harus didukung semua pihak sebagai dasar untuk mewujudkan safe community.

SEHAT & AMAN ~ HAK AZASI MANUSIA PEREKAT KEUTUHAN BANGSA PERAN SERTA MASYARAKAT ~ DIK - LAT KERJASAMA LINTAS SEKTOR ~ MASYARAKAT- PEMERINTAH TERSISTEM

SPGDT

Deklarasi Makasar 2000


1. Meningkatkan rasa cinta bernegara, demi terjalinnya kesatuan dan persatuan bangsa, dimana rasa sehat dan aman merupakan perekat keutuhan bangsa. 1. Mengusahakan peningkatan serta pendaya gunaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang ada, guna menjamin rasa sehat dan aman, yang merupakan Hak asasi menusia 1. Memasyarakatkan Sistem penanggulangan Gawat Darurat Terpadu Sehari hari dan Bencana (SPGDTS/B) secara efektif dan efisien. 1. Meningkatkan peran serta masyarakat, dalam pelaksanaan SPGDT melalui pendidikan dan pelatihan. 1. Membentuk brigade GADAR yang terdiri dari komponen lintas sektor baik medik maupun non medik, berperan dalam pelaksanaan SPGDT dengan melibatkan peran serta masyarakat. 1. Dengan terlaksananya butir-butir diatas, diharapkan tercapai keterpaduan antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan keadaan sehat dan aman bagi bangsa dan negara (safe community) menghadapi GADAR sehari-sehari maupun bencana. 1. Terlaksananya SPGDT menjadi dasar menuju Indonesia Sehat 2010 dan Safe Community MAKASAR, 15 November 2000

DESA SIAGA
Pembentukan Desa Siaga dengan SK Menkes no 564/MENKES/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga memberi peluang berkembangnya safe community di Masyarakat. Menegaskan salah satu kegiatan dari Pos Kesehatan Desa adalah Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan"

Desa siaga lanjutan


Menyiapkan awam umum siaga bencana Menyiapkan awam khusus basic life support Diharapkan Desa Siaga telah terbentuk di seluruh Indonesia dekade ini. Apabila harapan dapat terlaksana maka proses terciptanya kesiapsiagaan terhadap bencana dipedesaan akan berjalan dengan baik.

IEMSS
(Integrated Emergency Medical Services System)
Environmental Demographic

Population

Prehospital Communication Transportation

Hospital Emergency Dep HCU, ICU, OR

Rehab.

IEMS outcome

Resources :
Prevention Programs

Personnel, Facilities, Equipment Organization Procedures

SPGDT-S (Sistim Pelayanan Gawat Darurat terpadu Terpadu-Sehari2)


PENANGGULANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
YANG MEMBERI PERTOLONGAN AWAM UMUM PETUGAS DOKTER AWAM KHUSUS AMBULANS PERAWAT MULTI DISIPLIN MULTI PROFESI MULTI SEKTOR

PENCEGAHAN

ANTARA LAIN HELM SABUK PENGAMAN

TUJUAN MENCEGAH
KOMUNIKASI TRANSPORTASI - KEMATIAN - KECACADAN

MASYARAKAT AMAN / EJAHTERA SAFE COMMUNITY)

+ +
PASIEN AMBULANS PUSKESMAS RS.KLAS C PRA RS PENDANAAN TIME SAVING IS LIFE SAVING RESPONSE TIME DIUPAYAKAN SEPENDEK MUNGKIN MERUJUK THE RIGHT PATIENT, TO THE RIGHT PLACE AT THE RIGHT TIME RS. KLAS A/B INTRA RS

INTRA RS

ANTAR RS

FASE FASE DALAM SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU

Fase deteksi Fase supresi Fase pra rumah sakit Fase rumah sakit Fase rehabilitasi Fase evaluasi

I. FASE DETEKSI
Mendeteksi keadaan lingkungan di sekitar kita yang memungkinkan kita menghadapi penderita gawat darurat. = adanya gunung berapi aktif = adanya kemungkinan gempa oleh karena letak wilayah diatas lempengan kulit bumi yang tidak stabil = arus lalu lintas yang padat dengan frekwensi kecelakaan yang tinggi

I. Fase deteksi lanjutan


= adanya pabrik yang mungkin bisa mencemari lingkungan oleh karena buangan limbahnya atau adanya bocoran bahan bahan berbahaya = adanya wilayah wilayah dimana sering terjadi tindak kriminal dll.

II. FASE SUPRESI


Sesudah kita bisa mendeteksi hal hal yang dapat mengakibatkan keadaan gawat darurat maka kita lakukan cara cara pencegahannya. = membuat jalur evakuasi bila sewaktu waktu gn. Merapi meletus = mengatur aliran lahar agar tidak melalui wilayah berpenduduk = membuat bangunan bangunan yang tahan gempa

II. Fase supresi lanjutan


= memperketat aturan lalu lintas, mewajibkan penggunaan helm standart dan sabuk pengaman = memperketat aturan pengelolaan limbah pabrik dan masalah keselamatan dan kesehatan kerja = menggiatkan patroli kepolisian dan pengamanan swakarsa ditempat tempat rawan kejahatan dll.

III. FASE PRA RUMAH SAKIT


Keharusan adanya akses dari tempat kejadian dengan SPGDT. Adanya alat komunikasi yang lancar yang memungkinkan arus informasi cepat direspons. Diperlukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat tentang SPGDT sehingga sewaktu waktu terjadi keadaan gawat darurat mereka tahu apa yang harus dilakukan.

III. Fase pra rumah sakit lanjutan


Dilakukan pelatihan pelatihan Bantuan Hidup Dasar terhadap kelompok awam khusus seperti anggota pramuka, anggota PMI, guru, pamong desa, satpam, pemadam kebakaran, pengemudi, sekretaris dll. Koordinasi ambulans gawat darurat diseluruh wilayah kerja untuk penanggulangan yang efektif dan efisien. Koordinasi dengan Badan SAR, Pemadam Kebakaran dan Kepolisian serta instansi terkait.

AMBULANS GAWAT DARURAT


Peranan ambulans gawat darurat didalam fase pra rumah sakit sangat penting disamping peran SAR, pemadam kebakaran, polisi, PMI dll. Peran ambulans gawat darurat disini adalah mengadirkan instalasi gawat darurat kelapangan sehingga proses resusitasi dan stabilisasi terhadap penderita gawat darurat dapat optimal dan selanjutnya dapat dievakuasi dengan aman. Sehingga ambulans gawat darurat harus dapat hadir dalam menit menit pertama di tempat kejadian .

TUGAS UTAMA AMBULANCE GAWAT DARURAT PADA FASE PRE HOSPITAL


Resusitasi ABC pada menit-menit pertama Stabilisasi bila ada kecurigaan adanya fraktur The right patient by the right ambulance to the right hospital on the right time

time saving is life and limb saving

STANDART PELAYANAN AMBULANS GAWAT DARURAT


PERSONIL
Dokter Emergency :1 orang Paramedik :2 orang( satu orang sebagai sopir )

MOBIL AMBULANS GAWAT DARURAT Kendaraan roda 4, suspensi lunak, ruang belakang cukup tinggi untuk berdiri petugas, cukup untuk membawa satu brankar, dan ada satu kursi untuk petugas. Fasilitas yang harus tersedia :
Cairan infus terutama Ringer Lactat, Asering dan NaCl Sol povidon iodine,alkohol 76%, kasa steril, kasa verban DC shock Infus set, vena kateter, Folley katater,urine bag Oksigen, Ambo bag, slang oksigen Spalk lengan, spalk tungkai, long spine board, cervical collar Brankar Garasi ambulans

Lanjutan STANDART PELAYANAN AMBULANS GAWAT DARURAT

KEMAMPUAN OPERASIONAL
Melakukan ABC resusitasi Pemberian oksigen dan bagging Mengoperasikan DC shock Penghentian perdarahan Resusitasi cairan Stabilisasi fraktur Transport penderita untuk evakuasi dan rujukan

TATA KERJA Bila sewaktu-waktu ada bencana atau keadaan gawat darurat yang memerlukan kehadiran ambulan gawat dararat maka yang berangkat adalah dokter dan paramedis yang berdinas di Instalasi Gawat Darurat waktu itu. Shift dokter dan paramedis yang berikutnya menggantikan tugas jaga di Instalasi Gawat Darurat. DANA Uang makan bagi personil yang berangkat 3 ( tiga ) orang dan uang bensin.

IV. FASE RUMAH SAKIT


Didalam SPGDT rumah sakit rumah sakit di suatu wilayah kerja disatukan dalam jaringan kerjasama bila menghadapi suatu bencana atau kasus gawat darurat. Masing masing rumah sakit memberikan data mengenai kapasitas, sarana dan prasarana, fasilitas serta SDM yang dimiliki sehingga dapat dibuat suatu geomedik mapping di wilayah kerja tersebut

IV. Fase rumah sakit lanjutan


Secara operasional jaringan kerja sama rumah sakit ini bekerja terintegrasi dengan penanganan pra rumah sakit di lapangan. Dengan adanya geomedik mapping diharapkan proses evakuasi dan rujukan penderita gawat darurat dari lapangan hingga penanganan definitif dapat berjalan cepat dan tepat. Terselenggaranya the right patient to the right hospital by the right ambulance on the right time dapat mencegah kematian dan kecacatan yang tidak perlu.

V. FASE REHABILITASI
Semua penderita yang mengalami cedera atau cacat akibat suatu kecelakaan ataupun bencana harus dilakukan rehabilitasi secara fisik dan mental sehingga mereka dapat kembali berfungsi ditengah kehidupan bermasyarakat.

VI. FASE EVALUASI


Suatu sistem yang baik harus mampu : = Memonitor kegiatan penanggulangan yang telah dilakukan. = Mengevaluasi secara terus menerus dampak kegiatan terhadap morbiditas dan mortalitas serta memikirkan kebutuhan untuk pengembangan.

TERIMA KASIH