Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN ISOLASI PATOGEN DAN AGEN HAYATI

OLEH: KELOMPOK 1 ICHWAN GAYUH F HERI SETYAWAN IRWANTO SUCIPTO EKA BAGUS N (081510501007) (081510501016) (081510501018) (081510501159)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Penyakit tumbuhan adalah kondisi dimana sel dan jaringan tanaman tidak berfungsi secara normal, yang ditimbulkan karena gangguan secara terus menerus oleh agen patogenik (biotik) atau faktor lingkungan (abiotik) dan akan menghasilkan perkembangan gejala (Jarnanto, 2011). Penyakit tanaman terjadi bila salah satu atau beberapa fungsi fisiologis tumbuhan menjadi abnormal karena adanya gangguan patogen atau kondisi lingkungan tertentu (faktor abiotik). Sehingga suatu tanaman bisa dikatakan sehat apabila mampu melangsungkan fungsi fisiologisnya secara optimal sesuai kemampuan genetisnya (Jarnanto, 2011). Tanaman yang terkena penyakit ini dapat dilihat dari kenampakan fisiknya, tetapi selanjutnya harus dipastikan dengan cara mengisolasi pathogen tersebut untuk mendapat kepastian bahwa tanaman tersebut memang terkena penyakit atau gejala kekurangan hara. Organisme dalam aktivitas hidupnya selalu berinteraksi dengan organisme lainnya dalam suatu keterkaitan dan ketergantungan yang kompleks. Sehingga penyakit ini dapat menular kemana-mana melalui interaksi dengan organism lainnya. Interaksi antar organisme tersebut dapat bersifat antagonistik, kompetitif atau simbiotik. Sifat antagonistik ini dapat dilihat pada musuh alami yang merupakan agen hayati dalam pengendalian OPT. Musuh alami memiliki peranan dalam pengaturan dan pengendalian populasi OPT, sebagai faktor yang bekerjanya tergantung kepada kepadatan, dalam kisaran tertentu musuh alami dapat mempertahankan populasi OPT di sekitar aras keseimbangan umum. Pada praktikum kali ini organisme antagonistic yang ingin didapatkan adalah organism dari kalangan entomopatogen. Organisme entomopatogen ini diisolasi dari tanaman yang sakit dimana didapatkan organism pathogen juga. Hal ini dikarenakan pada tanaman yang sakit selain terdapat organism pathogen juga terdapat organism entomopatogen, sehingga agen hayati tersebut juga dapat diisolasi dari tanaman yang sakit. Oleh karena itu pada praktikum kali ini untuk membuktikan hal tersebut maka dilakukan isolasi pathogen juga organisme yang bertindak sebagai agen hayati untuk mengendalikan pertumbuhan pathogen

tersebut. Dengan mengetahui adanya organisme patogen dan agen hayatinya, maka diharapkan akan dapat mengetahui agen hayati yang ada untuk dapat digunakan sebagai pengendali dari patogen yang ada di pertanaman. Dengan melakukan isolasi secara langsung di areal pertanaman yang sakit diharapkan akan mendapatkan agen hayati yang masih virulen sebagai pengendali organisme patogen yang mengganggu tanaman pertanian. 1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum Isolasi Patogen dan Agen Hayati ini bertujuan untuk mendapatkan isolate pathogen tanaman dan Agen hayati.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit layu bakteri merupakan salah satu penyakit yang cukup penting pada tanaman kentang. Menurut Setiadi (2004), penyakit layu bakteri ini dapat mengakibatkan kematian kentang hingga 40%. Penyakit yang sering disebut penyakit lendir ini disebabkan oleh R. solanacearum. Patogen ini merupakan bakteri patogen terbawa tanah yang menjadi faktor pembatas utama produksi berbagai tanaman di dunia (Olson, 2005). Ralstonia solanacearum merupakan bakteri patogen tular tanah yang menjadi faktor pembatas utama dalam produksi berbagai jenis tanaman di dunia. Bakteri ini tersebar luas di daerah tropis, sub tropis, dan beberapa daerah hangat lainnya. Spesies ini juga memiliki kisaran inang luas dan dapat menginfeksi ratusan spesies pada banyak famili tanaman (Anonim (2010). Bakteri ini adalah patogen yang menyebar luas di daerah tropis, subtropis, dan beberapa daerah hangat di dunia. Spesies ini mempunyai inang yang sangat luas dan dapat menginfeksi ratusan spesies pada banyak famili tanaman. Tanaman inang paling penting secara ekonomi adalah tanaman dari famli Solanaceae (Olson, 2005). Denny (2001) menyatakan bahwa bakteri ini bersifat patogenik terhadap lebih 50 famili tanaman. Kebanyakan inangnya adalah tanaman dikotil dan tanaman pisang. Trichoderma sp. masuk dalam kelas Sordariomycetes dan family Hypocreaceae. Konidiofor hyaline, bercabang dan pyramidal. Konidia (dengan diameter rata rata 3 m) berbentuk sel tunggal dan bulat permukaannya halus dan kasar. Sedangkan klasifikasi cendawan Trichoderma sp. Sendiri adalah sebagai berikut : Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus : Fungi : Ascomycota : Pezizomycotiana : Sordariomycetes : Hypocreales : Hypocreaceae : Trichoderma

(Anonim, 2010).

Cendawan Trichoderma sp. dapat hidup pada beberapa macam kondisi lingkungan. Trichoderma hamatum dan Trichoderma pseudokoningii dapat berdaptasi pada kondisi kelembaban tanah yang sangat tinggi. Trichoderma viride dan Trichoderma polysporum terbatas pada daerah yang mempunyai suhu rendah. Trichorderma harzianum sangat umum ditemukan di daerah yang beiklim panas, sedangkan Trichorderma hamatum dan Trichorderma koningii tersebar luas pada kondisi iklim yang bermacammacam. Kondisi kering dalam waktu yang lama mengakibatkan populasi Trichoderma sp. menurun (Anonim, 2010). Trichoderma sp. dapat bersifat antagonis terhadap banyak cendawan karena mempunyai banyak cara untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan cendawan lain. Hal ini yang mendasari penggunaan spesies jamur ini dalam pengendalian OPT dengan menggunakan agen hayati. Ada tiga mekanisme antagonis cendawan Trichoderma harzianum terhadap patogen tular tanah yaitu sebagai kompetitor baik ruang maupun nutrisi, antibiosis yaitu mengeluarkan ethanol yang bersifat racun bagi patogen dan sebagai mikro parasit (Sudantha, 1995). Diseluruh dunia perhatian kepada golongan bakteri Pseudomonas sp. Bahwa strain P.fluorescens dan P. putida yang diaplikasikan pada umbi kentang telah menggalakkan pertumbuhan umbi kentang. Pseudomonad pendarfluor meningkatkan hasil panen umbi kentang 5-33%, gula beet 4-8 ton/ha. dan menambah berat akar tumbuhan radish 60-144%. Strain ini dan strain-strain yang sama dengannya disebut sebagai rizobakteri perangsang per tumbuhan tanaman (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria, PGPR). Sebutan sebagai rizobakteri pada bakteri Pseudomonas sp.sehubungan dengan kemampuannya mengkoloni disekitar akar dengan cepat (Anonim, 2011).

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum Isolasi Patogen dan Agen Hayati dilaksanakan di Laboratorium Penyakit, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Jember Kabupaten Jember pada hari Sabtu 16 April 2011 pukul 09.30 WIB. 3.2 Alat dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. Sampel tanaman sakit Sampel tanah rhizozfer Media KingS B, NA, PDA Air Steril Alkohol 70 % pipet, skapel, mikro pipet, rak tabung, vortex, laminary air flow, dan timbangan). 3.3 Cara Kerja 1. 2. 3.
4.

6. Seperangkat alat isolasi (cawan petri, tabung reaksi, erlenmeyer, 125 ml,

Mengambil tanah dilapang secara acak dan kemudian mencampur jadi satu. Setiap sampel tanah yang didapatkan, diambil 5 grm dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 10 ml air seteril kemudian difortek. Didiamkan selama 10 menit agar kotoran ranah mengendap dan tinggal suspensi yang ada bakteri atau jamurnya saja. Dilakukan pengenceran hingga 10-5 , pada pengenceran 10-3 adalah untuk jamur, 10-4 adalah untuk bakteri dan 10-5 untuk pseudomonas fleurescen Mengambil media PDA untuk jamur, media Na untuk bakteri dan media Kings B untuk pseudomonas fleurescen Memasukkan suspensi kedalam media sebanyak 1 ml dan dilakukan secara aseptik didalam laminary air flow, dan untuk media PDA, dimasukkan asam laktat terlebih dahulu agar tidak tumbuh bakteri.

5.

6.

7.

Mengamati hasilnya setelah diinkubasi selama 48 jam. BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel Hasil Pengamatan Bakteri dan Jamur pada Berbagai Sampel Tanah Tanaman Terhadap Beberapa Media Isolasi
No. 1. 2. 3. Media PDA NA KINGS B Jagung P. Fluorescen Sampel Tanah pada Tanaman Tomat Terong Jagung P. Fluorescen P. Fluorescen P. Fluorescen Cabai P. Fluorescen -

4.2

Pembahasan Pengendalian hayati terhadap patogen memiliki suatu pengertian, yaitu

penghancuran sebagian atau seluruh populasi patogen yang dilakukan oleh organisme lain. Mikroorganisme antagonis mungkin terdiri atas strain avirulen patogen yang sama, yang merusak atau menghambat perkembangan patogen tersebut. Beberapa tahun belakangan ini, manusia telah mencoba memanfaatkan agen biologi alami tersebut dan mengembangkan strategi pengendalian hayati yang saat ini dapat digunakan secara efektif untuk mengatasi beberapa jenis penyakit tumbuhan (Jarnanto, 2011). Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agens pengendali hayati muncul karena kekhawatiran masyarakat dunia akibat penggunaan pestisida kimia sintetis. Adanya kekhawatiran tersebut membuat pengendalian hayati menjadi salah satu pilihan cara mengendalikan patogen tanaman yang harus dipertimbangkan (Jarnanto, 2011). Penggunaan agen pengendalian hayati dalam pengendalian OPT mempunyai beberapa keunggulan antara lain 1) tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, 2) tidak memusnahkan musuh alami bagi OPT tertentu, 3) mencegah timbulnya ledakan OPT sekunder, 4) produk bebas residu pestisida sehingga mutu akan lebih baik, 5) tidak mengganggu kesehatan manusia, 6) terdapat disekitar areal pertanaman sehingga mencegah ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis, dan 7) dapat menurunkan biaya produksi, karena aplikasi dapat dilakukan sekali dalam 1 musim tanam (Jarnanto, 2011). Oleh karena itu pada praktikum kali ini dipelajari mengenai isolasi pathogen dan agen hayati pada tanah rhizozfer yaitu pada daerah perakaran 30

cm. Dengan melakukan isolasi ini dapat diketahui bahwa pada setiap tanaman yang terkena penyakit, disana pasti ada agen hayati. Tetapi agen hayati ini populasinya masih dalam jumlah sedikit sehingga masih berlum bisa mengendalikan sepenuhnya. Pengendalian hayati ini termasuk dalam komponen Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT) yang salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan bakteri antagonis. Berbagai penelitian tentang bakteri antagonis membuktikan bahwa beberapa jenis bakteri potensial digunakan sebagai agens hayati. Seperti dalam praktikum kali ini telah didapat bakteri Pseudomonad fluorescen. Bakteri antagonis tersebut selain dapat menghasilkan antibiotik dan siderofor, juga dapat berperan sebagai kompetitor terhadap unsur hara bagi patogen tanaman. Pemanfaatan bakteri antagonis dimasa depan akan menjadi salah satu pilihan bijak dalam usaha meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian hayati untuk menunjang budidaya pertanian berkelanjutan (Hasanuddin, 2003). Agens pengendali hayati secara umum memiliki mekanisme penghambatan terhadap patogen melalui antibiotik yang dihasilkannya, kompetisi terhadap nutrisi, atau parasitisme langsung terhadap patogen. Agen pengendalian hayati tidak memberi peluang pada patogen untuk mencapai populasi yang cukup tinggi hingga dapat menyebabkan tingkat keparahan penyakit yang tinggi (Jarnanto, 2011). Tetapi karena jumlahnya di alam ini tidak seimbang dengan patogennya maka perlu dilakukan perbanyakan sendiri. Sebelum memperbanyak perlu diketahui bagaimana cirri-ciri dari agen hayati tersebut (Jarnanto, 2011). Beberapa agen hayati yang ingin didapatkan saat tanah diisolasi pada praktikum yang telah dilaksanakan adalah Pseudomonas fluorescen dan Trichoderma sp. Sedangkan organism yang diinginkan saat diisolasi yang menyebabkan penyakit pada tanaman adalah R. solanacearum. Penyakit layu bakteri merupakan salah satu penyakit yang cukup penting pada beberapa tanaman. Menurut Anonim (2010), penyakit layu bakteri ini dapat mengakibatkan kematian kentang hingga 40%. Penyakit yang sering disebut penyakit lendir ini disebabkan oleh R. solanacearum. Patogen ini merupakan

bakteri patogen terbawa tanah yang menjadi faktor pembatas utama produksi berbagai tanaman di dunia (Olson, 2005). Bakteri ini adalah patogen yang menyebar luas di daerah tropis, subtropis, dan beberapa daerah hangat di dunia. Spesies ini mempunyai inang yang sangat luas dan dapat menginfeksi ratusan spesies pada banyak famili tanaman. Tanaman inang paling penting secara ekonomi adalah tanaman dari famli Solanaceae (Anonim, 2010). Denny (2001) menyatakan bahwa bakteri ini bersifat patogenik terhadap lebih 50 famili tanaman. Kebanyakan inangnya adalah tanaman dikotil dan tanaman pisang. Klasifikasi bakteri penyebab layu tersebut adalah (Anonim, 2010): Kingdom Divisi Kelas Famili Genus Spesies : Procaryotae : Gracilicutes : Proteobacteria : Pseudomonadaceae : Ralstonia : Ralstonia solanacearum R. solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang (0.50.71.5-2.5 m), berflagel, aerobik, tidak membentuk endospora tidak berkapsula, motil, membentuk koloni berlendir, berwarna putih dengan warna kemerahan pada bagian tengah, reaksi oksidasi dan katalase positif, dapat mengakumulasi poly--hydroxybutyrate (PHB) dan mengurangi nitrat. Bakteri ini sedikit atau tidak tumbuh pada medium 2% NaCl dan bersifat negatif terhadap arginin dihydrolase, gelatin, serta hydrolisis eskulin (Denny, 2001). Pada medium CPGTTC, koloni R. solanacearum yang virulen akan membentuk koloni yang luas, tidak beraturan, cembung, berlendir, warna putih susu dengan tengahnya berwarna merah muda, sedangkan yang tidak virulen tidak atau kurang berwana merah (Olson, 2005). Tanaman yang sakit dapat membebaskan banyak bakteri dalam tanah. Bakteri dapat masuk ke dalam tanaman lain yang sehat melalui aliran air, penggemburan tanah, dan pemindahan tanaman. Bakteri masih dapat hidup di tanah selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun pada suhu 21-35 oC

dengan kandungan air tanah tinggi (Pracaya, 2007). Menurutnya, patogen ini dapat hidup di dalam tanah selama 3-5 tahun. Berdasarkan kisaran inangnya, R. solanacearum dikelompokkan menjadi 5 ras. Ras 1 menyerang tanaman tembakau, tomat dan famili solanaceae lainnya, ras 2 menyerang tanaman pisang, ras 3 menyerang tanaman kentang, ras 4 menyerang tanaman jahe, dan ras 5 menyerang tanaman mulberry (Jarnanto, 2011). Penyakit layu tidak akan terjadi di daerah dengan suhu di bawah 10 oC dan di atas 40 oC. Biasanya berkembang baik pada kisaran suhu antara 35-37 oC. Hal ini sesuai dengan waktu pengambilan tanaman yang berkisar pada suhu tersebut. Patogen ini dapat hidup pada semua jenis tanah dan kisaran pH yang luas, mulai dari tanah asam dengan pH 4,3-4,5 sampai tanah alkalis dengan pH 7,5-8,5. Biasanya patogen ini menginfeksi perakaran tanaman melalui lubang alami atau luka dan bergerak secara sistemik melalui pembuluh silem sehingga menyebabkan kelayuan (Goto, 1992). Pada umumnya, pertama kali gejala layu terlihat pada tanaman yang berumur lebih kurang 6 minggu. Biasanya daun layu dimulai dari daun muda. Apabila batang tanaman yang terinfeksi penyakit dipotong dan ditekan, maka akan terlihat berkas pembuluh yang berwarna coklat dan mengeluarkan massa lendir berwana keabuan. Apabila batang yang dipotong tersebut dimasukkan ke dalam air jernih, maka akan mengeluarkan benang putih halus yang merupakan massa bakteri. Hal ini merupakan perbedaan yang jelas antara penyakit layu bakteri dan penyakit layu Fusarium (Anonim, 2010). Menurut Anonim (2010), Bakteri layu ini menghasilkan enzim pektolitik yang berperan sebagai perombak zat pektat penyusun lamela tengah pada dinding sel tanaman, sehingga enzim ini penting peranannya dalam infeksi patogen. Bakteri ini memiliki extracellular polycaccharides (EPS) yang berlendir dan dapat menghalangi transformasi air serta unsur hara ke daun, sehingga tanaman tidak dapat melakukan fotosintesis dan tanaman menjadi layu hingga akhirnya tanaman mati. Keberadaan EPS menentukan tingkat kepatogenan R. solanacearum. EPS terdiri dari homo dan heteropolisakarida yang berfungsi melindungi bakteri dari kekeringan, pagositosis protozoa dan serangan organisme

lain, tempat menerima dalam absorbsi fag, adhesi sel bakteri ke permukaan benda padat, pengambilan ion, dan interaksi inang parasit. Berdasarkan data yang didapat, bakteri ini tidak didapatkan waktu isolasi. Hal ini kemungkinan dikarenakan agen hayati pada daerah tersebut sudah dapat menekan bakteri ini sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa ada bakteri ini. Kenampakan tanaman yang seperti sakit ini kemungkinan dikarenakan pada tanaman tersebut kekurangan hara sehingga tampak layu. Selain itu juga factor cuaca juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dari tanaman tersebut. sehingga tanaman tersebut tampak layu. Sedngkan untuk golongan entomopatogen yang ingin didapatkan adalah jamur Trichoderma sp. Dan bakteri Pseudomonas fluorescens. Jamur ini masuk dalam kelas Sordariomycetes dan family Hypocreaceae. Konidiofor hyaline, bercabang dan pyramidal. Konidia (dengan diameter rata rata 3 m) berbentuk sel tunggal dan bulat permukaannya halus dan kasar. Sedangkan klasifikasi cendawan Trichoderma sp. Sendiri adalah sebagai berikut : Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus : Fungi : Ascomycota : Pezizomycotiana : Sordariomycetes : Hypocreales : Hypocreaceae : Trichoderma Pada praktikum kali ini kita melakukan isolasi terhadap tanah daerah perakaran tanaman yang sakit, dari isolasi tersebut diharapkan terdapat jamur entomopatogen ini. Dimana terdapat kemungkinan adanya inokulum dari patogen maupun dari cendawan antagonis tricoderma sp. Terdapat lima jenis Cendawan marga Trichoderma yang mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride, Trichorderma hamatum dan Trichorderma polysporum. Jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, dan Trichorderma viride.

Trichoderma sp. umumnya penghuni tanah, khususnya pada tanah organik. Cendawan ini dapat hidup sebagai saprofitik atau parasitik terhadap cendawan lain, bersifat antagonistik dan banyak digunakan sebagai pengendalian biologi (Anonim, 2010). Trichoderma sp. juga ditemukan pada permukaan akar bermacam-macam tumbuhan, pada kulit kayu yang busuk, terutama kayu busuk yang terserang cendawan dan pada sklerotia atau propagul lain dari cendawan lain. Cendawan Trichoderma sp. dapat hidup pada beberapa macam kondisi lingkungan. Trichoderma hamatum dan Trichoderma pseudokoningii dapat berdaptasi pada kondisi kelembaban tanah yang sangat tinggi. Trichoderma viride dan Trichoderma polysporum terbatas pada daerah yang mempunyai suhu rendah. Trichorderma harzianum sangat umum ditemukan di daerah yang beiklim panas, sedangkan Trichorderma hamatum dan Trichorderma koningii tersebar luas pada kondisi iklim yang bermacammacam. Kondisi kering dalam waktu yang lama mengakibatkan populasi Trichoderma sp. menurun (Anonim, 2010). Pada praktikum kali ini, digunakan pengenceran sebanyak 4 kali, untuk kemudian isolasi preparat dilakukan pada media NA pada suhu kamar (27 derajat Celcius). Setiap spesies cendawan genus Tricoderma memiliki kisaran suhu yang berbeda beda untuk dapat berkembang dengan maksimum, begitu pula dengan PH lingkungan / medianya. Suhu optimum untuk pertumbuhan Trichoderma harzianum adalah 15 31 derajat Celcius, tetapi pertumbuhan terbaik rata-rata pada suhu 30 derajat Celcius dan untuk suhu maksimum 30 36 derajat Celcius. Sedang suhu optimum untuk pertumbuhan Trichorderma koningii adalah 26 derajat Celcius. Pertumbuhan normal untuk cendawan Trichorderma harzianum pada pH 3,7-4,7 sedangkan Trichorderma koningii pertumbuhan optimumnya pada pH 3,7-6,0 (Anonim, 2010). Trichoderma sp. dapat bersifat antagonis terhadap banyak cendawan karena mempunyai banyak cara untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan cendawan lain. Hal ini yang mendasari penggunaan spesies jamur ini dalam pengendalian OPT dengan menggunakan agen hayati. Ada tiga mekanisme antagonis cendawan Trichoderma harzianum terhadap patogen tular tanah yaitu

sebagai kompetitor baik ruang maupun nutrisi, antibiosis yaitu mengeluarkan ethanol yang bersifat racun bagi patogen dan sebagai mikro parasit (Anonim, 2010). Trichoderma koningii dan Trichoderma viride dapat menghambat secara nyata terhadap cendawan Fusairum annosus dan Rhizocthonia solani dengan antibiotika menguap yang dihasilkannya. Disamping itu Trichoderma koningii dan Trichoderma viride juga dapat menggulung Fusarium annosus dan Rhizocthonia solani. Trichoderma koningii dapat mempengarui Phytophthora Palmivora yang merupakan cendawan penyebab panyakit busuk buah kakao dengan perubahan warna menjadi kuning. Diduga hal ini karena adanya antibiotika yang dikeluarkan oleh Trichoderma koningii tersebut. cendawan antagonis yang lain seperti Trichoderma pseudokoningii dan Trichoderma aureoviride berdasarkan pengamatan menandakan kontak langsung secara fisik dengan Phytophthora Palmivora (Anonim, 2010). Berdasarkan data yang didapat ternyata, jamur ini tidak didapatkan. Hal ini kemungkinan dikarenakan lingkungan pada daerah tersebut tidak mendukung pertumbuhan jamur ini. Sedangkan Berdasarkan hasil pengamatan pada isolat media KINGs B, ditemukan adanya koloni Pseudomonas fluorescen. Koloni ini ditemukan pada isolat kelompok 1 5. Pada kelompok 1 4, bakteri ini ditemukan pada isolat dengan media Kingb. Sedangkan pada kelompok 5, ditemukan pada media NA. Kelompok bakteri mempunyai peranan yang sangat besar dalam pengendalian hayati. Sebagai mikroba entomopatogen, bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah secara alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Bakteri ini berbentuk batang lurus atau lengkung, ukuran tiap sel bakteri 0.5-0.1 1m x 1.5-4.0 m, tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. P. fluorescens termasuk ke dalam bakteri yang dapat ditemukan di mana saja (ubiquitous); sering kali ditemukan pada bagian tanaman (permukaan daun dan akar) dan sisa tanaman yang membusuk, tanah dan air (Bradbury 1986, dalam

Anonim, 2011), sisa-sisa makanan yang membusuk, serta kotoran hewan. Ciri yang mencolok dan mudah dilihat dari P. fluorescens adalah kemampuannya menghasilkan pigmen pyoverdin dan atau fenazin pada medium KingB sehingga terlihat berpijar bila terkena sinar UV. Pseudomonas terbagi atas grup, salah satu diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine (Brock & Madigan 1988). Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa, P. fluorescent, P. putida, dan P. multivorans (Stanier et al 1965, dalam Anonim, 2011). Kelompok bakteri Pseudomonas sp. telah diteliti sebagai agen pengendalian hayati penyakit tumbuhan. Anonim (2011) mengatakan bahwa kemampuan PGPR (plant growth promoting rhizobacteria, dimana Pseudomonas fluorescen merupakan saalah satunya) sebagai agen pengendalian hayati adalah karena kemampuannya bersaing untuk mendapatkan zat makanan, atau karena hasil-hasil metabolit seperti siderofor, hidrogen sianida, antibiotik, atau enzim ekstraselluler yang bersifat antagonis melawan pathogen. Perlakuan benih timun menggunakan strain PGPR menyebabkan ketahanan sistemik terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan Colletotrichum arbiculare. Anonim (2011) menyebutkan

aplikasi P.fluorescens strain S97 pada benih kacang telah menimbulkan ketahanan terhadap serangan penyakit hawar disebabkan P. syringe pv. phaseolicola. Maurhofer et al. P. fluorescens strain CHAO menyebabkan ketahanan pada tumbuhan tembakau terhadap serangan virus nekrotik tembakau. Baru-baru ini telah dibutikan bahwa Pseudomonas sp. dapat menstimulir timbulnya ketahanan tanaman terhadap infeksi jamur patogen akar, bakteri dan virus. Dengan ketahanan ini, diharapkan tanaman yang pada daerarh perakarannya terdapat Pseudomonas sp dapat lebih tahan terhadap infeksi patogen tular tanah. Sianida yang dihasilkan P. fluorescens stroin CHAO merangsang pembentukan akar rambut pada tumbuhan tembakau dan menekan pertumbuhan Thielaviopsis

basicola penyebab penyakit busuk akar, diduga bahwa sianida mungkin penyebab timbulnya ketahanan sistemik (ISR). Siderofor pyoverdine dari P. fluorescens strain CHAO adalah sebab timbulnya ketahanan sistemik pada tumbuhan tembakau terhadap infeksi virus nekrosis tembakau. Mekanisme kerja dari agen pengendalian hayati umumnya digolongkan sebagai persaingan zat makanan, parasitisme, dan antibiosis. Peranan antibiotik dalam pengendalian hayati menunjukkan bahwa kemampuan Streptomyces griseuspengeluar antibiotik streptomisin dan strain mutasi yang tidak menghasilkan antibiotik dalam menekan pertumbuhan Bacillus subtilis temyata tidak berbeda tingkat antagonisnya, penelitian ini berkesimpulan bahwa antibiotik bukan satu-satunya penyebab timbulnya antagonis (Anonim, 2011). Saat ini, kemajuan dalam rekayasa genetik telah membolehkan penelitian terhadap mutan dijalankan dengan lebih akurat dan terperinci sehingga banyak hipotesis tentang antibiotik telah dibuktikan, tritici. misalnya Pseudomonas Bakteri ini terbukti fluorescens adalah agen pengendalian hayati penyakit take-all pada gandum yang disebabkan Gaeumannomyces graminis var. menghasilkan antibiotik phenazin yang menekan pertumbuhan G. graminis dalam pengendalian hayati (Anonim, 2011). Penggunaan bakteri P.fluorescens masih memerlukan penelitian lebih lanjut tentang sejauh mana keefektifannya sebagai agen hayati di lapangan bila di bandingkan dengan agen pengendali lainnya, baik dengan Spesies yang lainnya maupun dengan golongan mikroba entomopatogen yang lain ( jamur, virus, nematoda). Akan tetapi, hingga saat ini telah banyak data penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan bakteri ini efektif untuk menekan pertumbuhan dari patogen tular tanah. BAB 5. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam sampel tanah tanaman yang diisolasi, didapatkan isolat agen hayati

Pseudomonas fluorescen.

2. Pseudomonas fluorescen merupakan salah satu agen pengendalian hayati

karena kemampuannya bersaing untuk mendapatkan zat makanan, serta mengeluarkan karena hasil-hasil metabolit seperti siderofor, hidrogen sianida, antibiotik, atau enzim ekstraselluler yang bersifat antagonis melawan pathogen.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Aplikasi Trichoderma Sp Pada Pembibitan Tembakau Kasturi. Serial online. http://ekyowinnersnews.blogspot.com. Diakses tanggal 29 April 2011. Anonim. 2010. Layu Bakteri. Serial online : http://z47d.wordpress.com. Diakses tanggal 29 April 2011.

Anonim. 2011. Peranan Mikroorganisme dalam Melawan Penyakit Tumbuhan. http://aguskrisnoblog.wordpress.com. Diakses tanggal 29 April 2011. Denny, Sandoro. 2001. Bakteri Patogenik Tanaman. Serial Online. http://sandorokarya.co.cc. Diakses tanggal 29 April 2011. Hasanuddin. 2003. Bakteri Antagonis Untuk Pertanian Masa Depan. Materi Seminar. Gajah Mada Universiti Press Jarnanto, Alif. 2011. Pertanian Berkelanjutan. Serial http://tanimulya.blog.com/. Diakses tanggal 29 April 2011. Online.

Goto. Marwoto 1992. Isolasi Bakteri Penyebab Layu Pada Tanaman. Proposal Penelitian. Universitas Sumantra utara. Jkl.4456 Olson, 2005. Pembiakan Murni Agar Miring Media Buatan Untuk Menumbuhkan Bakteri Entomopatogen. Skripsi. Universitas Udayana. UJL.AGRO 1 Setiadi. 2004. Pengendalian hayati penyakit layu bakteri R. solanacearum. Serial Online. http://jujuradil.blogspot.com. Sudantaha, Rahinan. 1995. Mekanisme Antagonis Cendawan Trichoderma Harzianum Terhadap Patogen Tular Tanah. Universitas Sumatra Utara. Agrindo201 Prapanca. 2007. Bakteri Patogen. Serial Online. http://prapanca.wordpress.com . Diakses tanggal 28 April 2011 Rukmana. 2006. Patogen Tanaman Penyebab Busuk Pangkal Batang. Proposal penelitian tugas akhir. Universitas Hasanudin.