Anda di halaman 1dari 39

1

I. CAVUM ORIS, PALATUM, LINGUA DAN GIGI


CAVUM ORIS Cavum oris dilapisi oleh membrana mucosa dan epithelium squamus berlapis. Meski epithelnya mengalami keratinisasi, sel yang mengalami kornifikasi hanya pada dorsum linguae, palatum durum dan gingiva. Oral smears bisa digunakan untuk menentukan kromosom seks. Temperatur tubuh biasanya dilihat dengan jalan memasukkan thermometer ke dalam mulut. Rata-rata temperatur normal adalah 37oC atau 98,6oF. Berkisar antara 36o-37,5oC. Selain itu, pernapasan buatan dengan cara mulut dengan mulut, atau mulut dengan hidung dilakukan dengan leher korban meregang dan dengan dagu ditekan ke atas. Cavum oris tersusun atas bagian eksternal yang lebih kecil, vestibulum oris; dan bagian internal yang lebih besar, cavum oris propium. VESTIBULUM ORIS Vestibulum oris adalah celah di antara labium dan buccae di bagian eksterna; gigi dan gingiva di bagian interna. Atap dan lantai vestibulum dibentuk oleh lipatan mukosa yang menghubungkan mukosa bibir dan pipi di satu pihak dan gingiva dilain pihak. Vestibulum menerima muara kecil dari glandula labialis. Ductus parotidicus bermuara ke dalam vestibulum setinggi molar kedua atas. Pada waktu gigi beroklusi, hubungan vestibulum oris dan cavum oris propium hanya pada celah molar terakhir dan ramus mandibulae.

Gambar 1-1 Mulut yang terbuka. A, dengan lidah dijulurkan. B, dengan ujung lidah diangkat. Gambar ini berperan sebagai kunci diagram dari gambar 1-2. Gambar 1-2 Rongga mulut anak muda. A, lidah dijulurkan. B, lidah diangkat sehingga ujung lidah di belakang gigi insisivus atas. Untuk identifikasi berbagai sifat lihat gambar 1-1 (atas ijin Da-

vid L. Basset, M.D., University of Washington, Seatle, Washington. Copyright 1954, Sawyers Inc., USA) CAVUM ORIS PROPIUM Cavum oris propium (gbr. 1-1 ;12), dibatasi di bagian anterior dan pada masing-masing sisi oleh arcus alveolaris, dengan oropharynx melalui isthmus faucium, yang mana masing-masing lateralnya dibatasi oleh arcus palatoglosus. Atap cavum oris propium adalah palatum. Dasarnya sebagaian besar ditempati lidah yang didukung oleh otototot dan jaringan lunak yang lain. Semua jaringan lunak ini secara kolektif disebut lantai dasar mulut, termasuk ini adalah kedua musculus mylohyoid yang membentuk diphragma oris. Permukaan inferior lingua dihubungkan dengan lan-tai dasar mulut oleh lipatan mucosa di medial yang disebut frenulum lingualis (gbr. 1-1B). Ujung bawah frenulum ter-dapat jendolan pada setiap sisinya, dise-but papila lingualis, ditempat ini glan-dula submandibularis bermuara. Glan-dula submandibularis menimbulkan ter-jadinya suatu tonjolan dalam mucosa pada sisi lateral frenulum disebut plica sublingualis. Muara glandula sublingu-alis adalah plica sublingualis. LABIUM DAN BUCCAE Labium adalah sepasang lipatan musculofibrus yang membatasi pintu

masuk ke cavum oris. Mereka saling bertemu satu sama lain pada bagian lateral di dalam mulut. Bagian medial bibir atas, permukaan luarnya ditandai dengan alur dangkal, philtrum. Bagian medial aspek internal labium, dihubungkan terhadap gingiva oleh lipatan mucosa yaitu frenulum labii. Labium itu berisi musculus orbicularis oris, glandula labialis, dan tertutup oleh kulit pada aspek externalnya sedangkan aspek internal tertutup oleh membrana mucosa. Harelip umumnya terdapat pada bibir atas dan paramedian. Ia biasanya dikaitkan dengan cleft palate. Buccae, struktur buccae serupa dengan labium, berisi musculus buccinator dan glandula. buccalis.Buccal pad of fat. Ductus parotidicus menembus lemak bichaat dan musculus buccinator dan bermuara setinggi molar kedua atas. Pertemuan antara pipi dan bibir bisa di tandai di bagian luar oleh sulcus nasolabialis, yang berjalan dari hidung ke sudut mulut. PALATUM Palatum berperan sebagai atap cavum oris dan sebagai lantai dasar cavum nasi. Ia berlanjut ke belakang seakan-akan membatasi nasopharynx dan oropharynx. Palatum melengkung ke anteroposterior dan tranversal. Ia terdiri dari dua bagian: 2/3 bagian anterior yaitu palatum durum, dan 1/3 posterior yaitu palatum molle.

Palatum Durum Palatum durum orang dewasa letaknya setinggi axis, tetepi pada bayi lebih tinggi. Bony palate dibentuk oleh processcus palatinis maxillae dan pars horizontalis ossis palatini. Facies superior palatum durum tertutup oleh mucosa cavum nasi dan facies inferior tertutup mucoperiosteum dari palatum durum. Mucoperiosteum terdiri dari pembuluh darah dan saraf, dan bagian posterior terdapat sejumlah besar glandula palatina bertipe mucous. Epitheliumnya squamus berlapis yang mengalami keratinisasi, dan sangat peka. Pada mucoperiosteum, terdapat raphe mediana, yang berakhir pada papila incisivus. Beberapa lipatan yaitu plica transversa palatini (ruggae) berjalan ke lateral dari raphe mediana, dan menbantu melumatkan makanan bersama lidah pada waktu mengunyah. Kadangkadang terdapat tonjolan tulang di linea mediana, pada aspek inferior palatum durum, disebut torus palatinus. Palatum molle Palatum molle disebut juga velum palatinum, adalah lipatan fibromuscular yang mobile, menggantung di posterior palatum durum. Ia menunjukkan ketinggian yang merupakan batas antara nasopharynx dan oropharynx. Fungsinya menutup isthmus pharyngealis pada waktu menelan dan berbicara. Ia dilapisi

oleh epithel squamus berlapis dan sejumlah glandula palatini terdapat pada aspek anteriornya. Lymphatic follicle bisa juga didapatkan di sini. Taste buds terdapat pada bagian posterior. Bagian medial margo inferior yang bebas dari palatum molle terdapat tonjolan yaitu uvula (gbr. 1-1A), yang panjangnya bervariasi. Palatum molle melanjutkan diri ke lateral sebagai dua plica yaitu arcus palatoglossus dan palatopharyngeus. Palatum molle dan plica palatopharyngea bisa dikatakan merupakan pemisahan antara nasopharyns dan oropharynx. Kedua cavitas itu dipisahkan oleh celah, isthmus pharyngealis, yang dibatasi dibagian anterior oleh margo posterior palatum molle, lateral arcus palatopharyngeus, posterior oleh pharyngeal ridge. Pada orang hidup, isthmus pharyngealis terletak di atas laryngeal ridge dan pada waktu berbicara, di atas arcus dari atlas. Pembuluh darah dan saraf sensoris palatum. Palatum mempunyai supply arteri yang berlebih, sumber utama adalah arteri palatina mayor, cabang dari arteri palatina descendens dari arteri maxillaris. Saraf sensoris merupakan cabang dari ganglion pterygopalatina, termasuk nervus palatinus dan nasopalatinus. Serabutnya mungkin kepunyaan nervus V2 ( nervus maxillaris). Otot-otot palatum molle. Otot palatum molle adalah: musculi palato-

glossus, palatopharyngeus, uvulae, levator veli palatini, dan tensor veli palatini. 1. Musculus palatoglossus, menempati plica palatoglossus. Ia timbul dari aponeurose palatina, berinsertio pada sisi lateral lidah dan pala-tum. 2. Musculus palatopharyngeus, menempati plica palatopharyngeus. Ia timbul dari margin posterior palatum durum dan aponeurosis palatini. Di dalam palatum molle diatur menjadi dua untai, yaitu medial dan lateral, yang dipisahkan oleh musculus levator veli palatini. Kedua untai ini kemudian menyatu dan berinsertio pada margo posterior cartilago tyhroidea, sisi lateral pharynx, dan esophagus. 3. Musculus uvulae, timbul dari spina nasalis posterior os palatini dan aponeurose palatini. Ia berinsertio pada mucosa uvula. 4. Musculus levator veli palatini. Timbul dari facies inferior pars petrosa ossis temporalis di depan canalis caroticus, carotid sheath, cartilago tuba audituva. Berinsertio pada aponeurosis palatini dan pada otot-otot kontra lateralnya. Musculus levator veli palatini dan musculus palatopharyngeus membentuk juraian ke atas yang melekat pada cranium dan ke bawah melekat ke larynx. 5. Musculus tensor veli palatini ( tensor palati), timbul dari fossa schapoidea, spina ossis sphenoidalis, crista yang terletak di antara kedua bangunan tersebut. Ia berakhir sebagai suatu ten-

don yang melingkari hamulus pterygoideus berjalan melalui celah pada tempat origo musculus buccinatorius, dan berinsertio pada aponeurosis palatini. Serabut profundus hanya menghubungkan antara hamulus pterygoideus dengan dinding membraneus dan cartilagineus tuba audituva. Aponeurosis palatini adalah expansi pada 2/3 anterior palatum molle dimana semua otot palatum melekat. Ia dibentuk dari perluasan tendon musculus tensor palati dan mencengkeram margo posterior palatum durum. Innervasi otot-otot palatum mole; dengan perkecualian musculus tensor veli palatini, disupply oleh plexus pharyngealis, yang serabutnya merupakan derivat dari r. internus n. XI. Kemungkinan yang lain melibatkan nervi cranialis ke 7, 9, dan 12. Musculus levator disupply oleh nervus facialis melalui musculus petrosus mayus. Musculus tensor nampaknya sebagian besar disupply oleh nervus mandibularis (barangkali melalui cabang dari nervus pterygoideus medialis, dan melalui ganglion oticum).koreksi sampai di sini Cara kerja otot palatum molle. Musculus palatoglossus berfungsi mendekatkan plica palatoglossus, oleh karena itu menutup hubungan cavum oralis dengan pharynx. Musculus palatopharyngeus, mendekatkan plica palatopharngeus oleh karena itu memisahkan nasopharynx dan oropharynx.

Musculus uvulae berfungsi menaikkan uvula. Musculus levator veli palatini mengangkat palatum molle dan menariknya ke posterior, seperti pada waktu phonation dan mengisap cairan. Musculus levator tidak hanya merupakan penggerak utama palatum molle, tetapi, (karena hubungannya dekat dengan tuba auditiva) juga merupakan elevator utama pharynx. Musculus tensor veli palatini, mengikat palatum molle seperti pada waktu meniup, dan bertanggung jawab untuk pembukaan tuba auditiva, barangkali dengan cara memompanya. Ia mempunyai tugas yang sedikit pada waktu berbicara, tetapi aktif selama menelan. LINGUA GAMBARAN UMUM LINGUA (Gbr. 1-1; 1-3 ) Lingua (=L ; Gk= glossa) adalah organ muscular pada lantai dasar mulut. Ia diletakkan oleh mulut ke os hyoid, mandibula, procesus styloideus dan pharynx. Lingua berperan penting dalam penelanan, pengunyahan, berbicara dan pengecapan. Ia tersusun terutama oleh otot-otot skeletal dan sebagian tertutup oleh membrana mucosa. Lidah tersusun atas bagian-bagian sebagai berikut: (1) apex (2) dorsum linguae (3) facies inferior (4) radix linguae, (gbr. 1-3A). 1. Apex, menempel pada permukaan lingual gigi-gigi incisivus. Mar-

gin berhubungan dengan gingiva dan gigi-gigi. 2. Dorsum linguae (gbr. 1-3A) terletak sebagian pada cavum oris, dan sebagian pada oropharynx. Ia berbentuk cembung dan berhubungan dengan palatum. Ia mempunyai ciri adanya groove berbentuk V (sulcus terminalis) yang berjalan ke lateroanterior dari lubang kecil (for. caecum). Sulcus terminalis bisa dipergunakan sebagai batas antara (a) pars oralis. 2/3 anterior lidah dan (b) pars pharyngealis, atau, 1/3 posterior lidah . Foramen caecum tidak selalu ada, ini merupakan asal dari ductus thyroglossus pada waktu embrio. Pars oralis, pada pars oralis dari dorsum linguae mungkin terdapat, sulcus medianus. Membrana mucosa biasanya berwarna merah muda dan basah, dan menunjukkan adanya jurai-jurai papila yang halus. Lidah yang berselaput (coated tongue) biasanya dihubungkan dengan gangguan pencernaan dan biasanya karena merokok, infeksi saluran nafas, demam, dan infeksi oral.

Gambar 1-3 A, irisan sagital bagian lidah. B, dorsum linguae dan area di dekatnya, menunjukkan innervasi sensoris. Garis titik-titik menunjukkan perbatasan antar daerah pada lidah dan innervasi nervus glossopharyngeus. C, Skema saraf lidah. Angka-angka menunjukkan nervi cranialis. Serabut pengecap dibawa oleh nn 7, 9, dan 10. Papila lingualis adalah penonjolan lamina propria, atau corium dari membrana mucosa dan terbungkus oleh epithel. Ada empat tipe yang terdapat pada lidah : (a) papila filiformis, yang paling kecil dan paling banyak jumlahnya, berbentuk conus dengan ujung yang tajam. Mereka terdapat melimpah pada dorsum linguae pars oralis, (b) papila fungiformis, mempunyai ciri-ciri ujung bulat, merah dan dasarnya lebih kecil, mereka biasanya berisi taste buds. Mereka banyak diketemukan pada apex dan margo lingualis, (c) papila vallata, adalah yang paling besar, jumlahnya sangat bervariasi antara 3-14 (barangkali tergantung faktur herediter), dan pengaturan letaknya sedemikian rupa sehingga membentuk deretan yang berbentuh huruf V didepan sulcus terminalis. Masing-masing bentuk papila vallata bentuknya seperti beteng yang ujungnya membulat dan dikelilingi pada bagian basisnya oleh suatu alur yang melingkar, yang dibatasi dinding (val-

lum). Ductuli dari kelenjar serous, bermuara ke dalam alur tersebut, dan taste buds terdapat pada papila dan valumya. Taste buds pada papila vallata mengalami atropi pada usia tua, tetapi hanya ada sedikit penurunan sensitivitas rasa dalam hubunganya dengan umur (d) papila foliata, terdiri atas sulcus yang terputus-putus dan tonjolan-tonjolan di dekat bagian posterior margo lingualis. Pars pharyngealis, menghadap ke posterior, sedang pars oralis menghadap ke superior. Basis linguae ikut berperan sebagai dinding anterior oropharynx, dan dapat diobsservasi hanya dengan menggunakan kaca atau menekan lidah dengan spatula. Pada mucosa di atas basis linguae tidak diketemukan adanya papila, berisi sejumlah glandula serosa, dan permukaanya menjadi tidak rata karena adanya folicel limphatic pada lapisan submucosa. Follicle ini secara kolektif disebut tonsilla lingualis. Submucosa berisi glandula mucosa. Membrana mucosanya merupakan lanjutan dari mucosa pharynx dan tonsilla palatina. Ke posterior, ia menjulur ke bagian anterior epiglosttis (sebagai plica glossoepiglottica mediana) dan terhadap dinding lateral pharynx (plica glossoepiglottica lateralis atau pharyngo-epiglottica). Ruangan di sisi lateral plica glossoepiglottica mediana disebut vallecula epiglottica. 3. Facies inferior (1-1B ;1-2B), hanya terletak pada cavum oris, ia tipis,

halus, tak ada papila, dan berwarna keunguan. Dihubungkan dengan lantai dasar mulut oleh lipatan median mucosa yaitu frenulum lingualis. Frenulum yang pendek mengakibatkan timbulnya keadaan yang disebut tongue tie, tetapi tidak mengakibatkan gangguan yang cukup besar terhadap artikulasi. Vena profunda lingualis dapat dilihat melalui mucosanya pada sisi lateral frenulum lingualis. Plica fimbriata terletak di sebelah lateral vena. Glandula lingualis anterior tertanam dalam lapisan otot dekat dengan facies inferior dan sedikit dibelakang apex. Kelenjar-kelenjar tersebut bertipe campuran mucous dan serous, dan ductulinya yang sangat kecil bermuara pada facies inferior lingua. 4. Radix linguae. Radix linguae adalah bagian dari lidah yang terletak di lantai dasar mulut. (musculus geniohyoideus dan musculus mylohyoideus). Ia dilekatkan oleh otot terhadap mandibula dan os hyoid. Istilah radix os hyoid kadang digunakan untuk pars pharyngealis, sedangkan yang pars oralis disebut corpus lingualis. Saraf, pembuluh darah, dan otot-otot extrinsic, keluar dari lidah dan masuk ke lidah melalui bagian ini, yang tidak tertutup mucosa. OTOT-OTOT LIDAH Otot-otot yang menyusun sebagian besar tubuh lidah adalah serabut-serabut yang berada di tubuhnya sendiri, yaitu otot instrinsic, dan otot sekitarnya yaitu

otot instrinsic. Semua otot lidah adalah bilateral, otot dari salah satu sisi dipisahkan dengan sisi yang lain oleh septum mediana, yang tidak berbentuk dinding fibrous, tetapi anyaman serabut otot yang melintang.

Gambar 1- 4 Otot-otot ektrinsik lidah. Aspek lateral kanan. Sebagian besar belahan kanan mandibula dan musculus mylohyoid dilepas Otot Instrinsic Otot instrinsic lidah terdiri dari beberapa lapisan. Biasanya diklasifikasikan menjadi, musculi longitudinalis superior dan inferior, musculus transversus, dan musculus verticalis. Otot Extrinsic Musculi extrinsic lidah (gbr.1-4) adalah musculus genioglossus, muscuus hyoglossus, musculus chondroglos-

sus, musculus styloglossus, dan musculus palatoglossus. 1. Musculus genioglossus. Adalah otot yang berbentuk kipas vertikal, dan berkontak dengan pasangannya dari sisi yang lain, pada bagian medial (gbr. 59-1C). Ia menyusun sebagian besar tubuh lidah bagian posterior. Ia timbul dari bagian superior genial tubercle dan sekitarnya, dibelakang symphisis mandibulae, dan berinsertio pada aspek inferior lidah di depan corpus os hyoid. 2. Musculus hyoglossus. Otot ini adalah otot pipih segi empat, yang sebagian besar tertutup musculus mylohyoideus. Ia timbul dari cornus mayus ossis hyoid, dan corpus, berjalan ke atas dan kedepan dan berinsertio pada aspek inferior dan lateral lidah. Nervus glossopharyngeus, ligamentum stylohyoideus, dan arteri lingualis (bagian kedu-a) berjalan profundus margo poste-rior musculus hyoglossus. 3. Musculus chondroglossus. Serabutnya saling menyilang, berjalan antara os hyoideus dan dorsum linguae 4. Musculus styloglossus. Timbul dari bagian depan processcus styloideus, dan dari ligamentum stylomandibularis. Ia berinsertio pada sisi lateral dan aspek inferior lidah. 5. Musculus palatoglossus. Sudah diuraikan bersama-sama otot-otot palatum. Innervasi Otot-otot Lidah

Semua otot lidah kecuali musculus palatoglossus disupply oleh nervus hypoglossus. Proprioceptive afferent, kemungkinan besar diangkut oleh nervus hypoglossus daripada nervus lingualis. Kerja Otot-otot Lidah Bentuk dari lidah tergantung otototot intrinsic dan extrinsic. Posisi lidah tergantung pada otot extrinsic, dan otototot yang melekat pada os hyoid. Musculus genoiglossus adalah depressor utama lidah. Bagian lidah posterior menarik lidah ke depan (protrusi). Musculus hyoglossus dan styloglossus meretraksi lidah. Perlekatan musculus genioglossus ke mandibula mencegah lidah jatuh ke belakang dan menyumbat jalan nafas. Anasthetist menjaga posisi lidah supaya tetap di depan dengan jalan menarik mandibula ke depan. VASCULARIASI LIDAH Arteri utama yang ke lidah adalah arteri lingualis, suatu cabang dari arteri carotis externa. Cabang yang mensupply lidah, adalah ramus dorsalis linguae dan arteri profunda lingualis. Darah venousnya dialirkan melalui : (1) v. lingualis yang bertindak sebagai vena commitantes untuk arteri lingualis, dan menerima vena dorsalis linguae, (2) v. profunda lingualis atau v. ranina yang berjalan ke belakang di bawah mucosa, pada sisi lateral frenulum

(yang dapat dilihat in vivo), dan sesudah menyilangi permukaan lateral musculus hyoglossus menyatu dengan v. sublingualis (dari glandula sublingualis) untuk membentuk vena commicantesn. Hypoglossi. Ini akhirnya berakhir pada vena facialis atau vena lingualis, vena yugularis interna. Semua vena ini bermuara, baik secara langsung atau tidak ke vena yugularis interna. SYSTEMA LYMPHATICA LIDAH Systema limphatica ini sangat penting dalam hubungannnya dengan carcinoma lidah. Drainasenya menuju ke limphonody submentalis, submandibularis, dan cervicalis profundus Pengaturanya ditunjukkan pada gbr. 15. perluasan komunikasinya bisa menyebar di bidang medial.

dibularis dan sublingualis tidak dilabel. Lingkaran yang dicoret di tengahnya menunjukkan bagian dari sekelompok nodus limfatikus. JD jugulo digastricus, JOH, Jugulo omohyoideus. B, irisan koronal skematik. (A dari Rouviere, B dari Jamieson Dobson). INNERVASI SENSORIS LIDAH Dua pertiga anterior lidah disupply oleh (1) nervus lingualis untuk sensasi umum, dan (2) chorda tympani untuk pengecapan. Sepertiga posterior lidah dan papila vallata disupply oleh ramus lingualis dari nervus glossopharyngeus untuk general sensation (sensasi umum) dan pengecapan (taste). Dukungan yang lain datang dari cabang lingual yang kecil dari nervus VII (untuk taste) dan di dekat epiglottis, dari ramus laryngeus internus nervus X (sensasi umum dan taste). Karena itu nervus cranialis yang berkenaan dengan pengecapan adalah nervi 7, 9, dan 10. Telah disepakati bahwa impulse yang berkenaan dengan pengecapan 2/3 anterior lidah berjalan melalui nervus lingualis ke chorda tympani kemudian ke nervus intermedius dari nervus VII. Peneliti tertentu percaya bahwa pada beberapa orang, serabut untuk pengecapan meniggalkan chorda tympani, melewati ganglion oticum, dan nervus petrosus mayus dan kemudian menuju nervus intermedius.

Gambar 1-5 Drainase limfatik lidah. A, aspek lateral kanan. Glandula subman-

10

GIGI Studi mengenai gigi dipelajari dalam Odontologi, sedangkan bidang keahlian khusus yang berkenaan dengan diagnose, dan perawatan penyakit gigi dan struktur yang berkaitan adalah bidang kedokteran gigi. Untuk keperluan lebih detail didalam kedokteran gigi termasuk uraian mengenai gigi individu. Fungsi gigi Fungsi-fungsi utama gigi : (1) memotong dan mereduksi makanan selama pengunyahan, dan (2) membantu mempertahankan posisinya didalam lengkung rahang (Wheeler). STRUKTUR GIGI Tiap-tiap gigi tersusun atas jaringan ikat khusus., pulpa, yang tertutup oleh tiga jaringan ikat yang terklasifikasi : dentin, enamel, dan camentum. Kerusakan-kerusakan lolkal dari satu atau lebih jaringan gigi dessebut caries. Dental calculus, atau tartar, sering didapatkan pada gigi, adalah lapisan garam calcium derivat dai saliva.

Gambar 1-6 Irisan longitudinal incisivus permanen bawah dan jaringan pendukungnya. B, irisan melintang mahkota incisivus, menunjukkan enamel dentin, dan pulpa. C, pandangan samping (aspek mesial) incisivus menunjukkan daerah tempat perlekatan epithel dan garis semento enamel junction. D, irisan memanjang gigi molar menunjukkan bifurkatio rongga pulpa. Periodontium (periodontal membran, periodontal ligamen) menghubungkan antara camentum dengan alveolar bone, sehingga membuat persendian fibrous antara gigi dengan socketnya. Istilah periodontium kadang-kadang digunakan dalam arti khusus, yaitu meliputi, camentum periodontal ligamen, gingiva dan alveolar bone. Periodontium bisa dikatakan sebagai modifikasi dari alveolar periosteum, tetapi ia lebih berupa ligamen daripada membran. Gingiva tersusun atas jaringan fibrous yang padat tertutup oleh membrana mucosa (dengan epithel squamus berlapis yang mengalami keratinisasi). BAGIAN GIGI (gbr. 1-6) Crown anatomi, adalah bagian gigi yang tertutup enamel, sedangkan crown klinis adalah yang tersembul di rongga mulut. Tersembulnya mahkota gigi meningkat sesuai dengan bertambahnya umur.

10

11

Akar gigi adalah bagian yang tertutup cementum, sedangkan cervic adalah bagian akar yang terletak paling dekat dengan mahkota. Beberapa gigi (misal gigi molar) mempunyai lebih dari satu akar. Gigi-gigi tertanam di dalam rahang yang disebut processus alveolaris. Tiap-tiap gigi terletak di dalam socket atau alveolus. Tiap-tiap gigi mempunyai rongga yang ditempati oleh pulpa. Rongga pulpa terdiri atas pulp chamber didalam mahkota dan saluran akar yang terdapat pada bagian akar gigi. Tiap-tiap saluran akar bermuara melalui satu atau lebih foramen apicale pada ujung akar. Saraf, pembuluh darah, pembuluh limfe, yang mensupply pulpa masuk ke gigi melalui foramen apicale. TIPE GIGI (gbr. 1-6) Gigi diklasifikasikan menjadi incisivus, caninus, premolar, molar. Incisivus. Gigi incisivus memotong makanan dengan mengunakan cutting edge-nya. Facies lingualis crown berbentuk segitiga, dan apex segitiga tersebut mengarah ke arah akar. Disini biasanya terdapat suatu peninggian yang disebut cingulum. Kedua incisivus pada satu sisi rahang dibedakan sebagai (1) medialis (centralis), dan (2) lateralis. Empat gigi incisivus atas terdapat pada bagian premaxilla. Supernumerary teeth kadang ada di antara atau di belakang

gigi incisivus atas. Incisivus lateralis atas sangat bervariasi, dan sering ukuranya tereduksi. Incisivus bawah mungkin mengalami crowded. Caninus. Diberi nama demikian karena mereka sangat menonjol pada anjing. Mereka kadang disebut cuspid, atau eyeteeth. Caninus adalah gigi yang panjang, terdapat cusp yang menonjol pada crownnya. Pada gigi decidui, gigi caninus biasanya tanggal paling akhir. Seperti gigi incisivus, mereka membantu memotong makanan. Gigi caninus juga sangat penting dalam hal menjaga expressi wajah seseorang. Premolar. Gigi-gigi premolar, kadang disebut bicuspid, adalah gigi yang mengganti gigi molar decidui. Tiap-tiap gigi biasanya memiliki dua tubercle, atau cusp pada crownnya. Premolar membantu menghancurkan, tetapi mahkotanya tidak sekomplek gigi molar. Molar. Gigi molar (grinders) berfungsi menghancurkan makanan. Mereka memiliki 3-5 tubercle atau cusp pada mahkota tetapi cusp ini bisa terkikis karena digunakan untuk mengunyah, sehingga enamelnya hilang dan struktur di bawahnya terbuka. Molar atas biasanya mempunyai tiga akar sedangkan molar bawah dua. Akar-akar gigi atas berhubungan sangat dekat dengan sinus maxillaris. Sehingga infeksi pulpa bisa menyebabkan sinusitis maxillaris, atau sinusitis bisa menyebabkan rasa sakit yang diproyeksikan ke gigi. Gigi molar

11

12

pertama permanen tidak menggantikan gigi-gigi decidui. Gigi molar pertama biasanya merupakan gigi yang paling besar. Gigi molar ketiga dikenal sebagai wisdom teeth (dens serotinous). Gigi molar ketiga biasanya mempunyai bentuk dan posisi yang bervariasi, dan kadang tidak erupsi atau impacted. DENTAL TERMINOLOGI (Gbr. 1-7) Karena curvature arcus dentalis, system nomenclature yang khusus diberlakukan untuk menguraikan permukaan permukaan gigi. Istilah gigi anterior digunakan terhadap gigi incisivus dan caninus. Istilah gigi posterior dipergunakan untuk gigi premolar dan molar. Sebagian gigi dewasa succesional, yaitu mereka menggantikan sejumlah gigi decidui. Molar permanen, adalah accesional karena mereka ditambahkan sesudah perkenbangan gigi decidui. (1) Mesial dan distal Facies mesialis adalah medial dari gigi-gigi anterior, dan anterior gigi molar. Facies distalis, adalah lateral gigi anterior dan bagian posterior gigi molar. Dalam hal dua gigi yang berdekatan yang terletak dalam satu lengkung rahang, permukaan mesial dan distal yang berdekatan disebut contagious, proximal, atau facies contactus. Pada

tiap-tiap arcus dentalis, bagian mahkota klinis, yang bersentuhan dengan gigi di sebelahnya, disebut contact area. Celah diantara dua gigi yang berkontak dan tepat melingkari contact area disebut embrassure.

Gambar 1-7 Terminologi. Skema gigigeligi permanen dilihat dari bawah. (2) Vestibular dan lingual Facies vestibularis adalah permukaan yang menghadap ke vestibulum oris, labial menghadap bibir (pada gigi anterior; buccal menghadap ke pipi (pada gigi posterior) (3) Masticatoric atau occlusal

12

13

Facies masticatorius dan occlusalis gigi adalah permukaan yang berkontak pada gigi yang berhadapan pada lengkung rahang yang berlawanan ketika rahang beroklusi. Pada gigi anterior permukaan oclusal ini hanya berupa lingir yang sempit. GIGI PRIMER ATAU DECIDUI (Gbr. 1-8 dan 1-9) Tidak ada gigi fungsional yang terdapat pada rongga mulut pada bayi baru lahir. Gigi primer atau decidui (milk-teeth) muncul pada cavum oris di

pertama erupsi adalah gigi incisivus centralis bawah kurang lebih pada umur 6 bulan. Erupsi gigi bawah sering mendahului gigi atas. Gambar 1-8 Aspek lateral kanan maxila dan mandibula anak berumur lima tahun menunjukkan posisi gigi-geligi desidui dan permanen. Gambar 1-9 Permukaan vestibular gigi desidui kanan. D, distal; DB, distobuccal; DL, distolingual; L, lingual; M, mesial; MB, mesiobuccal; ML, mesiolingual. (dari Wheeler).

antara umur 0,5 2,5 tahun. Gigi yang

13

14

Gigi decidui berjumlah 20 buah yaitu lima gigi pada tiap-tiap kuadran : 2 incisivus, 1 canicus, 2 molar (I2 ; C1 ; M2). Gigi-gigi pada tiap kuadran diberi initial dari A di bagian mesial sampai dengan E dibawah distal. EDCBA :ABCDE ----------------EDCBA :ABCDE Dengan cara ini, gigi incisivus lateralis kanan atas ditulis B: Dengan cara yang serupa, molar pertama kiri atas diberi simbol : D Dengan metode alternatif, gigigigi hanya diberi huruf A (E kanan) sampai dengan J (E kiri) dan kemudian K (E bawah kiri) sampai dengan T (E bawah kanan). Gigi decidui lebih kecil dan lebih putih dari gigi permanen. Istilah erupsi digunakan secara klinis untuk gigi yang muncul ke dalam cavum oris. Urutan erupsi biasanya A, B, C, D, E. Pergerakan gigi, mulai sejak pembentukan akar gigi, dan berlanjut terus selama hidupnya gigi. Keluarnya pada gusi merupakan satu dari tahapan-tahapan yang kontinyu, dan sangat komplek. Sampai dengan usia 12 tahun semua gigi decidui tanggal terutama karena erupsi gigi-gigi permanen dan karena resorpsi akar.

Data mengenai gigi-gigi decidui diringkas pada tabel 1-1. GIGI PERMANEN (Gbr. 1-10 & 1-11) Gigi permanen mulai nampak di dalam rongga mulut pada umur 6 tahun dan menggantikan semua gigi decidui pada umur 12 tahun. Gigi permanen jumlahnya 32 buah, yaitu 8 pada tiap-tiap kuadran : 2 incisivus, 1 caninus, 2 premolar, 3 molar (I2, C1, P2, M3). Gigi-gigi pada tiap kuadran dapat diberi nomer 1 (mesial) sampai dengan 8 (distal) : 87654321:12345678 --------------------87654321:12345678 Gambar 1-10 Permukaan vestibular gigi permanen kanan. B, buccal; D, distal; DB, distobuccal; DL, distolingual; L, lingual; M, mesial; MB, mesiobuccal; Mesiolingual (dari Wheeler). Gambar 1-11 Aspek oklusal gigi permanen kanan, Rahang atas (di atas) dan Rahang bawah (di bawah). Singkatan seperti gambar sebelumnya (dari Wheeler).

14

15

Lima gigi pertama adalah succesi-onal yaitu mereka didahului oleh gigi decidui. Sedangkan gigi molar perma-nen adalah gigi accessional, karena ti-dak menggantikan gigi decidui. Gigi permanent yang erupsi pertama kali adalah gigi 6 (molar pertama) kira-kira umur 6-7 tahun, sebelum gigi-gigi decidui tanggal. Oleh karena itu dikenal dengan istilah molar 6 tahun. Dengan alasan yang sama gigi molar kedua, disebut molar 12 tahun. Molar yang ketiga sangat bervariasi dalam waktu erupsinya, dan kadang impacted yaitu mahkotanya mengarah ke molar kedua. Waktu erupsi rata-rata pada wanita biasanya beberapa bulan lebih awal. Urutan erupsi adalah bervariasi, tetapi biasanya urutanya sebagai berikut :6, 1, 2, 4, 3, 5, 7, 8. Bermacam-macam data mengenai gigi permanent diringkas didalam tabel 1-1. untuk innervasinya lihat juga pada nervus mandibularis (Ch. 58). Menurut skema ini, molar pertama kanan bawah bisa dituliskan 6! Dengan cara serupa, Caninus kiri atas ditulis !3. Alternatif dari sistem simbol ini adalah sistem sequantial, dan pada sistem ini hanya ditulis mulai dari 1 (8 :) sampai dengan 16 (!8) dan kemudian dari 17 ( :8) sampai dengan 32 (! 8). PENGATURAN DAN OCCLUSI (Gbr. 1-11) Gigi-gigi diatur dalam dua arcus atau arcades, satu pada masing-masing rahang. Arcus yang bawah bersifat mobile. Cara bagaimana gigi-gigi diatur di dalam suatu arcus disebut alignment. Istilah occlusi digunakan untuk hubungan fungsional dimana gigi atas dan gigi bawah berkontak satu dengan

15

16

yang lain. Centric occlusion adalah keseluruhan relasi articular pada waktu rahang mengatup dan capitulum mandibulae terletak didalam fossa mandibularis. Occlusi normal tergantug perkembangan dan bentuk gigi. Occulusi abnormal disebut malocclusion. Orthodonti adalah cabang dari ilmu kedokteran gigi pencegahan dan koreksi malocclusi dan kelainan posisi gigi dan rahang yang lain. PEMERIKSAAN KLINIS DAN RADIOLOGIS ANATOMI GIGI Di dalam pemeriksaan gigi-gigi, jumlah dan tipe-tipe gigi harus dicatat, gigi individual harus diperiksa mengenai perubahan warnanya, lubang-lubangnya, tambalan, erosi, abrasi, mobilitas dan occlusinya. Warna dan bentuk gingiva harus diobservasi, dan bibir, lidah, dan mucosa diperiksa, anomali gigi termasuk congenital absensi, adanya supernumerary teeth dan fusion teeth. Enamel adalah bagian yang paling radiopaque pada gigi (gbr. 1-12). Dentin dan cementum mempunyai radiopasitas yang hampir sama. Rongga pulpa dan periodontium, keduanya radiolusen. Tulang alveolar mempunyai tingkatan

radiopasitas yang lebih rendah daripada gigi. Ia mengandung jaringan trabecula. Cancelous bone, dibatasi oleh lapisan tipis yaitu cortical bone, lamina dura, yang membentuk socket gigi. Bagian alveolar bone diantara dua gigi yang berdekatan disebut septum interdental. Gambar 1-12 Gigi-gigi. A, pembesaran radiogram pada sisi kanan mandibula pada orang dewasa menunjukkan gigi normal dan jaringan periodontal. B, Dua puluh radiogram intraoral gigi permanen. Gigi atas ditunjukkan pada tiga deretan teratas, dan gigi-gigi bawah pada deretan bawah Gigi-geligi ini di lihat ketika mereka erupsi, yakni, gigi pada sisi kiri tubuh direproduksi pada sisi kiri halaman. Konvensi ini sudah biasa terjadi pada radiograf gigi. (dari J. O. McCall dan S.S. Wald. Clinical Dental Rontgenology, Saunder, Philadelphia, 4th ed, 1957).

16

17

II. CAVUM NASI DAN SINUS PARANASALIS


Hidung meliputi external nose yang nampak pada wajah dan cavum nasi yang melanjutkan diri ke belakang. Kata nose sangat erat dengan kata dari bahasa latin nasus, oleh karena itu nasal berarti berkenaan dengan nose= hidung. Kata yunani dari hidung adalah rhis atau rhinos, dari kata ini didapat kata misal: rhinoceros. Sedang studi mengenai hidung dan penyakitnya disebut rhinologi. Fungsi dari hidung adalah: (1) melayani rasa pembau (2) sebagai saluran udara respirasi, (3) menyaring, menghangatkan, dan membasahi udara respirasi yaitu untuk mempersiapkan kondisi inspirasi, dan (4) membersihkan diri sendiri dari benda asing yang disaring dari udara. EXTERNAL NOSE CAVUM NASI External nose, tersusun atas ujung bebas apex, yang dilekatkan pada dahi oleh radix. Lingir yang membulat antara apex dan radix adalah dorsum nasi. External nose berlubang pada bagian inferior disebut nostril atau nares. Masing-masing nostril terpisah satu sama HUBUNGAN DENGAN RONGGA LAIN DAN MUARA-MUARA Cavum nasi membentang dari nostril atau nares di depan sampai dengan choanae di belakang. Cavum nasi, ke lain dan pemisahnya adalah septum nasi, dibagian lateral dibatasi ala nasi. Bagian atas dari external nose didukung os nasale, os maxillare, dan os frontale. Bagian bawah merupakan kerangka cartilago hyalin, yang terdiri atas cartilago septi nasi yang meliputi pula perluasan ke arah lateral yang disebut cartilago lateralis. Suatu cartilago alaris yang (lebih besar) terletak di bawah cartilago lateralis dan beberapa cartilago yang lebih kecil kadang didapat disini. Berbagai fusi mungkin terjadi antara cartilago yang berbeda. Otot-otot external nose diuraikan pada regio facei. Arteri utama yang memvascularisasi external nose adalah cabang dari a. facialis, dan a. opthalmica. Innervasi cutan berasal dari cabang n. opthalmicus dan n. maxillaris.

17

18

atas berhubungan dengan sinus frontalis, fossa cranii anterior, sinus sphenoidalis dan fossa cranii media. Di bagian inferior, dipisahkan terhadap cavum oris palatum durum. Ke arah posterior, cavum nasi, berhubungan dengan pharynx khususnya nasopharinx, yang dalam beberapa hal berperan sebagai bagian belakang rogga hidung. Ke arah lateral, dihubungan dengan dunia luar (bagian depan), dan lebih ke posterior dengan orbita, sinus maxillaris, sinus ethmoidalis, fossa pterygoidea dan fossa pterygopalatina. Apertura piriformis dibatasi oleh os nasale di atas, dan sebelah lateral dan inferior oleh os maxillaris. Choanae adalah lubang posterior cavum nasi. Setiap choanae dibatasi , di bagian medial, oleh os vomer, inferior oleh pars horizontalis ossis palatini, sebelah lateral oleh lamina medialis procesus pterygoideus, dan di superior oleh corpus spenoidalis dan lamina medialis. Chonae lebih besar daripada nostril. Lubang-lubang yang menghubungkan cavum nasi dengan yang lain adalah : nostril, choanae, muara ke dalam sinus maxillaris, sinus frontalis, sphenoidalis, dan ethmoidalis. Pada preparat kering foramen spheno-palatina, canalis incisivus, foramina pada lamina cribrosa, tetapi pada preparat yang masih utuh, tertutup oleh membrana mucosa. Cavum nasi dibagi menjadi belahan kanan dan kiri oleh septum nasi. Is-

tilah cavum nasi, mengarah keduanya, ataupun hanya satu sisi saja tergantung konteksnya. Setiap belahan mempunyai atap, lantai, dinding lateral dan medial. BATAS-BATAS Atap Atapnya dibentuk (dari depan ke belakang) oleh cartilago nasalis, dan tulang-tulang berikut: os nasale, os frontale, lamina cribrosa, corpus sphenoidelis, yang tertutup oleh sebagian dari os vomer dan os palatini. Pars ethmoidalis kurang lebih horizontal (gbr. 2-1); bagian-bagian di depan dan di belakang miring ke arah bawah. Atapnya sangat sempit dalam arah lateral. Gambar 2-1 Skema os ethmoidalis dilihat dari belakang. Perhatikan bahwa dua labirintus ethmoidalis dipersatukan oleh lamina cribrosa. Lamina perpendicularis yang membentuk bagian atas septum nasi, terletak tegak lurus terhadap lamina cribrosa yang terletak horizontal. Permukaan lateral labirintus membentuk bagian medial orbita dan disebut lamina orbitalis osis ethmoidalis. F menunjukkan bagian labirintus yang disempurnakan oleh os frontale; S bagian yang dilengkapi oleh os sphenoidalis. Labirintus ethmoidalis berisi sinus ethmoidalis (dari Grants Atlas). Lantai Dasar

18

19

Lantai dasar cavum nasi sangat halus, hampir horizontal dari depan ke belakang, dan concaf dalam arah mediolateral. Lantai dasar ini lebih lebar dari atapnya, dibentuk oleh processcus palatinus maxillae dan pars horizontalis ossis palatini. Ia terletak di antara cavum nasi dan cavum oris. Dinding Medial atau Septum Nasi Dinding medial (gbr. 2-2B) merupakan pemisah antara kedua belahan cavum nasi. Septum nasi dibentuk oleh (dari depan ke belakang), (1) cartilago septinasi (pada preparat kering sudah rusak), (2) lamina prependicularis ossis ethmoidalis, dan (3) os vomer. Pada regio apex, septum nasi diperlengkapi dengan cutan, jaringan subcutan, cartilago alaris mayor (ini adalah pars membranosa septum atau colummela, atau collumna. Septum nasi biasanya sedikit menyimpang ke salah satu sisi. Organa vomerosanal adalah kantong kecil yang bermuara ke bagian antero-inferior septum nasi, yang kadang diketemukan pada orang dewasa. Pada embryo, n. vomeronasalis, timbul di dalam organ vomeronasal dan menuju ke bulbus olfactorius accessorius. DindingLateral Dinding lateral (gbr. 2-2A), tidak rata dan sangat komplek, dibentuk oleh bagian-bagian dari os nasale, os maxillare, os lacrimale, os ethmoidale (laby-

rinthus dan concha), concha nasalis inferior. Pars perpendicularis ossis palatini, dan lamina medialis ossis sphenoidalis. Ciri khas dari dinding lateral ini adalah adanya tonjolan ke medial 2-4 concha nasalis dan adanya meatus di bawahnya. Concha nasalis suprema (tidak mesti ada), superior, medius adalah bagian dari os ethmoidale, sedangkan concha nasalis inferior merupakan tulang yang berdiri sendiri. Celah kecil yang terletak pada posterosuperior concha nasalis superior, disebut racesscus sphenoethmoidalis, dan ini menerima muara sinus sphenoidalis. Sering terjadi bahwa concha nasalis suprema dan meatus nasi suprema terdapat pada regio ini (gbr. 2-3A). Celah yang tertutup chonca nasalis superior adalah meatus nasi superior, dan ia menerima muara dari cellula ethmoidalis posterior dan pada preparat kering foramen sphenopalatina. Meatus nasi medius terletak di bawah concha nasalis medius, dan kontinyu ke depan sebagai suatu depresi yang disebut atrium (gbr. 2-3A). Atrium ini terletak diatas vestibulum ( bagian dari cavum nasi yang berdekatan dengan nostril) dan bagian atasnya dibatasi oleh suatu rigi yaitu aggrenasi. Meatus medius menerima muara-muara dari sinus maxillaris dengan sinus frontalis dan kelompok cellula ethmoidalis bagian anterior. Bulla ethmoidalis (gbr. 2-3B) adalah penonjolan labyrinthus

19

20

ethmoidalis ke medial dari dinding lateral ke dalam meatus nasi medius. Ia merupakan lembaran yang menutupi cellula ethmoidalis yang bermuara kepadanya. Hiatus semilunaris adalah celah yang melengkung di anteroinferior bulla. Ia merupakan muara sinus maxillaris. Infundibulum ethmoidalis adalah saluran sempit yang berjalan ke atas dan depan dari hiatus semilunaris dan menerima muara dari sinus frontalis dan beberapa sellula ethmoidalis. Sinus-sinus ini kadang bermuara ke recessus frontalis dari meatus medius, di anterior infundubulum. Concha nasalis inferior adalah tulang tersendiri yang terletak sepanjang dinding lateral cavum nasi. Ujung bawahnya bebas sedangkan bagian atas berarticulasi dengan maxilla, os lacrimale, os ethmoidale, dan os palatina. Meatus nasi inferior yang terletak di antara concha inferior dan os palatina, merupakan tempat bermuara ductus nasolacrimalis. Saluran ini dibatasi oleh maxilla, os lacrimale dan concha nasalis inferior. Ductus dalam beberapa kasus ujungnya dilindungi oleh lipatan mucosa (lacrimale fold). Gambar 2 2. A, aspek medial kerangka tulang dinding lateral cavum nasi kanan. Perhatikan bahwa batas lateral apertura piriformis terbentuk oleh os nasale dan maxilla, dan bahwa choanae terbentuk dari lamina pterigoideus me-

dialis osis sphenoidalis. Perhatikan juga sphenooccipital junction. B, aspek lateral dinding medial (septum nasi) kavum nasi kanan. Kontribusi batas bawah os ethmoidalis terhadap dinding ini bervariasi. Cartilago septi nasi melekat pada os vomer dan maxilla sedemikian rupa sehingga pergerakan dimungkinkan tanpa dislokasi.

Gambar 2-3 Aspek medial dinding lateral cavum nasi kanan. A, menunjukkan empat concha. Setiap meatus dinamai setelah concha membentuk atapnya. Pada gambar B, Conchae telah di potong.

20

21

Sinus frontalis mungkin terbuka ke (1) resesus frontalis atau (2) infundibulum ethmoidalis.

Gambar 2-4 Innervasi dan suplai darah cavum nasi kanan. A, menunjukkan teritorial saraf utama pada dinding lateral; yang ada pada dinding medial sedemikian pula. Sebagian dari regio olfac-

21

22

torius, inervasi utama dari cavum nasi adalah dari nn. opthalmica dan maxillaris, sedang n. maxillaris tersebut melalui ganglion pterygopalatina. B, dan C, menunjukkan saraf-saraf dinding lateral dan medial. D, menunjukkan teritori arteri pada dinding medial; demikian pula dinding lateral. Pada septum nasi, titik X adalah tempat anastomoses antara ramus septalis dari a. labialis superior (dari a. facialis) dan r. septalis dari a. sphenopalatina; ini merupakan daerah utama yang sering terjadi perdarahan pada hidung. PEMBAGIAN RUANGAN DAN MEMBRAN MUCOSA Cavum nasi biasanya dibagi menjadi vestibulum, regio respiratoria dan regio olfactoria. 1. Vestibulum Vestibulum nasi adalah sedikit pengembangan bagian dalam nostril, dilapisi terutama oleh kulit yang berambut, glandula sebacea dan kelenjar keringat. Vestibulum nasi dibatasi di bagian belakang oleh suatu rigi (limen nasi), mucosa yang melapisinya kontinyu dengan mucosa hidung 2. Regio Respiratoria Regio respiratoria tertutup membrana mucosa yang melekat erat dengan

lapisan di bawahnya yaitu periosteum/ pericondrium, oleh karena itu disebut mucoperiosteum. Ia kontinyu dengan kulit vestibulum, mucosa nasopharynx, sinus paranasalis, ductus nasolacrimalis dan juga conjunctiva. Regio 1/3 anterior cavum nasi relatif inaktif dalam drainage, tetapi 2/3 posteriornya merupakan daerah yang cilianya aktif bergerak sehingga drainage cukup cepat ke belakang dan bawah ke dalam nasopharynx. Mucosa cavum nasi sangat vascular, terutama diatas concha (yang meningkatkan permukaannya), menghangatkan dan membasahi udara yang masuk. Regio respiratoria juga mempunyai fungsi pembauan. Concha nasalis inferior karena caranya menghangatkan dan membasahi udara inspirasi, maka sepertinya berperan seperti air conditioning plant. Lamina propora atau submucosa yang melapisi concha nasalis medius dan inferior dicirikan dengan adanya pembengkakan, biasanya kelihatan seperti melipat. Ruangan-ruangan di dalam bagian yang membengkak ini dihubungkan dengan arterioles melalui arterovenous anastomose. Ruangan ini mungkin bisa tersumbat darah selama cold in the nose (coriza), atau kadang selama menstruasi. Mucosa yang melapisi concha cenderung membengkak pada orang hidup sehingga saluran pernapasan hanya seperti celah (gbr. 2-6).

22

23

3. Regio olfactoria Regio olfactoria, dibatasi concha nasalis superior dari 1/3 bagian atas septum nasi. Ini disupply oleh kumpulan serabut-serabut saraf yang secara kolektif disebut nervus olfactorius, jurai-jurai serabut ini menembus lamina cribrosa dan berakhir pada bulbus olfactorius. Nervus olfactorius (gbr. 2-4) Membran mucosa regio olfactoria berwarna kekuningan (karena pigmen), dibanding mucosa yang lain, yang biasanya berwarna merah muda. Mucosanya tebal degan epithel columner berlapis semu dan tak bercilia, dan mengandung sel-sel olfactorius yang bipolar. Dendrit-dendritnya mencapai permukaan dimana mereka menjadi membesar dan merangsang tonjolan-tonjolan yang halus yang seperti rambut. Axonnya yang tak bermyelin (menuju ke pusat) adalah serabut olfactorius didalam lamina propria. Serabut-serabutnya yang dikumpulkan menjadi bundle yang kurang lebih dari 20 buah yang berjalan melalui lamina cribrosa dan secara kolektif disebut nervus olfactorius (NC I). Serabut sarafnya masuk dalam bulbus olfactorius dan synaps. Degenerasi serabut saraf olfactorius meningkat searah dengan umur. Filamen-filamen saraf, yang secara kolektif disebut n. terminalis, mungkin diketemukan antara bulbus olfactorius dan crista galli. Mereka berjalan

melalui lamina cribrosa dan disebarkan ke mucosa cavum nasi. Pengujian. Nervus olfactorius di test dengan jalan menutup satu nostril dan mendekatkan subtansi penguji mis : pepermint, atau minyak cengkih ke nostril yang lain. INNERVASI SENSORIS UMUM DAN VASCULARISASI Innervasi Saraf sensoris umum, merupakan derivat dari divisi pertama dan kedua nervus trigeminus (gbr. 2-4, A,B,C). Meskipun tidak ada akhiran saraf yang terorganisir dengan baik, pada concha inferior, tetapi rasa sentuhan, rasa sakit, dingin, panas dapat dirasakan di sini. Saraf-saraf untuk bagian anterior cavum nasi datang dari nervus ethmoidalis anterior, dipercabangkan dari nervus opthalmicus melalui nervus nasociliaris. Saraf-saraf untuk regio posterior dan merupakan bagian yang lebih besar datang dari nervus nasalis, ramus nasopalatinus, ramus palatinus dari ganglion pterygopalatina. Anesthesi dinding cavum nasi mungkin bisa dicapai dengan injeksi melalui incisura mandibulae dan fossa pterygopalatina (nervus maxillaris dan ganglion pterygopalatina) dan sepanjang dinding melalui orbita (nervus nasociliaris).

23

24

Gambar 2-5 Rhinoskopi posterior. A, menunjukkan penempatan cermin pada nasopharinx. B, Detail struktur yang terlihat dalam kaca. Innervasi symphatis dan parasymphatis dari cabang-cabang ganglion pterygopalatina, tetapi serabut-serabut symphatis juga dibawa sepanjang arteri. Seabut-serabut parasymphatis dari n. facialis (nervus intermedius ) diangkut nervus petrosus mayor ke ganglion pte-

rygopalatina dan synaps. Serabut-serabut postganglionernya dari ganglion berfungsi untuk vasodilator, dan secretomotoric. Serabut-serabut symphatis kemungkinan dari segmen thoracal atas dari spinal cord, synaps dari ganglion cervicale superius. Serabut-serabut postganglioner diangkut dalam plexus carotis interna, n.petrosus profundus dan n. canalis pterygoideusuntuk mencapai ganglion pterygopalatina. Mereka kemungkinan besar vasoconstrictor.

24

25

Vascularisasi dan Limphatic drainage. Arteri yang paling penting untuk cavum nasi adalah arteri. sphenopalatina (cabang arteri maxillaris) dan arteri ethmoidalis anterior (cabang arteri opthalmica) (gbr. 2-4D). Tekanan-tekanan yang sangat besar yang mengakibatkan bleeding pada hidung (epistaxis) terjadi pada pertemuan antara ramus septalis arteri labialis superior dengan ramus septalis arteri sphenopalatina. Venanya membentuk plexus di bawah mucosa dan secara umum berjalan bersama arterinya. Lymphanya dialirkan ke limphonodi servicalis profundi. Sudah diketahui bahwa pada kucing, tinta india mudah masuk dari spatial subarachnoid, ke limpha dari cavum nasi, mungkin melalui perineural sheath dari nervus olfactorius, hasil yang sama juga didapatkan pada kelinci. PEMERIKSAAN CAVUM NASI (RHINOSCOPY) Cavum nasi bisa diperiksa melalui nostril (anterior rhinoscopy) atau melalui pharynx (posterior rhinoscopy). Rhinoscopy anterior, bagian cavum nasi diperiksa dengan menggunakan nasal speculum yang didalamnya dimasukkan nostril. Dengan cara ini, concha nasalis media dan anterior, septum nasi, dan dasar hdung dapat diobservasi.

Rhinoscopy posterior. Pada rhinoscopy posterior, bagian belakang cavum nasi dilihat melalu choanae, dengan memasukkan postnasal mirror (fig 2-5) melalui mulut dan pharynx. Ujung posterior septum nasi yang dibentuk os vomer merupakan landmark yang menonjol dan muara tuba auditiva (osteum tuba) dapat diamati pula (gbr.63-14B). SINUS PARANASALIS Sinus paranasalis adalah ronggarongga yang terdapat pada os maxillare, os frontalem, os sphenoidale dan os. ethmoidale. Dindingnya tersusun atas tulang kompakta, dan tertutup oleh mucoendosteum yang merupakan kelanjutan dari mucosa regio respiratoria, dan bertipe sama (epitel columner berlapis semu, bersilia), juga ada kelenjar-kelenjar bertipe campuran. Sinus paranasalis diinervasi oleh nervus opthalmicus dan nervus maxillaris. Sinus-sinus itu berasal dari pertumbuhan keluar cavum nasi, dan oleh karena itu mereka semua bermuara baik langsung atau tidak ke cavum nasi (gbr. 2-6). Drainage yang terjadi pada sinus-sinus, karena adanya aksi dari cilia-cilia, dan barangkali juga karena isapan udara yang terjadi pada waktu meniupkan udara pernafasan. Infeksi nasalis (rhinitis), seperti yang terjadi pada cold in the head menyebar ke sinus-sinus yang mengakibatkan sinusitis. Sinus paranasalis sangat kecil pada waktu bayi lahir, tapi kemudian mereka

25

26

membesar secara cepat pada waktu pubertas. Tingkatan perkembangan sinus sangat bervariasi pada tiap individu. Fungsi yang pokok dari sinus-sinus paranasalis masih belum jelas.

kuat ditempatkan dalam mulut, kemudian sinus tersebut diobservasi lewat wajah. Sinus maxillaris dapat diobservasi secara radiography, menggunakan injeksi substansi radiopak dan tidak. Sinus Maxillaris (gbr. 2-7A) Sinus maxillaris, yang merupakan sinus yang paling besar, terletak pada maxilla,. Biasanya berbentuk pyramid (gbr. 2-8) yang berbaring pada salah satu sisinya, basisnya pada medial, dan apexnya pada processus zygomaticus ossis maxillae, tetapi kadang basis pyramid terletak di superior. Dinding medialnya adalah dinding lateral cavum nasi, atapnya lantai dasar orbita, lantainya adalah processus alveolaris maxillae. Lantai sinus maxillaris biasanya lebih rendah - 1 cm dari cavum nasi, dan ada peninggian karena adanya gigigigi molar pertama dan kedua atas. Hubungan antara gigi-gigi dengan sinus, sangat bervariasi. Sinusitis maxillaris biasanya dibarengi dengan sakit gigi. Dinding posterior memisahkan sinus maxillaris dari fossa infra temporalis dan fossa pterygopalatina. Dinding anterior berhubungan dengan wajah. Kadang-kadang didapatkan ridges atau septa dalam sinus. Infeksi bisa menyebar dengan mudah ke sinus-sinus frontalis, cellula ethmoidalis anterior, cavum nasi, gigi-gigi, dan sinus maxillaris. Sinus maxillaris diinnervasi oleh

Gambar 2-6 Skema coronal cavum nasi, menunjukkan conchae dan meatus dan beberapa sinus paranasalis. Ukuran saluran nasal didasarkan pada laminogram instruktif yang direproduksi oleh Proetz Transiluminasi dan radiography. Informasi mengenai kejelasan sinus maxillaris, dapat didapat di ruang gelap dengan menggunakan lampu kecil yang

26

27

nervus alveolaris superior anterior dan posterior dan nervus infraorbitalis. Sinus maxillaris bermuara melalui satu atau dua muara ke meatus nasi medius melalui hiatus semilunaris. Muaranya umumnya pada 1/3 posterior hiatus, biasanya berupa saluran pendek yang terletak horizontal, vertikal atau miring. Muaranya pada bagian antero superior dinding medial sinus dan kadang-kadang dapat dicanula in vivo melalui nostril. Muara accesoria sering pula didapatkan, biasanya di posteroinferior lubang utama. Meskipun lubang utama nampak besar pada keadaan dis-articulated, tetapi sangat menyempit pada keadaan utuh, karena tulang-tulang di sekitarnya (os.ethmoidale, palatini, lacrimale, dan concha nasalis inferior) dan oleh membrana mucosa. Drainage sinus maxillaris, dipengaruhi oleh aktivitas cilia, yang melibatkan gerakan spiral yang terpusat pada lubang muara, dan dengan tekanan negative yang ditimbulkan pada sinus pada inspirasi. Sinus ethmoidalis (gbr. 2-6 ; 2-8) Sinus ethmoidalis tersusun atas sejumlah (4-17) ruang pada masingmasing sisi. Bagian-bagian sinus tersebut disebut cellula. Dindingnya dilengkapi oleh os. frontale, os maxillare, os lacrimale, os. sphenoidale, dan os. palatini, tendensinya untuk selalu terdapat sebagian pada tulang yang lain yang berdekatan menyebabkan ia disebut

dengan the struggle of the ethmoid (Seidel) . Berdasarkan pada muara-muaranya, cellula ethmoidalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) kelompok anterior, (2) kelompok posterior, yang mana kelompok pertama bermuara ke dalam meatus nasi media, kedua meatus nasi superior dan suprema. Sinus frontalis (gbr. 2-7B dan C) Sinus frontalis bisa dikatakan merupakan perluasan dari sinus ethmoidalis anterior yang menyusup ke os frontalis sesudah lahir. Ini dipisahkan oleh pasangannya pada sisi yang lain oleh suatu sekat tulang yang biasanya merupakan milik salah satu sisi. Besarnya sinus sangat bervariasi antara sisi yang satu dengan sisi yang lain. Bentuk kening in vivo merupakan gambaran bentuk sinus. Sinus ini umumnya meluas ke belakang pada atap orbita. Dalam banyak kasus, ini bisa sangat erat hubungannya dengan orbita, dan juga fossa cranii anterior (gbr. 55-13) . Sinus frontalis bermuara ke meatus nasi medius, secara langsung atau melalui ductus frontonasalis yang bisa kontinyu atau tidak dengan infundibulum ethmoidale, pada satu di antara dua tempat berikut (1) ke bagian depan dari meatus medius, didepan atau di atas infundibulum ethmoidale, atau, (2) ke dalam infundibulum ethmoidale. Sinus fron-

27

28

talis diinnervasi oleh nervus supra orbitalis dari nervus opthalmicus. Gambar 2-7 Sinus paranasalis. A, projeksi postero-anterior (projeksi Waters), menunjukkan sinus maksilaris. Sinar sentral melalui bagian belakang kepala di dekat lambda ke hidung. Hidung beberapa cm di atas film dan dagu menempel di atas film. B dan C projeksi postero-anterior (projeksi Calldwell), menunjukkan sinus frontalis. Forehead dan hidung menempel pada film dan dagu sedikit terangkat. Suatu garis dari sudut lateral mata ke meatus acusticus externus tegak lurus dengan film. Sinar sentral melalui bagian belakang kepala ke glabella, dan menyudut sedikit di bagian kaudal. B, garis putih horisontal antara orbita adalah anterior edge (limbus sphenoidalis) dari optik groove. C, Sinus frontalis pada satu sisi sangat kecil. Garis putih horisontal yang menyilang bagian atas orbita adalah posterior edge (sphenoidal ridges) ala parva (A dari Meschan . B, dari Easmant Kodak Company, Rochester, New York.C, dari Earl L. Warent, M.D., Paterson, New Jersey). Gambar 2-8 Gambar cavum nasi dan sinus paranasalis. Aspek lateral kanan.

Perhatikan aspek-aspek orbital, fasial dan infra temporal dari sinus maxillaris. Sinus sphenoidalis (gbr. 2-2) Sinus sphenoidalis terletak dalam corpus sphenoidale. Ukurannya sangat bervariasi, dan bisa meluas sampai ke os occipitale. Ia bermuara pada orifice pada bagian atas dinding depannya ke dalam recessus sphenoidalis dari cavum nasi. Ia sering bisa di canula lewat nostril, sinus sphenoidalis dibagi dua bagian kanan dan kiri (masing-masing disebut sinus sphenoidalis) oleh suatu sekat yang biasanya menyimpang ke salah satu sisi. Dinding anterior sinus dibentuk oleh dua lembar tulang tipis yang melengkung (concha sphenoidalis) yang biasanya rusak kalau dinding didisartikulasi. Sinus sphenoidalis, ke belakang berhubungan dengan pons dan a. basilaris; ke superior dengan chiasma opticum, nervus opticus, dan hyphopyse; ke anterior ke cavum nasi; inferior ke cavum nasi dan nasopharynx. Ke lateral dengan nervus opticus, sinus cavernosus, arteri carotis interna, nervus opthalmicus dan nervus maxillaris. Hypophise dapat didekati melalui bagian dalam cavum nasi melalui sinus sphenoidalis. Sinus ini diinervasi terutama oleh cabang-cabang nervus maxillaris.

28

29

III. REGIO SUBMANDIBULARIS


submandibularis, adalah suatu daerah yang tertutup oleh corpus mandibulae dan diantara mandibula dan os hyoideus. Regio ini berisi glandula submandibularis, glandula sublingualis, musculi suprahyoid, ganglion submandibularis dan arteri lingualis. Nervus lingualis, nervus hypoglossus dan arteri facialis dibahas ditempat/bab lain.

Regio

Glandula submandibularis Glandula submandibularis adalah salah satu dari tiga besar glandula salivarius yang berpasangan; bertype serous. Glandula submandibularis tersusun atas bagian superficial yang besar, atau corpus, dan tonjolannya di bagian profondus, yang lebih kecil. Kedua bagian ini merupakan bagian-bagian yang

29

30

saling bersambungan, yang mana mereka melingkari batas posterior musculus mylohyoideus (gbr. 3-1A). Gambar 3-1. Glandula submandibularis dan sublingualis. A. aspek lateral kanan setelah menyisihkan bagian mandibula. B, irisan coronal pada ramus mandibulae dan os hyoid, untuk menunjukkan hubungan-hubungan glandula submandibularis. C. irisan coronal melalui corpus mandibulae, untuk melihat hubungan dengan glandula sublingualis. (dari Kampmeter, Cooper dan Jones). Anatomi permukaan. Glandula submandibularis terletak sebagian di atas dan sebagian di bawah pertengahan posterior dari basis mandibulae. Biasanya glandula ini hampir tidak teraba. Hubungan dengan stuktur sekitarnya. Corpus glandula submandibularis terletak di dalam dan di bawah trigonum digastricus dan sebagian tertutup oleh mandibula. Ia mempunyai tiga facies: inferior, lateral, dan medial (gbr.3-1B). Facies interor tertutup oleh kulit, fascia dan platysma. Facies lateralis berhubungan dengan fovea submandibularis dan musculus pterygoideus medialis. Facies medialis berhubungan dengan musculus mylohyoideus, musculus hyoglossus dan musculus digastricus. Facies inferior dan medial tertutup oleh fascia cervicalis.

Processus profondus glandula submandibularis terletak di antara musculus mylohyoideus (di sebelah lateral) dan musculus hyoglossus (di bagian medial) dan di antara nervus lingualis (di atas) dan nervus hipoglossus (di bawah) (gbr. 3-3). Ductus submandibularis, kira-kira panjang 5 cm, timbul dari bagian profundus (gbr. 3-1A). Ia tetap terletak di antara musculus mylohyoid dengan musculus hyoglossus, sampai kemudian di silang kearah lateral oleh nervus lingualis, kemudian terletak di antara glandula Sublingualis dan musculus genioglossus. Cabang-cabang terminal nervus lingualis naik pada sisi medial ductus. Ductus submandibularis bermuara melalui 1-3 orifices ke dalam rongga mulut pada papilla sublingualis pada sisi lateral frenulum lingualis. Percabangan dari glandula submandibularis dapat diperiksa/ diobservasi secara radiographis sesudah dilakukan injeksi dengan medium radiopaque (iodizet oil) ke dalam ductus. Prosedur semacam ini disebut sialographi. Innervasi dan vascularisasi. Glandula submandibularis disuplai oleh serabut-serabut parasymphatis sekretomotoris yang dipercabangkan dari ganglion submandibularis (gbr. 3-4). Serabut-serabut preganglionernya dipercabangkan dari chorda tymphani, suatu cabang dari nervus facialis dan mencapai ganglion dengan mengikuti nervus lingualis. Se-

30

31

rabut post ganglioner diberikan secara langsung ke glandula dari ganglion. Karena eratnya hubungan antara nervus facialis dan nervus glossopharyngeus ada kemungkinan bahwa glandula submandibularis disuplai oleh serabut yang berasal dari kedua nervi cranialis tersebut. Serabut-serabut symphatis juga memberikan suplai glandula dan nampaknya bersifat sekretomoris. Glandula Sublingualis Glandula sublingualis adalah kelenjar yang terkecil di antara ketiga besar glandula salivarius, dan bertipe mucous, Ia dilekatkan ke atas terhadap mucosa (sublingual fold) dasar mulut, ke inferior dengan musculus mylohyoideus, anterior dengan kelenjar dari sisi yang lain, ke posterior dengan processus profundus glandula submandibularis, ke lateral berhubungan dengan fovea sublingualis pada permukaan medial mandibula ke medial dengan musculus genioglossus. Ductus sublingualis. Jumlahnya kira-kira 10-30, bermuara ke dalam cavum oris pada plica sublingualis (gbr. 31A), tetapi sebagian masuk ke ductus submandibularis. Innervasi. Glandula sublingualis disuplai oleh saraf para symphatis sekretomoris, yang dipercabangkan terutama oleh ganglion submandibularis (gbr. 3-4). Serabut preganglioner datang dari chorda tympani, cabang dari nervus

facialis yang masuk ke ganglion melalui nervus lingualis. Serabut-serabut postganglioner bergabung dengan nervus lingualis dan dengan jalan itu mereka sampai ke glandula sublingualis. Karena hubungan antara nervus facialis dan nervus glossopharyngeus sangat erat, maka ada kemungkinan bahwa glandula sublingualis disuplai oleh salah satu dari kedua saraf-saraf cranialis tersebut. Musculi Suprahyoid Musculi suprahyoid (gbr. 3-4) menghubungkan os hyoid dengan cranium, mereka adalah: musculus digastricus, musculus stylohyoideus, musculus mylohyoideus dan musculus geniohyoideus. Mm. genioglossus dan hyoglossus diuraikan pada bab lingua. Musculus digastricus. Musculus digastricus terdiri dari dua venter yang di hubungkan oleh suatu tendon penghubung. Venter posterior muncul dari incisura mastoidea dan mengarah ke depan bawah ke arah os hyoid. Venter anterior yang lebih pendek melekat pada fossa digastrica pada mandibula di dekat symphisis. Ia kemudian mengarah ke posteroinferior. Tendon penghubung melekat pada corpus dan cornu mayus ossis hyodeus yang mana perlekatannya ini dilakukan oleh aponeurose dari fascia cervicalis. Venter posterior dan musculus stylohydeus disilang pada bagian superficial oleh vena facialis, nervus auricu-

31

32

laris magnus, dan ramus cervicalis dari nervus facialis. Arteri carotis externa dan interna, vena yugularis interna, nervus 9, 10, 11 dan truncus sympaticus teletak profondus dari venter posterior dan musculus stylohyoid. Innervasi. Venter anterior (dari arcus pharyngealis I) diinervasi oleh ramus mylohyoideus cabang nervus alveolaris inferior, venter posterior (dari arcus pharyngealis II) oleh nervus 7. Fungsi nervus digastricus adalah menarik dagu ke posterior dan inferior pada waktu membuka mulut, oleh karena itu membantu nervus pterygoideus

lateralis merotasi mandibula untuk membuka mulut. Venter anterior mensuport os hyoideus. Musculus stylohyoideus (gbr. 3-2) ini adalah merupakan suatu otot yang ramping terletak sepanjang margo superior venter posterior musculus digastricus. Ia mempunyai perkembangan dan innervasi yang sama. Timbul dari processus styloideus berinsertio pada os hyoid pada pertemuan antara corpus dan cornu mayus. Musculus stylohyoid umumnya pecah di dekat insertionya dan pecahnya terisi oleh tendon dari musculus digastricus.

32

33

Gambar 3-2 A. aspek inferior cranium dan os hyoid, menunjukkan otot-otot suprahyoid. Sebagian posterior belly musculus digastricus telah diambil, mengakibatkan terdedahnya origo musculus stylohyoideus dari procesus styloideus. Outline musculus genyohioid kanan ditunjukkan. (berdasar von Lanz dan Wachsmuth). B. pandangan anterior mandibula dan os hyoid, menunjukkan musculus digastricus dan musculus mylohioid. C, basis cranii, menunjukkan aksis panjang fossa mandibularis. Panah menunjukkan otot yang ditarik: (1) musculus pterygoideus lateralis dan (2) musculus digastricus. Innervasi: nervus facialis Fungsi dari otot ini adalah menarik os hyoid ke belakang dan memperpanjang dasar mulut. Posisi antero- posterior tulang ditentukan oleh: musculus stylohoid, musculus geniohyoid dan musculus infrahyoid. Musculus mylohyoideus (gbr. 3-2; 3-3) otot ini terletak di atas venter anterior musculus digastricus. Mereka mempunyai asal perkembangan yang sama dan innervasinya juga sama. Ia muncul dari linea mylohyoidea pada permukaan dalam mandibula, mulai molar terakhir sampai dengan symphisis menti. Serabut-serabutnya mengarah ke medial dan berakhir disitu. Serabut posteriornya berinsertio pada os hyoid (corpus ). Kedua musculus mylohyoid kanan dan kiri

membentuk lantai dasar mulut (diaphragma oris) di bawah bagian depan mulut. Musculus mylohyoid, sebagian menutupi musculus hyoglossus. Innervasi. R. mylohyoideus cabang dari nervus alveolaris inferior. Kedua musculus mylohyoideus membentuk diaphragma muscular yang mensupport lidah. Kontraksi musculus mylohhyoideus mengakibatkan terangkatnya lantai dasar mulut, sehingga rongga menjadi dangkal. Ia berfungsi pula mengangkat lidah, dan jika gigigigi oklusi, menimbulkan suatu peningkatan tekanan pada lidah, memaksakan ke posterior, seperti yang terjadi pada waktu menelan. Musculus mylohyoideus memaksa material baik yang berupa liquid maupun solid dari oropharynx masuk ke dalam laryngopharynx. Musculus genoihyoideus (gbr. 3-3; 3-5) terletak di atas musculus mylohyoideus. Ia timbul dari inferior genial tubercle di belakang symphisis menti dan berinsertio pada bagian depan corpus ossis hyoid. Ia melekat/berfusi dengan otot kontra lateralnya (gbr. 3-1C). Innervasi. Cabang dari nervus hypoglossus. Cabang ini tersusun atas serabut dari nervus cervicalis pertama dan kedua. Musculus genoihyoideus berfungsi memajukan (protrusi) os hyoideus, oleh karena itu memperpendek lantai dasar mulut.

33

34

Ganglion Submandibularis (gbr. 3-4) Ganglion submandibularis terletak pada permukaan lateral musculus hyoglossus, medial dari musculus mylohyoideus, di bawah nervus lingualis dan di atas ductus submandibularis dan nervus hipoglossus. Ganglion ini berhubungan dengan nervus lingualis melalui beberapa saraf penghubung. Serabut-serabut yang di hubungkan dengan ganglion biasanya disebut akarnya. Parasymphatis (motor) root, berasal dari nervus lingualis. Serabut preganglionernya dipercabangkan dari chorda tympani, synaps pada ganglion, serabut posganglioner berjalan menuju glandula Submandibularis, yang bersifat sekretomotoris, mengikuti rami glandularis dari ganglion submandibularis. Beberapa cabangnya berhubungan dengan nervus lingualis dan menuju ke glandula lingualis dan glandula sublingualis. Sebagian dari ganglion submandibularis bisa diketemukan pada glandula submandibularis. Akar symphatis didapatkan dari plexus pada arteri facialis. Serabut-serabut ini adalah post ganglioner (timbul dari ganglion cervicale superior). Mereka hanya melewati ganglion, yang didistribusikan bersama-sama dengan serabut parasymphatis. Jadi, glandula. ini merupakan stasiun relay dari serabut preganglioner sekretamotorik nervus 7.

Gambar 3-3 Secara berurutan pandangan superficial dari regio submandibularis. B, Dapat terlihat bahwa nervus glossopharyngeus (9), ligementum stylohyoid (S-H), dan arteri lingualis (L), processus profundus glandula submandibularis, dan nervus hypoglossus (12) berjalan profundus dari margo posterior musculus mylohyoid. D, musculus digastricus, musculus submandibular, trigonum caroticum terlihat. Garis yang menghubungkan S dan M menunjukkan posisi mendekati margo anterior musculus sternomastoideus. X adalah posisi yang mendekati tuberculum caroticum (C.V. 6)

34

35

nervus hypoglossus. Bagian yang kedua melewati profondus musculus hyoglossus dan berjalan sepanjang margo superior os hyoideus. Ia terletak pada musculus constrictor pharingis medius. Bag-ian ketiga, arteri profunda lingualis diu-raikan di bawah ini. Cabang-cabangnya. Arteri lingualis memberikan percabangan sebagai berikut : (1) ramus suprahyoid, yang beranastomose dengan yang kontralateral; (2) ramus dorsalis linguae ke dorsum linguae; (3) arteri sublingualis, ke glandula Sublingualis; (4) arteri profunda lingualis (arteri ranina), cabang terminal dari arteri lingualis yang naik diantara musculus genioglossus dan musculus longitudinalis inferior. Ia berjalan di sepanjang facies inferior lidah dan beranastomose dengan sisi kontralateralnya.

Gambar 3-4 Skema ganglion submandibularis dan koneksinya. Aspek lateral. Perhatikan serabut para sympatis (garis putus-putus) dan serabut simphatis (garis utuh). Arteri Lingualis (gbr. 3-5) Arteri lingualis, keluar dari permukaan anterior arteri carotis externa, di atas ketinggian os hyoideus perjalanannya bisa dibagi menjadi 3 bagian: posterior, profondus dan anterior dari hyoglossus. Bagian pertama dari arteri lingualis, terletak terutama pada trigonum caroticum dan membentuk suatu loop pada musculus constrictor pharyngis medius. Loop ini disilang oleh

Gambar 3- 5 Arteri lingualis garis putus-putus menunjukkan batas dari musculus hyoglossus yang direseksi.

35

36

36

37

KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN GIGI

ANATOMI II
- CAVUM ORIS - CAVUM NASI - SINUS PARANASALIS - REGIO SUBMANDIBULARIS

Gardner - Gray - ORahilly


Alih bahasa:

Dr. drg. P u r w a n t o M.Kes


UNTUK KALANGAN SENDIRI TIDAK UNTUK DIPERDAGANGKAN

BAGIAN BIOMEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER

37

38

KATA PENGANTAR
Diktat terjemahan ini adalah revisi dari terjemahan terdahulu. Beberapa perbaikan telah dilakukan, pertama, terjemahannya dikoreksi, kedua, buku ini diperlengkapi dengan gambar, ketiga penampilan buku sesuai dengan buku aslinya, yakni dibuat dua kolom, dan dicetak dengan mesin fotokopi digital. Pada terjemahan yang lalu, gambar dan keterangannya dipisah dalam satu buku, tetapi sekarang keterangan gambar sudah diterjemahkan dan digabungkan dengan teks sesuai dengan aslinya. Buku ini merupakan terjemahan dari buku Anatomi (Gardner, Gray, dan ORahilly). Tidak semua yang diterjemahkan tahun 1991 diterbitkan lagi, misal regio colli, larynx pharynx dan encephalon, karena disesuaikan dengan kuriku-lum yang berlaku sekarang. Buku ini terdiri dari tiga bab: Cavum Oris, Cavum Nasi, dan regio submandibularis. Untuk menghadapi kurikulum baru, buku ini sangat cocok, karena pada kurikulum baru, waktu tatap muka antara dosen dan mahasiswa dibatasi, buku ini, diharapkan membantu mahasiswa belajar mandiri. Buku terjemahan ini tidak diperdagangkan dan hanya untuk kepentingan proses belajar-mengajar di kalangan sendiri. Hanya untuk mahasiswa FKG-Unej, tidak diperuntukkan mahasiswa di luar Unej. Pada kesempatan ini kembali saya menyampaikan terima kasih kepada dosen yang mengajari saya Anatomi dan Bahasa Inggris. Dosen yang mengajari Anatomi di Bagian Anatomi FK-Unair, selama dua semester (2 x 14 Sks), adalah dr. Sri Muntarsih Legowo dan dr. Supratiknyo Bambang Saputra. Saya juga berterimakasih kepada dosen Bahasa Inggris saya, yang mengajari selama setahun, di ITB: Jim Callachor MA, Keith Lesana MA dan Tim Hudner MA. ttd. Penerjemah

Penulis

DAFTAR ISI

38

39

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI I. CAVUM ORIS, PALATUM, LINGUA DAN GIGI
CAVUM ORIS VESTIBULUM ORIS CAVUM ORIS PROPIUM LABIUM DAN BUCCAE PALATUM LINGUA GIGI GIGI PRIMER GIGI PERMANEN

II. CAVUM NASI DAN SINUS PARANASALIS


EXTERNAL NOSE CAVUM NASI HUBUNGAN DENGAN RONGGA BATAS-BATAS PEMBAGIAN RUANGAN DAN MEMBRAN MUCOSA INNERVASI SENSORIS UMUM DAN VASCULARISASI RHINOSCOPY SINUS PARANASALIS

III. REGIO SUBMANDIBULARIS


GLANDULA SUBMANDIBULARIS GLANDULA SUBLINGUALIS MUSCULI SUPRAHYOID GANGLION SUBMANDIBULARIS ARTERI LINGUALIS

39