Anda di halaman 1dari 6

GERAKAN WANITA

INDONESIA

A. LATAR BELAKANG
Keragaman ideologi yang berkembang pada masa Nasionalisme
Indonesia, menyebabkan terbentuknya berbagai Organisasi Pergerakan Nasional
Indonesia. Salah satunya yaitu Gerakan Wanita Indonesia.
1. Pelopor Perempuan pada Masa Kolonial
Bertambah banyaknya jumlah pelajar dari kaum pribumi pada lembaga
pendidikan atau sekolah Barat, khususnya dari kalangan priyayi, menandakan
peradaban Barat yang lengkap dengan sistem politik, sosial, ekonomi dan
kebudayaannya mulai dikenal. Tingkat kemajuan pendidikan Barat sangat
besar artinya dalam kehidupan kaum terpelajar bangsa Indonesia. Hal ini
menyebabkan munculnya aspirasi-aspirasi untuk mengadakan modernisasi
menurut model Barat pada umumnya dan Belanda pada khususnya.
Kalangan terpelajar bangsa Indonesia semakin terbuka melihat adanya
perbedaan yang amat mendasar antara bangsa Eropa dan Indonesia seperti
dalam tingkat dan gaya hidup kalangan pribumi dengan kalangan orang
Belanda dan bangsa Eropa, serta kehidupan bangsa Indonesia yang masih
terbelakang dan kuno ataupun kolotnya kehidupan tradisional Indonesia. Hal
ini membawa perubahan pandangan pada kalangan terpelajar bahwa tradisi
mulai dipandang bukan lagi sebagai suatu yang wajar yang harus dijunjung
tinggi, melainkan sebagai hambatan terhadap suatu kemajuan yang ingin
dicapai.
Pada masa itu, tatanan adat dan tradisi masih cukup kuat membelenggu
kehidupan di segala bidang bangsa Indonesia. Kalangan terpelajar yang dapat
mengenyam pendidikan terbatas pada kaum laki-laki, sementara kaum
perempuan belum seluruhnya dapat menikmati pendidikan. Kenyataan ini
membuat dominasi kaum laki-laki atas perempuan begitu kuat dan mengikat.
Kaum perempuan hanya ditempatkan sebagai pendamping suami yang hanya
bertugas menyiapkan kebutuhan rumah tangganya.
Atas keprihatinan terhadap kondisi kaum perempuan Indonesia,
beberapa perempuan mencoba untuk mempelopori kebebasan dan kesetaraan
kedudukan dengan kaum laki-laki, terutama dalam bidang pendidikan.
Langkah ini dikenal dengan nama gerakan emansipasi wanita. Sang penyuara
gerakan emansipasi ini adalah Raden Ajeng Kartini seorang putri Bupati
Jepara, melalui tulisan-tulisannya dalam bentuk surat yang dilayangkan
kepada sahabat karibnya bernama Nyonya Abendanon. Kumpulan surat-surat
Kartini tiu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Habis
Gelap Terbitlah Terang pada tahun 1911. Dalam bukunya, diungkapkan
bagaimana sikap atau pandangan orang tua terhadap putra-putrinya, ketaatan
dan kepatuhan kepada adat, termasuk kaida-kaidah tata susila, sopan santun
serta tata cara yang mengatur segala macam hubungan sosial.
Pada masa peralihan abad ke-19 dan ke-20 kaum Aristokrat memiliki
kesempatan mengadakan kontak dan pergaulan dengan masyarakat Eropa
melalui lembaga Pendidikan. Jumlah putra-putri kaum pribumi yang
bersekolah pada lembaga pendidikan Eropa semakin besar. Hal ini sangat
wajar berdasarkan lokasi sosialnya, bangsawan pribumi menjadi pelopor
modernisasi masyarakat Indonesia. Tidak mengherankan pula dari kalangan
itu muncul prakasarsa untuk mendirikan sekolah bagi kaum wanita yang
diasuh oleh para warga ningrat itu sendiri.
Kaum wanita selain mendapat pelajaran untuk mengasah kecerdasan dan
ketrampilannya juga untuk membangun sopan santun dan kesusilaan. Karena
wanita mendapat pendidikan pada lingkungan sekolah dan lingkungan
keluarganya, maka sudah sewajarnya wanita mendapat panggilan suci dalam
pendidikan. Jadi kunci kemajuan kaum wanita Indonesia adalah kombinasi
antara pendidikan barat dengan timur.
2. Awal Mula Munculnya Organisasi Wanita Indonesia
Pada mulanya pergerakan wanita masih merupakan usaha dari beberapa
orang perempuan dan belum dibentuk dalam suatu perkumpulan.
Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920 pada dasarnya masih
terbatas sifat dan tujuannya, yaitu menuju perbaikan kecakapan sebagai ibu
rumah tangga. Cara mencapainya adalah dengan jalan menambah pengajaran,
memperbaiki pendidikan, dan mempertinggi kecakapan khusus untuk wanita.
Tujuan yang bersifat sosial kemasyarakatan kebangsaan belum dikemukakan.
Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920 antara lain
Putri Mardika yang didirikan atas bantuan Budi Utomo di Jakarta(1912).
Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan pengajaran terhadap anak-anak
perempuan dengan memberikan penerangan dan bantuan dana, mempertinggi
sikap yang merdeka dan tegak serta melenyapkan tindakan malu-malu yang
melampaui batas. Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun 1913
di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang, 1916 di Cianjur, 1917 di
Ciamis dan tahun 1918 di Cicurug. Pengajar yang terkemuka dari
perkumpulan Kautamaan Istri di tanh pasundan adalah Raden Dewi Sartika.
Sekolah Kartini juga didiriakan di Jakarta pada tahun 1913, lalu berturut-turut
di Madiun tahun 1917, di Indramayu, Surabaya, dan Rembang tahun 1918.
Perkumpulan Kaum Ibu didirikan untuk memajukan kecakapan kaum
wanita yang bersifat khusus seperti memasak, menjahit, merenda, memelihara
anak-anak dan sebagainya. Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan
perkumpulan wanita yang bersifat agama Islam dengan nama Sopa Tresna
yang kemudian pada tahun 1914 menjadi bagian wanita dari Muhamadiyah
dengan nama Aisyah. Di Minangkabau berdiri perkumpulan Keutamaan
Istri Minangkabau dan Kerajinan Amal Setia yang berusaha memajukan
persekolahan bagi anak-anak perempuan.
B. PERKEMBANGAN
Pada tahun 1920 mulai muncul Perkumpulan Wanita yang bersifat
kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang lebih luas dari pada perkumpulan
wanita sebelumnya. Di Minahasa didirikan De Gorontalosche
Mohammedaanche Vrouwen Vereeninging, sedang di Yogyakarta didirikan
perkumpulan Wanito Utomo yang mulai memasukkan perempuan ke dalam
kegiatan dasar pekerjaan ke arah perbaikan kedudukan perempuan pada
umumnya. Corak kebangsaan sudah mulai masuk dan besar pengaruhnya dalam
pergerakan wanita setelah tahun 1920, sehingga dirasakan perlu ada hubungan
dan ikatan diantara perkumpulan wanita tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh
propaganda kebangsaan PNI yang mendorong dilangsungkannya Kongres
Permpuan Indonesia yang pertama di Yogyakarat(1928).
Paham kebangsaan dan persatuan Indonesia paling besar pengaruhnya
terhadap perkumpulan wanita yang menjadi bagian dari beberapa perkumpulan
pergerakan. Meskipun demikian perkumpulan wanita yang lain juga mulai
tumbuh rasa nasionalismenya.

C. PERJUANGAN
Gerakan wanita merupakan sebuah organisasi yang muncul berdasarkan
ideologi sekumpulan wanita Indonesia yang berjuang menjunjung tinggi hak
asasi wanita terutama dalam bidang pendidikan.
Mereka memperjuangkan haknya agar kedudukan wanita setara dengan
kaum lelaki. Tidak hanya berkutik di dapur mengurus suami berserta anak dan
keluarganya. Para wanita berhak mendapatkan pendidikan yang setinggi-
tingginya.
Sang pelopor organisasi, yaitu RA. Kartini bekerja sama dengan Belanda
dalam mewujudkan cita-citanya membangun masyarakat wanita yang kaya
ilmu dan pengetahuan. Ia menjadikan perkumpulan wanita Indonesia sebagai
perserikatan yang berhaluan kooperatif terhadap pemerintah. Hal ini
direlisasikan dengan diadakannya Kongres Perempuan.
D. TUJUAN ORGANISASI
Gerakan wanita Indonesia memliki beberapa tujuan, diantaranya :
1. Mendapat pelajaran untuk mengasah intelegensi untuk membangun
sopan santun dan kesusilaan.
2. Memajukan pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan
memberikan penerangan dan bantuan dana.
3. Mempertinggi sikap yang merdeka dan tegak.
4. Melenyapkan tindakan malu-malu yang melampaui batas.
5. Memajukan kecakapan kaum wanita yang bersifat khusus memasak,
menjahit, merenda, memelihara anak dan sebagainya.
6. Meningkatkan rasa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.
7. Menciptakan wanita Indonesia yang modern.
8. Merajut mimpi meraih masa depan yang cerah.

E. NILAI PERJUANGAN
Dengan adanya perkumpulan, perserikatan dan organisasi wanita
Indonesia di masa kolonial, sedikit demi sedikit wanita Indonesia memiliki
kedudukan yang sama dengan kaum lelaki. Bahkan hingga sekarang wanita
Indonesia lebih maju dari laki laki. Dapat di ambil contoh, bangsa Indonesia
pernah dipimpin oleh seorang wanita. Itu menggambarkan betapa majunya wanita
Indonesia pada masa kini. Dan itu merupakan penghargaan terbesar bagi mereka
atas perjuangan dan kerja keras selama bertahun-tahun hingga akhirnya mereka
mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dan sekarang kita dapat
merasakan hasil dari perjuangan para wanita Indonesia tersebut.
Berkat perjuangan para pejuang wanita di masa kolonial,telah kita ketahui
bersama bahwa kita telah memiliki peraturan hukum dan merasakan nilai yang
amat mengikat yaitu HUKUM PERSAMAAN GENDER.
MERDEKAAAA!!!!!!!
F. PENUTUP
Dengan adanya makalah ini, kami berharap dapat bermanfaat bagi siswa-
siswi SMA Negeri 3 Purwokerto pada umunya dan siswa-siswi kelas IX-IA3 pada
khususnya. Sekian dan terima kasih.

Purwokerto, 29 Maret 2007


Penulis