Anda di halaman 1dari 15

MEMBENTUK PARTAI POLITIK ISLAM SEJATI (TELAAH KITAB AL-TAKATTUL AL-HIZBIY)

Oleh : KH M Shiddiq al-Jawi

Pengantar

"Kitab ketiga," itulah julukan sebagian kalangan aktivis HTI untuk kitab al-Takattul al-Hizbi (selanjutnya disingkat al-Takattul). Maklum, kitab karya Taqiyuddin an-Nabhani ini biasanya dikaji dalam pembinaan internal HT setelah kitab Nizham al-Islam dan kitab Mafahim Hizbut Tahrir.

Jika kitab Nizham al-Islam menjelaskan Islam sebagai sistem kehidupan, dan kitab Mafahim Hizbut Tahrir menjelaskan pokok-pokok pikiran HT, maka kitab al-Takattul menjelaskan pembentukan kelompok Islam yang ideal serta berbagai tahapan dan langkah yang akan ditempuhnya, untuk mewujudkan sistem kehidupan Islam itu.

Jadi kitab al-Takattul ini memang tak bisa dilepaskan dari kitab Nizham al-Islam. Sebab setelah seseorang memahami Islam sebagai sebuah sistem kehidupan (nizham al-hayah), mungkin dia akan bertanya,"Lalu bagaimana mewujudkannya dalam realitas kehidupan?" Nah, kitab al-Takattul ini berusaha menjawab pertanyaan itu. Intinya, untuk mewujudkan Islam sebagai sistem kehidupan, mutlak diperlukan negara (Khilafah). Dan untuk mengembalikan Khilafah, mutlak diperlukan sebuah partai politik Islam yang sahih.

Namun seperti kitab Mafahim Hizbut Tahrir, kitab al-Takattul ini mengandung kompleksitas yang tinggi. Ditulis secara simultan dalam 55 halaman tanpa bab dan anak judul, kitab al-Takattul acap kali membuat pembacanya kesulitan menangkap maksudnya. Demikian pula kitab ini hanya secara global menjelaskan setting sejarah sejak abad ke-19 M dan kondisi berbagai gerakan Islam yang ada, tanpa menyebut namanama gerakannya.

Maka dari itu, siapa saja yang ingin memahami kitab al-Takattul dengan baik, dia tak bisa mencukupkan diri hanya dengan membaca kitab itu saja. Dia harus memperbanyak informasi-informasi penunjang guna memahami kitab tersebut, baik informasi dari kitab-kitab HT maupun literatur keislaman umumnya.

Kitab Manhaj Hizbut Tahrir fi al-Taghyir, misalnya, perlu dibaca. Karena ia merupakan penyederhanaan dan ringkasan kitab al-Takattul dari segi tahapan dan langkah kelompok Islam --dalam hal ini HT-- dalam mengubah masyarakat. Untuk memahami situasi politik dan sosial umat Islam pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah (abad ke-18 dan ke-19), misalnya, dapat dibaca mukadimah buku Ittijahat al-Tafsir fi al-'Ashr al-Rahin karya Dr. Abdul Majid al-Muhtasib, atau buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Dr. Muhammad ash-Shalabi. Mengenai gerakan-gerakan kebangkitan Islam, dapat dibaca misalnya buku Gerakan Kebangkitan Islam karya Dr. Hafizh Muhammad al-Ja'bari. Sudah barang tentu, layak pula ditelaah syarah kitab al-Takattul karya Muhammad Hawari.

Gambaran Isi Kitab

Apa isi kitab al-Takattul (2001)? Kitab ini pada dasarnya ingin menyampaikan 3 (tiga) penjelasan mendasar menyangkut gerakan Islam yang bertujuan membangkitkan umat Islam. Tiga penjelasan itu adalah mengenai :

Pertama, faktor-faktor yang menyebabkan gagalnya berbagai gerakan, dari sisi pembentukan keorganisasiannya (hal. 1-21).

Kedua, tatacara pembentukan partai politik yang sahih (hal. 22-30)

Ketiga, tahapan kerja partai, hambatan-hambatan, serta bahaya-bahaya yang akan dihadapinya (hal. 3053). Berikut ini uraiannya.

Sebab-Sebab Kegagalan Gerakan

Sejarah telah membuktikan, banyak gerakan yang berdiri sejak abad ke-19 telah gagal membangkitkan umat Islam. Dari sisi pembentukan organisasi, ada 4 (empat) faktor yang menyebabkan kegagalannya, yaitu gerakan tersebut : (1) bertumpu pada fikrah (konsep) yang masih umum, (2) tidak mengetahui thariqah (metode) untuk menerapkan fikrahnya, (3) tidak diemban oleh orang-orang yang matang kesadarannya, dan (4) tidak mempunyai ikatan yang benar untuk mengikat anggota-anggotanya (hal. 3-4)

Mengenai fikrah & thariqah, banyak gerakan tidak didasarkan pada fikrah dan thariqah yang jelas. Banyak gerakan berdiri hanya karena respon sesaat, misalnya gerakan nasionalis yang muncul karena penjajahan. Wajar saja bila gerakan-gerakan ini mengalami kegagalan, sebab gerakan-gerakan ini tidak bertumpu pada fikrah dan thariqah yang jelas (hal. 4-5).

Sebuah gerakan Islam, sudah semestinya bertumpu hanya pada ideologi (mabda') Islam. Sebab, falsafah kebangkitan yang hakiki itu tiada lain adalah ideologi Islam, yang mengintegrasikan fikrah dan thariqah Islam secara terpadu. Ideologi Islam ini harus didakwahkan, lalu ditegakkan Daulah Islamiyah di sebuah negeri untuk menerapkan ideologi Islam itu secara total. Selanjutnya, Daulah Islamiyah itu akan terus meluas meliputi seluruh negeri-negeri Islam (hal. 6-7)

Selain tidak jelas, fikrahnya juga mengalami pencemaran atau peracunan akibat adanya fikrah-fikrah asing dari penjajah kafir, misalnya fikrah sekularisme, nasionalisme, patriotisme, dan sosialisme. Fikrahfikrah asing ini, jelas akan membuat individu muslim kehilangan kepribadian Islamnya, sehingga kepribadiannya akan kacau balau. Secara emosional, dia mempunyai emosi sebagai muslim, tapi fikrahnya adalah fikrah penjajah yang kafir. Individu muslim yang berkepribadian kacau ini, perlu diselaraskan dahulu pola pikir dan pola jiwanya. Individu yang demikian, jika membentuk kelompok atau partai politik, mustahil akan menghasilkan kebangkitan yang sahih (hal. 13-15).

Thariqah yang tidak jelas dapat dilihat pada berbagai organisasi sosial (jamiyyah khairiyah) dan organisasi akhlaq (jamiyyah khuluqiyah). Organisasi sosial yang aktivitasnya membangun sekolah, rumah sakit, dan sebagainya, dikhawatirkan menjadi kanalisasi (penyaluran) dari semangat kebangkitan Islam yang menggelora di dada umat Seharusnya semangat itu terwujud dalam sebuah kelompok berbentuk partai politik (al-takattul al-hizbi) yang akan membawa kebangkitan. Dengan adanya organisasi sosial, semangat itu akan tersalurkan hanya untuk memenuhi kepentingan umat secara parsial, bukan untuk melahirkan sebuah kebangkitan umat yang benar (hal. 17-18).

Organisasi akhlak juga menunjukkan fenomena ketidakjelasan thariqah. Mereka mengedepankan akhlak untuk memperbaiki masyarakat dengan jalan memperbaiki akhlaq individu masyarakat. Ini salah. Sebab jalan memperbaiki individu tidak sama dengan jalan memperbaiki masyarakat. Memang memperbaiki individu jalannya adalah dengan memperbaiki akhlaknya. Namun memperbaiki masyakat bukanlah dengan memperbaiki akhlak individunya, melainkan dengan memperbaiki pemikiran, perasaan, dan peraturan yang ada dalam masyarakat (hal. 19-20)

Kegagalan gerakan-gerakan ini juga dikarenakan individu-individunya bukanlah individu yang matang dan sadar. Sebab, model rekrutment atau pengikatan orang-orang ke dalam gerakan-gerakan tersebut tidak didasarkan pada kelayakan individu tersebut, tapi didasarkan pada ketokohanannya di masyarakat, atau karena kemampuannya mendatangkan kepentingan sesaat bagi kelompok, dan sebagainya (hal.2021}

Ikatan yang ada dalam gerakan-gerakan itu juga tidak benar, yakni hanya sebatas tata aturan formal organisasi di atas kertas. Seharusnya ikatan yang benar adalah Aqidah Islam dan tsaqafah gerakan (tsaqafah Islam) yang lahir dari aqidah itu. Ikatan ini, sekaligus juga menjadi ukuran kematangan seseorang untuk dapat direkrut ke dalam sebuah kelompok Islam (hal. 8)

Cara Membentuk Kelompok Islam Ideal

Ini adalah inti kitab al-Takattul, yakni bagaimana membentuk sebuah kelompok Islam yang sahih (hal. 22-30). Kelompok Islam yang sahih ini, adalah sebuah partai politik yang berlandaskan ideologi Islam. Partai politik Islam ini merupakan sebuah kelompok yang individu-individunya mengimani Islam sebagai sebuah ideologi serta berusaha menerapkan ideologi ini ke tengah masyarakat untuk mengatur berbagai interaksi di tengah masyarakat.

Proses pembentukan partai politik Islam itu mengikuti 4 (empat) tahapan berikut : sel pertama halaqah ula kutlah hizbiyah hizb mabda'i.

Yang dimaksud sel awal (al-khaliyah al-ula), adalah orang pertama, yang bersih serta telah memahami fikrah dan thariqah Islam dengan sempurna. Kemudian ia menularkan ideologi ini kepada orang-orang lain sehingga terbentuk halaqah ula.

Halaqah ula adalah kumpulan beberapa orang di bawah kepemimpinan sel awal tadi secara fikrah dan thariqah. Halaqah ula ini disebut juga dengan istilah qiyadah al-hizb (pemimpin partai) atau al-halaqah al-hizbiyah. Halaqah ula ini, akan berkembang menjadi kutlah hizbiyah (kelompok cikal bakal partai).

Kutlah hizbiyah adalah halaqah ula ditambah dengan banyak individu yang sepakat dengan fikrah dan thariqah yang ada. Kutlah hizbiyah dicirikan dengan adanya ikatan (rabithah) yang menjadi pengikat di antara banyak anggota baru tersebut. Ikatan ini adalah, Aqidah Islam dan Tsaqafah Islam partai yang lahir dari Aqidah Islam itu (hal. 22). Kutlah hizbiyah selanjutnya akan menjadi sebuah hizb mabda'i (partai politik ideologis) yang sempurna (hal. 23)

Hizb mabda'i, adalah kutlah hizbiyah yang sudah melakukan amal kepartaian (hal. 23). Jadi ciri yang menunjukkan berubahnya kutlah hizbiyah menjadi hizb mabda'i, adalah adanya amal kepartaian, yaitu melakukan pembinaan intensif untuk kalangan internal sehingga individu partai semakin banyak, dan

pembinaan umum untuk masyarakat sehingga terwujud kesadaran umum di tengah seluruh masyarakat (hal. 25).

Tahapan dan Kerangka Kerja Partai

Tahapan dan kerangka kerja partai politik ideologis (hizb mabda'i) tersebut, dijelaskan dalam at-Takattul pada halaman 30-53, yang terdiri dari 18 (delapan belas) poin.

Sejumlah 18 poin tersebut, dapat dipilah lagi lagi menjadi 4 (empat) kategori penjelasan, yaitu : (1) poin nomor 1 - 8, menjelaskan tentang bagaimana pembentukan dan kemunculan sebuah partai yang benar; (2) poin nomor 9 - 12, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah yang pertama (tahap pembinaan); (3) poin nomor 13 - 17, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah yang kedua (tahap berinteraksi dengan masyarakat); (4) poin nomor 18, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah yang ketiga (tahap ahan kekuasaan ).

Tahap Pembinaan. Pembinaan dalam partai berbeda dengan pendidikan di sekolah. Setiap anggota partai harus melalui proses pembinaan ini. Sebab, dengan proses ini seseorang akan memahami fikrah dan thariqah partai. Setiap orang yang hendak bergabung dengan partai harus menempuh fase ini, tanpa memandang gelar dan kedudukan di tengah-tengah masyarakat. Keberhasilan pada fase ini merupakan jaminan bagi keberhasilan pada fase berikutnya

Tahap Berinteraksi Dengan Masyarakat

Pada fase ini partai menceburkan diri di tengah-tengah masyarakat untuk memahamkan fikrah dan thariqah partai kepada umat dan berjuang bersama-sama umat demi melanjutkan kehidupan Islam.

Pada fase ini partai akan menghadapi hambatan-hambatan dan bahaya-bahaya. Hambatan-hambatan yang ada : (1) pertentangan ideologi partai (Islam) dengan ideologi di masyarakat; (2) perbedaan

tsaqafah partai (Islam) dengan tsaqafah di masyarakat; (3) adanya orang-orang pragmatis di masyarakat, baik yang pasrah dengan realitas, maupun orang zalim yang enggan hidup dalam kebenaran; (4) keterikatan manusia dengan kepentingan-kepentingannya; (5) sulitnya mengorbankan kehidupan dunia di jalan Islam dan dakwah Islam, (6) perbedaan sarana-sarana fisik di masyarakat, yang dapat mendorong partai membeda-bedakan pembinaan tsaqafah dan arahan ideologi di antara umat.

Sedangkan bahaya-bahaya ada dua, yaitu : (1) bahaya ideologis, yakni bahaya yang dapat mengancam fikrah atau thariqah partai; (2) Bahaya kelas, yaitu bahaya yang mengakibatkan anggota partai merasa menjadi kelas yang berbeda dengan masyarakat.

Tahap Penyerahan Kekuasaan

Inilah fase terakhir yang akan ditempuh oleh partai, yakni, umat menyerahkan kekuasaan kepada partai demi menerapkan Islam secara menyeluruh dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia dalam sebuah Daulah Islamiyah.

Penutup

Kebangkitan umat mutlak memerlukan sebuah partai politik Islam sejati yang benar-benar mampu mengantarkan umat meraih tujuan-tujuannya. Adanya partai politik Islam yang sahih merupakan jaminan bagi tegaknya Daulah Islamiyah, serta jaminan bagi penjagaan eksistensi Daulah Islamiyah.

Walhasil, tegaknya dan terjaganya Daulah Islamiyah bergantung pada partai politik Islam sejati itu. Maka memahami bagaimana membentuk partai politik Islam yang sahih merupakan keharusan bagi kaum muslimin.

Partai Islam Ideologis Vs Pragmatis

Istilah ideologis dan pragmatis sering dibenturkan, dalam benak kita muncul paradigma bahwa Partai Islam Ideologis digambarkan sebagai partai yang konsisten dan kadang-kadang terkesan kaku serta tidak pernah mau bergeser dengan metoda perjuangannya. Sedangkan Partai Islam Pragmatis bersikap moderat, realistis dan selalu memanfaatkan setiap peluang yang yang ada untuk kepentingan partainya. Sehingga, Partai Islam Ideologis akan akan tenggelam dalam pemberitaan dan jarang dipublikasikan, sedangkan Partai Islam Pragmatis akan selalu tampil didepan dalam setiap peristiwa-peristiwa yang disorot media, sehingga dianggap partai yang sangat peduli dengan masalah-masalah umat.

Pragmatis sering juga diberikan istilah realistis atau dalam bahasa Arab disebut Waqiiyah dan penganutnya disebut Waqiyin, adalah orang-orang yang sangat realistis dalam melihat fakta, menerimanya dengan pasrah, seolah-olah realitas tidak bisa ditolak.

Waqiyin menggunakan realitas sebagai sumber pemikirannya dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. Padahal seharusnya Realitas itu dipakai sebagai obyek berfikir bukan sebagai sumber berfikir, sangat berbahaya jika realitas dijadikan acuan berfikir karena akan mengakibatkan hukum syara disesuaikan dengan realitas tersebut atau mencocok-cocokkan hukum syara terhadap realitas yang ada. Padahal hukum syara tidak akan berubah akibat perubahan waktu dan tempat.

Laayunkaru tagayyurul ahkami bitagayyurizzamaani; Tidak bisa adanya perubahan hukum karena adanya perubahan zaman.

Untuk lebih mudah memahami Pragmatis (waqiiyah) ini, dapat diberikan contoh sebagai berikut; Pemerintah Daerah (Pemda) memberikan uang suap kepada anggota DPR, anggota DPR dari Partai Islam yang amanah menolak uang suap tersebut dan bingung mau diapakan uang suap tersebut. Akhirnya diputuskan, karena uang tersebut berasal dari pajak rakyat maka seharusnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk bantuan. Padahal menurut syara, karena pemilik uang adalah Pemda maka harus dikembalikan kepada Pemda. Waqiyin berargumen, bahwa jika dikembalikan kepada Pemda sudah tidak ada pos-nya dan dikhawatirkan dikorup oleh pegawai Pemda.

Inilah yang disebut realitas menjadi obyek berfikir bukan sebagai sumber berfikir, artinya ada realitas kemudian dicarikan dalil syara untuk menghukuminya. Seharusnya, ada realitas (al-waqi), dipahami realitas itu (tahqiq al-manath), kemudian digali dalil syara (istinbath) untuk menghukuminya.

Ideologi (mabda) adalah pemikiran mendasar (aqidah) yang melahirkan peraturan. Jika sebuah pemikiran tanpa peraturan maka ia bukanlah ideologi tetapi disebut filsafat. Seperti kita ketahui, saat ini terdapat 3 ideologi besar didunia; Islam, Kapitalisme dan Sosialisme. Mungkin ada ideologi-ideologi lain, tetapi kemungkinan besar akan bermuara kepada 3 ideologi besar tersebut, semisal komunisme merupakan bagian dari sosialisme atau demokrasi merupakan bagian dari kapitalisme.

Dari uraian singkat diatas, mudah-mudahan dapat dipahami beda antara ideologis dan pragmatis. Mari kita analisa perbedaan antara Partai Islam Ideologis dan Pragmatis. Meskipun banyak perbedaannya, kita batasi dalam 3 hal saja yakni: Mabda, fikrah dan thariqah; keanggotaan partai dan aktifitas sosial. Mabda, fikrah dan thariqah

Sebuah partai dapat dipastikan mempunyai asas/ideologi (mabda) yang akan menaungi pemikiranpemikiran (fikrah) dan metode penerapan (thariqah).

Partai Islam Pragmatis yang dengan enteng bisa saja menyatakan: Ya kami Partai Islam dan berideologikan (asas) Islam!. Tetapi saat dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya: Bagaimana fikrah dan thariqahnya?, mulailah timbul permasalahan. Bagaimana pemikiran-pemikiran Islam dalam memecahkan masalah-masalah umat, dalam hal ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan lain-lain? Apa institusi yang menaungi penerapan syariat Islam itu? Mereka akan kesulitan menjawabnya, karena asasnya boleh saja Islam tetapi fikrah dan thariqahnya masih samar (syibh ghamidah) atau kabur (ghamidah), atau bisa jadi masih tercampur dengan ideologi asing yang bertentangan dengan Islam.

Partai yang mengambil fikrah Islam tetapi mengabaikan thariqahnya, maka fikrah Islam yang diadopsinya hanya akan menjadi filsafat khayali belaka.(2, hal 46)

Partai Islam Pragmatis juga terkesan sangat kompromistis dengan sistem yang ada, ia bisa saja melakukan tawar menawar (kompromi) dengan penguasa atau berkoalisi dengan partai-partai yang berbeda haluan perjuangan dengan mereka. Hal ini dilakukan dengan dalih, memanfaatkan semua peluang dawah yang ada.(2, hal 17)

Mustafa Masyhur (mantan Mursyid Aam Ikhwanul Musimin) mengkritiknya:

Orang-orang tersebut kadang-kadang membenarkan sikap ambisi pribadinya, dengan dalih kemaslahatan dawah atau umat; bukan untuk kepentingan pribadi. Misalnya, keikutsertaan dalam suatu pemerintahan thaghut (pemerintah yang tidak menjalankan hukum Islam), semata-mata untuk kepentingan Islam. Ia menganggap perbuatannya itu sebagai taktik dawah, bahkan ia menuduh orang lain terlalu picik dalam menilai kemaslahatan dawah. Seandainya disitu ada nilai kemaslahatan, apakah hanya dirinya saja yang berhak menilai?(5, hal 23)

Sebuah Partai Islam Ideologis, berasaskan Islam (mabda) yang menggabungkan antara fikrah dan thariqah secara terpadu. Ideologinya Islam. Sebab, Islam pada hakikatnya adalah sebuah aqidah yang melahirkan peraturan untuk mengatur seluruh urusan negara dan umat manusia, serta merupakan pemecahan seluruh masalah kehidupan. (1, hal 5)

Sehingga sebuah Partai Islam Ideologis, mempunyai fikrah (pemikiran-pemikiran pemecahan masalah kehidupan) untuk menerapkan hukum Allah (syariat Islam) dalam seluruh sisi kehidupan dan tolok ukurnya (masdar al-fikr) halal dan haram. Penerapan syariat ini, hanya dapat ditegakkan dalam sebuah institusi Khilafah Islamiyah/Daulah Islamiyah, inilah thariqah, yakni bagaimana mengemban risalah dawah.

Karena, mustahil menerapkan hukum hudud dalam negara demokrasi yang berlandaskan HAM. Mengharuskan menutup aurat (jilbab) dalam negara demokrasi yang memberikan kebebasan dalam berperilaku (freedom of personal). Mengharamkan usaha judi, khamr, dan riba dalam negara demokrasi yang memberikan kebebasan berkepemilikan (freedom of ownership). Menghukum mati para murtadin (keluar dari Islam) dalam negara demokrasi yang memberikan kebebasan beragama (freedom of religion), dan lain sebagainya. Keanggotaan partai

Partai Islam Pragmatis akan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih anggota dan massa sebanyak mungkin, agar dapat memenangkan Pemilu dan menguasai kursi DPR lebih banyak. Segala cara dilakukan; dengan membagikan brosur, pamflet, membuka pendaftaran anggota, membuat kartu anggota, merekrut tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh, dan lain-lain. Dan setelah itu diharapkan mereka menjadi pemilih setia partai.

Partai Islam Pragmatis biasanya mereka mencari orang-orang yang memiliki kedudukan, terkenal dimasyarakat, gelar akademis yang banyak, terpandang, kaya dan status sosial tinggi lainnya. .(1, hal 25)

Sehingga anggotanya sangat beragam, bisa jadi mempunyai haluan yang sangat berbeda dengan ideologi Islam (sekuler) atau bahkan orang kafir sekalipun akan diterima jika ada nilai maslahatnya. Sebaliknya, anggota partai ini mengharapkan peningkatan status sosial dengan bergabung partai tersebut. Jika harapannya tidak terpenuhi, maka ia akan loncat ke partai lain atau membuat partai sendiri.

Aktifitas seperti ini dikrtitik oleh Almarhum Mustafa Masyhur (mantan Mursyid Aam IM):

Maksud mengikuti partai politik disini: mendudukkan politik sebagai panglima dalam cara kerja. Sehingga, politik menggeser yang lainnya; seperti pembinaan penyebaran dawah dan jihad; menitikberatkan pada faktor kuantitas (bukan kualitas). Sebagaimana biasa dilaksanakan partai politik. Tujuannya mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya didalam pemilihan umum, demonstrasi dan semacamnya. Hal ini merupakan penyimpangan yang membahayakan asas bangunan. Sasaran kita bukan sekadar mencari orang yang mau memberikan suaranya didalam pemilihan umum. Tetapi, pada dasarnya kita menginginkan orang yang siap mengorbankan jiwa dan hartanya dijalan Allah. (5, hal 46)

Hal ini dibuktikan oleh IM dengan mengirim mujahidin Ikhwan dalam perang Arab Israel, mujahidin Ikhwan ini sangat ditakuti oleh Yahudi laknatullah, karena mujahidin Ikhwan merindukan kematiaan disaat musuh Allah menginginkan kehidupan dan kenikmatan duniawi. Sesuai semboyan mereka: Hidup mulia atau mati syahid. Subhanallah.

Sehingga, seorang anggota partai bukan hanya sekedar mengisi formulir, memperoleh kartu anggota, baju seragam, topi seragam dan selalu datang setiap acara-acara partai dengan menggunakan atribut partai. Sebuah Partai Islam Ideologis akan membina aqidah kader partai, kader ini menjadi anggota disaat telah menghujam ide-ide Islam kedalam dirinya, mengalir dalam darahnya, sehingga ia seperti Islam yang berjalan. Ia siap berkorban waktu, harta, tenaga dan fikirannya demi tegaknya agama Allah dimuka bumi. (4, hal 33)

Ikatan yang paling kuat dari keanggotaan partai, adalah ikatan aqidah. Jika ia terikat secara aqidah, maka ia tidak mempedulikan siapa tokoh yang bernaung didalam partai, terkenal atau tidak, bergelar atau tidak. Ia tidak menginginkan keuntungan materi dari partainya, menginginkan jabatan dalam partai, parlemen atau pemerintahan. Ia juga tidak mempedulikan ancaman penguasa terhadap partai, ia tidak akan surut selangkah terhadap ancaman dan penganiayaan.

Ikatan aqidah ini akan mengikat dan menyatukan seluruh anggota partai. Tujuan mereka sama, langkah dan geraknya sama dan rencana kerja mereka ditengah masyarakat juga sama. (2, hal 20) Partai Islam Ideologis, bagaikan serombongan orang yang ditanyakan tujuannya, hampir serempak orang-orang itu menjawab dengan kompak: Kami mau ke Bandung untuk menghadiri Walimah urusy sahabat kami, kami berangkat menggunakan bis dan melewati Puncak agar kami bisa juga menikmati keindahan alamnya. Bukannya menjawab dengan kebingungan: Gppp. kami mau ke Bandung, tetapi mau ngapain ya..?, naik apa ya? lewat mana ya..?, begitulah analogi Partai Islam Pragmatis.

Ikatan aqidah jugalah yang menyatukan jamaah Rasulullah, dimana kafir Quraisy memberikan gelar kepada kelompok ini Hizbul Muhammad (Partai Muhammad), Rasulullah tidak membedakan Umar yang Arab, Salman yang Persi, Bilal yang Habasyah (Negro) dan Shuhail yang Rumawi. Tidak ada bedanya antara kulit putih, coklat, merah atau hitam. Semua sama dan bersatu dalam ikatan aqidah!. Bukan berdasarkan nasionalis/kebangsaan, suku (ashabiyah), patriotis atau maslahat!. Aktifitas sosial

Partai Islam Pragmatis, selalu tampil didepan dalam menghadapi masalah umat, mendirikan posko, yayasan, sehingga partai terkesan reaktif, yakni merespon apa saja yang terjadi dimasyarakat, karena ia tidak mampu mendeskripsikan dengan jelas metode perjuangan yang harus ditempuh.(2, hal 16)

Sebuah partai bukanlah sebuah toko kelontong yang menjual segala macam barang; ada kosmetik, buku, sandal, obat, kebutuhan kamar mandi, alat memancing, pakaian dalam, bahkan alat untuk berjudi. Ini istilahnya LOGADA (Loe minta gua ada). Partai bukan juga seperti negara yang mengurusi banyak hal, pendidikan, yayasan sosial, baitul mal, kesehatan, olah raga, kepanduan, dan lain-lain.

Aktifitas sosial ini boleh saja dilakukan oleh individu partai, bukan oleh partai sebagai kutlah (kelompok), tetapi (aktifitas sosial ini) tidak akan memberikan kontribusi apa-apa terhadap kebangkitan Islam (annahdah). Malahan, makin menjauhkan umat dari kebangkitan Islam, karena melenakan mereka dari persoalan yang sebenarnya, dari akar masalahnya (root cause)!

Misalnya begini, pada saat ada pelacuran disekitar pemukiman masyarakat, partai mengajak masyarakat berdemo agar Pemda membuat lokalisasi khusus bagi penjaja kenikmatan sesaat ini. Memang partai terlihat peduli dengan kepentingan umat, tetapi sebetulnya memperparah keterpurukan umat dan menjauhkan pemahaman umat dari Islam. Karena seharusnya mereka diberikan pemahaman bahwa Islam mengharamkan zina, mau didepan hidungnya (sekitar pemukiman) atau dibelakang kepalanya (lokalisasi). Sehingga aturan yang berlaku (sistem) yang harus diubah, bukan tambal sulam, menyelesaikan masalah tetapi menimbulkan masalah baru.

Begitu juga bantuan-bantuan sosial terhadap masyarakat miskin, mereka ini mengalami kemiskinan secara struktural. Sehingga saat diberikan bantuan, memang akan mengatasi masalah mereka untuk sesaat tetapi masalahnya tetap akan berulang kembali. Akar masalahnya kembali kepada sistem, yakni ekonomi yang berlandaskan riba, pengelolaan kekayaan umum (hasil bumi), korupsi yang merajalela, penyediaan lapangan kerja, pengaturan pertanahan, dan lain-lain.

Aktifitas ini memang ada maslahatnya, tetapi mudharatnya lebih besar. Ini bagaikan sebuah gunung es, permasalahan yang terlihat adalah puncak gunungnya saja sedangkan masalah yang sebenarnya sangat besar. Akibatnya, umat akan lupa penderitaan yang dialaminya, kedzaliman yang diterimanya dan kelalaian penguasa dalam mengurusinya. (3, hal 105)

Partai Islam Pragmatis akan disibukkan mengurus aktifitas sosial, dengan membawa-bawa spanduk, bendera-bendera, kantong-kantong bantuan berlabelkan partai atau panitia-panitia penyalur yang berkaoskan simbol partai. Jika begini, partai menjadi tidak fokus dengan perjuangannya, energi (fikiran, tenaga dan dana) partai terkuras, mengaburkan pemahaman umat dan akan meredam perasaan umat untuk bangkit (an-nahdah).

Realitas yang rusak ini, jika tidak ditutup-tutupi dengan berbagai aktifitas itu, akan memberikan kesadaran dan perasaan umat untuk bangkit dari keterpurukan dan akan berubah menjadi sebuah pemikiran. Berikutnya, pemikiran umat akan memilih alternatif-alternatif sistem yang ada, maka umat akan sadar, mereka telah melihat betapa jahatnya ideologi sosialis/komunis, mereka telah mengalami bobroknya ideologi kapitalis/sekuler yang menyengsarakan mereka, maka ideologi Islam satu-satunya pilihan mereka dan telah terbukti berhasil diterapkan ratusan abad.

Partai Islam Ideologis mempunyai ideologi (mabda), mempunyai fikrah dan thariqah untuk merealisasikan tujuannya itu. Ia harus konsisten menjalankan fikrah dan thariqahnya, tidak akan menyimpang sejengkalpun dari perjuangannya, apapun godaannya dan apapun penganiaayaan yang diterimanya. Pilihannya ada dua, berjuang hingga tujuan tercapai atau binasa karenanya. Ia juga menetapkan beberapa uslub (cara) dan wasilah (sarana) dalam gerak langkah, uslub dan wasilah ini dapat saja berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, tetapi fikrah dan thariqah tidak boleh diubah.

Tanggung jawab dan wewenang pemeliharaan urusan umat ini sepenuhnya ada pada negara (riayatusy-syuun), sedangkan aktifitas sosial kemasyarakatan dilakukan oleh individu-individu masyarakat yang mampu, dalam istilah fiqih ini disebut Filul khairat.(3, hal 110)

Imam (Khalifah) adalah sebagai penjaga dan pengawas. Dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya (HR Bukhari, Muslim, Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Secara pribadi anggota Partai Islam Ideologis ikut membantu masalah sosial umat, karena mereka tidak boleh ekslusif ditengah umat. Tetapi karena bersifat pribadi dan tidak membawa atribut partai, sehingga tidak terlihat dan tidak dipublikasikan. Sehingga, Partai Islam Ideologis ini dianggap partai yang tidak peduli dengan umat. Tetapi, bukankah keikhlasan hanya mengharapkan ridha Allah dan tidak mengharapkan pujian manusia.

Wallahualam, Maraji 1. Pembentukan partai politik Islam, Taqiyuddin An-Nabhani 2. Politik partai Islam meretas jalan baru perjuangan partai politik Islam, Muhammad Hawari 3. Soal jawab seputar gerakan Islam, Abdurrahman Muhammad Khalid 4. Negara Islam, Taqiyuddin An-Nabhani 5. Prinsip dan penyimpangan gerakan Islam, Mustafa Masyhur 6. Peraturan hidup dalam Islam, Taqiyuddin An-Nabhani Oleh: Azhari

hayatulislam.net