P. 1
Penatalaksanaan TBC

Penatalaksanaan TBC

|Views: 28|Likes:
Dipublikasikan oleh Anna Andany Lestari
tatalaksanaan TBC
tatalaksanaan TBC

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Anna Andany Lestari on Feb 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

Anna Andany Lestari 1010211056

       

Tuberkulosis dapat menyerang beberapa organ tubuh, di antaranya paru-paru, ginjal, tulang, dan usus. Pembahasan di sini diarahkan terutama terhadap pengobatan tuberkulosis paru. Tujuan pengobatan tuberkulosis ialah memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh. Idealnya pengobatan untuk menghasilkan pemeriksaan sputum negatif baik pada uji hapusan dahak maupun biakan kuman, dan hasil ini tetap negatif untuk selama-lamanya. pemilihan obat, resistensi, paduan terapi, paduan terapi tuberkulosis pada penderita defisiensi imun, efek samping, pengobatan pencegahan, terapi kortikosteroid pada tuberkulosis, dan penilaian hasil pengobatan.
2

 

PEMILIHAN OBAT. Ada dua prinsip pengobatan tuberkulosis, yaitu paling sedikit menggunakan dua obat, dan pengobatan harus berlangsung setidaknya 3-6 bulan setelah sputum negatif untuk tujuan sterilisasi lesi dan mencegah kambuh. Hanya basil yang sedang membelah yang dapat dibunuh oleh antituberkulosis. Mycobacterium tuberculosis bersifat aerob obligat, karenanya frekuensi pembelahan dan aktivitas metabolismenya bervariasi tergantung kadar oksigen di tempat hidupnya. Selain itu, basil ini juga dipengaruhi oleh pH hngkungan sekitarnya.

3

Ada hipotesis yang menyatakan bahwa kuman tuberkulosis yang berkembang dalam lesi dapat dibedakan atas 3 kelompok berdasarkan tempat basil berada. Pertama, basil yang berada dalam kavitas (lesi rongga) dan aktif membelah karena tekanan oksigen dalam kavitas ini tinggi dan suasananya netral atau agak basa. Kedua, basil yang berada dalam lesi berkiju tertutup dan membelah secara lambat atau intermiten (berselang) karena tekanan oksigen di sini rendah dan suasananya netral. Kelompok ketiga adalah basil yang berada dalam sel makrofag yang suasananya asam. Basil di sini relatif lambat membelah. Kemudian ada bukti bahwa efektivitas antituberkulosis berbeda tergantung dari kecepatan pembelahan populasi basil dan pH lingkungannya. Inilah yang mendasari pengobatan tuberkulosis dalam dua puluh tahun terakhir ini
4

dan pirazinamid pada dua bulan pertama selama tidak ada resistensi terhadap satu atau lebih antituberkulosis primer ini. 5 . dan basil dalam jaringan yang berkiju. intrasel (dalam makrofag). tetapi. rifampisin.  Pengobatan tuberkulosis paru-paru hampir selalu menggunakan tiga obat INH. rifampisin dan pirazinamid lebih aktif pada basil dalam sel (makrofag) dan dalam jaringan berkiju daripada isoniazid (lihat tabel). Isoniazid dan rifampisin adalah dua obat yang sangat kuat dan bersifat bakterisid untuk basil ekstrasel.

yaitu: Mual dan/atau muntah Sakit kuning (kulit dan mata berwarna kuning. kencing berwarna gelap) Demam yang tidak biasanya atau rasa lelah Kesemutan pada tangan atau kaki / sakit pada persendian Gatal-gatal pada kulit. lebam Penglihatan menjadi kabur atau buta warna merah/hijau .       Kebanyakan Obat TBC dapat menimbulkan efek samping.

keringat dan airmata menjadi dadu-jingga. Rifampicin (salah satu obat TBC) menyebabkan perubahan warna air kencing. Ini adalah reaksi yang normal dan tidak menimbulkan masalah kecuali jika Anda mengenakan lensa kontak. .

memastikan bahwa tidak ada kuman dalam dahak Anda. . Memeriksa berat badan dan kesehatan secara umum.    Pada saat Anda diobati untuk TBC. dan rontgen dada Anda mengalami kemajuan. Anda perlu melakukan kunjungan bulanan ke Klnik TBC. Tujuan dari kunjungan ini adalah: Untuk memastikan bahwa pengobatan berjalan dengan baik dan Anda minum tablet-tablet dengan benar. Untuk memastikan bahwa Anda tidak mengalami efek sampingan dari tablet-tablet tersebut.

   Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : Obat primer : RHZE (Rifampisin – Isoniazid – Pirazinamid – Etambutol) dan S (Streptomisin) Obat sekunder : Exionamid. Kemasan : kombipak dan FDC . Kapreomisin dan Kanamisin. Sikloserin. Paraaminosalisilat. Amikasin.

.

dan peroxynitrite) dan radikal bebas organik  menghambat pembentukan mycolic acid pada dinding sel bakteri  kerusakan DNA  kematian basil (bakterisid) . hydrogenperoxide. Mekanisme kerja :isoniazid diaktivasi oleh M.tuberculosis catalase-peroxidase enzyme KatG  hasilkan unsur radikal bebas dari oksigen (superoxide.

suprazid® Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain Kontra-indikasi : penyakit hati yang aktif Bentuk sediaan : tablet Dosis dan aturan pakai : dewasa : 5 mg/kg per hari (dosis yang biasanya 300 mg/hari). kapedoxin®. pulmolin®. 10 mg/kg/hari 3 kali seminggu atau 15 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 900 mg) .Nama generik : isoniazid Nama dagang : inoxin®.

dengan dosis tinggi. elagra. neuritis perifer. reaksi hipersensitif seperti demam. anemia aplastik. 20-30 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 900 mg) Efek samping : mual. agranulositosis. anemia hemolitik.hiperglikemia dan ginekomastia Resiko khusus : kelainan fungsi hati . sindrom Sistemik Lupus Eritema. neuritis optic. hiperrefleksia.Anak : 10-15 mg/kg/hari dalam 12 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari). episode psikosis. purpura. vertigo. eritema multiforme. konstipasi. kejang. hepatitis (terutama pada usia lebih dari 35 tahun). muntah.

 Mekanisme kerja : Dihidrolisis menjadi asam pirazinoat yang merupakan metabolit utama yang menghambat bakteri di monosit oleh enzim pirazinamidase (bakterisid) .

Nama generik : pirazinamid Nama dagang : corsazinamid®. sanazet®. prazina®.5 g) 3 kali seminggu. . TB Zet® Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain Kontra-indikasi : porfiria gangguan fungsi hati berat. 50 mg/kg dua kali seminggu. hipersensitifitas terhadap pirazinamid Bentuk sediaan : tablet Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15-30 mg/kg/hari. 2530 mg/kg ( maksimal 2.

splenomegali. 50 mg/kg/dosis 2 kali seminggu (maksial 4 g/dosis) Efek samping : hepatotoksisitas termasuk demam. anemia sideroblastik. mual.anak : 15-30 mg/kg/hari (maksimal 2 g/hari). muntah. jaundice. kerusakan hati. anoreksia. urtikaria. Resiko khusus : kelainan hati kronik . hepatomegali. artralgia.

‡ Bersifat bakterisid .  Mekanisme kerja : Hambat transkripsi gen mikobakteri dgn memblok polimerase RNA  cegah bakterisintesis mRNA dan protein  kematian sel.

Nama generik : rifampisin Nama dagang : lanarif®. rifacin® Indikasi : bruselosis. rimactane®. rifabiotic®. rifamtibi®. Tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain Kontra-indikasi : jaundice (sakit kuning) Bentuk sediaan : kapsul. kaptab . legionelosis. infeksi berat stafilokokus kombinasi dengan obat lain. medirif®.

. mual. muntah. sakit kepala.Dosis dan aturan pakai : 10 mg/kg (8-12 mg/kg) per hari. maksimal 600 mg/hari 2 atau 3 kali seminggu Efek samping : gangguan saluran cerna seperti anoeksia.

 Bersifat bakteriostatik  .Mekanisme kerja : menghambat enzimarabinosyltransferase yang dihasilkan oleh embB gene yang merubah arabinose menjadi arabinogalactan.

gangguan penglihatan Bentuk sediaan : tablet .Nama generik : etambutol Nama dagang : bacbutol®. parabutol® Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain Kontra-indikasi : anak di bawah 6 tahun. neurotis optic. corsabutol®.

Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15-25 mg/kg/hari. 50 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 4 g/dosis) Efek samping : neuritis optic. 25-30 mg/kg 3 kali seminggu anak (di atas 6 tahun) : 15-20 mg/kg/hari (maksimal 1 g/hari). 50 mg/kg 2 kali seminggu. buta warna merah/hijau. neuritis perifer Resiko khusus : kelainan ginjal .

   Mencegah sintesis protein  mengganggu permeabilitas membran hingga lisis Konsentrasi rendah hanya menghambat pertumbuhan Bersifat bakteriostatik dan bakterisid .

Nama generik : streptomisin Nama dagang : streptomisin sulfat meiji® Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain Kontra-indikasi : hipersensitif terhadap aminoglikosida Bentuk sediaan : serbuk injeksi 1g/vial. 5 g/vial .

.

.

.

 Kemungkinan obat yang dipakai dalam kasus adalah Rimfapisin .

 Dpt menghhambat pertumbuhan beberapa jenis virus. tuberculosis.  Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram-positif dan gram-negatif. tuberkulosis. 29 . Obat ini merupakan ion zwitter.  In vitro. rifampisin meningkatkan aktivitas streptomisin dan isoniazid thd M. dan kolistin. Thd kuman gram-negatif kerjanya lbh lemah dp tetrasiklin.   Rifampisin adl derivat semisintetik rifamisin B yaitu salah satu anggota ketompok antibiotik makrosiklik yg disbt rifamisin.2 g/ml dpt menghambat pertumbuhan M.  In vivo. larut dlm pelarut organik dan air yg pH nya asam. AKTIVITAS ANTIBAKTERI. tetapi tdk bersifat aditif thd etambutol.005-0. Kelompok ini dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei. kloramfenikol. rifampisin dalam kadar 0. kanamisin.

30 .  Kerjanya menghambat DNA-dependent RNA polymerase dr mikobakteria dan mikroorganisme lain dg menekan mula terbtknya (bukan pemanjangan) rantai dlm sintesis RNA.Mekanisme kerja  Rifampisin terutama aktif thd sel yg sedang bertumbuh.  Inti RNA Polymerase dr berbagai sel eukariotik tdk mengikat rifampisin dan sintesis RNAnya tdk dipengaruhi.  Rifampisin dpt menghambat sintesis RNA mitokondria mamalia tetapi diperlukan kadar yg lbh tinggi dp kdr utk penghambatan pd kuman.

obat ini cepat diekskresi melalui empedu dan kmd mengalami sirkulasi enterohepatik.  Rifampisin didistribusi ke seluruh tubuh. Asam para-amino salisilat dpt memperlambat absorpsi rifampisin. maka pemberian kedua sediaan harus berjarak waktu 8-12 jam. yg mempunyai aktivitas antibakteri penuh.  Rifampisin menyebabkan induksi metabolisme. shg dlm waktu 6 jam hampir semua obat yg berada dlm empedu berbtk deasetil rifampisin. Bila rifampisin harus digunakan bersama asam para amino salisilat.  Setelah diserap dari saluran cerna. shg kadar terapi rifampisin dlm plasma tdk tercapai.  Obat ini cepat mengalami deasetilasi. shg walaupun bioavailabilitasnya tinggi. dosis tunggal sebesar 600 mg menghasilkan kdr sekitar 7 g/ml. eliminasinya meningkat pd pemberian berulang.FARMAKOKINETIK. 31 .  Pemberian rifampisin per oral menghasilkan kdr puncak dlm plasma setelah 2-4 jam.

Rifampisin mungkin juga menganggu metabolisme vitamin D sehingga dapat menimbulkan kelainan tulang berupa osteomalasia. Rifampisin merupakan pemacu metabolisme obat yang cukup kuat. STATUS DALAM PENGOBATAN. dan kontrasepsi oral akan berkurang efektivitasnya bila diberikan bersama rifampisin. 32 .  Rifampisin merupakan obat yang sangat efektif untuk pengobatan tuberkulosis dan sering digunakan bersama isoniazid untuk terapi tuberkulosis jangka pendek. sehingga berbagai obat hipoglikemik oral.  Mungkin dapat terjadi kehamilan pada pemberian bersama kontrasepsi oral.  Pemberian PAS bersama rifampisin akan menghambat absorpsi rifampisin sehingga kadarnya dalam darah tidak cukup. kortikosteroid.INTERAKSI OBAT.

Anna Andany Lestari 1010211056 .

Inhalasi Mycobacterium tuberculosis Fagositosis oleh Kuman mati makrofag alveolus paru Kuman hidup berkembang biak Pembentukan fokus primer Penyebaran limfogen Penyebaran hematogen Kompleks primer Terbentuk imunitas seluler spesifik Masa inkubasi (2-12 minggu) Uji tuberkulin (+) Sakit TB Komplikasi kompleks primer Komplikasi penyebaran hematogen Komplikasi penyebaran limfogen Meninggal Imunitas turun Reaktivasi / reinfeksi Sembuh Infeksi TB Imunitas optimal Sakit TB 34 Gambar 1. patogenesis tuberkulodid (dibuat berdasarkan beberapa sumber) .

Kalender perjalanan penyakit Tuberkulosis primer Kompleks Primer Sebagian besar sembuh sendiri (3-24 bulan) Pleural effusion (3-6 bulan Erosi Bronkus (3-9 bulan) Meningitis TB Milier (dalam 12 bulan) TB Tulang (dalam 3 tahun) TB Ginjal (setelah 5 tahun) INFEKSI HIPERSENSIVITAS KEKEBALAN 1 tahun 2-12 minggu (6-8 minggu) Risiko tertinggi untuk Risiko menurun Komplikasi Lokal dan Diseminasi 35 .

Pembesaran kelenjar limfe superfisial yang tidak sakit dan biasanya multipel. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare. 6. malaria atau ISNA). 5. 4.1. 2. Nafsu makan tidak ada (anorexia) dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik dengan adekuat (failure to thrive). Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi. 36 . Batuk lama lebih dari 30 hari. 3. dapat disertai keringat malam.

Tulang lutut : pincang dan / bengkak Dengan gejala pembengkakan sendi. gibbus. TB kulit / skrofuloderma 2. sulit membungkuk 3. pincang. 4. TB tulang dan sendi . TB organ – organ lainnya 37 .1. kaku kuduk.Tulang punggung (spondilitis) : gibbus . TB otak dan saraf .Tulang panggul (koksitis) : pincang .Conjunctivitis phlyctenularis .Tuberkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi) 5. TB mata .Meningitis : iritabel. muntah – muntah dan kesadaran menurun.

Sugestif : .- Rontgen tidak khas kecuali Milier .Non sugestif : infiltrat minimal (flek paru) .Bronkiektasis .Kalsifikasi .Efusi pleura.Kavitas .destroyed lung 38 . .Milier .Konsolidasi segmental / Lobar .Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dgn / tanpa infiltrat .

.PA & LATERAL .Rontgen Paru tidak jelas – CT Scan thoraks 39 .

Infeksi TB alamiah a. Pasca terapi TB 2.Positif 1. Anergi 40 . Infeksi TB dan sakit TB c. Infeksi TB tanpa sakit b. Atipik / M. Leprae Negatif 1. Tidak ada infeksi TB 2. Imunisasi BCG (Infeksi buatan) 3. Masa inkubasi infeksi TB 3. Infeksi M.

Anak sakit dengan riwayat kontak penderita tuberkulosis dengan diagnosis pasti 2.a. Pasti Tuberkulosis (confirmed TB) Ditemukan hasil tuberkulosis pada pemeriksaan langsung atau biakan Identifikasi Mycobacterium tuberculosis pada karakteristik biakan 41 . Mungkin Tuberkulosis Anak yang dicurigai tuberkulosis ditambah :  Uji tuberkulin positif (10 mm atau lebih)  Foto rontgen paru sugestif tuberkulosis  Respons yang baik pada pengobatan dengan OAT c. Anak dengan :  Keadaan klinis tidak membaik setelah menderita campak atau batuk rejan  Berat badan menurun. Dicurigai Tuberkulosis 1. batuk dan mengi yang tidak baik dengan pengobatan untuk penyakit pernapasan  Pembesaran kelenjar superfisial yang tidak sakit b.

Parameter Kontak TB 0 Tidak jelas 1 2 Laporan keluarga (BTA negatif atau tidak jelas) BTA (+) 3 Uji tuberkulin Negatif Positif (=10mm. atau = 5 mm pada keadaan imunosupresi) BB/TB<90% atau BB/U<80% > 2 minggu Klinis gizi buruk atau BB/TB <70% atau BB/U<60% Berat badan/keadaan gizi Demam tanpa sebab jelas Batuk Pembesaran gelenjar limfe kolli. lutut. aksila.1. inguinal Pembengkakan tulang / sendi panggul. • Bila dijumpai gambaran milier atau skrofuloderma. tidak nyeri Ada pembengkakan Catatan : an tidak jelas TB* • Diagnosis dengan sistem skoring ini ditegakan oleh dokter. • Berat badan dinilai saat datang (moment opname) • Demam dan batuk tidak ada respons terhadap terapi sesuai baku • Foto toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak Gambaran sugestif 42 . langsung didiagnosis TB. falang Foto toraks Normal/kelahir = 3 minggu > 1cm. jumlah .

siklosepin. viomisin.ETB. etionamid.1.PZA. – – 43 . 3.Strep Obat lain ( second line ) : RAS. kanamisin. Medika Mentosa Penataan Gizi Lingkungan : TB anak tidak menular TB dewasa ! (sentrifetal – sentrifugal) Obat utama ( first line ) : INH. 2. kapriomisin.ripamfisin.

Berat badan (kg) 2 bulan 4 bulan 5–9 10 – 14 15 – 19 RHZ (75/50/150 RHZ (75/50 mg) mg) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 3 tablet 2 tablet 3 tablet 20 – 32 4 tablet 4 tablet Catatan • Bila BB > 33 Kg. dosis di sesuaikan dengan tabel 1 (perhatikan dosisi maksimal). • Obat Tidak Boleh diberikan setengah dosis tablet. • Bila BB < 5 kg sebaiknya dirujuk ke RS. 44 . • Anak dengan BB antara 9 – 10 diberikan 1 tablet.

Kemoprofilaksis INH 5-20 mg/kg bb/hari .Diagnosis / obati kasus TB dengan benar (DOTS) 45 .Hindari kontak .) * Balita * Morbili * Varisela * Pertusis * Imunosupresi lama .klinis & rontgen .Imunisasi BCG .Sekunder : cegah aktifitas infeksi (Mt + .Primer : cegah infeksi.. kontak tidak akti (BTA -) .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->