Anda di halaman 1dari 57

EKSISTENSIAL FENOMENOLOGI OLEH ROLLO MAY

Rollo May adalah seorang psikolog amerika yang terkenal dengan teori eksistensial fenomenologi dan takdir. Dia percaya bahwa manusia itu adalah makhluk yang bebas namun tetap saja ada keterbatasan yang tidak bisa dijangkaunya seperti kematian, dan itulah yang disebut dengan takdir. Nah, Rollo May mencetus teori ini berdasarkan kasus yang ia rasakan dan menjelaskan bahwa ada prinsip dasar (kecemasan, Rasa Bersalah, Intensionalitas, kebebasan & takdir, Love & Will, dan Mitos) dan tahap perkembangan (Kepolosan, Pemerontakan, Awan dan Kreatif) dari eksistensial fenomenologi dan takdir. Ini dia :

Prinsip dasar : 1. Kecemasan Kecemasan menurut rollo may adalah hal yang mendasar untuk membentuk motivasi. contoh : Ketika seseorang cemas akan mendapatkan IPK yang rendah, ia akan cenderung untuk memperbaikinya dengan cara belajar yang baik. Nah, rollo may juga berkata bahwa semua kecemasan yang dirasakan oleh seseorang pasti akan ia lalui. 2. Rasa Bersalah Rasa bersalah akan muncul ketika manusia gagal dalam menyelesaikan sesuatu, padahal itu adalah potensinya. contoh : Seorang mahasiswa teknik mesin yang hebat dan menjadi lulusan terbaik di jurusannya, akan merasa bersalah ketika tidak mampu memperbaiki mesin motor yang rusak. 3. Intensionalitas Adalah struktur yang menjembatani antara manusia dengan lingkungannya. Intensionalitas juga berfungsi untuk membuat seseorang memiliki pandangan untuk meraih masa depan. contoh : ketika saya ingin menguasai materi psikologi kepribadian, saya harus memiliki buku. Nah, yang menghubungkan saya dengan buku adalah intensionalitas. 4. Kebebasan dan Takdir Kebebasan adalah kapasitas manusia untuk mengetahui bahwa dia adalah makhluk yang terbatas oleh takdir. Sedangkan takdir adalah hal-hal yang tidak diketahui manusia namun itu terdapat di dalam masa depannya. Ada dua jenis kebebasan menurut Rollo May yaitu eksistensi dan esensi. style="text-align: justify;"> contoh : Manusia selalu ingin hidup dalam jangka waktu yang panjang (kebebasan), namun manusia tidak akan tahu kapan dia meninggaalkan dunia ini (takdir). So, manusia itu memiliki gejolak kebebasan, namun selalu terbatas oleh takdir.

5. Cinta dan Keinginan (Love and Will) Cinta termasuk di dalam daimonic yang tinggi, cinta mampu membuat motivasi yang besar terhadap pribadi seseorang. Keinginan adalah hal yang penting untuk mewujudkan mimpi yang ada di masa depan. contoh : orang yang dulunya berpakaian tidak rapi sebelum punya pacar, akan memperbaiki penampilannya (itulah motivasi cinta), ketika ia mempunyai target untuk menikahi pacarnya di masa depan, (itulah will). 6. Mitos Adalah hal abstrak yang membantu seseorang untuk mengerti tentang kehidupan yang dialami, sekalipun kita hanya mendengarkan tapi belum pernah melihat langsung. contoh : Sejak kecil, orangtua di tanah arab sering menceritakan tentang kehidupan sahabat nabi kepada anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya mengikuti kehidupan sahabat nabi sekalipun ia tidak pernah melihat sahabat nabi itu secara langsung dengan mata kepala mereka.

Tahap Perkembangan : 1. Kepolosan Hal ini terjadi pada usia bayi, dan kita tidak dapat mengatakan bahwa kepolosan yang dikeluarkan itu adalah salah, dan kita juga tidak bisa mengatakan itu adalah benar. 2. Pemberontakan Tahap ini terjadi pada usia anak-anak dan remaja. Lihat saja, anak-anak sangat suka memberontak kepada orang dewasa ketika ada keinginannya yang tidak terpenuhi, namun anak-anak masih bisa dibujuk untuk diam. Namun di masa remaja, pemberontakan akan lebih sulit dibendung akibat pemikiran remaja sudah mampu menalarkan dalam bentuk abstrak. 3. Awam Tahap awam ini terjadi pada masa dewasa awal. Pada tahap ini, manusia telah belajar untuk bertanggung jawab namun tetap saja merasakan semua tanggung jawab sebagai beban yang sangat besar sehingga manusia pada tahap ini akan cenderung mengeluh. 4. Kreatif Pada tahap ini, manusia telah mencapai keseriusan dam bertanggung jawab + aktualisasi diri. manusia pada tahap ini memilik keegoisan yang sangat rendah, pribadinya menjadi lebih santun, mampu menerima nasib dan mampu menghadapi kecemasan dengan sikap berani.

Itulah teori dari abang Rollo May. Silahkan lihat juga Bentuk Cinta versi psikologi.

Cinta antara Pria dan Wanita = Lobha?

Apakah memang ada yang namanya cinta kasih agung antara pria dan wanita? Bukankah selama ini kita mengetahui bahwa cinta antara jenis kelamin yang berbeda itu merupakan lobha (keserakahan) dan raga (nafsu jasmani)?

Ketika dalam masyarakat barat dikenal dua macam cinta, eros dan agape. Mereka berusaha untuk menanamkan kedua jenis cinta tersebut pada kekasih mereka. Demikian juga dalam agama Buddha, cinta antara sepasang kekasih tidak semata-mata dipandang sebagai sebuah bentuk lobha, namun di balik itu juga ada maitri (metta) karuna.

Tidaklah berlebihan apabila Nakulapita dan Nakulamata yang merupakan dua orang suami istri yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapanna, menginginkan untuk terus dapat hidup bersama baik di kehidupan sekarang maupun di kehidupan yang akan datang. Makadari itu Sang Buddha berkata pada mereka:

Bila keduanya memiliki keyakinan (saddha) dan kedermawanan, memilikipengendalian diri (sila), menjalani kehidupan yang benar, mereka datang bersama sebagai suami dan istri, penuh cinta kasih satu sama lain. Banyak berkah datang kepada mereka, mereka hidup bersama di dalam kebahagiaan, musuh-musuh mereka dibiarkan merana, bila keduanya setara moralitasnya. Setelah hidup sesuai Dhamma di dunia ini, setara dalam moralitas dan ketaatan, mereka bersuka cita di alam dewa setelah kematian, menikmati kebahagiaan yang melimpah. (Anguttara Nikaya IV, 55)

Dalam Buku Abhidhamma dalam kehidupan Sehari-hari dijelaskan bahwa cinta yang muncul di antara Sumedha dan Sumitta, antara Nakulapita dan Nakulamata, tidak semata-mata merupakan lobha.

Cinta yang tumbuh di antara mereka merupakan aspirasi / harapan postif (kusala-chanda / samma chanda) sekaligus lobha (tanha chanda). Jadi lobha di sini digunakan sebagai kendaraan untuk sesuatu yang positif, berkat kekuatan kusala-chanda.

Sang Buddha dalam Shurangama Sutra berkata: Engkau mencintai pikiranku (sifatku), aku mencintai ketampanan / kecantikanmu. Oleh karena sebab-sebab dan kondisi tersebut kita melalui ratusan ribu kalpa dalam keterikatan mutual yang terus menerus. . . Ini seperti kata-kata Aku mencintaimu, engkau mencintaiku.

Kekuatan lobha yang membuat seseorang terus bersama-sama, sangat terikat di berbagai kelahiran. Namun apabila lobha tersebut diberengi dengan kusala-chanda, maka kusala chanda akan membuat lobha keterikatan menjadi sarana pembantu kita mencapai Pencerahan Tertinggi, Samyaksambodhi, seperti Pangeran Siddharta dan Yasodhara dalam kehidupan mereka yang berulang kali selama 4 asamkhyeya kalpa. Efek negatif dari lobha, diubah menjadi sesuatu yang positif oleh kekuatan kusala-chanda.

Dharma Sang Buddha dapat memberikan pada kita kebahagiaan duniawi maupun kebahagiaan yang bukan duniawi. Keberhasilan dalam kehidupan pernikahan merupakan salah satu kebahagiaan duniawi yang ditawarkan dalam ajaran Sang Buddha. Sebuah kebahagiaan duniawi yang dapat digunakan dengan benar, akan dapat membawa pada kedua pasangan pada Pencerahan Sejati, seperti Sumedha dan Sumitta.

Hubungan pasangan yang berhasil adalah hubungan yang saling menumbuhkan kebaikan hati, keterbukaan hati, dan kecerahan masing-masing pasangan, seperti Bodhisattva Siddharta dan Yasodhara. Tidak mungkin bagi Bodhisattva untuk berjuang sendirian menjadi seorang Samyaksambuddha.

Ia harus ditemani oleh seorang, seorang kalyanamitra, seorang yang mampu menyokongnya di saat senang maupun susah. Memberikan kasih sayang, setia dan memiliki sifat-sifat agung yang setara dengan Sang Bodhisattva sendiri. Rasa cinta yang tumbuh antara Bodhisattva dengan pasangannya mampu membawa pada akhir yang membahagiakan happy ending, begitulah karena akhirnya Bodhisattva mencapai Samyaksambuddha di Bhadrakalpa ini, Yasodhara pun menjadi seorang bhiksuni yang paling unggul dalam abhijna, yaitu bhiksuni Bhaddakaccana, yang diramalkan oleh Sang Buddha bahwa kelak ia akan menjadi seorang Samyaksambuddha bernama Rasmisatasahasraparipurnadhvaja.

Maka dari itu tidaklah berlebihan apabila Bhiksu Nichiren Shonin berkata: Jika di antara kalian berdua (suami-istri) menyerah di pertengahan jalan, maka kalian berdua akan gagal mencapai ke-Buddhaan. Kalian adalah seperti dua sayap dari seekor burung dan dua mata dari satu orang. Dan istri kalian adalah pendukung kalian. Perempuanmenyokong suaminya dan menyebabkan suaminya juga menyokongnya. Ketika seorang suami berbahagia, maka istrinya juga akan berbahagia. Ketika seorang suami adalah seorang pencuri, maka istrinya juga akan menjadi pencuri. Ini tidak berkenaan dengan hidup kali ini saja. Seorang suami dan istri adalah sangat dekat bagaikan bentuk dan bayangan, bunga dan buah, atau akar dan daun, di semua kehidupan.

Dalam Avadanakalpalata, dikisahkan ada seorang pemuda tampan, cakap dan kuat bernama Hastaka. Suatu hari, Hastaka jatuh cinta pada putri Raja Prasenajit yang bernama Civara. Demi meminang dan mendapatkan pujaan hatinya, Civara, Hastaka berusaha untuk menjadi orang kepercayaan sang raja dan bahkan menunggang gajah emas pergi ke istana. Sang raja menyetujui pernikahan mereka dan Civara sangat bergembira di hari pertunangannya. Setelah menikah, sang raja mengadakan pertemuan dengan Sang Buddha di Hutan Jeta dan bertanya karma apa yang membuat Hastaka dan Civara dapat bersama-sama pada kehidupan kali ini.

Sang Buddha kemudian menceritakan pada mereka bahwa ketika Buddha Vipasyin berjalan menuju Sravasti bersama-sama dengan Sanghanya. Saat itu ada sepasang anak laki-laki dan perempuan sedang bermain-main dengan gajah kayunya di pinggir jalan. Kedua anak tersebut kemudian mempersembahkan gajah kayunya kepada Buddha Vipasyin. Saat itu, si anak laki-laki tersebut bertekad bahwa kelak di kelahiran-kelahiran berikutnya ia akan menikahi teman bermainnya dan mengendarai seekor gajah emas. Anak laki-laki tersebut adalah Hastaka, sedangkan Civara adalah anak perempuan pada kala itu.

Sebuah tekad yang sederhana, namun dilakukan dengan sepenuh hati, dengan didukung kekuatan karma, dapat membawa sepasang kekasih untuk terus bersama di berbagai kehidupan. Cinta antara pasangan yang saling mengasihi adalah sebesar kekuatan cinta yang ditimbulkan oleh kebajikan Sang Bodhisattva, yang mampu membuat bumi bergetar: Bumi mengetahui tiadanya keterikatan pada diri Bodhisattva, bahkan terhadap tubuhnya sendiri, bergetar dengan perasaan cinta bagaikan seorang istri terhadap suaminya. (Shibi Jataka, Jatakamala)

Kata "cinta" adalah satu kata yang dapat membuat orang (terutama muda-mudi) yang yang mengucapkan, mendengar dan mengalaminya, akan merasakan berbagai macam perasaan. Persoalan cinta selalu menarik untuk dibahas dan mungkin "cinta" adalah satu hal yang tak akan pernah habis untuk dibicarakan. Tak kurang sudah ratusan bahkan ribuan judul roman, novel, lagu, sinetron, dan film yang mengangkat tema cinta, seperti: Ketika Cinta Harus Memilih, Cinta Tiada Akhir, Siapa Takut Jatuh Cinta?, dan sebuah film yang sempat menjadi box office, Ada Apa dengan Cinta (AAdC) dan masih segudang judul cinta yang selalu laris bak kacang garing. Disebabkan oleh kurangnya pengertian akan konsep nirwana (Nibbana) sebagai suatu kondisi batin yang bebas dari nafsu, serakah, benci, dan kebodohan batin, beberapa tahun yang lalu ada pencipta lagu yang memberi judul karya ciptanya "Nirwana Cinta."

Belum lagi kisah klasik (dongeng) yang berbumbu cinta, seperti: Romeo dan Juliet-nya William Shakespeare, Roro Mendoet dan Pronocitro dari Jawa Tengah, Joyoprono dan Layonsari dari Bali juga Kasih Tak Sampai antara Siti Noerbaya dan Syamsoelbahri serta masih sederet dongeng cinta lainnya yang tak kalah menarik.

Masyarakat Jawa juga mengenal pepatah yang berbunyi "witing tresno jalaran soko kulino", yang berarti: cinta itu datang karena kebiasaan, dan sebuah "slogan nekat" bagi mereka yang tidak percaya diri, cinta ditolak, dukun bertindak.

Dalam mitologi India kuno (wayang) pun dikenal adanya dewa cinta, yaitu Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Begitu pula dalam mitologi Yunani mengenal adanya Dewa Aprodhite (Amor) yang selalu membawa panah dan gondewa yang siap dilontarkan kepada insan berlainan jenis.

Di Semarang, kata "cinta" diabadikan untuk nama sebuah bukit yang menjadi objek wisata, yaitu "Bukit Cinta" yang terletak di dekat Ambarawa, dan di Bandung, juga ada sebuah batu yang diberi nama "Batu Cinta", sebuah monumen yang mempertemukan kembali kekasih yang saling mencinta setelah sekian lama berpisah dan saling mencari (=pateang-teang (Bahasa Sunda) yang menjadi asal mula nama Situ Patenggang).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "cinta" berarti: suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali, berharap sekali, rindu, susah hati dan risau. Dalam KBBI juga terdapat kata "cintamani" yang berarti intan yang bertuah atau ular yang mendatangkan bahagia (terutama dalam percintaan).

Agama Buddha tidak alergi dengan istilah "cinta." Terbukti dalam Nikaya Pali, yaitu: Dhammapada ada satu bab yang diberi judul: Piya Vagga yang berarti kecintaan. Begitu pula dalam Majjhima Nikaya terdapat sutta yang berjudul Piyajatika Sutta, khotbah tentang orang-orang tercinta.

Dalam Bahasa Pali juga ditemukan beberapa istilah cinta, seperti: piya, pema, rati, kama, tanha (jawa trenso), ruci, dan sneha yang memiliki arti: rasa sayang, kesenangan, cinta kasih sayang, kesukaan, nafsu indera (birahi), kemelekatan, dsb, yang terjalin antara dua insan berbeda jenis atau cinta dalam lingkup keluarga.

Rollo May, dalam bukunya "Love and Will" mendefinisikan empat macam cinta, yaitu:

1. Libido: cinta yang menyangkut seks, nafsu birahi.

2. Eros: dorongan untuk mencintai dan dicintai. 3. Philia: persahabatan, cinta seperti saudara. 4. Agape: cinta yang penuh pengabdian demi orang lain dengan dasar rasa kemanusiaan.

Cinta memiliki suatu kekuatan yang hebat dan dahsyat, kadang cinta membuat orang yang mengalaminya merasa bahagia, senang, mabuk kepayang, dan ah..., berjuta rasanya (menurut lagu). Tetapi, kadang cinta dapat juga membuat orang kehilangan akal sehat, seperti yang terjadi di Semarang, SF (20), nekat bunuh diri dengan meminum cairan serangga. Kenekatan korban diduga akibat patah hati lantaran cintanya diputus sang kekasih. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa lembar "surat cinta."

Dhammapada Atthakatha, juga memuat cerita tentang Raja Pasenadi Kosala yang jatuh cinta pada seorang wanita yang telah bersuami, siang dan malam, raja memikirkan wanita itu dan ia menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya. Pikiran raja diliputi nafsu birahi dan hal ini membuatnya mengalami gangguan tidur. Raja juga diganggu oleh suara-suara seram yang datang dari alam neraka, suara dari makhluk neraka yang pada kehidupan lampaunya senang berzinah dengan isteri orang lain. Setelah dinasehati Sang Buddha, akhirnya raja menyadari kesalahannya dan tak lagi menginginkan wanita itu.

Dalam Piyajatika Sutta, Majjhima Nikaya, dikisahkan tentang seorang ayah yang mencintai putra laki-lakinya. Suatu hari putranya itu meninggal dunia. Sang ayah diliputi kesedihan yang mendalam, dan ia tidak lagi peduli pada pekerjaan dan makanan. Setiap hari ia pergi ke kuburan dan meratapi kepergian anaknya di sana.

Kemudian ia datang kepada Sang Buddha. Sang Buddha berkata kepadanya, "Perumahtangga, perilakumu seperti perilaku orang yang hilang ingatan, perilakumu dalam keadaan yang tidak normal." Ia kemudian menceritakan tentang apa yang dialaminya.

Sang Buddha berkata "Itulah perumahtangga, itulah sebabnya orang-orang yang kita cintai, mereka yang terkasih membawa kesedihan dan ratapan, sakit, dukacita dan kekecewaan."

Memang cinta antara orangtua dan anak adalah hal yang wajar dan alamiah, tetapi kemelekatan yang kuat pada yang kita cintai akan dapat membuat kita kecewa dan menderita. Dalam Dhammapada gatha 210 dan 213 dikatakan:

Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai.

Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan yang ttidak dicintai, keduanya merupakan penderitaan" "Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan, bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta tiada lagi kesedihan dan ketakutan"

Bila Cinta Meneguhkan Eksistensi

Kompas, Sabtu 16 Mei 2009

Afthonul Afif, Master Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Lahirnya Psikologi Positif sebagai mazhab baru dalam kajian psikologi memberikan harapan tentang sebuah masa depan kemanusiaan yang lebih baik. Asumsi ini tentu tidak mengada-ada. Sejak didaulat sebagai gerakan baru, bersamaan dengan dilantiknya Martin Selligman sebagai Presiden American Psychological Association pada tahun 1997, gerakan psikologi positif menawarkan ontologi baru dalam melihat manusia: manusia yang mampu bertumbuh, bukan manusia pesakitan sebagaimana diasumsikan psikoanalisis dan behaviorisme.

Tidak sulit untuk bersepakat bahwa setiap potensi positif dalam diri manusia hampir selalu mensyaratkan adanya cinta di dalamnya. Sebab, dalam cinta selalu ada intensi, energi yang menggerakkan kita untuk terpusat pada dan merealisasikan sesuatu. Contoh terbaik yang dapat diajukan di sini adalah tentang pribadi-pribadi unggul di bidangnya. Sebut aja Abraham Lincoln, Eisntein, Gandhi, Bunda Theresa, Abraham Maslow, Marthin Luther King, dan masih banyak yang lain. Mereka adalah pribadi dengan segudang sifat unggul: berani, cerdas, tangguh, konsisten, dan bervisi. Namun, jika mereka tak memiliki cinta terhadap kehidupan dan kemanusiaan, barangkali nama mereka tak bakal seharum sebagaimana kita kenal sekarang ini.

Contoh berikut mungkin sedikit mampu memberi ilutrasi. Di saat karirnya sebagai seorang behavioris sedang di puncak, Maslow tiba-tiba mengambil keputusan sangat berani. Dia memilih meninggalkan behaviorisme, sebuah keputusan yang saat itu sebenarnya mengancam karir intelektualnya karena dia bisa dikucilkan oleh komunitas akademiknya. Dia berani menanggung segala resiko tersebab sebuah peristiwa, yaitu ketika anak pertamanya lahir. Saya akan berkata bahwa siapa saja yang mempunyai seorang bayi tidak dapat menjadi seorang behavioris, ujar Maslow. Dia begitu terpesona oleh misteri kehidupan. Maslow tak kuasa memparafrasekan pengalamannya itu secara panjang lebar karena ia kelewat intens. Namun, pengalaman itu menyisakan keyakinan yang mendalam dalam batinnya, bahwa ada cinta dalam kehidupan.

Maslow barangkali benar, bahwa cinta itu tak perlu didefinisikan secara panjang lebar. Manifestasinya dalam kehidupan nyata jauh lebih penting dibanding segala definisi yang diupayakan. Dalam konteks ini dia sedikit berbeda dengan sejawatnya, Rollo May, seorang eksistensialis yang

menempatkan cinta sebagai salah satu pilar penyangga pemikiran psikologinya. May beranggapan bahwa mendefinisikan cinta tetap penting, karena hal itu dapat menjadi petunjuk bagi lelaku mencintai. Jika definisi itu dicurigai dapat mereduksi makna cinta, maka cara kita menempatkan definisi itu yang perlu diubah. Definisi itu bukanlah representasi, tetapi hanya jalansemacam ikhtiar memahami yang tak pernah final. Dengan menyadari bahwa definisi itu bukanlah representasi, maka akan muncul kesadaran untuk selalu terbuka di hadapan pengalaman. Dengan kata lain, bahasa hanya menyediakan cara, bukan menjadi tujuan itu sendiri. Bahasa membantu kita bagaimana mencintai, sementara dengan mempraktekkannya kita akan tahu makna mencintai.

Tulisan ini mencoba memposisikan diri di antara dua pendapat di atas, merayakan cinta sebagai sebuah pengalaman sekaligus lelaku. Sebagai pengalaman dan lelaku yang konkret, mecintai selalu mensyaratkan kehadiran yang lain, pihak yang memikat intensi kita. Untuk itu, cinta tetap membutuhkan operasionalisasi, meskipun ia tak pernah menemukan titik akhir, karena pada saat yang bersamaan ia mengafirmasi pengalaman tanpa batas. Sebagai lelaku, mecintai itu melayani, yang oleh Bunda Theresa disebut sebagai doa tertinggi: doa yang kita panjatkan untuk yang lain, sosok yang beda dengan diri kita, yang selalu menyeru kita untuk menyapa dan memahaminya, serta mengajak kita untuk berpartisipasi.

Mencintai menyadarakan kita tentang momen partisipasi, dimana kehadiran yang lain kita afirmasi sebagai subjek. Mencintai itu aktif sekaligus pasif: aktif memberi tanpa mengharap kembali, dan pasif menerima yang lain menyibakkan diri. Momen eksistensial ini hanya akan terwujud jika kita mengupayakan model kesubjekan yang menghargai kelainan. Artinya, yang lain harus kita tempatkan sebagai engkau, yang hadir sebagai subjek dengan segala kemerdekaannya, bukan sebagai dia yang asing dan cenderung kita lihat sebagai objek. Momen ini yang oleh Gabriel Marcel disebut sebagai momen kekitaan, momen eksistensial di mana aku dan engkau tumbuh bersama menjadi kita.

Untuk menjamin agar momen partisipasi tetap terbina, aku harus menghayati engkau sebagai yang misterius namun tidak asing. Engkau dekat sekaligus jauh. Engkau mampu kuhayati namun mustahil kudefinisikan. Melalui hubungan aku-engkau, lahirlah momen untuk kehadiran bersama (co-present). Momen ini tidak dapat kita pikirkan secara objektif, misalnya mengaitkannya dengan kategori ruang dan waktu. Artinya, hadir tidak dapat diartikan sebagai ada-bersama-dengan di suatu tempat tertentu pada waktu yang sama. Dua orang baru hadir bila mereka mengarahkan diri yang satu kepada yang lain dengan cara yang sama sekali berbeda dari cara mereka menghadapi objekobjek. Kehadiran hanya dapat diwujudkan jika aku berjumpa dengan engkau, bertumbuh bersama menjadi kita.

Tindakan partisipasi itu selanjutnya melahirkan harapan, harapan pada yang lain. Setiap bentuk partisipasi dengan orang lain mensiratkan adanya sebuah harapan untuk mengatasi setiap perasaan terasing dan putus asa. Tetapi harapan itu tidak semata-mata kita sandarkan pada kemampuan kita

sendiri. Sebaliknya, dalam harapan itu, kita seolah-olah telah menaruh kepercayaan tertentu pada subjek lain yang mengatasi kita. Bertolak dari pengalaman konkret itu, harapan sejati akan muncul dari keberhasilan seseorang dalam mengalahkan ego-nya, sehingga perasaan putus asa yang bersarang di ego dapat dilampaui.

Harapan yang lahir dari cinta dan momen partisipasi adalah harapan yang melampaui keinginan. Mencintai yang masih diliputi keinginan untuk memiliki dan menguasai yang lain tentu tak bakal berbuah harapan, karena hal itu akan melahirkan ketakutan ketika yang lain pergi. Orang yang berharap selalu sadar bahwa waktu selalu terbuka bagi dirinya. Berharap sama artinya mengafirmasi hidup dengan segala kemungkinannya, sehingga padanan kata yang paling tepat untuknya adalah kesiagaan, bukan keinginan.

Cinta yang dibangun di atas prinsip partisipasi dan harapan akan melahirkan pribadi-pribadi matang, yang oleh Marcel disebut sebagai pribadi dengan taraf eksistensi Ada. Hal ini untuk membedakan dengan pribadi yang masih berada dalam taraf eksistensi primordial, pribadi dengan sikap mental tawanan, yang masih berada dalam kendali ego bagi modus eksistensinya.

Rollo May - Psikologi Kepribadian diposting oleh sofia_rabbani-fpsi10 pada 07 August 2012 di kuliah - 0 komentar

Eksistensial : Rollo May

1. Biografi Singkat

Rollo May dilahirkan pada 21 April 1909 di Ohio, Amerika Serikat. Masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan, orang tuanya becerai dan adiknya mengalami gangguan psikotik. Setelah beberapa waktu belajar di Michigan State, May terpaksa harus pindah dan masuk ke Oberlin Cololege di Ohio. Setelah lulus, May pergi ke Yunani dimana dia mengajar Bahasa Inggris di Anatolia College selama tiga tahun. Selama itu, dia menghabiskan waktu sebagai seniman jalanan dan sempat belajar secara singkat dengan Alfred Adler. Ketika May kembali ke Amerika Serikat, dia masuk di Union Theological Seminary dan berteman dengan salah satu gurunya, Paul Tillich, seorang teolog eksistensialis dan orang yang sangat mempengaruhi pemikiran May. Dia kemudian menerima gelar sarjananya pada tahun 1938. Selain itu, karya-karya dari Soren Kiergaard yang merupakan pencetus dari gerakan eksistensial memberikan inspirasi bagi teori-teori Rollo May.

May melanjutkan studi psikoanalisis di White Institute, di mana ia betemu dengan Harry Stack Sullivan dan Erich Fromm. Kemudian ia pergi ke Universitas Columbia di New York, di mana pada tahun 1949 ia menerima gelar PhD pertama dalam psikologi klinis yang pernah diberikan oleh universitasnya. Setelah itu, May mengajar di berbagai sekolah unggulan. Pada 1958, dia menulis buku Existence bersama Ernest Angel dan Henri Ellenberger, yang memperkenalkan psikologi eksistensial ke Amerika Serikat. Dia menghabiskan tahun terakhir hidupnya di Tiburon, California, sampai ia meninggal pada tahun 1994.

2. Ulasan Umum Teori Kepribadian

Konsep dasar yang digunakan May dalam teori yang dikemukakannya adalah konsep eksistensialisme. Sebelum beranjak menuju konsep May, berikut ini merupakan konsep dasar eksistensialisme yang akan mampu membantu kita untuk dapat memahami teori May.

a. Being in the world (mengada dalam dunia)

Ketika ilmuwan mempelajari manusia dari kerangka acuan eksternal, mereka sudah merusak batasan subjek dan dunia eksistensial mereka. Kesatuan dasar pribadi dan lingkungan dapat diartikan eksis di dunia, yang sering disebut dengan being in the world. Banyak orang menderita rasa cemas dan putus asa yang diakibatkan oleh alienasi diri sendiri atau dari dunianya. Mereka tidak memiliki gambaran yang jelas tentang diri mereka sendiri atau mereka merasa terisolasi dari sebuah dunia yang tampaknya jauh dan asing. Saat manusia berjuang untuk meraih penguasaan terhadap alam, mereka menjadi kehilangan sentuhan dalam hubungan mereka dengan dunia alamiah. Ketika mereka menjadi semakin bergantung kepada produk-produk revolusi industri, mereka menjadi lebih teralienasikan dari bintang-bintang, tanah dan laut.

Perasaan terisolasi dan keterasingan diri dari dunia diderita tidak hanya oleh individu yang terganggu secara patologis namun juga individu dalam masyarakat modern. Alienasi adalah penyakit zaman ini, dan dia termanifestasikan di ketiga wilayah ini: (1) keterpisahan dari alam, (2) kekurangan hubungan antarpribadi yang bermakna, (3) keterasingan dari diri yang otentik. Being in the world membagi tiga model manusia yaitu:

i. Umwelt adalah dunia kebutuhan biologis, yaitu dunia objek-objek di sekitar manusia yang bisa mempengaruhi manusia, membuat manusia sakit, menderita, dan tidak berdaya. Umwelt biasa disebut dengan lingkungan (environment).

ii. Mitwelt adalah hubungan manusia dengan manusia lain dalam rangka kebersamaan. Kebersamaan ini berlangsung dalam suatu interaksi yang jauh lebih kompleks, komunikasi yang penuh kebersamaan, dan makna orang lain juga ditentukan oleh hubungan sesama.

iii. Eigentwelt adalah hubungan individu dengan dirinya sendiri, pusat bagi dunia manusia sendiri, dan dari pusat itulah manusia menjalani hubungannya dengan orang lain atau sesama manusia lain. Dalam dunia ini, manusia menjalin keberadaan sebagai subjek yang merefleksikan, mengevaluasi, menilai atau menghakimi dirinya sendiri.

Pribadi yang sehat hidup dalam umwelt, mitwelt, dan eigentwelt sekaligus. Mereka beradaptasi dengan dunia alamiah, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan memiliki kesadaran mendalam tentang apakah makna semua pengalaman ini bagi dirinya.

b. Nonbeing (ketidakadaan)

Being in the world mensyaratkan kesadaran diri sebagai makhluk yang hidup dan eksis. Namun kesadaran ini pada giliranya juga dapat membawa manusia pada kesadaran akan seseuatu yang menakutkan yaitu nonbeing dan nothingness. Untuk memegang apa yang akan dimaknai eksis, manusia perlu memegang lebih dulu fakta bahwa dirinya mungkin tidak eksis, bahwa setiap saat dirinya menghadapi tepi jurang peniadaan dan tidak pernah dapat lari dari fakta bahwa kematian akan datang di momen tertentu yang tidak dapat diketahuinya di masa depan.

Kita masih bisa mengalami nonbeing (ketidakadaan) ini dalam bentuk lain seperti ketagihan pada alkohol atau obat-obatan terlarang, aktivitas seksual yang immoral, atau perilaku-perilaku kompulsif lainnya. Ketidakadaan kita juga dapat diungkapkan sebagai konformitas membuta terhadap ekspektasi masyarakat atau sebagai kebencian umum yang merembesi hubungan kita dengan orang lain.

Rollo May merupakan salah satu tokoh dalam psikologi eksistensial Amerika yang paling terkenal. Ia juga sering disebut sebagai bapak terapi eksistensial. Sebagian besar pemikirannya dapat dipahami dengan membaca teori eksistensialisme secara umum. Terdapat banyak kesamaan antara teori Rollo May dengan teori para psikolog eksistensialis lainnya. Namun, teori Rollo May tidak termasuk ke dalam mainstream psikologi eksistensial utama karena ia lebih dipengaruhi humanisme Amerika daripada Eropa. Di samping itu, Rollo May juga lebih tertarik untuk menggabungkan psikologi eksistensial dengan pendekatan-pendekatan lain, khususnya pendekatan dari Freudian. Begitu juga cara May menggunakan istilah-istilah eksistensialisme tradisional yang cenderung berbeda dengan pemikir lain dan ia juga menemukan istilah-istilah baru untuk ide eksistensial lama.

Rollo May juga merupakan salah satu tokoh psikologi eksistensial yang membicarakan tentang tahap-tahap perkembangan yang berbeda dengan tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Freudian. Tahap- tahap tersebut adalah tahap kepolosan, tahap pemberontakan, tahap awam, dan tahap kreatif. Tahap- tahap yang dikemukakan oleh Rollo May tersebut dikaitkan dengan usia yang hanya berdasarkan pada apa yang sering terjadi, misalnya sifat pemberontak biasanya terjadi di usia 2 tahun sampai usia remaja.

Di lain pihak, May tidak terlalu tertarik dengan kecemasan sebagaimana yang diungkapkan oleh kaum eksistensialis murni. Buku pertama dari May The Meaning of Anxiety mendefinisikan kecemasan sebagai rasa cemas yang dipancing oleh satu ancaman dimana eksistensi seorang individu merasa sangat terganggu sedemikian rupa sebagai sebuah diri. Walaupun pemikirannya tidak dapat digolongkan ke dalam eksistensialis murni, namun May tetap memasukkan kecemasan akan kematian ke dalam teorinya.

May berpendapat bahwa manusia sudah menjadi terasing dari dunia alamiah manusia lain dan yang paling besar adalah menjadi terasing dari dirinya sendiri. May yakin dalam batasan takdir mereka, manusia memiliki kemampuan untuk membuat pilihan bebas. Setiap manusia pasti juga memiliki tujuan untuk bereksistensi. Jika manusia tidak bereksistensi maka ia akan menjadi seorang yang neurosis. Setiap manusia adalah unik, masing-masing dari kita bertanggung jawab untuk membentuk kepribadian kita sendiri dalam batasan-batasan yang ditetapkan oleh takdir.

3. Teori Eksistensialisme Rollo May

a.

Kekosongan, Kesepian dan Kecemasan

Rollo May menyoroti ada tiga masalah utama manusia modern, yaitu kekosongan, kesepian, dan kecemasan.

i. Kekosongan adalah kondisi individu yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Ini banyak dialami dalam masyarakat modern. Mereka hanya bisa merespon, tetapi tidak bisa memilih respon apa yang paling baik untuk dirinya. Contohnya adalah manusia giroskop (takut mati, dengan segala kekuasaan yang dimiliki), apatis, pasivitas dan lain-lain.

ii. Kesepian dialami masyarakat modern karena rutinitas, robotisasi dan alienasi. Mereka takut ditolak oleh sesama, dan memiliki hasrat untuk diterima orang lain. Mereka berkegiatan bersama, seperti pesta, berkumpul, dan lain-lain, namun ini semua bukan didasari oleh kehendak untuk menciptakan kebersamaan dan mendapatkan kehangatan, melainkan semata-mata didasari oleh ketakutan berada sendirian atau ketakutan diisolasi oleh orang lain. Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya.

iii. Kecemasan juga merupakan masalah lain yang dialami manusia modern. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperankan dan dimainkan, serta asas-asas apa yang harus diikuti. Semuanya sudah otomatisasi, globalisasi, efisinsi dan seterusnya. Tetapi manusia juga memiliki kesadaran diri yaitu kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan orang mampu menempatkan dirinya di dalam waktu (masa kini, lampau dan datang). Kecemasan adalah fokus khusus psikologi eksistensial May. Dia menganggap bahwa kecemasan merupakan reaksi yang terjadi karena nilai eksistensi dasar manusia terancam. Walaupun May berfokus pada kecemasan, akan tetapi dia masih melihat setiap usaha yang dilakukan manusia. Kecemasan menurut May digolongkan menjadi dua sifat, yaitu:

a) Kecemasan Normal

Tak seorang pun dapat lepas dari efek-efek kecemasan. Menumbuhkan dan nilai nilai berarti mengalami kecemasan yang konstruktif atau normal. May, mendefinisikan kecemasan normal sebagai sesuatu yang proporsional bagi ancaman, tidak melibatkan represif dan bisa ditentang secara konstruktif di tingkatan sadar. Ketika manusia tumbuh dari bayi sampai usia senja, nilai-nilai mereka berubah dan di setiap langkahnya mengalami kecemasan normal. semua pertumbuhan terdiri atas penyerahan diri yang memicu kecemasan terhadap nilai-nilai masa lalu. Kecemasan normal juga dialami selama momen-momen kreatif ketika seniman, ilmuwan atau filsuf yang tibatiba mendapat sebuah pencerahan yang mengarah kepada pengakuan bahwa hidupnya, dan mungkin hidup banyak orang, akan berubah secara permanen.

b) Kecemasan Neurotik

May mendefinisikan kecemasan neurotik sebagai reaksi tidak proporsional terhadap ancaman, melibatkan represi, dan bentuk-bentuk konflik intrapsikis lainnya, dan diatur oleh beragam jenis pemblokiran aktivitas dan kesadaran. Jika kecemasan normal dirasakan ketika nilai yang dianut terancam, maka kecemasan neurotik dialami ketika nilai ditransformasikan menjadi dogma. Untuk bisa menjadi benar sepenuhnya, iman seseorang harus bisa menyediakan rasa aman temporer, namun rasa aman ini harus dibayar dengan penyerahan kepentingan untuk pembelajaran hal-hal baru dan pertumbuhan pembelajaran.

b.

Rasa Bersalah

Rasa bersalah muncul saat manusia menyangkal potensinya, gagal memahami secara akurat kebutuhan sesamanya, atau masih tetap bersikukuh dengan ketergantungan mereka dengan dunia alamiah (May, 1958). Menurut May, kecemasan dan rasa`bersalah dalam hal ini bukanlah sekedar perasaan yang muncul dari situasi tertentu akan tetapi mengacu pada hakikat kemengadaan.

Rasa bersalah dibedakan menjadi tiga bagian yakni Umwelt, Mitwelt, dan Eigenwelt. (1) Bentuk rasa bersalah Umwelt mengacu pada kurangnya kesadaran akan mengada-dalam-dunia. Rasa besalah ini merupakan hasil dari rasa ketercabutan dari alam. (2) Mitwelt merupakan bentuk rasa bersalah yang berasal dari ketidakmampuan kita memahami secara akurat dunia orang lain. Seringkali kita hanya melihat dari sudut pandang kita sendiri dan jarang bahkan tidak pernah untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Sehingga kita merasa bahwa kita tidak sejalan dengan pemikiran mereka. (3) Bentuk yang ketiga merupakan Eigenwelt yang berupa rasa bersalah terkait dengan kegagalan pemenuhan dan penyangkalan potensi. Rasa bersalah ini merupakan kemunculan atas konflik dengan diri kita sendiri.

c.

Intensionality

Proses pengambilan keputusan membutuhkan kemampuan pengambilan keputusan yang berada diatas sturktur dasar dimana pilihan keputusan tersebut diambil. Struktur yang memberikan makna bagi pengalaman dan mengizinkan manusia melakukan pilihan terhadap masa depan itulah yang disebut dengan intensionalitas ( May, 1969). Tanpa intensionalitas manusia tidak akan pernah bisa memilih atau mengambil keputusan akan pilihan tersebut.

d.

Mitos-Mitos

Rollo May berpendapat bahwa permasalahan terbesar abad 20 ini adalah hilangnya nilai-nilai kehidupan karena terlalu banyak nilai-nilai yang ada di sekitar kita sehingga membuat kita meragukan nilai-nilai tersebut. Setiap orang harus membuat nilai-nilainya sendiri dan untuk membuatnya kita membutuhkan pertolongan yang ditawarkan kepada kita, yang dapat digunakan sesuai keinginan kita. Mitos dapat diartikan sebagai cerita penuntun untuk memahami kehidupan yang kita jalani. Mitos ini dapat disadari maupun tidak disadari dan bersifat kolektif maupun personal. Contoh terbaik dari mitos adalah menjalankan kehidupan kita sesuai dengan ajaran kitab suci.

Mayoritas mitos menjelaskan tentang adanya bantuan tak terduga untuk memenuhi keinginan (pengkhayal) atau melalui kerja keras dan pengorbanan (neo-Puritan). Mitos-mitos yang ada sekarang menyatakan bahwa nilai terbaik adalah ketiadaan nilai. Namun, May berpendapat bahwa kita harus bekerja aktif membuat mitos-mitos baru yang mendukung usaha orang-orang untuk membuat kehidupan mereka menjadi yang terbaik, bukan untuk mengecilkan hati mereka. Gagasan Rollo May ini terlihat baik namun sangat eksistensial. Mayoritas penganut eksistensialisme berpendapat bahwa kenyataan hidup harus dihadapi langsung bukan hanya melalui cara-cara yang ada dalam mitos. Mereka memilih bersikap seperti orang-orang pada umunya yang menyerah sebagai bagian dari kejatuhan, konvensional dan tidak otentik.

4. Dinamika Kepribadian

Dalam usahanya merekonsiliasi teori Freud dan para penganut eksistensialis, May mengubah perhatiannya ke konsep motivasi. Rollo May mencoba menjelaskan tentang motivasi yang kemudian menjelaskan bahwa penyebab dasar motivasi adalah the diamonic. Istilah ini dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem motivasi yang ia yakini pasti berbeda terhadap setiap orang. Daimonic adalah campuran dari insting (biologis), pengalaman (sejarah pribadi, emosi), dan pengaruh lingkungan (budaya, sosial, hubungan keluarga).

Diamonic terdiri dari kumpulan macam-macam motif yang ia sebut sebagai Daimon. Daimon meliputi kebutuhan rendah (kebutuhan dasar) seperti makan, minum dan seks serta kebutuhan tinggi seperti cinta. Situasi dimana daimon dapat mengendalikan keinginan seseorang dari dalam disebut daimonic possession. Jika keseimbangan antar daimon dalam diri seseorang terganggu, maka orang tersebut dapat disebut jahat. Daimon yang paling penting adalah Eros yang diartikan sebagai cinta. Cinta diartikan sebagai kebutuhan individu untuk bersatu dengan orang lain. Eros dapat memiliki sifat baik ketika ia tidak menguasai kepribadian seseorang.

May mengidentifikasi empat jenis cinta, yaitu (1) Seks merupakan hasrat biologis seseorang yang dapat terpuaskan lewat hubungan seksual maupun dengan cara-cara seksual yg lain; (2) Ero merupakan keinginan psikologis, hasrat untuk membangun hubungan menyatu dengan orang lain; (3) Philia merupakan dasar ero, yaitu hubungan intim nonseks yang dijalani oleh dua orang; (4) Agape merupakan hasrat untuk menghargai dan mementingkan kesejahteraan orang lain tanpa pamrih.

Konsep penting lainnya adalah will (kehendak) yang diartikan sebagai pengorganisasian diri manusia terkait pencapaian tujuannya. Kehendak juga dapat mengusai diri seseorang seperti daimon. Pengertian lain dari kehendak adalah kemampuan untuk mewujudkan keinginan atau harapan. Keinginan juga dapat diartikan sebagai imajinasi dari kemungkinan-kemungkinan dan manifesti dari daimon-daimon yang ada. Keinginan-keinginan yang ada berasal dari eros namun kita membutuhkan kehendak untuk mewujudkannya.

5. Tipe Kepribadian

a.

neo-Puritan

Tipe ini dimiliki seseorang ketika semuanya adalah kehendak, bukan cinta. Orang-orang neo-Puritan sangat menjunjung tinggi disiplin diri dan dapat mewujudkan segalanya, namun mereka tidak memiliki keinginan untuk merealisasikan. Mereka akan menjadi perfeksionis.

b.

Infantile (pengkhayal)

Tipe ini memiliki keinginan-keinginan namun tidak memiliki kehendak. Kehidupan orang tipe ini hanya dipenuhi oleh mimpi dan hasrat tanpa memiliki disiplin diri untuk mewujudkan mimpi dan hasratnya. Biasanya, orang tipe pengkhayal ini akan menjadi bergantung pada orang lain dan mudah kompromi dengan keadaan. Mereka memiliki cinta namun tidak banyak berarti untuk mereka sendiri.

c.

Kreative

Tipe ketiga ini merupakan penyeimbang dari dua tipe sebelumnya. May berpendapat bahwa tugas manusia adalah menyatukan cinta dan kehendak. Ide seperti in telah banyak dibahas oleh tokohtokoh lainnya, seperti Otto Rank yang membahas tentang hidup dan mati.

6. Perkembangan Kepribadian

Psikolog Eksistensial kebanyakan tidak merumuskan mengenai tahapan perkembangan. Rollo May merupakan satu-satunya psikolog eksistensial yang membahas tahap perkembangan. Tahap-tahap tersebut yaitu:

a. Innocence atau Kepolosan

Tahap ini dapat disebut sebagai tahap pra-ego atau tahap pra-kesadaran atau tahap pra-moral yang ada di dalam diri seorang bayi yang penilaiannya berada di tengah-tengah, tidak baik maupun jelek. Seorang bayi yang berada dalam tahap ini hanya melakukan suatu tindakan yang memang harus dilakukannya sesuai dengan hasrat untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya.

b. Rebellion atau Pemberontakan

Pada tahap ini, ego atau kesadaran diri pada anak-anak dan remaja mulai berkembang untuk melawan orang dewasa. Perkembangan ini berkembang dari sikap tidak pada anak-anak menjadi tidak sama sekali pada remaja. Seseorang yang berada dalam tahap ini sangat menginginkan kebebasan namun tidak memahami tanggung jawab yang ada dalam kebebasan tersebut. Sebagai contoh, remaja ingin mandiri namun ketika hendak berpergian masih ingin diantar oleh orang tua dan akan marah ketika hal tersebut tidak diwujudkan oleh orang tua mereka.

c. Ordinary atau Awam

Tahap ini sering disebut tahap ego yang berada pada orang dewasa normal yang sifatnya konvensional dan agak membosankan. Pada tahap ini, perasaan tanggung jawab telah ada namun mereka merealisasikannya sebagai beban berat yang harus mereka tanggung. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk keluar dari kekangan nilai konformitas dan tradisional yang ada dalam masyarakat.

d. Creative atau Kreatif

Tahap ini sering disebut sebagai tahap kedewasaan otentik atau tahap eksistensial. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi memaksakan egonya namun telah beranjak untuk mencari dan memenuhi aktualisasi diri. Ciri-ciri orang pada tahap kreatif ini adalah menerima takdir yang ada dan menghadapi kecemasan dengan berani.

Tahap-tahap ini tidak berdasarkan rentang umur tertentu melainkan yang biasanya terjadi pada kebanyakan orang. Sebagai contoh, tahap pemberontakan biasanya terjadi pada anak usia dua tahun hingga remaja. Tahap-tahap ini juga tidak terbatas pada sifat tertentu. Seperti, anak-anak tidak hanya dalam tahap pemberontakan namun bisa saja mereka dalam tahap kepolosan, awam dan kreatif.

7. Contoh Kasus Terkait Teori

a. Alireza Pahlevi adalah anak mantan shah (Raja Iran) Muhammad Reza Pahlevi yang tewas bunuh diri dengan menodong pistol ke kepalanya pada tanggal 4 Januari 2011 di rumahnya, Boston, Amerika Serikat. Ia meninggal dalam usia 44 tahun karena depresi yang berkepanjangan akibat kematian sang ayah dan adiknya Leila Pahlevi karena overdosis.

Ayahnya Muhammad Reza Pahlevi adah shah yang digulingkan saat Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan meninggal di tempat pengasingan di Mesir satu tahun setelah penggulingan. Kematian sang ayah membuat Alireza Pahlevi sedih hingga berlarut-larut. Setelah kematian ayahnya, Alireza dan keluarganya hidup di beberapa Negara di tempat pengungsian. Hal tersebut membuatnya semakin depresi. Ia merasa terhina karena keluarganya hancur karena kepentingan politik dan ia terusir dari tanah kelahirannya hingga tidak bisa kembali.

Kesedihan yang mendalam belum selesai, ia harus menerima kematian adiknya karena overdosis narkoba. Adiknya bunuh diri setelah lama berjuang melawan gangguan percernaan, perasaan tidak diterima kembali dan keharusan mengasingkan diri dari Iran. Alireza menjadi semakin berbeda dan bertambah depresi lagi karena hal itu. Ia tidak bisa mempercayai seorang pun di dunia ini, bahkan dokter kejiwaannya sekalipun. Ia pun memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mimpinya tentang Iran kembali pada sistem monarki yang tak kunjung terwujud, membuatnya semakin putus harapan dan pergi meninggalkan keluarganya dalam kesedihan.

Ia dan keluarganya mengungsi di Williamstown dan ia bersekolah di Mount Greylock Regional High School. Di mata teman-temannya, Alireza adalah seorang yang sangat misterius, pendiam, pemalu, tapi pekerja keras. Ia seperti membuat jarak dengan teman-temanya sehingga tak ada seorangpun yang dekat dengannya. Alireza memperoleh gelar S1 dari Universitas Princeton dan gelar master dari Universitas Columbia. Saat kematiannya, Alireza tengah mengambil studi gelar doktor tentang Filogi dan Iran Kuno di Universitas Harvard. Ia sangat terobsesi dengan kembalinya Iran menjadi negara monarki bahkan ketika ia dalam keadaan mabuk (setengah sadar) hal yang paling sering ia bicarakan adalah mengenai kematian ayahnya dan tentang rezim baru Iran.

Menurut Rollo May, seorang Psikolog beraliran esksistensialis, manusia hidup karena memiliki motivasi atau daimon. Daimon yang dimiliki Alireza Pahlevi adalah eros atau cinta pada Negara Iran. Cintanya pada Iran sangat besar. Wishes atau keinginannya agar Iran kembali ke sistem monarki seperti saat ayahnya berkuasa sangat besar. Ia merasakan kebahagiaan ketika ayahnya berkuasa, tetapi kebahagiaan itu sirna ketika kepentingan politik menghancurkan kekuasaan ayahnya dan secara tidak langsung merebut kebahagiannya. Kematian ayahnya, perasaan terasing di negara orang, dan tidak dapat kembali ke Iran membuat daimon-nya semakin menguasai dirinya sehingga ia mengalami kecemasan neurotik.

Hal tersebut sangat terlihat pada will-nya atau kemampuannya untuk mengatur diri sendiri demi tercapainya wishes yang terlihat pada usahanya mempelajari Iran Kuno saat studi doktor di Universitas Harvard. Sayangnya, will milik Alireza sangat rendah. Ia tidak melakukan pergerakan yang memungkin terjadinya perubahan di Iran seperti masuk ke dalam dunia politik dan menjadi seorang anggota parlemen. Ia memang menginginkan Iran kembali ke sistem monarki tetapi ia tidak mewujudkannya dengan usaha yang yang maksimal. Berdasarkan hal ini, kepribadian Alireza Pahlevi dapat digolongkan dalam tipe Infantile milik Rollo may yaitu orang yang memiliki wishes yang tinggi namun memiliki will yang rendah. Ia memiliki cinta namun cinta tersebut tidak ia gunakan dalam hal yang positif tetapi negatif yang membuatnya terpuruk dalam kesedihan dan mimpi yang tidak terwujud.

Jika saja Alireza dapat mengatasi rasa bersalah yang timbul dalam dirinya, meskipun umwelt-nya atau lingkungannya dalam hal ini tanah air Iran yang tidak menerima dia kembali, ia masih tetap bisa bahagia dan diterima di lingkungan yang baru dengan membangun mitwelt atau hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya seperti memiliki pasangan dan teman dekat. Eigenwelt atau pemaknaan keberadaan Alireza sebagai anggota kerajaan yang terbuang, anak yang kehilangan seorang ayah akibat revolusi, dan kakak yang kehilangan adiknya akibat overdosis seharusnya diperbaiki. Sehingga Alireza tidak perlu melakukan bunuh diri sebagai jalan satu-satunya untuk menghilangkan luka yang mendalam karena hal tersebut.

b. Jesse James adalah mantan suami bintang Hollywood penerima Oscar, Sandra Bullock. Ia terlibat skandal perselingkuhan dengan model tato bernama Michelle Bombshell McGee. Hal itu

terbongkar setelah Sandra Bullock meraih Piala Oscar 2010. Michelle Bombshell McGee mengaku bahwa ia berselingkuh selama 11 bulan dengan Jesse saat Jesse masih berstatus suami Sandra Bullock. McGee mengaku ketika berselingkuh, ia tidak tahu jika Jesse masih menikah. Hubungan keduanya bermula ketika Jesse menemani Sandra syuting The Blind Side dan bertemu dengan McGee. McGee ingin menjadi model di perusahaan Jesse. Ia mulai mengirimkan fotonya ke Jesse melalui email dan sejak saat itu Jesse mengajaknya berkencan.

Jesse berselingkuh dengan McGee demi pemenuhan hasrat sexnya. Ia bisa berhubungan sex dengan McGee lima kali dalam seminggu dan hal tersebut terjadi saat Sandra syuting The Proposal. Jesse mengaku bahwa ia berselingkuh karena memiliki pelecehan dan pengalaman traumatis saat berusia 7 tahun. Ia merasa malu, takut dengan masa kecilnya dan berpikir selingkuh adalah cara yang tepat untuk mengatasinya. Setelah bercerai, Jesse menjalani rehabilitasi di Arizona Sierra Tuscon, untuk mengobati ketakutan dan kecanduan seks yang dialaminya. Belum genap setahun ia bercerai dengan Sandra Bullock, ia sudah bertunangan dengan Kat Von D, seorang seniman tato dan bintang reality show, namun akhirnya kandas juga. Hal tersebut terjadi setelah Kat Von D mengetahui perempuan ke-19 yang menjadi selingkuhan Jesse ketika berhubungan dengannya.

Dalam kasus ini, Jesse James dikuasai oleh daimon-nya yaitu motivasi untuk menghilangkan rasa malu dan takut karena pelecehan di masa kecilnya. Perasaan tersebut muncul ketika ia gagal menyadari bahwa ada atau tidak pengalaman buruk, orang lain bisa menerima kondisinya. Karena rasa malu dan ketakutan akibat pelecehan di masa kecil selalu menghantui dirinya, ia pun nekat berselingkuh dengan McGee ketika masih menjadi suami Sandra sebagai wujud will-nya. Bahkan ketika ia sudah bercerai dan menjalin hubungan baru dengan Kat Von D, ia masih tetap saja berselingkuh dengan wanita lain. Kepribadian Jesse James yang demikian dapat digolongkan dalam tipe neo-Puritan milik Rollo May, yaitu seseorang yang memiliki will atau kemampuan untuk mengatur dirinya demi terwujudnya sebuah tujuan namun tidak memiliki cinta dan wishes atau keingingan. Will-nya sangat besar, terlihat dari ia berselingkuh berulang kali namun ia tidak memiliki cinta yaitu kegembiraan dalam kehadiran orang lain dan untuk menyatakan bahwa nilai dan perkembangan seseorang sebanyak miliknya.

Daftar Pustaka

Berger, Vincent. (2005). Famous Psychologist: Rollo May. Diakses pada 18 November 2011 dari http://www.psychologistanywhereanytime.com/famous_psychologist_and_psychologists/psycholog ist_famous_rollo_may.htm Copyright 2005 Dr Vincent Berger

Boeree, C. George. (2005). Personality Theories. Jogjakarta: Prisma Sophie.

Damayanti, Irina. Kronologi Perselingkuhan Suami Sandra Bullock. Diakses pada 20 November 2011 melalui http://showbiz.vivanews.com/news/read/137257kronologi_perselingkuhan_suami_sandra_bullock

Feist and feist. (2006). Theories of Personality. Boston: McGraw Hill.

Geuntanyao, Abang. Harakiri Alireza Pahlevi Akhiri Cinta dan Kekecewaan Mendalam untuk Iran. Diakses pada 19 November 20011 melalui http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/07/harakirialireza-pahlevi-akhiri-cinta-dan-kekecewaan-mendalam-untuk-iran/-12 Irwansyah, Ade. Pacaran Lagi, Mantan Suami Sandra Bullock Selingkuh dengan 19 Wanita. Diakses pada 20 November 2011 melalui http://www.tabloidbintang.com/barat/gosip/17833-pacaran-lagimantan-suami-sandra-bullock-selingkuh-dengan-19-wanita.html

Kawilarang, Renne R.A, Armandhanu, Denny. Lagi, Anak Raja Iran Bunuh Diri. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://dunia.vivanews.com/news/read/197597-lagi--anak-raja-iran-bunuhdiri,

Kodrati, Finalia. Alasan Suami Sandra Bullock Berselingkuh. Diakses pada 20 November 2011 melalui http://showbiz.vivanews.com/news/read/153819-alasan_suami_sandra_bullock_berselingkuh

Patnistik, Egidus. Putra Mantan Shah Iran Bunuh Diri. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://nasional.kompas.com/read/2011/01/05/08325659/function.simplexml-load-file

Robbins, Brent Dean. (1999). Rollo May. Diakses tanggal 20 November 2011 dari http://mythosandlogos.com/May.html

Their, David. Alireza Pahlavi: The Lonely Life of an Exiled Prince. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://www.aolnews.com/2011/01/08/alireza-pahlavi-the-lonely-life-of-an-exiled-prince/

Tekanan Psikologis: Alireza Pahlevi, Putra Shah Iran Tewas Bunuh Diri. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=269820

Rollo May - Psikologi Kepribadian diposting oleh sofia_rabbani-fpsi10 pada 07 August 2012 di kuliah - 0 komentar

Eksistensial : Rollo May

1. Biografi Singkat

Rollo May dilahirkan pada 21 April 1909 di Ohio, Amerika Serikat. Masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan, orang tuanya becerai dan adiknya mengalami gangguan psikotik. Setelah beberapa waktu belajar di Michigan State, May terpaksa harus pindah dan masuk ke Oberlin Cololege di Ohio. Setelah lulus, May pergi ke Yunani dimana dia mengajar Bahasa Inggris di Anatolia College selama tiga tahun. Selama itu, dia menghabiskan waktu sebagai seniman jalanan dan sempat belajar secara singkat dengan Alfred Adler. Ketika May kembali ke Amerika Serikat, dia masuk di Union Theological Seminary dan berteman dengan salah satu gurunya, Paul Tillich, seorang teolog eksistensialis dan orang yang sangat mempengaruhi pemikiran May. Dia kemudian menerima gelar sarjananya pada tahun 1938. Selain itu, karya-karya dari Soren Kiergaard yang merupakan pencetus dari gerakan eksistensial memberikan inspirasi bagi teori-teori Rollo May.

May melanjutkan studi psikoanalisis di White Institute, di mana ia betemu dengan Harry Stack Sullivan dan Erich Fromm. Kemudian ia pergi ke Universitas Columbia di New York, di mana pada tahun 1949 ia menerima gelar PhD pertama dalam psikologi klinis yang pernah diberikan oleh universitasnya. Setelah itu, May mengajar di berbagai sekolah unggulan. Pada 1958, dia menulis buku Existence bersama Ernest Angel dan Henri Ellenberger, yang memperkenalkan psikologi eksistensial ke Amerika Serikat. Dia menghabiskan tahun terakhir hidupnya di Tiburon, California, sampai ia meninggal pada tahun 1994.

2. Ulasan Umum Teori Kepribadian

Konsep dasar yang digunakan May dalam teori yang dikemukakannya adalah konsep eksistensialisme. Sebelum beranjak menuju konsep May, berikut ini merupakan konsep dasar eksistensialisme yang akan mampu membantu kita untuk dapat memahami teori May.

a. Being in the world (mengada dalam dunia)

Ketika ilmuwan mempelajari manusia dari kerangka acuan eksternal, mereka sudah merusak batasan subjek dan dunia eksistensial mereka. Kesatuan dasar pribadi dan lingkungan dapat diartikan eksis di dunia, yang sering disebut dengan being in the world. Banyak orang menderita rasa cemas dan putus asa yang diakibatkan oleh alienasi diri sendiri atau dari dunianya. Mereka tidak memiliki gambaran yang jelas tentang diri mereka sendiri atau mereka merasa terisolasi dari sebuah dunia yang tampaknya jauh dan asing. Saat manusia berjuang untuk meraih penguasaan terhadap alam, mereka menjadi kehilangan sentuhan dalam hubungan mereka dengan dunia alamiah. Ketika mereka menjadi semakin bergantung kepada produk-produk revolusi industri, mereka menjadi lebih teralienasikan dari bintang-bintang, tanah dan laut.

Perasaan terisolasi dan keterasingan diri dari dunia diderita tidak hanya oleh individu yang terganggu secara patologis namun juga individu dalam masyarakat modern. Alienasi adalah penyakit zaman ini, dan dia termanifestasikan di ketiga wilayah ini: (1) keterpisahan dari alam, (2) kekurangan hubungan antarpribadi yang bermakna, (3) keterasingan dari diri yang otentik. Being in the world membagi tiga model manusia yaitu:

i. Umwelt adalah dunia kebutuhan biologis, yaitu dunia objek-objek di sekitar manusia yang bisa mempengaruhi manusia, membuat manusia sakit, menderita, dan tidak berdaya. Umwelt biasa disebut dengan lingkungan (environment).

ii. Mitwelt adalah hubungan manusia dengan manusia lain dalam rangka kebersamaan. Kebersamaan ini berlangsung dalam suatu interaksi yang jauh lebih kompleks, komunikasi yang penuh kebersamaan, dan makna orang lain juga ditentukan oleh hubungan sesama.

iii. Eigentwelt adalah hubungan individu dengan dirinya sendiri, pusat bagi dunia manusia sendiri, dan dari pusat itulah manusia menjalani hubungannya dengan orang lain atau sesama manusia lain. Dalam dunia ini, manusia menjalin keberadaan sebagai subjek yang merefleksikan, mengevaluasi, menilai atau menghakimi dirinya sendiri.

Pribadi yang sehat hidup dalam umwelt, mitwelt, dan eigentwelt sekaligus. Mereka beradaptasi dengan dunia alamiah, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan memiliki kesadaran mendalam tentang apakah makna semua pengalaman ini bagi dirinya.

b. Nonbeing (ketidakadaan)

Being in the world mensyaratkan kesadaran diri sebagai makhluk yang hidup dan eksis. Namun kesadaran ini pada giliranya juga dapat membawa manusia pada kesadaran akan seseuatu yang menakutkan yaitu nonbeing dan nothingness. Untuk memegang apa yang akan dimaknai eksis, manusia perlu memegang lebih dulu fakta bahwa dirinya mungkin tidak eksis, bahwa setiap saat dirinya menghadapi tepi jurang peniadaan dan tidak pernah dapat lari dari fakta bahwa kematian akan datang di momen tertentu yang tidak dapat diketahuinya di masa depan.

Kita masih bisa mengalami nonbeing (ketidakadaan) ini dalam bentuk lain seperti ketagihan pada alkohol atau obat-obatan terlarang, aktivitas seksual yang immoral, atau perilaku-perilaku kompulsif lainnya. Ketidakadaan kita juga dapat diungkapkan sebagai konformitas membuta terhadap ekspektasi masyarakat atau sebagai kebencian umum yang merembesi hubungan kita dengan orang lain.

Rollo May merupakan salah satu tokoh dalam psikologi eksistensial Amerika yang paling terkenal. Ia juga sering disebut sebagai bapak terapi eksistensial. Sebagian besar pemikirannya dapat dipahami dengan membaca teori eksistensialisme secara umum. Terdapat banyak kesamaan antara teori Rollo May dengan teori para psikolog eksistensialis lainnya. Namun, teori Rollo May tidak termasuk ke dalam mainstream psikologi eksistensial utama karena ia lebih dipengaruhi humanisme Amerika daripada Eropa. Di samping itu, Rollo May juga lebih tertarik untuk menggabungkan psikologi eksistensial dengan pendekatan-pendekatan lain, khususnya pendekatan dari Freudian. Begitu juga cara May menggunakan istilah-istilah eksistensialisme tradisional yang cenderung berbeda dengan pemikir lain dan ia juga menemukan istilah-istilah baru untuk ide eksistensial lama.

Rollo May juga merupakan salah satu tokoh psikologi eksistensial yang membicarakan tentang tahap-tahap perkembangan yang berbeda dengan tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Freudian. Tahap- tahap tersebut adalah tahap kepolosan, tahap pemberontakan, tahap awam, dan tahap kreatif. Tahap- tahap yang dikemukakan oleh Rollo May tersebut dikaitkan dengan usia yang hanya berdasarkan pada apa yang sering terjadi, misalnya sifat pemberontak biasanya terjadi di usia 2 tahun sampai usia remaja.

Di lain pihak, May tidak terlalu tertarik dengan kecemasan sebagaimana yang diungkapkan oleh kaum eksistensialis murni. Buku pertama dari May The Meaning of Anxiety mendefinisikan kecemasan sebagai rasa cemas yang dipancing oleh satu ancaman dimana eksistensi seorang individu merasa sangat terganggu sedemikian rupa sebagai sebuah diri. Walaupun pemikirannya tidak dapat digolongkan ke dalam eksistensialis murni, namun May tetap memasukkan kecemasan akan kematian ke dalam teorinya.

May berpendapat bahwa manusia sudah menjadi terasing dari dunia alamiah manusia lain dan yang paling besar adalah menjadi terasing dari dirinya sendiri. May yakin dalam batasan takdir mereka, manusia memiliki kemampuan untuk membuat pilihan bebas. Setiap manusia pasti juga memiliki tujuan untuk bereksistensi. Jika manusia tidak bereksistensi maka ia akan menjadi seorang yang neurosis. Setiap manusia adalah unik, masing-masing dari kita bertanggung jawab untuk membentuk kepribadian kita sendiri dalam batasan-batasan yang ditetapkan oleh takdir.

3. Teori Eksistensialisme Rollo May

a.

Kekosongan, Kesepian dan Kecemasan

Rollo May menyoroti ada tiga masalah utama manusia modern, yaitu kekosongan, kesepian, dan kecemasan.

i. Kekosongan adalah kondisi individu yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Ini banyak dialami dalam masyarakat modern. Mereka hanya bisa merespon, tetapi tidak bisa memilih respon apa yang paling baik untuk dirinya. Contohnya adalah manusia giroskop (takut mati, dengan segala kekuasaan yang dimiliki), apatis, pasivitas dan lain-lain.

ii. Kesepian dialami masyarakat modern karena rutinitas, robotisasi dan alienasi. Mereka takut ditolak oleh sesama, dan memiliki hasrat untuk diterima orang lain. Mereka berkegiatan bersama, seperti pesta, berkumpul, dan lain-lain, namun ini semua bukan didasari oleh kehendak untuk menciptakan kebersamaan dan mendapatkan kehangatan, melainkan semata-mata didasari oleh ketakutan berada sendirian atau ketakutan diisolasi oleh orang lain. Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya.

iii. Kecemasan juga merupakan masalah lain yang dialami manusia modern. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperankan dan dimainkan, serta asas-asas apa yang harus diikuti. Semuanya sudah otomatisasi, globalisasi, efisinsi dan seterusnya. Tetapi manusia juga memiliki kesadaran diri yaitu kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan orang mampu menempatkan dirinya di dalam waktu (masa kini, lampau dan datang). Kecemasan adalah fokus khusus psikologi eksistensial May. Dia menganggap bahwa kecemasan merupakan reaksi yang terjadi karena nilai eksistensi dasar manusia terancam. Walaupun May berfokus pada kecemasan, akan tetapi dia masih melihat setiap usaha yang dilakukan manusia. Kecemasan menurut May digolongkan menjadi dua sifat, yaitu:

a) Kecemasan Normal

Tak seorang pun dapat lepas dari efek-efek kecemasan. Menumbuhkan dan nilai nilai berarti mengalami kecemasan yang konstruktif atau normal. May, mendefinisikan kecemasan normal sebagai sesuatu yang proporsional bagi ancaman, tidak melibatkan represif dan bisa ditentang secara konstruktif di tingkatan sadar. Ketika manusia tumbuh dari bayi sampai usia senja, nilai-nilai mereka berubah dan di setiap langkahnya mengalami kecemasan normal. semua pertumbuhan terdiri atas penyerahan diri yang memicu kecemasan terhadap nilai-nilai masa lalu. Kecemasan normal juga dialami selama momen-momen kreatif ketika seniman, ilmuwan atau filsuf yang tibatiba mendapat sebuah pencerahan yang mengarah kepada pengakuan bahwa hidupnya, dan mungkin hidup banyak orang, akan berubah secara permanen.

b) Kecemasan Neurotik

May mendefinisikan kecemasan neurotik sebagai reaksi tidak proporsional terhadap ancaman, melibatkan represi, dan bentuk-bentuk konflik intrapsikis lainnya, dan diatur oleh beragam jenis pemblokiran aktivitas dan kesadaran. Jika kecemasan normal dirasakan ketika nilai yang dianut terancam, maka kecemasan neurotik dialami ketika nilai ditransformasikan menjadi dogma. Untuk bisa menjadi benar sepenuhnya, iman seseorang harus bisa menyediakan rasa aman temporer, namun rasa aman ini harus dibayar dengan penyerahan kepentingan untuk pembelajaran hal-hal baru dan pertumbuhan pembelajaran.

b.

Rasa Bersalah

Rasa bersalah muncul saat manusia menyangkal potensinya, gagal memahami secara akurat kebutuhan sesamanya, atau masih tetap bersikukuh dengan ketergantungan mereka dengan dunia alamiah (May, 1958). Menurut May, kecemasan dan rasa`bersalah dalam hal ini bukanlah sekedar perasaan yang muncul dari situasi tertentu akan tetapi mengacu pada hakikat kemengadaan.

Rasa bersalah dibedakan menjadi tiga bagian yakni Umwelt, Mitwelt, dan Eigenwelt. (1) Bentuk rasa bersalah Umwelt mengacu pada kurangnya kesadaran akan mengada-dalam-dunia. Rasa besalah ini merupakan hasil dari rasa ketercabutan dari alam. (2) Mitwelt merupakan bentuk rasa bersalah yang berasal dari ketidakmampuan kita memahami secara akurat dunia orang lain. Seringkali kita hanya melihat dari sudut pandang kita sendiri dan jarang bahkan tidak pernah untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Sehingga kita merasa bahwa kita tidak sejalan dengan pemikiran mereka. (3) Bentuk yang ketiga merupakan Eigenwelt yang berupa rasa bersalah terkait dengan kegagalan pemenuhan dan penyangkalan potensi. Rasa bersalah ini merupakan kemunculan atas konflik dengan diri kita sendiri.

c.

Intensionality

Proses pengambilan keputusan membutuhkan kemampuan pengambilan keputusan yang berada diatas sturktur dasar dimana pilihan keputusan tersebut diambil. Struktur yang memberikan makna bagi pengalaman dan mengizinkan manusia melakukan pilihan terhadap masa depan itulah yang disebut dengan intensionalitas ( May, 1969). Tanpa intensionalitas manusia tidak akan pernah bisa memilih atau mengambil keputusan akan pilihan tersebut.

d.

Mitos-Mitos

Rollo May berpendapat bahwa permasalahan terbesar abad 20 ini adalah hilangnya nilai-nilai kehidupan karena terlalu banyak nilai-nilai yang ada di sekitar kita sehingga membuat kita meragukan nilai-nilai tersebut. Setiap orang harus membuat nilai-nilainya sendiri dan untuk membuatnya kita membutuhkan pertolongan yang ditawarkan kepada kita, yang dapat digunakan sesuai keinginan kita. Mitos dapat diartikan sebagai cerita penuntun untuk memahami kehidupan yang kita jalani. Mitos ini dapat disadari maupun tidak disadari dan bersifat kolektif maupun personal. Contoh terbaik dari mitos adalah menjalankan kehidupan kita sesuai dengan ajaran kitab suci.

Mayoritas mitos menjelaskan tentang adanya bantuan tak terduga untuk memenuhi keinginan (pengkhayal) atau melalui kerja keras dan pengorbanan (neo-Puritan). Mitos-mitos yang ada sekarang menyatakan bahwa nilai terbaik adalah ketiadaan nilai. Namun, May berpendapat bahwa kita harus bekerja aktif membuat mitos-mitos baru yang mendukung usaha orang-orang untuk membuat kehidupan mereka menjadi yang terbaik, bukan untuk mengecilkan hati mereka. Gagasan Rollo May ini terlihat baik namun sangat eksistensial. Mayoritas penganut eksistensialisme berpendapat bahwa kenyataan hidup harus dihadapi langsung bukan hanya melalui cara-cara yang ada dalam mitos. Mereka memilih bersikap seperti orang-orang pada umunya yang menyerah sebagai bagian dari kejatuhan, konvensional dan tidak otentik.

4. Dinamika Kepribadian

Dalam usahanya merekonsiliasi teori Freud dan para penganut eksistensialis, May mengubah perhatiannya ke konsep motivasi. Rollo May mencoba menjelaskan tentang motivasi yang kemudian menjelaskan bahwa penyebab dasar motivasi adalah the diamonic. Istilah ini dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem motivasi yang ia yakini pasti berbeda terhadap setiap orang. Daimonic adalah campuran dari insting (biologis), pengalaman (sejarah pribadi, emosi), dan pengaruh lingkungan (budaya, sosial, hubungan keluarga).

Diamonic terdiri dari kumpulan macam-macam motif yang ia sebut sebagai Daimon. Daimon meliputi kebutuhan rendah (kebutuhan dasar) seperti makan, minum dan seks serta kebutuhan tinggi seperti cinta. Situasi dimana daimon dapat mengendalikan keinginan seseorang dari dalam disebut daimonic possession. Jika keseimbangan antar daimon dalam diri seseorang terganggu, maka orang tersebut dapat disebut jahat. Daimon yang paling penting adalah Eros yang diartikan sebagai cinta. Cinta diartikan sebagai kebutuhan individu untuk bersatu dengan orang lain. Eros dapat memiliki sifat baik ketika ia tidak menguasai kepribadian seseorang.

May mengidentifikasi empat jenis cinta, yaitu (1) Seks merupakan hasrat biologis seseorang yang dapat terpuaskan lewat hubungan seksual maupun dengan cara-cara seksual yg lain; (2) Ero merupakan keinginan psikologis, hasrat untuk membangun hubungan menyatu dengan orang lain; (3) Philia merupakan dasar ero, yaitu hubungan intim nonseks yang dijalani oleh dua orang; (4) Agape merupakan hasrat untuk menghargai dan mementingkan kesejahteraan orang lain tanpa pamrih.

Konsep penting lainnya adalah will (kehendak) yang diartikan sebagai pengorganisasian diri manusia terkait pencapaian tujuannya. Kehendak juga dapat mengusai diri seseorang seperti daimon. Pengertian lain dari kehendak adalah kemampuan untuk mewujudkan keinginan atau harapan. Keinginan juga dapat diartikan sebagai imajinasi dari kemungkinan-kemungkinan dan manifesti dari daimon-daimon yang ada. Keinginan-keinginan yang ada berasal dari eros namun kita membutuhkan kehendak untuk mewujudkannya.

5. Tipe Kepribadian

a.

neo-Puritan

Tipe ini dimiliki seseorang ketika semuanya adalah kehendak, bukan cinta. Orang-orang neo-Puritan sangat menjunjung tinggi disiplin diri dan dapat mewujudkan segalanya, namun mereka tidak memiliki keinginan untuk merealisasikan. Mereka akan menjadi perfeksionis.

b.

Infantile (pengkhayal)

Tipe ini memiliki keinginan-keinginan namun tidak memiliki kehendak. Kehidupan orang tipe ini hanya dipenuhi oleh mimpi dan hasrat tanpa memiliki disiplin diri untuk mewujudkan mimpi dan hasratnya. Biasanya, orang tipe pengkhayal ini akan menjadi bergantung pada orang lain dan mudah kompromi dengan keadaan. Mereka memiliki cinta namun tidak banyak berarti untuk mereka sendiri.

c.

Kreative

Tipe ketiga ini merupakan penyeimbang dari dua tipe sebelumnya. May berpendapat bahwa tugas manusia adalah menyatukan cinta dan kehendak. Ide seperti in telah banyak dibahas oleh tokohtokoh lainnya, seperti Otto Rank yang membahas tentang hidup dan mati.

6. Perkembangan Kepribadian

Psikolog Eksistensial kebanyakan tidak merumuskan mengenai tahapan perkembangan. Rollo May merupakan satu-satunya psikolog eksistensial yang membahas tahap perkembangan. Tahap-tahap tersebut yaitu:

a. Innocence atau Kepolosan

Tahap ini dapat disebut sebagai tahap pra-ego atau tahap pra-kesadaran atau tahap pra-moral yang ada di dalam diri seorang bayi yang penilaiannya berada di tengah-tengah, tidak baik maupun jelek. Seorang bayi yang berada dalam tahap ini hanya melakukan suatu tindakan yang memang harus dilakukannya sesuai dengan hasrat untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya.

b. Rebellion atau Pemberontakan

Pada tahap ini, ego atau kesadaran diri pada anak-anak dan remaja mulai berkembang untuk melawan orang dewasa. Perkembangan ini berkembang dari sikap tidak pada anak-anak menjadi tidak sama sekali pada remaja. Seseorang yang berada dalam tahap ini sangat menginginkan kebebasan namun tidak memahami tanggung jawab yang ada dalam kebebasan tersebut. Sebagai contoh, remaja ingin mandiri namun ketika hendak berpergian masih ingin diantar oleh orang tua dan akan marah ketika hal tersebut tidak diwujudkan oleh orang tua mereka.

c. Ordinary atau Awam

Tahap ini sering disebut tahap ego yang berada pada orang dewasa normal yang sifatnya konvensional dan agak membosankan. Pada tahap ini, perasaan tanggung jawab telah ada namun mereka merealisasikannya sebagai beban berat yang harus mereka tanggung. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk keluar dari kekangan nilai konformitas dan tradisional yang ada dalam masyarakat.

d. Creative atau Kreatif

Tahap ini sering disebut sebagai tahap kedewasaan otentik atau tahap eksistensial. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi memaksakan egonya namun telah beranjak untuk mencari dan memenuhi aktualisasi diri. Ciri-ciri orang pada tahap kreatif ini adalah menerima takdir yang ada dan menghadapi kecemasan dengan berani.

Tahap-tahap ini tidak berdasarkan rentang umur tertentu melainkan yang biasanya terjadi pada kebanyakan orang. Sebagai contoh, tahap pemberontakan biasanya terjadi pada anak usia dua tahun hingga remaja. Tahap-tahap ini juga tidak terbatas pada sifat tertentu. Seperti, anak-anak tidak hanya dalam tahap pemberontakan namun bisa saja mereka dalam tahap kepolosan, awam dan kreatif.

7. Contoh Kasus Terkait Teori

a. Alireza Pahlevi adalah anak mantan shah (Raja Iran) Muhammad Reza Pahlevi yang tewas bunuh diri dengan menodong pistol ke kepalanya pada tanggal 4 Januari 2011 di rumahnya, Boston, Amerika Serikat. Ia meninggal dalam usia 44 tahun karena depresi yang berkepanjangan akibat kematian sang ayah dan adiknya Leila Pahlevi karena overdosis.

Ayahnya Muhammad Reza Pahlevi adah shah yang digulingkan saat Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan meninggal di tempat pengasingan di Mesir satu tahun setelah penggulingan. Kematian sang ayah membuat Alireza Pahlevi sedih hingga berlarut-larut. Setelah kematian ayahnya, Alireza dan keluarganya hidup di beberapa Negara di tempat pengungsian. Hal tersebut membuatnya semakin depresi. Ia merasa terhina karena keluarganya hancur karena kepentingan politik dan ia terusir dari tanah kelahirannya hingga tidak bisa kembali.

Kesedihan yang mendalam belum selesai, ia harus menerima kematian adiknya karena overdosis narkoba. Adiknya bunuh diri setelah lama berjuang melawan gangguan percernaan, perasaan tidak diterima kembali dan keharusan mengasingkan diri dari Iran. Alireza menjadi semakin berbeda dan bertambah depresi lagi karena hal itu. Ia tidak bisa mempercayai seorang pun di dunia ini, bahkan dokter kejiwaannya sekalipun. Ia pun memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mimpinya tentang Iran kembali pada sistem monarki yang tak kunjung terwujud, membuatnya semakin putus harapan dan pergi meninggalkan keluarganya dalam kesedihan.

Ia dan keluarganya mengungsi di Williamstown dan ia bersekolah di Mount Greylock Regional High School. Di mata teman-temannya, Alireza adalah seorang yang sangat misterius, pendiam, pemalu, tapi pekerja keras. Ia seperti membuat jarak dengan teman-temanya sehingga tak ada seorangpun yang dekat dengannya. Alireza memperoleh gelar S1 dari Universitas Princeton dan gelar master dari Universitas Columbia. Saat kematiannya, Alireza tengah mengambil studi gelar doktor tentang Filogi dan Iran Kuno di Universitas Harvard. Ia sangat terobsesi dengan kembalinya Iran menjadi negara monarki bahkan ketika ia dalam keadaan mabuk (setengah sadar) hal yang paling sering ia bicarakan adalah mengenai kematian ayahnya dan tentang rezim baru Iran.

Menurut Rollo May, seorang Psikolog beraliran esksistensialis, manusia hidup karena memiliki motivasi atau daimon. Daimon yang dimiliki Alireza Pahlevi adalah eros atau cinta pada Negara Iran. Cintanya pada Iran sangat besar. Wishes atau keinginannya agar Iran kembali ke sistem monarki seperti saat ayahnya berkuasa sangat besar. Ia merasakan kebahagiaan ketika ayahnya berkuasa, tetapi kebahagiaan itu sirna ketika kepentingan politik menghancurkan kekuasaan ayahnya dan secara tidak langsung merebut kebahagiannya. Kematian ayahnya, perasaan terasing di negara orang, dan tidak dapat kembali ke Iran membuat daimon-nya semakin menguasai dirinya sehingga ia mengalami kecemasan neurotik.

Hal tersebut sangat terlihat pada will-nya atau kemampuannya untuk mengatur diri sendiri demi tercapainya wishes yang terlihat pada usahanya mempelajari Iran Kuno saat studi doktor di Universitas Harvard. Sayangnya, will milik Alireza sangat rendah. Ia tidak melakukan pergerakan yang memungkin terjadinya perubahan di Iran seperti masuk ke dalam dunia politik dan menjadi seorang anggota parlemen. Ia memang menginginkan Iran kembali ke sistem monarki tetapi ia tidak mewujudkannya dengan usaha yang yang maksimal. Berdasarkan hal ini, kepribadian Alireza Pahlevi dapat digolongkan dalam tipe Infantile milik Rollo may yaitu orang yang memiliki wishes yang tinggi namun memiliki will yang rendah. Ia memiliki cinta namun cinta tersebut tidak ia gunakan dalam hal yang positif tetapi negatif yang membuatnya terpuruk dalam kesedihan dan mimpi yang tidak terwujud.

Jika saja Alireza dapat mengatasi rasa bersalah yang timbul dalam dirinya, meskipun umwelt-nya atau lingkungannya dalam hal ini tanah air Iran yang tidak menerima dia kembali, ia masih tetap bisa bahagia dan diterima di lingkungan yang baru dengan membangun mitwelt atau hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya seperti memiliki pasangan dan teman dekat. Eigenwelt atau pemaknaan keberadaan Alireza sebagai anggota kerajaan yang terbuang, anak yang kehilangan seorang ayah akibat revolusi, dan kakak yang kehilangan adiknya akibat overdosis seharusnya diperbaiki. Sehingga Alireza tidak perlu melakukan bunuh diri sebagai jalan satu-satunya untuk menghilangkan luka yang mendalam karena hal tersebut.

b. Jesse James adalah mantan suami bintang Hollywood penerima Oscar, Sandra Bullock. Ia terlibat skandal perselingkuhan dengan model tato bernama Michelle Bombshell McGee. Hal itu

terbongkar setelah Sandra Bullock meraih Piala Oscar 2010. Michelle Bombshell McGee mengaku bahwa ia berselingkuh selama 11 bulan dengan Jesse saat Jesse masih berstatus suami Sandra Bullock. McGee mengaku ketika berselingkuh, ia tidak tahu jika Jesse masih menikah. Hubungan keduanya bermula ketika Jesse menemani Sandra syuting The Blind Side dan bertemu dengan McGee. McGee ingin menjadi model di perusahaan Jesse. Ia mulai mengirimkan fotonya ke Jesse melalui email dan sejak saat itu Jesse mengajaknya berkencan.

Jesse berselingkuh dengan McGee demi pemenuhan hasrat sexnya. Ia bisa berhubungan sex dengan McGee lima kali dalam seminggu dan hal tersebut terjadi saat Sandra syuting The Proposal. Jesse mengaku bahwa ia berselingkuh karena memiliki pelecehan dan pengalaman traumatis saat berusia 7 tahun. Ia merasa malu, takut dengan masa kecilnya dan berpikir selingkuh adalah cara yang tepat untuk mengatasinya. Setelah bercerai, Jesse menjalani rehabilitasi di Arizona Sierra Tuscon, untuk mengobati ketakutan dan kecanduan seks yang dialaminya. Belum genap setahun ia bercerai dengan Sandra Bullock, ia sudah bertunangan dengan Kat Von D, seorang seniman tato dan bintang reality show, namun akhirnya kandas juga. Hal tersebut terjadi setelah Kat Von D mengetahui perempuan ke-19 yang menjadi selingkuhan Jesse ketika berhubungan dengannya.

Dalam kasus ini, Jesse James dikuasai oleh daimon-nya yaitu motivasi untuk menghilangkan rasa malu dan takut karena pelecehan di masa kecilnya. Perasaan tersebut muncul ketika ia gagal menyadari bahwa ada atau tidak pengalaman buruk, orang lain bisa menerima kondisinya. Karena rasa malu dan ketakutan akibat pelecehan di masa kecil selalu menghantui dirinya, ia pun nekat berselingkuh dengan McGee ketika masih menjadi suami Sandra sebagai wujud will-nya. Bahkan ketika ia sudah bercerai dan menjalin hubungan baru dengan Kat Von D, ia masih tetap saja berselingkuh dengan wanita lain. Kepribadian Jesse James yang demikian dapat digolongkan dalam tipe neo-Puritan milik Rollo May, yaitu seseorang yang memiliki will atau kemampuan untuk mengatur dirinya demi terwujudnya sebuah tujuan namun tidak memiliki cinta dan wishes atau keingingan. Will-nya sangat besar, terlihat dari ia berselingkuh berulang kali namun ia tidak memiliki cinta yaitu kegembiraan dalam kehadiran orang lain dan untuk menyatakan bahwa nilai dan perkembangan seseorang sebanyak miliknya.

Daftar Pustaka

Berger, Vincent. (2005). Famous Psychologist: Rollo May. Diakses pada 18 November 2011 dari http://www.psychologistanywhereanytime.com/famous_psychologist_and_psychologists/psycholog ist_famous_rollo_may.htm Copyright 2005 Dr Vincent Berger

Boeree, C. George. (2005). Personality Theories. Jogjakarta: Prisma Sophie.

Damayanti, Irina. Kronologi Perselingkuhan Suami Sandra Bullock. Diakses pada 20 November 2011 melalui http://showbiz.vivanews.com/news/read/137257kronologi_perselingkuhan_suami_sandra_bullock

Feist and feist. (2006). Theories of Personality. Boston: McGraw Hill.

Geuntanyao, Abang. Harakiri Alireza Pahlevi Akhiri Cinta dan Kekecewaan Mendalam untuk Iran. Diakses pada 19 November 20011 melalui http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/07/harakirialireza-pahlevi-akhiri-cinta-dan-kekecewaan-mendalam-untuk-iran/-12 Irwansyah, Ade. Pacaran Lagi, Mantan Suami Sandra Bullock Selingkuh dengan 19 Wanita. Diakses pada 20 November 2011 melalui http://www.tabloidbintang.com/barat/gosip/17833-pacaran-lagimantan-suami-sandra-bullock-selingkuh-dengan-19-wanita.html

Kawilarang, Renne R.A, Armandhanu, Denny. Lagi, Anak Raja Iran Bunuh Diri. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://dunia.vivanews.com/news/read/197597-lagi--anak-raja-iran-bunuhdiri,

Kodrati, Finalia. Alasan Suami Sandra Bullock Berselingkuh. Diakses pada 20 November 2011 melalui http://showbiz.vivanews.com/news/read/153819-alasan_suami_sandra_bullock_berselingkuh

Patnistik, Egidus. Putra Mantan Shah Iran Bunuh Diri. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://nasional.kompas.com/read/2011/01/05/08325659/function.simplexml-load-file

Robbins, Brent Dean. (1999). Rollo May. Diakses tanggal 20 November 2011 dari http://mythosandlogos.com/May.html

Their, David. Alireza Pahlavi: The Lonely Life of an Exiled Prince. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://www.aolnews.com/2011/01/08/alireza-pahlavi-the-lonely-life-of-an-exiled-prince/

Tekanan Psikologis: Alireza Pahlevi, Putra Shah Iran Tewas Bunuh Diri. Diakses pada 19 November 2011 melalui http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=269820

BAGAIMANA BENTUK CINTAMU KE DIA ?

Cinta pasti ada (+) dan (-)nya. Tidak usah takut akan kerusakan hubungan kita. cukup mengenali apa bentuk cinta kita ke dia. Aku saat ini menyukai seorang wanita dan betuk cinta saya adalah dua garis sejajar. Nih bentuk2nya:

Bentuk Cinta 1: Lingkaran

Istilah kunonya, Anda dan dia bagai amplop dan perangko, nempel terus! Sampai-sampai banyak yang bilang, di mana ada Anda, di situ pasti ada dia.

(+) Kedekatan Anda berdua patut diacungi jempol. Langkah yang tepat untuk lebih mengenal pribadi pasangan dan belajar menerima kekurangannya.

(-) Upsss tapi bukan berarti tak ada badai, lho. Hubungan superdekat ini berpotensi menimbulkan kejenuhan akibat hubungan yang monoton. Bisa juga membuat Anda terjebak dalam cinta buta dan menganggap si dia adalah segala galanya. Parahnya, bisa menimbulkan krisis kepercayaan bila kedua pihak sedang terpisah jarak.

Trik awet: Buat hubungan lebih berwarna.Sesekali ajaklah rekan lain untukjalan bersama. Jangan ragu untuk meminta pendapat tentang hubungan ini. Berikan kepercayaan dan ruang lebih bagi pasangan untuk menikmati me time-nya.

Bentuk Cinta 2: Persegi

Cinta dewasa, istilah tepat untuk menggambarkan hubungan Anda dan dia. Jauhnya jarak dan atau sedikitnya waktu akibat kesibukan masing-masing tak akan menjadi penghalang untuk tetap menaruh kepercayaan satu sama lain.

(+) Dari luar, hubungan ini mungkin terlihat dingin, tapi sebenarnya Anda dan dia sudah memiliki fondasi kuat untuk terus bersama, yaitu komitmen. Hampir tak ada masalah yang bisa membuat hubungan retak, semua bisa diselesaikan secara bijaksana.

(-) Anda dan dia sama-sama mandiri, memiliki ruang lebih untuk mengembangkan diri. Namun, kemandirian berisiko membuat kedua belah pihak memiliki ego yang tinggi. Anda bisa merasa dapat hidup tanpanya, begitu pun sebaliknya.

Trik awet: Hangatkan hubungan dengan menyiapkan kencan romantis. Jalinlah obrolan hangat agar tetap update tentang perkembangan masing-masing. Komunikasi yang baik akan membuat hubungan ini tak terpisahkan.

Bentuk Cinta 3: Dua garis sejajar

Entah karena fisik atau faktor lain, yang jelas ada hal yang membuat cinta ini begitu membara. Misalnya, ia begitu tergila-gila dengan rambut indah Anda, sedang Anda begitu tergila-gila saat ia mengenakan

busana kerja yang keren itu.

(+) Memiliki ketertarikan terhadap suatu hal dari pasangan merupakan modal awal menuju hubungan yang lebih serius.

(-) Jangan heran bila ia menjadi ilfil saat Anda mengubah gaya rambut yang tak sesuai seleranya, atau hal-hal kecil lain yang sebenarnya tidak penting.Ya, ini semua karena tidak ada ikatan batin yang dalam antara Anda berdua.

Trik awet: Perdalam rasa saling memiliki dengan melakukan kegiatan bersama.Temukan faktor yang membuat Anda berdua nyaman dalam hubungan ini. Terimalah kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pasangan sebagai pribadi yang utuh. Kalau bisa, cintai dia karena karakternya.

Bentuk Cinta 4: Trapesium

It takes two to tango tampaknya tak berlaku bagi hubungan ini. Entah Anda atau dia, yang pasti salah satu pihak merasa terlalu banyak berkorban atau merasa dominan.

(+) Cinta memang butuh pengorbanan. Mengalah kadang diperlukan agar hubungan langgeng, asal dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharap balasan yang sama. Begitu juga dengan sikap dominasi. Apa jadinya bila sebuah kapal memiliki dua nahkoda?

(-) Betapa indahnya bila cinta dibalas dengan cinta. Namun, perbedaan porsi seringkali memicu masalah dalam hubungan ini. Salah satu pihak merasa jauh lebih dominan baik dalam hal mengalah atau memimpin. Sikap ini bisa menjadi bom waktu yang bisa membuat hubungan berantakan atau putus.

Trik awet: Bila ada hal yang tak Anda sukai dari pasangan, misalnya ia gemar memerintah atau selalu mendominasi saat menentukan tempat kencan, segera utarakan. Tak ada salahnya untuk sharing tentang keinginan masing-masing. Dengan begitu, akan tercipta rasa saling pengertian dan istilah it takes two to tango pun bisa diwujudkan.

Bentuk Cinta 5: Segitiga

Ada satu masalah yang bisa memicu pertengkaran hebat dalam hubungan ini, ada orang ketiga yang berpotensi mebuat hubungan retak. Entah mantan, orang baru, atau keluarga.

(+) Ancaman dari orang ketiga bisa dijadikan pelajaran yang baik untuk mengokohkan hubungan, atau mengetahui sedalam apa perasaan Anda berdua. Bila bisa melewati masalah ini, tak ada lagi deh yang namanya putus hanya karena cemburu buta.

(-) Hadirnya orang ketiga sangat berpotensi mengganggu kenyamanan dalam hubungan. Apalagi bila salah satu pihak terbukti tidak setia, berkali-kali pula, ouch! Kalau dibiarkan, kepercayaan bisa luntur seketika.

Trik awet: Bicarakan dengan baik dan segera cari solusi. Bila masalah ini terus berulang, tak ada salahnya untuk mengambil langkah break sejenak untuk mengetahui bagaimana perasaan Anda terhadap pasangan.

Rollo May adalah psikolog [[eksistensial] dari Amerika Serikat paling terkenal.[1][2] Ia melakukan penafsiran ulang dan penyebutan istilah-istilah baru terhadap istilah-istilah lama dalam eksistensialisme, seperti "takdir" yang merupakan padanan dari "keterlemparan" dan "keberanian" yang merupakan padanan dari "otentisitas".[1] May adalah satu-satunya psikolog eksistensial yang membicarakan tahap-tahap perkembangan, namun bukan dalam pengertian Freudian[1]. Tahaptahap tersebut adalah: Tahap Kepolosan yang merupakan tahap pra-kesadaran diri yang ada pada bayi.[1] Kepolosan adalah tahap pra-moral, artinya perilaku yang dilakukan bayi tidak bisa dianggap baik ataupun jelek.[1] Tahap Pemberontakan adalah tahap di mana kesadaran diri anak-anak dan remaja mengalami perkembangan ke arah perlawanan dengan orang dewasa.[1] Pribadi pemberontak menginginkan kebebasan tanpa memahami apa tanggung jawab di balik kebebasan tersebut.[1] Tahap Awam adalah tahap kesadaran diri orang dewasa yang normal.[1] Pribadi tahap ini belajar bertanggungjawab namun merasakan beban yang terlalu berat sehingga berusaha berontak dari nilai-nilai tradisional.[1] Tahap Kreatif adalah tahap kedewasaan yang telah melampaui ego dan berusaha mencari aktualisasi diri.[1] Pribadi di tahap ini adalah orang-orang yang menerima nasib, serta menghadapi kecemasan dengan sikap berani.[1] Referensi ^ a b c d e f g h i j k (Indonesia)George Boeree. 2008. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie. Hal. 339-341. ^ (Inggris)Clifford T. Morgan, et. al. 1986. Introduction to Psychology. New York: McGraw-Hill Inc. P. 692. Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

PSIKOLOGI EKSISTENSIAL Posted on Mei 10, 2012 by sugiyarbini

A. PENGERTIAN

Psikologi Eksistensial yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha perilaku manusia untuk memahami manusia dengan mengatasi jurang pemisah antara subjek dan objek

Aliran psikologi eksistensial tidak terikat pada nama salah seorang pelopor. Psikologi Eksistensial dilaksanakan dengan berbagai variasi, yang semuanya dengan satu atau lain cara yang mengambil inspirasinya dari karya karya ahli falsafah di Eropa Barat ,Seperti Paul Tillich, Martin Heidegger,Jean Paul Sartre, Ludwig Binswanger ,dan Eugene Minkowski. Psikologi Eksistensial sangat menekankan implikasi-implikasi falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia di dunia ini. Promotor-Promotor dari Psikologi Eksistensial di Amerika Serikat adalah Rollo May,Victor E.Frankl,dan Adrian Van Kaam. Psikologi eksistensial berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta ,yang mencakup: kemampuan kesadaran diri ; kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnnya sendiri; tanggung jawab pribadi; kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin ; usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia ; keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain ; kematian ; serta kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin.

B.

KONSEP DASAR PSIKOLOGI EKSISTENSIAL

Konsep konsep dasar dalam suatu eksistensialisme yaitu, antara lain mengada dalam dunia dan ketidakmengadaan. Mengda-dalam-Dunia (Being in the-World)

Kesatuan dasar pribadi dan lingkungan ini di ungkapkan dengan istilah bahasa Jerman Dasein, yang dapat arti harfiahnya hadir di sana. Kalau begitu Dasein dapat diartikan eksis di dunia dan umumnya ditulis dalam frasa mengada dalam-dunia (being in the world).Tanda garis hubung dalam istilah ini menunjukkan kemenyatuan subjek dan objek, pribadi dan dunia. Perasaan terisolasi dan keterasingan-diri daridunia diderita tidak hanya oleh individu yang terganggu secara patologis, tetapi juga oleh banyak idividu di masyarakat wilayah modern. Alienasi adalah penyakit zaman ini, dan dia termanifestasikan di ketiga ini: (1) keterpisahan dari alam, (2) kekurangan hubungan antarpribadi

yang bermakna, dan (3) ketersaingan dari diri yang autentik. Kalau begitu, munusia sebenarnya mengalami tiga mode mengada-dalam-dunia sekaligus, yaitu: Umwelt atau lingkungan di sekitar kita, Minwelt atau hubungan kita dengan orang lain, dan Eigenwelt atau hubungan kita dengan diri sendiri.

Oleh karena itu pribadi yang sehat hidup dalam Umwelt, Mitwelt, dan Eigenwelt sekaligus. Merek beradaptasi dengan dunia alamiah, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan memiliki kesadaran mendalam tentang apakah makna semua pengalaman ini bagi dirinya. (May, 1958a). Ketidak mengadaan (Nonbeing)

Mengada-dalam-dunia mensyaratkan kesadaran diri sebagai makhluk yang hidup dan ksis. Namun kesadaran ini pada gilirannya juga dapat membawa manusia pada kesadaran akan sesuatu yang menakutkan: yaitu ketidakmengadaan (non-beig) atau ketiadaan (nothingness). May (1958,hlm.4748).

Kematian bukan hanya jalan bagi ketidak mengadaan namun juga jalan yang paling jelas. Hidup Menjadi lebih vital, lebih bermakna saat kita mengonfrontasikan kemungkinan dari kematian kita. Rasa takut pada kematian atau ketidak mengadaan sering kali mendorong kita untuk hidup secara defensif dan menerima sedikit dari kehidupan ketimbang jika kita mengonfrontasikan diri dengan masalah ketidak mengadaan kita. Kita mungkin berusaha menghindari ketidak mengadaan yang sangat menakutkan dengan memadamkan kesadaran diri dan dengan menyangkali individualitas kita namun, pilihan-pilihan seperti itu hanya akan menyisakan rasa putus asa dan kehampaan. Kalau begitu, kita sering melarikan diri dan ketakutan akan ketidakmengadaan dengan mengorbankan ekstensi kita yang terbatas. Altematif yang lebih sehat adalah menghadapi ketakterlakkannya kematian dan yang menyadari bahwa ketidakmengadaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kemengadaan.

Konsep Kepribadian Psikologi Eksistensial

Konsep Kepribadian Psikologi Eksistensial Rollow May terdiri dari tiga bagian yaitu Umwelt, Mitwelt, dan Eigenwelt Umwelt atau lingkungan disekitar kita adalah dunia objek dan benda, dan akan tetap eksis sekalipun manusia tidak menyadarinya. Maksudnya adalah dunia alamiah dengan hukum-hukum alamiahnya, mencakup didalamnya dorongan-dorongan biologis seperti rasa lapar dan mengantuk dan fenomena alamiah seperti lahir dan mati.

Minwelt atau hubungan kita dengan orang lain. Kita hidup di dunia bersama manusia yaitu Mitwelt. Maksudnya kita sebagai manusia yang bersosial hendaknya harus berhubungan dengan orang lain sebagai manusia, bukan sebagai benda. Jika kita memperlakukan orang lain sebagai objek, maka kita akan hidup hanya dalam Umwelt. Namun demikian, tidak setiap hubungan Mitwelt mensyaratkan cinta. Sementara itu, Eigenwelt mengacu kepada hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Ini adalah sebuah dunia yang jarang di eksplorasi para teoretisi kepribadian. Hidup dalam Eigenwelt berarti menjadi sadarakan dirinya sebagai makhluk manusia dan memeluk siapa diri kita saat berhubungan dengan dunia benda dan dunia manusia.

Selain konsep dasar mengada dalam dunia dan ketidakmengadaan. May juga menambahkan bahwa; untuk memahami manusia kita harus dapat memahami dan mengamati, menempatkan manusia bagian dari alam itu sendiri, dan tidak mereduksi individu tersebut. Untuk memahami manusia tersebut kita harus dapat memahami dan mengamati, maksud dari pernyataan tersebut yaitu sebagai manusia yang bersosial, apabila ingin memahami orang lain maka kita harus dapat memahami perasaan hatinya secara personal serta mengamati tingkah laku dan kehidupan sekitarnya. Menempatkan manusia bagian dari alam itu sendiri, maksudnya kita sebagai calon koselor harus dapat meyakinkan orang lain agar dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar supaya dapat saling berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, serta meyakinkan bahwa manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Tidak mereduksi individu atau tidak merendahkan, maksudnya kita meyakinkan kepada orang lain agar tidak merendahkan kemampuan dirinya sendiri supaya orang tersebut tidak terjerumus dengan perasaan minder.

C. KONSEP-KONSEP ROLLO MAY

Menurut Rollo May, ada tiga ciri masalah utama manusia modern, yaitu kekosongan, kesepian, dan kecemasan. Kekosongan. Kekosongan adalah kondisi individu yang tidak lagi mengetahui apa yang diinginkannnya, dan tidak lagi memeiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Kekosongan telah mengarahkan individu-individu menjadi outer directed yakni mengarahkan diri pada orang lain dalam rangka mencari pegangan dan petunjuk untuk menentukan hidup.Ciri pertama kekosongan adalah bisa merespon tapi tidak bisa memilih sendiri respon apa yang paling baik bagi masalah-masalahnya. Ciri kedua adalah pasivitas terhadap ligkungan sosial. Ciri ketiga adalah apati terhadap dunia sekitar, atau tidak perduli.

Kesepian Kesepian dialami individu-individu dalam masyarakat sebagai akibat langsung dari kekosongan, keterasingan dari diri sendiri dan sesama. Individu dalam masyarakat modern mengalami ketakutan akan kesepian. Mereka memiliki hasrat yang kuat untuk diterima orang lain, dan memiliki ketakutan yang dalam akan ditolak. Kegiatan menciptakan kebersamaan dengan orang-orang dilandasi oleh ketakutan diisolasi oleh orang lain bukan untuk menciptakan hubungan yang akrab dan hangat. Kecemasan Ketidakmenentuan yang semakin besar dari hari ke hari, tidak bisa tidak telah meningkatkan kecemasan individu dalam masyarakat modern. Kecemasan timbul karena perubahan traumatik yang dialami sebelumnya, yakni hilangnya nilai-nilai persaingan individu yang ditujukan kepada kesejahteraan bersama yang digantikan oleh persaingan antar individu yang eksploitatif, hilangnya penghargaan atas keutuhan pribadi yang digantikan oleh pembagian pribadi menjadi rasionalitas dan emosionalitas (berpikir dianggap baik, mengalami emosi dianggap buruk), hilangnya rasa berharga, rasa bermartabat, dan rasa diri dari individu-individu. Individu yang cemas bingung siapa dirinya dan apa yang harus diperbuatnya.

Perjuangan individu untuk bekerja lewat pengalaman-pengalaman hidup untuk tumbuh menuju manusia yang lebih seutuhnya berkaitan tentang konsep May yaitu kecemasan, rasa bersalah, intensionalitas, perhatian cinta dan kehendak, kebebasan dan takdir, psikopatologi, dan psikoterapi.

1.

Kecemasan

Manusia mengalami kecemasan ketika mereka sadar bahwa eksistensi mereka atau beberapa nilai yang diidentifikasikan oleh dirinya bisa saja hancur. May mengidentifikasikan kecemasan sebagai kondisi subjektif individu yang semakin menyadari bahwa eksistensinya tidak bisa dihancurkan tetapi juga bahwa dia bisa saja jadi tidak-mengada. Kecemasan juga bisa bersifat normal maupun neurotik.

Kecemasan normal diidentifikasikan sebagai sebagai sesuatu yang proporsional bagi ancaman, tidak melibatkan represi, dan bisa ditentang secara konstruktif di tingkatan sadar.

Kecemasan neurotik diidentifikasikan sebagai reaksi tidak proporsional terhadap ancaman, melibatkan represi, dan bentuk-bentuk konflik intrapsikis lainnya, dan diatur oleh beragam jenis pemblokiran aktivitas dan kesadaran.

2.

Rasa Bersalah

Rasa bersalah muncul ketika manusia menyangkal potensinya gagal memahami secara akurat kebutuhan sesamanya atau masih tetap bersikukuh dengan ketergantungan mereka kepada dunia alamiah. Di titik ini rasa bersalah lebih bersifat ontologis artinya mengacu kepada hakekat kemengadaan jadi bukan sekedar perasaan-perasaan yang muncul dari situasi pelanggaran tertentu. Rasa bersalah ontologis memiliki efek positif maupun negatif terhadap kepribadian. Rasa bersalah bisa untuk mengembangkan kerendahan hati yang sehar, membenahi dengan orang lain, menggunakan secara kreatif potensi-potensi kita. Namun bila kita menolak untuk menerima rasa bersalah ontologis maka penolakan tersebut akan segera menjadi kecemasan atau kesedihan.

3.

Intensionalitas

Struktur yang memberikan makna bagi pengalaman dan mengizinkan manusia untuk melakukan pilihan terhadap masa depan disebut intensionalitas. Tanpa intensionalitas manusia tidak bisa memilih atau bertindak berdasarkan pilihan tersebut. Tindakan mensyaratkan intensionalitas sama seperti intensionalitas mensyaratkan tindakan, keduanya tidak terpisahkan. May menggunakan istilah intensonalitas sebagai struktur makna yang memungkinkan kita sebagai subjek melihat dan memahami dunia luar sebagai sesuatu yang objektif

Untuk mengilustrasikannya dengan menggunakan contoh yang sederhana yaitu seornga laki-laki yang duduk di depan mejanya mengamati secarik kertas. Sehingga laki-laki itu bisa menulis diatas kertas tersebut, melipat-lipat kertas tersebut, juga bisa menggambar sesuatu di atas kertas tersebut. Dari ketiga contoh tersebut si laki-laki bergantung kepada intensi-intensinya dan kepada makna yang diberikan terhadap pengalamannya itu.

4.

Perhatian, Cinta, dan Kehendak

Perhatian kepada seseorang berarti menyadari orang itu sebagai sesama manusia, mengidentifikasian diri dengan rasa sakit atau gembira kepada orang tersebut, rasa bersalah atau rasa penyesalan. Perhatian adalah kondisi dimana sesuatu menjadi sangat penting.

May mendefinisikan cinta sebagai kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan penegasan terhadap nilai dan perkembangan mereka sama seperti dirinya sendiri. Tanpa perhatian cinta pun tidak akan ada selain hanya perasaan sentimentil kosong atau nafsu seksual tak terkendali. May mengidentifikasi terdapat empat jenis cinta yaitu seks , eros, filia, agape Seks

Seks adalah fungsi biologis yang dapat dipuaskan lewat hubungan kelamin atau peredaan seksual lainnya. May yakin bahwa masyarakat beranjak dari periode hubungan seks yang berarti dipenuhi oleh rasa bersalah dan kecemasan menuju periode dimana melakukan hubungan seks tidak mendatangkan rasa bersalah dan kecemasan. Eros

Eros adalah hasrat psikologis yang mencari prokresi atau kreasi melalui sebuah penyatuan kekal dengan pribadi yang dicintai. Eros dibangun atas perhatian dan kelembutan. Filia

Filia yaitu persahabatan intim nonseksual di antara dua pribadi. Filia tidak bisa diburu-buru dia memerlukan waktu untuk tumbuh berkembang dan menancapkan akar-akarnya. Agape

Agape adalah cinta yang aluistik. Sejenis cinta spiritual yang mengandung resiko bermain sebagai tuhan.

Selain bentuk-bentuk cinta May menyebut kehendak merupakan kemampuan untuk mengorganisasikan diri sehingga gerakan ke arah tertentu atau kepada tujuan tertentu bisa terjadi.

5.

Kebebasan Dan Takdir

Kebebasan adalah kemungkinan bagi pengubahan, meskipun kita tidak bisa mengetahui kemana perubahan itu berjalan. Kebebasan mensyaratkan kemampuan melabuhkan semua kemungkinan yang berbeda dalam jiwa manusia meskipun tidak begitu jelas di momentum seseorang harus bertindak.May mengakui dua bentuk kebebasan yang pertama kebebasan eksistensial, yang kedua kebebasan esensial. Kebebasan Esistensial

Kebebasan esensial adalah kebebasan bertindak yaitu kebebasan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Kebebasan Esensial

Kebebasan esensial (essensial freedom): yaitu kebebasan mengada (freedom of being). Faktanya, kebebasan eksistensial sering membuat kebebasan esensial lebih sulit dicapai.

Takdir bukan berarti sesuatu yang sudah diatur atau ditetapkan. Takdir adalah destinasi manusia, terminus, dan tujuan. Dalam batasan-batasan takdir kita memiliki kekuatan untuk memilih, dan kekuatan ini mengizinkan kita untuk mengkonfrontasikan dan menentang takdir tersebut. Kita tidak bisa menghapus takdir, namum kita dapat memilih bagaimana cara kita merespons bagaimana kita akan hidup dari talenta-talenta dalam diri sendiri yang tidak menentang kita.

Jadi, kebebasan dan takdir itu saling melahirkan satu sama lain. Saat menentang takdir, kita memperoleh kebebasan, dan saat memperoleh kebebasan, kita dapat mendorong batasan-batasan dalam takdir.

6.

Psikopatologi

May melihat psikopatologi sebagai kurangnya komunikasi-ketidakmampuan untuk mengetahui orang lain dan berbagi diri dengan mereka. Individu-individu yang terganggu secara psikologis menyangkali takdir mereka, karena itu kehilangan kebebasannya. Mereka menghasilkan beragam simton neurotik, tidak meraih kembali kebebasan mereka, malah semakin menenggelamkannya. Simton-simton semakin menyempitkan dunia fenomenologis pribadi sampai ukuran yang bisa diatasi dengan mudah. Pribadi yang kompulsif mengadopsi sebuah rutinitas yang rigid, karenanya menjadikan pilihan baru tidak lagi diperlukan.

Sintom-simtom bisa saja temporer seperti ketika stres mengakibatkan sakit kepala atau mereka bisa relatif permanen seperti ketika pengalaman masih kanak-kanak awal menghasilkan apati dan kekosongan.

7.

Psikoterapi

May yakin bahwa tujuan psikoterapi adalah membuat manusia bebas. Dia berpendapat bahwa terapis yang berkonsentrasi kepada simtom-simtom pasien akan kehilangan gambar yang lebih penting. Simtom-simtom neurosis hanyalah cara melarikan diri dari kebebasan dan indikasi bahwa

potensi batiniah pasien tidak digunakan. Ketika pasien menjadi lebih bebas dan lebih manusiawi, simtom-simtom neurosis mereka biasanya akan hilang dengan sendirinya, kecemasan mereka yang nerurotik akan menjadi kecemasan yang normal, dan rasa bersalah neurotik akan diganti dengan rasa bersalah yang normal. Namun keberhasilan seperti ini hanya sekunder saja dan tidak menjadi tujuan utama terapi. May mengatakan bahwa psikoterapi mestinya lebih difokuskan membantu manusia untuk eksis (mengada), sedangkan simtom-simtom yang menghilang itu hanyalah efek samping dari pengalaman tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abidi, Zaenal. 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Rifeka Aditama

: Bandung

Feist, Jess dan Gregory Feist. 2008. Theoriest Of Personality. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Winkel, W.S. 1991. BK di Institusi Pendidikan. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta

CARA MEMBUAT PACAR MAKIN SAYANG KE KITA

Sayang kepada pasangan atau pacar adalah hal yang mutlak untuk dipertahankan apabila menjalin sebuah hubungan. Namun terkadang, pasangan kita terlihat berubah dan kita merasa dia sudah tidak lagi sayang sama diri kita. Nah, cara membuat pacar semakin sayang kepada kita atau minimal bertahan dengan kita adalah sebagai berikut >>>>>

1. Jangan pernah berubah Maksudnya disini adalah ketika sebelum anda berpacaran dengan do'i, anda adalah seorang yang sangat penuh perjuangan, samapai-sampai harus keringat dan banting tulang ( hehehehe lebay ). Tetapi setelah berpacaran, anda cenderung bersantai dan tidak berjuang lagi. JANGAN seperti itu! Karena pasangan anda merasakan perubahan yang sangat jelas, dan dia berpikiran bahwa anda tidak lagi sayang kepada dia. Akhirnya ia juga memutuskan untuk berubah dan membuat anda merasa tidak disayangi pula. So, jika ingin bertahan dan pacara semakin sayang kepada anda, konsistenlah dengan sikapsikap anda. JANGAN PERNAH BERUBAH BRO/SIST.

2. Jadilah diri anda sendiri Menjadi diri sendiri adalah ha yang berkaitan dengan perlakuan nomor 1 tadi. Hanya saja, pada point ini kam menekankan pada karakter individu. Ketika anda adalah orang yang ambisius, biarkanlah itu tetap ada namun ada saatnya untuk diredam, bukan menghilangkannya. Diri anda sendiri adalah hal yang biasa terlupakan padahal diluar sana banyak wanita yang cocok dengan karakter diri yang anda miliki. So, jika anda sudah memilik kekasih dan ingin bertahan atau ingin membuatnya semakin sayang kepada

anda, maka jadilah diri anda sendiri.

3. Percaya dengan diri anda sendiri Percaya diri yang kami maksuskan disini adalah tetap setia walau hubungan lagi jauh jaraknya. Percaya diri adalah fondasi awal untuk membangun rasa sayang yang terus meningkat dalam suatu hubungan dan kemudian ada ikatan batin yang cocok dari kedua pihak.

4. Sesekali panggil dia dengan nama tengahnya Jika seorang pacar anda bernama putri intan reski yang sehari-harinya dipanggil putri, maka sesekali pangggillah dia dengan sebutan intan. Maka dari hal itu, ia akan merasa aneh dan menjadikannya sebagai pengganti panggilan sayang dalam suatu hubungan.

5. Perkenalkan dengan kerabat dan keluarga Siapa yang tidak senang diperkenalkan dengan orang tua pacarnya? Ini bukan lagi membuat pacar makin sayang, tetapi juga menjadi komitmen yang serius untuk dipertimbangkan kedepannya. Karena kerabat dan keluarga akan terus menanyakan kabar si do'i, otomatis do'i merasa diperhatikan dan merasa diterima dalam keluarga anda. Akhirnya, hal itu membuat dia semakin sayang dengan anda akan keseriusan anda dengan dia.

6. Bawalah ke tempat pertama kali anda bersamanya Ketika anda memiliki tempat pertemuan pertama dengan si do'i, bawalah dia kesana ketika anda merasa dia berubah dan ceritakan kepada dia bahwa anda masih ingin memiliki rasa yang sama seperti waktu pertama jadian.