Anda di halaman 1dari 21

RASCAL321

STATUS PENDERITA Masuk RSAM Pukul : 17 Februari 2012 : 23.05 wib

ANAMNESIS Autoanamnesis dari pasien, tanggal 18 Februari 2012 Pukul 08.30 wib Identitas Nama penderita Jenis kelamin Umur Pekerjaan Pendidikan Agama Suku Alamat No. MR : Islam : Jawa : Labuhan Maringgai : 55769 : Nn. A : Perempuan : 18 tahun : Tidak bekerja : SMA

Riwayat Penyakit Keluhan utama Keluhan tambahan : Nyeri perut hebat pada seluruh bagian perut terutama kanan bawah sejak satu hari yang lalu. : Tidak bisa buang angin, tidak bisa buang air besar, demam, nyeri jika buang air kecil, mual, muntah, perut tegang Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan nyeri perut hebat pada seluruh bagian perut. Nyeri dirasakan seperti diremas-diremas dan menyebar, pasien tidak bisa menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri perut yang diterimanya. Nyeri perut dirasakan sejak satu hari yang lalu. Pada awalnya pasien merasakan nyeri pada perut bagian sebelah Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

kanan bawah seperti diiris-iris. Oleh Ibu pasien, kemudian perut pasien dikerok hingga akhirnya nyeri perut yang dirasakan terasa menyebar ke seluruh perut bahkan akan menghebat jika pasien bergerak atau jika perutnya dipegang. Pasien kemudian juga tiba-tiba mengalami demam tinggi. Pasien juga mengeluhkan selama sakit, perut menjadi tegang dan kembung serta pasien juga tidak dapat buang air besar bahkan buang angin serta nyeri saat buang air kecil. Pasien pun merasa mual- dan muntah. Pasien muntah sebanyak dua kali berwarna kuning kehijauan kira-kira sebanyak gelas setiap muntah. Karena sakitnya pasien pun dibawa ke Rumah Sakit Abdoel Moeloek. Pasien mempunyai riwayat sering makan makanan pedas, dan makan tidak teratur. Pasien tidak ada riwayat kecelakaan atau terpukul benda tumpul pada perut. Pasien juga tidak mengalami demam naik turun > 7 hari sebelum nyeri perut terjadi. Pasien juga tidak mengeluh ada keluhan menstruasi terlambat Riwayat Penyakit Dahulu Pasien sering merasa nyeri pada perut kanan yang hilang timbul pada bagian kanan bawah perut kurang lebih 6 bulan terakhir. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam keluarga dekat pasien tidak ada yang menderita sakit seperti ini. PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan umum Kesadaran TD Nadi Respirasi Suhu Status gizi : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : 110/ 70 mmHg : 90 x/menit, reguler : 24 x/menit : 38,5 C : Cukup

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Status Generalis Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh Pucat Sianosis Ikterus Perdarahan Oedem umum Turgor Lemak bawah kulit Pembesaran KGB generalisata : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : Cukup : Cukup : (-)

KEPALA Bentuk Rambut Kulit Mata Telinga Hidung Mulut : Bulat, simetris : hitam, ikal, tidak mudah dicabut : Tidak ada kelainan : Konjungtiva ananemis, sklera anikterik, kornea jernih, : Bentuk normal, simetris, liang lapang : Bentuk normal, septum deviasi (-), sekret (-) : Bibir kering, sianosis (-), lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang. LEHER Bentuk Trakhea KGB : Simetris : Di tengah : Tidak membesar

THORAKS Bentuk Retraksi suprasternal Retraksi substernal Retraksi intercostal : simetris : (-) : (-) : (-)

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

JANTUNG Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus kordis tidak terlihat : Iktus kordis teraba : Batas atas ICS II midclavicula sinistra Batas jantung kanan ICS IV garis parasternal dextra Batas jantung ICS VI garis midklavikula sinistra Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, reguler, murmur (-) gallop (-)

PARU ANTERIOR KIRI Pergerakan pernafasan simetris Fremitus taktil = kanan Sonor Vesikuler (+) Ronki (-) Wheezing (-) KANAN Pergerakan pernafasan simetris Fremitus taktil = kiri Sonor Vesikuler (+) Ronki (-) Wheezing (-) POSTERIOR KIRI Pergerakan pernafasan simetris Fremitus taktil = kanan Sonor Vesikuler (+) Ronki (-) Wheezing (-) KANAN Pergerakan pernafasan simetris Fremitus taktil = kiri Sonor Vesikuler (+) Ronki (-) Wheezing (-)

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

ABDOMEN (STATUS LOKALIS) Inspeksi Palpasi Perkusi : Perut tegang, kembung, simetris : Nyeri tekan Mc burney (+), nyeri tekan difuss (+) hepar dan lien tidak teraba, defense muscular (+) : hipertimpani, nyeri ketok (+) Auskultasi : Bising usus (-)

GENITALIA EXTERNA Wanita EKSTREMITAS Superior : oedem ( - ), sianosis ( - ), luka ( -)

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Inferior

: oedem ( - ), sianosis ( - ), luka (- )

I.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Lengkap - Hb - Leukosit - Trombosit Kimia Darah Protein Albumin Globulin SGOT SGPT GDS PPT tes Urinalisis pH Glukosa Bilirubin Darah samar Nitrit USG Pada regio iliaca dekstra tampak pelebaran dinding appendix 21 mm membentuk gambaran target, noncompressible, peristaltik (-), lesi hiperechoic distal : 6.5 ::::Berat Jenis Keton Urobilinogen Leukosit : 1.020 :+ ::: 6.65 g/dl : 3,35 g/dl : 2,1 g/dl : 12 : 12 : 69 :Bil Total Bil Direk Ureum Kreatinin CT/BT : 3.26 mg/dl :1.13 mg/dl : 24 mg/dl : 1.12 mg/dl : 2/12 :12.9 g/dl : 19.700 ul : 333.000 Limfosit Monosit : 9.3% : 4.9%

Granulosit :65.4%

Bil Indirek : 2.13 mg/dl

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Kesan : Sesuai dengan gambaran appendisitis akut appendicolith III. RESUME


Riwayat Penyakit Nn. A, 18 tahun, datang dengan keluhan nyeri perut hebat pada seluruh bagian perut terutama kanan bawah sejak satu hari yang lalu. Keluhan disertai dengan tidak bisa buang angin, tidak bisa buang air besar, demam, nyeri jika buang air kecil, mual, muntah, perut tegang. Riwayat dikerok (+), riwayat sering makan makanan pedas dan tidak teratur. Riwayat nyeri perut kanan berulang semenja 6 bulan terakhir. Pasien tidak ada riwayat kecelakaan atau terpukul benda tumpul pada perut. Pasien juga tidak mengalami demam naik turun > 7 hari sebelum nyeri perut terjadi. Riwayat menstruasi terlambat disangkal Status Present Keadaan umum Kesadaran TD Nadi Respirasi Suhu Inspeksi Palpasi : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : 110/ 70 mmHg : 90 x/menit, regular, cukup : 24 x/menit : 38,5 C : Perut tegang, kembung, simetris : Nyeri tekan Mc burney (+), nyeri tekan difuss (+) hepar dan lien sulit dinilai Psoas sign (+), Obturator sign (+), defense muscular (+) Perkusi : hipertimpani, nyeri ketok (+) Auskultasi : Bising usus (-)

Abdomen (Status Lokalis)

Pemeriksaan Penunjang -

Leukosit USG

: 19.700 ul : Kesan : Sesuai dengan gambaran appendisitis

akut appendicolith

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

DIAGNOSIS KERJA AWAL Peritonitis e.c Suspect Apendisitis Gangrenosa DIAGNOSIS BANDING Peritonitis e.c Suspect Perforasi Usus Peritonitis e.c Kehamilan Ektopik Terganggu PEMERIKSAAN ANJURAN BNO 3 posisi

TERAPI Pro Laparotomi Cyto Perbaikan KU Dekompresi Lambung o Pemasangan Dower Catheteter o NGT IVFD RL : D5% XX gtt/menit Cefotaxim 1 gram/12 jam Fumazol IV 500 mg/12 jam Ranitidin amp 2 dd 1

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

FOLLOW UP Subjective 18 Februari 2012 Nyeri perut (+) Buang angin (-) BAB (-) Demam (+) Mual (+) Muntah (-) Perut tegang (+) 19 Februari 2012 Nyeri perut pada bekas jahitan (+) Buang angin (-) BAB (-) Demam (-) Mual (-) Muntah (-) Perut tegang (-) 110/70 88 x/menit 22 x/menit 37,1 C Nyeri tekan diffus (-) Nyeri ketok diffus (-) Defans Muskuler (-) BU (+) lemah Luka baik Post laparomotomi hari I a.i Peritonitis e.c appendicitis gangrenosa Bed rest IVFD RL:D5% gtt 20/menit (mikro) Cefotaxim 1 gram/12 jam Gentamicin 80 mg/12 jam Metronidazol 500/8 jam Pronalgess supp (k/p) Perawatan luka 20 Februari 2012 Nyeri perut pada bekas jahitan (+) Buang angin (-) BAB (-) Demam (-) Mual (-) Muntah (-) Perut tegang (-) 110/70 78 x/menit 22 x/menit 36,8 C Nyeri tekan diffus (-) Nyeri ketok diffus (-) Defans Muskuler (-) BU (+) lemah Luka baik Post laparomotomi hari II a.i Peritonitis e.c appendicitis gangrenosa Bed rest IVFD RL:D5% gtt 20/menit (mikro) Cefotaxim 1 gram/12 jam Gentamicin 80 mg/12 jam Metronidazol 500/8 jam Pronalgess supp (k/p) Perawatan luka

Objective TD Nadi Pernafasan Suhu

120/80 90 x/menit 24 x/menit 38,9 C Nyeri tekan diffus (+) Nyeri ketok diffuse (+) Defans Muskuler (+) BU (-) Peritonitis e.c susp appendicitis gangrenosa Laparotomi dengan Spinal Anasthesi : Appendektomi + reseksi Omentum Th/ post operative Puasa hingga bu (+) IVFD RL:D5% gtt 20/menit (mikro) Cefotaxim 1 gram/12 jam Gentamicin 80 mg/12 jam Metronidazol 500/8 jam Pronalgess supp (k/p) Perawatan luka

Assesment

Planning

II. TINJAUAN PUSTAKA

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

II.1

DEFINISI

Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum)lapisan membran serosa rongga abdomen dan dinding perut sebelah dalam. Peradangan ini merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya, apendisitis, salpingitis), rupture saluran cerna atau dari luka tembus abdomen.Dalam istilah peritonitis meliputi kumpulan tanda dan gejala, di antaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muskular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemik dengan syok sepsis. Peritoneum bereaksi terhadap stimulus patologik dengan respon inflamasi bervariasi, tergantung penyakit yang mendasarinya.

II.2 ETIOLOGI

Bila ditinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Secara umum, infeksi pada abdomen

dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen (lokal). Infeksi peritonitis relatif sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab utama peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

infeksi intraabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika telah terjadi bakteremia. Sekitar 10-30% pasien dengan sirosis dan asites akan mengalami komplikasi seperti ini. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Hal tersebut terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antarmolekul komponen asites. Sembilan puluh persen kasus SBP terjadi akibat infeksi monomikroba. Patogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negatif, yakni 40% Eschericia coli, 7% Klebsiella pneumoniae, spesies Pseudomonas, Proteus, dan gram negatif lainnya sebesar 20%. Sementara bakteri gram positif, yakni Streptococcus pneumoniae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan Staphylococcus sebesar 3%. Pada kurang dari 5% kasus juga ditemukan mikroorganisme anaerob dan dari semua kasus, 10% mengandung infeksi campur beberapa mikroorganisme. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat divertikulitis, volvulus, atau kanker, dan strangulasi kolon asendens.

Tabel 1. Penyebab peritonitis berdasarkan area AREA


Esofagus Keganasan Trauma Iatrogenik

SUMBER

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Lambung

Duodenum

Traktus bilier

Pankreas

Kolon Ascendens

Kolon desendens dan apendiks

Salping uterus dan ovarium

Sindrom Boerhaave Perforasi ulkus peptikum Keganasan (mis. Adenokarsinoma, limfoma, tumor stroma gastrointestinal) Trauma Iatrogenik Perforasi ulkus peptikum Trauma (tumpul dan penetrasi) Iatrogenik Kolesistitis Perforasi batu dari kandung empedu Keganasan Kista duktus koledokus Trauma Iatrogenik Pankreatitis (mis. Alkohol, obatobatan, batu empedu) Trauma Iatrogenik Iskemia kolon Hernia inkarserata Obstruksi loop Penyakit Crohn Keganasan Divertikulum Meckel Trauma Iskemia kolon Divertikulitis Keganasan Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn Apendisitis Volvulus kolon Trauma Iatrogenik Pelvic inflammatory disease Keganasan Trauma

Peritonitis sekunder, bentuk peritonitis yang paling sering terjadi, disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Spektrum patogen infeksius tergantung penyebab asalnya. Berbeda dengan SBP, peritonitis sekunder lebih banyak Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Pada pasien dengan supresi asam lambung dalam waktu panjang, dapat pula terjadi infeksi gram negatif. Kontaminasi kolon, terutama dari bagian distal, dapat melepaskan ratusan bakteri dan jamur. Umumnya peritonitis akan mengandung polimikroba, mengandung gabungan bakteri aerob dan anaerob yang didominasi organisme gram negatif. Sebanyak 15% pasien sirosis dengan asites yang sudah mengalami SBP akan mengalami peritonitis sekunder. Tanda dan gejala pasien ini tidak cukup sensitif dan spesifik untuk membedakan dua jenis peritonitis. Anamnesis yang lengkap, penilaian cairan peritoneal, dan pemeriksaan diagnostik tambahan diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan tata laksana yang tepat untuk pasien seperti ini. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah:
1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Yang sering

menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati.
2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan

kegiatan seksual
3. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh

beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia) Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

4. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut

(asites) dan mengalami infeksi


5. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada kandung

empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
6. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan

peritonitis. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.
7. Iritasi tanpa infeksi; Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut)

atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, sering bukan berasal dari kelainan organ. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmon, dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier timbul lebih sering ada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pada pasien yang imunokompromais. Meskipun jarang ditemui bentuk infeksi peritoneal tanpa komplikasi, insiden terjadi peritonitis tersier yang membutuhkan IVU akibat infeksi abdomen berat tergolong tinggi di USA, yakni 50-74%. Lebih dari 95% pasien peritonitis didahului dengan asites, dan lebih dari setengah pasien mengalami gejala klinis yang sangat mirip asites. Kebanyakan pasien Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

memiliki riwayat sirosis, dan biasanya tidak diduga akan mengalami peritonitis tersier. Selain peritonitis tersier, peritonitis TB juga merupakan bentuk yang sering terjadi, sebagai salah satu komplikasi penyakit TB. Selain tiga bentuk di atas, terdapat pula bentuk peritonitis lain, yakni peritonitis steril atau kimiawi. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahanbahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (mis. Penyakit Crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. Tanda dan gejala klinis serta metode diagnostik dan pendekatan ke pasien peritonitis steril tidak berbeda dengan peritonitis infektif lainnya.

II.3 PATOFISIOLOGI

Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Bila bahan-bahan infeksi tersebar luas pada pemukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oliguri. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intraabdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak, tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen-kompartemen yang kita kenal sebagai abses. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen, peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur, misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi Bacteroides fragilis dan bakteri gram negatif, terutama E. coli. Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis menunjukkan jumlah Candida albicans yang relatif tinggi, sehingga dengan menggunakan skor APACHE II (acute physiology and cronic health evaluation) diperoleh mortalitas tinggi, 52%, akibat kandidosis tersebut. Saat ini peritonitis juga diteliti lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ failure (MOF).

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

II.4 MANIFESTASI KLINIK

Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Biasanya penderita muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di perutnya. Bisa terbentuk satu atau beberapa abses. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat. Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum. Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru, ginjal atau hati dan bekuan darah yang menyebar.

II.5 DIAGNOSA MEDIK

Diagnosis peritonitis biasanya ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu, misalnya perforasi lambung, duodenum, pankreatitis akut yang berat, atau iskemia usus, nyeri abdomennya berlangsung luas di berbagai lokasii. Tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya, yakni demam tinggi, atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi, hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Dinding perut akan terasa tegang, biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasi yang menyakitkan, atau bisa juga memang tegang karena iritasi peritoneum. Nyeri ini kadang samar dengan nyeri akibat apendisitis yang biasanya di bagian kanan perut, atau kadang samar juga dengan nyeri akibat abses yang terlokalisasi dengan baik. Pada penderita wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatory disease, namun pemeriksaan ini jarang dilakukan pada keadaan peritonitis yang akut. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa saja jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi, (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma kranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesik), penderita dengan paraplegia, dan penderita geriatri. Penderita tersebut sering merasakan nyeri yang hebat di perut meskipun tidak terdapat infeksi di perutnya. Foto rontgen diambil dalam posisi berbaring dan berdiri. Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat pada foto rontgen dan merupakan petunjuk adanya perforasi. Kadang-kadang sebuah jarum digunakan untuk

mengeluarkan cairan dari rongga perut, yang akan diperiksa di laboratorium, untuk mengidentifikasi kuman penyebab infeksi dan memeriksa kepekaannya terhadap berbagai antibiotika. Pembedahan eksplorasi merupakan teknik diagnostik yang paling dapat dipercaya.

II.6 PENATALAKSANAAN

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Penggantian cairan, koloid dan elektrolit adalah fokus utama dari penatalaksanaan medis. Beberapa liter larutan isotonik diberikan. Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan dan elektrolit bergerak dari lumen usus ke dalam rongga peritoneal dan menurunkan caran ke dalam ruang vaskuler. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri. Antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Intubasi usus dan pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan meningkatkan fungsi usus. Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan yang membatasi ekspansi paru dan menyebabkan distress pernapasan. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang intubasi jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan. Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab. Tindakan pembedahan diarahkan kepada eksisi terutama bila terdapat apendisitis, reseksi dengan atau tanpa anastomosis (usus), memperbaiki pada ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis dan drainase pada abses. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Akhir-akhir ini drainase dengan panduan CT-scan dan USG merupakan pilihan tindakan nonoperatif yang mulai gencar dilakukan karena tidak terlalu invasif, namun terapi ini lebih bersifat komplementer, bukan kompetitif dibanding laparoskopi, karena seringkali letak luka atau abses tidak terlalu

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

jelas

sehingga

hasilnya

tidak

optimal.

Sebaliknya,

pembedahan

memungkinkan lokalisasi peradangan yang jelas, kemudian dilakukan eliminasi kuman dan inokulum peradangan tersebut, hingga rongga perut benar-benar bersih dari kuman.

II.7 KOMPLIKASI

Dua komplikasi pasca operasi paling umum adalah eviserasi luka dan pembentukan abses. Komplikasi pembedahan dengan laparotomi eksplorasi memang tidak sedikit. Secara bedah dapat terjadi trauma di peritoneum, fistula enterokutan, kematian di meja operasi, atau peritonitis berulang jika pembersihan kuman tidak adekuat. Namun secara medis, penderita yang mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi membutuhkan narkose dan perawatan intensif yang lebih lama. Perawatan inilah yang sering menimbulkan komplikasi, bisa berupa pneumonia akibat pemasangan ventilator, sepsis, hingga kegagalan reanimasi dari status narkose penderita pascaoperasi.

II.8 PROGNOSIS

Baik pada bentuk peritonitis local dan ringan dan mematikan pada peritonitis umum akibat organisme virulen. DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009.Peritonitis (radang selaput rongga perut). http://medicastore.com/penyakit/497 Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.html. Diakses tanggal 23 Februari 2012. Bhimji,Shabir,MD.2010.Peritonitis.http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/arti cle/001335.htm. Diakses tanggal 22 Februari 2012. Dugdale, David C. 2010. Peritonitis Spontaneus. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000648.htm. Diakses tanggal 22 Februari 2012 Swartz MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Alih Bahasa : Lukmanto P, Maulany R.F, Tambajong J. Jakarta : EGC, 1995. pp. 276-8

CASE REPORT PERITONITIS ET CAUSA APPENDISITIS GANGRENOSA

Untuk orang yang aku cintai SHT

RASCAL321

Oleh : Rosalin Yuniarti Maruf 0718011081

Perseptor : Dr. Yuzar H. Sp. B

SMF BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDOEL MOELOEK 2012

Untuk orang yang aku cintai SHT