P. 1
Prof. DR. Dr. David S. Perdanakusuma, SpBP(K)

Prof. DR. Dr. David S. Perdanakusuma, SpBP(K)

|Views: 106|Likes:
Dipublikasikan oleh anas_pisces
ok
ok

More info:

Published by: anas_pisces on Feb 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

Prof. DR. Dr. David S.

Perdanakusuma, SpBP(K)

http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2009/edisi-08-2009/88-profil/...

Beranda

Dari Redaksi

Editorial

Saripati

Artikel

Kolom

Suplemen

Menu Tentang Kami Profil Kepengurusan Pedoman Penulisan Distribusi Berlangganan Tarif Iklan Hubungi Kami Dari Anda

|

Edisi No 08 Vol XXXV - 2009 - Profil

Prof. DR. Dr. David S. Perdanakusuma, SpBP(K)

Penanganan Luka Secara Tepat Sesuai Dengan Jenis Luka
Prof. DR. Dr. David S. Perdanakusuma, SpBP (K) adalah seorang Guru Besar Ilmu Bedah Plastik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Beliau lahir pada 5 Maret 1960 di Singkawang dan mulai pendidikannya di bangku Sekolah Dasar di Pontianak pada 1972, SMP di Pontianak pada 1975, dilanjutkan dengan SMA di Bandung pada 1979. Pendidikan Kedokteran diawalinya di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, dan lulus pada 1988. Setelah itu, beliau meneruskan minatnya pada bidang ilmu Bedah Plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta dan lulus pada 1997. Setelah lulus sebagai ahli bedah plastik, beliau meneruskan pendidikannya di Program Doktor Ilmu Kedokteran Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, dan lulus pada 2003. Selanjutnya, Prof. David ditetapkan sebagai konsultan Ilmu Bedah Plastik Kolegium Ilmu Bedah Plastik Indonesia pada 2006. Hingga saat ini, Prof. David masih aktif berperan sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Wakil Kepala SMF Bedah Plastik RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Di tengah-tengah kesibukan beliau saat memberikan seminar pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Bedah, dengan senang hati beliau menyediakan waktunya untuk diwawancarai MEDIKA. Dalam kesempatan wawancara tersebut, Prof. David menjelaskan tentang prinsip penanganan luka yang seharusnya diterapkan di berbagai pusat pelayanan kesehatan di Indonesia. Beliau melihat bahwa tindakan yang dilakukan oleh banyak tenaga kesehatan dalam menangani luka masih perlu dikoreksi, karena perawatan luka yang dilakukan tetaplah sama, tanpa melihat jenis lukanya. Dari 1012 rumah sakit yang tersebar di Indonesia, baru 25 rumah sakit yang sudah menerapkan modern wound care atau sekitar 2,47%. Di Surabaya sendiri, hanya 3 dari 30 rumah sakit atau sekitar 10% yang sudah menerapkan modern wound care. Hal ini merupakan bukti ketertinggalan Indonesia dalam perhatian penanganan luka dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore. Ketertarikan beliau terhadap penanganan luka ini dimulai sekitar tahun 2000, ketika beliau hendak membahas disertasinya tentang keloid dengan seorang profesor di Amerika yang berkiprah di Wound Healing Society pada pertemuan ilmiah di Alburquerque. Beliau menjelaskan bahwa luka secara dasar terdiri dari dua macam, yaitu luka akut dan luka kronik. Luka dapat dibagi juga menjadi enam macam, yaitu luka akut, luka nekrotik, luka slough, luka infeksi, luka granulasi, dan luka epithelialisasi. Luka yang disebutkan Prof. David tersebut memiliki tampilan masing-masing, yaitu luka nekrotik yang berwarna hitam dan kering, luka slough yang berwarna kuning dan basah, luka infeksi yang ditandai dengan cairan kuning kehijauan (pus), luka granulasi yang berwarna merah basah, serta luka epithelialisasi yang berwarna merah muda. Masing-masing jenis luka tersebut haruslah dirawat sesuai dengan keadaannya masing-masing. Dengan kata lain, prinsip penanganan luka sebaiknya adalah bahwa “menangani luka janganlah seragam”. Selain itu, beliau juga menerapkan bahwa sebaiknya apabila luka terlihat basah maka luka tersebut dikeringkan. Begitu pun sebaliknya, luka yang terlihat kering harus dibasahi atau dibikin lembab. Dengan prinsip ini, diharapkan penyembuhan luka dapat terjadi dengan lebih cepat. Dalam penanganan luka, sudah umum diketahui bahwa salah satu yang harus dilakukan adalah tindakan debridement. Debridement bertujuan untuk membuat luka menjadi bersih sehingga mengurangi kontaminasi pada luka dan mencegah terjadinya infeksi. Debridement, menurut Prof. David, bisa dilakukan dengan beberapa cara, dari yang kurang invasif hingga invasif, yaitu debridement secara biologik, mekanik, otolitik, enzimatik, dan surgical. Beliau juga menyarankan agar seyogyanya menggunakan berbagai macam wound dressing modern sesuai dengan jenis luka yang saat ini sudah tersedia di Indonesia. Karena, menurut pengalaman beliau, meskipun harganya sedikit lebih mahal tetapi apabila biaya perawatan luka dilihat secara jangka panjang maka biaya yang dikeluarkan sebenarnya lebih rendah tujuh kali lipat dibanding menggunakan kasa biasa. Hal ini terjadi karena proses penyembuhan luka yang lebih cepat serta penggantian dressing yang lebih jarang. Akan tetapi, karena ketersediaan wound dressing modern yang masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia, beliau setidaknya menghimbau kepada seluruh tenaga kesehatan di Indonesia, terutama di daerah perifer, untuk mengerti konsep penanganan luka secara tepat dan merawat luka sesuai dengan tampilan luka tersebut. Kembali beliau menegaskan bahwa menangani luka janganlah seragam. Beliau berharap dengan diadakannya pembahasan penanganan luka pada Pertemuan Ilmiah Ilmu Bedah, para tenaga

Edisi Edisi Terbaru Edisi Tahun 2012 Edisi Tahun 2011 Edisi Tahun 2010 Edisi Tahun 2009 Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 Edisi No 11 Vol XXXV - 2009 Edisi No 10 Vol XXXV - 2009 Edisi No 09 Vol XXXV - 2009 Edisi No 08 Vol XXXV - 2009 Edisi No 07 Vol XXXV - 2009

Translate

Powered by

Translate

1 of 2

1/2/2013 6:12 PM

beliau juga sangat mengharapkan partisipasi semua tenaga kesehatan dari segala bidang. Ahli bedah juga yang paling berpotensi membuat luka pada jaringan sehat pasien. hingga pasien yang mempunyai pengalaman tentang luka. maupun spesialis. DR. 2 of 2 1/2/2013 6:12 PM . dokter umum.. Tetapi. yang paling banyak menemui kasus luka. Karena itu. otomatis akan menjadi anggota Asian Wound Healing Society. bukan bersifat pribadi.jurnalmedika. David sangat berharap agar suatu saat di Indonesia akan terbentuk Wound Healing Society (WHS). Best viewed with modern browsers. Perdanakusuma. Website by BH2. karena keanggotaan Asian Wound Healing Society adalah negara.Prof. Dr. 2007 Peningkatan Kandungan Cadmium pada Ikan Laut di Tempat Pelelangan Samudra Muara Baru Aktivitas Cistus incanus Sebagai Anti Influenza Tata Laksana Penanganan Varises Tungkai Curcumin sebagai Terapi Pendamping untuk Kanker Penatalaksanaan Terkini Kanker Kolorektal Terapi Syok Septik yang Adekuat untuk Mencegah Acute Kidney Injury Penanganan Bayi yang Lahir dari Ibu HIV Positif di RSUD TC Hillers. Maumere. SpBP(K) http://www. Oleh karena itu. Dengan terbentuknya Wound Healing Society (WHS) di Indonesia. NTT Tinjauan Farmakologis Nikotin Rokok Pelayanan Terpadu Hemofilia: Manfaat dan Strategi Pengembangan Efektivitas dan Keamanan Terapi Topikal Butoconazole Nitrat 2% pada Penatalaksanaan Kandidiasis Vulvovaginalis Tautan: Ikatan Dokter Indonesia | Rumah Sakit Dharmais | Yayasan Kanker Indonesia | Indonesian Journal of Cancer Copyright © 2009-2011 Jurnal Medika. Prof. David S.com/edisi-tahun-2009/edisi-08-2009/88-profil/. All rights reserved. dari perawat. (Harya) Artikel Kegiatan Lain-lain Terbaru Populer Terbaru Populer Terbaru Populer Dislipidemia Tes Penapisan Fungsi Kognitif pada Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia Efektivitas Insektisida Malathion Dalam Pengendalian Nyamuk Aedes aegypty di Kota Bau-Bau. dengan belum terbentuknya Indonesian Wound Healing Society maka keanggotaannya menunggu sampai terbentuknya Indonesian Wound Healing Society. Secara pribadi.. saya ikut dalam pembentukan dan inagurasi Asian Wound Healing Society. Penanganan luka sebenarnya mencakup bidang multidisiplin.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->