Anda di halaman 1dari 16

I.

Judul Kasus Analisis kandungan paracetamol pada jamu Serbuk Asam Urat Nyeri Tulang Cap Gunung Krakatau

II.

Sumber Informasi Berdasarkan hasil pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sampai dengan Juli 2011, ditemukan 21 obat tradisional mengandung bahan kimia obat (BKO), 20 di antaranya merupakan obat tradisional tidak terdaftar atau ilegal. Kepala BPOM Kustantinah menjelaskan, obat tradisional yang ditemukan mengandung BKO itu adalah Poten-Zhi kapsul TR042337421 produksi/diimpor oleh PT Daxen Indonesia, Bogor; Asam Urat Nyeri Tulang Cap Gunung Krakatau Serbuk dari Citra Herbindo Utama, Jakarta; Buah Naga Kapsul dari Lebah Makasar; Dewa Dewi Kapsul dari PJ. Kurnia, Jateng; Jamu Cap Putri Sakti Penyehat Badan dari CV. Putri Sakti Husada, Jawa Timur dan Jamu Tradisional Jawa Asli Cap Putri Sakti dari CV Putri Sakti Husada, Jawa Timur. Di samping itu, Kapsul Telat Bulan (Tiauw Keng Poo Sae) dari Tabib Jaya Sakti, Jateng; Kuat Tahan Lama Surabaya Madura Serbuk dari PJ. Racikan Madura; Lebah Mutiara Asam Urat Kapsul dari Perusahaan Jamu Tradisional Solo; Lebah Mutiara Gatal-Gatal Kapsul dari Perusahaan Jamu Tradisional Solo; Linu Rat Kapsul dari PJ Sido Mekar; MD dan SM Obat Asam Urat Nyeri Tulang/Sendi Cicunguya Kapsul dari PJ Ramuan Dayak dan Obat Kuat dan Tahan Lama Powerman kapsul dari Indo Alam Perkasa, Denpasar. Selain itu, Obat Kuat dan Tahan Lama X Kapsul dari PJ Husodo Jaya; Pil Anti Sakit Gigi Plus Pak Tani tablet dari Sari Tani JAteng; Prima Setia kapsul dari CV. Manshuba Indo HErba, Jakarta; Scorpion kapsul dari PJ Sinar Makmur, Madura; Spider kapsul dari PJ Sinar Makmur, Madura; Tangkur Cobra Laut kapsul dari PJ Bima Perkasa; Tiger Fit Asam Urat Flu Tulang Kapsul dari Akar Tiongkok Indonesia dan Power Up kapsul dari Tibet Sheng Yang Bioengineering Ltd/PT Woo Tekh Indonesia. "Sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut, kami dan pihak berwajib akan melakukan penarikan produk dari peredaran dan pemusnahan produk serta

pencabutan nomor registrasi untuk yang telah terdaftar," ujar dia di Jakarta, kemarin. III. Pendahuluan

III.1 Latar Belakang Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pada kenyataannya bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional (OT) hampir selalu identik dengan tanaman obat (TO) karena sebagian besar OT berasal dari TO. Obat tradisional ini (baik berupa jamu maupun TO) masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama dari kalangan menengah kebawah. Bahkan dari masa ke masa OT mengalami perkembangan yang semakin meningkat, terlebih dengan munculnya isu kembali ke alam (back to nature) serta krisis yang berkepanjangan. Namun demikian dalam perkembangannya sering dijumpai ketidaktepatan penggunaan OT karena kesalahan informasi maupun anggapan keliru terhadap OT dan cara penggunaannya. Dari segi efek

samping memang diakui bahwa obat alam/OT memiliki efek samping relatif kecil dibandingkan obat modern, tetapi perlu diperhatikan bila ditinjau dari kepastian bahan aktif dan konsistensinya yang belum dijamin terutama untuk penggunaan secara rutin. Namun sekarang, banyak ditemukan obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat. Penambahan bahan kimia obat sembarangan dan secara liar itu berbahaya bagi kesehatan. Fenilbutason sebagai antirematik misalnya, jika digunakan sembarangan menyebabkan ruam, muntah, pendarahan lambung, penimbunan cairan, reaksi hipersensitifitas, anemia aplastik, bahkan gagal ginjal. Sedangkan, penggunaan Parasetamol sebagai penghilang rasa sakit dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan hati. Pemakaian sembarangan P iroksikam sebagai penghilang rasa sakit menyebabkan diare, penglihatan kabur, anoreksia, dan hipertensi.

Oleh karena itu, studi kasus ini diperlukan untuk mengetahui jenis-jenis obat tradisonal yang telah beredar di masyarakat yang mengandung bahan kimia obat, baik yang sudah ditarik maupun yang belum. III.2 Tujuan Studi kasus ini dilakukan untuk mengetahui jenis bahan kimia obat yang terdapat dalam suatu produk jamu atau obat tradisional sehingga ditarik dari peredaran dan dapat mengetahuia cara analisis bahan kimia tersebut. IV. Tinjauan Pustaka Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk

pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. (1) Obat tradisional dilarang mengandung: a. Etil alkohol lebih dari 1%, kecuali dalam bentuk sediaan tingtur yang pemakaiannya dengan pengenceran; b. Bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat; c. d. Narkotika atau psikotropika; dan/atau Bahan lain yang berdasarkan pertimbangan kesehatan dan/atau

berdasarkan penelitian membahayakan kesehatan. (2) Sampai saat ini Badan POM masih menemukan beberapa produk obat tradisional yang didalamnya dicampuri bahan kimia obat (BKO). BKO di dalam obat tradisional inilah yang menjadi selling point bagi produsen Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya pengetahuan produsen akan bahaya mengkonsumsi bahan kimia obat secara tidak terkontrol baik dosis maupun cara penggunaannya atau bahkan semata-mata demi meningkatkan

penjualan karena konsumen menyukai produk obat tradisional yang bereaksi cepat pada tubuh. Konsumen yang tidak menyadari adanya bahaya dari obat tradisional yang dikonsumsinya, apalagi memperhatikan adanya kontra indikasi penggunaan beberapa bahan kimia bagi penderita penyakit tertentu

maupun interaksi bahan obat yang terjadi apabila pengguna obat tradisional sedang mengkonsumsi obat lain, tentunya sangat membahayakan. Untuk itulah Badan POM secara berkesinambungan melakukan pengawasan yang antara lain dilakukan melalui inspeksi pada sarana distribusi serta pengawasan produk di peredaran dengan cara sampling dan pengujian laboratorium terhadap produk yang beredar. Informasi adanya BKO didalam obat tradisional juga bisa diperoleh berdasarkan laporan / pengaduan konsumen maupun laporan dari Yayasan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (Yabpeknas).

Beberapa Persyaratan Obat Tradisional Untuk serbuk (berupa butiran homogen dengan derajat halus yang cocok; bahan bakunya berupa simplisia/bahan kering): 1. Kadar air tidak lebih dari 10% 2. Angka kapang (semacam jamur yang biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak di olah), dan khamir (ragi) tidak lebih dari 10 3. Mikroba patogennya negatif/nol 4. Aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj (bagian per juta). 5. Serbuk dengan bahan baku simplisia dilarang ditambahkan bahan pengawet dan bahan kimia obat 6. Wadah tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari.
Menurut temuan Badan POM, obat tradisional yang sering dicemari BKO umumnya adalah obat tradisional yang digunakan pada:

Klaim

kegunaan

Obat tradisional Pegal linu / encok / rematik Pelangsing :

BKO yang sering ditambahkan Fenilbutason, antalgin, diklofenak sodium, piroksikam, parasetamol, prednison, atau deksametason

: Sibutramin hidroklorida

Peningkat stamina / obat kuat pria Kencing diabetes Sesak nafas / asma manis /

: Sildenafil Sitrat

: Glibenklamid : Teofilin

Bahaya macam-macam BKO yang sering dicampurkan kedalam obat tradisional: BKO yang sering dicampurkan ke dalam obat tradisional dan bahayanya adalah sebagai berikut : 1. Fenilbutazon Efek samping : Timbul rasa tidak nyaman pada saluran cerna, mual, diare, kadang pendarahan dan tukak, reaksi hipersensifitas terutama angio edema dan bronkospasme, sakit kepala, pusing, vertigo, gangguan pendengaran, fotosensifitas dan hematuria. Paroritis, stomatitis, gondong, panareatitis, hepatitis, nefritis, gangguan penglihatan, leukopenia jarang, trombositopenia, agranulositosis,

anemia aplastik, eritema multifoema 9 syndroma Steven Johnson, nekrolisis epidermal toksis (lyll), toksis paru-paru.

2.

Antalgin (Metampiron) Efek samping :Pada pemakaian jangka panjang dapat menimbulkan agranulositosis.

3.

Deksametason Efek Samping : Glukokortikoid meliputi diabetes dan osteoporosis yang berbahaya bagi usia lanjut. Dapat terjadi gangguan mental, euphoria dan myopagh. Pada anak-anak kortikosteroid dapat menimbulkan gangguan

pertumbuhan, sedangkan pada wanita hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan adrenal anak.

Mineralokortikoid adalah hipertensi, pretensi Natrium dan cairan serta hypokalemia.

4.

Prednison Efek samping : Gejala saluran cerna : mual, cegukan, dyspepsia, tukak peptic, perut kembang, pancreatitis akut, tukak oesofagus, candidiasis. Gejala musculoskeletal : miopatiproximal, osteoporosis, osteonekrosis avaskuler. Gejala endokrin : gangguan haid, gangguan keseimbangan Nitrogen dan kalsium, kepekaan terhadap dan beratnya infeksi bertambah. Gejala neuropsikiatri : euphoria, ketergantungan psikis, depresi, insomnia, psikosis, memberatnya shizoprenia dan epilepsy. Gejala pada mata : glaucoma, penipisan kornea dan sclera, kambuhnya infeksi virus atau jamur di mata. Gejala lainnya : gangguan penyembuhan, atrofi kulit, lebam, acne, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, leukositosis, reaksi hipersensitif (termasuk anafilaksis), tromboemboli, lesu.

5.

Teofilin Efek samping :Takikardia, palpitasi, mual, gangguan saluran cerna, sakit kepala, insomnia dan aritmia.

6.

Hidroklortiazid (HCT) Efek samping :Hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang ringan, impotensi (reversible bila obat dihentikan), hipokalimia,

hipomagnesemia, hipoatremia, hiperkalsemia, alkalosis, hipokloremik, hiperurisemia, pirai, hiperglikemia dan peningkat kadar kolesterol plasma.

7.

Furosemid Efek samping :Hiponatremia, hipokalemia, hipomagnesia, alkalosis, hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat, hipotensi, gangguan saluran

cerna,

hiperurisemia,

pirai,

hiperglikemia,

kadar

kolesterol

dan

trigliserida plasma meningkat sementara.

8.

Glibenklamid Efek samping : Umumnya ringan dan frekuensinya rendah diantaranya gejala saluran cerna dan sakit kepala.M Gejala hematology trombositopeni dan agranulositosis.

9.

Siproheptadin Efek samping :Mual, muntah, mulut kering, diare, anemia hemolitik, leukopenia, agranulositosis dan trombositopenia.

10.

Chlorpeniramin maleat (CTM) Efek samping :Sedasi, gangguan saluran cerna, efek anti muskarinik, hipotensi, kelemahan otot, tinitus, euphoria, nyeri kepala, stimulasi SSP, reaksi alergi dankelainan darah.

11.

Parasetamol Efek samping :Jarang, kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut dan kerusakan hati setelah over dosis.

12.

Diclofenac sodium Efek samping :

Gangguan terhadap lambung, sakit kepala, gugup, kulit kemerahan, bengkak, depresi, ngantuk tapi tidak bias tidur, pandangan kabur, gangguan mata, tinitus, pruritus. Untuk hipersensitif : menimbulkan gangguan ginjal, gangguan darah.

13.

Sildenafil Sitrat Efek samping :Dyspepsia, sakit kepala, flushing, pusing, gangguan penglihatan, kongesti hidung, priapisme dan jantung.

14.

Sibutramin Hidroklorida

Efek samping:Dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung serta sulit tidur. Sanksi terhadap pelanggaran Untuk melindungi masyarakat dari bahaya akibat penggunaan obat tradisional yang dicemari BKO, Badan POM RI telah memberikan peringatan keras kepada produsen yang bersangkutan dan memerintahkan untuk segera menarik peredaran produk serta memusnahkannya. Apabila peringatan tersebut tidak ditanggapi, Badan POM dapat membatalkan ijin edar produk dimaksud bahkan mengajukanya ke pengadilan. Tindakan produsen dan pihak-pihak yang mengedarkan produk obat tradisional dengan menambah BKO telah melanggar UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan UndangUndang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. (3) Metode Analisis Identifikasi Parasetamol Dalam Jamu (MA PPOM No. 34/OT/93) yang digunakan untuk pengujian rutin di Laboratorium Obat Tradisional PPOMN, verifikasi metode dilakukan dengan menggunakan sampel yang telah diuji dan memberikan hasil negatif (tidak mengandung parasetamol). Dilakukan uji spesifisitas dan penetapan batas deteksi secara kromatografi lapis tipis (KLT), spektrofotometri UV dan kromatogafi cair kinerja tinggi (KCKT). Pada uji spesifisitas ditambahkan baku pembanding lain yang mempunyai kemiripan sifat fisika, kimia dan efek farmakologi dengan parasetamol. (4) Pada metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), fase diam Silika Gel 60 F254 (E.Merck) dan fase gerak kloroform : aseton : amonium hidroksida 25% (8 : 2 : 0,1) dengan panjang gelombang 260 nm. (5). Untuk KCKT digunakan fase gerak aquabidest : metanol (1: 3). (6) V. V.1 Metode Alat a. KLT Sinar UV, erlenmeyer, gelas ukur, pipet volume, chamber. b. KCKT

HPLC Shimadzu Tipe LC-10 AD, ultra sonic branson, membran filter berukuran 0,45 m dan 0,5 m, gelas ukur 1000 mL dan 50 mL, pipet volume, labu ukur, neraca analitis, pompa vacum, aluminium foil, kertas saring Whatman, corong, syringe injector. c. Spektrofotometri Spektrofotometer UV, neraca analitik , spatula, labu ukur, pipet volume,

batang pengaduk, corong gelas, beaker glass. V.2 Bahan a. KLT Sampel, parasetamol murni, kloroform, aseton, amonium hidroksida 25%. b. KCKT Sampel, baku pembanding, metanol, aquabidest.

c. Spektrofotometri Metanol, aquabidest V.3 Metodelogi A. KLT 1. Alat dan bahan disiapkan. 2. Dibuat sampel pengenceran dan fase gerak. 3. Dijenukan chamber. 4. Ditotolkan smpel dan baku pembanding pada silika gel. 5. Dimasukkan dalam sinar UV. 6. Diamati. B. KCKT 1. Pembuatan Larutan Fase Gerak Aquabidest : Metanol 3 : 1

a. b.

Dibuat campuran aquabidest dan metanol (3:1). Disaring dengan penyaring membran filter berukuran 0,5 m kemudian diawaudarakan dengan disonikasi.

2. Pembuatan Larutan Baku a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Ditimbang 10,1 mg baku pembanding paracetamol BPFI. Dimasukkan ke dalam lbu ukur 100 mL. Ditambah 50 mL fase gerak. Disonikasi selama 10 menit. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda. Dihomogenkan. Dipipet sebanyak 1 mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Ditambahkan 50 mL fase gerak. Disonikasi selama 5 menit. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda. Dihomogenkan.

m. Disaring dengan membran filter berukuran 0,45 m. 3. Pembuatan Larutan Sampel a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Dipipet 2 mL larutan sampel. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Ditambahkan 50 mL fase gerak. Disonikasi selama 10 menit. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda. Dihomogenkan. Dipipet sebnyak 2 mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Ditambahkan 50 mL fase gerak. Disonikasi selama 5 menit. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda. Dihomogenkan.

m. Disaring dengan membran filter berukuran 0,45 m

4. Cara Penetapan a. Dialirkan fase gerak dengan menggunakan pompa dengan laju alir 1,5 mL per menit ke dalam kolom yang berisi fase diam oktadesilsilana. b. Kemudian disuntikkan secara terpisah larutan baku dan larutan sampel paracetamol ke dalam Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan volume penyuntikan masing-masing 2 L. c. d. Pemisahan zat aktif terjadi emlalui mekanisme kromatografi. Hasil pemisahan dibaca oleh detektor dengan panjang gelombang 243 nm. e. f. Dicatat di recorder. Dihitung luas area puncak utama masing-masing larutan baku dan larutan dan larutan sampel. C. Spektrofotometri a. Membuat larutan standar (15 mg/L) Pembuatan larutan standar didasarkan nilai E
1% 1cm

parasetamol

dalam air adalah 715 sehingga untuk memberi absorbansi 0,2-0,8 dibutuhkan konsentrasi 0,015 sampai dengan0,054. Penimbangan minimal 10 mg sehingga untuk awalnya 15 mg paracetamol standardilarutkan dalam 10 ml metanol, kemudian ditambahkan aquades hingga 100 mlkemudian disaring. Lalu dipipet 1 ml di add 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 15ppm. Kemudian dipipet kembali 1 ml di add 10 ml dan diperoleh konsentrasi 1,5 ppm. b. Pembuatan kurva baku kadar Baku standar paracetamol ditentukan dengan membuat kurva kalibrasi regresilinier antara absorbansi larutan dengan konsentrasi paracetamol dengan kadar bertingkat.Dari larutan dengan

konsentrasi 1,5 ppm diambil 1 ml di add 10 ml dan diperoleh 0,15ppm kemudian diambil 1 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,015 ppm, 2 ml add 10 mluntuk konsentrasi 0,03, 3 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,045.Dari larutan konsentrasi 1,5 ppm diambil 3 ml ad

25 ml diperoleh konsentrasi 0,18 ppm.Lalu dari larutan tersebut diambil 2 ml ad 10 ml dengan konsentrasi 0,036 ppm dan jugadiambil 3 ml ad 10 ml dengan konsentrasi 0,054 ppm. Dari konsentrasi 0,054 ppmdiambil 5 ml ad 10 ml dengan konsentrasi 0,027 ppm. c. Menetapkan panjang gelombang maksimum Dari larutan dengan konsentrasi 1,5 ppm diambil 1 ml di add 10 ml dan diperoleh 0,15ppm kemudian diambil 2 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,03 dan dibaca absorbansinyapada panjang

gelombang 190-380 nm . d. Preparasi sampel Serbuk dilarutkan dalam 10 ml methanol kemudian ditambah aquades sampai diperoleh volume100 ml. Lalu dipipet 1 ml di add 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 15 ppm.Kemudian dipipet kembali 1 ml di add 10 ml dan diperoleh konsentrasi 1,5 ppm. Darilarutan dengan konsentrasi 1,5 ppm diambil 1 ml di add 10 ml dan diperoleh 0,15 ppmkemudian diambil 2 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,03 ppm. Selanjutnya sampel dibaca absorbansinya pada spektrofotometer dan dilakukan penghitungan kadar

parasetamol. VI. Pustaka 1. http://www.gizikia.depkes.go.id/wpcontent/uploads/downloads/2012/07/permenkes-003-tahun2010.pdf 2. http://www.binfar.depkes.go.id/dat/Permenkes_0072012_Registrasi_Obat _Tradisional1.pdf 3. http://sutisehati.ucoz.com/index/bahaya_bko_dalam_jamu_tradisional/038 4. http://library.thamrin.ac.id/index.php?p=show_detail&id=1967 5. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22617/7/Cover.pdf 6. www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja &ved=0CEwQFjAI&url=http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13

985/1/09E02171.pdf&ei=c7yfULLKJJDrrQfYg4CoCA&usg=AFQjCNHNqa 30RUW5hBPlBG0IbsbYTwPXqA&sig2=VV3I2RtEMDRXcWSj5bIvXQ

Pertanyaan: 1. Ibu Mufidah Bagaimana cara pengidentifikasian suatu senyawa secara spektrofotometri? Bagaimana cara pengidentifikasian suatu senyawa secara KCKT? Berapa nilai Rf untuk parasetamol?

2. Ireno Megaputra Mengapa dalam metode KCKT harus dilakukan penyaringan sebanyak 2 kali? Mengapa pada penyiapan larutan sampel KCKT dilakukan 2 kali pengenceran dengan fase gerak? 3. Andi Anggriani Dalam komposisi sampel terdapat bahan lain. Apakah isi dari bahan lain itu? 4. Reza Setiawan Bagaimana cara memeriksa apakah suatu produk menggunakan nomor izin edar BPOM yang fiktif apabila berada di daerah terpencil yang tidak memiliki koneksi internet? 5. Umi Muminati Mengapa penetapan kadar abu tidak digunakan untuk menguji sampel serbuk asam urat nyeri tulang cap Gunung Krakatau? Metode apa yang paling baik di antara 3 metode yang anda sebutkan?

Jawaban: 1. Bbb 2. a. Dalam metode KCKT 3. Bahan lain hingga 100% yang tertera dalam komposisi sampel merupakan rahasia produsen untuk mencegah adanya peniruan

produk yang diproduksi, sehingga bahan lain tersebut tidak diuraikan komposisinya masing-masing. Termasuk bahan lain yaitu berupa bahan tambahan atau bahan-bahan yang digunakan dalam jumlah sedikit saja dan bukan merupakan zat aktif. 4. Untuk memeriksa kebenaran nomor izin edar BPOM dari suatu produk dapat dilakukan dengan mengecek pada situs asli BPOM, yaitu pom.go.id kemudian mengklik produk teregistrasi lalu masukkan nomor izin edar BPOM yang tertera pada kemasan sampel. Untuk daerah terpencil yang tidak memiliki koneksi internet maka cara untuk mengetahui nomor izin edar atau palsu adalah dengan sosialisasi dari pihak terkait mengenai cara mengenali produk-produk asli atau palsu. 5. Penetapan kadar abu tidak digunakan dalam mengidentifikasi adanya kandungan bahan kimia obat yaitu parasetamol karena uji ini dilakukan untuk menentukan jumlah total mineral yang terdapat dalam bahan pangan. Untuk mengidentifikasi senyawa kimia obat dilakukan dengan metode KLT, KCKT dan spektrofotometri. Dari ketiga metode ini, metode yang paling baik adalah metode KCKT karena kecepatan analisis dan kepekaannya tinggi.
Mata Kuliah Farmakognosi Analitik Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin STUDI KASUS Analisis Paracetamol pada Jamu Serbuk Asam Urat Nyeri Tulang Cap Gunung Krakatau

Oleh : Kelompok I Nur Hamida Habiburrahman B Ayun Dwi Astuti Ade Sri Ervina Sri Ayu Andira Nur Mentari Masniah Sitti Nurlaelah Aat Prayogo A.Muh.Febri Ramadhan Kelas A

MAKASSAR 2012