Anda di halaman 1dari 51

OLEH : KELOMPOK DISKUSI 3

Kelompok Diskusi 3
Ibnu Rahman Citra Kristi Melasari Muhammad Hadi Arwani Prisa Dwicahmi Mitha Ismaulidia Wendy Wongso Mafisah Riska Dwi Kusuma Fitrianto Dwi Utomo Jenny Ismyati Alberikus Kwarta B Tan Sri Ernawati I11108065 I11110029 I11111002 I11111010 I11111015 I11111025 I11111038 I11111043 I11111064 I11111066 I11111068 I11111071

KASUS
Laki-laki umur 65 tahun dengan keluhan low back pain , gambaran radiologi menunjukkan adanya gambaran osteoporosis, pasien mendapatkan terapi dari dokter yaitu calcium tablet 1500 mg dan Meloxicam 15 mg. Lalu 1 minggu kemudian pasien ini kembali dengan keluhan diare.

PERTANYAAN
1. Bagaimana pendapat saudara mengenai kasus ini?
2. Bagaimana sebaiknya pemilihan terapi yang tepat pada

kasus ini?

OSTEOPOROSIS
Kelompok kerja World Health Organisation (WHO) dan konsensus ahli mendefinisikan osteoporosis sebagai: penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, menyebabkan kerapuhan tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Dimana keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur (thief in the night).

OSTEOPOROSIS PRIMER
Osteoporosis Primer Tipe I

Sering disebut dengan istilah osteoporosis pasca menopause, yang terjadi pada wanita pasca menopause. Biasanya wanita berusia 50-65 tahun, fraktur biasanya pada vertebra (ruas tulang belakang), iga atau tulang radius. Osteoporosis Primer Tipe II Sering disebut dengan istilah osteoporosis senil, yang terjadi pada usia lanjut. Pasien biasanya berusia 70 tahun, pria dan wanita mempunyai kemungkinan yang sama terserang, fraktur biasanya pada tulang paha.

OSTEOPOROSIS SEKUNDER
Osteoporosis sekunder, adalah osteoporosis yang disebabkan oleh berbagai penyakit tulang (chronic rheumatoid, artritis, tbc spondilitis, osteomalacia, dll), pengobatan steroid untuk jangka waktu yang lama, astronot tanpa gaya berat, paralise otot, tidak bergerak untuk periode lama, hipertiroid, dan lain-lain.

DIARE
Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan/atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari,dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari. Pada banyak kasus, pengobatan tidak diperlukan. Bayi usia sampai enam bulan dengan diare dapat terlihat sangat sakit, akibat terlalu banyak cairan yang dikeluarkannya.

Jenis Klinis Diare


Diare akut bercampur air
Diare akut bercampur darah (disentri) Diare persisten

Diare dengan malnutrisi berat

Kalsium
Kalsium masuk ke dalam tubuh melalui saluran gastro-intestinal, dan diabsorpsi terutama dalam usus halus bagian atas dengan difusi pasif dan transport aktif. Agar dapat diabsorpsi dengan baik oleh tubuh, kalsium hendaklah dalam bentuk larutan dan terioonisasi. Kalsium didistribusi dengan cepat ke jaringan skeletal. Kalsium serum normal berkisar antara 9-10,4 mg/dL .

Kalsium
Ekskresi kalsium melalui urine, keringat, dan terutama melalui fases. Ekskresi melalui urine tidak melebihi 150 mg/hari. Ekskresi melalui urine menurun dengan bertambahnya usia.

Kalsium
Pemberian suplemen kalsium ditujukan pada individu-individu yang tidak dapat mengkonsumsi kalsium sesuai dengan yang dianjurkan,misalnya pada individu dengan osteopenia atau osteoporosis, wanita yang perimenopouse dan postmenopouse, ibu yang menyusui lebih dari satu bayi, vegetarian, dan individu yang pada usia pertumbuhan kurang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium seperti, keju, susu, dan sayuran hijau dalam asupannya seharihari

Kalsium

Kalsium
Secara umum kalsium dapat diberikan pada semua individu yang memiliki risiko menderita osteoporosis dan pada keadaan di mana individutersebut mengalami defisiensi kalsium. Fenomena yang terjadi dimasyarakat, banyak orang berusia lanjut dan wanita menopause yang mengkonsumsi kalsium tinggi

Kalsium
Penggunaan kalsium dosis tinggi tanpa diikuti dengan fosfor dalam takaran seimbang dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan kalsium fosfor di dalam tubuh, hal ini akan berakibat pada terjadinya presipitasi garam kalsium di dalam berbagai jaringan tubuh, terutama ginjal.

HIPERKALSEMIA
Hiperkalsemia (kadar kalsium darah yang tinggi) adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalsium dalam darah lebih dari 10,5 mgr/dL darah.

HIPERKALSEMIA
Hiperkalsemia dapat disebabkan oleh meningkatnya penyerapan kalsium pada saluran pencernaan maupun karena meningkatnya asupan kalsium. Orang-orang yang mengkonsumsi sejumlah besar kalsium (seperti yang kadang dilakukan oleh penderita ulkus peptikum yang minum banyak susu dan juga mengkonsumsi antasid yang mengandung kalsium), dapat menderita hiperkalsemia.

HIPERKALSEMIA
Gejala paling awal dari hiperkalsemia biasanya adalah

konstipasi (sembelit), kehilangan nafsu makan, mualmuntah dan nyeri perut. Ginjal mungkin secara abnormal akan menghasilkan air kemih dalam jumlah banyak. Akibat pembentukkan air kemih yang berlebihan ini, cairan tubuh akan berkurang dan akan terjadi gejala dehidrasi. Hiperkalsemia yang sangat berat sering menyebabkan gejala kelainan fungsi otak Pada penderita hiperkalsemia menahun bisa terbentuk batu ginjal yang mengandung kalsium.

HIPERKALSEMIA
Hiperkalsemia biasanya ditemukan pada saat melakukan pemeriksaan darah rutin. Penyebabnya sering terlihat dari riwayat penderita dan kegiatannya yang terakhir (misalnya minum sejumlah besar susu dan mengkonsumsi tablet antasid yang mengandung kalsium). Untuk membantu menentukan penyebabnya, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen.

HIPERKALSEMIA
Pengobatan Jika konsentrasi kalsium tidak lebih dari 11,5 mgr/dL darah, pengobatannya cukup dengan menghilangkan penyebabnya. Bila konsentrasi kalsium sangat tinggi (lebih dari 15 mgr/dL darah) atau bila timbul gejala kelainan fungsi otak, diberikan cairan intravena asalkan ginjalnya berfungsi dengan baik. Furosemid, meningkatkan pembuangan kalsium melalui ginjal dan merupakan terapi yang utama. Dialisa adalah terapi yang sangat efektif, aman dan dapat diandalkan, dan biasanya dilakukan pada penderita hiperkalsemia berat yang tidak dapat diobati dengan cara lainnya.

HIPERKALSEMIA
Hiperparatiroidisme biasanya diatasi dengan

pembedahan untuk mengangkat satu atau lebih kelenjar paratiroid. Agar hasilnya baik, semua jaringan paratiroid yang menghasilkan hormon dalam jumlah yang sangat besar harus diangkat Plicamycin, galium nitrate, calsitonin, biphosphonates, dan corticosteroid terutama bekerja dengan memperlambat pemindahan kalsium dari tulang. Hiperkalsemia yang disebabkan oleh kanker sulit untuk diobati.

MILK ALKALI SYNDROM


Milk-Alkali Syndrome adalah suatu kondisi dimana tubuh terlalu basa dan darah terlalu banyak mengandung kalsium yang mengakibatkan gangguan fungsi ginjal.

MILK ALKALI SYNDROM


Milk-Alkali Syndrome disebabkan oleh konsumsi susu yang berlebihan (yang tinggi kalsium) dan larut alkaliseperti antasid, terutama kalsium karbonat atau natrium bikarbonat (baking soda) selama jangka waktu lama. Deposit kalsium dalam ginjal dan jaringan lain mungkin terjadi pada Milk-Alkali Syndrome. Kondisi ini diperparah oleh konsumsi vitamin D, yang sering ditambahkan ke susu yang dibeli di supermarket.

MILK ALKALI SYNDROM


Kondisi ini sering asimtomatik (tidak menunjukkan gejala). Ketika gejala memang terjadi, mereka sering berhubungan dengan komplikasi, seperti ginjal. Ini termasuk: punggung dan pinggang sakit (berkaitan dengan batu ginjal), buang air kecil yang berlebihan, dan masalah lainnya yang dapat disebabkan oleh gagal ginjal.

MILK ALKALI SYNDROM


Pengobatannya dengan mengurangi atau menghilangkan konsumsi susu dan antasid. Jika terjadi kegagalan ginjal, kerusakan mungkin tidak dapat diperbaiki.

Meloxicam
Meloxicam merupakan suatu senyawa terbaru dari golongan AINS (antiinflamasi non steroid), turunan oksikam (fenolat), yang memiliki keunggulan kerjanya yang spesifik menghambat enzim siklooksigenase yang menyebabkan terjadinya inflamasi (COX-2) sehingga efek samping gastrointestinalnya sangat rendah dibandingkan obat-obat anti-rheumatik lainnya yang telah ada.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Rumus Kimia dan Struktural Meloxicam


Meloxicam memiliki rumus kimia 4-hydroxy-2methyl-N-(5-methyl-2-thiazolyl)-2H-1, 2. 2-benzothiazine-3-carboxamide-1, dan 1-dioxide. Rumus strukturalmeloxicam adalah sebagai berikut:
1.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi

Gambar 1. Susunan Biokimia Meloxicam

Nama Generik dan Nama Dagang


Nama Generik: Meloxicam Nama Dagang : 1. Artrilox 2. Loxil 3. Loxinic 4. Meloxicam 5. Meloxin 6. Mevilox 7. Mexpharm
8. Mobiflex

9. Movicox
10. Moxam 11. Moxic

12. Nulox
13. Ostelox 14. X-cam

15. Artricom

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Farmakodinamik Obat NSAID Baru (Meloxicam)

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Farmakokinetik meloxicam
Biovaibilitas oral 89%, konsentrasi maksimum 4-5 jam. 2. Absorbsi tergolong lambat,tidak terganggu oleh intake makanan. 3. Distribusi meloxicam terikat pada protein plasma manusia (terutama albumin) dalam rentang dosis terapeutik.
1.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Farmakokinetik meloxicam
4. Konsentrasi Meloxicam dalam cairan sinovial setelah

dosis tunggal oral,berkisar antara 40% sampai 50% dari yang ada di dalam plasma. Fraksi bebas dalam cairan sinovial adalah 2,5 kali lebih tinggi dari pada di dalam plasma. 5. Meloxicam dimetabolisme sampai empat metabolit biologis aktif dan diekskresikan dalam urin dan tinja. 6. Waktu paruh (t1/2) eliminasi meloxicam adalah sekitar 20 jam. 7. Meloxicam diserap dengan baik pada pemberian oral; dan penyerapan tidak berubah/dipengaruhi oleh makanan. Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010.
Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Indikasi Meloxicam
Mengobati radang sendi 2. Mengobati Nyeri, pembengkakan dan rasa sakit yang disebabkan oleh:
1.

Peradangan osteoarthritis Rheumatoid arthritis.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Kontraindikasi Meloxicam
1.
2. 3.

4.
5.

Selama kehamilan dan menyusui Ulkus lambung yang aktif atau perdarahan lambung Insufisiensi hati berat dan ginjal berat Anak-anak <15 tahun Hipersensitif terhadap obat tersebut

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Efek Samping Meloxicam


1. 2.

3.
4. 5.

Induksi tukak lambung atau tukak peptik yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna Iritasi lambung Gangguan fungsi trombosit Penghambatan biosintesis PG di ginjal. Pada beberapa orang dapat terjadi reaksi hipersensitivitas, berupa rhinitis vasomotor, edema angioneurotik, urtikaria luas, asma bronkhial, hipotensi sampai keadaan presyok dan syok.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Bentuk Sediaan Meloxicam


Tablet : 7,5 mg & 15 mg

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Dosis, Cara dan Waktu Pemberian Meloxicam


Dosis efektif terendah harus digunakan untuk setiap pasien. 2. Dosis awal dan pemeliharaan pada pasien dewasa adalah dosis tunggal 7,5 mg/hari. 3. Dosis tertinggi adalah 15 mg sekali sehari. 4. Pada kasus osteoarthritis, dosisnya 7,5 mg satu kali sehari, jika diperlukan dosis dapat ditingkatkan hingga 15 mg satu kali sehari. 5. Pada rheumatoid arthritis, dosisnya 15 mg satu kali sehari, dapat dikurangi sampai 7,5 mg/hari tergantung respon klinis.
1.
Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Dosis, Cara dan Waktu Pemberian Meloxicam


6. Tidak disarankan untuk pasien dengan kerusakan

ginjal/hati. 7. Dapat digunakan bersamaan dengan atau tanpa makanan.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Interaksi Obat Meloxicam


Meloksikam + Aspirin meningkatkan risiko kerusakan saluran cerna. 2. Meloksikam + Coumarin dan obat sejenis sedikit meningkatkan risiko over-antikoagulasi. 3. Meloksikam + Metotreksat meningkatkan efek toksisitas hematologi dari metotreksat.
1.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Interaksi Obat Meloxicam


4. Meloksikam + Siklosforin meningkatkan efek

toksisitas ginjal dari siklosporin 5. Meloksikam + makanan meloksikam dapat mengiritasi mukosa lambung, sehingga lebih baik jika dikonsumsi bersama makanan untuk mengutangi efek samping pada gastrointestinal.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Interaksi Obat Meloxicam


6. Pemberian bersamaan lithium meningkatkan kadar

lithium. 7. Bila diberikan bersama kolestiramin akan mempercepat proses eliminasinya

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Peringatan dan perhatian Pada Penggunaan Meloxicam


Iritasi saluran cerna, tukak lambung, pendarahan dan perforasi dapat terjadi pada penggunaan obatobat NSAID. 2. Hati-hati jika diberikan kepada pasien dengan riwayat penyakit gastrointestinal (pendarahan dan tukak), penurunan fungsi ginjal, kegagalan fungsi hati, penyakit hepatik, dehidrasi, hipertensi ataupun asma. 3. Hati-hati jika diberikan pada orang tua.
1.
Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Peringatan dan perhatian Pada Penggunaan Meloxicam


4. Hati-hati jika digunakan bersamaan dengan

antikoagulan. 5. Keamanan penggunaan pada anak belum diketahui dengan pasti. 6. Keamanan penggunaan untuk ibu menyusui belum diketahui dengan pasti maka tergantung dari pentingnya pengobatan bagi si ibu disarankan untuk menghntikan penggunaan obat atau berhenti menyusui.
Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

Peringatan dan perhatian Pada Penggunaan Meloxicam


7. Penderita sebaiknya diberitahu tentang tanda-tanda

atau gejala-gejala toksisitas gangguan pencernaan yang serius dan langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi. 8. Pengobatan harus dihentikan pada kasus tukak lambung atau perdarahan gangguan saluran pencernaan. 9. Meloxicam suppositoria tidak boleh digunakan pada pasien dengan lesi peradangan pada rektum atau anus, atau pada pasien yang baru mengalami peradangan rektal atau anal.
Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008.

PEMBAHASAN

Apakah pemberian obat pada kasus sudah tepat, kurang tepat atau tidak tepat ?
Pemberian obat pada kasus kurang tepat, karena pasien mendapatkan dosis yang maksimal. Menurut Davis dan Srivastava pada lansia sebaiknya harus diberikan dosis minimal dari obat yang digunakan.

Jika anda dokter yang pertama yang dikunjungi bagaimana terapi yang akan diberikan ?
meloxicam 7,5 mg satu kali sehari setelah makan

karena pada prinsip dasar pendekatan farmakologi dalam penggunaan analgetika pada lansia adalah mulai dengan dosis rendah dan bila diperlukan secara perlahan-lahan dosis ditingkatkan serta pemberian obat setelah makan bertujuan untuk mengurangi efek obat meloxicam yang termasuk dalam golongan NSAID terhadap lambung.

Jika anda dokter yang pertama yang dikunjungi bagaimana terapi yang akan diberikan ?
kalsium 500 mg dua kali sehari.

Menurut WHO pemberian kalsium 1200 mg per hari, sedangkan terapi kalsium yang diberikan hanya 1000 mg perhari dengan diimbangi juga dengan makanan yang berkalsium tinggi, agar angka kecukupan kalsium terpenuhi.

Terapi yang Akan Diberikan Kepada Pasien Setelah Mengalami Diare


Terapi yang diberikan kepada pasien ini adalah calcium tablet 1000 mg dan Meloxicam 15 mg.

Resep obat yang diberikan :

KESIMPULAN
Terapi yang diberikan kurag tepat, seharusnya dosis kalsim yang diberikan adalah 1200 mg dan pemberian meloxicam dengan penggunaan dosis minimal (jika perlu) serta dengan diberikan edukasi untuk berolahraga yang sesuai dengan kondisi pasien ini.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2. 3.

4.

5. 6.

Katzung BG. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2010. Ganiswarna, S.G. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta: EGC, 1995. Anonim. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC, 2008. Yuniarti, Wiwik Misaco dkk. Gambaran Histopatologik Ginjal Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Ovariohisterektomi dengan Suplemen Kalsium Karbonat Dosis Tinggi. J. Penelit. Med. Eksakta. Vol. 8, No. 1, April 2009: 31-38 Corwin, Elizabeth J. 2008. Buku Saku Patofisiologi, Jakarta : EGC Informasi lainnya: http://www.med.umich.edu/1libr/pa/pa_diarrhbr_hhg.htm Oleh : dr. Farian Sakinah, dr. rifianto (Apin), dr. Nurul Di unduh tanggal 27 Desember 2012 Pukul 18:13 WIB