Anda di halaman 1dari 64

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN


MAKALAH Diajukkan untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Arsitektur dan Lingkungan

Dosen : Dr. Sri Handayani, M. Pd.

Oleh

Sutia Priadhi 0905882

PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

KATA PENGANTAR

Segala puji saya sampaikan kepada Allah Yang Maha Pengasih karena berkat rahmat dan anugerah-Nya penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mendapatkan nilai untuk mata kuliah Arsitektur dan Lingkungan pada Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur, Universitas Pendidikan Indonesia. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian makalah ini. Akhir kata, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini belumlah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran-saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan di masa- masa yang akan datang, dan penulis mengharapkan kiranya makalah ini turut memperkaya ilmu mengenai Kampus Universitas Pendidikan Indonesia dilihat dari arsitektur ramah lingkungan di lingkungan UPI pada khususnya dan dunia akademik pada umumnya.

November 2010

Penulis

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan, yang selalu berkembang setiap saat sesuai dengan perkembangan zaman dan perubahan sosial.Perubahan-perubahan tersebut kerap membawa pengaruh positif maupun negatif, sehingga perlu adanya penyaringan sebelum desain ditetapkan.Permasalahannya adalah peranan arsitek yang menerapkan desain yang kurang tepat pada rancangannya. Pengaruhnya sangat berdamapak pada kelangsungan hidup makhluk di bumi.Makin banyak permasalahan-permasalahan tibul akibat berkembangnya pembangunan yang tidak sesuai dengan lingkungan sekitar.Dampak ini bisa dirasakan oleh pengguna bangunan itu sendiri, lingkungan sekitarnya, dan yang paling berbahaya adalah merusak kelestarian di bumi. Arsitek Indonesia harus berani menjadi agen pembangunan dalam terciptanya desain arsitektur yang ramah lingkungan atau green design, ungkap desainer interior Siti Adiningsih Adiwoso. Perlu kita sadari bahwa keadaan bumi kita saat ini sudah tidak seoptimal masa lampai.Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal dari bumi ini sendiri, yaitu manusia sebagai penghuni bumi yang terus mengelola sumber daya alam yang tersedia tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan dari ulah mereka.Seharusnya kita saling memahi, antara keadaan alam dan kebutuhan manusia yang tidak boleh saling merugikan.

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

BAB II KAJIAN TEORI Arsitektur juga berkaitan dengan ilmu-ilmu disiplin lain yang mempunyai pengaruh dalam penerapan ilmu arsitektur. Salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan arsitektur dan lingkungan yaitu ekologi.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ekologi memiliki arti ilmu mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Berdasarkan pengertian ini, bisa kita lihat hubungan antara ekologi dan arsitektur, yaitu hubungan antara massa bangunan dengan makhluk hidup yang ada disekitar lingkungannya, tak hanya manusia tetapi juga flora dan faunanya. Arsitektur sebagai sebuah benda yang dibuat oleh manusia harus mampu menunjang kehidupan kehidupan dalam lingkugannya sehingga memberikan timbal balik yang menguntungkan untuk kedua pihak.Hadirnya hubungan antara ekologi dan arsitektur membuat para arsitek kembali berpikir untuk mendasain bangunan mereka supaya tidak merusak lingkungan.Terlebih lagi dengan adanya isu global warming membuat para arsitek harus peka terhadap kondisi lingkungan yang ada saat ini. Karena seperti yang disebut diatas, bangunan juga merupakan salah satu sumber polusi yang ada dibumi ini dengan segala kebutuhan sumber daya yang digunakannya. Pendekatan ekologis dilakukan untuk menghemat dan mengurangi dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari terciptanya sebuah massa bangunan. Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan.Sementara Kebudayaan Nusantara berakar pada Kebudayaan Tradisionalnya, begitupun Arsitektur Tradisional juga merupakan akar dari Arsitektur Nusantara.Kita kenal bahwa arsitektur tradisional sangat beranekaragam di Indonesia, seiring dengan keanekaragaman suku bangsanya.Sulit rasanya memilih arsitektur tradisional mana yang bisa mewakili, karena riskan sekali rasanya bila memilih salah satu arsitektur tradisional sebagai wadahnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wujud arsitektur tradisional dari suku bangsa tertentu pasti akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat suku bangsa tersebut. namun demikian, apakah suatu suku bangsa tertentu akan merasa bangga dengan arsitektur tradisional dari daerah lain? Kita ambil hematnya saja bahwa, biarlah suatu suku bangsa memakai arsitektur tradisionalnya, begitupun yang lainnya, asalkan ditempatkan dengan sesuai. Jadi, sebenarnya yang kita perlukan adalah jiwa berarsitektur dari masyarakat tradisional tersebut. Sehingga tidak perlu lagi kita menjiplak total pada arsitektur tradisional tertentu, yang perlu kita ejawantahkan adalah pesan-pesannya ataupun konsep dasarnya. Kemudian diinterpretasikan dengan kreatifitas baru pada latar belakang kehidupan sosio-budaya masyarakat yang terus berkembang saat ini.Pada intinya arsitektur tradisional mempunyai konsep dasar kesemestaan yang universal, sehingga mampu mengiringi perjalanan hidup manusianya sepanjang jaman. Pada haqiqatnya arsitektur adalah keterpaduan antara ruang sebagai wadah, dengan manusia sebagai isi yang menjiwai wadah itu sendiri. Dengan kata lain dalam arsitektur terdapat
4

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

perwujudan ruang (meliputi fungsi, tata-susunan, dimensi, bahan, dan tampilan bentuk) yang sangat ditentukan oleh keselarasan kehidupan daya dan potensi dari manusia di seluruh aspek hidup dan kehidupannya (meliputi norma/tata-nilai, kegiatan, populasi, jatidiri,dan kebudayaannya). Manusia sebagai makhluq yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk sekaligus sebagai makhluq sosial, dalam setiap kegiatannya senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.Adalah sesungguhnya bahwa manusia itu dalam bersosialisasi membutuhkan dan memiliki jangkauan interaksi pada tiga jalur arah. Pertama, berinteraksi dengan Sang Pencipta (sosio-spiritual/religius), meliputi kegiatan ibadah-spiritual maupun aplikasi amaliah dari norma dan tata-nilai yang telah ditetapkan-Nya pada dua jalur berikutnya. Kedua, berinteraksi dengan sesama manusia (sosio-kultural), baik antar pribadi dengan pribadi, pribadi dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, berdasarkan norma dan tata-nilai sosio-spiritual/religius di atas. Ketiga dan terakhir, berinteraksi dengan alam semesta sebagai sesama makhluq ciptaan (sosio-natural/universal), yakni manusia sebagai khalifah/pembina sekaligus pengguna setiap unsur daya dan potensi alam agar berdaya-manfaat secara tepat-guna dan berkesinambungan sehingga tercipta hidup dan kehidupan yang makmur bersahaja.Ketiga jalur arah interaksi ini merupakan inti/dasar kegiatan manusia untuk bermasyarakat, yang seluruhnya harus diwadahi secara terpadu, setimbang, dan dinamis dalam ruang arsitektur. Dapat disimpulkan dari semua paparan diatas bahwa manusia dalam berarsitektur merupakan wujud amaliah dari aturan yang ditetapkan-Nya dalam menjaga alam sebagai tempat hidupnya, dan menjaga hubungan dengan sesamanya sebagai teman hidupnya.Inilah wujud kesemestaan. Dalam keadaannya saat ini, kelestarian alam sudah sangat terabaikan.Pemanasan global dan bencana banjir adalah wujud akibat yang ditimbulkan, dan arsitekturlah yang berperanan besar dalam mewujudkannya.Sehingga tema Arsitektur Ramah Lingkungan dengan konsep kesemestaan patutlah untuk diangkat.

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

BAB III PEMBAHASAN Kenaikan harga bahan bakar minyak memukul telak industri properti di Tanah Air. Harga bahan bangunan meroket, sementara daya beli masyarakat semakin menurun.Di tengah keterpurukan ekonomi seperti ini, kita dituntut hidup hemat, bertindak bijak, dan kreatif dalam segala lini kehidupan.Kenaikan harga bahan bangunan membuat masyarakat yang berniat atau telanjur tengah merenovasi dan membangun rumah dipaksa mengevaluasi kembali rencana atau kegiatan pembangunan rumah yang sedang berlangsung.Prioritas pekerjaan disusun ulang, utamakan kegiatan yang paling mendesak dilakukan.Penghematan pengeluaran dengan membelanjakan bahan bangunan yang paling diperlukan untuk pembangunan sekarang. Ramah lingkungan = hemat. Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan. Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan, mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan. Desain rancang bangunan memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami.Sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan pengondisi udara pada siang hari. Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah). Penggunaan material bahan bangunan yang tepat berperan besar dalam menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan.Beberapa jenis bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas yang memengaruhi harga.Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan anggaran biaya yang tersedia dan dilakukan sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk mengatur pengeluaran sehingga bangunan tetap berkualitas. Lakukanlah survei terlebih dahulu untuk mencari alternatif bahan bangunan yang bersifat praktis, mampu memberi solusi tepat kebutuhan bangunan, dan ramah lingkungan. Hal ini bisa dilihat mulai dari lama waktu proses pengerjaan, tingkat kepraktisan, dan hasil yang diperoleh. Bangunan menggunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Beberapa produsen telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan. Bahan baku yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan.

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Konstruksi yang berkelanjutan dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan alternatif dan bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi emisi CO2 sehingga lebih rendah daripada kadar normal bahan baku yang diproduksi sebelumnya. Bahan baku alternatif yang digunakan pun beragam. Bahan bangunan juga memengaruhi konsumsi energi di setiap bangunan.Pada saat bangunan didirikan konsumsi energi antara 5-13 persen dan 87-95 persen adalah energi yang dikonsumsi selama masa hidup bangunan. Bangunan hijau. Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan. Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan.Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi.Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium. Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya.Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil. Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu). Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan. Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah satu bentuk inovatif desain. Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi. Fungsi setiap ruang dalam rumah berbeda-beda sehingga membuat desain dan bahan lantai menjadi beragam, seperti marmer, granit, keramik, teraso, dan parquet. Merangkai lantai tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal untuk tampil artistik.

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Lantai teraso (tegel) berwarna abu-abu gelap dan kuning yang terkesan sederhana dan antik dapat diekspos baik asal dikerjakan secara rapi. Kombinasi plesteran pada dinding dan lantai di beberapa tempat akan terasa unik. Teknik plesteran juga masih memberi banyak pilihan tampilan. Konsep ramah lingkungan dewasa ini juga telah merambah ke dunia sanitasi. Septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan. Untuk mengantisipasi krisis air bersih, kita harus mengembangkan sistem pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan pengisian kembali air tanah (recharge). Beberapa arsitek sudah mulai mengembangkan sistem pengolahan air limbah bersih yang mendaur ulang air buangan sehari-hari (cuci tangan, piring, kendaraan, bersuci diri) maupun air limbah (air buangan dari kamar mandi) yang dapat digunakan kembali untuk mencuci kendaraan, membilas kloset, dan menyirami taman, serta membuat sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan lubang biopori (10 sentimeter x 1 meter) sesuai kebutuhan. Penggunaan panel sel surya meringankan kebutuhan energi listrik bangunan dan memberikan keuntungan tidak perlu takut kebakaran, hubungan pendek (korsleting), bebas polusi, hemat listrik, hemat biaya listrik, dan rendah perawatan. Panel sel surya diletakkan di atas atap, berada tepat pada jalur sinar matahari dari timur ke barat dengan posisi miring. Kapasitas panel sel surya harus terus ditingkatkan sehingga kelak dapat memenuhi kebutuhan energi listrik setiap bangunan. Pada akhirnya di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan krisis ekonomi sekarang, cara pandang merencanakan atau merenovasi bangunan sudah harus mulai diubah. Bagaimana menghadirkan bangunan yang hemat (bahan bangunan, waktu, tenaga) yang berujung pada penghematan anggaran biaya dengan tetap menjaga kualitas dan tampilan bangunan, serta ramah lingkungan.(sumber:kompas)

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

KOMPAS/LASTI KURNIA Ruang publik di bawah kolong yang selama ini menjadi ruang "mati" dihidupkan untuk membuka ruang-ruang alternatif di tengah hiruk-pikuk pembangunan jalan layang. Pameran Arsitektur di Kolong Tol di ruas Jalan S Parman, depan Universitas Trisakti. Arsitek tidak hanya bertanggung jawab dalam hal mendesain rumah dan bangunan. Kondisi lingkungan dan sosial masyarakat pun menjadi tanggung jawab moral seorang arsitek. Demikian pernyataan Jeffry Sandy, seorang praktisi arsitek, dari Nataneka Architects.Dalam diskusi yang berlangsung di acara Renovasi Goes to Campus, bertempat di kampus Fakultas Teknik dan Perencanaan Tri Sakti, Rabu (29/4) lalu, Jeffry memaparkan beberapa faktor yang menjadi tantangan bagi arsitek. Isu lingkungan termasuk salah satu tantangan tersebut. Pemanasan global menuntut para arsitek untuk dapat menciptakan desain ramah lingkungan. Hal ini masih berkaitan pula dengan perkembangan gaya hidup, pengetahuan dan teknologi, dan lokalitas atau budaya setempat. Faktor-faktor tersebut, ujar Jeffry lagi, harus dipadukan dalam satu desain yang tetap kreatif, menarik, dan nyaman. "Arsitek harus berpikir jauh ke depan, bukan hanya memikirkan desain bangunan. Kelangsungan hidup sosial dan lingkungan di masa depan, juga bagian dari tanggung jawab moral seorang arsitek," ujar Jeffry. Arsitek pun merupakan profesi yang banyak bersentuhan dengan berbagai macam orang. Hal ini pun merupakan tantangan lain yang membuat arsitek dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan. Setiap tantangan ini, kata Jeffry, harus bisa membuat profesi arsitek semakin berkembang. (Jakarta, kompas.com)

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Pembangunan Lingkungan Yang Ekologis Pembangunan lingkungan yang ekologisbisa dimulai dari hal-hal yang kecil. Cobalah perhatikan lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Apakah masih ada penghijauan? Apakah masih ada lahan terbuka yang bisa menyerap air? Atau kalaupun permukaan lahan menggunakan perkerasan, apakah perkerasan tersebut masih menyisakan ruang untuk meresapkan air? Kalau kita perhatikan udara di sekitar tempat tinggal kita. Apakah kita masih merasakan kesegaran udara pagi hari? Apakah kita merasa cukup nyaman, tidak kepanasan atau berkeringat banyak pada siang hari? Apakah kita merasa masih nyaman berjalan-jalan di udara terbuka pada siang hari? Apakah kita masih bisa bernafas dengan lega tanpa merasa sesak dengan debu yang berterbangan? Semua pertanyaan di atas masih merupakan sebagian kecil dari banyak pertanyaan yang terkait dengan kita dan lingkungan sekitar kita. Dan apabila lebih banyak jawaban tidak, maka ini merupakan alarm untuk kita bahwa lingkungan kita sudah mulai menurun kualitasnya. Dalam rangka merayakan Hari Bumi di bulan April 2010 kemarin, maka sebaiknya kita juga harus bergerak bersama untuk mulai menghijaukan lingkungan tempat tinggal kita. Menanam pohon baik di dalam pot ataupun di permukaan tanah dapat membantu menghijaukan dan menurunkan suhu lingkungan. Menyediakan lahan hijau, atau sumur resapan, atau lubang biopori yang dapat meresapkan air akan menjaga ketersediaan air tanah di lingkungan kita. Memilih material bangunan yang ramah lingkungan akan membantu mendukung terjaganya bumi kita dari kerusakan. Material yang ramah lingkungan adalah material yang meminimalkan penggunaan energi mulai saat pembuatan material, tidak berdampak negatif pada lingkungan ketika material digunakan pada bangunan, dan material tersebut mudah hancur dan menyatu dengan lingkungan saat sudah rusak karena usia. Membuat lingkungan yang terintegrasi dan kompak di lingkungan perumahan (jalur jalan dibuat efisien dan cukup aman dan nyaman, perletakan zona-zona fungsi dan hubungan antara zona harus saling terhubung dengan mudah dan baik, dll.). Masih banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan oleh kita sebagai anggota masyarakat, untuk turut menjaga lingkungan dan bumi kita. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi akan dimulai? Jangan sampai menunggu lingkungan menjadi bencana bagi kita.

10

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Patokan Bangunan dengan Konsep Ramah Lingkungan 1. Menciptakan kawasan penghijauan di antara kawasan pembangunan sebagai paru-paru hijau Kualitas taman dan hutan kota yang luasnya minimal 20% dari wilayah kota, dengan jarak dari perumahan sebaiknya tidak melebihi 300 m, serta utilitas dan banyaknya taman merupakan tujuan pokok tata kota kontemporer. Alun-alun sebagai taman/ hutan kota merupakan ruang beraneka-ragam yang sangat mempengaruhi kualitas kehidupan dalam kota. Letak dan pengaturan penghijauan dalam tata-kota menentukan ciri-khas kota tersebut. Di wilayah kota lama sering terjadi kekurangan lahan hijau seperti jaringan penghubung (biotop interconnection) dengan penghijauan berbentuk bahu jalan yang ditanami dengan pohon peneduh dan semak belukar. Penghijauan di lingkungan kota akan meningkatkan kualitas kehidupan dalam kota dengan produksi oksigennya yang mendukung kehidupan sehat bagi manusia, mengurangi pencemaran udara, serta meningkatkan kualitas iklim mikro. Air hujan yang turun diserap oleh tanah, dan kemudian menguap kembali, dengan demikian, tanaman ikut mengelola air hujan dan melindungi lereng gunung terhadap tanah longsor. Hasil tanaman-tanaman sebagai peningkat kualitas lingkungan kota

sumber: Bhme, Gerhard et al. Grn hilft sparen. Bonn 1985. halaman 5 Tanaman-tanaman dapat dibagi atas Penutup tanah,tumbuhan jenis ilalang dan rumput-rumputan; Semak belukar,tumbuhan perdu yang mempunyai cabang kayu kecil dan rendah. Pohon-pohon,akan digolongkan menurut bentuk,daun,akar,buah-buahan, atau manfaat yang berbeda- beda 2. Memilih tapak bangunan yang bebas gangguan geo-biologis Pengembangan dalam ilmu pengetahuan alam dan ilmu nuklir menghasilkan pengertian baru, bahwa, selain yang bersifat nyata, ada juga yang bersifat mental (imaterial). Planck, Heisenberg, Lovelock, dan peneliti yang lain membuktikan bahwa setiap materi juga mengandung semacam kesadaran. Manusia merupakan penengah di antara akal dan materi, karena ia menjadi satusatunya makhluk yang memiliki badan material dan kerohanian. Dengan demikian manusia juga selalu mampu berkomunikasi dengan benda-benda yang tidak dapat ditangkap dengan panca
11

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

inderanya. Bumi kita terkelilingi oleh pengaruh gaya yang terbentuk dan teratur secara geometris. Gaya misterius tersebut menjelma menjadi ruang hidup berkisi-kisi yang dapat kita rasakan. Jaringan garis-garis yang berkisi-kisi ini sangat teratur secara tata jenjang yang berarti garis-garis tersebut berbeda dalam mutu, radiasi, kelompok, dan garis tengahnya sebagai berikut: - Jaringan Hartmann (ditemukan oleh dr. Ernst Hartman pada tahun 1951) berorientasi utaraselatan dan timur-barat dengan garis pengaruh selebar 15-25 cm dengan mata jalah (lubang/jarak antar garis) 2.0-3.0 m, dan jaringan Curry (ditemukan oleh dr. Manfred Curry pada tahun 1955) berorientasi miring terhadap jaringan Hartmann dengan garis pengaruh selebar 50 cm dengan mata jalanya 3.5-7.0 m. Ukuran jaringan masing-masing bisa berbeda tergantung pada pengaruh lingkungan, dislokasi geologis, atau menurut letaknya pada bumi (garis lintang) dan sebagainya secara dinamis.

- Aliran air di bawah tanah membangkitkan medan elektromagnetis karena muatan listrik yang berbeda pada molekul air dan molekul tanah. - Patahan dan dislokasi geologis adalah dislokasi dalam kerak bumi ke arah horizontal maupun vertikal yang mengakibatkan perubahan radiasi teristis. Biasanya patahan atau dislokasi geologis memiliki radioaktivitas (radiasi) lebih tinggi. Jika dalam dislokasi geologis tersebut terjadi aliran air maka timbul juga medan elektromagnetis. Radiasi teknik sering juga dinamakan technics atau radiasi buatan, radiasi ini juga mengakibatkan gangguan kesehatan tertentu, walaupun sebenarnya tidak masuk ilmu geomansi. Radiasi teknik terdapat pada instalasi listrik, penyinaran gelombang radio, tv, dan radar yang akan dibedakan antara medan listrik dan medan magnetis.

12

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

- Medan listrik buatan terdapat dimana ada kabel listrik yang disambung dengan pembangkit listrik, tetapi tidak disambung dengan pemakai (lampu dsb.). Medan listrik dapat dibuktikan sampai dengan jarak 18.0 m dari kabel tersebut, walaupun tidak ada listrik yang mengalir, medan listrik masih ada. - Medan magnetis buatan terjadi sesudah pemakai tersebut disambung (misalnya, lampu menyala). Sekarang listrik mengalir dalam kabel satu dari pembangkit ke arah pemakai dan dalam kabel kedua kembali dari pemakai ke pembangkit. Medan magnetis pada kabel listrik biasa dapat dibuktikan hanya pada jarak sekitar 1.0 m, akan tetapi setiap kumparan dalam peralatan listrik mengakibatkan medan magnetis yang kuat. Listrik yang mengalir mengakibatkan medan magnetis. - Medan magnetis buatan statis akan timbul dalam hubungan dengan bahan sintetik seperti kain, pelapis lantai vinil, mebel (spring bed) atau korden yang menghasilkan tegangan. Kemudian oleh muatan listrik yang dipisahkan dalam bahan sintetik tersebut maka berakibat ada sentakan listrik pada saat memegang bahan logam seperti pegangan pintu dan sebagainya. Oleh karena akibat konsentrasi ion dalam udara rendah, maka akan berakibat mempengaruhi kesehatan manusia secara negatif. Guna menghindari pengaruh negatif oleh radiasi technik tersebut di atas, maka di dalam rumah sehat sebaiknya diperhatikan hal-hal berikut: sejauh mungkin menggunakan lampu pijar daripada tabung fluoresensi semua instalasi listrik dilengkapi tiga kawat (pembawa arus, netral, pembumian) menghindari penggunaan spring bed karena per baja dapat menyalurkan medan elektromagnetis kepada orang yang tidur di atasnya mencabut steker semua alat listrik pada stopkontak, menghindari keadaan standby memilih monitor LCD sebagai layar computer/tv menghalangi anak dan remaja menggunakan telefon genggam (hand phone), juga orang dewasa sebaiknya menggunakannya sesedikit mungkin.

13

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Menanti Terwujudnya Arsitektur Ramah Lingkungan

Rumah Hemat Energi karya Tri Harso Karyono: Dengan orientasi bangunan yang tepat, ventilasi silang yang memadai, rumah sejuk tanpa AC seluas 200 meter persegi di Tangerang hanya menghabiskan kurang dari 100.000 rupiah tagihan PLN per bulan. Dunia desain interior Indonesia yang mulai berkembang pada era 1980-an kini telah berubah dengan cepat mengikuti tren desain interior yang juga bergerak cepat. Sebelum tahun 1985, menurut desainer interior Siti Adiningsih Adiwoso, tren desain interior yang sebelumnya diperkirakan akan berubah tiap 10 tahun, menjadi berubah setiap lima tahun sekali. Perubahan tersebut semakin cepat ketika memasuki tahun 2000.Sejak tahun itu, perubahan tren desain interior terjadi setiap 30 bulan.Perubahan tren tersebut juga diikuti dengan pekembangan teknologi yang digunakan.Teknologi digital generasi terbaru serta perusahaan yang dituntut lebih efisien, mewarnai perkembangan desain interior. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada sekitar tahun 1997-1998, kata Siti, juga berpengaruh terhadap perkembangan desain interior di negeri ini.Para desainer serta konsumen menghadapi dilema akibat naiknya harga berbagai material. Memasuki tahun 2006, perkembangan dunia desain interior turut pula dipengaruhi oleh perubahan iklim global. Menurut Siti, terjadinya pemanasan global atau global warming menuntut para arsitek untuk menghasilkan karya desain yang ramah lingkungan atau lebih dikenal dengan rancangan hijau atau "green design". Siti Adiningsih Adiwoso mengatakan, para arsitek Indonesia harus berani menjadi agen pembangunan dalam terciptanya desain arsitektur yang ramah lingkungan."Desainer interior atau arsitek dalam negeri jangan hanya berorientasi terhadap uang, dan tidak mau tahu desain yang ramah lingkungan," katanya.
14

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Ia menilai, penerapan "green design" dalam perkembangan zaman, sesungguhnya sangat mudah diterapkan. Ia mencontohkan, dengan memperbanyak penggunaan kaca pada sebuah bangunan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam. "Banyak cahaya yang masuk akan mengurangi konsumsi listrik untuk lampu," kata Presiden Direktur PT Asri Desindo Intiwidya itu. Ia menjelaskan, konsep tersebut sesuai dengan tren desain interior yang saat ini berkembang di Indonesia, yakni bercahaya, transparan, mudah dipindahkan, dan berwarna-warni. Selain itu, Ketua Asosiasi Toilet Indonesia ini juga mengharapkan, para desainer Indonesia dapat menjaga identitas lokal negeri ini."Para desainer boleh tetap bebas dalam berekspresi, namun harus tetap lokal sebagai identitas masa depan," katanya. Menurut dia, jangan sampai kasus klaim motif batik oleh Malaysia terjadi lagi."Kalau ada yang mencuri karya kita, baru kita teriak.Kita harus lebih sadar untuk menjaga," katanya. Ia juga mengritik desain bangunan modern di Jakarta yang belum mengacu pada bangunan ramah lingkungan atau "green building". "Masalahnya ada pada klien yang meminta macam-macam," katanya. Pendapat serupa juga disampaikan desainer muda Leonard Theosabrata.Menurut dia, para desainer harus kembali sadar atas pentingnya desain yang ramah lingkungan. "Green design ini merupakan suatu keharusan. Mau atau tidak, hanya masalah waktu menuju ke sana," katanya. Sosial Ekonomi Leonard Theosabrata juga mengakui, sedikit banyak tren desain dalam negeri dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi. "Model yang dipilih para klien tidak terlepas dari faktor latar belakang sosial serta ketersediaan dana," katanya.Namun, menurut dia, yang terpenting dalam desain ramah lingkungan ini yakni adanya pengertian antara desainer dan pelanggan sebagai pengguna jasa. "Hal terpenting ialah meningkatkan kesadaran desaner dan klien tentang arti penting green desain," katanya.Ia menambahkan, desainer interior Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menunjukkan kemampuan dan berkarya di dalam negeri. Ia menuturkan, peluang para desainer Indonesia untuk berkarya di dalam negeri cukup besar, mengingat belum banyak desainer asing yang bekerja di negeri ini. "Kesempatan masih luas bagi desainer Indonesia untuk membuktikan diri," katanya,Menurut dia, jika para desainer Indonesia justru memilih untuk berkarya di luar negeri, maka mereka justru akan sulit menujukkan kemampuannya, karena persaingan yang cukup ketat. Ia mengakui, para desainer lokal masih terbawa dengan gaya dan desain dari luar. "Desainer Indonesia memang sudah mulai kembali pada tren desain lokal, namun masih belum cukup," katanya.

15

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Menurutnya, gaya desainer dalam negeri boleh saja tetap mengadopsi model dari luar, namun esensi dari produk lokal jangan sampai hilang.(JAKARTA, KOMPAS.com)

Arsitektur Tropis Cenderung Ramah Lingkungan

PERUMAHAN LEGENDA WISATA: Desain gaya aristokrat yang megah di perumahan Legenda Wisata Cibubur merupakan perumahan yang banyak diimpikan banyak orang selama ini. Tren desain rumah selalu didasari pergerakan pasar karena tren memang sering kali diusung untuk men jawab kebutuhan pasar. Seperti josh ion, tren desain arsitektur selalu berganti-ganti dan tidak tetap, meskipun sebenarnya tidak selalu dibutuhkan. Itu karena memang merupakan faktor tambahan dalam desain arsitektur yang sesungguhnya.Banyak orang menyukai tren arsitektur karena dipandang bisa meningkatkan citra bangunan, terutama rumah tinggal. Beruntung bahwa tren yang sedang berjalan saat ini menuju pada pergerakan positif pada upaya pelestarian, pemanfaatan secara efektif dan pemeliharaan lingkungan.Hal ini didasari keadaan dan kondisi bumi yang makin terpengaruh pemanasan global yang banyak memicu kesadaran arsitek untuk menciptakan desak arsitektur yang ramah lingkungan. Arsitek dari asrudioarchitect Probo Hindano menjelaskan, kesadaran akan lingkungan dalam rumah yang baik sudah makin dimiliki masyarakat. Konsep arsitektur tropis yang ramah lingkungan dan sesuai untuk orang Indonesia mulai diminati kembali dengan sentuhan lebih modern. Dalam hal ini tetap stylish dengan gaya modern, tapi juga hijau. Arsitektur yang tren sesaat seperti Spanyol.Mediterania atau minimalis dipandang bukan lagi tren arsitektur rumah yang esensial karena hanya merupakan tren tampilan rumah saja, tapi belum menyentuh konsep ruang yang merupakan esensi arsitektur terpenting. Desain arsitektur tropis menjadi tren karena didasari kesadaran dalam dunia desain, terutama oleh para arsitek, ilmuwan dan pencinta lingkungan hidup untuk menggunakan desain yang ramah lingkungan, hijau, dan berkelanjutan.Konsep ini lebih didasari oleh kesadaran,
16

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

karena itu dengan adanya kesadaran untuk arsitektur yang lebih hijau dan berwawasan lingkungan."Hal ini berarti kesadaran masyarakat dan para praktisi arsitek pada umumnya sudah meningkat daripada sekedar membuat desain bangunan yang tidak berwawasan lingkungan." jelas dia saat dihubungi Seputar Indonesia. Ciri khas desain arsitektur tropis ini adalah memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan baik.Sehingga meminimalkan kerusakan lingkungan akibat desain arsitektur.Beberapa contoh aplikasi desain yang hijau.Misalkan saja sinar atau cahaya matahari untuk mengurangi atau menghilangkan pemakaian listrik untuk penerangan buatan.Berbagai trik desain seperti atap yang tinggi, ventilasi yang baik, unsur tanaman dan perkerasan di sekitar rumah menjadi pendukung untuk konsep ini. Selain itu, penghawaan alami yang didukung oleh desain yang tidak memerlukan AC atau penghawaan buatan, karena sudah terasa dingin dan sejuk, didukung oleh pelestarian tanah dengan menanam banyak pohon untuk penghijauan. "Lahan yang makin sempit dan mahal harus didesain dengan seksama sehingga tetap memiliki taman yang menyegarkan area rumah, menjadi area peresapan air sehingga mengurangi banjir." terangnya. Pembangunan yang cenderung vertikal, sehingga makin banyak lahan tersisa untuk penghijauan dan peresapan air tanah. Meskipun tidak memiliki taman di atas tanah, bisa juga menggunakan taman di atas atap dan beton, hal ini juga mulai menjadi tren, sehingga tetap ada area untuk bersantai bagi keluarga menikmati alam. Sementara pada unsur tampilan, desain rumah pada 2010 cenderung akan mengadopsi gaya arsitektur modern dan tropis yang banyak menggunakan unsur material ekspos seperti batuan ekspos dan lapisan kayu. Ini membuat tampilannya menjadi makin segar. Sayangnya belum banyak pengembang yang membangun rumah dengan desain seperti itu.Ini karena orientasi pengembang saat ini barangkali masih 90% berorientasi pada keuntungan ekonomis dari penjualan rumah-rumah atau apartemen. Karena itu tren yang ditawarkan perumahan pengembang pada umumnya masih kalah maju selangkah daripada karya arsitek yang sudah memiliki kesadaran itu.Hal ini karena arsitek perumahan berbeda dengan arsitek independen, dimana arsitek yang independen lebih bisa mengimplementasikan berbagai konsep arsitektur tropis dan hijau tanpa terpengaruh oleh faktor keuntungan. Apabila ada pengembang yang berani menawarkan konsep arsitektur hijau yang tidak terpengaruh unsur ekonomis bangunan, maka pengembang ini sudah mengikuti tren dunia yang berkembang saat ini. Arsitek dari PT Buanareksa Binaperkasa, Andry Hermawan menjelaskan, tren desain rumah pada 2010 lebih kepada sustainable environment dan ecological issue. Efisiensi biaya dan energi menjadi suatu keniscayaan. Di Indonesia sendiri masih akan menganut minimalis dan tropical design, namun tidak tertutup kemungkinan berkembangnya arsitektur organik. "Arsitektur vernakular bergaya Sunda dan Bali modern pun semakin dilirik," ucapnva.(hermansah)

17

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Membangun Rumah Ramah Lingkungan


Rumahpun bisa dibuat ramah lingkungan, dengan memaksimalkan sirkulasi angin dan cahaya yang ada di sekitar bangunan tersebut.Untuk mendapatkannya, kita harus merogoh kantong mulai dari Rp 100-500 juta.Suasana yang nyaman bisa saja diperoleh meskipun rumah ramah lingkungan itu ada di tengah kota. Keuntungan lainnya adalah kualitas hidup pun akan lebih baik. Hal itu diutarakan oleh Erlavina, konsultan rumah ramah lingkungan. Apa yang dimaksud rumah ramah lingkungan?Hal itu merupakan konsep rumah hemat energi.Bagaimana kita memanfaatkan energi alami disekitar rumah, seperti angin dan cahaya.Peninjauan ramah lingkungan itu terbagi dua segi. Pertama adalah segi fisik atau material yang akan dipakai. Segi kedua adalah desain, yang melihat penciptaan rumah nyaman huni dengan memperhatikan penghematan energi secara maksimal. Untuk masyarakat yang sudah punya rumah, bisa mengurangi penggunaan lampu neon panjang, yang ternyata lebih memakan energi.Disarankan menggunakan lampu seperti bohlam yang sudah hemat energi. Bisa saja kita mempertinggi langit-langit.Hal itu berguna mengurangi radiasi panas dalam ruangan.Untuk atap bisa menggunakan atap baja ringan, hal itu mengurangi penggunaan kayu yang sangat banyak digunakan saat pembangunan atau renovasi rumah. Yang harus diperhatikan selain penghematan energi dari sisi arsitek, biasanya akan memperhatikan arah cahaya dan angin, untuk energi alami di dalam ruang. Hitungan tersebut menjadi panduan saat membuat pintu dan jendela.Begitu pula penggunaan atap transparan agar ditembus cahaya matahari sebagai penerang dalam ruangan. Rumah ini bisa dibangun dimana saja. Mulai dari pinggir kota, tengah kota, bahkan vilavila di pedesaan.Material ramah lingkungan memang belum banyak di pasaran, sehingga harganya cukup tinggi.Padahal membangun rumah ramah lingkungan tidak terlalu mahal.Penggunaan material itu disesuaikan saat arsitek mendesain awal. Mereka akan memanfaatkan sumber-sumber cahaya dan angin yang ada, sehingga bisa meminimalisir penggunaan listrik, seperti AC atau lampu. Penanganan limbahnya, seperti air dan sampahnya juga harus dipikirkan bagaimana limbah rumah tersebut ditangani.Seperti peletakan septic-tank, pengaliran limbah air kotor, hingga bagaimana memanfaatkan air hujan yang ditampung. Keuntungan yang didapat dengan rumah ramah lingkungan, yaitu suasana kenyamanan akan diperoleh karena pengaturan sirkulasi angin dan cahaya yang apik. Kondisi tersebut tetap didapatkan meskipun rumah berada di tengah kota. Hal itu membuat kualitas hidup lebih baik. Pada umumnya biaya membangun rumah ramah lingkungan tipe 36 bisa mencapai ratarata Rp 500 juta. Di bawah Rp 100 juta pun bisa membangun rumah ramah lingkungan tinggal dilihat apa yang akan diubah. Mungkin biayanya bisa lebih sedikit.

18

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Green Building untuk Iklim Mikro, Bangunan Ramah Lingkungan Syaratkan Efisiensi Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini.Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Poin terbesar dalam konsep ini adalah penghematan air dan energi serta penggunaan energi terbarukan, kata Rana Yusuf Nasir dari Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI), sebagai salah satu pembicara dalam diskusi panel Pemanasan Global-Apa yang Dapat Dilakukan Dunia Properti?, Jumat (24/8) di Jakarta. Menurut Rana, di Indonesia akses energi terbarukan masih lemah. Suplai energi listrik untuk properti hanya mengandalkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang belum menggunakan sumber energi terbarukan. Di Amerika Serikat, lanjut Rana, berbagai perusahaan penyuplai energi listrik dengan berbagai pilihan bahan bakar, termasuk bahan bakar terbarukan. Pengembang yang memilih energi listrik dari sumber terbarukan akan memperoleh poin terbesar dalam konsep green building. Pembicara dalam diskusi panel tersebut di antaranya Yandi Andri Yatmo (Ikatan Arsitek Indonesia-Jakarta), Meiko Handoyo (Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia-Jakarta), Simon Molenberg (Director Tourism, Real Estate and Construction Asia Region), dan Stephanus D Satriyo (Asosiasi Manajemen Properti Indonesia). Di banyak negara, bagi Meiko, penerapan konsep green building terbukti menambah nilai jual. Namun, di Indonesia masih butuh proses edukasi panjang. Di Indonesia bahkan muncul kerancuan bahwa bangunan ramah lingkungan itu mahal, sulit, dan tidak feasible secara bisnis. Para pengelola gedung sebagai pengguna energi cukup besar kini memiliki tanggung jawab mengurangi pemanasan global dengan cara-cara menghemat energi, air, bahan bakar, dan sebagainya, kata Satriyo.Kegiatan diskusi panel yang difasilitasi PT Colliers International Indonesia dan PT Cisco System Indonesia itu sekaligus untuk mengenalkan acuan green building melalui konsep Leadership in Energy and Environtmental Design (LEED). Menurut Rana, penerapan konsep LEED pada hakikatnya sebagai upaya pemberian penghargaan atas karya properti ramah lingkungan atau yang memegang konsep green building.Konsep LEED memperkenalkan 85 poin penilaian yang memiliki peringkat tersertifikasi, silver, gold, dan platinum.

19

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Efisiensi Menurut Rana, yang juga menjadi Ketua Himpunan Ahli Tata Udara dan Refrigerasi tersebut, penerapan LEED untuk pembangunan properti juga mensyaratkan secara mutlak beberapa hal, seperti efisiensi penggunaan air, penggunaan energi secara minimum, atau upaya perlindungan lapisan ozon. Sementara itu, menurut Rana, pemilik atau pembangun properti di Indonesia hingga sekarang belum ada yang memiliki sertifikasi LEED.Beberapa negara, seperti India, China, Dubai, dan Vietnam, juga sudah cukup banyak menerapkan konsep LEED.Sertifikasi LEED pada awalnya dirumuskan Green Building Council Amerika Serikat. Menurut Yandi, dunia pendidikan dan profesi arsitektur selama ini cenderung melihat arsitektur sebagai bangunan yang berdiri sendiri.Kita perlu memperluas pengertian tentang arsitektur ini.Tolok ukur green building membuka kesempatan untuk menempatkan bangunan dalam jaringan yang lebih luas, terkait aspek-aspek iklim, sumber daya alam, sosial, dan budaya, kata Yandi Andri Yatmo. Menurut dia, Pendidikan berperan penting dalam pemahaman tentang sustainability.Isu utama menyangkut bangunan ramah lingkungan, kata Yandi, di antaranya adalah membangun hanya yang diperlukan dan tidak menggunakan lebih dari yang diperlukan, menganut prinsip keterkaitan, serta memandang profesi arsitek sebagai pengurus bumi (steward of the earth). Strategi desain yang dapat diterapkan antara lain, tambah Yandi, pemanfaatan material berkelanjutan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan mengedepankan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.

3.1. PERENCANAAN RUMAH RAMAH LINGKUNGAN Konstruksi Pada dasarnya, konstruksi rumah yang baik adalah konstruksi yang menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan, dalam hal ini rumah ramah lingkungan.Sangat disayangkan, kurang dari satu persen bangunan diIndonesia masih belum menerapkan konsep konstruksi berkelanjutan ini. Konstruksi berkelanjutan merupakan prinsip pembangunan yang diterapkan mulai dari pemanfaatan bahan baku, perencanaan, infrastruktur, dan pengelolaan limbah. Konsep konstruksi berkelanjutan menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu. Selain itu konstruksi berkelanjutan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan yang merupakan proses pemeliharaan keseimbangan kehidupan secara ekologis, sosial, dan ekonomis.

20

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Penggunaan bahan material sangat berperan besar dalam pelaksanaan konstruksi bangunan yang ramah lingkungan.Akibat pemanasan global berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia bahan bangunan.Penggunaan material bangunan yang tepat dapat menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan. Dalam proses pembangunan rumah ramah lingkungan sebaiknya dilakukan survey terlebih dahulu, untuk menentukan alternatif material bahan bangunan yang bersifat praktis dan mampu memberi solusi yang tepat bagi kebutuhan bangunannya. Pemilihan material bahan bangunan berpengaruh pada konsumsi energi bangunan tersebut. Pada saat didirikan, konsumsi energi bangunan tersebut berkisar antara 513% sedangkan 87-95% merupakan angka konsumsi energi bangunan selama masa hidup bangunan tersebut. Sebagai contoh penggunaan material bahan untuk membangun rumah ramah lingkungan yaitu pembangunan bangunan hijau.Yang dimaksud bangunan hijau disini adalah bangunan yang menggunakan material bahan bangunan yang lebih memperhatikan keadaan alam. Penggunaan baja ringan dan alumunium untuk kerangka bangunan utama dan atap mulai dilakukan sebagai pengganti material kayu.Beredarnya isu illegal logging akibat penebangan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian bumi.Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya.Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil. Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan.Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi.Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium. Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu). Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan. Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah satu bentuk inovatif desain. Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam denganwarna pilihan eksklusif dan
21

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yangbervariasi.Bangunan menggunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramahlingkungan. Beberapa produsen telah membuat produk dengan inovasi baru yangmeminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumberdaya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, danmenghemat penggunaan energi secara keseluruhan. Bahan baku yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarianlingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkanagar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahanbangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yangberkualitas sekaligus ramah lingkungan.Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utamadalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsepbangunan ramah lingkungan. Pada akhirnya di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan krisisekonomi sekarang, cara pandang merencanakan atau merenovasi bangunan sudahharus mulai diubah. Bagaimana menghadirkan bangunan yang hemat (bahanbangunan, waktu, tenaga) yang berujung pada penghematan anggaran biayadengan tetap menjaga kualitas dan tampilan bangunan, serta ramah lingkungan.Selamat mewujudkannya.bangunan berkualitas yang ramah lingkungan.Beberapajenis bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas yang memengaruhi harga.Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan anggaran biaya yang tersediadan dilakukan sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk mengaturpengeluaran sehingga bangunan tetap berkualitas.

Solusi Pembangunan: Arsitektur Ramah Lingkungan GEREJA MALATE Dibangun pada masa perang di tahun 1591, Gereja Malate di Manila dibuat dari batu dan bata yang mampu menahan serangan suku Moro. Kini, lebih dari 400 tahun sesudahnya, gereja tersebut menghadapi ancaman lain. Meningkatnya suhu yang disebabkan perubahan iklim menyebabkan temperatur di dalam gereja memanas sehingga menghadiri misa menjadi aktivitas yang tak tertahankan. Seorang arsitek lokal bernama Clifford Espinosa memiliki solusi atas permasalahan ini. Espinosa adalah pelopor gerakan arsitektur ramah lingkungan di negara tersebut. Ia mulai menciptakan bangunan ramah lingkungan sejak tahun 80-an ketika perubahan iklim belum terdengar. Kini, saat pemanasan global telah menjadi masalah lingkungan yang terbesar, Espinosa telah menciptakan rancangan-rancangan yang modern dan tidak
22

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

mahal. Sistem pengaturan suhu di Gereja Malate diperkirakan memakan biaya 25 juta peso. Solusi yang ditawarkan Espinosa hanya membutuhkan 2 juta peso. Pada musim panas, suhu di Manila dapat mencapai 36 derajat Celsius, namun di dalam gereja, suhu menurun hingga di bawah 30 derajat. Dinding-dinding terasa sejuk, dan udara berhembus dengan bebas bahkan pada siang hari, saat cuaca di luar sedang terik-teriknya. Tidak hanya dapat menikmati udara yang lebih sejuk, jemaat Gereja Malate juga bisa mendengarkan misa dengan lebih baik karena ruang ekstra dari rancangan Espinosa telah memperbaiki sistem akustik dan mengurangi pantulan suara di dalam gereja.

Desain Organik Lebih Ramah Lingkungan


Gaya minimalis sudah lewat. Sejak tahun lalu tren arsitektur dan desain interior sudah berubah. Kini mulai berkembang, tren desain organik. Seminar ini membahas mengenai tren desain arsitektur dan interior dunia belakangan ini. Seminar ini menghadirkan arsitek dan desainer interior asal Italia, Francesco Lucchese, dan desainer interior berpengalaman asal Indonesia, Naning Adiwoso. Gaya minimalis benar-benar sudah ketinggalan zaman. Saat ini, di dunia internasional, gaya desain organik (organic design ) pada bangunan maupun interiorlah yang sedang menjadi tren. Desain organik adalah desain yang mengikuti bentukan-bentukan alam. Contohnya, atap bangunan yang dibuat melengkung - berbukit dan berlembah - menyerupai bentuk alami kontur tanah.Desain organik ini juga meliputi pilihan warna. Kita bisa memilih warna-warna alam, seperti hijau daun, atau warna-warni bunga. Tidak perlu takut bermain warna. Memadukan hijau dengan ungu, meskipun tampak aneh saat dibayangkan, ternyata bisa juga kok tampil cantik. Intinya, bebaskan ekspresi dan percaya diri. Pilihan-pilihan warna ngejreng seperti ini, mengingatkan saya pada desain-desain bergaya retro (kembali ke masa lalu), yang tampaknya sedang digemari juga di Indonesia. Banyak desain furnitur saat ini yang kembali ke gaya tahun 1960 atau 1970an. Mulai dari desainnya yang berpola atraktif, seperti lengkung dan kurva. Juga warna-warnanya yang berkesan "berani". Terlepas dari apakah kedua gaya tersebut berkaitan, menurut saya, kedua gaya ini menarik. Mengapa? Karena keduanya mengeksplorasi sisi personal pemilik rumah atau gedung. Kita tidak perlu lagi takut mengaplikasikan warna favorit, yang mungkin tergolong terlalu cerah dan menyolok. Justru warna-warna demikian sedang banyak digemari dan diaplikasikan. Desain Organik Berkaitan dengan Pemanasan Global Mungkin sebagian dari kita sudah mulai bosan dengan pembicaraan soal Pemanasan Global (Global Warming ). Walau bagaimanapun keadaan planet Bumi kita tecinta ini memang sedang "sekarat". Kalau bukan kita, yang tinggal di permukaannya, yang melindungi dan menjaganya, siapa lagi.
23

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Seperti yang dikatakan oleh Naning Adiwoso dalam presentasinya mengenai tren desain arsitektur dan interior, "Desain-desain bangunan dan interior saat ini, menyumbang setidaknya 60% penyebab terjadinya pemanasan global. Oleh karena itu, kita patut memberikan perhatian khusus." Desain organik yang mengadaptasi bentuk-bentuk alami, menurutnya bisa membuat kita lebih menghargai alam. Jika para arsitek dan desainer interior sudah bisa membuat desain-desain yang menghargai lingkungan, giliran konsumen yang harus diyakinkan. Siapa konsumen itu? Kita semua tentunya. Berbicara soal gaya bangunan, sebenarnya kembali lagi pada diri masing-masing. Tidak perlu mengikuti tren, jika memang dirasa tak cocok. Tetapi memilih desain bangunan atau ruang yang ramah lingkungan, rasanya merupakan keharusan. Mau tidak mau, kita akan dipaksa untuk berbuat sesuatu untuk Bumi. Bagi kita, masyarakat yang awam dengan desain arsitektur maupun interior, juga bisa kok berbuat sesuatu. Paling tidak kita bisa menghemat listrik, air, dan sumber energi lainnya. Jangan lupa juga menyediakan ruang terbuka hijau. Buat saja taman kecil-kecilan di sudut ruang.(Annisa Q. Aini)

Eco-design: Rumah Ramah Lingkungan/Eco Friendly: Rumah Asri di tengah Polusi

annahape.com Model rumah idaman tidak cukup kalau hanya bagus dipandang mata. Itu pikiran setengah kuno, egois dan cenderung narsistik. Konsep rumah minimalis, rumah modern, rumah tradisional atau apapun dewasa ini mesti ditambahi satu unsur yaitu ramah lingkungan! Dalam dunia arsitektur konsep desain yang ramah lingkungan disebut sebagai ecodesign.Apa saja yang harus dipenuhi dalam desain rumah ramah lingkungan? Berikut penjelasan dan contohnya.Rumah ramah lingkungan artinya rumah yang mengintegrasikan seluruh proses dalam kesatuan dengan mempertimbangkan akibatnya bagi lingkungan. Artinya,
24

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

sejak awal proses desain, pembangunan dan pemanfaatan bangunan berbagai segi dipertimbangkan. Aspek yang harus dipertimbangkan utamanya adalah: 1. Konsumsi sumber daya yang hemat dan efisien (energi, material, air dan lahan) 2. Emisi baik terhadap udara, air dan tanah terkait dengan lingkungan dan kesehatan 3.Lain-lain (seperti kebisingan dan getaran). Kalau Anda ingin mengaplikasikan ecodesign bagi rumah idaman Anda, konkretnya bisa menjadi banyak sekali.Misal, rumah yang kaya sinar matahari, agar listrik dapat dihemat.Jendela yang banyak dan aliran udara yang lancar sehingga Anda tidak membutuhkan AC. Lahan yang cukup untuk sumur resapan. Ruang hijau, alias taman yang mensuplai kebutuhan udara bersih. Instalasi pembuangan air kotor dan sampah yang dapat didaur ulang.Pemanfaatan bahan bangunan yang tidak boros.Dan lainnya.Dan sebagainya. Wuih, ternyata banyak segi yang harus diperhatiakan dalam desain.Tentu tidak semua desain dapat selalu menampung seluruh aspek.Tapi minimal. Sekali lagi minimal: Anda jangan pernah menghabiskan seluruh lahan untuk rumah, atau tertutup semen. Anda perlu memperhitungkan agar setiap ruang mendapatkan sinar matahari dan udara yang cukup.Gunakan dan letakkan titik lampu pada tempat yang optimal. Dalam contoh di bawah ini konsep ecodesign coba kami terapkan dalam sebuah bangunan berlantai 3. Perhatikanlah bahwa di setiap lantai, kami menyediakan ruang terbuka yang dapat dipakai untuk kebun atau tanaman hias,aliran udara yang melimpah, namun tetap terlindung dari sengatan matahari. Gambar perspektif tampak rumah dan potongan dari berbagai sudut yang memperlihatkan penempatan ruang hijau di semua lantai.

25

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Gambar Detail Arsitektur yang memperlihatkan taman di depan dan belakang rumah. Taman menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan dari seluruh bangunan,

Gambar detail pada balkon lantai dua, dengan roof garden, serta secondary skin yang mensiasati sinar matahari agar tidak langsung masuk ke dalam rumah. Tetapi tetap ada aliran udara yanglancar masuk kedalam rumah.

Nah, kalau kebetulan sekarang Anda sedang mendesain rumah idaman, tanyakanlah kepada arsitek Anda, di bagian mana sang arsitek menerapkan ecodesign?

26

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Tinggi Plafon Rumah Tinggal yang Ideal? Berkreasi dengan Void dan Loft

annahape.com Dalam mendesain arsitektur rumah, tinggi plapon rumah idaman Anda tergantung pada beberapa hal. Secara ringkas hal-hal yang perlu Anda perhatikan dalam menentukan tinggi langit-langit rumah adalah iklim, proporsi ruang/estetika, sirkulasi udara, dan pencahayaan. Para arsitek umumnya sepakat bahwa ada kecenderungan perubahan selera dimana para pemilik rumah menginginkan plafon rumah yang lebih tinggi. Kalau kita perhatikan plapon di rumah-rumah standard yang dibangun 20-30 tahun lalu berkisar antara 250-260cm. Sedangkan hunian modern dewasa ini menawarkan tinggi plafon pada kisaran 280-300cm. Bahkan beberapa bagian ruangan mempunyai tinggi plafon 4m sampai 7m tingginya. Lihat gambar 1 salah hasil desain kami dimana bagian tengah rumah satu latai ini mempunyai plafon setinggi 7 meter.

27

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Gbr Rumah 1 Lantai dengan Plafon Tinggi Kecenderungan rumah modern dengan plafon tinggi barangkali tidak sekedar selera namun terkait dengan kenyamanan dan estetika desain rumah. Namun demikian, untuk Anda yang akan membangun atau mendesain rumah, beberapa prinsip dasar yang saya sampaikan mungkin berguna. Pertama, faktor iklim Kalau Anda perhatikan rumah-rumah di daerah beriklim dingin cenderung mempunyai langit-langit rumah yang rendah. Di Jepang atau Eropa misalnya, tinggi plafon 2,4 atau 2,5 meter adalah hal yang biasa. Alasannya adalah penghematan energi. Semakin tinggi plafon semakin tinggi pula pemanasan diperlukan.

Gbr Plafon Tinggi dengan Mengekspos Kemiringan Atap Sementara itu, di daerah pesisir atau beriklim panas plafon yang tinggi memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik. Sebagian dari Anda mungkin sudah tahu bahwa udara panas akan bergerak ke atas. Dengan demikian plafon yang tinggi memungkinkan udara di ruangan menjadi tetap sejuk.Selain itu, dengan plafon yang tinggi dimungkinkan cahaya matahari dapat masuk lebih dalam ke semua bagian rumah. Dan dengan demikian ruangan tidak terasa lembab. Maka, saran saya bila Anda tinggal di daerah pesisir dengan udara yang cenderung panas sebaiknya tinggi plafon tidak kurang dari 280cm, atau antara 2,8 3,2 m.

28

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Kedua, proporsi dan estetika Desain arsitektur tak lain bicara tentang proporsi ruang. Desain yang indah itu berarti proporsional. Para mahasiswa arsitektur umumnya tahu bahwa untuk menentukan tinggi plafon standard sebuah ruangan berlaku rumus: (panjang + lebar)/2. Artinya sebuah ruangan berukuran 3x4m akan tampak proporsional bila plafonnya berukuran sekitar (3+4)/2=3,5m. Tentu saja ini bukan rumus matematis baku karena proporsi ideal dapat diolah melalui penataan interior yang baik. Intinya, semakin besar ruangan semakin tinggi plafon, atau plafon haruslah lebih tinggi dari lebar ruangan. Karena bila tidak diimbangi plapon yang tinggi, ruangan yang besar akan tampak seperti lorong yang pengap.(The Four Books on Architecture) Karena itu bila Anda mempunyai ruang keluarga yang cukup luas, semisal 8x5m tanpa sekat-sekat, Anda dapat membuat plafon sampai 6-7m.

Gbr Pentingnya void di rumah dengan satu akses Void atau Loft Bila Anda membangun rumah dua lantai atau lebih, plafon yang tinggi akan tercipta dengan sendirinya bila Anda membuat void. Yaitu ruang yang dibiarkan kosong di lantai dua sehingga pandangan dapat langsung terarah ke plafon lantai 2. Penciptaan plafon yang tinggi dapat juga Anda lakukan dengan mengekspos kemiringan atap. Dengan cara itu Anda dapat menciptakan plafon yang indah. Sekaligus ruangan akan terasa lebih luas. Void dapat juga berarti ruang terbuka tanpa atap di bagian rumah yang hanya mempunyai satu akses yaitu dari depan. Di banyak perumahan, rumah Anda dikelilingi tembok di kiri kanan dan belakang. Bila kondisi ini yang Anda dapatkan, kehadiran void menjadi vital entah dibagian
29

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

belakang atau samping rumah. Yaitu agar sirkulasi udara dan cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah. Menutup seluruh lahan dengan atap tidak disarankan. Lihat gambar 3 yang menunjukkan letak void pada rumah ukuran 615 di sebuah cluster.

Gbr Loft atau mezzanine di rumah berplafon tinggi Bila void yang Anda ciptakan masih cukup luas, pada bagian tertentu Anda masih bisa membuat loft yang dapat dipakai sebagai tempat bermain atau ruang hobby yang terbuka. Kesan ringan dengan memanfaatkan material yang sesuai dan desain terbuka serta adanya jendela kaca plus ventilasi sangat penting agar sirkulasi udara tetap terjamin dan kesan luas tidak hilang. Lihat gambar 4 Eksterior Arsitek Design Ramah Lingkungan Pembangunan rumah atau renovasi rumah yang betul & ramah lingkungan seperti apa sih sebenarnya ? Bentuk arsitek yang bagaimana yang ramah lingkungan ? sistem ventilasi yang tepat yang bagaimana ? Sistem pembuangan yang tidak merugikan lingkungan bagaimana cara membuatnya ? Berikut sedikit penjelasan yang mungkin berguna untuk Anda dalam mewujudkan rumah impian yang mempunyai arsitek design yang ramah lingkungan. Renovasi atau Bangun Rumah Jika Anda ingin renovasi atau bangun rumah dengan arsitek design ramah lingkungan sebaiknya mintalah bantuan dari konsultan arsitek untuk membantu Anda dalam memilih design atau lokasi yang tepat untuk membangun rumah. Arsitek design yang bagaimana ? arsitek design yang tidak merugikan baik dari bahan bangunan, waktu yang tepat pembangun rumah. Lokasi
30

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

pembangunan rumah kita harus pintar memilih lokasi pembangunan rumah yang tidak berada di tempat seperti ruang hijau atau lokasi seperti rawa- - rawa karena dapat merugikan kita sendiri dalam hal ini peranan konsultan arsitek sangat penting karena mereka memiliki pengalaman di bidang tersebut. Bahan Bangunan Pemilihan bahan bangunan untuk rumah atau bangunan lainya juga harus Anda pertimbangkan karena beberapa bahan bangunan dapat di katakan tidak ramah lingkungan, sebaiknya pilihlah bahan bangunan yang ramah lingkungan karena Bahan baku yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan. Arsitek Design Rumah Pemilihan bentuk rumah baik itu dalam peletakan ventilasi, taman rumah, pintu, jendela dan sebagainya juga harus Anda pikirkan. Sekali lagi mintalah bantuan dari konsultan arsitek design dalam proses memilih, membangun dan membuat bentuk design rumah ramah lingkungan Anda. Taman Rumah Bangunlah taman rumah di rumah Anda, karena taman rumah berguna mengatur keseimbangan dan keharmonisan alam yang ada di sekitar rumah Anda. Perbanyak tanaman hijau di rumah agar udara sejuk selalu melintasi dan hinggap di rumah impian Anda.

Taman Tropis: Sejuknya Berada di Antara Rimbunnya Tanaman

iDEA Online/ Fardina R. Suri Taman tropis. Lokasi: Rumah Endang Lestari, Ciledug, Tangerang
31

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

"Saya lebih suka taman yang rimbun. Walaupun beberapa orang beranggapan, taman di rumah saya sudah seperti hutan," demikian pendapat Endang Lestari, seorang desainer lansekap sekaligus pemilik taman di foto ini. Menurutnya, Indonesia adalah negara tropis, seharusnya tamannya pun tropis. Kolektor tanaman ini juga mengatakan bahwa ciri khas taman tropis adalah rimbunnya dedaunan hijau. Merupakan sebuah kebahagiaan untuknya, kalau tamannya didominasi warna hijau segar. Lebih indah lagi jika si taman rimbun ini dihiasi beragam warna bunga. Taman di rumah Endang ini memang diisi beragam tanaman tropis, mulai dari pisang-pisangan, kuping gajah, soka, dan sebagainya. Buatnya taman yang rimbun membuat lingkungan rumah lebih alami dan segar. Memang sih, taman seperti ini membutuhkan perawatan ekstra. Kalau dibiarkan dalam beberapa lama, tanpa perawatan, bisa-bisa taman tampak berantakan dan kotor. Belum tanaman yang layu dan mati. Menurut Endang, kita bisa memilih tanaman-tanaman yang tidak terlalu menuntut perhatian. Untuk rumput, misalnya. Dia memilih rumput kucai yang tidak akan tumbuh tinggi. Sehingga tidak perlu repot memangkas. Rumput ini juga cepat bertunas, jadi tidak banyak ditanam, Dalam beberapa waktu, tanah akan tertutup hamparan kucai. Pada dasarnya, ujar Endang, tanaman tidak perlu terus-menerus disiram. Siram hanya ketika tanahnya mulai kering. Kalau tanahnya masih lembap, artinya masih mengandung air. Apalagi jika musim hujan tiba, pekerjaan menyiram tanaman bisa dihilangkan sama sekali. Tapi perlu hati-hati juga, kalau hujan turun terus menerus dengan intensitas yang banyak. Terlalu banyak atau terlalu sering terendam air, bisa membuat akar tanaman membusuk. Akibatnya tanaman mudah layu dan mati. Jadi triknya, kalau hujan turun setiap saat dengan intensitas banyak. Bawa tanaman ke area yang terlindung dari hujan, selama beberapa hari. Kemudian keluarkan lagi, jika tanahnya sudah mulai mengering. Nah, Anda berminat membuat taman tropis, di rumah? (Anissa Q. Aini/iDEA) (KOMPAS.com)

3.2. MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN Yuk Pilih Material Ramah Lingkungan! Sejak fenomena pemanasan global mencuat, isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan banyak digaungkan di berbagai bidang termasuk properti. Di bidang ini, pemilihan material atau bahan bangunan adalah salah satu langkah yang dilakukan dalam upaya menciptakan green property atau properti yang ramah lingkungan.
32

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Di mata konsultan arsitek Ir Sukendro Sukendar, ada kecenderungan masyarakat Indonesia saat ini semakin sadar akan pentingnya memilih bahan atau material yang mengakomodasi isu-isu lingkungan misalnya yang menyangkut go green, low energy, dan antitoksin. "Selain memilih material yang harganya kompetitif, saat ini kesadaran untuk memilih materi berkualitas, efisien, dan ramah lingkungan menjadi pilihan masyarakat modern," ungkap Sukendro dalam talkshow bertajuk "Solusi Membangun dan Merenovasi Rumah Impian-Efisien dan Efektif dengan Hasil Berkualitas" yang diselenggarakan Mortar Utama, Selasa (23/6) di Jakarta. Memilih material ramah lingkungan, kata Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DKI Jakarta ini, menjadi penting karena tidak hanya semata-mata demi kelestarian alam, tetapi juga sebenarnya jauh lebih efisien dan hemat dari segi estimasi biaya jangka panjang. Secara sederhana, Sukendro menjelaskan bahwa pemilihan material yang ramah dapat dijabarkan menjadi dua hal yakni dari sisi teknologi dan penggunaan. Dari sisi teknologi, misalnya, pemilihan bahan sebaiknya menghindari adanya toksin atau racun dan diproduksi tidak bertentangan dengan alam. Sebagai contoh, minimalkan penggunaan material kayu, batu alam ataupun bahan bangunan yang mengandung racun seperti asbeston. Sedangkan dari sisi penggunaan, pemilihan material yang ramah lingkungan misalnya menggunakan lampu hemat energi seperti lampu LED yang rendah konsumsi listrik, semen instan yang praktis dan efisien, atau pun memilih keran yang memakai tap yang hanya mengeluarkan air dalam volume tertentu. Semen instan Menyoal penggunaan semen instan sebagai bahan yang ramah lingkungan, Sukendro mengakui bahwa semen saat ini masih menjadi salah satu penyumbang pemanasan global. Namun dilihat dari penggunaannya, semen instan dinilai lebih ramah lingkungan karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan semen konvensional. "Semen instan menjadikan pembangunan menjadi lebih efektif, efisien, dan hemat dari segi biaya dan waktu," ujarnya. Sementara Anton Ginting, GM Marketing PT Cipta Mortar Utama, menambahkan, banyak masyarakat yang mulai beralih menggunakan semen instan setelah mempertimbangkan efisiensi waktu dan biaya. "Dengan semen instan, kualitas bangunan yang dihasilkan jauh lebih baik dibandingkan cara konvensional," ujarnya.

Menentukan Material Ramah Lingkungan


SUSTAINABLE adalah sebuah sikap, bukan sebuah style bangunan. "Style bisa apa saja, tapi spiritnya harus sustainable," kata arsitek Ary M Wibowo, principal architect Arry Teman

33

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Architects Designers. Arsitektur, tambahnya, bukan sekadar merancang bangunan, melainkan merancang kehidupan yang lebih baik. Dalam Suslainabledesignforum.com arsitek Amerika Eric Corey Freed menyebutkan konsep sustainable dalam bangunan dilihat dari seberapa banyak energi yang digunakan, bagaimana air dikonservasi, bagaimana kualitas udara dalam ruang, dan bagaimana ketergantungan pada material alam dikurangi. Menurut Eric yang dianugerahi Best Green Architect 2005 oleh San Fransisco Magazine, tantangan paling berat dalam penerapan konsep sustainable adalah kurangnya pemahaman tentang mana material yang termasuk green. "Tidak ada material yang ramah lingkungan sepenuhnya. Semua material memiliki sisi positif dan negatif," tulisnya. Kuncinya adalah memahami material mana yang paling bermanfaat untuk suatu proyek. Contohnya, banyak orang bertanya-tanya, apakah beton itu material green. Jawabannya tidak bisa sesederhana ya atau tidak. Yang jelas, beton memiliki beberapa sisi positif tahan lama, tidak mengeluarkan gas, dibuat dari pasir, batu, dan air. Di sisi lain, beton memiliki sisi negatif. Bahan utamanya semen. Bahan itu ditambang langsung dari bumi, dipanaskan sampai temperatur tertentu, dan menghasilkan produk sampingan berupa efek gas rumah kaca. Material beton pun tidak jadi termasuk green karena proses pembuatan bahan bakunya menyebabkan polusi. Jadi, Eric menuliskan, jika masalah ada pada bahan baku, kita dapat menggantinya. Untuk semen, misalnya, dapat diganti separuh bahan bakunya dengan material yang disebut semen fly ash. Di Indonesia sering disebut semen pozzolan buatan. Material ini diambil dari hasil sampingan pembakaran batu bara. Penelusuran itu disarankan Eric agar kita memahami benar material mana termasuk ramah lingkungan. Untuk membantu penelusuran ini, beberapa pertanyaan berikut bisa membantu. Dari mana asal material? Apa saja produk sampingan dari proses pembuatannya? Bagaimana material didistribusi dan dipasang? Bagaimana material dirawat dan dioperasikan? Seberapa sehatkah material itu? Apa yang bisa kita lakukan dengan material tersebut jika sudah tidak lagi digunakan? Satu lagi diungkap Eric, bahwa desain yang ramah lingkungan tidak harus mahal. Good architects know how to save their clients money, tulisnya. Di Jakarta, Ary mewujudkan desain sustainable dalam proyek yang bernama Rumah Kreatif dengan biaya murah. Menurutnya, biaya jadi murah karena tak ada cat, kaca, dan kusen kayu yang digunakan. Ia pun berujar, "Yang mahal itu kan proses berpikirnya." (Wey/M-3)

34

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Memilih Material Ramah Lingkungan


Selain jenis, cara mendapatkan, dan dampaknya terhadap lingkungan, gaya hidup juga menentukan kriteria material ramah lingkungan. Salah satu faktor yang menentukan sebuah bangunan ramah lingkungan (ecology friendly) atau tidak, adalah penggunaan material dan cara mendapatkannya. Kayu misalnya, adalah material ramah lingkungan karena bisa ditanam lagi (renewable). Tapi, bila diperoleh dengan merusak hutan, pemakaian kayu tidak bisa disebut ramah lingkungan. Menurut Tri Harso Karyono, guru besar bidang thermal comfort, low energy building, sustainable & green architecture, School of Architecture Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara (Jakarta), ramah lingkungan adalah rancangan arsitektur yang minim pemanfaatan sumber daya alam seperti minyak bumi dan hasil tambang lain, dan minimal dampak negatifnya terhadap lingkungan. Renewable, Reuse, Recycle Kayu dan bambu adalah material ramah lingkungan karena dapat tumbuh kembali. Sedangkan logam tidak karena akan habis setelah ditambang. Jadi, material yang digunakan harus memenuhi salah satu atau lebih dari kriteria berikut ini: dapat diperbaharui (renewable), dapat digunakan kembali (reuse), dan dapat didaur ulang (recycle), katanya. Karena itu barang bekas termasuk logam yang dimanfaatkan ulang (reuse), atau produk hasil olahan dari barang bekas (recycle), tergolong ramah lingkungan. Sementara kayu kendati secara fisik ramah lingkungan, khusus di Indonesia penggunaannya belum bisa disebut ramah lingkungan, karena diambil dari hutan yang tidak ditanam kembali (bukan hutan lestari). Berbeda dengan di negara-negara maju seperti Skandinavia dan New Zealand. Mereka mengambil sekaligus memproduksi kayu. Jadi, kalau ngambil kayu sekian, ditanam lagi sekian. Terprogram. Itu baru renewable, jelasnya. Green building Karena itu semen dan keramik bisa tidak ramah lingkungan, bila pengambilan bahan bakunya merusak lingkungan dan proses produksinya memakan energi besar. Lebih-lebih kalau polusi pabriknya juga banyak. Di negara maju sekarang ada keharusan bagi setiap properti untuk menyertakan data-data penggunaan material dan konsumsi energinya. Untuk itu, di Amerika Serikat misalnya, ada Leadership in Energy in Environmental Design (LEED) yang disusun US Building Council, untuk menilai apakah sebuah bangunan sudah ramah lingkungan (green building) atau belum. Mereka concern sekali karena konsumsi energi bangunan itu besar sekali, mencakup hampir 50 persen dari konsumsi energi nasional. Dengan adanya lembaga yang mengurusi, penggunaan energi itu bisa ditekan, kata Tri.Indonesia mestinya juga membuat standar terukur mengenai bangunan ramah lingkungan. Standar bisa dibuat dua, untuk bangunan atau rumah baru dan bangunan atau rumah yang sudah
35

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

dihuni. Penerapan penilaian akan berbeda antara bangunan atau rumah yang akan dibangun dengan bangunan atau rumah yang sudah ditinggali. Misalnya, rumah baru dinilai antara lain dari penggunaan materialnya, seperti adanya pemakaian pecahan keramik untuk penutup lantai. Tinggal bagaimana bahan-bahan bekas itu digunakan secara baik dengan mengindahkan kaidah-kaidah struktur dan estetikanya, ujarnya. Makin banyak penggunaan material bekas, makin besar konstribusinya dalam pelestarian lingkungan. Dilihat juga penggunaan energinya, apakah semata energi berbasis fosil atau sudah ada energi alternatif seperti sel surya? Pada material tertentu seperti cat diperhatikan pula bahan bakunya, apakah mengandung zat-zat berbahaya dan beracun? Di sini hampir tidak ada pengukuran content sebuah produk seperti itu, sehingga orang awam tidak tahu, sesalnya. Gaya hidup Selain jenis material, cara mendapatkan, dan dampaknya terhadap lingkungan, gaya hidup juga menentukan apakah sebuah hunian ramah lingkungan atau tidak. Misalnya, bagaimana kita menggunakan air dan melestarikan sumber air. Apakah cukup hemat dan menyisakan area resapan? Bagaimana pula pengelolaan sampahnya, berapa persen yang direcycle. Sampah banyak tapi diolah, lebih green dibanding sampah sedikit tapi tidak diolah. Begitu juga septic tank, harus diolah. Kalau sekadar tempat pembuangan itu tidak green, kata Tri. Bila harus memakai material tahan lama yang diproduksi dengan energi besar seperti semen dan keramik, pastikan bangunannya permanen untuk jangka waktu lama. Kalau hanya bangunan sementara atau semi permanen, sebaiknya gunakan material yang renewable. Sering karena perubahan tren, orang mudah sekali bosan dengan desain rumahnya. Walhasil rumah beton yang masih kokoh pun dibongkar supaya bisa mengikuti tren. Ini tidak ramah lingkungan karena kita sangat boros menggunakan sumber daya alam, tegasnya. Materialnya sebaiknya juga diperoleh di lokasi, tidak diimpor dari kota lain yang jauh apalagi dari luar negeri. Material yang dibeli dekat rumah lebih green dibanding bahan serupa tapi didapat dari lokasi yang jauh, ujarnya. Lokasi rumah pun upayakan dekat terminal bis, stasiun kereta, atau angkutan umum lainnya, sehingga penggunaan mobil pribadi bisa dikurangi. Produk mebel, Asahimas, dan Monalisa Berupaya Ramah Lingkungan Kendati di Indonesia belum ada standar baku mengenai material ramah lingkungan, sudah ada beberapa produsen yang dengan inisiatif sendiri (voluntary) berupaya menghasilkan produk eco friendly. Contohnya, produsen kaca Asahimas yang membuat produk dengan memanfatkan limbah pecahan kaca selain pasir silika sebagai bahan baku utama.

36

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Sementara PT Venus Ceramica Industry, produsen keramik Monalisa dan keramik mozaik Venus, melansir Monalisa environmental white yang zat putihnya menggunakan magnesium, bahan yang biasa dipakai untuk mewarnai table ware porselein yang aman bagi manusia, dan bukan khlor. Sedangkan untuk produk dari hasil hutan seperti kayu, kertas, dan turunannya sudah ada Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yang memberi sertifikasi. Menurut Indra S Dewi dari Divisi Komunikasi dan Advokasi LEI, dengan sertifikasi itu semua bahan baku kayu yang dipakai dipastikan diperoleh secara legal atau dari hutan lestari. Hanya saja sertifikat LEI baru mencakup produsen kayu bulat (log) dari hutan dan mebel untuk tujuan ekspor, karena permintaan produk ramah lingkungan memang lebih banyak dari luar negeri, katanya. Tanpa label LEI pasar di negara-negara maju tidak mau menerima produk kayu dari hutan Indonesia.

Tips Memilih Material (Bahan) Bangunan Untuk Kesehatan


Pemilihan material/bahan untuk bangunan memang perlu diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan kesehatan penghuninya termasuk Anda sendiri. Untuk itu diperlukan tips bagaimana cara memilih material (bahan) bangunan yang setidaknya tidak berbahaya bagi kesehatan. Tapi tahukah Anda, anak kecil ternyata lebih peka 30 kali terhadap pencemaran bahanbahan material berbahaya dalam rumah? Oops! Tentu hal tersebut jelas tidak kita inginkan terhadap perkembangan anak-anak Anda kelak bukan? atau Siapa sih yang tidak ingin agar tempat tinggal kita bisa mendukung kesehatan kita? atau masih banyak pertanyaan yang menyeruak dibenak kita tentang pengaruh material (bahan) bangunan terhadap kesehatan kita. Secara tidak sadar, bahan bangunan, apalagi yang baru sering mengandung bahan berbahaya yang dapat menimbulkan penyakit, terutama bahan bangunan hasil industri, seperti kayu olahan, particle board, cat tembok, pipa plastik, dan sebagainya. Bahan bangunan ini dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, gangguan pernafasan, penyakit kulit dan sebagainya. Tentunya korban paling dirugikan adalah penghuni rumah karena setiap hari harus berkontak dengan bahan-bahan berbahaya ini, terutama anak kecil. Berikut beberapa material/bahan bangunan yang berbahaya beserta penyakit yang ditimbulkan ; Bahan : Kayu dimana sumber bahayanya adalah penggunaan politur, melamin (urea formaldehyde) Penyakit yang ditimbulkan : Alergi kulit, mata, gangguan selaput lendir Bahan bangunan : Pipa PVC, lem PVC, cat PVC, Lantai Vilil, karpet plastik (yang dibuat dari PVC), lem kontak.
37

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Penyakit yang ditimbulkan : Kanker, pembakaran menguapkan asam klorida (mematikan tanaman), penyakit hati, ginjal Bahan bangunan : Cat sintetis (cat besi/kayu), thinner, cat epoksi yang mengandung etylalkohol, epoksi mesin. Penyakit yang ditimbulkan : Penyakit syaraf, darah, pernafasan, mata buta, gangguan keseimbangan, selaput lendir, eksim pada kulit. Bahan bangunan : Asbes (plafon dan atap) Penyakit yang ditimbulkan : Asbestose (penyakit paru), kanker Bahan bangunan : Gas radon (merupakan penguapan dari tanah) Penyakit yang ditimbulkan : Mutagen dan karsinogenik (penyebab kanker) Lalu Solusinya? Untuk meminimalisasi bahaya tersebut, setidaknya kita mempunyai beberapa solusi diantaranya : 1. Apabila rumah baru saja dicat, atau ada furniture yang baru difinishing (dicat/dipolitur), sebaiknya tidak dihuni dahulu sementara waktu hingga bau menyengat dari formaldehyde tidak tercium lagi. Normalnya, emisi gas ini tetap tinggi selama 6 12 bulan. Sebaiknya ventilasi dalam ruangan dipikirkan dan digunakan dengan baik agar gas dapat lebih dinetralisir oleh udara segar. 2. Pada saat ini banyak dikembangkan bahan-bahan finishing berbahan dasar air, yang lebih ramah lingkungan karena kandungan bahan kimia organik yang mudah menguap lebih rendah. Berbagai bahan material rumah tinggal yang baik digunakan sebenarnya tersedia cukup banyak. Bahan material ini biasanya langsung berasal dari alam dan tidak melalui industri yang melibatkan bahan kimia berbahaya. 3. Pilih bahan bangunan yang sehat (tidak tercampur bahan kimia berbahaya) seperti Batu alam, tanah liat, batako, kayu, bambu, rumbia, ijuk, alang-alang, logam, bata merah, genteng tanah, kaca, beton, batako, conblok, kertas.(http://www.astudio.id.or.id)

Material Furniture Ramah Lingkungan


Masalah global warming bukan sesuatu yang asing. Hal ini telah menjadi perhatian dalam skala internasional. Global warming menyangkut berbagai macam aspek yang bersangkutan dengan lingkungan hidup yang sangat berkaitan erat dengan kelangsungan mahkluk hidup di dunia. Green desain dianggap salah satu jalan keluar dari krisis global warming. Sebagai seorang desainer kita berperan penuh dan juga ikut bertanggung jawab untuk membuat dunia menjadi lebih baik dan terhindar dari krisis global warming. Sebagai seorang desainer tentunya dalam setiap proyek yang kita kerjakan kita menggunakan material kayu. Kayu yang berasal dari pepohonan akan ditebang demi memenuhi kebutuhan material pembuatan furniture.
38

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Sistem tebang pilih dikatakan sebagai jalan keluar penebangan hutan secara berlebihan namun akan menjadi lebih baik bilamana kita bisa menggunakan material yang berasal dari kayu yang didaur ulang karena dengan material tersebut kita berperan serta dalam pelestarian hutan dan juga mengurangi penebangan hutan secara simultan. Kardus atau Corrugated Paper sebagai sebuah bahan dasar kemasan memiliki daur hidup yang sangat singkat, dihargai hanya selama proses distribusi produk dari produsen ke konsumen berlangsung. Material kardus untuk saat ini dipandang sebagai kebutuhan sekunder dalam suatu proses produksi industri. Kenyataannya kardus sangat rasionil dan potensial dalam satu rekayasa desain, ia memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan baku utama. Bahan dasar utama kertas kardus berasal dari limbah industri pemotongan kayu (sisa potongan, serutan, clan serbuk gergaji). Karena sifatnya merupakan bahan-bahan an-organik membuat kardus mudah untuk diolah kembali atau di daur ulang beberapa kali, baik untuk bahan pembuatan kardus baru atau papan daur ulang (MDF/Multi-Density Fibre Board). Bahan bakunya sangat berlimpah didukung dengan sifatnya yang ramah lingkungan, serta memiliki siklus perputaran (closing loop) tersendiri yang membuatnya menjadi bahan yang akrab lingkungan (bio-degradable) sehingga kardus menjadi satu material yang sangat ekonomis. Dibawah ini dijabarkan beberapa kelebihan dan kekurangan kardus untuk di pahami sebagai design constraints yang justeru menjadi tipikal unik desainnya. a. Struktur kardus olahan atau hasil recycle tidak jauh berbeda dengan kardus baru, perbedaan utamanya adalah ketebalan yang terjadi karena penambahan lapisan gelombang. b.Proses cetak dilakukan dengan sistem cetak sablon (silk-screen printing), masking, atau handpainting.Teknik pencetakan sablon cukup sulit untuk diterapkan karena permukaan material ini tidak begitu rata, disebabkan alur gelombang atau flute; sehingga bagian yang cekung tidak dapat tercapai oleh screen sablon dan tinta tidak dapat tercetak dengan merata. c.Kertas sebagai bahan dasar tidak tahan terhadap air, dan kelembaban; baik yang disebabkan oleh zat cair, atau kelembaban udara. Sehingga harus dilakukan penjemuran, atau pemanasan dengan plat lain (misalnya lampu sorot, oven dll) untuk mengembalikan kekuatan struktur material. dalam keadaan kadar air tinggi, sangat mudah terjadi perubahan permukaan, atau kekuatan struktur golombang, dan yang paling parah, terbukanya rekatan antar lapisan. d.Ketebalan material yang tersusun dari lapisan-lapisan kardus berdampak langsung terhadap kekuatan struktur material. semakin banyak lapisan; atau semakin tebal material, maka semakin kuat pula struktur material tersebut. ketebalan material dapat disesuaikan dengan kebutuhan kekuatan struktur untuk aplikasi pembuatan produk. e.Penyusunan lapisan dengan menggunakan sistem modul pada saat perekatan, mempermudah proses pembuatan material untuk menyesuaikan ukuran material yang dibutuhkan untuk membuat sebuah produk. Hal ini dapat menekan banyaknya material yang terbuang. f.Sisi potongan terbuka tidak efektif untuk aplikasi yang berhubungan langsung dengan pengguna/benda lain secara berulang-ulang. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan lapisan yang menutup sisi potongan tersebut. g.Berasal dari bahan baku yang dapat didaur ulang, dan karena penambahan unsur lain (perekat) berbasis air; maka material ini layak untuk diproses daur ulang, dan bersifat bio-degradable (dapat diurai oleh tanah). h.Proses produksi tidak membutuhkan peralatan khusus yang mahal, dan tidak membutuhkan
39

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

keahlian khusus, maka kardus olahan dapat dibuat/diproduksi dalam skala pribadi, rumah tangga, industri kecil, hingga industri besar, untuk menanggulangi kardus bekas menjadi limbah. i.Pengolahan dapat dilakukan dengan mudah untuk menghasilkan produk dengan sistem bongkar-pasang. Berdasarkan sifat dan karakteristik yang ditawarkan kardus seperti diuraikan diatas maka kita dapat mengembangkan klasifikasi alternatif produk selain kemasan. Seperti Mainan, Sarana peraga toko, Kontainer, Furnitur dan Meubelair. (Deny Willy, SSn)

Berikut contoh-contoh material ramah lingkungan dan konstruksinya


Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas, banyak sekali jenisnya dan banyak juga memberikan manfaat pada manusia. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat . Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 Inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam. Teknologi Bambu Plester: Potensi Kelokalan dalam Menangani Permasalahan Global Bambu merupakan sumber yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu yang sudah dikenal di dunia, 11%-nya merupakan jenis asli Indonesia. Ini merupakan dasar mengapa tanaman ini merupakan salah satu nilai kelokalan dari negara kita. Masyarakat Indonesia pun sudah terbiasa memanfaatkan bambu untuk keperluan hidup sehari-hari; seperti untuk mebel, konstruksi rumah, bilik, peralatan pertanian, kerajinan, alat musik, serta makanan. Dalam bidang konstruksi, dikarenakan memiliki karakter yang lentur namun kuat serta mudah dibudidayakan, bambu dipandang sebagai material alternatif yang tepat untuk pengganti kayu yang persediaannya sudah semakin menipis dan teknologi bambu plester merupakan salah satu respons terhadap potensi ini. Teknologi bambu plester sebenarnya sudah mulai dikenal sejak era pendudukan Belanda di Indonesia; dimana kala itu pada komponen dinding penutup terdapat penggabungan antara adukan sebagai plesteran dengan anyaman bambu sebagai tulangannya. Ketahan konstruksi inipun terlihat pada kenyataan bahwa sampai sekarang bangunan-bangunan yang menggunakan dinding bambu plester tersebut masih dapat kita temui dalam kondisi yang masih baik. Dengan adanya perkembangan teknologi, sudah sewajarnya konstruksi bambu plester akan semakin meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu sehingga nantinya bambu dapat dipandang sebagai suatu nilai lokalitas yang berharga, bukan lagi sebagai citra kaum miskin yang murahan. Citra tanaman bambu selalu dekat dengan konteks negara asia dan tropis. Hal ini tentu juga berlaku bagi negara Indonesia. Hampir di setiap sudut negara ini dapat kita temui tanaman bambu. Keadaan tersebut didukung oleh fakta bahwa dari berkisar 1.250 spesies bambu yang
40

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

dikenal di dunia, Indonesia memiliki secara endemik 11 persen dari jumlah tersebut belum lagi yang dibawa dan dikembangkan dari daerah lain di dunia.Alasan inilah yang menjadikan bambu sebagai sesuatu yang khas dari Indonesia, sesuatu yang memiliki nilai kelokalan Indonesia karena sesuatu yang lokal tersebut (baik itu elemen budaya dan teknologi) pastilah berasal dari sesuatu yang hidup seperti manusia, flora, dan fauna. Nilai kelokalan bambu ini dirasa makin berperan penting terutama pada saat sekarang ini dimana telah terjadi kerusakan alam serta pemanasan global yang mengancam dunia serta Indonesia pada khususnya. Kita mengetahui bahwa persedian kayu sudah makin menipis dan ini diperparah oleh kejadian penebangan-penebangan liar/ilegal yang mengikis persediaan hutan di dunia -dimana hutan ini memiliki peran penting sebagai paru-paru bumi ini untuk menangkal pemanasan global (emisi CO2). Kita juga mengetahui bahwa sebagian besar pemborosan energi di dunia terdapat pada bangunan serta proses konstruksinya. Keadaan-keadaan inilah mendorong kita (konteks sebagai perencana dan perancang) untuk dapat menghasilkan suatu karya yang ramah lingkungan serta hemat energi namun tetap berkelanjutan (sustainable) permasalahan yang sebenarnya sudah tersedia pemecahannya dari dulu melalui kelokalan negara kita: bambu. Beberapa nilai kebaikan/keuntungan tanaman bambu diantaranya adalah sebagai berikut ini.

Pertumbuhan tercepat dari semua tanaman: 30 hingga 90 cm perhari. Sifat ketahanan yang lebih kuat daripada kayu. Pencapaian kekuatan maksimal saat baru berumur tiga hingga lima tahun. Waktu panen yang lebih cepat daripada kayu (bambu dapat dipanen tiga kali dalam 10 tahun). Pemrosesan yang minimal saat setelah dipanen. Tanaman yang dapat digunakan sebagai kontrol terhadap erosi tanah. Tanaman yang dapat menyerap polutan karbon. Material yang dapat diperbaharui serta berkelanjutan. Kebutuhan pemakaian penyubur serta air yang minimal. Penghasil biomassa tujuh kali lipat lebih banyak daripada hutan pepohonan biasa.

Melihat faktor-faktor di atas, sangat terlihat bahwa bambu memiliki potensi yang sangat besar sebagai alternatif pengganti kayu sebagai salah satu material utama dalam dunia konstruksi. Keadaan hutan hijau di Indonesia yang sudah semakin kristis memang sudah sebaiknya dicarikan peran penggantinya. Bambu pun juga dipandang dapat menggantikan posisi bata maupun batako sebagai material pengisi pada dinding melalui teknologi yang lazim disebut bambu plester. Sifat lentur namun kuat yang dimiliki oleh bambu menjadikan bambu plester sebagai material pengisi dinding yang rensponsif terhadap bahaya bencana (sifat yang tidak ditemui pada dinding konvensional). Melalui potensi-potensi tersebut, sudah sewajarnya bambu dipandang sebagai material lokal masa depan yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan global.

41

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Perkembangan Teknologi Bambu Dalam Dunia Konstruksi Pada era sebelum tahun 1980 bambu digunakan sebagai bahan konstruksi umum seperti jembatan, tiang, dinding penahan tanah (bearing wall), dan bangunan rumah tradisional -baik di pedesaan maupun di perkotaan dalam bentuk batangan (bulat), bilah, maupun anyaman. Sistem sambungan untuk bambu ini menggunakan cara tradisional dengan menggunakan tali ijuk, pasak, dan paku. Cara pengawetan terhadap bambu masih dilakukan dengan cara perendaman di kolam atau sungai sehingga memerlukan waktu yang tidak sebentar. Pada era pendudukan Belanda dan Jepang di Indonesia, teknologi Barat mulai diperkenalkan sehingga pasangan bambu plester mulai dipakai khususnya pada komponen dinding penutup -dimana adanya penggabungan antara adukan sebagai plesteran dengan bambu anyam sebagai tulangannya. Sistem ini banyak dijumpai pada rumah-rumah jabatan serta kantor baik di perkebunan maupun di perkotaan dan kenyataannya sampai sekarang bangunanbangunan tersebut masih dapat kita temui dalam kondisi masih baik. Pada era sesudah 1980, perkembangan teknologi bambu mulai berkembang sehingga banyak produksi bahan komponen bangunan yang berasal dari bambu seperti panel bambu dengan perekat resin (lem) dan panel berbasis semen (bamboo cement board). Selain bahan olahan tersebut di atas, bambu juga sudah mulai diproduk seperti layaknya kayu; misalnya bambu laminasi, balok bambu, lantai parkit bambu, dan papan bambu sebagai bahan dasar furnitur dan penutup lantai. Perkembangan teknologi sudah demikian maju sehingga segala kelemahan bambu sudah dapat direkayasa dan diatasi mulai dari konstruksi, sambungan dengan berbagai jenis konektor serta bentuk, yang memungkinkan bambu dipakai pada panjang efektif sesuai dengan desain yang diinginkan tetapi memenuhi persyaratan teknis. Keterbatasan bambu untuk dipakai pada bangunan-bangunan khusus yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi sudah mulai dapat diatasi. Bahkan di beberapa negara maju, bambu sudah dipakai sebagai bahan untuk bangunan penting seperti villa, tribun stadion, kantor bertingkat, jembatan dengan bentang lebar, dan lain-lain. Namun walaupun teknologi pengolahan bambu sudah semakin maju, tetap saja minat masyarakat kita terhadap material ini rendah. Masyarakat kita tetap lebih memilih kayu atau bahkan beton yang merupakan pilihan yang tidak ramah lingkungan. Beberapa alasan yang mendasari keadaan dimana bambu masih kurang populer adalah sebagai berikut ini :

Belum hilangnya konotasi masyarakat bahwa bambu dikenal sebagai bahan bangunan untuk orang miskin karena bentuk rumah sangat sederhana. Hampir tidak ada fasilitas kredit dari perbankan dikarenakan kurang yakinnya pihak perbankan tersebut. Belum adanya standar nasional mengenai bambu. Sampai saat ini teknologi untuk membangun serta menambah umur pakai bambu masih dilakukan dengan cara tradisional seperti yang pernah dilakukan oleh para nenek moyang kita dahulu sehingga kualitasnya masih rendah.

42

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Konstruksi Bambu Plester Konsep konstruksi bambu plester merupakan konsep konstruksi murah dengan karakter konstruksi tembok yang memanfaatkan potensi bambu yang melimpah di Indonesia. Konstruksi dinding bambu plester ini terdapat pemakaian bambu sebagai rangka dinding menggantikan kayu. Keseluruhan dinding yang terdiri dari anyaman sasak dan rangka bambu ini akan diplester sehingga menghasilkan kekuatan yang lebih baik dan ekspresi seperti rumah tembok. Konstruksi bambu plester ini dikembangkan dikarenakan untuk beberapa tujuan; diantaranya adalah:

Pemanfaatan potensi bambu yang melimpah di Indonesia; Alternatif material konstruksi yang murah; Alternatif pengganti bata/batako pada dinding konvensional; Citra atau image rumah permanen (rumahtembok); Salah satu teknik pengawetan dari bambu itu sendiri mengurangi serangan bubuk dan jamur pada bambu; Pengurangan resiko kebakaran pada konstruksi bambu non-plester; Kemampuan sebagai pengontrol suhu ruang di dalamnya; Potensi kekuatan tarik bambu sebagai pengganti tulangan baja; dan Pemanfaatan sebagai konstruksi sementara untuk penampungan/shelter kala bencana.

Seperti layaknya sebuah material konstruksi, tentu bambu plester ini memliliki nilai kelebihan maupun kekurangannya. Beberapa keunggulan maupun kelemahan dari konstruksi bambu plester akan dijabarkan berikut ini. Keunggulan: - Konstruksi murah, mudah dan cepat. - Kecepatan konstruksi (sekitar 3 minggu dengan 3 orang tukang). - Pengurangan resiko kebakaran jika dibandingkan dengan rumah bambu biasa. - Pengurangan resiko serangan hama perusak kayu (rayap, bubuk dan jamur). - Bahan baku yang mudah didapat. - Tidak diperlukan kerapihan anyaman dan sambungan pada bambu karena akan tertutup plesteran. - Konstruksi tahan gempa (ringan dan tidak kaku)

Kelemahan : - Kerapihan anyaman mempengaruhi ketebalan dinding setelah plesteran. - Kemungkinan panjang dan ukuran dari bilah bambu yang tidak seragam. - Sulit dalam teknik penyambungannya pada proses konstruksi. - Material bambu diidentikan dengan kemiskinan. - Masih terlihat retak-retak pada plesteran dinding, jika:
43

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan


Muai/susut ayaman dan plesteran yang berbeda. Bambu yang dipakai tidak cukup kering. Kualitas pasir plesteran yang buruk. Penurunan tidak merata pada pondasi.

TAHAPAN-TAHAPAN DI DALAM KONSTRUKSI BAMBU PLESTER Tahap 1 -Persiapan dan Workshop Bambu Tahap workshop bambu ini merupakan tahap proses pembuatan atau perakitan modulmodul dinding bambu dan pembuatan pondasi di lapangan. Namun proses-proses ini tentunya didahului oleh tahap persiapan yang berisi proses pemilihan, pengawetan, serta pemotongan bilah bambu yang akan dipakai pada tahap selanjutnya. Pemilihan Batang Bambu Pemilihan batang bambu dilakukan menjadi dua jenis keperluan dari batang bambu tersebut: keperluan anyaman dindingdankeperluan rangka dinding. Terdapat persamaan persyaratan teknis dari batang bambu untuk dua keperluan tersebut; yaitu batang yang telah berumur tiga hingga lima tahun (umur dimana bambu telah mencapai kekuatan maksimalnya). Kriteria lebih lanjut dari bambu yang akan digunakan anyaman dinding adalah sebagai berikut ini.

Daging batang bambu yang tipis (<1cm). Bambu dapat berjenis bambu tali, gombong, dan bambu hitam. Bagian batang yang dimanfaatkan diutamakan pada bagian atas dimana diameter batang relatif lebih kecil dan daging batang lebih tipis.

Kriteria lebih lanjut dari bambu yang akan digunakan untuk rangka dinding adalah sebagai berikut ini.

Diameter batang yang besar dan lurus (8-15cm). Daging batang yang tebal (>0,5cm) untuk menjamin kekakuan rangka. Bambu dapat berjenis bambu tali, ori, gombong, petung, maupun bambu hitam. Bila memakai jenis bambu yang sama dengan anyaman, bagian batang bambu yang dimanfaatkan dapat memakai bagian bawah batang yang relatif memiliki diameter besar serta daging yang tebal.

Pengawetan Batang Bambu Terdapat dua jenis metode pengawetan bambu; yaitu metode non-kimia dan metode kimia. Metode nonkimia (tradisional) telah digunakan sejak lama di daerah pedesaan. Kelebihan metode ini yaitu tidak membutuhkan banyak biaya dan dapat dilakukan sendiri tanpa penggunaan alat-alat khusus. Metode non-kimia ini misalnya curing, pengasapan, pelaburan, perendaman dalam air, dan perebusan.

44

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Metode pengawetan secara kimia biasanya menggunakan bahan pengawet. Bahan pengawet yang terkenal adalah Copper-Chrrome-Arsenic (CCA). Metode kimia relatif mahal tetapi menghasilkan perlindungan yang lebih baik. Keberhasilan metode ini sangat tergantung pada ketepatan konsentrasi larutan pengawet yang diberikan. Metode kimia ini misalnya: metode Butt Treatment, metode tangki terbuka, metode Boucherie, dan fumigasi (dengan senyawa metilbromida). Bambu segar lebih mudah diberi perlakuan dibanding bambu yang sudah kering. Makin tinggi berat jenis bambu dan makin tua umur dari bambu, maka akan makin sulit bambu itu untuk diawetkan. Pengawetan bambu dalam jumlah yang kecil akan menaikkan biaya pengawetan. Suatu metode pengawetan dikatakan ekonomis apabila umur pakai bambu dapat mencapai waktu 10 15 tahun (untuk bambu dalam keadaan terbuka), dan 15 25 tahun untuk bambu yang diberi perlindungan tertentu. Pemotongan dan Pembelahan Batang Bambu Pada saat memotong batang-batang bambu yang akan digunakan baik untuk rangka maupun anyaman, sudah sebaiknya kita telah menetapkan ukuran yang akan kita potong. Untuk anyaman sebaiknya kita sudah memikirkan ukuran bilah yang akan digunakan sebagai bilang vertikal maupun horisontal; dan sebaliknya untuk rangka, kita juga sudah memikirkan ukuran untuk bilah yang akan digunakan sebagai tiang pengikat maupun balok-baloknya. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam membelah batang bambu adalah sebagai berikut ini.

Pembelahan batang menjadi dua bagian sama besar untuk penggunaan sebagai tiang dan balok. Pembelahan batang bambu menjadi beberapa bagian dengan masing-masing selebar 23cm. Proses pembelahan yang digunakan untuk anyaman dapat menggunakan bamboo splitting tool. Bagian-bagian sisi bilah yang tajam dapat diperhalus agar tidak melukai pada saat pemasangan.

Penganyaman Bilah Bambu Pada proses ini, bilah-bilah bambu telah disiapkan dalam ukuran yang sesuai dengan panjang dan lebar anyaman. Lebih baik apabila memakai bilah bambu yang tipis agar anyaman tidak terlalu tebal. Setelah itu, bambu dianyam menjadi anyaman sasak dengan bambu arah horisontal rapat dan bambu vertikal berjarak agak renggang antara 25-30cm. Bambu yang sudah selesai dianyam disimpan dan siap untuk dirangkai bersama dengan rangka dinding dan kusen jendela. Penyiapan Batang Bambu untuk Kolom dan Balok Pada proses ini, batang bambu yang telah dibelah menjadi dua bagian yang sama besar kemudian dihilangkan buku-bukunya serta disayat bagian tepi-tepinya yang tajam. Buluh-buluh

45

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

yang menempel pada dinding dalam bambu harus dibersihkan agar plesteran dapat menempel dengan lebih baik. Perakitan Modul Dinding Bambu Pada proses ini, batang-batang bambu belah untuk kolom diletakkan pada posisinya dengan jarak maksimal satu meter (jarak maksimal antar kolom) dengan posisi atas-bawah saling memunggungi dan menjepit anyaman. Antara batang bambu belah yang saling memunggungi kemudian diikat dengan kawat beton rangkap 3 dengan jarak 10-15 cm. Batang-batang bambu belah untuk balok diikatkan ke tepi atas dengan posisi saling memunggungi dan menjepit anyaman dan ujung kolom bambu yang telah diruncingkan. Ujung atas kolom dilubangi dengan bor untuk kemudian diikat bersama balok dengan kawat beton, kawat, tali ijuk, atau tali bambu. Kusen jendala dapat dipasang ke dalam modul dinding dengan memotong bilah vertikal dan horisontal di dalam anyaman sehingga ada lubang pada anyaman sesuai dengan besar bukaan. Kusen dipasang dengan bantuan paku-paku. Letak kusen haruslah diapit dua kolom dan tidak boleh memotong kolom. Pembuatan pondasi Proses pembuatan pondasi dapat dilaksanakan secara bersamaan dengan waktu prosesproses tahap workshop bambu lainnya; sehingga setelah pekerjaan workshop bambu selesai, panel-panel bambu dapat langsung dirakit di lapangan untuk kemudian diproses lebih lanjut (diplester). Pondasi dan sloof untuk konstruksi bambu plester memiliki dimensi yang lebih kecil daripada konstruksi pada umumnya dikarenakan rata-rata beban dinding yang lebih ringan. Jenis pondasi yang dapat dipakai adalah pondasi menerus batu kali, setempat batu kali, atau menerus rolaag bata / batako. Jenis sloof dapat memakai sloof beton bertulang, bambu komposit, atau diganti dengan rolaag bata/ batako. Dinding peralihan dari bata/batako harus dibuat dengan tinggi minimal 30 cm dari tanah untuk menjamin anyaman bambu berada dalam kondisi kering sepanjang tahun. Tahap 2 -Pendirian Konstruksi Bambu (Erection) Pada tahap selanjutnya ini, panel-panel bambu yang telah disiapkan dibawa ke lapangan. Semakin besar panel bambu, akan semakin sulit pengangkutannya ke lapangan. Namun bila panel bambu terlalu kecil, pekerjaan di lapangan akan semakin banyak. Oleh sebab itu, optimasi besar panel harus direncanakan dengan matang. Panel dinding anyaman didirikan dengan menggunakan kayu ataupun bambu sebagai siku penahannya (stek diikat dengan kawat ke dinding ataupun panel anyaman). Perlakuan terhadap pertemuan siku dua bidang dinding dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu: - anyaman diikat pada bilah-bilah vertikal (bidang lipat ini akan menjadi tumpuan kekakuan sistem ini); - menggunakan tiang bambu yang dibelah; dan - menggunakan batang bambu bulat yang kemudian diselimuti dengan kawat ayam.

46

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Dua tiang bambu pada panel pada siku disatukan dan diikat dengan kawat beton. Apabila tepi dinding anyaman bertemu dengan bidang anyaman, harus dipasang kolom pada bidang anyaman tersebut; dan kemudian bilah vertikal pada tepi dinding anyaman diikat dengan kolom pada bidang anyaman. Pemasangan Kusen Kusen jendela lebih baik dipasang sekaligus dengan perakitan panel bambu pada tahap sebelumnya. Sedangkan kusen pintu dapat dipasang pada saat tahap pendirian. Pemasangan Atap Untuk proses pemasangan atap ini, sistem rangka dan bahan penutup atap dapat bervariasi tergantung situasi dan kondisi setempat. Penggunakan sistem konstruksi atap yang telah diprefabrikasi sebelumnya akan dinilai lebih baik sehingga sesuai dengan konteks kecepatan pengerjaan konstruksi bambu plester. Tahap 3 -Pemlesteran dan Finishing Tahap ini merupakan tahap terakhir dari pembangunan sebuah konstruksi bambu plester. Panel dinding anyaman bambu merupakan komponen yang dilapis plester pertama kali; yang kemudian dilanjutkan dengan pemlesteran kolom dan balok. Pemlesteran Dinding Proses pemlesteran dinding dapat dilakukan setelah atau sebelum pemasangan atap (bergantung dari situasi dan kondisi). Pemlesteran setelah atap dipasang akan lebih menguntungkan karena proses pemlesteran tidak terganggu oleh cuaca sehingga dapat dilakukan dalam kondisi yang lebih nyaman. Di samping itu, rumah juga dapat dipakai dulu untuk gudang sementara atau bedeng pekerja. Pemlesteran dinding dilakukan dengan perbandingan campuran adukan 1 PC : 5 pasir. Pemlesteran Kolom dan Balok Proses ini hampir serupa dengan proses pemlesteran pada dinding (kadar campurannya pun dapat disamakan). Namun agar plesteran kolom ini rapi dan lurus maka dipakai papan layaknya bekisting pada kolom beton dan ditimbang dulu dengan lot. Finishing Finishing konstruksi dinding bambu plester dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagaimana konstruksi dinding tembok pada umumnya. Namun pelaburan dengan kapur merupakan cara tradisional yang paling disarankan karena air kapur akan meresap ke dalam retak-retak rambut yang akan timbul pada dinding bambu plester ini. Semakin lama, kapur akan menutup seluruh permukaan dinding sehingga tidak akan terlihat lagi retak-retak pada dinding.

47

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Simpulan Hasil serta citra akhir masih merupakan hal yang terpenting bagi masyarakat Indonesia. Alasan inilah yang menjadikan material bambu seperti tidak populer terutama untuk masyarakat kelas menengah ke atas citra material bambu sebagai material kaum miskin. Masyarakat masih lebih menginginkan citra konstruksi permanen serta kuat yang umumnya dicitrakan dinding bata serta kolom beton. Faktor inilah yang mendorong mengapa teknologi bambu plester ini dikembangkan. Walaupun berbiaya murah dikarenakan sumber material yang mudah didapat, dengan adanya tambahan plester tersebut maka citra permanen dan kuat pun didapat. Citra kuat inipun sebenarnya bukan hanya tampilan luar semata, melainkan memang dari dalamnya pun juga sudah kuat dan lentur. Konstruksi dinding bambu plester merupakan salah satu alternatif konstruksi yang patut dikembangkan mengingat potensi bambu di Indonesia yang masih sangat besar. Untuk apa kita menghabiskan begitu banyak tulangan baja serta material pengisi dinding (seperti bata dan batako) yang tidak dapat diperbaharui dan tidak berkelanjutan, jika kita ternyata mampu mendapatkan alternatif penggantinya yang hemat energi, ramah lingkungan, dan dalam persediaan yang sangat melimpah di halaman rumah kita sendiri. Teknologi bambu plester ini memang pada saat sekarang belum bisa berdiri sendiri (dan dirasa tidak akan pernah). Teknologi ini memang akan memerlukan paduan teknologi konvensional untuk dapat berdiri (seperti pondasi dan sloof batubata maupun beton). Namun setidaknya penggunaan teknologi ini dapat lebih menghemat energi yang terbuang sehingga dapat lebih menghargai lingkungan. Perpaduan tersebut sebenarnya juga dapat dikatakan sebagai perpaduan antara tradisional dengan modern perpaduan antara suatu kelokalan dengan suatu kekinian. Perpaduan inilah yang diharapkan dapat bekerjasama dalam menjawab permasalahan-permasalahan serta tantangantantangan di masa yang akan datang masa depan yang lebih baik. Lantai Tiga ke Atas Pakai Bambu demi Redam Gempa Konstruksi bidai atau bangunan dengan bahan bambu lebih aman untuk bangunan bertingkat mencapai empat lantai untuk mengurangi dampak bencana gempa bumi. "Lantai tiga ke atas sebaiknya menggunakan konstruksi bidai karena bahan bangunan dari bambu ini ringan dan saat gempa terjadi bisa mengurangi risiko tertimpa bangunan," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Bengkulu M Nasyah di Bengkulu, Senin (1/11). Bencana gempa bumi dan tsunami berpotensi besar terjadi di Bengkulu karena secara geografis berada di pertemuan dua lempeng aktif yakni Indoaustralia dan Euroasia. Selain itu, gempa Sumatra Barat pada 2009 yang menelan banyak korban jiwa sebagian besar akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

48

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

"Selain fokus pada bahaya tsunami setelah gempa, korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan juga perlu diperhitungkan," katanya. Desain rumah bidai yang banyak digunakan oleh masyarakat Bengkulu, khususnya di Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, harus dikembangkan sebagai upaya pengurangan risiko bencana. Rumah-rumah warga yang menggunakan desain bangunan ini sudah terbukti mampu bertahan saat gempa melanda Bengkulu pada 2000 berkekuatan 7,3 pada skala Richter dan pada 2007 berskala 7,9 skala Richter. "Bangunan yang menggunakan bahan bidai tidak banyak yang mengalami kerusakan dan terbukti bisa bertahan dengan goncangan gempa dan sekarang sebagian masyarakat di sana sudah kembali ke bidai," katanya. Pengurangan risiko bencana melalui mitigasi bangunan rumah dan gedung juga perlu dibuat kebijakannya dalam bentuk peraturan daerah. Selain itu, pendirian bangunan berdasarkan rencana tata ruang wilayah juga harus diperhatikan karena sebagian daerah rawan longsor dan banjir.

KAYU
Kayumerupakan bahan konstruksi untuk masa depan. Pendapat yang dilontarkanoleh Suryono Surjokusumo, guru besar bidang konstruksi di InstitutTeknologi Bandung (ITB) dan Universitas Tarumanegara, ini tidaklah salah. karena belakangan ini negara-negara maju seperti Jepang, Australia, Swiss,AS, dan Malaysia telah menggunakan konstruksi kayu sebagai bahanbangunan. Beberapa bangunan yang menggunakan konstruksi kayu antara lain jembatanKeystone di Dakota Selatan, AS, jembatan Lucerne di Swiss, gedung-gedung didaerah Skandinavia dan lainlain. "Tiga puluh tahun ke depan konstruksi kayu akan menjadi andalan karenaselain ramah lingkungan, kayu juga merupakan sumber daya terbarukan,"katanya kepada Media di selaselaworkshop Sosialisasi Kayu Sebagai BahanKonstruksi yang diadakan Kementerian Ristek baru-baru ini. Menurutnya, ke depan pertambangan akan mengalami pengurangan. "Kemungkinanyang akan terjadi baja akan mengalami kuota, karena biji besi makinterbatas. Demikian juga denganbahan tambang lainnya akan habis pula. Tidakdemikian dengan kayu karena pohonnya bisa ditanam kembali." Konstruksi bangunan dari kayu pun sangat ringan dan kuat oleh karena itutahan terhadap gempa. Di Jepang, konstruksi bangunan dari kayu menjadifavorit, karena kawasan Negeri Sakura ini sering dilanda gempa. Surjono menjelaskan efisiensi kayu dapat sangat tinggi mengingat hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. "Kebutuhanenergi selama pengerjaan paling rendah dan hanya mengeluarkan emisi gas dancairan yang lebih rendah
49

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

disbandingalternatif lainnya. Kalau kayu terbakarmaka prosesnya menjadi arang sedangkan baja bisa langsung meleleh." Kayu dapat didaur ulang secara total dan seratus persen dapatdibiodegradasi sehingga menjadi satu-satunya bahan utama konstruksi yangramah lingkungan. Sayangnya, Indonesia sebagai negeri yang masih memiliki hutan murnidibandingkan negara-negara maju, konstruksi kayu tidak dapat berkembangpesat. Pada masa lalu keraton maupun masjid kuno menggunakan konstruksikayu. "Sebaiknya memang harus digiatkan kembali konstruksi kayu diIndonesia. Teknologi rancang bangun dari kayu sudah ada. Sebetulnya puntidak masalah apabila dipadukan gaya lama dengan baru karena justru lebih estetik." Hutan Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber produksi kayumencapai 1,8 juta ha hutan tanaman industri (HTI) dan satu juta ha hutanrakyat. Dengan produktivitas sebesar 20-26 juta m3/ha/tahun dari HTI dan8,6 juta m3/ha/tahun dari hutan rakyat, dapat dihasilkan hampir 100 juta m3kayu dari hutan buatan yang siap pakai. Kayu dari hutan tanaman industri (HTI) antara lain Acacia mangium, Gmelinaarborea, agatis, pinus, jati, mahoni, dan karet. Surjono menilai Acacia mangium merupakan kayu HTI yang sangat menjanjikan."Kemampuannya cukup baik menahan beban. Kayu Acacia ini patutdiperhitungkan sebagai bahan struktural. Kualitasnya lebih bagusdibandingkan dengan kayu sengon. Terlebih lagi pertumbuhannya sangat cepatdibandingkan dengan kayu HTI lainnya, yaitu mencapai 40 m3/ha/tahun." Ketertinggalan perkembangan konstruksi kayu di Indonesia terutamadisebabkan tidak tersedianya kayu bermutu untuk konstruksi di pasaran."Untuk dijadikan konstruksi kayu, maka kayu itu harus dinilai berdasarkankekuatan dan kelenturan untuk diukur kemampuannya memikul beban." Kekuatan kayu terkuat bisa mencapai 11-13 kali kekuatan kayu terlemah. Sedangkan kekuatan kayu bisa mencapai 6-8 kali kayu terlentur. Dalam kesempatan yang sama Naresworo Nugroho dan Effendi Tri Bahtiar, dosendan peneliti di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB),memaparkan agar kayu dapat memikul beban yang dikenakan terhadapnya, makakayu konstruksi harus memiliki sifat-sifat mekanis yang cukup baik."Kemampuan kayu konstruksi dalam memikul beban tercermin dalam teganganyang diperkenankan yaitu tegangan izin pada format ASD (Allowable Stress Design) atau tahanan referensi pada format LRDF (Load and Resistance Factor Design)." Sebetulnya, kayu-kayu Indonesia sangat laku dijadikan konstruksi bangunan.Namunsayangnya, sering terjadi penyalahgunaan izin kekuatan konstruksi kayu.

50

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

"Sebagai contoh, dalam undang-undang perkayuan disebutkan kekuatan kayuIndonesia jauh lebih kecil dibandingkan sebenarnya. Kekuatan kayu Indonesiapadahal lebih besar dibandingkan kayu dari negara lain. Pasal-pasal ituharus direvisi," kata Naresworo. (Nda/E-6)

Benarkah Baja Ringan Ramah Lingkungan?

Baja ringan adalah baja canai dingin yang keras yang diproses kembali komposisi atom dan molekulnya, sehingga menjadi baja yang lebih fleksibel. Saat ini baja ringan menjadi material bangunan yang sedang trend, rangka atap baja ringan lebih dominan terkenal dibanding material baja ringan untuk struktur lainnya. Hal ini karena gencarnya iklan-iklan yang menawarkan produk rangka atap baja ringan menggantikan rangka atap dari material kayu. Mengingat kayu semakin hari semakin langka juga karena harga kayu yang relatif mahal, maka pemilihan material rangka atap baja ringan menjadi satu pilihan para kontraktor atau owner dalam membangun rumah. Selain karena faktor keawetan dan tahan rayap dan karat, rangka atap baja ringan mempunyai kelebihan yaitu kekuatan struktur yang lebih bagus, seperti lebih kuat, lebih kaku dibanding konstruksi kayu. Disamping itu kemudahan dalam mendapatkan, kecepatan pemasangan, dan struktur yang kuat membuat rangka atap baja ringan terkenal. Teknologi dalam perencanaan dan pemasangan rangka atap baja ringan beragam sesuai dengan profil dari elemen kuda-kuda itu sendiri. Profil kuda-kuda rangka atap baja ringan yang beredar di pasaran terdiri dari C, Z, hollow dan UK atau profil Omega atau HAT. Tiap profil memiliki kelebihan-kelebihan serta perbedaan prinsip dalam dalam pemasangannya. Elemen dasar Baja Ringan
51

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Bahan dasar baja ringan adalah Carbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang terdiri dari elemen-elemen yang prosentase maksimum selain bajanya sebagai berikut: 1.70% Carbon, 1.65% Manganese, 0.60% Silicon, 0.60% Copper. Carbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi 4.2 dan Mangan adalah unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat oksidasi 7.6423. Carbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk meninggikan tegangan (strength) dari baja murni. Penambahan prosentase Carbon akan mempertinggi Yield Stress tetapi akan mengurangi daktilitas. Rangka atap baja ringan yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dasar baja dengan kekuatan G-550 Mpa atau setara dengan 5500 Megapascal sesuai standar AISI (American Iron and Steell Institute). Adapun coating (pelapis/pelindung) baja ringan dari karat yang beredar adalah zinc/galvanis, zincalume, dan zincalume dengan penambahan magnesium. Lapisan coating ini melindungi bahan dasar baja ringan dari karat. Baja Ringan Ramah Lingkungan Baja ringan diklaim memiliki sifat yang ramah lingkungan, karena menggunakan material yang bisa mengurangi pembalakan liar (illegal logging). Tidak jarang juga kita menemui brosur rangka atap baja ringan dengan kode ekolabel atau ramah lingkungan, label yang menjelaskan produk yang dijual adalah ramah terhadap lingkungan. Namun apakah benar ramah lingkungan? Untuk mengetahui hal itu, baiknya kita ketahui produk yang berlabel ramah lingkungan atau ekolabel. Dalam situs Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia (www.menlh.go.id) dilansir bahwa Ekolabel merupakan salah satu sarana penyampaian informasi yang akurat,verifiable dan tidak menyesatkan kepada konsumen mengenai aspek lingkungan dari suatu produk (barang atau jasa), komponen atau kemasannya. Pemberian informasi tersebut pada umumnya bertujuan untuk mendorong permintaan dan penawaran produk ramah lingkungan di pasar yang juga mendorong perbaikan lingkungan secara berkelanjutan. Ekolabel dapat berupa simbol, label atau pernyataan yang diterakan pada produk atau kemasan produk, atau pada informasi produk, buletin teknis, iklan, publikasi, pemasaran, media internet. Selain itu, informasi yang disampaikan dapat pula lebih lengkap dan mengandung informasi kuantitatif untuk aspek lingkungan tertentu yang terkait dengan produk tersebut. Ekolabel dapat dibuat oleh produsen, importir, distributor, pengusaha retail atau pihak manapun yang mungkin memperoleh manfaat dari hal tersebut. Tujuan dan Manfaat Ekolabel Ekolabel dapat dimanfaatkan untuk mendorong konsumen agar memilih produk-produk yang memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Penerapan ekolabel oleh para pelaku usaha dapat mendorong inovasi industri yang berwawasan lingkungan. Selain itu, ekolabel dapat memberikan citra yang positif bagi brand produk maupun perusahaan yang memproduksi dan/atau mengedarkannya di pasar, yang sekaligus menjadi investasi bagi peningkatan daya saing di pasar.
52

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Bagi konsumen, manfaat dari penerapan ekolabel adalah konsumen dapat memperoleh informasi mengenai dampak lingkungan dari produk yang akan dibeli/digunakannya. Karena kepentingan tersebut, konsumen juga memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penerapan ekolabel dengan memberikan masukan dalam pemilihan kategori produk dan kriteria ekolabel. Penyediaan ekolabel bagi konsumen juga akan meningkatkan kepedulian dan kesadaran konsumen bahwa pengambilan keputusan dalam pemilihan produk tidak perlu hanya ditentukan oleh harga dan mutu saja, namun juga oleh faktor pertimbangan lingkungan. Prinsip - Prinsip Ekolabel Produk yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Ekolabel akan memberikan informasi kepada konsumen mengenai dampak lingkungan yang ada dalam suatu produk tertentu yang membedakannya dengan produk lain yang sejenis. Ukuran keberhasilan ekolabel dapat dilihat dari adanya perbaikan kualitas lingkungan yang dapat dikaitkan langsung dengan produksi maupun produk yang telah mendapat ekolabel. Selain itu, tingkat peran serta dari kalangan pelaku usaha dalam menerapkan ekolabel juga menjadi indikator penting keberhasilan ekolabel. Selain melihat bahan baku, sejumlah akolabel yang diberlakukan suatu negara (buyers) juga memerhatikan proses pembuatan serta kemampuan produk tersebut didaur ulang. Setiap ekolabel itu ada kriteria masing-masing. Bahkan, jenis bahan bakar apa yang digunakan serta proses limbahnya diolah seperti apa juga menjadi pertimbangan buyer membeli sebuah produk. Penutup Pemikiran tentang ramah lingkungan, ataupun recyclibility dalam penggunaan material baja ringan harus dipertegas kembali. Hendaknya setiap produsen dapat menjelaskan kepada konsumen tentang konsep tersebut, apakah karena material yang tidak akan menyisakan sampah? Atau bahan-bahan sisa yang bisa di recycle menjadi bahan lain yang berguna? Walaupun demikian Jika di telusuri lebih jauh, secara umum baja ringan mungkin saja bisa mengurangi pembalakan liar karena bisa meminimalisir bahkan cenderung menghilangkan penggunaan material kayu dalam konstruksinya. Tapi sesuai dengan prinsip ekolabel bahwa produk yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Mudah-mudahan saja baja ringan menjadi alternatif penggunaan material bangunan masa depan yang lebih bisa diterima lingkungan karena daur hidupnya yang memberikan dampak yang kecil. (Majalah Techno Konstruksi tahun 2008)

53

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Beton Ringan Aerasi


Beton ringan aerasi bisa dikatakan sebagai material yang ramah lingkungan karena penambangan bahan bakunya sebisa mungkin tidak merusak lingkungan. Ini berbeda dengan proses pembuatan bata tradisional yang penambangan bahan bakunya merusak kondisi lingkungan. Pendapat mengenai hal ini dikemukakan oleh seorang pakar industri beton ringan. Menurut Beliau, proses produksi pembuatan bata merusak lingkungan karena tanah yang diambil adalah tanah permukaan. Pada umumnya, kondisi tanah permukaan ini mengandung humus tinggi yang dibutuhkan tanaman agar bisa tumbuh subur. Jika tanah permukaan diambil untuk bahan baku pembuatan bata dan tidak dikembalikan kesuburannya, lama-kelamaan tanah pertanian di Indonesia menjadi berkurang. Alhasil, Indonesia akan mengimpor hasil pertanian dari luar negeri. Hal ini mengingat, sebagian besar pengambilan tanah liat berasal dari tanah pertanian. Mitos dan Fakta tentang Beton Ringan Aerasi Banyak orang enggan menggunakan material beton ringan aerasi, salah satunya karena adanya mitos seputar material ini. 1. MITOS: Beton ringan aerasi mudah dibongkar. FAKTA: Jika pemasangannya benar, dinding dari beton ringan aerasi sulit dibongkar. Pencuri masuk ke dalam rumah bukan dengan cara membongkar dinding melainkan membobol kunci pintu atau jendela.

54

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

2. MITOS: Tidak cocok untuk dinding luar. FAKTA: Jika akan digunakan di bagian luar, permukaan dinding harus diplester dan diaci. Plesteran dan acian berfungsi sebagai pelindung. 3. MITOS: Jangan menggunakan untuk dinding kamar mandi FAKTA : Untuk pemakaian di tempat basah dan lembab, hendaknya di atas balok sloof dibuat lapisan trasram (lapisan kedap air) dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:3. Ketinggian trasram setidaknya sekitar 1 m. 4. MITOS: Tidak tahan terhadap air. FAKTA : Salah satu penyebab adanya mitos ini karena beton ringan aerasi berpori sehingga terlihat bisa menyimpan air. Padahal, faktanya tidak demikian. Meskipun berpori banyak, beton ringan aerasi memiliki daya serap air yang rendah. Hal ini disebabkan pori-pori di dalam inti beton berdiri sendiri. Masing-masing pori tidak saling berhubungan sehingga air tidak mudah merembes ke dalam material ini.

55

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Beton Ringan

Kenyamanan di dalam ruang sangat penting. Karena dengan kenyamanan, penghuni dapat melakukan berbagai kegiatannya dengan baik dan lebih produktif. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan adalah suhu, kelembaban, pergerakan udara. Sedangkan kenyamanan dapat diciptakan melalui setidaknya 2 hal yaitu perencanaan arsitektur yang baik dan pemilihan bahan yang tepat. Persoalan kenyamanan menjadi sangat krusial manakala dinding luar menghadap ke arah Barat. Untuk beberapa kasus pengkondisian udara dengan melakukan kontrol udara pasif, misalnya dengan mengadakan pembukaan beberapa jendela sehingga terjadi cross ventilation, masih dimungkinkan. Tetapi untuk bangunan-bangunan di daerah urban seringkali sulit. Kesulitan membuat pembukaan dinding untuk jendela ini disebabkan antara lain polusi udara yang tinggi dan kondisi lingkungan bangunan yang padat. Solusi lain yang dapat menjawab persoalan pengkondisian udara adalah penggunaan dinding beton ringan. Nah, untuk mengetahui seberapa besar efisiensi yang diperoleh berikut ini dipaparkan penghematan listrik yang didapat seandainya menggunakan pengkondisian udara aktif. Sebagai perbandingan ruang berukuran 3m x 4m dengan tinggi plafon 3m ruang pertama menggunakan plat atap beton ringan BETON RINGAN dan dinding blok beton ringan (Autoclaved Aerated Concrete) BETON RINGAN dengan plesteran/render PM- 200. Sedang ruang kedua yang sama ukurannya menggunakan plat beton konvensional dan dinding batu bata dengan plesteran semen-pasir. Pengukuran dilakukan terhadap panas yang melalui material dinding dan plat atap. Dimana energi panas dari luar akan ditahan oleh material, sehingga ruang dalam menjadi berkurang panasnya. Berkurangnya panas ini, tergantung dari kemampuan material menagahan panas.

56

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Proses ini sama halnya dengan energi listrik yang melalui tahan (R ) yang dapat berupa lampu atau peralatan listrik lainnya, maka setelah melalui tahanan tersebut daya listrik akan berkurang.

Dinding Beton Ringan Berat jenis blok BETON RINGAN () = 575 kg/m Konduktifitas panas blok () = 0,1575 W/(m.K) render = 0,35 W/(m.K) Thermal Resistance (R) = d/ R beton ringan= 0,125/0,1575=0,79

Dinding Bata Berat jenis bata () = 1.500 kg/m Konduktifitas panas bata () = 0,5 W/(m.K) plester = 1,4 W/(m.K) Thermal Resistance ( R) = d/ R bata=0,09/0,5=0,18

Semakin tinggi nilai Thermal Resistance, semakin baik kemampuan insulasi panas. Blok BETON RINGAN Batu bata

R render dalam = d/ R render dalam = 0,01/0,35=0,0286 R render luar = 0,01/0,35=0,0286 R total = 0,79+0,0286+0,0286 = 0,847

R plesteran = d/ R plesteran dalam = 0,025/1,4=0,018 R plesteran luar = 0,025/1,4=0,018 R total = 0,18+0,018+0,018 = 0,216

Thermal Resistance lapisan udara dalam (Rsi) dan lapisan udara luar (Rse)

57

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Semakin rendah nilai thermal transmittance film udara di permukaan dinding, semakin baik kemampuan insulasi panas. Thermal transmittance (U)= 1/(Rsi+R+Rse) U beton ringan = 1/(0,13+0,847+0,04) = 0,983 Thermal transmittance (U)= 1/(Rsi+R+Rse) U bata = 1/(0,13+0,216+0,04) = 2,59

Semakin rendah nilai thermal transmittance, semakin baik kemampuan insulasi panas. Panel Atap BETON RINGAN Panel BETON RINGAN Plat Beton Plat Beton

R screed PM-600 = d/ R = 0,02/0,35 = 0,057 R panel BETON RINGAN = d/ R = 0,125/0,8 = 0,69 R total = 0,057+0,69 = 0,747 Thermal transmittance (U)= 1/(Rsi+R+Rse) U panel beton ringan = 1/(0,13+0,747+0,08) = 1,04

R plester = d/ R = 0,02/1,4 = 0,014 R plat beton = d/ R = 0,125/2,1 = 0,06 R total = 0,014+0,06 = 0,074 Thermal transmittance (U)= 1/(Rsi+R+Rse) U atap beton = 1/(0,13+0,074+0,08) = 3,52

Energi yang Mengalir Melalui Dinding BETON Energi yang Mengalir Melalui Dinding Bata RINGAN dan Panel Lantai BETON RINGAN dan Plat Lantai Beton (Q) (Q) Luas dinding (A dinding) = 39,3 m Luas atap (A atap) = 12 m Rata-rata suhu luar 33 C , suhu di dalam ruang ditentukan 28 C, jadi selisih suhu (t) = 5 C Asumsi pemakaian ruang pada jam kerja 10 jam Q beton ringan = U x A x t x T Q beton ringan = 0,98339,35x10 = 1.931,6 Wh Q beton ringan = 1,9 kWh Q bata = U x A x t x T Q bata = 2.5939,35x10 = 5.089,35 Wh Q bata = 5,1 kWh

Q panel beton ringan = U x A x t x T Q atap beton = U x A x t x T Q panel beton ringan = 1,0412x1510 = 1.872 Q atap beton = 3,52 x1215x10 = 6.336 Wh Wh Q atap beton = 6,3 kWh Q panel beton ringan = 1,87 kWh Q total = 1,9 + 1,87 = 3,77 kWh Pemakaian selama 30 hari Q total = 5,1 + 6,3 = 11,4 kWh Pemakaian selama 30 hari
58

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Q = 3,77 kWh x 30 = 113 kWh

Q = 11,4 kWh x 30 = 342 kWh

Asumsi pemakaian pada rumah tangga dengan kategori R-1 2200 VA Blok I 0 20 kWh = 390,- x 20 = 7.800,Blok II 21-60 kWh = 445,- x 60 = 26.700,Blok III 61 kWh = 495,- x 33 = 16.335,Biaya total untuk 1 bulan = Rp 50.835,Blok I 0 20 kWh = 390,- x 20 = 7.800,Blok II 21-60 kWh = 445,- x 60 = 26.700,Blok III 61 kWh = 495,- x 262 = 129.690,Biaya total untuk 1 bulan = Rp 164.190,-

Penghematan listrik dengan bahan beton ringan BETON RINGAN = Rp 164.190, Rp 50.835,= Rp 113.335,Dengan menggunakan bahan beton ringan BETON RINGAN, maka ruang kerja ukuran 3mx4m dapat menghemat pemakaian listrik sebesar Rp 113.335,- per bulan. (Ir. Elisa Haryonugroho)

Menggunakan Bahan Bangunan Alamiah Perkembangan pembangunan dewasa ini ditandai dengan peningkatan macam-macam bahan bangunan dan munculnya bahan bangunan baru. Keadaan tersebut memungkinkan berbagai ragam alternatif pemilihan bahan bangunan guna mengkonstruksikan gedung. Maraknya penemuan bahan bangunan baru juga ditandai dengan kesadaran terhadap ekologi lingkungan dan fisika bangunan. Membangun berarti suatu usaha untuk menghemat energi dan sumber daya alam. Teknologi bangunan yang baru menuntut para ahli supaya mereka terbuka terhadap perkembangan tersebut, karena tidak jarang teknologi baru menyimpang dari cara pertukangan tradisional. Kajian ilmu bahan bangunan yang cukup sederhana dan formal selama ini kiranya perlu diubah sesuai dengan pandangan pembangunan yang menyeluruh.

Rantai bahan bangunan

Ilmu bahan bangunan biasanya menggolongkan bahan bangunan sebagai berikut:

59

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Bahan bangunan alam yang tradisional seperti batu alam, kayu, bambu, tanah liat, dan sebagainya tidak mengandung zat kimia yang mengganggu kesehatan. Lain halnya dengan bahan bangunan modern seperti tegel keramik, pipa plastik, cat-cat yang beraneka macam warnanya, perekat, dan sebagainya.

Bangunan menggunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Beberapa produsen telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan. Bahan baku yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan. Konstruksi yang berkelanjutan dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan alternatif dan bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi emisi CO2 sehingga lebih rendah daripada kadar normal bahan baku yang diproduksi sebelumnya. Bahan baku alternatif yang digunakan pun beragam. Bahan bangunan juga memengaruhi konsumsi energi di setiap bangunan. Pada saat bangunan didirikan konsumsi energi antara 5-13 persen dan 87-95 persen adalah energi yang dikonsumsi selama masa hidup bangunan.

60

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

Karena klasifikasi bahan bangunan tradisional kurang memperhatikan tingkat teknolgi dan keadaan entropinya, serta pengaruhnya atas ekologi dan kesehatan manusia, maka lebih baik bahan bangunan digolongkan menurut penggunaan bahan mentah dan tingkat transformasinya sebagai berikut:

61

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

KESIMPULAN Kita sebagai manusia sekaligus aktor dari segalanya, hendaknya mengerti dan memahami apa dan bagaimana alam ini tumbuh dan berkembang sebagaimana diri kita sebagai tempat hidup di dunia. Terutama kita yang menggeluti dunia ilmu yang berhubungan dengan tempat bernaung manusia di alam ini, yang disebut dengan arsitektur. Tidak sedikit orang yag berkata, bahwa arsitektur adalah pakaian kedua. Ini mengindikasikan bahwa arsitektur adalah suatu kebutuhan primer nomor tiga setelah sandang dan pangan. Hingga sebegitu pentingnya arsitektur bagi kita,kita tidak menyadari bahwa arsitektur itu sendiri bisa merusak alam ini yang merupakan kontributor terbesar dalam arsitektur. Padahal sudah tentu bahwa arsitektur ini semuanya bermula dari alam. Hendaknya para pelaku arsitektur dapat tetap menjaga kontributor terbesar pakaian kedua kita ini. Karena, tanpa alam, arsitektur tidak akan berjalan, tanpa alam, arsitektur tidak akan hidup. Patut kita syukuri bagi mereka yang telah menyadari dan mengerti keadaan alam kita saat ini yang semakin detik semakin tidak bersahabat, karena manusianya itu sendiri yang seolah tak pernah mengerti. Akhirnya mereka telah menemukan dan mengembangkan ilmu arsitektur yang tanggap dan ramah terhadap lingkungan. Yang saling mendukung antara produk arsitektur dan alam yang semakin tua namun tetap kaya ini. Penulis hanya dapat menyimpulkan, bahwa materi-materi di atas hanya sebagian kecil ilmu yang dapat dibagikan kepada teman-teman pembaca, ibarat setetes keringat di tengah lautan yang begitu kaya. Seperti ; bagaimana sebenarnya definisi arsitektur ramah lingkungan itu, desain-desain seprti apa saja ynga dapat mencerminkan arsiyektur ramah lingkungan, bagaimana perencanaan dan penerapannya, material apa saja yang dapat mendukung arsitektur ramah lingkungan itu.

62

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

WEBSITE
http://akuinginhijau.org/2007/08/25/green-building-untuk-iklim-mikro-bangunan-ramahlingkungan-syaratkan-efisiensi/
http://annahape.com/2009/07/04/tip-58-ecodesign/

http://annahape.com/2010/09/18/tip-98-berapa-tinggi-plafon-rumah-yang-ideal/ http://cvastro.com/tips-untuk-anda/kontraktor-bali-tips-memilih-material-bahan-bangunanuntuk-kesehatan/ http://bataviase.co.id/detailberita-10576739.html http://dbabipress.wordpress.com/2010/05/12/teknologi-bambu-plester-potensi-kelokalan-dalammenangani-permasalahan-global/ http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/14268 http://ideasnshape.blogspot.com/2009/10/material-ramah-lingkungan-dalam.html http://iklimkarbon.com/2010/04/22/solusi-pembangunan-arsitektur-ramah-lingkungan/ (http://properti.kompas.com/read/2009/06/04/16543455/Arsitek.Harus.Jadi.Agen.Pembangunan.. quot.Green.Design.quot.) http://properti.kompas.com/read/2009/05/01/17065038/Arsitek.Tak.Sekadar.Membuat.Desain (http://properti.kompas.com/index.php/read/2009/06/05/16324018/Menanti.Terwujudnya.Aritekt ur.Ramah.Lingkungan) http://properti.kompas.com/read/2010/10/27/17240796/Taman.Tropis:.Sejuknya.Berada.di.Antar a.Rimbunnya.Tanaman http://properti.kompas.com/index.php/read/2009/06/23/1834365/yuk.pilih.material.ramah.lingku ngan http://ruangnyaman.blogspot.com/2008/07/bangunan-hijau-hemat-dan-ramah.html http://rumaharsitektur.com/tag/material-ramah-lingkungan http://teknologi.kompasiana.com/group/internet/2010/02/02/benarkah-baja-ringan-ramahlingkungan/ http://www.arsiteka.com/2008/11/arsitektur-nusantara-adalah-arsitektur.html

63

Arsitektur Ramah Lingkungan Arsitektur dan Lingkungan

http://www.astudio.id.or.id http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=323:membangunrumah-ramah-lingkungan&catid=83:smart-living&Itemid=200 http://www.hebel.co.id/2009/06/adem-dan-hemat-dengan-beton-ringan/ http://www.hebel.co.id/2009/06/myths-and-facts-on-aerated-lightweight-concrete-mitos-danfakta-tentang-beton-ringan-aerasi/ http://www.hebel.co.id/2009/06/tips-mengenali-hebeltips-mengenali-hebel/ http://www.housingestate.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1673&Itemid=51 http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Blog/Arsitektur/Desain-Organik-Lebih-Ramah-Lingkungan http://www.scribd.com/doc/23188553/Konstruksi-Dan-Material-Rumah-Ramah-Lingkungan http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/perubahan_iklim___energi/resources/media/cet ak/?15980/Arsitektur-Tropis-Cenderung-Ramah-Lingkungan

64