Anda di halaman 1dari 4

3.

1 Pengujian dengan Partikel Magnet (Magnetic Particle Testing) Pengujian ini digunakan pada bahan yang mudah dimagnitkan. Metode ini menggunakan konsep medan magnet. Pengujian partikel magnet mampu mendeteksi cacat yang terbuka dan cacat yang berada dibawah permukaan (sub surface). Proses dasar pengujian ini adalah memagnetisasi bahan dengan magnet permanen atau dengan magnet buatan (electromagnet), medan magnet yang terjadi pada bahan yang diuji berupa garis-garis gaya medan magnet, bilamana pada bahan tersebut terdapat cacat maka akan memutus garis gaya magnet sehingga akan membentuk kutub magnet baru. Apabila partikel-partikel magnet disebarkan pada permukaan benda tersebut maka partikel-partikel magnet akan ditarik oleh kutub-kutub magnet disekitar cacat yang dapat memberikan suatu indikasi adanya cacat seperti pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Indikasi cacat oleh partikel magnet

Ada beberapa jenis partikel magnet yaitu dry magnetic particle dan wet magnetic particle. Di PT. GMF AeroAsia menggunakan wet magnetic particle yakni serbuk partikel magnet dicampur dengan kerosene dan digunakan perbandingan 8 liter kerosene dicampur dengan 2,5 gram partikel serbuk besi. Langkah pengujiannya dijelaskan sebagai berikut. 1. Pengujian Visual untuk melihat adanya korosi

Gambar 3.2. Tempat pemeriksaaan secara visual

2. Pembersihan permukaan benda uji Pembersihan permukaan benda uji dari kotoran yang menempel seperti debu, minyak serta oli yang menempel pada benda uji. Dibersihkan dengan menggunakan cairan adrox sebagai pembersih seperti pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Cairan Adrox

Pembersihan ini dilakukan apabila barang yang diinspeksi masih dinyatakan kotor setelah melalui inspeksi manual dengan visual, jika barang dalam keadaan bersih maka langsung dimagnetisasi. 3. Memagnetisasi benda kerja Memagnetisasi benda kerja selama beberapa saat, dengan mengiduksikan medan magnet pada benda yang akan diuji di dalam suatu kumparan selonoida dan dilalui arus listrik searah (DC). Proses ini adalah cara memberikan sifat magnet kepada benda uji sehingga benda uji berubah menjadi magnet. Metode pemagnetan seperti ini mempunyai tujan agar crack yang searah dengan arah medan magnet dapat terlihat. Seperti pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Alat Magnetisasi (Willhelm Tride)

4.

Setelah bahan telah menjadi magnet maka siram benda uji dengan menggunakan wet magnetic particle yang merupakan campuran kerosene dengan serbuk besi, seperti pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Wet magnetic particle

5.

Interpretasi cacat dengan menggunakan bantuan sinar UV atau black light. Cacat akan terlihat berpendar kehijauan ketika diberi cahaya UV dan tampak menggaris jika terdapat suatu cacat atau crack nampak seperti pada gambar . Hal ini dikarenakan wet magnetic particle mengandung fluoresent yang akan berpendar seperti warna hijau apabila terkena sinar UV pada ruang yang gelap.

Gambar 3.6 Indikasi adanya Crack pada spesimen.

6. Lakukan demagnetisasi pada benda yang di inspeksi. Demagnetisasi yaitu proses menghilangkan sifat magnet suatu material uji. Jadi benda uji dilewatkan pada alat demagnetisasi (gambar) ini untuk menghilangkan sifat magnetnya. Kemudian cek apakah benda uji masih mengandung sifat magnet, dengan alat gausmeter.

Gambar 3.7. Alat Demagnetisasi

Gambar 3.8 Alat Gausmeter

7. Bersihkan kembali benda uji ke dalam cairan adrox kemudian lumasi benda uji dengan menggunakan protector oil agar mencegah terjadinya pengkaratan kemudian dikeringkan.