Anda di halaman 1dari 6

180

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 hal. 180-185

UPAYA KECIL BERKELANJUTAN MENGURANGI PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL MELALUI PEMBELAJARAN PEMBUATAN ALAT PERAGA DALAM PERKULIAHAN FLUIDA
Wahyu Hari Kristiyanto Pusat Studi Pendidikan Sains, Teknologi dan Matematika (e-SisTeM) Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711 Email : whkris_fisika@yahoo.com

INTISARI
Maraknya produksi minuman air mineral siap minum berkemasan plastik, dapat menimbulkan banyak sampah plastik terutama botol bekas yang potensial menyebabkan pemanasan global. Upaya untuk mengatasi dengan cara mengendalikan jumlah sampah yang potensial menyebabkan pemanasan global sangat gencar dilakukan terutama di lingkungan pendidikan. Ironisnya, masih banyak generasi muda yang terlihat masih membuang sampah sembarangan, termasuk sampah plastik berupa botol air mineral bekas. Hal ini menunjukkan bahwa upaya-upaya tersebut kurang perhatian pada aspek keberlanjutannya, karena mengingat generasi muda tersebut merupakan generasi penerus. Berdasarkan keadaan seperti itu, penulis bermaksud mengajak mahasiswa peserta mata kuliah Fluida untuk dapat memanfaatkan sampah plastik berupa botol air mineral bekas menjadi alat peraga Fisika. Penelitian tindakan kelas dengan analisa deskriptif kualitatif ini dilakukan selama 1 (satu) minggu pada sampel yang berjumlah 22 orang mahasiswa yang berasal dari Kecamatan SoE, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel dapat mengumpulkan barang-barang sampah berupa botol air mineral bekas; memanfaatkannya menjadi alat peraga gelas ukur dan pipa U dengan hasil dan fungsi yang baik; dapat menggunakannya dalam kegiatan mengukur massa jenis kayu dan minyak; dan mengalami peningkatan penguasaan konsepnya. Secara afektif, semua sampel merasakan senang karena dapat mengubah barang bekas yang kurang/bahkan tidak berguna menjadi barang yang sangat bermanfaat apalagi di daerah asal sampel sangat kurang jumlah alat peraga yang ada, bahkan ada beberapa yang akan meneruskan kegiatan serupa dengan memanfaatkan barang-barang bekas menjadi alat peraga Fisika yang lain. Semoga melalui kegiatan dan penelitian kecil ini dapat memiliki peran yang besar untuk mengatasi pemanasan global karena mahasiswa yang akan menjadi guru tersebut akan menularkannya kepada anak didik, dan begitu seterusnya sehingga terbentuklah generasi yang kreatif dan sadar lingkungan yang mampu memanfaafkan barang bekas menjadi hal yang bermanfaat. Kata kunci : pemanfaatan sampah plastik, alat peraga Fisika, generasi yang kreatif dan sadar lingkungan, keberlanjutan.

I. PENDAHULUAN Maraknya produksi minuman air mineral siap minum berkemasan plastik, dapat menimbulkan banyak sampah plastik terutama botol bekas yang potensial menyebabkan pemanasan global. Plastik adalah suatu material yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk alat pengemas, perabotan rumah tangga dan kantoran, hingga mainan anak-anak. Jika kita lihat dari kegunaannya (misalnya sebagai alat pengemas barang belanjaan), tentu kantong plastik tersebut sangat bermanfaat. Selain memudahkan kita membawa barang belanjaan, karakteristiknya yang ringan dan kedap air pun membuat kita nyaman. Dan yang pasti, tempat belanja yang kita kunjungi hampir selalu memberikan plastik tersebut secara cuma-cuma (http://vyanrh.wordpress.com/2009/03/30/info-daur-ulang-plastik/). Menurut Kepala Subbidang Pengelolaan Sumber Daya Sampah dan Limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Pemprov DKI Rosa Ambarsari, keberadaan sampah plastik memang telah mengganggu lingkungan (http://www.koranjakarta.com/berita-detail.php?id=45771). Upaya untuk mengatasi dengan cara mengendalikan jumlah sampah yang potensial menyebabkan pemanasan global sangat gencar dilakukan terutama di lingkungan pendidikan. Salah satu perusahaan terkemuka di dunia hardware komputer, HP, berhasil membuat katrid inkjet dari plastik botol air minum dan telah dipasarkan (http://vyanrh.wordpress.com/2009/03/30/info-daur-ulang-plastik/). Ironisnya, masih banyak generasi muda yang terlihat masih membuang sampah sembarangan, termasuk sampah plastik berupa botol air mineral bekas. Hal ini menunjukkan bahwa upaya-upaya tersebut kurang perhatian pada aspek keberlanjutannya, karena mengingat generasi muda tersebut merupakan generasi penerus. Berdasarkan keadaan seperti itu, penulis bermaksud mengajak mahasiswa peserta mata kuliah Fluida untuk dapat memanfaatkan sampah plastik berupa botol air mineral bekas menjadi alat peraga Fisika. Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001) menyatakan bahwa proses belajar mengajar pada hakekatnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi tersebut, penyampaian pesan
ISSN 0853 - 0823

Wahyu Hari Kristiyanto / Upaya Kecil Berkelanjutan Mengurangi Penyebab Pemanasan Global Melalui Pembelajaran Pembuatan Alat Peraga Dalam Perkuliahan Fluida

181

tidak selamanya sukses, karena ada beberapa hambatan akibat keterbatasan dalam komunikasi tersebut. Untuk itu isi pembelajaran dan cara yang digunakan dalam komunikasi ini harus jelas dan bermakna, sehingga dapat menghindari terjadinya miskomunikasi. Pembelajaran dengan media yang tepat diharapkan dapat mendapatkan hasil belajar/prestasi belajar siswa yang baik. Berkenaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, Mohammad Pribadi (2006) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran adalah: 1. Bahan atau hal yang dipelajari, sebab bahan yang dipelajari menentukan bagaimana proses belajar itu terjadi dan bagaimana hasilnya. 2. Lingkungan, yaitu lingkungan alam maupun sosial. 3. Instrumen. Penggunaan instrumen dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. 4. Kondisi Individual pelajar, yang memegang peranan paling menentukan dalam proses belajar. Hal itu berarti kebenaran tampilan media sangat penting terhadap prestasi belajar. Jika ada penyimpangan isi dari media akan dapat menimbulkan pencapaian prestasi belajar tidak maksimal. Pembelajaran konsep tertentu yang dikemas melalui pembuatan alat peraga yang mendukung konsep tersebut secara langsung oleh mahasiswa pada proses pembelajaran dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep yang sedang dipelajari (Kristiyanto, 2008). Pada pembelajaran fluida, Gambar1, besarnya massa jenis zat cair 2 dapat diukur menggunakan pipa U dengan mencampurkannya dengan zat cair yang sudah diketahui 1.

h1 1
A B

h2 2

Gambar 1. Pipa U yang berisi 2 cairan yang berbeda. Didapatkan bahwa tekanan total di titik A sama dengan di titik B (Halliday-Resnick,1994), sehingga : Karena lengan kanan dan kiri pipa U terbuka maka didapatkan

1 g h1 = 2 g h2 1 = 2 h2 / h1

(1)

Massa jenis benda padat yang terapung dapat diukur dengan menggunakan konsep gaya-gaya yang bekerja pada benda yang terapung yaitu gaya berat dan gaya Archimedes seperti ditunjukkan pad FA Gambar 2.

Permukaan air

Fg Gambar 2. Gaya-gaya yang bekerja pada benda yang terapung di air. Karena benda dalam keadaan setimbang, maka resultan gaya yang bekerja pada benda adalah nol

a g Vap b g Vb = 0
dengan adalah volume air yang dipindahkan yang besarnya sama dengan volume benda , sehingga yang tercelup di dalam air
ISSN 0853 - 0823

182

Wahyu Hari Kristiyanto / Upaya Kecil Berkelanjutan Mengurangi Penyebab Pemanasan Global Melalui Pembelajaran Pembuatan Alat Peraga Dalam Perkuliahan Fluida

b g Vb = a g Vbc b = a Vbc / Vb
II. METODE PENELITIAN

(2)

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas tipe guru sebagai peneliti. Analisa hasil penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan selama 1 (satu) minggu dengan jumlah sampel sebanyak 22 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika-FSMUKSW Salatiga yang berasal dari Kecamatan SoE, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengambilan data dilakukan pada proses pembelajaran melalui observasi, wawancara, dan tes pemahaman konsep. III. HASIL DAN PEMBAHASAN III.1. Pembuatan Alat Peraga Sebelum kegiatan pembuatan alat peraga dimulai, mahasiswa mengikuti kegiatan pembelajaran mengenai konsep fluida dan pengukuran variabel-variabel yang terkait. Pada tahap awal, pada Gambar 3 sampel telah dapat mengumpulkan barang-barang sampah berupa botol air mineral bekas, toples, selang, kardus, dan tali rafia yang sudah dibersihkan.

Gambar 3. Barang-barang bekas yang berhasil dikumpulkan oleh mahasiswa. Pada tahap kedua, pada Gambar 4, secara berkelompok, mahasiswa mengerjakan proyek pembuatan alat peraga berupa pembuatan gelas ukur dan pipa U. Pada pembuatan gelas ukur, bahan yang digunakan adalah botol air mineral atau toples. Peneraan skala dilakukan dengan cara menakar air dengan gelas ukur yang ada di laboratorium dan kemudian dituangkan ke dalam botol atau toples yang akan dibuat menjadi gelas ukur, dan peneraan skala disesuaikan dengan ukuran gelas ukur. Pada pembuatan pipa U, mahasiswa menggunakan bahan berupa selang bekas, kardus, dan tali rafia. Selang yang sudah dibuat menjadi bentuk U ditempelkan pada kardus dan diikat dengan tali rafia. Setelah pipa U jadi, kardus tersebut dibuatkan kaki dari potongan sisa kardus agar dapat berdiri sehingga posisi pipa U menjadi vertikal/tegak.

Gambar 4. Mahasiswa secara berkelompok sedang membuat gelas ukur dan pipa U

ISSN 0853 - 0823

Wahyu Hari Kristiyanto / Upaya Kecil Berkelanjutan Mengurangi Penyebab Pemanasan Global Melalui Pembelajaran Pembuatan Alat Peraga Dalam Perkuliahan Fluida

183

III.2. Pengukuran Massa Jenis Kayu Dan Minyak Pada kegiatan pemanfaatan alat peraga yang sudah dihasilkan untuk mengukur massa jenis benda, mahasiswa menggunakannya untuk mengukur massa jenis berbagai macam kayu, minyak tanah, dan minyak goreng. III.2.1. Pengukuran Massa Jenis Kayu Prinsip pengukuran massa jenis kayu menggunakan konsep kesetimbangan gaya yang bekerja pada benda yang terapung. Pengukuran massa jenis kayu menggunakan alat peraga gelas ukur yang sudah dihasilkan, dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Gelas ukur diisi dengan air pada volume tertentu. Besarnya volume air ditunjukkan oleh skala yang ditunjuk permukaan air dinamakan Vawal. 2. Mengukur volume zat cair yang dipindahkan. Kayu yang akan diukur dimasukkan ke dalam air, sehingga permukaan air akan naik dan skala yang ditunjukkan dinamakan Vakhir1. Besarnya adalah V akhir1- Vawal. volume zat cair yang dipindahkan Vair pindah = 3. Mengukur volume benda. Seluruh bagian kayu yang akan diukur dimasukkan ke dalam air dengan cara didorong, sehingga permukaan air akan naik dan skala yang ditunjukkan dinamakan Vakhir2. Besarnya volume benda Vb adalah V akhir2- Vawal. 4. Memasukkan data ke dalam tabel, dan kemudian menghitung massa jenis benda yang diukur dengan menggunakan persamaan (2). Adapun data yang diperoleh seperti yang tercantum pada Tabel 1. Tabel 1. Ringkasan hasil pengukuran massa jenis kayu Nama Vawal Vakhir1 Vakhir2 Vbc Vb Massa jenis benda (ml) (ml) (ml) (ml) (ml) (kg/m3) benda Kayu Jati 100 154 160 54 60 900 Kayu Mahoni 98 117,5 130 19.5 32 609,4 Kayu Gamal 97 145 193 48 96 500 Catatan : massa jenis air yang digunakan adalah 1000 kg/m3 III.2.2. Pengukuran Massa Jenis Minyak Prinsip pengukuran massa jenis minyak menggunakan konsep kesetimbangan tekanan pada titiktitik yang terletak pada satu garis mendatar pada zat cair yang sama pada bejana berhubungan. Pengukuran massa jenis minyak digunakan alat peraga pipa U yang sudah dihasilkan, dengan langkahlangkah sebagai berikut : 1. Menempelkan kertas putih untuk menandai dan mencatat posisi-posisi permukaan cairan. 2. Pipa U diisi dengan air tidak terlalu penuh, sehingga pada keadaan setimbang akan didapatkan permukaan air pada kedua lengan terletak pada garis mendatar. 3. Membuat garis mendatar yang menghubungkan kedua permukaan cairan pada masing-masing lengan pada kertas putih. Garis tersebut digunakan sebagai acuan garis mendatarnya. 4. Minyak yang akan diukur massa jenisnya dituangkan pada salah satu lengan dengan volume tertentu yang secukupnya. 5. Menandai permukaan air yang baru dan permukaan minyak pada kertas putih. 6. Membuat garis mendatar (sejajar dengan garis pada langkah 3) yang melewati permukaan air yang terletak tepat di bawah minyak. 7. Mengukur panjang cairan minyak hminyak dengan cara mengukur jarak permukaan minyak terhadap garis mendatar pada langkah 6. 8. Mengukur panjang air lebihan hair dengan dengan cara mengukur jarak permukaan air yang paling tinggi posisinya terhadap garis mendatar pada langkah 6. 9. Memasukkan data ke dalam tabel, dan kemudian menghitung massa jenis benda yang diukur dengan menggunakan persamaan (1). Adapun data yang diperoleh seperti yang tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Ringkasan hasil pengukuran massa jenis minyak Nama benda Minyak tanah Minyak goreng Bimoli hminyak (cm) 12 10 hair (cm) 9,2 8,9 Massa jenis benda (kg/m3) 767 890

Catatan : massa jenis air yang digunakan adalah 1000 kg/m3 ISSN 0853 - 0823

184

Wahyu Hari Kristiyanto / Upaya Kecil Berkelanjutan Mengurangi Penyebab Pemanasan Global Melalui Pembelajaran Pembuatan Alat Peraga Dalam Perkuliahan Fluida

Setelah sampel melakukan percobaan dan mendapatkan hasil, kemudian melakukan presentasi deseminasi mengenai langkah pembuatan alat peraga, pengukuran massa jenis benda, dan hasil pengukurannya. Walaupun dengan ketelitian yang kurang baik, namun alat peraga sederhana yang dibuat dengan menggunakan bahan bekas ini dapat mengukur massa jenis benda dengan hasil yang cukup masuk akal. III.3. Pemahaman Konsep Hasil Kegiatan Mengajar-Belajar Setelah mengikuti kegiatan mengajar-belajar melalui diskusi, pembelajaran langsung, tugas proyek, dan percobaan pengukuran, pemahaman konsep sampel yang merupakan hasil kegiatan mengajar-belajar ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Grafik nilai pemahaman konsep sampel Tampak pada Gambar 5 bahwa dari 22 sampel terdapat 20 sampel mengalami kenaikan nilai, dan hanya 2 sampel yaitu sampel nomer 19 dan 20 yang mengalami penurunan. Dengan kata lain, sebanyak 91% sampel telah mengalami peningkatan pemahaman konsep Fluida pada pembelajaran melalui pembuatan alat peraga sederhana dari bahan bekas dan penggunaannya. Oleh karena itu, penelitian ini dianggap berhasil dan tidak perlu dilakukan siklus berikutnya. III.4. Afeksi Sampel Dalam Proses Kegiatan Secara afektif, semua sampel merasakan senang selama mengikuti pembelajaran, mengumpulkan bahan, membuat alat peraga, melakukan percobaan, dan presentasi. Pada Gambar 6, sampel merasa senang karena dapat mengubah barang bekas yang kurang/bahkan tidak berguna menjadi barang yang sangat bermanfaat apalagi di daerah asal sampel sangat kurang jumlah alat peraga yang ada, bahkan ada beberapa yang akan meneruskan kegiatan serupa dengan memanfaatkan barang-barang bekas menjadi alat peraga Fisika yang lain.

Gambar 6. Rasa senang yang ditunjukkan oleh sampel IV. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa bahan bekas yang kurang bermanfaat dapat dimanfaatkan menjadi alat peraga yang sangat berguna. Pemanfaatan bahan bekas terutama berbahan dasar plastik sebagai alat peraga dapat mengurangi penyebab pemanasan global, sehingga dengan perasaan senang dan komitmen sampel yang akan menjadi guru untuk

ISSN 0853 - 0823

Wahyu Hari Kristiyanto / Upaya Kecil Berkelanjutan Mengurangi Penyebab Pemanasan Global Melalui Pembelajaran Pembuatan Alat Peraga Dalam Perkuliahan Fluida

185

melanjutkannya akan menjadi penggerak dalam program pengurangan penyebab pemanasan global yang berkelanjutan. Melalui kegiatan dan penelitian kecil ini diharapkan dapat memiliki peran yang besar untuk mengatasi pemanasan global karena mahasiswa yang akan menjadi guru tersebut akan menularkannya kepada anak didik, dan begitu seterusnya sehingga terbentuklah generasi yang kreatif dan sadar lingkungan yang mampu memanfaafkan barang bekas menjadi hal yang bermanfaat. V. DAFTAR PUSTAKA Halliday, D., dan Resnick, R. 1994. Fisika jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hlm 57 Sumantri, M., Permana,J. 2001. Strategi Belajar Mengajar. CV. Maulana. Bandung. Hlm 155-156 Pribadi, M. 2006. Peranan Kemampuan Asisten dan Pemahaman Konsep Awal Mahasiswa Praktikan terhadap Domain Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik dalam Pelaksanaan Praktikum Fisika Dasar II. Tesis. Program Magister Pendidikan Sains minat Fisika, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Hlm 9-11 Kristiyanto, W, H. 2008. Penggunaan Media Pembelajaran Animasi Simulasi Komputer (KOL, KSD, KSL) Terhadap Pemahaman Konsep Gerak Ditinjau Dari Penalaran Abstrak. Tesis. Program Magister Pendidikan Sains minat Fisika, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Hlm 55 http://vyanrh.wordpress.com/2009/03/30/info-daur-ulang-plastik/ http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=45771

ISSN 0853 - 0823