P. 1
Laporan Pendahuluan App

Laporan Pendahuluan App

|Views: 183|Likes:
Dipublikasikan oleh Zulvikar Matike
laporan pendahuluan app
laporan pendahuluan app

More info:

Published by: Zulvikar Matike on Feb 13, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $4.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

02/13/2013

$4.99

USD

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN ”APPENDISITIS”

A. KONSEP MEDIS
I. PENGERTIAN Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisits verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997) II. ETIOLOGI

Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya Hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :

1.

Faktor sumbatan

Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing.

2.

Faktor Bakteri

Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus.

3.

Kecenderungan familiar

Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan

. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat. Namun. Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi influenza dan pneumonitis. jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Namun saat sekarang. 4. 5. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat.dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen. hati-hati karena penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan apendisitis. Faktor ras dan diet Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Faktor infeksi saluran pernapasan. memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi. kejadiannya terbalik.

Diapedesis Bakteri Apendicitis Acute Appendisitis yang terinflamasi dan mengalami edema. diare (Brunner & Suddart. Burney  Spasme otot  Konstipasi. malaisse  Nyeri tekan lokal pada titik Mc. menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam. trlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. PATOFISIOLOGI Obstruksi Apendiks Pengaliran Mukus Terhambat Bendungan Mukus dalam Lumen Peningkatan Tekanan Intralumen Terhambat Aliran Limfe Edema. MANIFESTASI KLINIK  Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan  Mual. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intra luminal. IV. 1997) .III. Appendiks terinflamasi berisi pus. muntah  Anoreksia.

PENATALAKSANAAN  Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan  Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedhan dilakukan  Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. b. netrofil meningkat sampai 75% : normal. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Brunner & Suddart. 1997) VII. 1997) . PEMERIKSAAN FISIK a. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  Sel darah putih  Urinalisis  Foto abdomen terlokalisir  Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara : lekositosis diatas 12000/mm3. 1993. Inspeksi : pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling. KOMPLIKASI  Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks  Tromboflebitis supuratif  Abses subfrenikus  Obstruksi intestinal VIII.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). (Brunner & Suddart. VI.V. tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada : Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah (Doenges. Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri.

drainase purulen  Tekanan darah >90/60 mmHg  Nadi < 100x/menit dengan pola dan kedalaman normal  Abdomen lunak. Keamanan : demam 7. lokasi dan durasi nyeri. perforasi. batuk.d tidak adekuatnya pertahanan utama. Pernapasan  Tachipnea  Pernapasan dangkal (Brunner & Suddart. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI 1. bersin. mual. atau nafas dalam 6. Eliminasi      Konstipasi pada awitan awal Diare (kadang-kadang) Distensi abdomen Nyeri tekan/lepas abdomen Penurunan bising usus 4. Resiko tinggi terjadi infeksi b. Sirkulasi : Tachikardi 3.peritonitis sekunder terhadap proses inflamasi Tujuan : tidak terjadi infeksi Kriteria:  Penyembuhan luka berjalan baik  Tidak ada tanda infeksi seperti eritema. Aktivitas/ istirahat: Malaise 2. KONSEP KEPERAWATAN I. PENGKAJIAN 1. demam.B. tidak ada distensi  Bising usus 5-34 x/menit Intervensi: a. 1997) II. Kaji dan catat kualitas. Waspadai nyeri yang menjadi hebat . muntah 5. Kenyamanan Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Cairan/makanan : anoreksia. Burney meningkat karena berjalan.

Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat untuk membantu melepaskan otot yang tegang e. pembatasan pasca operasi Kriteria hasil. Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik e. adanya insisi bedah Kriteria hasil:    Persepsi subyektif tentang nyeri menurun Tampak rileks Pasien dapat istirahat dengan cukup Intervensi: a. Monitor masukan dan haluaran . Hindari tekanan area popliteal f. Lihat insisi dan balutan. capilary refill c. Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler c.b. Awasi tekanan darah dan tanda vial b. eriitema f. Catat lokasi. Berikan perawatan mulut sering . Auskultasi bising usus. membran mukosa. karakteristik nyeri b. nadi. Dorong untuk ambulasi dini d. penurunan bising usus d. analgetik sesuai program 3. Kaji nyeri.d inflamasi peritoneum dengan cairan asing. adanya pernapasan cepat dan dangkal c.  Membran mukosa lembab  Turgor kulit baik  Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam  Tanda vital stabil Intervensi: a. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuhb. Nyeri b. Catat kelancara flatus e. Kaji abdomen terhadap kekakuan dan distensi. Kaji turgor kulit. Kolaborasi: antibiotik 2. Catat karakteristik drainase luka/drain. Catat warna urin/konsentrasi d.d distensi jaringan usus oleh onflamasi. muntah praoperasi. Awasi dan catat tanda vital terhadap peningkatan suhu. Berikan antiemetik.

Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik. Berikan cairan IV dan Elektrolit 4. edema/eritema luka. Diskusikan perawatan insisi. Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahatperiodik c. pembatasan mandi d. Kaji ulang embatasan aktivitas paska oerasi b. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi g. 1993) . adanya drainase (Doenges. termasuk mengganti balutan.f. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b. contoh peningkatan nyeri.d kurang informasi Kriteria:  Menyatakan pemahamannya tentang proese penyakit. pengobatan  Berpartisipasidalam program pengobatan Intervensi a.

Edisi 2. Jakarta. Volume 2. SA. EGC .LM. Edisi 4. Patofisiologi Proses-Proses Penyakit. Wilson.DAFTAR PUSTAKA 1. Brunner & suddart. Buku Pertama. Jakarta. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (1994). Marilynn E. Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Jakarta. EGC 3. Edisi 3. Price. (1996). Rencana Asuhan Keperawatan. K\Jakarta. Edisi 8. Doenges. (1993). Bare (1997). Smeltzer. EGC 4. EGC 2.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->