P. 1
Makalah Herpes Zoster

Makalah Herpes Zoster

|Views: 3|Likes:
Dipublikasikan oleh Wenny Eudensia

More info:

Published by: Wenny Eudensia on Feb 13, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2014

pdf

text

original

MAKALAH

HERPES ZOSTER

Disusun Oleh : Isna Hernawati Semester : 1/DIII Keperawatan Dosen Pembimbing : dr. Cecep Djuhana Mata Kuliah : Patologi

AKADEMI PERAWATAN PEMDA KAB. CIANJUR (JALUR KHUSUS RUMAH SAKIT)

2008 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...

Penulis

2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN  Latar belakang  Tujuan BAB II PEMBAHASAN BAB III PENUTUP ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 2 3 4 ------------------------------------------------------------------------------------------- 6 23  KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA ---------------------------------------------24 3 .

Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia.BAB I PENDAHULUAN A. Hal ini dapat terjadi oleh karena defek imunologi karena keganasan atau pengobatan 4 .4 Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia.2 Herpes zoster ditandai dengan adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dan nervus kranialis. Lebih dari 2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus berusia di bawah 20 tahun. tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun.3. virus tersebut tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi. virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal melalui serabut saraf sensoris ke ganglion sensoris. yaitu virus varisela zoster. Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Latar Belakang Herpes zoster telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Aktivasi virus varisela zoster laten diduga karena keadaan tertentu yang berhubungan dengan imunosupresi. Herpes zoster pada umumnya terjadi pada dermatom sesuai dengan lokasi ruam varisela yang terpadat. Pada ganglion terjadi infeksi laten. Selama terjadi varisela. Penyebaran dari ganglion yang terkena secara langsung atau lewat aliran darah sehingga terjadi herpes zoster generalisata. tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus.3-5 per 1000 orang per tahun. Herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama dengan varisela. komplikasi yang terbanyak adalah neuralgia paska herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang persisten setelah krusta terlepas. tidak ada perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita.1. Diperkirakan terdapat antara 1. dan imunitas selular merupakan faktor penting untuk pertahanan pejamu terhadap infeksi endogen.

2. gambaran klinis. epidemiologi. Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu: mengatasi inveksi virus akut. Untuk memahami definisi. penatalaksanaan dan Asuhan keperawatan pada Herpes Zoster Meningkatkan kemampuan dalam penulisan asuhan keperawan 3. Memenuhi salah satu tugas perkuliahan Patologi di Akademi Perawatan Pemda Cianjur - 5 .imunosupresi. mengatasi nyeri akut ynag ditimbulkan oleh virus herpes zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik. patogenesis. Tujuan 1. B. diagnosis. etiologi.

Herpes zoster terjadi pada orang yang pernah menderita varisela sebelumnya karena varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama yaitu virus varisela zoster. Kurnia Djaya pernah melaporkan kasus hepes zoster pada bayi usia 11 bulan. C. Setelah sembuh dari varisela. 6 . tidak ada perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan. angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Di negara maju seperti Amerika. Herpes zoster adalah sutau infeksi yang dialami oleh seseorang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap varicella (misalnya seseorang yang sebelumnya tidak terinfeksi oleh varicella dalam bentuk cacar air).BAB II PEMBAHASAN - A. yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. B. virus yang ada di ganglion sensoris tetap hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika daya tahan tubuh menurun. Definisi Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan vesikel unilateral. di Inggris 0. virus ini berukuran 140-200 nm. Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% usia di bawah 20 tahun. Etiologi Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA. sesuai dengan dermatomanya (persyarafannya).34% setahun sedangkan di Indonesia lebih kurang 1% setahun. penyakit ini dilaporkan sekitar 6% setahun. Epidemiolgi Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia.

Selama antibodi yang beredar didalam darah masih tinggi. dan demam. Virus yang laten ini pada saatnya akan menimbulkan kekambuhan secara periodik. tetapi pada saat tertentu dimana antibodi tersebut turun dibawah titik kritis maka terjadilah reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes zoster. Patogenesis Infeksi primer dari VVZ ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Gejala ini terjadi beberapa hari menjelang timbulnya erupsi. Disini virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Umumnya lesi terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh salah satu ganglion saraf sensorik. seperti sakit kepala. Gambaran Klinis Gejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena. Erupsi mulai dengan eritema makulopapular. Gejala konstitusi. beta dan gamma. terjadi pada 5% penderita (terutama pada anak-anak) dan timbul 1-2 hari sebelum terjadi erupsi. reaktivasi dari virus yang laten ini dapat dinetralisir. malaise. Selanjutnya setelah infeksi primer. penjamu. Dua belas hingga dua puluh empat jam 7 . D. sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa. infeksi oleh virus herpes alfa biasanya menetap dalam bentuk laten didalam neuron dari ganglion. Secara in vitro virus herpes alfa mempunyai jajaran penjamu yang relatif luas dengan siklus pertumbuhan yang pendek serta mempunyai enzim yang penting untuk replikasi meliputi virus spesifik DNA polimerase dan virus spesifik deoxypiridine (thymidine) kinase yang disintesis di dalam sel yang terinfeksi. Sebagian virus juga menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion sensoris dan berdiam diri atau laten didalam neuron. E. Gambaran yang paling khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata dan unilateral. VVZ dalam subfamili alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. Keadaan ini diikuti masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelial System (RES) yang kemudian mengadakan replikasi kedua yang sifat viremia nya lebih luas dan simptomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Jarang erupsi tersebut melewati garis tengah tubuh.Berdasarkan sifat biologisnya seperti siklus replikasi.

Keluhan yang berat biasanya terjadi pada penderita usia tua. Herpes zoster oftalmikus sinistra. 2. Gambar 1. lumbal (15%). kranial (20%). Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu. kelopak mata bengkak dan sukar dibuka. Herpes zoster fasialis Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis (N. Gejala prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelainan kulit timbul. Menurut lokasi lesinya. Seminggu sampai sepuluh hari kemudian. Krusta ini dapat menetap menjadi 2-3 minggu. Rasa sakit segmental pada penderita lanjut usia dapat menetap. Pada anak-anak hanya timbul keluhan ringan dan erupsi cepat menyembuh. ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. banyak kelar air mata. Herpes zoster oftalmikus Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N. Fotofobia. 8 . herpes zoster dibagi menjadi: 1.kemudian terbentuk vesikula yang dapat berubah menjadi pustula pada hari ketiga. demam ringan. walaupun krustanya sudah menghilang. Frekuensi herpes zoster menurut dermatom yang terbanyak pada dermatom torakal (55%).V).VII). dan sakral (5%). ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. lesi mengering menjadi krusta.

Herpes zoster brakialis sinistra. Herpes zoster brakialis Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. 9 . Herpes zoster torakalis Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. 4. 3. Gambar 3.Gambar 2. Herpes zoster fasialis dekstra.

Herpes zoster sakralis Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.Gambar 4.3 Adakalanya sebelum timbul kelainan kulit didahului gejala prodromal seperti demam. 5. Gambar 5.9 Kelainan kulit tersebut mula-mula berupa eritema kemudian berkembang 10 . F. Herpes zoster torakalis sinistra. Herpes zoster sakralis dekstra. Herpes zoster lumbalis Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. Diagnosis Diagnosis herpes zoster pada anamnesis didapatkan keluhan berupa neuralgia beberapa hari sebelum atau bersama-sama dengan timbulnya kelainan kulit. 6. pusing dan malaise.

Sebaliknya 11 . Isi vesikel mula-mula jernih. apendisitis.4.menjadi papula dan vesikula yang dengan cepat membesar dan menyatu sehingga terbentuk bula. 2. Demikian pula pemeriksaan cairan vesikula atau material biopsi dengan mikroskop elektron. Dalam stadium pra erupsi. dan sebagainya. Komplikasi 1. Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan mikroskop elektron. Secara laboratorium. Akan tetapi pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain: 1. misalnya pleuritis. G. Neuralgia ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan sampai beberapa tahun. proliferasi endotel pembuluh darah kecil. 3. diagnosis mudah ditegakkan. Jika absorbsi terjadi. persentasenya 10 . kolik renal. dan mengenai satu dermatom. hemoragi fokal dan inflamasi bungkus ganglion. serta tes serologik. infark miokard. Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen Test serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik. nekrosis sel dan serabut saraf. setelah beberapa hari menjadi keruh dan dapat pula bercampur darah. Neuralgia paska herpetik Neuralgia paska herpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan.9 Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan sebukan sel limfosit yang mencolok. unilateral. Karakteristik dari erupsi kulit pada herpes zoster terdiri atas vesikel-vesikel berkelompok.15 % dengan gradasi nyeri yang bervariasi. kolesistitis. dengan dasar eritematosa. vesikel dan bula dapat menjadi krusta.4 Namun bila erupsi sudah terlihat. 2. Semakin tua umur penderita maka semakin tinggi persentasenya. Infeksi sekunder Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi. pemeriksaan sediaan apus tes Tzanck membantu menegakkan diagnosis dengan menemukan sel datia berinti banyak. penyakit ini sering dirancukan dengan penyebab rasa nyeri lainnya. Partikel virus dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan antigen virus herpes zoster dapat dilihat secara imunofluoresensi. Keadaan ini cenderung timbul pada umur diatas 40 tahun. Apabila gejala klinis sangat jelas tidaklah sulit untuk menegakkan diagnosis.

atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. diafragma. Mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster 3.V. Paralisis ini biasanya muncul dalam 2 minggu sejak munculnya lesi.. - H. 3. gangguan pendengaran. 12 . Berbagai paralisis dapat terjadi seperti: di wajah.pada yang disertai defisiensi imunitas. Umumnya akan sembuh spontan. tinitus. nistagmus. Penatalaksanaan Penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk: 1. sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell). Vesikel sering manjadi ulkus dengan jaringan nekrotik. batang tubuh. skleritis. Mengatasi infeksi virus akut 2. vesika urinaria dan anus. uveitis. korioratinitis dan neuritis optik. Kelainan pada mata Pada herpes zoster oftatmikus. Paralisis motorik Paralisis motorik dapat terjadi pada 1-5% kasus. dan gangguan pengecapan. infeksi H. vertigo. keganasan. kelainan yang muncul dapat berupa: ptosis paralitik. ekstremitas. yang terjadi akibat perjalanan virus secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan.I. Sindrom Ramsay Hunt Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena gangguan pada nervus fasialis dan otikus. 5. nausea. Mencegah timbulnya neuralgia pasca herpetik. keratitis. 4. kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan.

1.2. 1. 5. Hilangkan kelembaban dari kulit dengan penutupan dan menghindari friksi. Nyeri : ketidaknyamanan. Rasional: Maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit dan perluasan kelainan primer. Aktifitas / istirahat : perubahan aktifitas 2. 13 .I. 2. 4. Keamanan : takut.1. 1. Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit. nyeri. meredakan gangguan rasa nyaman: nyeri. Rasional: Friksi dan maserasi memainkan peranan yang penting dalam proses terjadinya sebagian penyakit kulit. Gatal. Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi (hidrasi stratum korneum yg berlebihan) ketika memasang balutan basah. ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian : 1. ansietas Diagnosis Keperawatan 1. 3. Tujuan Intervensi/Implementasi Tujuan askep Herpes Zoster adalah terpeliharanya integritas kulit. tercapainya tidur yang nyenyak. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit. diperolehnya pengetahuan tentang perawatan kulit dan tidak adanya komplikasi. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. 3. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit. berkembangnya sikap penerimaan terhadap diri.

Nasihati klien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya. Rasional: Ruam menyeluruh terutama dengan awaitan yang mendadak dapatmenunjukkan reaksi alergi obat. Rasional: Banyak masalah kosmetik pada hakekatnya semua kelainan malignitas kulit dapat dikaitkan dengan kerusakan kulit kronik. Menggunakan obat yang diresepkan sesuai jadwal.3. Rasional: Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan. Mempertahakan integritas kulit.4. Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit.3.2. 2. 2. Rasional: Penderita dermatosis dapat mengalami penurunan sensitivitas terhadap panas. Antisipasi reaksi alergi (dapatkan riwayat obat). 14 . Tidak ada infeksi. 2. 4. Memberikan obat topikal yang diprogramkan. 2.1. Temukan penyebab nyeri/gatal Rasional: Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk memberikan kenyamanan. Tidak ada maserasi. Jaga agar terhindar dari cidera termal akibat penggunaan kompres hangat dengan suhu terlalu tinggi & akibat cedera panas yg tidak terasa (bantalan pemanas. 5.1. 2. 1. radiator). 6. Tidak ada tanda-tanda cidera termal. Kriteria keberhasilan implementasi. Catat hasil observasi secara rinci. 3. 1.

Rasional: Setiap subtansi yang menghilangkan air. Gunakan sabun ringan (dove)/sabun yang dibuat untuk kulit yang sensitive Rasional: Upaya ini mencakup tidak adanya detergen.5. 2.7.10.6.9. Menjaga agar kuku selalu terpangkas (pendek). Hentikan pemajanan berulang terhadap detergen. Rasional: Pengisatan air yang bertahap dari kasa akan menyejukkan kulit dan meredakan pruritus. gunakan alat pelembab. 2. protein dari epidermis akan mengubah fungsi barier kulit 2.60%). Pertahankan kelembaban (+/. 2. 2. kulit akan kehilangan air. 2.12. pembersih dan pelarut. Pertahankan lingkungan dingin. Rasional: Kesejukan mengurangi gatal. Kompres hangat/dingin. Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun.13. gatal. Lepaskan kelebihan pakaian/peralatan di tempat tidur Rasional: Meningkatkan lingkungan yang sejuk. Mengoleskan lotion dan krim kulit segera setelah mandi.8.4. 2. Rasional: Hidrasi yang cukup pada stratum korneum mencegah gangguan lapisan barier kulit. Rasional: Sabun yang "keras" dapat menimbulkan iritasi. eksudat. Mengatasi kekeringan (serosis). Rasional: Kulit yang kering meimbulkan dermatitis: redish. lipid.11. 2. 2.lepuh. zat pewarna. Rasional: Kelembaban yang rendah.2. Rasional: Mengurangi kerusakan kulit akibat garukan 15 .

gunakan sabun lembut. 1.14. 2. Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit. 3. 5. Rasional: Masalah klien dapat disebabkan oleh iritasi/sensitif karena pengobatan sendiri Kriteria keberhasilan implementasi.16. 4. Mandi hanya diperlukan. Menunjukkan kulit utuh dan penampilan kulit yang sehat . kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan. lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.2. Membantu klien menerima terapi yang lama.1. 6. Rasional: Koping biasanya meningkatkan kenyamanan. 3. Mengutarakan dengan kata-kata bahwa gatal telah reda. 3. Rasional: Udara yang kering membuat kulit terasa gatal. 2. Menggunakan terapi topikal. 3. Mematuhi terapi yang diprogramkan.15. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus. Rasional: Tindakan ini mencegah kehilangan air. Nasihati klien untuk menghindari pemakaian salep /lotion yang dibeli tanpa resep Dokter.2. Rasional: Membantu meredakan gejala. Rasional: memelihara kelembaban kulit 16 . Menjaga agar kulit selalu lembab. Nasihati klien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik. Memperllihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan. oleskan krim setelah mandi. 2. 3. Mencapai peredaan gangguan rasa nyaman: nyeri/gatal.3.

citra diri dan reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya. 5. 6.2. Rasional: memberikan efek menguntungkan bila dilaksanakan di sore hari.3. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien.3. 3. kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri. Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami. Mengerjakan hal ritual menjelang tidur. 4. Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur. Menghindari konsumsi kafein. Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan. 4. Kriteria Keberhasilan Implementasi 1. Mencapai tidur yang nyenyak.ucapan merendahkan diri sendiri. 4. Melaksanakan gerak badan secara teratur. Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan. Mengenali pola istirahat/tidur yang memuaskan. Rasional: Memudahkan peralihan dari keadaan terjaga ke keadaan tertidur. Rasional: kafein memiliki efek puncak 2-4 jam setelah dikonsumsi. 3.4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. 3.6.4.7. Melaporkan gatal mereda.5. 4. Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur. bantu klien yang cemas 17 . 4. Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.1. 4. Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan. 2. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata. Menjaga jadual tidur yg teratur. 3.

Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi. Peragakan penerapan terapi seperti. Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi. kompres basah. Mendorong sosialisasi dengan orang lain. 3. 6. 2. Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan 5. ketakutan merusakadaptasi klien .6. obat topikal.mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya. 18 . Kaji apakah klien memahami dan salah mengerti tentang penyakitnya. kebanyakan klien merasakan manfaat. merapikan. 4. Rasional: memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan 5. 4. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. Rasional: Klien harus memiliki perasaan bahwa sesuatu dapat mereka perbuat. Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri . 5. Kriteria Keberhasilan Implementasi 1. Kurang pengetahuan tentang program terapi 5. Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat. spt merias. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.3. memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi. Tampak tidak meprihatinkan kondisi. 5. Rasional: memungkinkan klien memperoleh cara yang tepat untuk melakukan terapi.5. Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar.1. Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.2. Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri. 4. 7.

Menggunakan obat topikal dengan tepat. retak dan bersisik. Pengolesan krim/lotion akan melembabkan kulit dan mencegah kulit tidak kering. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit. Nasihati klien agar kulit teap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidrasi dan pengolesan krim serta losion kulit. Miliki indeks kecurigaan yang tinggi terhadap suatu infeksi pada klien yang sistem kekebalannya terganggu. kasar. 3 Melaksanakan mandi.2. perubahan pada kulit menandakan status nutrisi yang abnormal. Mencegah Infeksi 6. Laksanakan kompres basah sesuai program untuk mengurangi intensitas inflamasi. 4. Rasional: stratum korneum memerlukan air agar tetap fleksibel. 6. Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit. Rasional: vasokonstriksi pembuluh darah kulit dapat mengurangi eritema dan membantu debridemen vesikel dan krusta serta mengendalikan inflamasi. Dorong klien untuk mendapatkan nutrisi yang sehat. 5. 2.3. 6. 19 .5.4.5.1. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi. 5. pembersihan dan balutan basah sesuai program. 6. Rasional: Pendidikan klien yang efektif bergantung pada keterampilan interpesonal profesional kesehatan dan pada pemberian instruksi yang jelas. Kriteria Keberhasilan Implementasi 1. Rasional: setiap keadaan yg mengganggu imun akan memperbesar risiko infeksi kulit. Berikan petunjuk yang jelas dan rinci kepada klien mengenai program terapi. Rasional: penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang.

4. Berpartisipasi dalam tindakan perawatan kulti: ganti balutan. 6.7. 6. 3. Mengidentifkasi tanda dan gejala infeksi. Mengungkapkan tindakan perawatan kulit yang meningkatkan kebersihan dan mencegah kerusakan kulit. 20 . Rasional: membunuh dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme.4. Tetap bebas dari infeksi. Rasional: memiliki kerja antiinflamasi. Rasional: melepas eksudat dan krusta. Mengidentifikasi efek kerugian obat 5. 6.5. 2. Kriteria Keberhasilan Implementasi 1. Berikan antibiotik sesuai order. Gunakan obat topikal yang mengandung kortikosteroid sesuai order.6.6. Rasional: dermatitis kontan atau reaksi alergi dapat terjadi akibat setiap unsur yang ada dalam obat tersebut. mandi. Sediakan terapi rendaman sesuai program. Nasihati klien untuk menghentikan pemakaian setiap obat kulit yang memperburuk masalah. sehingga mampu menimbulkan vasokonstriksi pd pembuluh darah kecil dalam dermis lapisan atas.

Obat yang biasa digunakan adalah asam mefenamat. karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Selain itu famsiklovir juga dapat dipakai. misalnya jangan digaruk dan pakai baju yang longgar. Asiklovir bekerja sebagai inhibitor DNA polimerase pada virus. sedangkan melalui intravena biasanya hanya digunakan pada pasien yang imunokompromise atau penderita yang tidak bisa minum obat. misalnya valasiklovir dan famsiklovir. Pengobatan Umum Selama fase akut. PENGOBATAN 1. Famsiklovir diberikan 3×200 mg/hari selama 7 hari. A. Famsiklovir juga bekerja sebagai inhibitor DNA polimerase. atau dapat juga dipakai seperlunya ketika nyeri muncul. karena dapat menularkan kepada orang lain yang belum pernah terinfeksi varisela dan orang dengan defisiensi imun. Asiklovir Sebaiknya pada 3 hari pertama sejak lesi muncul.1. Dosis asiklovir peroral yang dianjurkan adalah 5×800 mg/hari selama 7 hari. 21 . Usahakan agar vesikel tidak pecah.J. Pengobatan Khusus A. pasien dianjurkan tidak keluar rumah. Valasiklovir diberikan 3×1000 mg/hari selama 7 hari. Dengan dosis prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik digabung dengan obat antivirus. Kortikosteroid Indikasi pemberian kortikostreroid ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt.3. setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Analgetik Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgia yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster. Pemberian harus sedini mungkin untuk mencegah terjadinya paralisis. Sistemik A. Yang biasa diberikan ialah prednison dengan dosis 3×20 mg/hari. A. Dosis asam mefenamat adalah 1500 mg/hari diberikan sebanyak 3 kali. 2. Obat Antivirus Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya.2. Obat lain yang dapat digunakan sebagai terapi herpes zoster adalah valasiklovir. Asiklovir dapat diberikan peroral ataupun intravena. Untuk mencegah infeksi sekunder jaga kebersihan badan.

fasialis.B. herpes zoster dibagi atas: herpes zoster oftalmikus. Jika masih stadium vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salap antibiotik. Pengobatan topikal Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. Bila erosif diberikan kompres terbuka. Berdasarkan lokasi lesi. 22 . BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa.

Edisi Ke-3. Memberikan edukasi yang jelas kepada pasien tentang penyakitnya untuk mencegah penularan dan mempercepat penyembuhan. 2001. Infeksi Virus. torakalis. lumbalis. 23 . 2005. 2000. 3. Jilid 2. 2000. 110-2. 128-9. - BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. 4. Jakarta: Media Aesculapius. 2. Diagnosa herpes zoster dapat ditegakkan dengan mudah melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Ilmu Penyakit kulit dan Kelamin. semakin tinggi frekuensi timbulnya komplikasi. Penyakit Virus. Handoko RP. Mansjoer A.brakialis. dan sakralis. Wardhani WI. Kapita Selekta Kedokteran. Sumaryo S. Jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana. Hartadi. Ilmu Penyakit Kulit. Suprohaita. Surabaya: Airlangga University Press. Penyakit Virus. 92-4. 2. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. - Saran 1. Martodihardjo S. Penanganan Herpes Zoster dan Herpes Progenitalis. Pada umumnya penyakit herpes zoster dapat sembuh sendiri (self limiting disease). yaitu tes Tzanck dengan menemukan sel datia berinti banyak. Setiowulan W. Lesi yang khas bersifat unilateral pada dermatom yang sesuai dengan letak syaraf yang terinfeksi virus. Edisi Ke-4. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi. Semakin lanjut usia. tetapi pada beberapa kasus dapat timbul komplikasi. Manifestasi klinis herpes zoster dapat berupa kelompok-kelompok vesikel sampai bula di atas daerah yang eritematosa. Jakarta: Hipokrates. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. 1999. Lynda Juall carpernito. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. EGC. Jakarta. EGC. 2. ed. Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif. 24 . ed. Doenges. 1999. 6. Jakarta.5.3. Marilynn E.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->