Anda di halaman 1dari 115

Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat


Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata bulan mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam, atau di belakang saja, di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata mengintip itu, tidakkah terlaluapa istilahnyagirly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat manis di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya menatap. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan menyembul. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba menyibak. Hmm Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata dari dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini bulan menyibak gaun tipis awan malam. Huh, kata gaun itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata tabir mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas tubruk, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya Apaan tuh? Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. Buat Ive. Mana Ive? Masih mandi Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. Buka aja yuk. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

Teruntuk, Ive ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya memangnya dari siapa sih?. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab dari kepala sekolah itu. Tempat magang ngajar? Ive mengangguk. Yang umurnya lima puluh tahun? Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan tua-tua keladi. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Kabar Terakhir Hanyalah Maling


Minggu, 23 Desember 2012 16:05 wib

MALING lagi. Maling lagi. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling- maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata, tak punya ilmu, tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya, oh kasihan para maling ini. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa, yang kami punya hanyalah kesabaran. Kesabaran menghadapi hidup, termasuk menghadapi para maling. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. Warga kami pun hampir keadaannya sama. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami, udara kami, aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan, dengan segala macam jenisnya. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern, namun kami kurang percaya dengan keamanannya. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Biarlah, alam itu yang menyimpan harta kami. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. Kami mengambil jika perlu saja. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek, kami tinggal mengambil di hutan. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh, kami tak perlu menebang pohon. Toh, Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu, namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. Dibiarkan malah nglunjak. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah, biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. Walau harga sekolah semakin mahal, Semahal harga nyawa ini, asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya, itu tak jadi soal. begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. Ya, memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik, tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. Selain itu, Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin, tidak cukup untuk membayar SPP. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran, tidak toleransi nunggak SPP. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi, tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum, yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. Lik Sum putar otak.

***** Dasar maling moto merem. Moto ra melek. Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya, apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih, sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting, mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan, pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier, berpikir ala teori sosial, seharusnya kamilah yang menjadi maling. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. Yang menikmati pembangunan negari ini. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. Seharusnya kami iri pada mereka. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. Namun kami tak mau jadi maling, harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. Iri hanya mematikan hati. Toh harta tidak di bawa mati. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana, dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana, tak mungkin di sini. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong, kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. Ah..tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. Istilahnya maling teriak maling. Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar, maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar, di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Cerpen

Biola Merah Sewarna Darah


Minggu, 27 Januari 2013 14:51 wib

BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Senja yang menguning. Langit pun seperti terbelah. Tiang-tiang kayu berderet. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu, menanti waktu besuk tiba, sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh, bertembok putih, dengan bangunan bertingkat dua. Di setiap kamarnya; menganga sebuah jendela terbuka, dan pintu hitam pekat. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Namun, setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras, membuat bungabunga menjadi layu. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu, tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Kamar yang bernama ruangan melati. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu, sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Biola itu punyaku, namun aku datang bukan untuk membawanya. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan, tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. Namun pastinya, pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. Kau pernah bilang, jangan berguru pada masa lalu, biarlah semua menjadi kenangan, hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Tataplah masa depan. Kau pun bilang, janganlah mengukur diri melalui cermin. Seperti sama padahal tak sama. Semuanya serba terbalik. Kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan, baik menjadi buruk. Lihatlah dirimu melalui hatimu. Sesuatu yang kau yakini indah, itulah yang terbaik. Aku pun suka keindahan. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. Itulah dirimu. Biola jendela hatimu. Katamu. Sungguh, aku tak mengerti. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Semuanya buyar. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar, kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah, bukan. Tolol. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Bukan juga seperti angin. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu, suaramu, dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Tak terjawab. Gelap. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. Ah, aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Kau bilang, bahwa aku orang yang baik, tak mungkin

orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu, lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik, dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. Keindahan yang keluar dari hatiku. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit," jawabku. "Ya, tapi bila aku mendengarkan suara biolamu, tempat ini tarasa berubah menjadi indah. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. Namun angin itulah yang membawaku melayang." Aku hanya tersenyum. Lantas kau pun tersenyum. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. Menurutku, senyuman itulah yang paling indah. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu, tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. Menyimpanmu di hatiku, lalu kau mengukir namamu di situ, dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram, setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Ketika reda di sore hari, hanya meninggalkan angin yang liar, menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah, terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang, meski aku berharap kau pun merasakannya. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. Apakah perasaan ini tulus dari hati, atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit, sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Diagnosanya mengatakan, bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. Tentu dengan biaya tak sedikit. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal, meski tampak seperti barak pengungsian. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen, karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. Bibirku bergetar, rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku, seperti ada yang mengganjal. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. Aku tidak bisa berkata, tak tahu harus bicara apa. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Namun, tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja, kau bisa membuatku berpikir. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam, dan berhenti pada stasiun terakhir. Semua orang takkan bisa hidup kekal, tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. Dan setiap hari itu pula, aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. Hidup ini penuh misteri, hari ini tentunya berbeda dengan kemarin, besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas! kataku. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok! Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah, lebih baik berdiam di belakang peluru itu, namun tetap menelusuri kemana arahnya, supaya tak pernah menembus jantung. Hidup bukan ramalan.

Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan, mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa! kataku yang mencoba mengingatkanmu. Biarlah hidupku berakhir, aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan! jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Mungkin disitu kau sedang menghayal, menggambar bunga layu menjadi mekar. Kau jangan berkata seperti itu, masih banyak yang harus kau kerjakan, apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi? kataku. Lalu kau menjawab, Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini, aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah, sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. Surga! Aku lalu menghardik perkataan itu, Hentikan! Kau bicara apa! sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. Aku hanya ingin bilang, lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu, tataplah masa depan, sambil membalas tatapanku, lalu kau melanjutkan, kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri! Diam. Aku bengong. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu, menemanimu setiap waktu, memberikan sesuatu yang terbaik padamu. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi, meski waktu itu kau sedang tertidur, sekadar pengantar mimpi indahmu. Ketika kau benar-benar terlelap, aku mengecup keningmu, kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat, sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu, atau menanyakan kondisi kesehatanmu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu, setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah, aku tak tahu. Yang aku tahu sekarang, kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu, ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. Tubuhku remuk, ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah, namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti, di tempat yang paling indah. Surga. Bandung, 2011 Oleh T.H. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang, Radar Surabaya, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab, 2011). Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka. Alamat: Talun kidul No 45, RT 01 RW 05 Sumedang Utara. Sumedang 45321.

cerpen

Kasur
Sabtu, 12 Januari 2013 10:28 wib

Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau... Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu... Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. Lungkrah, kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. Aku muak, kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. Yah, aku yang salah. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk. Sekali lagi kukatakan, Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini! Kasur hanya diam, tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur, Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini! Aku menghela napas. Yah, memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Tapi, siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku, dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. Tenanglah teman, tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. Aku selalu saja lupa dengan itu, yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. Memang belakangan ini, kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku.

Asalkan kamu mengerti, aku pun sama denganmu kasur. Satu yang masih aku minta, ya tidur dengan Tian, bekas pacarku. Kasur terdiam, kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Lalu kenapa, kenapa sekarang kamu beralih, kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian, pacarmu dulu! Hahaha..., aku tertawa. Ah, omong kosong untuk kembali memeluknya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam, tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. Aku kembali ingat, baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. Meski masih banyak retak di sana-sini. Asap rokok masih mengepul tebal, menari-nari di sekeliling kepalaku. Aku terbatuk. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Padahal, aku masih benar senang dengannya. Aku masih senang dicumbu, masih senang dirayu, dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku. Imajinasiku melayang, menciumi lehernya, memeluk erat tubuhnya, tersenyum aku padanya, kemudian kabur... Kuhisap lagi batang rokokku. Hampir habis, ah masih perih rasanya. Sebenarnya, apa lagi yang kurang? Aku cantik, menarik, dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya, itu aku. Kuceritakan kembali padamu kasur, Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. Kamu tentu tahu sendiri. Bisa sampai lima, bahkan sepuluh, dibuatnya aku terbang ke surga. Tapi bukan itu. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. Kamu tentu tidak tahu, kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Kamu tidak pernah tahu, sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. Diam. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Hal yang kulakukan bersamanya biasa, seperti pasangan pada umumnya. Makan malam bersama, pergi nonton, bercanda, tertawa, dan tentu tidur. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya, menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Sejak itu aku yang putuskan sendiri, ingin tetap bersamanya. Aku yang putuskan, setiap malam harus tidur dengannya. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya, bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. Bedanya, aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. Tentu, itu kukatakan padanya. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Aku ingat, dia mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Sejak saat itulah, dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Di atas kasur ini. Sampai akhirnya, aku menemukan dia. Menumpuk lekat di atas dada wanita. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. Aku hanya bisa diam saat itu. Diam bukan berarti tidak bergerak. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Entah, dia mengejarku atau tidak, yang aku tahu, langit roboh saat itu juga. Malamnya, aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. Kubuka dengan paksa kamar Endo. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Sama, yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan! teriakku.

Aku ingat, waktu itu wajah Endo sedikit terkejut, tapi dia diam dan setelahnya, kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. Apa yang sebenarnya terjadi? tanya Endo kepadaku. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah, Tian busuk! Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya. Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian, meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu, ucapku tegas. Kasur semakin terdiam. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Dia tahu dengan jelas semuanya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini, juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku, bermain hingga klimaks, kemudian hilang begitu saja. Aku yang sekarang, menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku yang sekarang, setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Tanpa rasa yang awet. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya, mencekik urat leher Sama rasanya, buat muntah, muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu, nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari, bersembunyi, Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling, itu yang jelas hamba lakukan Yogya, 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY

Cerpen

Kematian Mat Boni


Kamis, 03 Januari 2013 18:01 wib

Dor..! Dor..!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. Orang-orang belingsatan, suasana pun menjadi ricuh: berpencar, bersembunyi di balik meja, beberapa dinding kios roboh dijejal massa. Dagangan berhamburan, tercecer ke mana-mana; tumpah daging, beras, cabe, gula, sayuran, dan lainnya menjadi satu di tanah. Padahal hujan baru saja turun, tanah pun menjadi becek. Air menggenang. Sementara air got sudah meluap dari tadi. Bau apek menyengat hidung. Hening. Udara bergerak lindap. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan; dari balik keranjang, tiang, pagar, meja, dinding sampai punggung orang di depannya. "Aku takut," kata seorang perempuan tua di balik punggungku. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. Perempuan tua itu tetap ngeyel. "Ada apa," kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. "Mati. Ada orang tertembak," katanya. "Mati?" "Mati bu, ada orang mati di depan," kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. Perempuan itu diam. Tangannya yang dipundakku, ia turunkan. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. "Saya duduk saja, takut nyasar," jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. Aku beranikan mengintip. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. Mukanya terbenam di genangan air. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. Aku mencoba untuk mengenali, namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal. Bajunya lusuh, sandalnya pun lepas, sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Tubuhnya kurus kerempeng. Matanya mendelik dan berwajah beringas. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Pistol masih di tangan kanannya,

sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Ia mabuk sepertinya. "Lu belagu sih. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas," cerocos petugas yang mabuk itu. Mata semuanya menyorot padanya. Ternyata si Codet. Ketika tahu siapa yang berbuat, orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. Ternyata urusan cinta. Codet terkenal menjahili istri orang. Semua pedagang di Pasar Tua, tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk, pemeras, dan suka melecehkan perempuan. Tak segan, istri orang pun dia goda juga. Terakhir, istri Mat Boni, pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu, kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam, Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. Di ujung pasar, Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas, namun ia tak ingin menyetopnya. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. Sudah satu jam duduk termenung, Wati mulai gelisah. Beberapa toko mulai tutup. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan, hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. Mat Boni adalah pedagang keliling. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti, kalau dirasa cukup penjualan hari itu, ya dia akan pulang. Ia jarang pulang sebelum magrib, pasti sesudahnya. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Hanya kali itu, ia ingin sekali menjemputnya. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan, untuk menunggu angkot. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya, sepekan lalu. Sudah pukul 8 malam. Dari arah kiri, sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Setelah membuka helmnya, Codet melempar senyum. Mau pulang kau Wati? tanyanya. Iye bang, jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot, barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Abang anter aja yuk, Codet menawarkan diri, sambil turun dari sepeda motornya. Kagak usah bang, Wati bisa pulang naik angkot. Kan lu tahu sendiri jam segini, angkot ke rumahmu sudah jarang. Kagak usah bangmakasih. Wati menjawab ketus. Ia berjalan agak menjauh. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. Ia melihat pinggul yang menonjol. Memang dari awal bertemu, Codet sudah naksir, sayang ia keduluan sama Mat Boni. Beberapa kali menggoda Wati, membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar, Codet pun mudah ditaklukkan. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got. Ada niat mesum di otak Codet. Tanpa aba-aba, ia menyambar Wati dari belakang. Wati teriak minta tolong. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. Pasar Tua ini sudah sepi, terbenam oleh malam di kaki bukit. Udara malam yang dingin mendesir. Wati masih berontak. Bajingan kau, mau kau apakan aku. Lepaskan! bentaknya. Ia terus memukuli tubuh Codet, kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. Sayang, kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. Tak jauh dari tempat kios Wati. Suasana tampak muram. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Codet menamparnya. Diam kau. Kau harus layani aku! Dasar keparat kau. Suamiku akan membunuhmu. Suamimu sibuk dengan dagangannya, dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. Wati merintih. Ia menangis tersedu, sampai ketika pakaiannya tersingkap. Codet merobek pakaian atasnya. Codet dengan ganas menerjangnya. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet.

Malam hening. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. Ia menutupi diri dengan seadanya. Codet berdiri dan merapikan diri. Mari kuantar kau pulang, Wati? ajak Codet. Wati hanya terdiam. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. Beberapa hari setelah itu, Mat Boni tahu kelakuan si Codet. Ia meradang. Dan ya, hari inilah mereka duel. Barangkali, ini balas dendam Boni. Sayang, dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Di daerah Tua ini, memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu, meski hanya untuk menakut-nakuti, dan kemudian memeras pedagang. Dan penembakan ini, baru pertama untuk Boni. Mak, mak...ada pelangi tuh, bagus ya, seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. Hus..huss..diem, jangan keras-keras. Ntar dia ke sini, seorang laki-laki menegurnya. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. Aku toleh pelangi itu. Ia melengkung indah di atas pasar. Beberapa burung pun melintas di depannya. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau, seperti kisah-kisah masa kecilku itu. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah, setelah ada tembakan peringatan. Codet pun melemparkan pistolnya. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Jasad Boni pun diangkut ambulans. Pasar pun kembali berisik. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu. Dan kali ini, orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi. Itu pelangi untuk Boni, seru beberapa orang di sekitarku. Barangkali. Kalibata, 19 Juli 2010; 09.37 Andi S. Nugroho, seorang blogger cum wartawan. Lahir di Purworejo, 20 Juli 1985. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kini ia tinggal di Jalan Damai III, Pejaten Timur, Jakarta Selatan.

Cerpen

Layar Sentuh
Kamis, 13 Desember 2012 13:54 wib

DENGAN sentuhan jemari, aku ingin mengenggam warna-warni dunia. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan, riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir. Tanpa perlu repot memencet sekian tombol, setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. Sayang, kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. Put, hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. Ibu tidak punya uang sebanyak itu, Nak. Touch screen Bu. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. Iya, hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan. Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. Sebenarnya tak salah juga, karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya, tunyuk artinya menekan dengan jemari. Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya, yang penting belikan Puteri hape layar sentuh. Kenapa tidak beli hape biasa saja, yang Rp150 ribu. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan. Sama saja kan, yang penting bisa telpon dan es-emes. Puteri hanya bisa mendesah. Ah, Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. Jaman sudah berubah. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial, memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter, chatting, dan menjelajah dunia maya. Bagaimana menerangkan istilah-

istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik, mendengarkan radio, bahkan menonton televisi. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa, kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas, hingga diperlukan buku-buku, kamus, ensiklopedia, atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. Karena itu, benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga, agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik, hingga hari-hari menjadi asyik. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. Maka tertanamlah perangkat bluetooth, yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau, The Extra-Terrestrial, yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. Hanya dengan sentuhan jemari, makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh, tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan, tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat, karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. Ah, andai saja ayahnya masih ada. Tentu, Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya, Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar, semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. Tanpa kerja keras ibu, pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. Ah, ia memang terlalu banyak menuntut. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika, Kimia, maupun Matematika. Serumit apapun rumus itu, jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. Mulai dari gaya penampilan, tempat nongkrong, kendaraan, telepon genggam, laptop, cowok, maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. Puteri tak punya cukup uang

untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Jika mau menerima sentuhan, engkau bisa membeli hape layar sentuh. Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini, tetangganya. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. Sambil mendengarkan musik, jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia. Tapi, pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. Apakah maksud kata, Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh, berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh, mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. Mulai dari pelayan caf, penyanyi dangdut keliling, tukang pijat, hingga kupu-kupu malam. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah, eh bersalah. Tante tidak memaksa, tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. Aku juga bisa punya hape layar sentuh? Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek. Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee? Ciyus? Miapah? Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. Jangankan hape layar sentuh, Kalau kamu mau ikut Tante, dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad. Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan? Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri. Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap. Harga dirinya merasa terlecehkan. Sekarang, ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu?

Memaksa ibunya jelas tak mungkin. Entah bisikan setan darimana, Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. Maka sore tadi, dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya, Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota. Tunggulah di kamar ini. Jika ada seseorang yang datang, kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya. Awas jangan macam-macam. Sekarang, Puteri merasa begitu takut. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi. Di lobi hotel, Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. Dengan tangan gemetar, dipegangnya gagang pintu. Klik. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. Puteri sangat terkejut, begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri. Bukankah, ini Om Anton, orangtua Shinta, sahabatnya. Mereka begitu akrab. Bahkan, orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? Lho, kok Om Anton ada di sini? Puteri sendiri mengapa di sini? Setengah terisak, Puteri menceritakan semua yang terjadi. Tak terasa, air mata menetes dari sepasang mata Om Anton. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. Tanpa perlu berkata-kata, Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. Maafkan Om Anton ya. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya. Untung semuanya belum terjadi. Sekarang pulanglah. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. Baik Om, tapi Om Anton juga harus berjanji. Berjanji apa? Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Tanpa Puteri minta pun, Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Om benar-benar menyesal. Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap. Angkat tangan! Kami dari kepolisian. Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini, dengan berbagai lobi, Om Anton

bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan, agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. Sementara Tante Rini raib entah kemana. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh, ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu, mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. Ah, bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. Sementara di beranda rumah, ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. DEMI HP LAYAR SENTUH, SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok, 01 September 2011 SETIYO BARDONO, seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo, 15 Oktober 1975. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. Email: setiakata@yahoo.com

Cerpen

Rahasia Pernikahanku
Senin, 31 Desember 2012 13:13 wib

"Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari, itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. Ya, tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. Namaku Lastri. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya, sukses, juga tampan dari Jakarta. Aku bertemu Johan, lelaki yang menjadi suamiku, saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang, Jawa Timur. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku, aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses, wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah, membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. "Dia itu bunga desa di sini," kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah, hidung bangirku, bibir merahku, dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang semakin membuat gemas. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. Kami pun menikah di desaku, dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. Selang dua hari setelah pernikahan kami, aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda, namun setelah mendengar kabar pernikahan kami, mereka berniat untuk tinggal di Jakarta, begitulah penjelasan suamiku. Awal pertemuan dengan mertuaku, aku sangat canggung, karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku, kecuali mereka yang memulai. Aku segan, ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota. Hampir setiap bulan, Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya, bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. "Apa kamu sudah hamil, Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. "Belum Bu," jawabku sambil sedikit tergagap. "Kenapa belum hamil juga, ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil, agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu, dan entah mengapa, air mataku pun luruh mendengarnya. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan. Sejak malam pertama itu, sepertinya tidak hadir lagi malam- malam pergumulan kami yang sebenarnya. Ini semua memang salahku,batinku dalam hati. Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu, seharusnya darah itu cepat ku lap, sehingga Johan tidak seperti ini sekarang,sesalku dalam hati. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. "Aku tidak tega melihatmu merintih, aku juga trauma melihat darah, dan aku tidak menikmatinya," jelas suamiku. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Dengan dipaksa jujur olehnya, akhirnya aku pun berani untuk jujur. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu, sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. "Tenang Lastri, nanti kita program bayi tabung ya," itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik, di pihak lain, aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu.

Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. "Dasar perempuan kampung, bisanya nyusahin saja, bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. Genap 36 minggu, aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. Johan sangat senang, dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. Sehingga sepulang dari rumah sakit, kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku, melainkan ke rumah baru kami. Kesibukanku mengurus Jonathan, putra pertama kami, membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan. Ini adalah hari ketujuh, di mana Jonathan banyak kedatangan tamu. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya, hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. Esok paginya, saat aku ingin menyeduh susu di dapur, tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka, rupanya temantemannya bermalam di rumah ini, mereka masih terlelap, sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. Rupanya mereka kegerahan, biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. Sejak tinggal di rumah pribadi, jika tidak ke luar kota, hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian, karena aku sibuk mengurus Jonathan. Suatu malam, aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki, namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. "Oh, kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan, lalu kami nonton BF (blue film) saja, untuk menghilangkan stres, kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. "Ya gapapa, asal mas senang." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. "Aku kangen sekali sama kamu, kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu, dan ketika kulihat nama pengirimnya, ternyata dari Roy. Roy, nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. Ya, aku ingat Roy, lelaki tampan peranakan Jerman. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku, apa mungkin dia salah kirim. Saat aku masih berpikir, suamiku telah selesai mandi, dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya, aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. Keesokan harinya saat suamiku mandi, aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya, sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin, hanya bukan Roy saja nama pengirimnya, melainkan ada Toni, Ryan, dan lainnya. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen, kepalaku pusing. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. Aku yang lulusan sekolah dasar, tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis, apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu, Johan kembali membawa menginap teman-temannya, kali ini dia membawa dua teman pria, Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby, "Pas seperti yang kuharapkan, kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. Ketika Jonathan telah tertidur pulas, aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku, aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. Walau sudah ku duga, sungguh terkejut aku, karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. "Ternyata benar perkiraanku, sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. Aku pun tak dapat menonton lebih lama, selain muak, kakiku menjadi lemas , hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada. Air mata pun tak terbendung lagi. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. Tapi keesokan harinya, setelah Roy dan Robby pulang, aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. Aku sudah tahu semuanya mas, aku melihat semuanya semalam," prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. Mendengar perkataanku, Johan pun seperti merasa bersalah. "Maafkan aku Lastri, aku memang lain, aku sakit Lastri. Dulu saat aku ke Malang, aku dalam keadaan frustasi berat, orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. Tapi aku tidak mau, karena jika nanti penyakitku ketahuan, pasti orang tuaku sangat malu, aku tak sampai hati. Sampai bertemu dengan mu, aku seperti mendapat jalan keluar.

Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar


Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. Apa salahku Tuhan? Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. Allah. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, Hidupkah aku? Matikah aku?. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. Ya, aku hidup! ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. Di mana aku?. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. Ah, apa-apaan ini semua!. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan! Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. Ada apa denganku? kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. Itu dia jalan yang ke surau kampung. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan? ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. Ada apa ini Tuhan? berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. Deg!. Apa? kakiku tak menyentuh tanah. Aku melayang?. Ada apa dengan semua ini Tuhan? Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah aku. Apa-apaan semua ini Tuhan? Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa masyarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. Menyebalkan!. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku! Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh! Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku! Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh! Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau? darahku seakan melampaui kepalaku. Pergilah kau dari tubuhku! Pergi! Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu! Maksudmu? Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu! Iblis gila! Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi! Tak semudah itu Adam bodoh! Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu? Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh! Pergi! *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh! Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. Deg!, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, Ada apa lagi Tuhan?. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. Aku benar-benar tak rela Tuhan, tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu Apa maksudmu Jin hina?. Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha Dasar Jin menyebalkan! Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. Aku tak rela!. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. Malangnya nasib jasadku. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? Ukkkkhhhk batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. Deg! Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?. Sungguh naf diriku ini. Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, Bismillahirrohmanirrohiim. Deg! Lagi-lagi tertolak. Ada apa lagi Tuhan?. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

Deg!, Keheranan kembali menyelimuti jiwaku, Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?. Apa iya aku mati?. Ah, ternyata tidak, aku masih bisa bergerak berjalan, terasa sedang mengendarai sebuah kereta. Perasaanku sedikit menenang. Namun, aku agak sedikit heran, Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. Menyengat hidungku yang tersumbat. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. Tapi ini apa? Kain kafankah?. Semua tak sesuai bayanganku. Yang kutumpangi bukan kereta biasa, namun keranda mayat. Ternyata aku mati. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya. Tuhan, aku datang untuk kembali pada-Mu, membawa dosa tak terhitung, namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu. Ruang Khayal, 26012011, 14.29 Oleh Zaimil Alivin

Cerpen

Lembayung di Tepi Semayang


Minggu, 20 Januari 2013 15:55 wib

Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah, lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja.

Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian, keangkuhan, dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan, telaga bagi segala keresahan. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau, tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul, mungkin, ya aku hanya mengira, itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka. Sosok sederhana namun memesona, ya itu lah Raka. Pendiam, tenang, namun memancarkan kharisma. Dan aku sudah mengenalnya sejak lama, bahkan mungkin terlalu lama. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya. Kadang aku merasa bodoh. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan, populer, bintang kampus, bahkan jika aku harus jumawa, siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. Tapi nyatanya, sosok BIASA itu yang membuat hatiku menggelepar. Tatapnya, senyumnya, keluhannya. Ah, aku rasa semua yang ada padanya, aku puja. Dia sosok yang selalu ada, meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya. Grecee...!!!! aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. Kenapa Boy...?? ujar ku kala menemukan sumber suara itu, Raka. Namaku Raka Primastya Restu.... Bukan Booooy!!! sahutnya dengan wajah cemberut . Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu, tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya. Iya, Raka Primastya Restu....Ada yang bisa di bantu?? ujarku masih menggodanya. Nanti sore kita ke Parthenon yuk!! tuturnya memberikan penawaran. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati, bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu, ada yang berbeda dari polah laku Raka. Raka memang bukan laki-laki-- aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowokyang terbiasa ceria, tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana. Matanya nanar menatap jauh kosong. Woi....ngajor ya!! ledekku, Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. Aku semakin kehilangan cara, itulah Raka. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana, di lain waktu jadi manusia introvert. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak. Aku kangen Mamaku.... tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan Kamu tahu Grecee, kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari, lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia lirih suara Raka berkata. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. Yah... kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. Mama pergi waktu nge-lahirin aku lanjutnya pelan. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya. I am sorry Friend.... aku coba bersimpati akan dukanya, meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. Namun sama seperti impiannya, kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu, namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya.

Ya, kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. Yah... sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi. Meski tidak seharusnya begitu, tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam, aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. Surat Terakhir Raka .Angan merapat pada jelajah kupu-kupu. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh. Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi. Semakin jauh lelah itu pergi, semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. Grecee..... terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah.... Oleh Riskon Pulungan, S. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang), tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. Email : riskon.pulungan@mail.bni.co.id

Cerpen

Cita-Cita Anakku
Senin, 10 Desember 2012 13:18 wib

SETIAP ditanya tentang cita-citanya, Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya, entah apa maksudnya. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. Mau jadi apa kalau besar nanti, Nak.? Ada yang menjawab, Mau Jadi Dokter, Mau Jadi Guru, Mau Jadi Pilot, Dan ada juga yang mau Jadi Gubernur Dan lain sebagainya.

Macam-macam jawabannya, tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak, untuk bisa meraih impiannya, begitulah pikiran kita sebagai orang tua. Namun tidaklah demikian dengan Upik, apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya, apa ia tidak memiliki semangat, ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. Padahal, untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut, terus terang cukup meresahkan keluarga kami. Bahkan, istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi, jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. Apalagi membawahnya ke orang pinter, dukun, klenik atau sejenisnya, itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. Persoalan anaku, sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius, mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak, atau hanya malas saja untuk menjawabnya, itu alasanku. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik, rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan, tanpa sebab yang jelas. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik, hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya, namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius, dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita, punya harapan yang luhur untuk masa depannya ucap istriku, lirih. Setelah berbagai upaya dilakukan, ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. Akupun mulai gundah gulana, sementara Istriku lebih sering melamun, entah apa yang dipikirkannya, dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat, seolah ada yang aneh. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang, termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini, dengan lebih bersemangat untuk meraihnya, mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah, sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. Diam-diam, Aku sendiri juga sering termenung, melamun tidak ubahnya dengan Isriku. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. *** Hari berganti hari, minggu berganti minggu, persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian, Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya, semua berjalan apa adanya, seolah tak pernah ada persoalan yang serius, hilang, lenyap begitu saja. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung, Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. Dari Cigombong, Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi Pulogadung kami sekeluarga berangkat, pagi yang cerah, perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol, turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. Kata orang daerah ini terkenal rawan, menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia, mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. Macam-macam aktifitas mereka, ada yang menjajakan berbagai dagangan, sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng, mengamen dengan berbagai alat musik, bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja, sering pula terjadi kekerasan, kejahatan di sekitar sini. Yang paling menyesakan dada, menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini, mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa, tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. Kehidupan di sini begitu keras, dengan dalih kemiskinan, sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur, yang belum memiliki dosa, anak-anak lugu dan lucu, generasi bangsa yang malang, semuanya memang serba dilematis. Seorang anak perempuan, usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku, pakaiannya kumal, sembari menenteng

kaleng kecil yang entah diisi dengan apa, yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang, para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya, lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. Puisi itu berjudul CitaCitaku. Dalam puisinya, anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya, tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan, bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa, tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi ini. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu, benar-benar menyentuh, tak terasa seolah membuka mata hatiku, Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya, sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu, tanpa berkedip, entah apa yang ada dalam pikirannya. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi, namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas, tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem, menurunkan penumpang dan memutar sembarangan, hal itu terjadi begitu saja, tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan, apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat, hawa panas mulai mengusik. Sementara kami bertiga masih tetap membisu, bungkam, meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami, terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya, semuanya terjawab sudah. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya, apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh, generasi yang malang seperti anaku, dan teman-teman sebayanya, tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku, sembari tersenyum, entah apa yang ada dalam senyumanya. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32, RT 004/RW.02, Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur 13790, masratman22@yahoo.co.id

KOMENTAR

Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. tidak sepantasnya dijalanan. mengharukan. :(

Cerpen

Aku yang Kedua


Kamis, 06 Desember 2012 11:19 wib

Oh, baik pak. Oke pak, ditunggu kedatangannya ya pak, terima kasih. "Huufft, memang ada-ada saja pelanggan satu ini. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari. Ya pesen tiketlah, terus nanti di-cancel-lah. Sekarang mau ambil tiket sendiri. Ah biarlah, memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan, desah hatiku dalam hatI. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia, teman sekantorku. "Iya tuh, lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku. "Yah, namanya juga customer, banyak maunya, tapi dia ada rasa kali sama kamu, hihihi..," candanya. "Hush,ngawur!" balasku. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya, padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. Tapi kayaknya tidak mungkin deh, kita kan belum pernah ketemu, sanggahku dalam hati. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri, sekalian lewat katanya. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas, sadarku mengentikan lamunan. Selamat sore, anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan. "Benar pak, bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton, saya mau ambil pesanan saya," balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari, yang hanya ingin aku yang melayaninya, benarbenar jauh dari perkiraanku. Lebih tepatnya lebih baik, Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh, hihihi, genit hatiku berkata. Kami pun larut dalam percakapan, tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. Tak lama,kurang lebih 45 menit, Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku, ada urusan lagi, jelasnya. "Itu Nit, yang namanya Pak Anton? Boleh juga, hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. "Iya, bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. "Cek dulu, jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. Iya lah, pasti aku cek, lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. Sepulang dari kantor, saat baru sampai di rumah, ponselku bergetar, SMS dari Pak Anton rupanya. Saya senang bisa ketemu kamu, itu isi SMS-nya. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. Dari situ, ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah, dan sudah punya dua anak, namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama. Ya, dia mau bercerai dari istrinya. So far, aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. Menurutku dia memang pria yang kucari. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang, seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. Kan sebelum kenal aku, memang sudah dalam proses bercerai, kilahku. Selang setahun berhubungan, kami pun memutuskan menikah. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun, akhirnya bisa dipenuhi. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. Nanti malah dilarang lagi, terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam, harapku. Pernikahan pun berlangsung. Semua berjalan lancar, bahagia menyelimuti perasaan kami. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku, karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. Setelah seminggu menikah, Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang, itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak

terganggu. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri, namun Mas Anton, selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. Kesepian sangat melandaku, karena aku sebatang kara, keluarga besar ku di Palembang semua, hanya aku yang merantau ke Jakarta. Karena alasan kesepian itu, aku pun memutuskan untuk punya anak, dan disetujui Mas Anton dengan catatan bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok," pikirku dangkal. Waktu tak berselang lama, aku pun hamil. Alhamdulillah, kehamilanku tidak 'rewel', aku pun masih bekerja seperti sedia kala, semua masih berjalan baik. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan, ya itu nama putra pertama kami. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya, bahkan seperti kembar, kami sangat bahagia sekali. Sepulang dari rumah sakit, kami mengurus Alan. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja, karena harus mengurus Alan. Pada akhir cuti Mas Anton, mimpi buruk pun dimulai. Minggu siang tepatnya, saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya, pintu rumah kontrakan kami pun diketuk, lalu kubuka. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. "Siapa ya?" tegurku. "Kamu pasti Anita? Saya Endang, istri pertama Anton. Mana si Anton?" ketusnya pedas. Petir terasa menyambar diriku, kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah, mencari suamiku yang juga suaminya. Sementara aku masih terdiam, wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga, mereka duduk di ruang tamu. "Oh jadi ini ulahmu ton! kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. "Asal kamu tahu Nita, suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. Dia tidak bisa menceraikan saya, karena utang-utangnya yang banyak. Tapi lihat, dia masih saja berulah dengan menikahimu. Untung saja ada bayi mungilmu itu, saya jadi tak tega mengusirmu. Ya sudahlah," dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. Tak lama pun air mataku mengalir, semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. Bayiku masih tertidur pulas, tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul, tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan, bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. Dia pun bilang, bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya, dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Mungkin kalau tidak ada Alan, aku sudah membunuhnya. Semua terasa sangat berat, hampir setiap malam aku menangis, terutama jika Alan sedang sakit. Setelah kejadian itu, Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku, dia pulang sore lalu bermain dengan Alan, dan ketika Alan sudah tidur, dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. Hampir setiap malam, aku sendirian menjaga Alan, dalam kondisi Alan sedang sakit pun, suamiku tak bisa tinggal barang semalam, dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. Jadi ini maksud catatan itu, batinku. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan, semua harus ku jalani. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan, untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. Juga untuk menghindari cibiran tetangga, yang bilang bahwa jilbabku palsu. Ya, aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak, aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak, terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. Di depan rumahku, konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. Tapi selama sebulan aku di sini, aku tak pernah melihatnya, melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. Sekarang Alan sudah 3,5 tahun, dan dia mengenal ayahnya sebagai om, adik ayahnya yang sudah meninggal. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan, sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama.

Di suatu sore, saat menemani Alan bermain, keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. "Alan, semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. "Iya, aku sakit pilek. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. "Iya om tau. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. "Iya, aku sudah makan banyak, nih liat pelutku buncit, ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku," oceh anakku menimpalinya. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong, hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya, dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering, dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. Menanggapi tawaran tersebut, spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh", dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku. Keesokan malamnya, Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku, dia pun mulai bicara. "Begini ya Dek Nita, bisnis kateringku ini warisan orangtuaku, yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan, bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. Beribu maaf jika lancang, namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka, supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. Mohon Dek Nita memikirkannya. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita." Aku hanya terdiam, kaget. Syok tepatnya, mendengar semua ucapan Pak Surya. "Ibu kenapa? Kok bengong, benel kan bu kata Alan, Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku, yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. Terima kasih ya Allah, sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III, Gg H Abdul Karim 2, Rt 01/03, Pondok Ranji, Ciputat 15412. Email widi.agustian@yahoo.com : the_a_young@yahoo.co.id

CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku


Selasa, 04 Desember 2012 11:36 wib

ANGIN bertiup kencang, menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku. Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. Inilah aku, anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah. Hati ini lega, namun sedikit merasa risau, gelisah, dan galau. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki. Ya Allah, sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?... celotehku disetiap rintihan doa salatku. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. Bagiku, itu cinta pertama dan terakhirku. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. Stop! Jangan bersedih nak.. ini perjalananmu yang pertama, mungkin bukanlah dia pangeran itu, hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku. Kesedihan pun menerpaku, namun beberapa bulan berikutnya, aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami, hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. Tak berhenti sampai di situ, seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. Di setiap malamku, kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku. Namun, hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar, akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. ***** Tuhan.. kapan aku menikah???, pintaku di setiap doa dalam salatku. Meski aku tak berpacaran, namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta, kini di semester akhirku, tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi, aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit. Inikah jodohku ya Allah, ucapku lirih saat bertemu dengannya. Pertemuan tak berhenti sampai di situ, kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku,

selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan, aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Malam itu, kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu, bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku, agama, dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?, tangisku di depannya. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu. Anehnya disetiap tidur akhir malamku, aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Sungguh hati semakin gelisah, disamping aku masih mencintainya, aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syariah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika.andriyani@yahoo.com Blog: Roudhotulilmi.blogspot.com

Cerpen

Penyamun
Kamis, 29 November 2012 13:24 wib

SEPASANG mata masih mengawasiku. Begitu nyalang. Tatapannya melirik tajam. Bersurukan laiknya seorang pengintai. Tak pernah terpejam. Tak lengah sepicing pun. Apalagi berpalis muka. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Bak denyar halilintar. Menyorot merah padam. Seperti mengungkapkan amarah. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. Bukan hal aneh bagiku. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Ia bukan seorang mata-mata. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Anak kecil berumur 10 tahun, tanpa pernah mengenal bangku pendidikan, pengamen memang cocok untukku.

Sedang ia, seorang preman menyambi penjudi. Tapi sialnya, ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Selalu kalah. Bila uang taruhannya habis, yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Memalak uang mereka. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Begitulah pekerjaannya. Sepasang mata itu milik Bang Jali, seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Perawakannya pendek. Memiliki tanda gores di wajah, mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. Terpapar renyuk. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. Luka rebak itu hasil sabetan parang, kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya, sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. Padahal ia bukan tentara, meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat, membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. Di depan warung nasi milik Bi Inah, ia duduk bertinggung menatapku. Sebenarnya, sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Katanya merusak suasana kota, atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas, sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. Di bawah warung itu mengalir air selokan, biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh. Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini, maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. Jangan salahkan kami! ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu. Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini? Bukan begitu, nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat, tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. Semacam tukar beli. Namun nyatanya, hingga sekarang, warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. Alasannya sederhana, bila warung itu dimusnahkan, maka para preman akan melakukan perlawanan. Hingga titik darah penghabisan. Memang, tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. Bukan hanya para preman saja, pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih, mereka selalu memesan makan di situ. Hari ini langit cerah. Terik matahari meyorot panas. Di jalan, mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. Menerpa pada mata setiap orang. Dan entah berapa lama ia menatapku. Mungkin sejam lebih. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang, ia datang menghampiriku. Menyunggingkan senyum kecut. Heh Udin, Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini? tanyanya padaku. Ah, pertanyaan yang memuakkan. Pastinya uangku akan dirampas. Hari ini aku belum dapat uang Bang, jawabku. Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi! bentaknya sambil melotot.. Beneran Bang, hari ini sepi. Sudah seharian aku mengamen di jalan. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Bukan karena aku malas, melainkan hari ini bukan hari libur. Jalanan tampak sepi. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago, tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen, dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Bila mendapat banyak uang pun, hasil kerja payahku itu, selalu dirampas olehnya dengan dalih, Ini daerah kekuasaanku, kalau ingin tetap mengamen di sini, uang hasil mengamenmu kita bagi rata. Padahal, ia tak pernah ikut mengamen, hanya duduk mengawasi kamimaksudku, aku dan pengamen lain. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastikbila dihitung berjumlah sepuluh ribudan plaaak tangannya mendarat di pipiku. Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Kalau mau ngamenmu laku, jangan pakai kecrek, pakai alat musik lain seperti gitar, biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu! katanya menyalak beringas. Aku hanya diam tertunduk. Bila di pikir-pikir, tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Ya, selain berjudi, pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. Berotot besar tapi nyali secuil, hanya berani pada anak kecil. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri, teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. Tiap hari rokoknya ludes, bukan oleh pembeli, melainkan diminta paksa si penyamun anyir. Bukan hanya itu saja yang dipintanya, pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir, sekembalinya

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong! paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. Astaga Bi Inah teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami! tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini! lanjutnya. Tapi tempat ini sudah lama saya tempati! jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam


Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. Kiamat sudah dekat, batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan pemutih wajah maka sekarang lotion tersebut bertulis penghitam wajah. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom minder yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

mengembalikannya lagi ke hitam lagi. Dunia sudah terbalik, gumamku, sambil menggelengkan kepala. Inilah janji Tuhan, Pada hari itu, akan Kami putar (nasib) manusia, begitu inti sari salah satu ayat kitab suci, yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jumat. Memang, hidup itu seperti komidi putar. Selalu berputar, kadang kita berada di posisi bawah, tengah, dan terkadang di puncak. Itulah sunnatullah, hukum alam. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika, atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Dan sekarang, hari ini, kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama, membentuk gerakan gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. Kekuasaan itu cenderung korup begitu bunyi sebuah adagium. Nyatanya, ketika mayoritas berkuasa, merekapun menjadi sewenang-wenang, diskriminatif dan menindas minoritas. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar, seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Di dalam Kijang Inova, duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. Itulah aku dan istriku, yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. Di kaca depan sebelah atas, terpampang jam digital kecil dengan format: jam, tanggal/bulan/tahun. Sambil menyetir, kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. Sudah jam setengah tujuh, kataku kepada istriku, sambil sesekali memandangnya. Hari ini Senin, 16 Juli 2018, adalah hari pertama kerja bagi Istriku, setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. Istriku, seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. Mobil berhenti karena lampu merah. Di hadapanku sebelah kanan, tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Seakan berkata Pakailah Lotion ini, maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya. Ya, gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan Punds, lotion penghitam wajah. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian, Rasakan Hasilnya!. Bune ingin seperti gadis itu?, kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. Walah Pakne, lha wong udah tua gini kok neka-neko, jawabnya dengan logat Jawa kental. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah, Kudus tepatnya. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. Iya ya Bune, dunia sudah terbalik sekarang gumamku, seakan prihatin. Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?, tanyanya manja. Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini, tambahnya menggoda. Iya Bune, saya suka dengan wajah Bune yang alami. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon, Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu. Ternyata Tuhan seakan menguji kita. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu, kan malu kita sama Tuhan paparku agak panjang. Iya Pakne Gusti Allah memang maha adil. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya, Jawab istriku, bangga. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. Setelah istriku turun dan mencium tanganku, akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. Cantik itu relatif, sesuai tren zamannya. batinku, sambil tertawa kecil. Kedung Banteng, pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus, aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute"

SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang, seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku, aku seakan ingin sekali pergi ke pantai. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Teruntuk Akand, Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi, walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. Dan terkadang di antara putaran tornado itu, ada yang dapat membuat mimpi- mimpimu hancur berkeping- keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu, kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak. Seketika aku menyadari, bahwa keluarga ku sedang berada pada saat- saat kelam. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. Tapi karena di saat-saat seperti itu, aku tak dapat membantu mereka. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini, melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola. Ini bukan saja tentang mimpiku, tapi juga harapan bagi keluargaku. Kelak ketika terjadi sesuatu di sini, tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. Semuanya akan baik- baik, pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. Aku menaiki tebing- tebing yang ada di sekitar pantai, sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. Terdiam aku untuk beberapa lama. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. Terlihat burung- burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. Awan mendung tampak menaungi biru pantai, tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. Setiap aku melihat pantai itu, rasa yang aku alami selalu sama. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. Pemandangannya tak pernah berubah. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini, bukan karena aku sedang mengalami duka. Tapi sebaliknya, aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil, tapi ini tentang sebuah harapan, mimpi, dan perubahan sebuah bangsa. Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat, aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. Bukan hanya itu, aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih- pelatih dari benua biru. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku, Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri. Walaupun dengan hal- hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku, tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. Tak hanya melihat keindahannya, tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. Dan setiap kali aku melihat pantai, aku seperti melihat sebuah

harapan baru. Oleh Geri Taranda. Bertempat tinggal di Jakarta. Alamat blog: geoaranda.blogspot.com

Cerpen

Simponi Hujan Sore


Senin, 19 November 2012 14:07 wib

AKU bocah laki-laki, usia menapak 14 tahun. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru, tetapi keadaanlah yang memaksa. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran, aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. Kegiatanku kini membantu Emak, mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit, hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. Koran, majalah maupun buku semua tandas aku lahap. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. Sebagai balas budi, kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. Bersama Emak, aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. Bila hujan turun, air akan menjajah seluruh ruangan. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib, tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali. Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong! suara kencang terdengar dari tempat cucian. Aku tak menyahut, rasa malas hinggap. Langkah kaki diseret mendekat, wajah perempuan baya menyembul. Lho kenapa? Kamu sakit tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. Tangannya yang basah memegang jidat. Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita, jangan dipendam sendiri, Aku menggeleng pelan. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. Ayo lekas ngomong, atau Emak punya salah ke kamu?Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. Perasaan serba salah menghampiri, membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran. Tapi Mak janji nggak marah ya?Emak mengangguk, walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara, takut ia tersinggung. Begini Mak, kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. Suasana mendadak bisu, hingga Emak membuka bibir. Suaranya datar.

Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa? Narik ojek Mak, ngepos di perempatan bawah kolong, Oh gitu, lalu ngomong apa saja ia ke kamu? Bapak bilang kangen sama Mak, Emak tersenyum kecut, raut mukanya masam. Jangan percaya Bapakmu, ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu! Nggak kok Mak, sekarang Bapak tinggal sendirian. Ngontrak di belakang pasar, Syukurlah, terus perempuan itu kemana? Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain, Raut muka Emak seketika berubah, kepuasan terbit di sana. Syukurin, emang enak dicampakkan! Aku terdiam, tiada guna menimpali. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. Mak, kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi? Kamu ngomong apa sih Wan, pagi-pagi udah ngelantur. Cepat pergi nyemir sana! hardik Emak seraya balik badan. Aku membuntutinya, terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi. Mak, seandainya Bapak mau balik ke rumah, Emak mau menerima nggak? Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur. Dada Emak membusung, seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. Ia bergeser, tangannya membelai rambutku. Kali ini sorot matanya begitu lembut. Maafkan Emak Le, saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali, Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak,tanyaku memburu memendam kecewa. Sudahlah Le, kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali, bagaimanapun caranya. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul, berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. Kurapikan peralatan menyemir, bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. Tadi pagi, Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. Bagaimana jika Kang Diman, bapaknya, kembali kepada kami. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. Awal pernikahan kami begitu bahagia. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu, begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. Kang Diman, pemuda yang selama ini merantau, telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan, aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. Kota penuh harapan dengan sejuta impian, berharap derajat kehidupan lebih baik. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. Layaknya pengantin baru, hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. Muhammad Hartawan nama lengkapnya, anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. Walaupun tak ada rumus yang baku, tapi wewaler itu berlaku juga. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. Kasihan ya si Marni, dibohongi mentah-mentah sama lakinya, melengking suara Mpok Hindun, tak menyadari aku berdiri di belakangnya. Maaf, maksud Mpok Hindun apa? dengan hati berdesir kucoba menelisik. Eh, kamu Marni, lagi belanja ya, sapa Mpok Hindun ramah, mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk lesu, tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik. Jangan berkelit ya, apa maksud omongan Mpok tadi? Maaf Mar, sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini? kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman, semuanya normal tak ada yang mencurigakan. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. Aku maklum, sebagai seorang sopir angkot di

Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya, sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. Emangnya kenapa, ada apa dengan Kang Diman? Sabar Mar, semoga desas-desus itu keliru. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Jantung serasa copot saat itu juga, mata mendadak panas. Perempuan itu siapa Mpok, rumahnya mana?bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Aku pun nggak tahu pasti Mar, dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah, Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata, memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis, atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk, antara percaya dan tidak. Oh Gusti, semoga ini hanyalah kabar burung belaka. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. Kasihan si Wawan, pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. Duh Gusti, nyuwun kawelasan **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori, ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. Mata bolaku hanya bisa menatap, menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku, tanpa sepatah kata pun darinya. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. Dekat tapi tiada tersentuh. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat, teman akrabku, bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. Boro-boro membelikan barang, melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. Awalnya Bapak sering menjengukku, namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. Emak melarang keras aku menemuinya, tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. Pernah Emak mengetahuinya, ia marah besar dan kecewa. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Tapi dasar anak bandel, bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. Siang begitu terik. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. Udara kering panas menampar wajah dekil. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh, tak jera juga aku mendekat. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. Khusus hari Jumat siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. Tak jarang mereka bermurah hati, menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. Banyak pula yang bersikap acuh, walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. Ah, aku tak boleh mengeluh, mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi Sore ini aku berencana menemui Bapak. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku, dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. Kenalin Di, ini anak lanangku, ganteng kan?seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan, terasa kasar. Pardi namanya, khas orang Jawa sama seperti Bapak. Ini tho namanya Wawan, mirip banget sama kamu Man,ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. Tentu saja Di, aku kan bapaknya, timpal Bapak sambil menepuk bahuku. Yo wis, aku pamit dulu ya. Mau nganter istri ke bidan, waktunya suntik KB. Nggak pengen nambah, kamu kan belum punya anak laki? kali ini gantian Bapak yang menggoda. Ah kamu Man, sudah cukuplah. Entar aku juga punya mantu laki, sama saja kan? jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. Sekarang tinggal kami berdua, sejenak dalam hening. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. Kamu sudah makan Le? tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap. Spontan aku menggeleng. Ayo kita ke warteg,kebetulan aku juga belum makan. Segera ku naik ke boncengan, memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu

menyayangi. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg, bagiku serasa restoran fast food di mal. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas, memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. Hmmbayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang, Wawan belum juga pulang. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki, tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. Biasanya ia sholat di rumah. Entah berapa kali termangu di depan pintu, tapi sosoknya belum juga muncul. Gelisah merambah. Kupandang photo Wawan di dinding. Ada beberapa, mulai dari bayi, balita sampai seumuran sekarang. Sontak perasaan bersalah terbit. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu, ia harus memikirkan isi dapur. Ah, kaningoyo benar nasibmu Le Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa, walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. Kesumat masih lekat terpatri. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu, teganya meninggalkan anak-istri. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja. Status pernikahan kini mengambang. Di atas kertas, memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri, tetapi hubungan kami begitu jauh. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. Pernah berpikir minta cerai darinya, tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan. Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain, aku mau pisah, dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas, merasa dilecehkan. Ayo Kang jawab, jangan melompong seperti sapi ompong. Jadi laki-laki jangan pengecut! kata-kata pedas keluar dari bibirku. Muka Kang Diman menegang, emosinya mulai tersulut. Kamu minta cerai Mar?tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. Jangan harap, sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu ! dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. Lunglai tubuh, sesali nasib malang yang menimpa. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. Aku tak mau menjadi ibu durhaka, membuat darah dagingku sengsara. Demi Wawan aku harus tegar! Mak, aku pulang! suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan. Kupasang muka sejernih mungkin, menyamarkan resah. Eh, kamu Wan. Kemana saja Le, kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin, Maaf ya Mak, tadi main ke rumah Mamat dulu, Kutatap wajah anakku, aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu. Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak, sebenarnya kamu ke mana saja? Wawan salah tingkah, kebimbangan menyembul. Mak, tadi aku ketemu Bapak lagi. Kalau Emak mau marahin, silahkan, pelan sekali suara Wawan, pasrah. Jujur sebenarnya emosi mau meledak, aku tidak suka ia menemui bapaknya. Rasa cemburu membuncah. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. Kuhembus nafas sedalam mungkin, berharap ketenangan tercipta. Mak, Iiya Le, kenapa? Wawan membuatku tergagap. Kok diam saja, Emak marah ya sama aku? Le, kamu sudah besar sekarang. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu, Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain, Tak kusangka Wawan berkata seperti itu, membuatku mati kutu. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. Rupanya anak lanangku telah berubah. Praduga buruk hinggap, jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. Ketegangan mulai merambati kami. Sudahlah Wan, pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu.Aku tetap keras kepala, kukuh pada pendirian. Maaf Mak, kali ini aku nggak bisa. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan, jadi aku berhak ketemu kapan saja. Wawan beranjak dari duduknya, darahku seketika tersirap.

Eh, mau kemana kamu? Jangan pergi! Ketemu Bapak!sahut Wawan tak peduli. Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak, tak hirau dengan panggilannya. Memang Bapak telah menelantarkan kami, tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa. Harapanku tidak muluk, terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. Tidak seperti sekarang, bak maling ayam yang takut ketahuan warga. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh, yang tengah bersiap berganti penjual. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Bila pagi pedagang sayur, ikan dan daging yang berkuasa. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal, menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. Terlambat, pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. Mataku terpejam ngeri. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. Kepala membentur benda keras, kunang-kunang berseliweran di kepala. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. Entahlah, mungkin aku sudah berada didunia lain. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. Jelas ini bukan kamarku. Aroma obat meruar menusuk hidung. Oh, rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. Kupegang kepala, perban telah membebatnya. Pandangan beredar sekeliling, senyap. Kugerakkan tubuhku sedikit, ngilu terasa. Tapi aku ingin duduk, bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. Le, kamu sudah siuman. Matur nuwun Gusti, anak lanangku sudah sadar. Emak muncul dari pintu, matanya berbinar-binar. Sejurus kemudian ia keluar kamar, seperti ada yang dicari. Kang Diman, ke sini KangWawan Kang! apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? Ada apa Mar, ada apa dengan Wawan? suara berat laki-laki tergopoh mendekat. Benar itu adalah Bapak, aku tak keliru! Matanya terbelalak, tak percaya aku telah siuman. Dipeluknya tubuhku, dirangkum dalam dadanya yang bidang. Matanya berkaca-kaca, gerimis membasahi pipi. Anakku Le, syukurlah kamu udah sadar, tersendat suara Bapak. Maafkan Bapak ya Le, aku bukanlah ayah yang baik. Karena perbuatanku kamu sengsara, Aku hanya diam, tanpa diminta pun telah memaafkan. Kecemasan terbit, apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? Ada apa Le, kok malah melamun? Masih pusing tho? Nggak Pak, Wawan cuma ngantuk. Eh, Emak ke mana ya, elakku gusar. Ada apa Wan, Emak di sini kok, jawab Emak bergegas menghampiri. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. Mak setelah sembuh nanti, boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak? Tentu saja boleh Wan. Selama ini Emak terlalu keras padamu. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan, darah kalian sama. Terima kasih Mak, lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari? Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh, terasa sekali Emak mencoba menghindar. Ayolah Mar, kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu, Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. Eh kamu Kang, ngagetin saja, pipi Emak bersemu dadu. Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian? Emak terdiam tak segera menjawab, mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang, Baiklah Mar, aku tunggu jawabannya, mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Kelak bila kamu

setuju, aku berniat untuk pulang kampung. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. Aku bisa bertani disana, kita kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana, sorot matanya cemerlang. Oh ya Le, nanti kamu bisa kembali sekolah. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir. Hatiku mendadak cerah mendengarnya. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi, mudah-mudahan ini pertanda bagus. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku Walaupun Emak belum menjawab, tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju. Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Semua tinggal menunggu waktu. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. Gemericik hujan sore ini begitu indah, mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau, 11/11/2012. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. Wewaler : peringatan 2. Duh Gusti, nyuwun kawelasan : Oh Tuhan, mohon belas kasihan 3. Kaningoyo : sengsara 4. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Sekarang tinggal di Depok. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail.com

Cerpen

Celana Dalam Jahit Perca


Senin, 12 November 2012 15:44 wib

AKU tak habis pikir, apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. Mereka begitu menginginkan baju kurung, basterop, bajang, belah bakung, seroja, pesak sebelah, kepok, kemeja buntung, jas katak, kelepak, kain panjang, telekung, handuk, kutang, lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya, seorang ibu tua, penjahit ulung, Pertiwi sebutan orang. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. Sungguh, aku tidak salah. Dari bisikan yang kudengar, mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. Jika ia mati, tak akan ada lagi perlawanan, barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu, sekalipun sedang ia kenakkan. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. Dahulu kala, ia telah puas merasakan penderitaan, semenjak suaminya datang di kehidupannya, lalu mati 67 tahun yang lampau. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin, namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh, sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. Sungguh, aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. Kalau tidak, tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. Hehe, maaf apabila aku terlampau egois, ya semua ini karena aku tahu. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. "Selamat datang bapak. Selamat datang ibu," sapaku seramah mungkin. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. Ia bukan jin, bukan rasul, bukan pula malaikat atau sebangsa iblis, apalagi dedemit. Dia adalah manusia: bermata, berhidung, bertelinga, tak ubahnya seperti kau dan aku. Hanya yang membedakannya: celana dalam. Ya, celana dalam yang selalu dikenakannya, celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. Tidak dengannya. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Dia tetap berdiri setegak batang surian, punggungnya lurus sempurna, bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat, sedikit saja. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang, ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. Entah apa tujuannya. Sekonyong-konyong, majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. Untung baru seujung saja yang terkerat. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran, sekalipun ia melambatkan lajunya. Toh, kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar, mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku, bahkan membunuh. Habislah orang itu dihajar. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. Badannya yang ringkih itu babak belur. "Bu, apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana, barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Sedangkan kendaraannya; sepeda ontel, masih ada di pelataran parkir, di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. "Tak perlu. Ambil buatmu saja!" "Loh, kok..." "Iya, ambil saja. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. "Apa maksud Ibu?" "Dek, ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. Pancaran mentari tak

kami hiraukan. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan, tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku, terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu," jawabku sekenanya. "Huh, orang memang kebanyakan berpikiran demikian. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu," jelasnya lagi. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. "Dek, coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik. Aku gemetar mendengarnya. Mana mungkin aku berani melakukannya, bisa-bisa aku dipecat. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. "Ti... tidak Bu, aku tak berani...," tolakku gemetar. "Seandainya aku berikan dua pilihan, mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh, sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah," jawabku pasti. "Mengapa?" tanyanya lagi. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. Suara perempuan itu menjelma guruh, dan aku adalah si pekak, tatapannya adalah kilat, dan aku si buta. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya," jawabku sekenanya saja. Dia tersenyum. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku, kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. "Dek, itulah yang namanya kesempatan. Tadi, aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu, seharusnya kau ambil saja. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda," sejenak ia menghela nafas. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil, itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca." Ia pegang pundakku. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. "Jadi, sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku, apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. Senyumnya kian berseri. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. Hidupku bahagia. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. Namun, akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini, bagaimana mungkin aku tak sadar, jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa, yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku, ternyata hanya untuk dipertontonkan." "Ah, dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. "Benar. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya, kepada Istana. Namun, ia telah lupa diri. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. Tanpa mengenakan pelapis lain. Ia nekat telanjang. Malunya sudah musnah." Dari dalam rumah, aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. Orang itu, orang yang membuatku hidup, orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. Tak menanggap. Ibu itu diam. Lama. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Bagian depan celana dalam majikanku sobek, ada darah yang menyembur deras. *** Malam setelah matinya majikanku, dengan sisa-sisa perca, perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana

dalam berwarna merah putih itu. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Tapi aku tak mau. Padang, 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra, kelahiran Batusangkar, 7 Juli 1992. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. Anggota UKS-UA; divisi musik. Selain giat bermusik, ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. 19 A Padang Timur.

Cerpen

Kalung Bu Nyai
Kamis, 08 November 2012 08:18 wib

DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah, maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah. Silakan Neng diminum airnya, kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng, saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu, ia enggan menerima balas jasa apa pun.

Mun urang nulungan batur, eta hartina teh nulungan urang sorangan, Sep, kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri, ia lakukan dengan segenap hati. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. Untunglah aku bertemu Mang Durja, tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar, dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. Sebab, menurutnya, Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya. Pada Bu Nyai, Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan, aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Rumahnya cukup sederhana, bahkan boleh dibilang teramat sederhana. Hanya punya satu tivi 14 inch, dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Seperti diceritakan Mang Durja, dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. Bu Nyai mah A baik orangnya, apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. ujar Teh Ema, penjaga warung dekat rumah Bu Nyai. Menerawang gimana maksudnya? Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. Buat warga di daerah ini, kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah, Sep. timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. Aku sempat meragukan cerita tersebut. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Ia pun menceritakan hal yang sama. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah, yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari

seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah, Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Termasuk pada Tuhan. Ah, jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai, akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. *** Hari itu hujan deras sekali. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Aku masih berada di kampus sore itu. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus, aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini, ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh, tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Bisa boros limaribu sehari. Hujan masih juga betah berjaga. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Entah apa sebabnya. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung, anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Entah kenapa. Hujan tinggal rintik-rintik. Aku memaksakan diri pulang. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Aku tiba di kontrakan. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Maklum, aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Setelah sepeda kurantai, cepat-cepat pula aku membuka pintu. Namun sesaat setelah membuka pintu, aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Lima kali subhanallah. Bahkan lebih. Ia terus mengucapucap subhanallah. Aku tak berani menghentikannya. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Tapi ini tidak. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Aku semakin membeku. Beku. Aku semakin merinding. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. Tubuhnya juga bergetargetar. Salah satu tangannya, tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. Keningnya mengkerut. Semakin mengkerut. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. Aku duduk di kursi sebelahnya. Mata Bu Nyai masih terpejam. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Tapi tetap tak ada. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. Hujan di luar kembali menderas. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Ah Alhamdulilah, ini berarti pertanda ritualnya berakhir. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Dan, Akh! Bu Nyai membuka mata. Napasnya sedikit tak teratur. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Bu Nyai, Bu Nyai sedang menerawang? Tatapannya masih melihat ke bawah. Lunglai. Ia masih belum menghiraukanku. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Muhun Sep, tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi, Maksud Bu Nyai? Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Ia menghela nafas lagi. Sesekali kepalanya

menggeleng pelan. Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu, tapi tetap tidak juga ketemu, Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. Ia mendesah. Aku mengangguk. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. Mencoba memahami segalanya. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat, sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa. Dan sekarang, samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya. Energinya habis. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Seperti tertimpa batu-batu. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. Sep, mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai? Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu, ada di sini. Di sekitar sini.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng, saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng, selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah. *Mun urang nulungan batur, eta hartina teh nulungan urang sorangan, sep: Kalau kita menolong orang, itu artinya kita menolong diri kita sendiri. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra, Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Kini tinggal di Jakarta dan menulis. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data, Bandung. Penikmat kopi dan sayur asem. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No.5, Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo.com

Cerpen

Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku


Senin, 05 November 2012 17:10 wib

ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris, khasmu. Ku amati kau sedang khusyu dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. Kau malah memelukku dan mengucapkan,Ahlan wa sahlan, saudaraku. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Untuk menghargaimu, aku hanya bisa mengulum senyum padamu. Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen, kau tak ambil banyak bicara. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Kau ajak aku makan berdua denganmu. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. Habis ceritamu, kau antarkan aku ke kosku. Ku akui aku mulai suka padamu. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Dengan kelihaianmu itu, kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku. Aku heran padamu. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku, kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Kawanmengingatmu aku sangat malu. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. Aku malah lupa kesukaanmu. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatkuSang Pemimpi. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Hmm aku suka buku ini. Sangat memotivasi, kataku saat itu. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu, Kau suka ? Ambillah, nanti saya yang bayar. Sebetulnya aku malu padamu. Aku yang suka, aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. Kau juga sampaikan padaku, akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. Belum banyak kau bercerita, ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. Tepat pukul 3 sore, kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. Ku bilang pada diriku sendiri. Kawankini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. Tak lama dari kepergianmu, kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Tak berpikir panjang, ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. Aku mengharapkanmu, kau dalam

keadaan selamat. Setelah satu bulan pencarian, kau akhirnya ditemukan. Sobat, kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. Sobatkini aku harus melepaskan kepergianmu. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku, mewujudkan impian kita berdua. Selamat jalan sobatsemoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu, membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. Buatmu, hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. Sobat andai kau lihat saat ini. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku, atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu, membuat diriku tak sanggup mempercayainya. Dulu, aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Kau ajari aku perlahan. Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar, membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. Sobat meskipun kau tak lagi bersamaku, aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi, kini telah berteman dengan coretan garis merah. Atas izin-Nya, impian kita telah terwujud satu per satu, sobat. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita, ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. Sobat bagiku, kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku merangkai mimpi bersama. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa, lahir di Pati, 16 Oktober 1988. Tinggal di Ds. Jontro, RT 03/RW 01, Kec. Wedarijaksa, Kab. Pati, Jawa Tengah. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi, FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010), Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 - 2010). Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 - 2010). Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung.

Cerpen

Negeri Tak Berhati


Kamis, 01 November 2012 12:41 wib

KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan, aku berusaha membangunkan tubuh ini. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Segera kubasuh muka dengan air wudhu, cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini, karena pekerjaan rumah sudah menunggu. Selesai sembahyang aku keluar kamar. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau, cobek, mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. Aida, buatkan bapakmu kopi sana! perintah ibu kepadaku. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja, untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). Pak Yon, adalah nama panggilan bapakku. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana, walaupun statusnya masih kontrak tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan, kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. Kemudian sontak bertanya padaku. Gimana sekolahmu nduk? Lancar pak, ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi Belajarlah yang giat nduk..sekarang mandi sana, kita berangkat bareng !, tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. Aku segera mandi, badanku sudah bersih, aku siap berangkat. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. Kami tidak punya meja makan, sehingga kami biasa makan disembarang tempat. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi, biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. Seperti biasa ibu tidak ikut makan, ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan jadi-jadian, entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. Nduk, kamu lihat itu...korupsi telah membudaya di negri ini. Budaya Korupsi, disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus, dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan, karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah, kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil, Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau, gundah, atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu. Gilanya, orang-orang mengamini kesalahan sebagai sebuah kenormalan yang toh semua juga pernah melakukan. Damai dengan polisi kalau di-tilang, melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos, salam-tempel, serangan-fajar, uang-pelicin itu adalah hal normal yang semua juga pernah melakukannya. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan moral bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. Tapi bisa apa aku, Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. Nduk, hidup itu butuh pegangan, kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan.

Aku agak risih mendengar nasihat itu, Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. Rencana kuliahmu besok, sudah kepikiran mau masuk fakultas apa? Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban Sudah pak, Insya Allah kedokteran Bagus itu, bapak yakin kalau Aida bisa, kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri, ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. Kita langsung berangkat. Kapan ujian masuknya? Besok minggu pak, bapak antar Aida ya besok!pintaku ... Hari-hari telah berlalu, hitungannya seperti pohon jati yang sedang meranggaskan daunnya. Jatuh satu demi satu. Sekarang hari Sabtu, aku libur, tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku, Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. Sontak membuat aku kaget. Segera aku lari ke depan rumah. Aku butuh klarifikasi dari ibu. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. Aku tunggui ibu, dengan raut muka campur aduk. Ibu datang. Aku diam. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. Bu ini apa bu? Itu cetak-Roentgen ibu nduk. Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida, kalau ibu punya tumor-payudara..!!! rengekanku kepada ibu. Buat apa nduk, ibu ndak mau kamu khawatir. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi Tapi itu sama saja bohong bu.... ibu bohong sama Aida...., entah aku sedang menangis atau apa, yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk, itu gambar benjolannya masih kecil kok... baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya, toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal, kamu tenang saja nduk.... ibu berusaha menenangkan aku. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. Aku bingung dengan senyum ibu. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu.... Hari Minggu tiba. Aku degdegan, bukan karena teror ujian, tapi karena ibu. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini, inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Aida, ayo berangkat...!!! tegur bapak. Ragu-ragu menyerang tubuhku. Tapi hidup adalah pilihan. aku harus memilih. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan. Wah cantiknya anak ibu ini, sapa ibu. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. Memohon doa restu. Sesampainya di lokasi. Kulihat ternyata banyak juga sainganku, mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. Ujian dimulai. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh. Hingga selesai. Ya...semuanya sudah selesai. Sudah kutuntaskan tugasku. Sudah selesai Aida...? tanya bapak kepadaku. Sudah pak. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi Dua minggu kemudian. Ternyata Aku diterima. Informasi ini diumumkan di Koran. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama, ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. Tertulis nominal disana: Rp5 juta, mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. Uang dari mana, Lima juta harus cair dalam sehari, pikirku.

Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. Aku malah disuruh di rumah, berdoa. Ya...apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini, hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. Tepat pukul dua belas siang, Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. Badannya panas, tangannya menggigil. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat, kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. Bapak pergi lagi. Aneh glagat bapak, sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya di-lap hingga kinclong. Aku tak tahu bapak mau ke mana. Hari menjelang sore, Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu. Hanya laku dua juta. Aku bilang pada bapak Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu pintaku kepada bapak.Tapi bagaimana rencana kuliahmu, nduk? tanyanya. Bapak tenang saja, Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Aida pasti akan kuliah pak, toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok...pasti ada jalan...!!! aku yakinkan bapak dan hatiku. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit, karena kami semua khawatir kondisinya. ... Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo, nakal bukan kepalang, dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos. Ketika ujian kemarin si Bimo, tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. Pak Yon, kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak, apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan, tutur ibu anak itu. Ya..begitulah bu anak-anak. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya, agar tidak terjerumus. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu, tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu, jawab bapak. Betul Pak Yon, tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami, orangtuanya. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo, Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini, di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya. Raut muka wanita itu kelihatan sedih. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. Pak Yon sahut laki-laki disamping ibu Bimo,Jadi kedatangan kami di sini ini, kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo, anak kami...pak. Untuk masalah itu, mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo, bapak dan ibu tenang saja, tutur bapak kepada orangtua Bimo. Beberapa saat kemudian di hadapan kami, laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya, amplop berwarna coklat muda dan tebal. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak. Maaf, Apa ini pak?sahut bapak. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo, mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. Raut muka bapak mulai kebingungan, Amplop tersebut kemudian bapak buka, seketika itu pun bapak terkejut. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. Pikiranku melayang, aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi, aku bisa bayar registrasi untuk kuliah, bapak bisa mendapatkan motornya lagi. Dalam hati aku berberkata pak terima saja uang itu, entah apa yang membuat aku punya pikiran itu. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. Begini pak, mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu, saya tidak bisa menerima amplop ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi untuk masalah Mas Bimo, setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. Saya jamin, akan saya cek kembali hasil

ujiannya Mas Bimo, jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut, tutur bapak. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan, kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. Bapak kemudian menatapku. Nduk, kamu tidak apa-apakan? tanya bapak, Kujawab Tidak apa-apa pak. Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini, tapi seberat apapun hidup. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar sambung bapak. Seketika itu juga, aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. Aku sadar sekarang. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. Silahkan orang berkata apa, yang jelas aku bangga dengan Bapakku. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit, dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan, setelah melalui pertimbangan panjang, telah aku pilih satu hal. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida, tuturku kepada bapak. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan,Mengapa kau berkata seperti itu nduk, jangan menyerah kamu !!! tegasnya. Tenang saja pak, Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah, Aida belajar dari bapak, toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. Kan hakekat ilmu itu universal. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Jadi tenang saja pak aman terkendali. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja... akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. Ya...apa yang bisa kita perbuat di negri tak berhati ini selain tersenyum menertawai atau ditertawai kehidupan. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. Apakah dinegri ini kenormalan yang telah mendominasi tindakan manusianya, dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim normal. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan, Fisipol UGM

Cerpen

Sesal yang Terbaik

Senin, 29 Oktober 2012 18:21 wib

BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. Yah, akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah, pulang dari arah persawahan. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa, seperti dua hari lalu. Sama seperti kemarin, hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. Melalui jendela kamarku, jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki, bertelanjang dada, dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Kakek sudah pulang?, sambutku penuh senyum. Hemm, jawab kakek. Selalu saja begitu, setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek, gerutuku dalam hati. Aduh, pasti berat sekali ya Kek?, tanyaku lagi. Ah, tidak juga Cu. Ini hanya sedikit saja. Sahut kakek dengan enteng. Huh, Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. Balasku sedikit kesal. Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini, besok kamu mau makan apa Cu? Aku hanya diam, memang benar apa yang dikatakan kakek. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini, besok mau makan apa? Ah, jadi malas memikirkannya lagi. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. Menunggu kakek pulang dari sawah. Betapa kagetnya aku saat itu. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya, berjalan tertatih tak seperti biasanya. Semakin dekat menuju rumah, mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar. Kakek! Kakek! Apa yang terjadi? tanyaku dengan gugup. Tak apa Cu, balas kakek dengan entengnya. Aku paham sekali, pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong, darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. Terlihat lemas, sudah kehilangan banyak darah. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. Bawa ke pak mantri ya Kek? rajukku dengan isak karena takut. Tak usah, nanti juga sembuh, masih saja setenang ucapan sebelumnya. Aku hanya bisa menghela napas. Selalu begini, kakek tak pernah mau menuruti permintaanku. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis, kakek menolak mentah-mentah. Entahlah, tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar, kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. Sekarang kakek pasti tahu, apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?, tanyaku serius kepada kakek. Hahaha, sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. Lihatlah kakek sudah segar kembali, balas kakek dengan senyum di bibirnya. Segar apanya, kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!, jawabku sewot. Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan, Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru.

Khekekekekek. Timpal kakek. Apa-apaan, kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. Huh, jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!, balasku mulai marah. Lhoh, kenapa kamu Cu? Kok malah nangis? tanya kakek kemudian. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir, luka kakek sungguh mengerikan. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. Namun, karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Akan tetapi, darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Kek, bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?, kataku dengan takut. Tunggulah sebentar, nanti juga berhenti, sahut kakek pelan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. Saat itu kenangan masa laluku muncul, teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. Kebencianku muncul kembali. Sama seperti keadaan dua tahun silam. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. Sebuah sosok yang disebut dengan Ayah. Ah, bagiku dia bukan ayah tapi setan. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. Kek, apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?, tanyaku tertunduk. Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh, Balas kakek dengan heran. Aku sedih, kita tidak punya apa-apa lagi. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. Kita tidak punya uang. Aku mulai menangis lagi. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku, lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. Kasihan sekali kakek, rumah mewahnya hilang, tabungannya habis, dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya, yaitu ayahku sendiri. Untuk menutupi hal yang disebut hukuman denda, kini hidup kakek terlunta-lunta. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. Aku juga merasakan hal yang sama. Hanya bisa tersenyum kecut. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah, sedangkan untuk makan saja kurang. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Hei Cu, apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia, Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya, seru kakek dengan semangat. Hemm, Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!, timpalku keras. Apa yang kamu benci, Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?, balas kakek. Aku diam, mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. Iya Kek. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah., jawabku pelan. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. Senada

dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Aku punya sebuah janji, bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Kaki kakek sudah bersih. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta

Cerpen

Perempuan Pembayar Utang


Kamis, 25 Oktober 2012 11:52 wib

KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. Inilah yang kurasakan. Sudah dua hari ini anakku sakit. Tubuhnya panas dingin. Demam, entah sakit apa. Aku sangat sedih. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. Kalau sudah punya uang dia akan kirim. Sebagai tukang kayu, suamiku sudah biasa merantau. Jakarta, Bandung, Surabaya, Kalimantan, dan Bali pernah dirambahnya. Bikin almari, kursi, meja. Perkakas apa saja. Suamiku biasa bikin. Tak heran, karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. Ah, aku teringat Mas Seno, suamiku. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. Tapi kenyataan sekarang ini Aku tak memiliki siapa-siapa. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. Sama seperti Mas Seno. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati. Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak? Tapi saya tak memiliki uang, Bu. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. Jeng tak punya uang tabungan? Aku menggeleng. Jeng tak usah khawatir. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laboratanakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut.

Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu. Anak ibu harus dirawat di RS. Silahkan ibu mengurus uang administrasinya. ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. Tapi hasilnya nihil. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname. Agar anakku bisa pulang. Tetanggaku sudah membantu, mengumpulkan uang. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang. Di batas keputusasaankusebuah nama melintas di benak. Sebenarnya aku enggan menghubunginya. Aku pernah berbuat dosa padanya, aku malu bertemu dengannya. Tapi demi kesembuhan anakku, aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu. Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon, menghubunginya. Mas Kar. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya. Usia baru genap berkepala tiga. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture. Hallo. Selamat pagi Hallo Selamat pagi. PT Kartika Furniture.. Apa yang bisa kami bantu..? Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar. Anda harus membuat janji dulu. Saya..saya keluarganya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan.. Oyasiapa nama Mbak? Miranti Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi . Tak usah menunggu lama, terdengar suara lelaki itu. Suaranya masih selembut dulu. Benarkah..ini kamu Mira..? Maaf Mas Karkalau mengganggu. Bicaralah Miratak perlu sungkan-sungkan. Kabarmu baik kan? Ya Mas. Tapi saya sedang dalam kesulitan. Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. Anak saya sakit, Mas. Dirawat di rumah sakit. Mas Seno sedang kerja di Jakarta. Saya..saya kesulitan uang Mas untuk menebus anak saya dari rumah sakit. Tak usah khawatir Mir. Aku akan membantumu. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata, Mir? Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. Makan malam bersama Mas Kar. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta. Dia masih seperti yang dulu. Lembut penuh perhatian. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya. Tapi karena aku sadar diri. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong? Aku menuruti permintaannya. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. Aku enak-enakkan makan di restoran, semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh. Mira Aku mengangkat wajah. Kamu masih secantik dulu. Seramping dulu ketika kamu belum menikah. Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Mas Kar rupanya tahu diri. Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan Aku menggeleng. Oya Mir...kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Ada apa? Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti Saya membantumu ikhlas Mir.. Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas.

Saya sudah melupakannya, Mir.. Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. Saya berutang pada Mas. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. Baik kalau itu keinginanmu, Mir. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. Apa maksud, Mas? Saya ingin kamu menolongku.. Kalau Mira bis menolong, Mira dengan senang hati menolong Mas. Sungguh? Katakan saja Masapa yang bisa saya lakukan untuk Mas? Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini! Apa?! Petir menyambar di siang bolong! Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu! Jangan Mas. Aku sudah istri orang. Aku juga seorang ibu. Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Tapi bukan yang satu itu, Mas? Suamimu tak akan tahu. Akuaku masih mencintaimu, Mira! Cerita kita hanyalah masa lalu, Mas. Sayasaya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. Saya menyayangimu, Mira Saya Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat. Mungkin karena aku terasa capek, atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku. Oh.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini *************** Sebuah kamar hotel. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. Aku membuka mataku perlahan. Pusing itu masih terasa. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. Utuh. Bajuku. Dalamanku. Tubuhku. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang Aku beringsut dari ranjang. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias. Rangkain tulisan rapi itu kukenali. Tulisan latin Mas Kar. Aku yang masih menyayangimu Mira. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Kamu adalah istri setia. Kamu wanita dambaan lelaki.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan. Percayalah kamu masih utuh, seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Berulang-ulang kau membaca memo itu. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Lembut dan penuh perhatian. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir, 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa, fiksi dan puisi. Karya penulis pernah dimuat di Sabili, Yunior, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Kartini dan Annida online. Antologi cerpen: Tatapan Mata Boneka (TBJT, 2011), 15 cerpen Inspirasi Annida Online Membunh Impian (Annida online, 2011), antologi puisi: Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra, 2011)

Perjalanan Dini
Senin, 22 Oktober 2012 19:42 wib

SEPERTI biasa, aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. Kali ini, sahabat terkasihku itu menarik napas berat. Di sudut matanya yang redup, menyembul butiran air. Sesekali, dia terbatuk-batuk. Sungguh, aku tidak tega melihatnya. Aku ingin berlari memeluknya. Aku ingin menciumnya, lalu mengajaknya bicara. Barangkali itu bisa menghiburnya, bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Din, kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa? Butiran air di sudut mata Emily luruh, menuruni pipinya yang berjerawat. Aku semakin tidak tega melihatnya. Aku tahu, wajahku tidak cantik. Tapi kenapa sih, zaman sekarang ini, orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul? Emily terdiam. Dia mengusap pipinya yang basah. Hidungnya tampak memerah. Dengan lirih, dia bertanya, Din, apakah suatu hari, aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya? Tentu, Emily. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya, orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula, begitu pula sebaliknya. Jadi, Emily, kamu tidak usah khawatir. Ada banyak lelaki di dunia ini. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Emily diam. Wajahnya tetap murung. Pelan-pelan, dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia membalik tubuhnya, jadi memunggungiku. Aku jadi kecewa, karena tidak bisa melihat wajahnya. Aku khawatir, janganjangan dia menangis lagi. Setengah jam kemudian, aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Rupanya, dia tertidur. Aku jadi sedikit lega. Setidaknya, dia bisa mengistirahatkan pikiran, hati, dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. Sahabatku yang malang. Melihat keadaannya, hatiku seperti diremas-remas. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. Aku percaya, cinta sedang menunggunya di suatu tempat, di suatu waktu. Hanya saja, mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. Teruslah memintal harapan, Sayang. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, batinku. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. Udara serasa mendidih. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah, sekedar memberikan hawa sejuk. Badanku rasanya gerah, tapi tidak ada keringat yang keluar. Aku melihat ke luar jendela. Tampak olehku, Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. Wajahnya kelihatan berseri-seri, sementara gerak kakinya ringan. Hap-hap-hap, seperti kijang. Ada apa dengan Emily, ya? Aku jadi penasaran. Tidak lama kemudian, aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. Wajah sahabatku tersayang muncul. Diniiiiiiiiiiiiii! teriaknya, setengah histeris. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia

perbuat. Dalam bayanganku, dia langsung memeluk dan menciumiku. Tapi ternyata, perkiraanku keliru. Emily justru memutar tubuhnya. Kedua tangannya diangkat ke samping. Roknya yang mengembang, turut berputar. Dalam pandanganku, Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. Aku tersenyum geli dibuatknya. Ada apa, Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Din, panggilnya lagi. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! Kamu tahu, hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin! cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. Tiba-tiba matanya membesar. Aku terkejut, karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana. Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku! Pipi Emily memerah. Aku mendadak deg-degan. Hari ini, dia nembak aku. Katanya, sejak pertama melihatku, dia sudah tertarik. Waaaaah, aku jadi GR mendengarnya. Emily tersipu-sipu. Dia menutupi kedua belah pipinya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerimanya. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. Ooo jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir, kamu hanya akan disakiti olehnya. Coba kamu pikirkan lagi, Sayang. Aku yakin dia yang terbaik buatku. Kalau dipikir-pikir, sejak pertama kali MOS, sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia, Roni namanya. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. Emily berhenti sejenak. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. Karena begitu semangat bercerita, dia seperti hampir lupa bernapas. Aku tahu, lanjutnya, keputusanku ini terlalu mendadak. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh, apapun risikonya! Soalnya, aku bingung harus bagaimana lagi. Teman-teman selalu mengejekku soal ini, Emily mendengus. Apa aku salah, Din? Menurutku, jalan yang kamu ambil itu kurang baik. Kamu mau menerima Roni, hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu, bukan karena cinta. Kalau Roni tahu yang sebenarnya, bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu, itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Emily diam. Bola matanya berputar-putar. Mungkin dia sedang berpikir. Tapi kemudian, dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Sayangnya, sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Pulang sekolah dia selalu pergi. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah, ke toko buku-lah, menengok teman yang sakit-lah, dan seterusnya. Tapi dugaanku mengatakan, dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. Yang membuatku heran, Emily sekarang jadi genit sekali, baik soal make up maupun pakaian. Setelah kucermati, wajahnya juga berubah lebih menarik. Jerawat dan komedonya sudah hilang. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. Dan pada saat yang sama, Emily tidak mempedulikanku lagi. Dia tidak pernah lagi mendekapku, mengajakku ngobrol, bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh, aku tidak bisa membenci Emily, meski dia mengabaikanku. Aku terlalu menyayanginya. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. Begitu lama kehidupanku dengan dia, sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu, mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. Sayang, semakin lama, hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru, yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. Ada Sisca, Belinda, Natasya, Cecil, dan entah siapa lagi aku tidak hapal. Wajah-wajah mereka cantik, mirip orang Eropa. Matanya lebar, hidungnya mancung, dan rambutnya cokelat panjang sebahu. Tidak ketinggalan, kulitnya putih susu. Jelas aku kalah menarik dari mereka. Kulitku kusam dan hidungku pesek. Sebuah codet yang memanjang di pipi kirikuakibat terbentur sudut lemari yang lancip, semakin memperburuk penampilan luarku. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily, sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. Kalaupun bisa, aku pasti menangis tersedu-sedu.

Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya, bagaimana aku bisa tahu kesalahanku, sementara Emily tetap saja membisu, bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi, kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. Semuanya cantik, senyumnya manis. Dan tibatiba, sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar, Emily memilih mereka, tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. Apakah dia sudah lupa, kalau lima bulan silam sambil menangis, dia bertanya padaku, Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan? Aku bertanya-tanya, kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan, dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya, sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu, apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. Lalu dia meninggalkanku begitu saja, tanpa ciuman, tanpa pelukan. Sebelum pergi, dia sempat berbisik, Maafkan aku, Din. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Aku merasa dingin, tapi tidak kuasa menggigil. Aku diam, tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. Lho, kok kamu ada di sini? Entah dari arah mana, tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. Dia memandangi dengan seksama. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. Lelaki itu tersenyum. Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi, anakku. Betul, Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. Kepalanya bergerak. Dia segera menggendongku di punggungnya. Selama perjalanan, dia tidak bicara. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong, aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. Entah kenapa, aku merasa nyaman. Hatiku tenang. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna, sudah berkurang. Rasanya, aku sudah sampai rumah lelaki itu, karena dari dalam karung, aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang, Sumiiii, Bapak pulang! Sambil meletakkan karung, lelaki itu bertanya, Tahu nggak, hari ini, Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu? Apa itu, Pak? Aku mendengar suara bocah perempuan. Mungkin, dia Sumi, anak pemulung itu. Jeng-jeng-jeng! Ini dia! Lelaki itu mengeluarkanku dari karung, lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. Waaaaa. Bagus, Pak! Itu buat aku? Lelaki pemulung itu mengangguk. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. Bibirnya tersenyum. Manis sekali! Wah, lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana? Dari rumah orang kaya. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. Bapak pikir, pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. Jadi, Bapak ambil saja, biar bisa jadi teman main kamu. Gimana, kamu senang, kan? Senang, Pak! seru Sumi, riang. Nah sekarang, kita bersahabat. Mudah-mudahan kamu menyukaiku, ya? ujar Sumi kepadaku. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. Aku terus tersenyum. Aku bahagia, dia mau menerima keadaanku apa adanya. Aku harap, persahabatan kami bisa langgeng, meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Ya. Aku memang hanya sebuah boneka. Oleh karena itu, Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. Namun, sudahlah. Aku harus melupakan dia. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. Purwokerto, 20 April 2012

Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Cerpen

Kafe Bunga Tanggal 25


Kamis, 18 Oktober 2012 14:14 wib

UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. Sangat menggoda. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. Empuk sekali. Kenalin, saya Alia. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya, Fakultas Sastra. Seperti biasa, salah satu agendanya adalah bedah novel. Jika Anda tidak keberatan, kami bermaksud mendiskusikan novel Anda, Sang Penulis. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan, kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. Hmm, permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah, batinku. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Tapi ngomong-ngomong, sebagai apa saya diundang? gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. Maaf? Panitia mengundang saya sebagai apa; sebagai penulis atau pembaca novel itu. Kaidah anak sastra kan begini, ketika sebuah karya selesai ditulis, otomatis pengarangnya mati. Kalau begitu, saya bukan lagi penulis novel itu, kan? Di seberang, Alia tertawa. Gurih sekali. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja? Kali ini aku yang tertawa. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa! Tawa Alia berderai-derai lagi. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap novel itu. Sumpah mati, kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. Karena aku bukan novelis. Bukan pula cerpenis. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. Itu pun lebih disebabkan propaganda

seseorang. Roni, nama orang itu, cinta setengah mati pada dunia sastra. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat edan tenan. Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka, pasti terkaget-kaget, pasti terguncang-guncang, katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil, pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. Gila. Edan. Saking edannya, jangan-jangan, nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga! Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. Bukan karena termakan promosinya. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. Aku justru tidak suka caranya beriklan. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman. Rayuannya kurang maut. Tidak meyakinkan. Terlalu tergesa-gesa. Jadi, sebelum mulutnya tambah berbuih-buih, kuputuskan untuk menyerobot buku itu. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. Dan, okay, dalam beberapa hal, Roni mungkin benar. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi, mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. Alangkah sakitnya menjadi Clara, perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli, dibakar mobilnya, bahkan diperkosa, semata-mata karena dia keturunan China! Namun, itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. Bagiku, puisi, prosa, atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing, dan karenanya enggan kugeluti. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni. Tentang minatnya pada dunia sastra. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu, kurang lebih jawabannya begini. Aku tidak mau kelak jadi pegawai. Mau pegawai negeri atau swasta, sama saja. Sama tidak enaknya. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam, mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel, yang bikin kita mikir, yang bisa dilakukan kapan aja, sambil tiduran, sambil nongkrong di balkon. Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis, soal sastra. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian, malam nanti mungkin giliran Saman. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional, boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat! begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ, baru aku bilang edan tenan, itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. Dan, inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. Minggu depan, kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. Tunggu saja. Tapi rupanya, menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. Karena kenyatannya, dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. Pretel-pretel. Serupa motor kehabisan bensin. Seperti mobil terendam banjir. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih, ada apa sebenarnya dengan Roni? Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen, ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. Oya? Begini, jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen, aku sudah terbiasa menulis puisi. Berbeda dengan prosa, puisi itu kan harus padat. Hemat. Pelit kata-kata. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa, sekaligus tertib ber-aa-ii. Ber-aa-ii? Berima, maksudku. Mengandung unsur bunyi. Nah, mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. Setiap kali mulai menulis, baru selesai satu paragraf, aku sudah gatal untuk mengeditnya. Terkadang cuma untuk memastikan, sudah cantik apa belum bahasanya. Sudah indah apa belum kedengarannya. Begitu seterusnya.

Ya, begitulah seterusnya! Dari hari ke hari, Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung. Padahal telah dicobanya segala cara. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita, berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra, berkunjung ke rumah-rumah sastrawan, sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. Untuk menebalkan motivasinya, ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. Jangankan novel, cerpen yang cuma sebanyak enam halaman, pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer, menulis cerita perihal Roni. Awalnya kupikir, apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Atau paling banter, biografi seorang (calon) penulis yang malang. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang, ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. Tiba-tiba sudah jadi buku. Dan, tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. Sebuah undangan yang, seperti kubilang sejak awal, sungguh mirip pizza. Sangat menggoda. Bukan sematamata karena (hhmm, yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi menarik lebih banyak royalti. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal, di mana seluruh ide novelku berawal. Nah! Itulah sebabnya, ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu, aku cuma bisa bilang, Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Terima kasih. Sampai jumpa tanggal 25. TANGGAL 25. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. Angin dingin segera menyergap. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. Atas saran Alia, aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Tak lama kemudian, ia muncul mengajakku makan. Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. Oya? Di mana? Maaf, kejutan selalu muncul belakangan. Aha, nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata, tempat spesial yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meskiya, lagi-lagitulisannya tak jadi-jadi. Masih kenal tempat ini? Aku tersenyum. Terima kasih kejutannya. Anda pesan apa? Double Bitter? Aku tersenyum untuk kesekian kali. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. Setiap detil ia pahami, ia selidiki, ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. Dan lihatlah, betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. Duduk sendirian. Cuma berteman secangkir minuman. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. Tapi semakin kutatap semakin kupandang, kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. Muka tirus. Hidung bangir. Rambut keriting. Tidak salah lagi, itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. Meja di pojok kafe itu Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja, ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. Pandangan matanya mengarah entah ke mana. Yang pasti bukan ke arahku, perempuan yang saat itu, hampir dua tahun dipacarinya. Aku kan sudah bilang, aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. Titik. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu! Aku menggeram. Ingin menampar. Ingin menerjang. Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu! Kamu

pikir mudah menulis novel? Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. Aku orang kampung, Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Celakanya, ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Tapi sialnya, novelku belum selesai juga. Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai, padahal bab satu saja baru tiga halaman! Itu kalau kamu mau. Kalau tidak? Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. Bahkan hingga sekarang. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku, tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu, aku bergegas pergi. Bukan semata-mata dari kafe ini. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang, memang. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Dan, harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan, kulumat saja kenangan-kenangan itu. Kukunyah pelan-pelan. Sari-sarinya kutulis diam-diam. Sampai mewujud jadi novel. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. Ke kafe ini. Ke reuni ini. Reuni? Ah, tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. Meski terkadang aku ingin. Meski mungkin ia mau. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan, seperti yang ia cita-citakan. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu, Ron? Mbak Shinta, tiba-tiba Alia mengetuk meja. Anda pesan apa? Kita balik ke hotel saja. Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo, 7 September 1980. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah, Gulukguluk Sumenep (Madura). Pada 1998, salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison, Santri, MPA, Banjarmasin Post. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto, Jawa Timur.

Cerpen

Mekar Dalam Badai


Senin, 15 Oktober 2012 15:04 wib

DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan, dan asri karena penuh dengan tanaman hias, duduklah seorang lelaki tua, Ishak. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain, dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering, ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya. Putri Ishak, Vira, adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati, dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. Di atas meja, satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. Kemudian, ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya, Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. Ayah terlalu berlebihan, ujar Vira tersipu. Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu, Ishak tersenyum pada putrinya. Aku tak malu menjadi ayah dari putramu." Vira menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya. Seharusnya aku tak membuat ayah malu. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. Seharusnya aku percaya pada ayah." Ooo.. Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang. Semua itu sudah lama terjadi. Tak perlu dipikirkan lagi. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu, putra kita, Amri, Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah, bukan anak ayah! Vira menatap ayahnya lekat-lekat. Ya.. kau benar. Tapi, aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya, Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing. Tapi.. Vira masih belum merasa tenang batinnya. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya. Ibu.. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren, Amri membanggakan mainan barunya. Lalu memberikannya pada Vira. Mana biar kulihat, Vira mengambil mainan Amri. Bagus juga ya..ini ambil lagi mainanmu, Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya, lalu kembali bermain-main dengan mobilnya. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh, dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula, di kebun bunga-bunga hias. Dulu aku begitu jahat pada ayah. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah. Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. Tapi, kenyataannya aku tetap darah daging ayah, aku tetap putri ayah satu-satunya. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung; aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah, Vira menatap lekat-lekat ayahnya, dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. Ishak menghela nafas panjang, dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu, kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana! Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Selang beberapa menit, Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy. Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar, Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira, lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya. Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. Terima kasih ayah karena telah menemukanya, Vira memeluk boneka itu erat-erat. Seandainya ibu masih di sini bersama kita." Ya. Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. Maafkan ayahmu ya.. sayang, seharusnya waktu itu aku

lebih sering berada di rumah, berada di dekatmu. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu, aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan, tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku. Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat, lalu tersenyum padanya. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Sewaktu mereka berdua berbaikan, membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak, pembantu mereka, mang Husni mendatangi mereka. Maaf pak. Ada tamu yang bernama Sophian, yang ingin bertemu dengan neng Vira, kata mang Husni dengan nada suara lembut, penuh kesopanan. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, terkejut dengan berita kedatangan pacarnya, Sophian. Oo.. Ayah, aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. Kalau begitu saya harus bertemu dengannya, kata Ishak bersemangat. Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu. Dia tidak mengetahui kalau..., Vira memalingkan mukanya dari ayahnya, kemudian menundukkan kepalanya. Oo Ayah, apa yang harus kulakukan, apakah aku harus jujur padanya? Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran, meski itu akan terasa pahit! Ishak kemudian bangkit dari duduknya. Bersama Vira, ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Di beranda rumah, Sophian duduk di kursi kayu. Baju dinasnya terseterika dengan rapih, sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir; Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi, ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. Di beranda rumah, Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. Kemudian, mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni. Namun, pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai, Amri datang mendekati Ishak, hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya, dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. Ini yang namanya Amri ya.. imut sekali, Sophian tersenyum simpul pada Vira. Kemudian, ia menatap pada Ishak. Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. Ia memandang penuh harap kepada putrinya, berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya, Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. Vira menghela nafas panjang. Kemudian, dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira, tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya, ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini, kata Vira. Maksudmu? Sophian mengernyitkan dahinya. Dulu, ketika kita pertama kali bertemu, aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak. Tapi nyatanya, aku adalah... aku adalah.. Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya, namun ia tidak mampu. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda, aku selalu mengikuti hawa nafsuku, selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku. Pada masa itu, gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa.. Vira menundukkan kepalanya, menghela nafas dalam-dalam, mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. Bahwa..? Sophian penasaran. Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab, maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri; bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu, agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya, Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap.

Maafkan aku, selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu, Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar, dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya. Sudah empat bulan kita berhubungan. Dan sekarang, ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini, engkau mengatakan kebenaran ini. Aku tak bisa menerimanya. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini. Aku harus segera pergi sekarang. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan, Sophian segera bangkit, merasa sedih karena telah dibohongi. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Akhirnya, ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira, ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. Oo.. Sophian, kata Vira. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil, tak menggubris Vira yang memanggil namanya. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya, tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. Kurasa ia takkan kembali lagi, tak ada semangat dari nada suara Vira. Ia menundukkan kepalanya. Dia memang tidak pantas bagimu. Janganlah terlalu kau pikirkan. Setidaknya kita bertiga saling memiliki, itulah yang paling berharga, Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang, kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya. Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang." Ayo yah.. kita main lagi, Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja. Menurut Ayah, apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya? Vira menatap ayahnya dengan cemas. Jangan kau cemaskan itu. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf; toleransi terhadap semua kesalahan orang, kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. Sekarang, lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah, kata Ishak mencoba menenangkan putrinya. Ayah benar. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah, Vira tersenyum merasa lega. Dengan sekejap, ia sudah melupakan kesedihannya. Sambil bergandengan tangan, mereka bertiga meneruskan langkah mereka, berjalan memasuki rumah, menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang; satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang, 30 Agustus 1985. Kini tinggal di Komp. Pemda Blok A-8, RT01/RW07, Cinanggung, Kel. Kaligandu, Serang Banten, 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang.

Cerpen

Penantian Mbok Mini


Kamis, 11 Oktober 2012 16:46 wib

MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya, tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk, berisi dipan kayu lebar beralas tikar, sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya, serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. Tak ada perabot lain, kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. Sambil menghela nafas panjang, diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. Ia menyipitkan matanya, memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. Tatapannya terlihat sendu, namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya Kang, aku kok jadi kuwatir. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu, apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari, tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya, lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. Kang Narto, suaminya, hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. Mbok Mini menarik nafas panjang, perasaannya campur-aduk, antara marah, geram, kesal. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. Eling Kang, sampeyan ini sudah tua, sudah bengkok. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan, nanti malah bikin repot orang, sambung Mbok Mini. Dengan sebal, Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. Kamu ini lama-lama cerewet juga, sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak, kalau ndak giat kerja siang malam, mau makan apa kita? sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. Iya Kang, aku ngerti. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit, ujarnya sambil menangis. Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia meneruskan, Aku malu, Kang. Si Narti bilang, sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. Bener ndak, Kang? Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan, yang senantiasa menyemangatinya, memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. Namun, sekarang mata itu justru mengabaikannya. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya, meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat, tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. Dan sejak itu, 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah. Pernah suatu hari,

saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya, tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti, tetangganya sebut. Namun, ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat, apalagi menegur suaminya. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya, bahwa Kang narto, suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah, karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus, kesehatan Mbok Mini mulai menurun. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun, sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah, meski tenaganya hampir habis tak tersisa. Hingga suatu sore, saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti, dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya. Mbok, sampeyan di dalam? Gelap amat, sentirnya ndak dinyalain, to? Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya, berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. Aku Gatot, Mbok. Mau nganterin becaknya Kang Narto, seru pria yang satunya. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi, ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. Dipandanginya becak itu sejenak, kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Anu Mbokbojone sampeyananu.., pria paruh baya itu terbata-bata, lalu memandang ke arah rekannya. Begini Mbok, sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. Kami mau ngasih tahu, kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang, waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko, sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. Orangnya wis mati? tanya Mbok Mini dengan tenang, membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut. Keduanya mengangguk dengan pelan. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu, dielusnya benda itu dengan penuh kasih. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. Akhirnya sampeyan pulang juga, Kang, bisiknya lirih, sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. Ika Winterholler Nrnberg, 24.09.2012

Cerpen

Wasiat Beringin Tua


Senin, 08 Oktober 2012 17:23 wib

HIDUPKU terancam, mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. Aku memang hidup di garis bawah, garis hina, tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana! Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu, hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut, daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun, kering. Seingatku pohon itu dulu rimbun, segar, daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang, melainkan dipindahkan saja. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu, tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini, di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin, dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini, sela suara yang sama, mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. Tentu saja, ka karena setahuku kau kau memang banyak melakukan e hal baik untuk makhluk lain, jawabku terpotong-potong. Kau takut melihat rupaku yang mengerikan? tanyanya menunduk lesu. Emm a aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku, jawabku asal bicara. Aku sudah mengamatimu lama. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku, memandangku dengan belas kasihan. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku, cerita Beringin tua. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku. Maafkan aku, kukira kau tak mengerti yang kulakukan. Kau pohon dan aku manusia. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu, kutegaskan permintaan maafku. Justru karena aku tahu kau peduli, jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun, seperti menari-nari kegirangan. Senja itu, warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu.

Boleh jadi manusia lebih bangga, menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal, pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah. Apa kau dendam pada kami? Pada manusia? tanyaku serius. "Manusia? Beberapa saja! jawabnya ringkas. Keadaan memang sudah berbeda saat ini, pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. Dia tergusur oleh pembangunan, atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku, pada manusia. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem, tentang populasi, juga tentang keberlangsungannya. Aku juga paham teori menjaga alam, memelihara lingkungan. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit, seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naf untuk memberinya bantuan. Hei, berhentilah sebentar! Suara yang sudah tidak asing lagi, ya itu suara Beringin tua. Tapi kali ini aku sedang buru-buru, hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru, jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. Aku kesakitan. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi, menempel entah apa di badanku! terangnya. Aku amati batangnya, memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. "Baiklah, tunggu sebentar, aku usahakan untuk mencopotnya, jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. Dengan badan yang tertusuk paku, sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. Astaga paku ini susah sekali kucabut, terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang, ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya! gerutuku dalam hati. Biar aku teduhi tubuhmu, dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali, getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku, Beringin tua merintih. Dibentangkannya ranting-ranting pohon, berusaha meneduhiku. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini, pasti mengerikan rasanya! Kataku memecah kesunyian. Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. Orang tadi, yang memasang paku ini, pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai." Jawab Beringin tua. Maafkan dia, dia hanya lalai, tambahku. Ya, ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. Kau tahu kan, mana tanganku bisa berbuat seperti itu, untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. Jelas Beringin tua dengan sabarnya. Setelah cukup lama, lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua. Segera aku berpamitan padanya, tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. Tentu saja aku menjawab iya, karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. *** Dulu, saat aku masih kecil, aku sering bermain di sini bersama teman-teman. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama. Aku mulai sadar, zaman telah berkembang. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan. Kini alam mulai mengancam. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas, udara semakin sesak oleh polusi. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. Yang tergusur itu tidak hanya akarku, tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau, kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang, berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku, katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya.

Tersentak aku. Bukankah memang benar kata-kata itu. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah, saat itulah alam menangis, menyesali akar-akar yang musnah, menyesali daundaun hijau yang mengering, menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya, menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. Tidak serakah seperti kaummu, kata Beringin itu, seperti dia paham akan kegusaranku. Sontak aku membayangkan, bagaimana jika hidupku yang tergusur, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. Tergusur, dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. Burung-burung bersarang di rantingku, ulat-ulat memakan dedaunanku, semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini, mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak.

Beringin, aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu, kataku. Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami, ujar Beringin tua. Tapi aku bingung bagaimana memulainya. Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu, peduli pada alam yang memberinya hidup. Air mata menetes di sela penjelasanku. Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. Akal pikiran dikaruniakan padamu, tentu kau bisa memanfaatkannya, tegas Beringin tua. Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia! aku membela diri. Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini? pertanyaan retorik. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja, sementara hasilnya samar. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam, tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. Tapi aku tetap bisa berusaha. Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi! Gerutuku. Aku mulai berpikir, buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon, bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu, toh dia tak akan mampu mencengkeramku. Mana bisa dia mencengkeramku. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan, tapi hanya dari hal-hal kecil saja. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan, tidak menginjak tanaman, dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. Ya, hanya itu saja. Akan tetapi, persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup, menemani dan menjadi tempatku berbagi. Aku tidak tega membiarkannya menderita. Beberapa bulan kemudian, upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. Proposal yang aku ajukan disetujui. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman, tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. Sudahlah jangan murung, bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana

pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya! Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita. Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi, aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan, menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. Beringin tua mulai balas bercerita. Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. Hasilnya bisa kau lihat sendiri, tubuhku mulai mengurus. Ceritanya berlanjut. Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu! Aku mencoba menghiburnya. Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. Beringin tua mencibir. Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan? Tukasku. Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. Kurasakan tubuhku semakin melemah. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. Kalau saja aku masih kuat, tentu sudah kurobohkan semua itu. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. Ya sekarang tinggal pasrah saja, aku sudah putus asa. Papar Beringin tua. Sabar Beringin, aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu, ya walau Cuma hal-hal kecil sih! Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. Kau sudah lakukan yang terbaik. Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu. biarkan mereka menikmati keserakahannya, hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri. Tegas Beringin tua. Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan! Katanya. *** Hari ini 20 Januari 2012, aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. Tentu bisa ditebak, kami korban banjir Kali Cisari. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya, yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku? tanyanya. Sebenarnya samar sih, tapi aku bisa merasakannya, jawabku singkat. Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha! jawabnya senang. Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku! Protesku. Bukan begitu, Sahabatku! Aih, baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu? Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau, aku selalu terbayang akan wajahmu! Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. Aih, kau mulai pintar membual sekarang! Jawabnya. Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. Selalu membagi cerita, membagi perasaan suka dan duka, menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan... Aku mulai bicara asal. Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. Dia menimpali kata-kataku. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung, hanyut bersama harta benda penduduk. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. Penduduk yang tamak, serakah, yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya, dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. Sementara itu, tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu, bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini, kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran.

Selepas kesedihan ini, aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya, biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta).

Cerpen

Pesarean
Kamis, 04 Oktober 2012 08:25 wib

ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir, tapi mata tak ada isyarat lelah. Dengkur teman satu sel menggema, membuat iri. Apalagi hujan baru tercurah, bangkitkan hawa malam atis menggigil. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta- pora menghisap darah di tubuh kering ini. Gelisah meraja, tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. Salah seorang sepupuku berkhabar, ia bersedia menampung untuk sementara waktu. Namun, tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. Lima tahun, aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Rasanya tak pantas berkunjung, dengan segala alpa yang telah kuperbuat. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka, menjelma Malin Kundang. Pesan itu terngiang kembali, adegan berpuluh tahun silam melela, Le, kamulah satusatunya anak Bunda. Jadi kepadamulah masa depan tersandar, suara Bunda tercekat, mata tua itu berlinang. Berangkatlah, jangan hiraukan Bunda. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. Iya Bun, Lanang janji. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda. Seperti biasa, wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. Senyum manis yang selalu menahan getir, semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya.

Tapi Bun, sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. Iya Nang, ada yang ingin kamu sampaikan? diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. Tatapannya begitu lembut, membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. Lho, kenapa diam Le, ada yang membebani pikiranmu? Iiya Bun. Biaya kuliah kan mahal, Bunda dapat uang dari mana? kembali senyum itu berkembang. Bunda beranjak, dielusnya rambutku. Jangan kuatir Le, walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah, dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. Gusti Allah ora sare Le, jika umatnya selalu berusaha. Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan, tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. Bau debu mengepul, meninggalkan sensasi khas kekeringan. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. Kututup pintu, agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. Ah, Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu,desahku setengah berbisik. Wajah itu semakin dipenuhi keriput, tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. Melangkah ke kamar, mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. Serasa ada sesuatu yang hilang, terlepas dari genggaman. **** Masa begitu cepat berlalu, menembus labirin waktu. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat, kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. Betapa bangga Bunda, sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. Seiring waktu berjalan, berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus, aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja, sebagai seorang laki-laki dewasa, aku segera mencari pasangan hidup. Lina, gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni, kini menjadi pacarku. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. Kalau boleh tahu, apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?selidikku penasaran. Nang, mencari istri itu bukan seperti membeli barang. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. Orang Jawa bilang harus jelas bibit, bebet dan bobotnya. Bunda memulai perdebatan kami. Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik, pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang,selaku menunggu reaksi selanjutnya. Justru karena Lina begitu tinggi Le, jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu. Ibaratnya seperti bumi dengan langit, derajat kita tak sebanding dengannya. Bunda, Lanang sangat mencintai Lina, demikian sebaliknya. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini. Namun rupanya belum ada hasilnya, terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. Kamu masih terlalu hijau Le. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta, Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya, Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga, yang berbeda tabiat dan kebiasaan. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. Kutatap sorot mata Bunda, kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. Aku hanya terdiam, tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya, sehingga bila mencari menantu harus sederajat. Seperti kisah dalam roman picisan, bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir, namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang, terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil, seolah pintu regol rumah Eyang

yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. Masih membekas dalam ingatan, ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja, matanya sembab. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. Sudah berapa kali aku bilang, jangan bawa makanan ke rumah Romo, terdengar suara mengagetkan kami. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang, karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. Tapi Mas, sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. Lagian ini kan suasana lebaran, mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. Iya saya tahu, tapi apa sambutan mereka. Hanya cibiran saja yang kita terima. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu? Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas, sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. Bunda memandangku sendu, terlihat jelas tilas air mata yang terselip. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. Bunda memang menantu yang baik, tak sepantasnya diperlakukan seperti ini, Ayah menggumam, seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali, tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. Menurutku usahanya adalah kesiaan, toh tembok karang itu tak jua tergerus, walau terjangan ombak datang setiap saat. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit, tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk, bahkan disaat kritis sekalipun. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus, adik ayah, tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya, separuh nyawanya telah tercerabut. Simbah Nyai, begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda, mengurus keperluanku untuk sementara waktu, sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun, meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja, hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak. Di kota pecel Madiun, kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. Jahitan Bunda rapi dan halus, sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk istri pejabat. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah, tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan, ia akan pergi sendiri. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah, menumpahkan rasa. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku, anak lanang satu-satunya ini. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya, aku benar-benar jatuh cinta pada Lina, cinta pada pandangan pertama. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan, toh aku bukan anak kecil lagi. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya, perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. Mas, kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho, suara Lina lembut, tapi cukup membuatku tersedak. Air jeruk tertumpah di kemeja, mukaku merona. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. Iiya Lin, secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. Sabar ya, Sayang, kuremas jemari lentiknya, berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. Pikiranku berkecamuk, bergelut hebat. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap, tapi restu Bunda belum aku dapatkan, bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita? rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku, seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. Jangan kau ungkit masalah itu. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu, titik!sergahku sengit.

Secepatnya itu kapan Mas, besok, seminggu, sebulan atau setahun lagi. Kasih keputusan segera. Mas kan lakilaki, harus tegas dong! kata-kata Lina kali ini begitu menyengat, membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. Oke Lin, minggu depan aku akan melamarmu!teriakku lantang. Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. Senyum Lina merekah seketika, wajahnya berseri, bagai prajurit yang menang di medan laga. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. Nafas menghembus pelan, seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa, diam dalam ego masing-masing. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. Lanang telah berketetapan Bunda, dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. Kali ini begitu berat, seolah penuh tekanan yang menghimpit. Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Bunda mau bilang apa. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda,tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. Jajadi Bunda merestui hubungan kami? mataku terbelalak tak percaya, kutatap Bunda mencari kepastian. Iya, Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. Kupeluk Bunda penuh keharuan, kubersujud di pangkuannya. Benar kata bijak, kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan, Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. **** Tiga tahun berselang Mas, aku mau ke rumah Mbak Dini. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya,tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. Dandanannya begitu rapi, wangi parfum menyeruak menggoda hidung. Ke rumah Mbak Dini lagi, bukankah kemarin kamu sudah ke sana?Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk, sehingga aku harus kerja lembur di rumah. Iya Mas, Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. Ia mau membuka butik baru, jelas Lina pendek. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din, hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil? Bukan begitu Mas, aku sudah bosan tinggal di rumah. Duniaku hanya seputar sumur, dapur dan tempat tidur. Apapun alasannya, Mas tidak setuju kamu bekerja lagi, Aku bersikeras. Sudahlah Mas, jangan jadi suami kolot. Ini jaman emansipasi wanita, tak perlu kita berdebat soal ini, Lina berkata seperti tanpa beban, ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil. Aku berangkat Mas, Mbak Dini sudah menunggu. Lain kali masalah ini kita bahas lagi. Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu, meninggalkanku yang tercenung tak percaya. Tangisan Anisa terdengar dari kamar, terburu kuhampiri. Celananya basah, segera kuganti. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. Demikian pula yang terjadi dengan kami. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar, terkadang melalaikan urusan rumah tangga. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini, kakak iparku itu, tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan, bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga, sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. Lho, bukankah ini kemauan Lina sendiri, justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. Ia tidak membelaku, malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu, seolah ia makhluk asing dari dunia lain. Perselisihan makin meruncing, masalah sepele bisa membesar. Bagai api yang disiram bensin, melebar ke mana-mana. Yang menjadi korban tentu saja Anisa. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun, balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. Semoga memori

diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari, hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. Demi Anisa, aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku, melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. Bunda, maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. Mas, aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan. Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya, semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia, aku tidak akan meminta bantuan Bunda, Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja kan buat keluarga. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. Apa kamu bilang nggak cukup. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal! Terserah Mas mau bilang apa. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. Aku ingin hidup layak, lebih dari yang Mas bisa berikan! umpat Lina ketus. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru, seperti syair lagu lama, penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami, akhirnya tercium juga. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan, Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. Nang, besok antarkan ke Stasiun Turi ya, Bunda mau balik ke Madiun, permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. Roti tawar yang siap masuk mulut, kuletakkan kembali. Lho kenapa Bun, kok mendadak begini?tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. Bunda tersenyum kecut, ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. Maafkan Bunda Nang, kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian, Enggak kok siapa bilang, justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan, aku masih mencoba berkelit. Wis tho Le, Bunda sudah tahu semuanya.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini. Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi, segala yang dituturkan Bunda benar adanya. Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa? tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita, sedangkan ibunya tak begitu peduli. Memang ada pengasuh, tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. Bunda mengangguk pelan, tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap, tak bisa diganggu gugat. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. Mataku mengerjap, samar matahari tergelincir ke barat. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran, tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding. Tertulis di nisan sebuah nama: SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO. Ya, itulah nama Bunda, wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. Aku, anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi, menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun, kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu, Malang. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi. Aku yang pegang kemudi hilang kendali, mobil kami masuk jurang dan terbakar. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan.

Segera setelah keluar dari rumah sakit, keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. Sebagai seorang suami, aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. Sumpah demi Tuhan, aku begitu mencintai Lina, tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku, dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. Semenjak aku menjalani hukuman, kesehatan Bunda menurun drastis. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. Penyakit asmanya sering kambuh, badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara, Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. Hatiku hancur, ingin rasanya gantung diri waktu itu, tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. Hari ini, pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. Besok aku akan menemui putriku Anisa. Sudah seberapa besar ia sekarang. Pasti cantik seperti ibunya. Masih ingatkah ia padaku, ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak, apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah, semoga keajaiban sudi menghampiri. Selamat tinggal Bunda,mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu, walau dunia kita telah berbeda. Sungguh, Lanang janji! Rumah Hijau, 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam, kuburan 2) Bibit, bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur, Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore, berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh, adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Bekerja sebagai PNS. Sekarang tinggal di Depok. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail.com. HP : 081317500341.

Cerpen

Keluarga yang Pindah dari Kampung


Arpan Rachman Senin, 01 Oktober 2012 10:48 wib

AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. Hisin Jentik yang memberitahu aku. Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. Aku heran ada anak kecil seperti itu, bukan bermain-main dengan kawan sebaya, tapi malah akrab

dengan binatang. Hey, itu kan binatang? tanyaku. Iya, monyet! jawabnya. Sewaktu kutanya lagi, mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami, Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. Nama tokohnya, Si Buta dari Goa Hantu. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. Dia jagoanku, katanya penuh jumawa. Saat itu sumpah aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. Tunggu di sini sebentar, sahutku. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku, menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau, pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. Ya, kami bertetangga. Namun, tiba-tiba saja terjadi skandal kecil. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat, menunjukkan rasa marah, lewat kalimat yang sangat kasar, menghardik aku habisan-habisan. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. Kami berdua sempat main dokter-dokteran di bawah ranjang dalam kamar pengantin. Tapi semua bukan salahku saja. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. Iren yang genit seketika menarikku berlari. Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya, main petak umpet, dan mendapat giliran untuk sembunyi. Ah, di bawah ranjang, lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Saat Iren buka celana, aku langsung tahu apa maunya. Aku tak habis dimarahi ibunya. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. Beruntung, ibuku datang membela. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. Apa yang kalian lakukan? Kujawab, tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. Sebelumnya, aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. Jadi, tidak boleh masuk sembarangan. Aku dipaksa dia, kelahku membuktikan fakta. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana. *** SEJAK itu, mungkin karena malu, mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua, Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong, sore-sore. Jelas saja kami aku dan Iren saling berpandangan. Kurasa, itu pandangan untuk yang terakhir kalinya. Tapi sungguh aku memang tidak cinta dia. Kita ini, kataku, suatu hari, masih kecil untuk bicara soal cinta. Karena, kupikir, cinta itu kawin. Kawin itu nanti kalau sudah besar. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang, dulu. Kukira, itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. Tak mau tahu juga cinta itu

seperti apa. Karena Iren telah memberitahu aku. Dan, rasanya tidak enak, sungguh Dan, waktu pun berlalu. Aku punya banyak kawan. Kawan main bola, kasti, pingpong, layangan, gambaran, berenang, dan kawan berkelahi. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah, ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami, menimbulkan derita tersendiri. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu, baiklah kutulis surat saja. Kawanku, Aku menyukai mata Sejak hari pertama; namanya penderitaan. SD kelas 1. Tangan ini digebuk oleh guru. Alatnya memukul adalah mistar kayu. Penggaris, yang kira-kira setebal tiga centi, panjangnya 500 centimeter. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. Berapa besar, betapa kuat, energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. Buku jarinya ada di atas, habis menulis. Tangan yang jadinya sedikit memar. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya, DIA pasti ikut masuk kelas 1 Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. Itu yang kusukai. Sampailah rekornya, hmhm. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. Kalau melihat kawan sebangku, dua bangku, dan yang duduk di kelas lain. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf H. Hanya itu, apa boleh buat. Maafkanlah aku ini, guru yang baik. (Sungguh, ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan, dulu) Semula, aku menulis pakai tangan kiri. Ajaran kanan ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. Hari pertama masuk SD kelas 1. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren, dulu) Ganti tangan kanan! terkecam nian rasanya. Karenanya, sejak itu, tanganku selalu ingin menulis saja. Sampai sekarang pun juga Tapi, akibatnya, ruas tulang jari tengah tangan kanan. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. Kanan bukan tangan yang baik. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. Ah, mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. Sengaja kupandang lekat. Aku tak menunduk, tetapi mendongak. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua, ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong, saat pindah rumah dari kampung kami, sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. Aku dan si guru! Mengawasi matanya, sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). Alhasil, aku meringis selama seminggu. Keringat pasti tertitik di dahi, saat melangkah masuk pintu kelas 1. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. Matanya itu.

Sejak itu aku menyukai mata pena. Lalu, punya cita-cita mau jadi penulis cerita AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. Yang memberitahu aku, Hisin Jentik. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Kata Hisin, Mereka pindah ke Kebon Duku! Tapi aku sudah tak mau tahu.*** Fort Rotterdam, 3 Mei Penulis: Arpan Rachman

CERPEN Laron-Laron Kerinduan


Kamis, 27 September 2012 11:13 wib

"MAMA, ail hujannya netes lagi," tegur Avis. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry, seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. "Mama, kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik. Matanya sudah sembab, tak lama lagi cekung. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini," jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. "Kapan, Ma?" "Mama belum tahu, Dek. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan, pintu-pintu kita buka. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek," jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry," Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. "Mama yang nungguin, percaya Mama, Dek." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin

dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku. Berhasil, kelopak matanya terpejam. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil. Aah..leganya. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang. Kemudian menjemput takdirnya, menjadi santapan cicak-cicak, menceburkan diri ke air, ataukah digotong sepasukan semut rumah. Larry tak bisa memilih takdirnya. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. Tik..tik..hujan sudah mereda. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru. Pintu depan rumahku masih tertutup. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku. Suara jangkrik sudah berpadu. Kusibak korden kamar, si kecil Avis masih menikmati tidurnya. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Entah dari mana, bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. Drrtt..drrt..menyikut ujung-ujung kayu pintu, siku jendela hingga kaca. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu. Kini makin memekakkan gendang telinga. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. Belum terlihat, tapi sudah bertanda. Larry, kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. Plokk..ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah. Linangan air masih ada, badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana. Meski terbang agak lemah, dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. Pelan, Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry. Plop..keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku. "Kun fayakun. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati. Innallaha ma'ashobirin." Larry..Avis jangan memendar kemudian menghilang, teriakku. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. "Sabar dan sholat," tepuk sebuah tangan di pundakku. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi. Depok, 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari

Cerpen

Fragmen Puisi
Senin, 17 September 2012 16:55 wib

PUISI #1 Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku, pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. Aku memang suka menulis puisi. Tetapi, bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit, setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. Dan, kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu. Aku memang menyukai suasana yang dramatis, termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. Namun, apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan, kukira. Sama halnya dengan menulis puisi. Tetapi, sungguh, aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. PUISI #2 Malam itu, aku baru saja pulang dari rumahmu. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. Kau bilang, Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. Kata orang kita sahabat yang karib. Sejak kecil dulu, kita selalu bersama. Kemanapun kau pergi, aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. Aku selalu menuruti perintahmu, karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. Dalam perjalanan pulang, aku merasakan malam yang tidak biasa. Malam yang penuh dengan kegelisahan. Aku berpikir tentangmu, kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. Namun, kegelisahan selalu menyeruak, seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. Aku kehilangan akal sehatku, sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. Ya, kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini. Dan, perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. PUISI #3 Aku lulus! teriakku di lorong kampus itu. Kau yang pertama kuhubungi. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. Betapa tidak, aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. Dan, tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. Dengan segera aku meneleponmu. Wah, kau lulus ya? Selamat kalau begitu. Tapi, aku sedang sibuk, nanti saja kau telepon lagi. Impian mentraktirmu sirna sudah. PUISI #4

Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Kau sering dimarahi atasanmu. Sering kujumpai kau pulang pagi, bahkan tidak pulang sama sekali. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Tapi aku tidak bisa, karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. Kudengar, kau sering memukul istrimu. Menurutku, itu bukan tindakan seorang lelaki. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita, setidaknya membahagiakannya. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar, di tepi danau. Malam itu, istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu. Layang-layang itu punyamu, yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. Padahal, layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Aku tahu itu. Tetapi, kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. Kulihat wajahmu merah padam. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. Kau kalah taruhan, dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. Namun, kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Kau tarik kerah bajunya, dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. Sebetulnya, yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. Maaf. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita, kau tahu itu. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. Semenjak itu, pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. Melihat kau yang sudah beristri, maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. Kusampaikan keinginanku padamu, dan kau merestui niatku. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. Bisa kau bayangkan, betapa bahagianya aku kini. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. Suatu hari, kau berkunjung ke rumahku. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Kutahu, kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. Namun, kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. Istriku yang cantik, bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. Sebab, aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. Ah, iya, aku pun juga kangen kepadamu, sahabatku. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan

istriku. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. Aku ingin segalanya serba rahasia, sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. Sesampainya di halaman, aku mendengar tawa istriku yang renyah. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela, dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. Kau tengah bersama istriku. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Belakangan kutahu, kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. Meskipun aku terjatuh beberapa kali, kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. Hingga suatu saat, secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku. Kau pun terjerembap ke selokan. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. Namun, kau tidak pernah marah. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu! candanya. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Katanya, kau mabuk berat di sebuah bar. Ia memintaku untuk menjemputmu. Dengan berat, aku menjemputmu. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sahabat yang kukenal sejak kecil. Istrimu yang sering mengeluh padaku. Istriku yang cantik. Perselingkuhan. Dalam pikiran yang terus berputar, aku menjalankan mobilku dengan gila. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. Namun, aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. Dalam pikiran yang terus berputar, kecepatan yang tinggi, malam yang hening dan muram, serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. Akh, kenapa kau harus menyeberang malam itu. PUISI #10 Kau terlanjur mati, sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. Anak-anakmu menjerit hebat, istrimu pingsan. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. Kematian terlalu cepat menurutku, karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. Tapi, kalaupun kubuat, apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat, leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Maaf, aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. Kupikir kau telah mati di tempat. Beruntung, kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. Maaf, sekali lagi maaf. Tetapi, apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati, dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. Aku hanya diam, sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. Bandung, 29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011, kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. Aktif menulis dan bermusik. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna.blogspot.com/. Nomor ponsel (085721904020).

Cerpen

Aku dan Laki-lakiku


Kamis, 13 September 2012 13:45 wib

Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras, karena kapuknya telah mati. Kedua alisnya bertaut. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua. Laki-laki yang malang. Aku yakin, penisnya sudah mengkerut, menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna, sama seperti anggota tubuhnya yang lain; yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. Pak, makan dulu. Kuusap buku jarinya yang kisut. Kulihat akibat kata-kataku. Dia tak bergerak. Pak, kuulangi lagi. Ha, apa? dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Makan, Pak, kudekatkan mulut ke kupingnya. Hmm, ya. Kubantu dia duduk di ranjang. Setelah mengulurkan piring, aku keluar kamar, hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. Buuu! Belum lama aku di dapur, suamiku sudah berteriak. Aku mencium gelagat buruk. Dengan malas, aku beringsut ke kamar. Ada apa? Bubur kok asin sekali?! suaranya keras bertanya. Mana? Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. Mm, ya. Asin sekali. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. Aku ganti, ya? Sebentar aku bikinkan lagi. Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. Minum?! Kuulurkan gelas. Tiba-tiba dia menangkis tanganku. Air pun muncrat, mengenai seprei dan kebayaku. Teeeh! Dia membelalakkan matanya. Sebentar. Aku tergopoh ke dapur. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh, kutolong dia untuk merebah. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. Namun, hatiku menguncup. Seperti biasa, lidahku kelu untuk mengatakannya. Dengan sadar, aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. Tetapi, tak sekali pun aku membaginya. Ketika menikahi dia, aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). Dalam otakku, tertanam ajaran orangtua, bahwa witing tresna jalaran saka kulina, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, akan tumbuh

jika kami sering bersama. Kata ibuku, tugasku hanyalah tidur dengan suami, melayaninya, dan setia kepadanya. Pertama kali tidur bersama, mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. Dengan penuh kehendak, dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. Aku patuh melakukannya. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. Namun, tanpa kusangka-sangka, dia menghardikku! Menurutnya, aku terlalu lambat. Sungguh, aku sakit! Dua pengertiannya. Pertama, sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. Kedua, hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. Dengan sewenang-wenang, suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Dia mendengkur, sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Hal sama terus berulang setiap malam. Sungguh, tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. Sebelum kawin dengan dia, aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. Kata orangtuaku, pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. Dan karenanya, aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku, karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Aku membayangkan, sikap miyayni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. Namun, semua bayanganku jungkir balik. Tak ada tutur kata halus, wajah yang ramah, atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. Yang ada, sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. Seolah-olah di mata suamiku, semua yang kulakukan adalah salah. Apakah aku menyesal? Terus terang, iya. Namun, aku tak hendak menyakiti orangtuaku, tak ingin mendurhakai mereka. Aku harap, seiring berjalannya waktu, suamiku akan melembutkan sifatnya. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan, karena pengabdianku, karena kesetiaanku kepadanya. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. Aku tidak mengeluh, walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. Namun, kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. Dia tega berkhianat, padahal aku sedang mengandung benihnya. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami. Oh, tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut, aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. Dia menolak mengantarkanku, ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian, semuanya gelap. Kutemukan diriku di ranjang. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. Mataku mengerjap, mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. Hardikan suami, tamparan dan tinju yang bertubi-tubi, air ludah yang menyembur, teriakan, lalu gelap. Kuelus perutku. Selesai sudah. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. Aku ingin purik. Dorongan itu begitu kuat mendesak. Tetapi, kesadaran akan posisi diriku, membuatku bisa berpikir jernih. Jika aku nekat purik, mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. O, tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. Namun, aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. Tetap melayaninya. Bukan demi siapa pun, tapi demi diriku sendiri. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. Aku ada di sini karena uangnya. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. Dia majikanku dan aku budaknya. Budak yang berperan sebagai istri. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. Kukatakan, persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun. Yang penting dia tak lupa memberiku uang. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku dapat diandalkan. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya, namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Sejauh ini, aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Orangtua kami bahagia, karena melihat kami tampak rukun. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. Kedudukan suamiku

terpandang, karena di luar rumah, dia sangat ramah dan supel. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. Hal yang dulu sangat kusesalikarena dia lebih mementingkan orang lain daripada akutapi sekarang sudah kumasabodohkan. Dan di sinilah aku kini. Berdiri menghadap punggung suamiku. 42 tahun sudah aku mengabdi. Tulangku sudah rapuh, rambutku memudar, dan tak ada cinta di hati. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan, sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. Sungguh, aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama suami. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. Namun, malaikat maut belum juga menjemput. Padahal, aku tak sabar untuk berucap, Selamat enyah, suamiku! Ledug, 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati, seperti orang-tua atau raja. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua, tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Rumah pelesiran: Rumah bordil. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon/SMS (0281) 5730489. E-mail totokutomo@ymail.com.

Cerpen

Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?"


Senin, 10 September 2012 11:46 wib

SUCI pernah berkata, mengucapkan kata cinta itu mudah. Tapi, untuk mengerti apa artinya sangat sulit. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan, tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya, apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka, maka mata ikut menangis. Selanjutnya mata mengeluarkan air, maka tangan ikut mengusapnya. Apakah cinta seperti itu?, selalu mengerti terhadap satu sama lain. Tapi itu tidak

mungkin. Kalau cinta seperti itu, mengapa ada orang yang mengkhianati cinta, mendustakan cinta, bahkan memalsukan cinta. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta, untuk mengartikan apa itu cinta. Mungkin, setiap orang di dunia ini, memiliki arti kata cinta. Ce. I. eN. Te. A. cinta, itu katanya. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu. Namun, Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. Suci memang sudah tumbuh dewasa. Tapi, ia tak pernah bercinta. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. Sob, aku ingin bertanya kepadamu. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu, apa itu cinta, tanya Suci kepada sahabatnya. Dengan santai sahabatnya menjawab, Cinta, yah aku telah menemukannya. Namun, aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. Setelah saya menemukan pujaan hati, sebagian cinta saya itu, menyatu dengan cinta punjaan hati saya. Hingga cinta saya itu menjadi untuh, jawab sahabat Suci dengan puitis. Suci hanya mengeluh, mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta, semakin susah Suci mengartikan kata cinta. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci, sulit dipecahkan. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini, detektif itu adalah dirinya sendiri. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta, susah baginya untuk melupakan kata cinta. Di dalam hari-harinya, Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta, namun tak pernah ditemukannya. Pernah si pernah, tapi tak masuk dalam logikanya. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. Setiap pagi Suci bangun dari tidur, ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak, Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. Sayangnya, Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari, apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga, seperti namanya, Suci. Penulis: M Hendizal

Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. Hendizal : Hendri : Langgam, 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo.com

Cerpen

Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus


Kamis, 06 September 2012 08:16 wib

KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Tidak perlu kau takut, dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama, pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas, tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah, peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya, hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan, dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat, yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang, dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. Di mana Anda antara pukul 02.00 dini hari sampai pukul 06.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin? Begitu selalu tanya petugas-petugas itu, kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun, pada korban. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. Petugas yang menanyainya bertampang seram, ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan, tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. S-s-sa-sa-say-saya huhu be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka huhu jika Maya akan huhuhu . Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. Namun, tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. Senyap !

Malam telah melewati puncak, tapi dua orang itu, lelaki dan perempuan, belum juga diserang kuap. Asap tipis rokok, yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan, makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam, perempuan itu berbisik perlahan. Kapan kau akan melamarku? Bukankah tadi sudah kita bicarakan tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan, jawab lelaki itu begitu tenang. Tidak mungkin aku menunggu selama itu, kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. Kau boleh tidak menunggu, kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. Hei, apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu? tanya lelaki itu mendadak gusar. Membuat nyalang matanya terpancar, mengerikan. Aku hamil. Aku mengandung anakmu, Win , kata perempuan itu dengan wajah terpaling, takut bersitatap. Ruangan seketika senyap. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya, yang tercampakkan di atas sofa. Lantas memakainya. Kau mau ke mana? rajuk perempuan itu ketakutan. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam, sementara sang waktu terus berjalan. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu, hanya satu yang perlu diketahui; otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil, padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman! Tetapi tidak di waktu-wak . Ah! Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. Disusul debum dari arah pintu depan. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. ***** Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan , sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. Jangan mulai lagi. Kali ini apa yang harus kulakukan? tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. Terbatuk diriku sesaat, sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Namun, tidak untuk mencekikku . Bantu aku, bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku? Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. Namun, lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku, hingga bibir kami bertemu. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. *** Nurlida masih menguntitku, bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. Sekali dua kali aku coba menghindarinya, tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. Memang berbeda gelagat perempuan, yang kepalanya hanya berisikan uang. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. Namun, entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. Aku sedang butuh uang, katanya singkat. Dahiku berkerut, alisku bertaut. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan. Uang? Uang apa lagi? tanyaku berang. Aku mau sepuluh juta, sekarang juga. Atau, perempuan itu terdiam, tidak meneruskan.

Atau apa? bentakku. Perempuan itu menatap sinis. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Membuat sesak! Atau kubongkar permainan busuk kalian pada polisi, bisiknya perlahan. Kesunyian, makin meradang. Membayang, menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya, yang tertutup jilbab biru muda. Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. Setiap hari . Dan akibatnya jalang itu keguguran. Ah, jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. O, sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat, yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus sebagai perangkap. Tapi semua itu idemu, Jas Dan kau yang mewujudkan! selaku penuh senyum kemenangan. Kesunyian itu belum juga terpecahkan, bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Keterkejutan, yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. Kau kenapa May, mimpi buruk ya? tanya Nurlida mendekat. Jas, tolong pegang kue ini. Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh, memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki, pada diriku, yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. Hari itu, tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya, teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia, bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya, Duh, senengnya yang lagi berulang tahun. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!? Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. Dan tanpa disadarinya, ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. Aku telepon ya, kata Nurlida tiba-tiba. Nomor itu sudah tersambung, bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. Halo halo? Win? Nurlida menatap Maya penuh tanya, sebelum mengecek layar ponsel, memastikan teleponnya benarbenar tersambung. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya, dinyalakannyalah pengeras suara. Terdengar jelas, desah napas, dua desah napas sebelum ada yang berkata, Nur, ngapain kamu telepon malam-malam? *** Wah, kamu lihat tadi wajah si Maya sampai pucat pasi gitu. Lucu ya? celetukku, yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. Malam yang bising, benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi, dengan mulut berbusa. (*) Blitar, 23 Juni 2012 3:31 AM

Oleh W. N. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga, Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama, Bulan Kebabian (2011), Cinta Pertama (2012), dan Serahim Nira (2012).

Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. 04/RW. 01, Kecamatan Kanigoro, Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman.widya@yahoo.co.id : 085 233 316 761

Cerpen

Pangeran Tanpa Kata


Senin, 03 September 2012 09:47 wib

DANANG Prabowo, pria terunik yang pernah ku temui. Kurasa, selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya, jika kompetisi itu ada. Pertemuan yang cukup singkat, tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. Sekitar 20 tahun lalu, saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. Tak penting ku sebut namaku, karena bukan aku lah pemeran utamanya. Tapi Danang Prabowo, yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. Maaf, lebih tepatnya, dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. Namun, memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan, tapi pembuktian. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. Tak ayal, jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. "Thanks," kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana, namun berarti itu dipersembahkan untukku. Tapi, tetap saja semuanya tanpa ekspresi, tanpa ucapan. Danang Prabowo. Anak seorang anggota DPR, yang hidup dengan berbagai fasilitas. Wajah tak begitu tampan

tapi terlihat karismatik. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong, karena tingkahnya yang memang tak terbaca. Diam, bak Pangeran Tanpa Kata. Dengan sigap, tangannya memberikan pena padaku. Tepat di depanku, selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. Lantas, dengan pena pemberiannya, ku tulis namaku di kertas absensi. Lagi-lagi, cuma terima kasih yang terlontar. Lantas hening, tanpa jawaban. Sampai suatu hari, dia bicara panjang padaku. Pangeran Tanpa Kata, memberiku tumpangan, saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Dia tengah sibuk, berkutat dengan beritanya. Priaku. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening, kendaraan pun terus melaju. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. Akhirnya dia bicara. "Sudah, tapi gak tau kelanjutannya gimana. Dia sibuk dengan dunianya. Kerjanya," ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku. Soal cinta. Ayahnya, ibunya dan keluarganya yang lain. Dia benar-benar bicara. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. "Hubungan kamu akan baik-baik saja," pungkasnya lalu diam kembali. Mobil yang kutumpangi terus melaju, membawa kami kembali dalam diam. Karena esoknya, Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. "Hubungan kamu akan baik-baik saja," kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Bahwa, cinta kadang tak perlu kata. Penulis Risna Nur Rahayu. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional.

Cerpen

Keroncong Senja
Kamis, 30 Agustus 2012 12:51 wib

SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku Di luar rembang petang. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi, namun kini telah menjelma menjadi kota senja. Semburat senja, menjelang matahari tenggelam, menyapu sudut-sudut kota: di jalanan, gerbang kota, tiang-tiang lampu, stasiun, kereta-kereta usang, delman-delman, tukang becak, sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku, ketika kubuka jendela kamar hotel. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182, Larc en ciel, Aerosmith atau Bon Jovi. Aku dengar suara Pak Surat, penjaga hotel, sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. Jagung-jagung itu masih demikian segar, kepulan uap demikian hangat, menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka. Aku menatap senja, menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar, remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry, yang lainnya menenteng kardus, sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. Ia membentak angkot, karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. Berseragam oranye, berkalung peluit butut, ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Sudah berapa ribu motor, ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah, aku tak bisa membayangkan. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya, Ratri, membawa gudeg dari rumahnya. Ia menyewa tukang ojek, yang dia carter dari pinggiran kota. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu, semenjak aku masih menetek ibuku. Ia masih setia menyajikan gudeg, nasi liwet, dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel panas legi tur kenthel (panas, manis dan pahitnya masa terasa kental). Di bawah merkuri, ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir, yang diatur Pakdhe Jarwo. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. Sudah remaja dia rupanya; diam-diam aku pandang secara lekat. Gadis yang manis. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Ia selalu mengatakan, anaknya adalah titisan Dewi Sembodro, dan aku selalu ketawa mendengar itu. Lah, Dik Sastro ini enggak percaya toh. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. Tapi saya tolak. Bukan apa-apa, lah mereka, anak-anak berandalan di tikungan sana, siapa mau toh, cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. Masak ndak ada pria yang bener toh, Mbok? tanyaku dengan harapan, Mbok Garwami mau curhat. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar, jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. Dik Sastro, mancing-mancing nih. Ndak mau ah, rahasia! ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Ia sudah mengenalku sejak lama, aku sudah menganggap dia sebagai adik. Sebab kami sama-sama semata wayang. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. Suara yang berat dan tersendat. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut, kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Cukup mengatakan nama hotelnya, ia sudah paham. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak, sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. Rambut sebahu agak ikal, berjenggot tipis, kumis tipis, berkaos oblong, bercelana jin sedikit pudar, sandal jepit, tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi, meski aku baru

turun dari kereta eksekutif. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel, aku rogoh kantong jaketku. Sepotong surat warna ungu, bertulis tangan. Di dalam becak, aku buka kembali surat itu. Aku simak bait-bait surat itu. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. Cepatlah datang, Mas, demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. Aku kaget membaca surat itu. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku, tapi tulisannya berbeda. Ternyata, tulisannya ditulis oleh Ratri. Ya, ia begitu dekat dengan keluargaku. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. Makanya, aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku, meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. Kangen memang menunggu suratnya. Hati ini selalu begitu gemetar, membaca tulisan tangannya. Tulisan itu tidak begitu panjang, hanya enam baris. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Aku hafal betul tulisan itu. Ia tak suka bertele-tele, singkat padat dan berisi. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. Ia begitu agung bagi hidupku. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. Meski sudah berumur 67 tahun, ia masih suka membaca. Ia seorang kutu buku sejak remaja. Darinyalah aku belajar sastra, dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye, Sapardi Djoko Damono, atau Danarto. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan, sebuah harian yang baru didirikan. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. Di tumpukan baju teratas, surat itu diletakkan di atas. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Tulisan latin tempo dulu, seperti guru-guru SD-ku. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. Hati-hati di rantau. Kamu harus banyak belajar. Semoga sukses. Doa ibu selalu menyertaimu. Jangan lupa, tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak, tulisnya. Pertama kali aku menerimanya, hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. Meneteskan air mata. Suara muadzin baru saja selesai. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan, bersanding di liang suami yang ia cintai. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini, karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Tapi, sebenarnya bukan itu saja, pemilik hotel ini adalah paklikku, dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. Kamar di lantai satu, berada di depan, sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja, ya seperti senja kali ini, selepas hujan. Dan dia selalu berujar, Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita, ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia, sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. Dari empat toko, lagu itu terus yang ia mainkan. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba Balai Kota DKI Jakarta, 01.00 WIB 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Nugroho, seorang blogger cum wartawan. Ia lahir di Purworejo, 20 Juli 1985. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III, Pejaten Timur, Jakarta Selatan.

Cerpen

Sepucuk Surat untuk Rafa


Rabu, 29 Agustus 2012 13:59 wib

Rafa, langsung mandi, salat, habis itu langsung cuci piring! perintah ibuku dari luar kamar. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. Aku pun hanya mendesah. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur, belum lagi seragamku yang masih melekat, ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini. Ya, tidak dipungkiri lagi, sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen, tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. Kalau tidak tugas, ya, ulangan harian. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? Nanti, bu! jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. Ya, memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah tidur. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat keras. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. Seperti biasa, ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku kebiasaan aneh sejak kecil. Di antara pandangan yang gelap, aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan, kimia dan sejarah. Heh, benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini. Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum! Suara itu benar-benar menggangguku. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi, teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Kamu itu sudah besar, harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. Lebay, siapa suruh bentak-bentak. Ibu tahu kamu capek. Memang. Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. Bantu-bantu sedikitlah. Apa susahnya, sih, cuci piring? Ya,

tadinya begitu, tapi mood menolongku menghilang. Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. Pura-pura tidak dengar. Ya, ya, ya! sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. Dan tentu saja, pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama. Bosan! Keesokan harinya Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari, kamu malah santai-santai. Kalau seperti ini terus, Ibu tidak mau lagi mengurusimu. Ibu lelah! Okelah Whatever Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru. Aku memang ingin cepat pergi. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi, its oke! Aku bisa menata diriku sendiri. Makanan di meja ku lewati begitu saja. Sebenarnya lapar juga sih, tapi gengsi dong. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. Inilah aku, selalu lari dari masalah. Kenapa mukamu seperti itu, Fa? tanya Nysa sesampainya aku di kelas. Au, ah, gelap, sahutku cemberut. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. Terang saja. Tanpa tidur siang, menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa. Selain tidak konsentrasi, sulit juga memahami tulisan yang dibaca. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya. Yah, seperti saat ini. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. Memang, aku tidak mahir Bahasa Inggris, tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami, aku justru semakin mengantuk dibuatnya. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. Rafa Afifah. Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas. Ada titipan dari ibu, kata Pak Wiji, satpam sekolahku. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. Tapi ternyata tidak hanya itu, ada sepucuk surat terlampir di sana. Ku buka surat itu perlahan. Untuk Rafa, Rafa, maafkan ibu karena terlalu keras padamu. Ini uang sakumu. Kau pasti lupa membawanya. Oh iya, ibu mau pergi. Nanti jaga rumah, ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. Aku hanya mendesah. Lagi-lagi harus jaga rumah. Ah, dari pada di rumah sendiri, lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini, Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah, karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini Setelah acara dibuka, saatnya membaca ayat suci Alquran. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat, ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15, bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. Ibu kita telah mengandung, menyusui, dan menyapih kita dengan susah payah, jelas mentor Sisan. Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. Kita tidak boleh membentak, bahkan hanya dengan berkata ah saja kita tidak diperkenankan. Jleb, dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku. Ya Allah, ampunilah dosa hambaMu ini, batinku. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. Aku teringat pada Ibu. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir, aku merasa suatu sensasi yang aneh. Jantungku serasa berdegup lebih keras. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu.

Tapi, bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh, mungkin saja mereka sudah pulang. Yap, aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Namun, setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat, aku mulai melihat ada yang janggal. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda. Ternyata Paman Dika. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. Ada apa Paman? tanyaku ragu. Ibumu Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. Tanpa benar-benar diperintah, kakiku melangkah lebih cepat. Hatiku benar-benar tidak keruan. Tidak mungkin Ibu telah pergi. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. Tidak mungkin! Fa, Rafa! Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab. Bangun, Fa! Pak Jono sudah keluar. Tidur saja pekerjaanmu. Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? Fa, kenapa kamu menangis? tanya Nysa menyadarkanku. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Itu kan cuma mim kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. Ya Allah, apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15.00 WIB nanti. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. Meski Nysa sudah menenangkanku, tapi hatiku tetap tidak mau diam. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Aku tidak mau terlambat Tett, tettt, teeettt Bel pulang berbunyi. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia, Ibu. Assalamualaikum! Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. Waalaikusalam Ku peluk ibuku erat-erat. Kamu kenapa, Fa? tanya Ibu tampak bingung. Bu, maafkan Rafa, Bu. Rafa benar-benar khilaf. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa, kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. Ibu sudah memaafkanmu, nak. Ibu juga minta maaf, ibu tidak bermaksud memarahimu, Fa. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Aku benar-benar menyesal. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu, tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen, Jawa Tengah. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi.

CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini


Arpan Rachman 21:37 wib Selasa, 28 Agustus 2012

AKU dan Qazi - istriku yang cantik - baru saja menikah. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Ya, tentu saja, di Menteng, di mana lagi? Di ibu kota, siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. Belum lama juga kami tinggal di sini. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. Nomornya, 1945. Sebulan silam, rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. Aku tidak menawar harganya lagi. Esoknya, cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku, Nani, untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. Sertifikatnya ternyata aman, tak ada masalah. Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. Sertifikat dipalsukan, sehingga jadi berganda. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa, lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN, Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. Sesaat, kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. Tapi tak mengapa, tak jadi soal. Aku bisa menebalkannya kembali. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu, setiap hari. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Begitu mudah aku memilikinya. Begitu mudahnya Aha, engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini, bukan? Tenang saja, semua akan kuceritakan kepadamu, semuanya. Tapi jangan kaget, jangan heran. Ceritanya panjang, namun baiklah kupendekkan saja. Cuma ini rahasia di antara kita. Tak seorang pun

boleh tahu mengenai ini cerita. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. Untunglah, syukurlah. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. Tanggung kelihatannya di mata. Aku bisa santai terus. Bersembunyi diam-diam. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Hanya koran-koran, majalah-majalah, televisi-televisi, dan radio-radio saja yang ternyata gatal tangan membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. Siapa yang mencurinya? Tentu saja, boleh kau terka. Eh, memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta, posisiku masih aman tenteram. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. Sebab, kendati begitu, para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. Setahun lalu, ketika orang-orang mulai ribut, aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. Seorang wartawan kecil yang usil, secara sembarangan bertanya, Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan? Kubantah keras dia. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini, ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. Sehari sebelumnya, dalam sidang kasus korupsi proyek itu, terdakwanya bekas bendahara Partai, mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku, si bendahara, dan seorang kepala departemen. Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai, kataku lantang, awalnya. Lalu, kemudian suaraku tergagap lagi. Terterutama orang-orang yangyang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan, itu tuduhan yang tidak ada buktinya. Saya persilakan saja aagar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Soal pemeriksaan rek rekening petinggipetinggi Partai guguna memperjelas kasus ini, saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai. Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana tertertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. Aku berhasil membuat publik kagum. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut, memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil, setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. Hanya kakak sulungku saja, satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku, mantan artis berambut panjang, bintang iklan shampoo. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya mertua kakakku yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Mereka kakak dan istri artisnya kini sudah beranak satu. Keponakanku yang lucu. Ketika orang mulai ribut-ribut, beberapa bulan lalu. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. Pesta pernikahanku dengan Qazi, yang sssttt

ini rahasia ya sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. Dia merajuk, bahkan, sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. Tapi hari baik itu tiba juga. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku, akhirnya aku menikah. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang. Di sebelah meja lainnya, tepat di samping kiri, duduklah saksi dari mempelai perempuan, yaitu Pak Amin. Di seberangnya, saksi dari mempelai laki-laki, entah siapa namanya aku lupa. Sebelum akad nikah, dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. Berikutnya, khutbah pernikahan. Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai! ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. Nyaris tanpa jeda, sedetik saja, kemudian, kujawab: Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut, tunai. Lafazku tumben tidak gagap, disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan, Sah! Ucapan serempak itu mirip koor lagu suara satu ditingkahi suara dua telah dilatih sebelum acara. Setelah bulan madu keliling Eropa, kami pindah ke rumah ini. Sebelum kubeli, kondisi rumah seperti tidak diurus. Rumah yang modelnya bagus nian. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. Luasnya 363 meter persegi, sedang lahannya 850 meter persegi. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. Namun, kami sering tidak saling bicara di rumah. Berdiam-diaman saja, walaupun tinggal berdua. Dia istriku Qazi tahu. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Padahal, dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. Mulanya, menurut sebuah cerita, dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. Setiap sore, dulu, hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris Wak Uban! setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. Gara-gara apalagi, kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain bukan ibuku saat menjalani dinas pendidikan tentara. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa, ibuku langsung jatuh pingsan. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Kalau di Negeri Jiran, alamak, entah apa jadinya. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat, sampai hukum mati. Buat menutup isu penangkapanku, kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. Ah, memang, selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama berita panas, kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain.

Para pengusut pun unjuk gigi. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. Semua pelakunya orang Partai. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Kini, mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran, majalah, televisi, dan radio yang gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. Mereka para wartawan yang kurang ajar itu bahkan, mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Bila mataku letih, kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Matahari memancar, tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. Tak lama membaca, karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an, saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Sebelumnya, oleh Si Belanda pertama, rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Di ruang tamu banyak perabot antik. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. Sementara itu, dari ruang tengah, di televisi terdengar suara penyiar membaca berita, menyebutkan bahwa namaku semakin melambung, membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. Tentu saja, yakinlah Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. Bergegas aku berjalan ke garasi. Dengan anak kunci itu, kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers, siang nanti. Tapi acara belum dimulai, lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir, dia menyapa Selamat pagi! sebagai basa-basi. Lalu langsung menodongkan alat perekam, menembakku dengan pertanyaan klise. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy, narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Kini, langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. Bagaimana komentar Bapak? wartawan kecilku mendesak. Dalam sebuah bayangan yang tulus, komentarku akan berbunyi lancar: Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Enam bulan lalu, karena mengisap narkoba, saya tertangkap polisi di Singapura. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik, melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. Tapi dia bukan wartawan yang pintar, kukira. Kupikir, lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati.

Pengampunan ini, terterlepas dari diberikan kepada siapa sekali lagi saya tekankan: terterlepas dari diberikan kekepada siapa pun, merupakan perbuatan yang baik. Menunjukkan pada orang lain bahbahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh babaik pula bagi warga negara kita sendiri yangyang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. Terakhir, sebelum pergi, aku berusaha serius. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Saat ini, kataku, ada 2200 lebih WNI yang sudah diselamatkan dadari dakwaan pembunuhan, narkoba, dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya terterjadi di negara lain. Kuberi dia senyum kecil. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. Masuk kantor Partai, kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. Kukunci pintu, setelah kukatakan kepada Nani, jangan mengganggu dulu: Aku mau belajar. Ya, biasa, di kantor, aku belajar terus supaya makin cerdas. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik. Kurogoh saku, kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan meth. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. Aku tak pernah henti-henti belajar. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini, maka harus kuhentikan sendiri, sekarang juga. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku, mungkin semuanya sudah basi. Sudah basi...*** Penulis Arpan Rachman Makassar, 30 Juni

Cerpen

Kesucian Imah
Senin, 04 Februari 2013 11:59 wib

PUNCAK, Bogor. Tengah malam. Dingin menusuk tulang. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. Sepi. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Andai saja tak ada kendaraan lewat, maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya, sepi pengunjung. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda-

mudi, berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. Pikirannya sedang gundah. Sore tadi, ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Pasalnya, anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya, Har jarang pulang ke rumah. Ia selalu menginap di hotel. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan, anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. Akibatnya, Har berang bukan main. Ia memarahi bayi kesayangannya, menempeleng sekali, menyuruhnya naik ke kamar atas. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. Terjatuh sekali di pintu gerbang, selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu, Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar, terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. Jangan tanya soal pembantu, paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya, yang semula menetap seatap, memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga, mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan Mertua Indah. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter, para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. Terserah apa mau kalian, saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini, demikian Har pada suatu ketika. Namun yang terbaik bagi Har, ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. Di rumah besar milik Har, mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Har sudah mengaturnya. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua, dijamin beres. Tetapi Har lupa, sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. Di mana, ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. Tidak perlu mencampuri. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal, akibatnya ya, itu tadi. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. Hanya berselang dua bulan, Fikri pun menyusul. Alasannya, hanya mengamini sikap kakaknya. Tinggal Har dan Novi, anak bungsunya yang perempuan. Mungkin karena waktu itu masih SMP, ia tak banyak ulah. Nunut saja apa kata ayahnya. Namun seiring perjalanan waktu, sikap si bungsu pun mulai berubah. Yang Har tak sadari, ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Sama-sama kepala batu. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. Di depan Har, Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. Akibatnya, apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya, ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. Har menatap jauh menembus kabut, menerobos rimbunan daun teh, melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. Ia tarik napas dalam-dalam, dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. Kepalanya terasa agak ringan, pikiran pun mulai jernih. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. Sendirian Oom? tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Har tersentak. Menoleh. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. Har terhenyak dari lamunannya.Gelagapan, hingga belum tahu harus menjawab apa. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang

dipenuhi tumbuhan teh. Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman, serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Har masih terpaku, berpikir menentukan sikap. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir, lalu biarkan waktu yang akan menentukan. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik, Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. Oh.., tentu, meluncur juga perkataan dari bibir Har. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang, memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. Apa yang sejak tadi Om perhatikan, ia tersenyum. Har diam. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar, tentunya tengah dilanda gejolak batin. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi, mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. Kulitnya agak gelap, hitam manis. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa.Namun bila menilik dari parasnya, Har tak menolak untuk dimangsa. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. Di sini dingin sekali ya Oom, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. Mobil Om yang itu kan? Suaranya lembut, selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata, yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har, tentunya wanita ini belum profesional. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. Sama seperti Har. Boleh. Ya, yang itu, Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Om gak bawa sopir kan, nyetir sendiri. Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Dalam hatinya ia menggerutu, sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Namun yang keluar dari mulutnya malahan. Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya, katanya sih kembar. Si Gadis tersenyum, ia tahu kalau si Om ini agak kikuk, sekikuk dirinya. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. Apa pedulinya. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu, rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya, itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata. Formil dan serba tergesa-gesa. Saya ada vila di sekitar sini, mau kau kuajak ke sana? ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak. Kenapa tidak, Om, gadis itu menyahut sambil tersenyum. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. Har merasa aneh, setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. Serasa ada ganjalan. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. Sesaat mobil bergerak perlahan, perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. Ke hamparan kebun-kebun teh, ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk, lupa pada Novi yang habis ditempelengnya. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. Har menoleh. Perempuan itu masih memandang keluar, menembus kaca jendela, menunggangi kabut di puncak pegunungan.

Oh ya, siapa namamu. Saya Har, Haryanto, Har memperkenalkan diri. Terasa aneh juga bagi Har, soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. Sekarang malah ia yang mendahului. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. Saya Imah, Om. Nama yang sederhana, sesederhana dandanan dan sikapnya.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina, misalnya. Atau Sherly, atau Melly, atau. ah, pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. Biar dibilang gadis modern, seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. Nama kota, namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota, terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini, atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi, yang telah lebih dahulu dapat sewa. Belum terjawab uneg-uneg Har, mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. Hanya butuh waktu lima menit, si Mamang begitu Har memanggilnya penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. Tadi dia kira itu Novi. Tapi sebagai penjaga vila yang baik, yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun, si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. Saya rapikan dulu kamarnya, Gan. Agak berantakan, habis Agan jarang menginap ke sini, tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung, tapi sedikit melirik pada Imah. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. Tentunya kamu kedinginan sekali bukan, minum ini untuk menghangatkan badan, ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. Imah inginnya menolak. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis, tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya, membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Hanya sesekali Imah berkomentar, selebihnya berupa ribuan anggukan.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis, Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. Saya sedang kesulitan uang, Om. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya. Hahaha, tidak usah khawatir. Berapa biaya yang kamu butuhkan.Har tertawa terbahak-bahak. Jelas, Har telah mabuk. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula, kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila, kalau bukan demi uang. Dan malam itu, kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau, kembali mencair, mendidih dan menggelora. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk, tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. Har memang tidak lupa, di sela-sela mabuk dan kepuasannya, ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. Masih terasa pusing, ia turun dari tempat tidur. Imah sudah tak ada di sisinya. Sebagai penggantinya, ada bercakan merah di atas kain sprei. Langsung hilang pusing Har. Ia memeriksa isi dompet, kosong. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang

tak beringsut dari tempatnya. Ia ingat, dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. Har meraba bercakan merah, menggosok-gosokan dengan kedua jarinya.Ia tersentak. Astaga, perempuan itu masih perawan. Har merenung, Imah, perempuan desa yang lugu, ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. Hanya tiga ratus ribu. Begitu nistanya aku, begitu egoisnya aku.Ada sesal yang menggayut di pundak Har. Tapi apa mau dikata, perempuan itu telah terbang jauh, kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. Ingin sekali Har menyusul Imah, menemui orangtuanya, meminangnya untuk dia peristeri, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. Tapi di mana Imah, di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta, 2012