Anda di halaman 1dari 29

[Type text]

STATUS PSIKIATRI
1. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Bangsa/suku Alamat No. RM : Ny. EW : 41 tahun : Islam : D3 fisika : Pensiunan Guru : Indonesia/Jawa : Duku,Jambitan , Bangun Tapan, Bantul : 154614 Jenis Kelamin : Perepun

Tanggal masuk rumah sakit : 27 agustus 2012 2. ALLOANAMNESIS

Diperoleh dari Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Pendidikan Hubungan Lama Kenal Sifat Perkenalan Tempat Wawancara

1 Ny. SY 63 tahun Perempuan Duku,Jambitan , Bangun Tapan, Bantul Ibu rumah tangga SKP Ibu Kandung Dari lahir sampai sekarang Dekat Rumah pasien

2.1. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama)

[Type text]

Pasien datang ke rumah sakit karena obat habis dan ingin meminta obat. Pasien masih merasa sering murung gelisah dan sulit tidur jika obat habis. 2.2. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang) Autoanamnesis Pasien mengatakan sejak tahun 1993 atau pada umur 22 tahun ibu EW merasa mengalami perubahan tingkah laku, beliau sering murung, pendiam, dan sering menangis. Sebelumnya ibu EW tidak pernah berperilaku seperti itu. Kejadian ini berlangsung sejak ibu EW mengahdapi ujian akhir D3 fisika di UGM. Tiba tiba, ibu EW sering tampak sedih, menangis dan sering berdiam diri dikamar. Setelah itu pasien sering merasa bahwa badannya tidak enak, mual dan psuing karena menghadapi ujian. Bahkan sempat ingini mengundurkan diri dari kuliah. Pasien jarang keluar rumah karena pasien termasuk anak yang pandai sehingga selalu belajar dan dirumah saja. Selama awal kuliah pasien masih bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan mendapat nilai yg baik di kampusnya. Tapi pasien merasa selama kuliah otaknya diforsir untuk belajar terus. Dsn merasa semakin lama semakin berat pelajaran yang dia terima, sehingga sulit untuk pasien menyesuaikan diri dengan pelajaran, sehingga pasien merasa ingin keluar dan depresi. Tetapi pada ujian akhir pasien merasa takut dan pesimis menghadapi ujian, pasien murung dan sedih gelisah. Dan hasil dari ujian tersebut memang buruk, tetapi pasien masih bisa lulus dan wisuda karena nilai-nilai pasien dari awal bagus, sehingga nilai pasien masih bisa ditunjang dengan nilai-nilai sebelumnya. Pada tahun 1993 pasien menikah dengan suaminya Bpk G. Sebelum menikah pasien merasa ada suara suara burung dan seperti suara dihutan. Sehingga sebelum menikah pasien pernah tidur bareng ibu kandungnya. Dan pada saat itu pasien pernah melihat bayangan dirumahnya hitam dan merah seperti makhluk halus. Mahluk hitam itu baik sedangkan

[Type text]

makhluk halus yang merah bisa merasuk ketubuh pasiem, tetapi pasien sering menolak untuk dirasuki. Setelah itu tahun 1994 pasien mengalami gangguan depresi lagi, merasa sedih dan gelisah, sulit tidur dan sulit makan. Ini dikarenakan ibu EW hamil dan merasa khawatir dengan kandungannya. Karena sebelumnya pada tahun yang sama 1994 pasien pernah hamil anggur dan dioperasi curet disarjito, dan saran dokter jangan hamil dulu sebelum 2 tahun, tetapi baru 5 bulan pasien hamil kembali. Pasien khawatir dengan kandungannya, sehingga pasien depresi lagi, murung, sedih dan tidak mau makan. Apalagi kandungan pasien besar, bayinya 4kg saat lahir. Dan sempat mondok di Puri Nirmala sewaktu hamil. Selama ini pasien rajin berobat ke sarjito. Selama pengobatan ini, tahun 1994 pasien diterima menjadi guru di sekolah SMP PUTRATAMA, SMP swasta yang beragama nasrani, pasien dipaksa untuk lepas jilbab karena disana adalah sekolah nasrani. Selama itu pasien tidak mau copot jilbab, dan itu membuat hati pasien berkecamuk dan merasa depresi lagi, murung, sedih dan menagis, pekerjaan pun tak nyaman. Sulit tidur dan malas buat makan. Pada tahun 1996, pasien mengalami depresi lagi, sulit tisur, menangis, murung dan mengurung diri di kamar. Padahal pada tahun itu sang suami sedang dalam masa jaya-jayanya dalam bekerja. Pekerjaan sang suami saat itu wiraswasta material ato bahan bangunan, bahkan mempunyai 3 buah truck. Tapi pasien malah stress,depresi dengan situasi dan kondisi tersebut, pasien merasa tidak nyaman dengan suasana yang ribut dirumah, suasana ramai. 1997 pasien pernah dirawat di RSJ. Grasia, karena disarankan oleh kakak pasien, teman kakak pasien langsung sembuh ketika berobat disana. Selama dari tahun 1997 sampai tahun 2011 pasien masih mengalami rasa gelisah, tak nyaman, sulit untuk bersosialisasi.tetapi masih bisa tidur, mengurus diri, makan masih mau. Bahkan sudah bekerja sebagai PNS di SMP negeri bantul.

[Type text]

Pada tahun 2011 pasien mengajukan pensiun dini dikarenakan pasien tidak nyaman dengan suasana. Pasien merasa sering lemot cara berfikirnya, sulit untuk mengajar disekolah, dan semua kerjaan tidak selesai, tak bisa beres. Pasien sering menjadi bahan ejekan dan rerasan oelh teman-teman sekantornya. Bahkan teman kantor pasien sering mendatangi dia dan mengatakan bahwa pekerjaannya jelek, tak selesai. Sejak itu pasien murung lagi, sedih depresi, tak bisa tidur tak mau makan, sehingga lebih memilih untuk pensiun dini. Pada tahun 2012 tepatnya bulan juni pasien mengalami kecelakaan segingga pasien sedih. Merasa murung sulit tidur dan sulit makan. Selama ini pasien sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar rumahnya, pasien merasa ada teror yang menggangu. Padahal pasien sadar dan tahu bahwa teror itu tidak ada, tetapi tetap saja pasien tidak mau keluar rumah. Bahkan untuk sholat berjamaah dimasjid pun pasien enggan. Pasien tidak mau arisan, tidak mau rewang atau bersosialisasi dengan tetangga.

Alloanamnesis 1 Sejak berumur 22 tahun atau tepatnya pada tahun 1993 yang lalu ibu Ew mengalami perubahan tingkah laku, beliau sering murung, pendiam, dan sering menangis. Sebelumnya ibu EW tidak pernah berperilaku seperti itu. Dari penjelasan ibu kandungnya kejadian ini berlangsung sejak ibu EW mengahdapi ujian akhir D3 fisika di UGM. Tiba tiba, ibu EW sering tampak sedih, menangis dan sering berdiam diri dikamar. Setelah itu pasien sering merasa bahwa badannya tidak enak, mual dan psuing karena menghadapi ujian. Bahkan sempat ingni mengundurkan diri dari kuliah. Pasien sejak kecil memang tidak banyak bicara, hanya belajar terus. Bahkan untuk keluar rumah saja jarang karena pasien termasuk anak yang pandai sehingga selalu belajar dan dirumah saja. Selama awal kuliah pasien masih bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan mendapat

[Type text]

nilai yg baik di kampusnya. Kata ibu kandung, paien tak pernah lepas dari buku, kemana-mana bawa buku. Tetapi pada ujian akhir pasien merasa takut dan pesimis menghadapi ujian, pasien murung dan sedih gelisah. Dan hasil dari ujian tersebut memang buruk, tetapi pasien masih bisa lulus dan wisuda karena nilai-nilai pasien dari awal bagus, sehingga nilai pasien masih bisa ditunjang dengan nilai-nilai sebelumnya. Pada tahun 1993 pasien menikah dengan suaminya Bpk G. Sebelum menikah pasien merasa ada suara suara burung dan seperti suara dihutan. Sehingga sebelum menikah pasien pernah tidur bareng ibu kandungnya. Dan pada saat itu pasien pernah melihat bayangan dirumahnya hitam dan merah seperti makhluk halus, dan ibu kandung sempat membawa kyai untuk membersihkan rumahnya. Dan ternyata benar, kata kyai ada 2 makhluk hitam dan merah, makhluh halus yg hitam yang baik sedang kan yang merah yang jahat. Setelah itu tahun 1994 pasien mengalami gangguan depresi lagi, merasa sedih dan gelisah, sulit tidur dan sulit makan. Ini dikarenakan ibu EW hamil dan merasa khawatir dengan kandungannya. Dan sempat mondok di Puri Nirmala sewaktu hamil. Selama ini pasien rajin berobat ke sarjito. Pada tahun 1996 kata ibu kandung, pasien mengalami depresi lagi, sulit tisur, menangis, murung dan mengurung diri di kamar. Padahal pada tahun itu sang suami sedang dalam masa jaya-jayanya dalam bekerja. Pekerjaan sang suami saat itu wiraswasta material ato bahan bangunan, bahkan mempunyai 3 buah truck. Tapi pasien malah stress,depresi dengan situasi dan kondisi tersebut, pasien merasa tidak nyaman dengan suasana yang ribut dirumah, suasana ramai.

[Type text]

2.3. Anamnesis Sistem (Keluhan Fisik dan Dampak terhadap Fungsi Sosial dan Kemandirian) Sistem Saraf Sistem Respirasi Sistem Digestiva Sistem Urogenital : nyeri kepala (+), demam (-), tremor (+) : sesak nafas (-), batuk (-), pilek(-) : BAB normal, mual (-), muntah (-), diare (-), sulit makan (-), Sakit perut (-) : BAK normal biru (-) Sistem Muskuloskeletal : edema (-), nyeri sendi (-), bengkak sendi (-), nyeri otot (-), kelemahan otot (-). Secara organik, tidak terdapat kelainan apapun. Kecuali pasien mengeluhkan sakit kepala yang terjadi kadang - kadang serta tangan kirinya kesemutan. Pada pasien juga tidak terdapat hambatan yang mengganggu dalam fungsi sosial dan kemandirian yang disebabkan oleh gangguan dari aspek kejiwaan. Secara sosial ibu EW sulit dapat bergaul secara normal, meski menurut tetangga ibu EW terkadang masih mudah tersinggung, teteapi hal ini tidak begitu mengganggu. Ibu EW juga bisa melakukan aktifias sehari hari tanpa harus di bantu maupun disuruh oleh orang lain. Sistem Integumentum : warna biru pada kuku (-), gatal pada kulit (-), biru-

Sistem Kardiovaskular : nyeri dada (-), edema kaki (-)

[Type text]

2.4. Grafik Perjalanan Penyakit Gejala Klinis

Mental Health Line/Time 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2011 2012

Fungsi Peran

2.5. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu 2.5.1. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit Faktor Organik Panas, kejang, dan trauma fisik sebelum mengalami gangguan di sangkal oleh narasumber. Faktor Psikososial (Stressor Psikososial) Pasien merasa tidak bisa berbuat apa-apa, minder dan merasa kurang Faktor Predisposisi - Penyakit herediter disangkal oleh narasumber. Faktor Presipitasi Dari penuturan narasumber alloanamnesis, narasumber tidak mengetahui apa yang menjadi masalah. Pasien juga mengaku tidak memiliki masalah. 2.5.2. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya

[Type text]

Pasien menderita gangguan jiwa sejak tahun 1993, pernah dirawat di puri nirmala 1x dan sudah pernah 1 kali opname di RS Grasia. Dari kecil hingga sekarang pasien memang pendiam tak banyak bicara. Dan lebih sering murung, menangis Riwayat Sakit Berat/Opname - Alloanamnesis 1 1 kali dirawat di RSP. Sarjito karena operasi curet 1 kali dirawat di Puri Nirmala 1kali di RS Grasia.

2.6. Riwayat Keluarga 2.6.1. Pola Asuh Keluarga o Alloanamnesis 1 Pasien merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara. Pasien adalah anak perempuan sendiri. Pasien berasal dari keluarga mampu, pasien bisa sekolah hingga D3, dan kakak adeknya bia sekolah sarjana semua. Keluarga pasien termasuk keluarga yang rajin untuk shalat atau beribadah saat kecil, bahkan punya gazebo untuk pengajian anak-anak kecil dikampungnya. Ibu kandung pasien sangat sayang dengan pasien dan merasa khawatir dengan keadaan pasien. 2.6.2. Riwayat Penyakit Keluarga Dari hasil alloanamnesis dengan ibu kandung pasien, beliau mengatakan keluarga tidak ada yang memiliki kelainan serupa dengan pasien. 2.6.3. Silsilah Keluarga Dari hasil alloanamnesis dengan ibu kandung pasien, kami hanya dapat informasi silsilah keluarga mulai dari orang tua mereka bukan dimulai dari kakek nenek.

[Type text]

6 3

6 7

4 3 4 1

3 9

4 7

4 5 4 3 5

1 7 Keterangan : : pasien

1 1

2.7. Riwayat Pribadi 2.7.1. Riwayat Kelahiran Narasumber mengatakan tidak tahu /tidak ingat proses kelahiran pasien. Tetapi dari alloanamnesis pada ibu kandung pasien, pasien lahir secara normal di bidan, tak ada kelainan tetapi sewaktu kecil imunisasi tidak lengkap 2.7.2. Latar Belakang Perkembangan Mental Menurut pengakuan ibu kandung pasien, perkembangan mental pasien sejak kecil sama dengan teman-teman sebayanya yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. 2.7.3. Perkembangan Awal Tumbuh kembang seperti anak-anak pada umumnya.

[Type text]

2.7.4. Riwayat Pendidikan SD SMP SMA UNIVERSITAS : lulus dengan baik : lulus dengan baik : lulus dengan baik : lulus dengan baik

2.7.5. Riwayat Pekerjaan : Setelah menikah, pasien mendapatkan pekerjaan sebagai guru fisika di sebuah SMP swasta di bantul dan pernah menjadi guru SMP negeri di bantul diangat PNS di bantul. Tetapi pada tahun 2011 pasien melakukan pensiun dini. 2.7.6. Riwayat Perkembangan Seksual Pasien sering melakukan oral seksual dengan suaminya, tetapi suam tidak berkebaratan dengan apa yg dilakukan istrinya. Sebulan yang lalu pasien berhubungan seksual dengan suami setelah itu pasien merasa IUD yang dipasang naik keparu-paru dan merasa sakit. Tadi malam suami pasien menginginkan berhubungan seksual, tetapi sang istri tidak mau karena pasien sedang menstruasi sehingga tidak bisa melayani kebutuhan rohani suami. Pasien merasa bersalah karena tidk bisa melayani sang suam. Tetapi sang suami tidak masalah. 2.7.7. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual Agama Islam Rajin Sholat Kecenderungan ke arah fanatisme agama disangkal 2.7.8. Riwayat Perkawinan : Pasien menikah dengan sang suami saat ini dan dikaruniai seorang 2 orang anak, 1 anak perempuan kelas 3 SMA sedangkan yang ke 2 anak lakilaki kelas 5 SD, tetapi tidak ada masalah dalam perkawinan.

10

[Type text]

2.7.9. Riwayat Premorbid) Ramah

Kehidupan

Emosional

(Riwayat

Kepribadian

Tidak Suka berbagi cerita dengan suami dan keluarga 2.7.10. Hubungan Sosial Menurut penjelasan dari narasumber dan ibu kandung pasien, pasien sulit bersosialisasi dengan tetangga, bahkan untuk peri ke mushola saja pasien enggan berangkat karena takut dengan teror 2.7.11. Kebiasaan Ibu kandung pasien mengatakan bahwa sebelum pasien mengalami gangguan jiwa yaiu sekitar tahun 1993 yang lalu pasien jadi mudah mnangis, sulit tidur, sulit makan, dan hanya berdiam diri, mengurung diri. Tetapi sebelum tahun 1993 pasien memang tipikal orang yang pendiam, jarang bercerita dan sulit untuk bersosialisasi

2.7.12. Status Sosial Ekonomi : Keluarga ibu EW merupakan keluarga yang mampu, melihat dari ibu EW tinggal 1 rumah dengan suami, 2 orang anak, 2 orang tua. Bangunan rumahnya dari semen yang baik. Merupakan juragan benih padi didesanya. Termasuk keluarga yang berada meurut tetangganya. Mempunyai 3 buah truck. 2.7.13. Riwayat Khusus Pengalaman militer (-) Urusan dengan polisi (-) 2.8. Tingkat Kepercayaan Alloanamnesis Alloanamnesis 1 : dapat dipercaya

11

[Type text]

2.9. Kesimpulan Alloanamnesis Sejak tahun 1993 pasien mengalami gangguan depresi, dan pernah mondok di puri nirmala tahun 1994. Pernah mondok di RSJ. Grasia. Saat di opname di puri nirmala karena sulit tidur , gelisah, menangis terus dan sulit makan, padahal pasien sedang hamil. Keluarga pasien cukup bahagia, ekonomi yang mencukupi dan kedua anak pasien sudah besar dan membanggakan. 3. PEMERIKSAAN FISIK 3.1. Status Praesens 3.1.1. Status Internus Tanggal Pemeriksaan: 27 agustus 2012 Keadaan Umum : Compos Mentis (tidak tampak sakit jiwa). Bentuk Badan Berat Badan Tinggi Badan Tanda Vital - Tekanan Darah : 120/80 mmHg. - Nadi - Respirasi - Suhu Kepala Leher JVP : : 82 x/menit. : 16 x/menit. : 36,1C : tidak ditemukan kelainan. : tidak dilakukan pengukuran : tidak dilakukan pengukuran

Inspeksi wajah : tidak ditemukan adanya kelainan Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-) : Inspeksi : leher tampak bersih. : tidak dilakukan pemeriksaan

Thorax

12

[Type text]

- Sistem Kardiovaskuler : S1 S2 reguler - Sistem Respirasi Abdomen Sistem Gastrointestinal : bising usus (+), NT (-) Sistem Urogenital Ekstremitas - Sistem Muskuloskeletal : tidak ditemukan kelainan Sistem Integumentum : tidak ditemukan kelainan Kelainan Khusus: (-) Kesan Status Internus : dalam batas normal, meskipun ada beberapa tempat. 3.1.2. Status Neurologis Kepala dan Leher Tanda Meningeal Nervi Kranialis Kekuatan Motorik Sensibilitas : Dalam batas normal : (-) : tidak dilakukan. : dalam batas normal : dalam batas normal pemeriksaan yang tidak dilakukan karena tidak tersedianya : tidak dilakukan pemeriksaan : wheezing (-), RBK (-), vesikuler (+)

Fungsi Saraf Vegetatif : dalam batas normal. Refleks Fisiologis Refleks Patologis Gerakan Abnormal : tidak dilakukan : Hoffman-Trommner (-) : (-)

Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi Gerakan: (-) Kesan Status Neurologis batas normal. 3.2. Status Psikiatri : pemeriksaan yang dilakukan dalam

13

[Type text]

Tanggal Pemeriksaan: 27 agustus 2012 3.2.1. Kesan Umum Tak tampak gangguan jiwa. No Status Psikiatri 1 Kesadaran Hasil Kuantitatif : GCS = E4V5M6 Kualitatif : Compos mentis Orang : Baik Waktu : Baik Tempat : Situasi : 3 4 5 6 Sikap/Tingkah laku Penampilan/rawat diri Roman muka Afek Kooperatif Cukup Eutimik Appropriate a. Bentuk pikiran : nonrealistik b. Progresi pikir Kuantitatif: cukup 7 Pikiran bicara Kualitatif : relevan dan koheren Baik Baik Keterangan OS sadar penuh tanpa rangsang apapun dapat diajak berkomunikasi OS dapat mengenal orang dengan baik OS dapat membedakan waktu pagi, siang, sore dan malam OS mengetahui dimana sekarang ia berada. OS dapat membedakan suasana di rumah sakit dan tempat lain. Kooperatif : Dapat diajak bicara Pasien mandi 2x sehari, memakai sabun. OS memperlihatkan mimik yang cukup Os menunjukkan ekspresi sesuai Apa yang diucapkan pasien tidak sesuai dengan kenyataan (ada waham) OS menjawab seperlunya jika ditanya OS dapat dipahami bicaranya

Orientasi

8 9 10

Hubungan Jiwa Perhatian Persepsi

Baik Mudah ditarik mudah dicantum Halusinasi : - Halusinasi auditorik (+) - Halusinasi visual (+)

Mudah dibina hubunganya dengan pemeriksa OS mau menjawab bila ditanyadan jawaban OS dapat dimengerti .OS sering mendengar bisikan-bisikan dari telinganya

14

[Type text]

OS pernah sering melihat bayangan 11 Insight Derajat 4 bayangan yang tidak jelas OS menyadari bahwa dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak menyadari penyebab penyakitnya

3.2.2. Mood dan Interest Dalam batas normal Depresi o ada Kecemasan o Merasa cemas dan khawatir () Iritabilitas/Sensitivitas o Mudah tersinggung

3.2.3. Gangguan Intelegensi Sesuai Umur / Pendidikan Tidak ada 3.2.4. Gejala dan Tanda Lain yang Didapatkan - Tidak fokus. 3.3. Hasil Pemeriksaan Psikologis 3.3.1. Kepribadian introvert 3.3.2. IQ Tidak dapat dilakukan tes. 3.3.3. Lain-Lain Tidak ada. 3.4. Hasil Pemeriksaan Sosiologis

15

[Type text]

Tidak ada. 4. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA 4.1. Tanda-Tanda (Sign) a. Penampilan Sikap baik, pakaian biasa, pasien tidak seperti orang sakit. b. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor Cara berjalan biasa, mampu menulis yang diperintahkan pemeriksa, misalnya menggambar dan menulis surat, tidak menyentuh pemeriksa, gerakan tubuh biasa. c. Pembicaraan (kuantitas, kecepatan produksi bicara, kualitas) Kualitas : koheren, relevan Kuantitas : bicara cukup

4.2. Gejala (Simtom) a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. Perasaan depresi Hilang minat dan kesenangan Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan diri berkurang Rasa bersalah dan tak berguna Pesimis Tidur terganggu Nafsu makan terganggu Pasien berhalusinasi auditorik (yang dirasakan pasien ada teror ingin mengancamnya, dan suara-suara burung serta hutan) Pasien berhalusinasi visual (melihat Bentuk pikir tidak realistik

4.3. Kumpulan Gejala (Sindrom)

16

[Type text]

Pada saat anamnesis, pasien terlihat tenang dan dapat bercerita tentang dirinya, berikut ini kumpulan gejala yang diperoleh dari enamnesis dengan pasien: a. b. c. d. Perasaan depresi, Hilang minat dan kesenangan, Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan diri berkurang, Rasa bersalah dan tak berguna, Pesimis Tidur terganggu, Nafsu makan terganggu Halusinasi yang menetap yang terjadi selama bertahun tahun dan terus

menerus. Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari berbagai aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, depresi, murung, sering menangis, penarikan diri dari sosial. Kumpulan gejala ini merupakan syarat seseorang menderita episode depresif dengan gejala psikotik menurut PPDGJ III. 5. DIAGNOSIS BANDING - gangguan organik, - intoksikasi - ketergantungan zat adiktif lainnya, - gangguan kepribadian, - berkabung - gangguan penyesuaian. - siklotimia - distimia

17

[Type text]

6. PEMBAHASAN Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka yang dipakai pedoman adalah ada tidaknya gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejaa yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang (Rusdi Maslim, 2001). Sebagaimana tersebut berikut ini : 1. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat 1) Afek depresi 2) Kehilangan minat dan kegembiraan 3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. 2. Gejala penyerta lainnya: 1) Konsentrasi dan perhatian berkurang 2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang 3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna 4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis 5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

18

[Type text]

6) Tidur terganggu 7) Nafsu makan berkurang Untuk episode depresi dan ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Kategori diagnosis depresi ringan (F.32.0), sedang (F.32.1) dan berat (F.32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresi berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang (F.33). 1) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Ringan (1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas (2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya (3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu (4) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya. 2) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Sedang (1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama

19

[Type text]

(2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya (3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu (4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga. 3) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik (1) Semua 3 gejala utama depresi harus ad (2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat (3) Bila ada gejala penting (misal retardasi psikomotor) yang menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan. (4) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. 4) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas (F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik

20

[Type text]

biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.

Diagnosis Banding Dalam menegakkan diagnosis suatu gangguan depresi, diagnosis lain perlu dipikirkan seperti adanya gangguan organik, intoksikasi atau ketergantungan zat adiktif lainnya, gangguan kepribadian, berkabung serta gangguan penyesuaian. Perubahan intrinik yang berhubungan dengan epilepsi lobus temporalis dapat menyerupai gangguan depresi khususnya jika fokus epileptik adalah pada sisi kanan. Berkabung merupakan suatu respons normal yng hebat dan menyakitkan karena kehilangan, tetapi responsif terhadap dukungan dan empati dapat membuatnya berangsur-angsur mereda/sembuh seiring berjalannya waktu Gangguan suasana menetap, merupakan gangguan suasana perasaan

berfluktuatif dan menetap, lebih ringan dari hipomania atau depresi ringan. Berlangsung bertahun-tahun lamanya, beronset dini atau lambat. Siklotimia, ciri esensial : ketidakstabilan suasana perasaan menetap, meliputi banyak periode depresi ringan dan elasi ringan, tidak ada yang cukup parah/ lama untuk memenuhi kriteria. Setiap gangguan suasana perasaan tersebut tidak memenuhi kriteria untuk kategori manapun dari episode manik atau episode depresif Distimik, ciri esensial: depresi yang berlangsung sangat lama atau jarang sekali atau cukup parah untuk memenuhi kriteria gangguan depresif berulang ringan atau sedang. Biasanya mulai pada usia dini dari masa dewasa dan berlangsung sekurang-kurangnya waktu yang tak berbatas. Jika onsetnya pada usia lanjut, gangguan ini sering kali merupakan kelanjutan suatu depresif tersendiri dan berhubungan dengan masa berkabung atau stress lainnya.

21

[Type text]

7. RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG 7.1. Pemeriksaan Psikologi Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :
o o o o

Psikoterapi individual Terapi suportif Sosial skill training Terapi okupasi Terapi kognitif dan perilaku (CBT) Psikoterapi kelompok Psikoterapi keluarga Manajemen kasus Assertive Community Treatment (ACT)

7.2. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium, EKG, EEG, CT Scan) Tidak perlu dilakukan karena pasien tidak mnunjukkan gejala-gejala patologik pada organ.

8. DIAGNOSIS Aksis I : ganguan depresi dengan gejala psikotik (F31.5). Aksis II : ciri kepribadian pesimis, mudah putus asa dan sensitiv Aksis III : tidak ditemukan kelainan organik. Aksis IV : masalah berkaitan dengan diri sendiri Aksis V : GAF 80-71 : gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, sekola,dan lain-lain. 9. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN

22

[Type text]

Farmakoterapi Haloperidol (1,5mg) 2x1 tab Triheksipenidil (2mg) 2x1tab Kalxetine (10mg) 1x1tab Olandoz (10mg) 1x1/2 tab Psikoterapi o Ventilasi o Konselling : memberikan kesempatan kepada pasien untuk : memberikan nasehat dan pengertian kepada mengungkapkan isi hati dan keinginannya supaya pasien merasa lega. pasien mengenai penyakitnya dan cara menghadapinya agar pasien mengetahui kondisi dirinya. o Sosioterapi : memberikan penjelasan kepada keluarga pasien dan orang sekitar agar member dukungan kepada pasien. Dukungan moral dan suasana kondusif sehingga membantu proses penyembuhan.

10. PROGNOSIS

Indikator

Pada Pasien

Prognosis

23

[Type text]

FAKTOR PREMORBID

1. Faktor kepribadian 2. Faktor genetik 3. Pola asuh 4. Faktor organik 5. Dukungan keluarga 6. Sosioekonomi 7. Faktor pencetus 8. status perkawinan 9. Kegiatan spiritual

Percaya Diri Tidak ada Perhatian cukup tidak ada Ada Ekonomi baik Ada Menikah baik

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

24

[Type text]

FAKTOR MORBID

10. Onset usia 11. Perjalanan penyakit 12. Jenis penyakit 13. Respon terhadap terapi 14. Riwayat disiplin minum obat 15. Riwayat disiplin kontrol 16. Riwayat peningkatan gejala 17. Beraktivitas

Dewasa Kronik psikotik Baik Baik Baik Tidak Meningkat

Jelek Jelek Jelek Baik baik Baik Baik Baik

Kesimpulan prognosis: Dubia ad bonam

11. RENCANA FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas obat, dan kemungkinan munculnya efek samping dari terapi yang diberikan. Pastikan pasien mendapat psikoterapi.

25

[Type text]

DAFTAR PUSTAKA
1. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama. Jakarta : Depkes RI. 2. Depresi dengan ganguan psikotik. Diunduh dari

http//www.idijakbar.com/prosiding/depresi .htm tanggal 27 agustus 2012

3. Buku ajar psikiatri. Fakultas Kedokteran Indonesia

4. Soewandi, 2002, Simtomatologi Dalam Psikiatri, Yogyakarta: FKUGM

26

[Type text]

PRESENTASI KASUS DEPRESI BERAT DENGAN GEJALA PSIKOTIK

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan kepada : dr. Vista Nurasti Sp.KJ

27

[Type text]

Disusun oleh : FEBRIANA PUTRI NARA HESWARI 2007.031.0134 SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2011

LEMBAR PENGESAHAN PRESENTASI KASUS DEPRESI BERAT DENGAN GEJALA PSIKOTIK

Disusun oleh : FEBRIANA PUTRI NARA HESWARI 2007.031.0134

Telah dipresentasikan dan disetujui

28

[Type text]

pada tanggal : 29 agustus 2012 Pembimbing :

dr. Vista Nurasti Sp.KJ

29