Anda di halaman 1dari 69

ANALISIS AIR ASAM TAMBANG BATUBARA KALIMANTAN

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Diajukan untuk memenuhi persyaratan kelulusan magang Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Oleh:

NURUL IRFANI 150110080086

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI JATINANGOR 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul Air Asam Tambang Batubara Kalimantan. Laporan ini disusun berdasarkan pelaksanaan PKL yang dilakukan di Lembaga Pusat Penelitian Geoteknologi (LIPI) Bandung, pada tanggal 2 Agustus s/d 11 Oktober 2011. Kegiatan PKL ini dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu: pembahasan proyek yang akan dilaksanakan, preparasi sample, drying process, sub grading sample/crushing, analisis total sulfur, analisis MPA (Maximum Potential Acid), analisis ANC (Acid Neutralization Potential), dan Pengukuran PH dan EC. Maksud dan tujuan dari PKL ini adalah agar kita dapat mengetahui potensi Air Asam Tambang di lahan bekas pertambangan di Kalimantan, mendapatkan ilmu dan pengalaman menganalisis Total sulfur, Analisis MPA (Maximum Potential Acid), analisis ANC (Acid Neutralization Potential), dan Pengukuran PH dan EC. Dalam kesempatan ini penulis tak lupa untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Ir. Benny Joy 2. Kepala Program Studi Agroteknologi, Ir. Adjat 3. Dr. Anne Nuraini, Ir., MS selaku wali dosen, dan Mr. Anggoro selaku dosen pembimbing lapangan kegiatan PKL. 4. Teh Mutia Dewi Yuniati selaku pembimbing selama kegiatan PKL 5. Teh Eki selaku pembimbing selama kegiatan PKL 6. Pak Ated selaku pembimbing selama kegiatan PKL 7. Segenap pimpinan, staf, beserta pegawai LIPI Geoteknologi yang telah banyak membantu dan membimbing penulis 8. Orang tua yang telah memberikan izin, dukungan moril dan non moril 9. Teman-teman selama kegiatan PKL : Lina Marlina yang telah banyak

ii

10. membantu dan terus memberikan dukungannya. Serta pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Akhirnya Penulis berharap laporan Praktek Kerja Lapangsn ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Selain itu Penulis sadar bahwa dalam laporan ini terdapat kekurangan dan belum sempurna. Oleh sebab itu, Penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Bandung, Desember 2011

Penulis

iii

DAFTAR ISI

BAB

HALAMAN

COVER i KATA PENGANTAR ..ii-iii DAFTAR ISI ..iv-v DAFTAR GAMBAR ....vi DAFTAR TABEL ........vii DAFTAR LAMPIRAN .viii I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...................................1 1.2 Tujuan Magang ..1 1.3 Waktu dan Tempat Magang2 1.4 Materi/Teori Magang 2-5 1.5 Metode Magang 5-9 1.6 Sampel .9-10 II. Keadaan Umum Tempat Magang 2.1 Sejarah Singkat ..11-13 2.2 Lokasi Geografi .13 2.3 Struktur Organisasi 14 2.4 Bidang Usaha 14-15 2.5 Sarana dan Prasarana .15-17 III. Kegiatan Magang 3.1 Jadwal Magang....18 3.2 Kegiatan Magang 3.2.1 Preparasi Sampel Batubara dan DryingProcess...........................19-20 3.2.2 Sub Grading Sample/Crushing......................................................20-22 3.2.3 Analisis Total Sulfur)....................................................................22-24 3.2.4 Analisis MPA (Maksimum Potential Acid....................................24 3.2 .5 Analisis ANC (Acid Neutralizing Capacity) .............................24-27

iv

3.2.6 Pengukuran pH dan EC .................................................................28 3.2.7 Penentuan Jumlah Organik Karbon ................................................29 3.2.8 Perhitungan NAPP..........................................................................29 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Total Sulfur .30-33 4.2 Analisi MPA .34-35 4.3 Analisis ANC 36-39 4.4 Pengukuran pH dan EC 39-40 4.5 Analisis Jumlah Organik Karbon ...41-42 4.6 Perhitungan NAPP 43-44 4.7 Hasil Keseluruhan ...44-47 V. REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN 5.1 Keadaan Umum Lahan Bekas Tambang .48 5.2 Kebutuhan Reklamasi 48-49 5.3 Teknologi Reklamasi .50-51 5.4 Memodifikasi Lapisan Atas Tanah 51-52 5.5 Stabilisasi Lokasi yang Direklamasi ..53-54 5.6 Mengembalikan Poroduktivitas Lahan ..54-56 VI. PENUTUP 6.1 Kesimpulan 57 6.2 Saran ..58 DAFTAR PUSTAKA .61

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Judul

Halaman

1 2 3 4

Reaksi Pembentukan Air Asam Tambang Menimbang bobot kering sampel tanah Mengaduk Sampel Tanah (Drying Process) Sub grading sample/crushing dengan mesin pengayak screening

4 20 20 21

Sub grading sample/crushing dengan pengayak 60 mesh dan 230 mesh

22

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Menumbuk/memperkecil ukuran sampel Sampel (-230 mesh) Menimbang bobot sampel Simpan sample analiysis total sulfur di desicator Menambahkan HCl analiysis total sulfur Penyaringan dengan kertas saring 5A/5B Hasil Saringan dipanaskan diatas hotplate Pengenceran analiysis total sulfur Mendidihkan sample ANC test Larutan NaOH dan HCl untuk ANC test Titrasi ANC test

22 24 24 24 24 24 24 24 27 27 27

vi

DAFTAR TABEL

Tabel

Judul

Halaman

1 2

Mineral sulfida penghasil asam yang paling umum ARD (Acid Rock Drainage) index value classification and interpretation for these samples

3 7

3 4

Metode analisis air asam tambang (AAT) Data sample penelitian Air Asam Tambang PT. Pancaran Surya Abadi

8 9-10

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Jadwal Kegiatan Magang Bobot masing-masing sample tanah (kg) Hasil bobot kering sample (kg) Hasil pengamatan analisis total sulfur Nilai akhir total sulfur dikurangi blanko Hasil perhitungan MPA (Maximum Potential Acid) Deskripsi fizz rating Hasil ANC (Acid Neutralising Capacity) test Hasil pengukuran pH dan EC Hasil pengukuran % organik karbon Hasil perhitungan NAPP Ringkasan interpretasi asam-basa hasil penelitian Hasil seluruh kegiatan magang (static test)

18 19 21 30-31 32 34 37 37-38 39 41 43 44 45

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Judul

Halaman

Kegiatan Harian Magang LIPI Geoteknologi Bandung

59-60

viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Magang

Kegiatan magang ini dilakukan untuk melengkapi serangkaian pendidikan mahasiswa Program Sudi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNPAD, yang terdiri dari kuliah, praktikum, diskusi, seminar, kuliah lapangan, dan magang. Praktek kerja lapangan yang di latar belakangi karena adanya ketertarikan untuk lebih mengenal program kerja yang dilakukan oleh Lembaga pemerintahan non kementerian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), khususnya Pusat Penelitian Geoteknologi. LIPI sudah terkenal di Indonesia maupun mancanegara. Perusahaan ini telah banyak melakukan penelitian-penelitian yang membantu Bangsa ini dalam kemajuan yang pesat. Oleh karena itu kami sangat berminat mengetahui lebih jauh tentang perusahaan lipi khususnya bagian Geoteknologi. Dalam kegiatan magang ini kami melakukan penelitian tentang Air Asam Tambang dari batubara yang perlu ada lebih banyak lagi penelitian mengenai itu mengingat berbahaya nya Air Asam tambang untuk lingkungan. Pada penelitian mengenai Air Asam Tambang ini, menggunakan dua cara yaitu static tests dan kinetic test yang pada akhirnya dapat disimpulkan apakah sample tanah dari daerah Kalimantan Timur ini berpotensi membentuk Air Asam Tambang atau tidak.

1.2 Tujuan

Dalam penulisan laporan ini terdapat tujuan yaitu untuk dapat mengetahui potensi Air Asam Tambang di lahan bekas pertambangan di Kalimantan.

1.3 Tempat dan Waktu

Kegiatan magang dilakukan di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Kompleks LIPI Gd. 70, Jl. Sangkuriang Bandung 40135. Kegiatan magang dilakukan selama dua bulan yaitu dari tanggal 2 Agustus s/d 2 Oktober 2011.

1.4 Materi/Teori Magang

Pembentukan Air asam tambang (AAT) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan acid mine drainage (AMD) atau acid rock drainage (ARD) terbentuk saat mineral sulphida tertentu yang ada pada batuan terpapar dengan kondisi dimana terdapat air dan oksigen (sebagai faktor utama) yang menyebabkan terjadinya proses oksidasi dan menghasilkan air dengan kondisi asam. Hasil reaksi kimia ini, beserta air yang sifatnya asam, dapat keluar dari asalnya jika terdapat air penggelontor yang cukup, umumnya air hujan yang pada timbunan batuan dapat mengalami infiltrasi/perkolasi. Air yang keluar dari sumbernya inilah yang lazimnya disebut dengan istilah AAT tersebut. Air Asam Tambang (AAT) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada air asam yang timbul akibat kegiatan penambangan, untuk membedakan dengan air asam yang timbul oleh kegiatan lain seperti: penggalian untuk pembangunan pondasi bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut diatas, apabila AAT keluar dari tempat terbentuknya dan masuk ke sistem lingkungan umum (diluar tambang), maka beberapa faktor lingkungan dapat terpengaruhi, seperti: kualitas air dan peruntukannya (sebagai bahan baku air minum, habitat biota air, sumber air untuk tanaman, dan sebagainya); kualitas tanah dan peruntukkanya (sebagai habitat flora dan fauna darat), dan sebagainya. AAT terbentuk karena selama proses penambangan, mineral sulfida teroksidasi oleh oksigen menjadi asam sulfat yang terlarut ke dalam air. Karakteristik kimia terbentuknya AAT, yaitu: 1. Nilai pH yang rendah

2. Konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan, cadmium, tembaga, timbal, seng, arsenik dan merkuri 3. Nilai acidity yang tinggi (50 - 1500 mg/L CaCO3) 4. Nilai keasaman/sulphate yang tinggi (500 - 10.000 mg/L 5. Nilai salinitas (1 - 20 mS/cm) 6. Konsentrasi oksigen terlarut yang rendah Mineral-mineral sulfida penghasil asam yang paling umum, akan dijelaskan pada tabel 1.

Tabel 1: Mineral-mineral sulfida penghasil asam yang paling umum Mineral Pirit Markasit Kalkopirit Kalkosit Spalerit Galena Milerit Pirhotit Arsenopirit Sinabar Komposisi FeS2 FeS2 CuFeS2 Cu2S ZnS PbS NiS Fe1-xS (dimana 0<x<0.2) FeAsS HgS

Gambar 1: Reaksi Pembentukan Air Asam Tambang (AAT)


Reaksi Pembentukan Air Asam Tambang (AAT): 4 FeS2 (s) + 15 O2 + 14 H2O 4 Fe(OH)3 + 2 SO42- + 8 H2S04 Pyrite + Oksigen + Air Asam Sulfat

FeS2

FeOH3, H2SO4 Mekanisme Pembentukan AAT: 1. FeS2 + 7/2O2 + H2O Fe2+ + 2SO42- +2H+ 2. FeS2 + 02 3. Fe3+ + 3H2O + H+ Fe3+ + 1/2 H2O Fe(OH)3 + 3H+

4. FeS2 + Fe3+ + H2O15Fe2+ +2SO42- +16H+ Pada reaksi 1, pyrite teroksidasi membentuk asam (2H+), sulfat dan besi ferrous T(Fe2+), Pada reaksi 2, besi ferrous akan teroksidasi membentuk besi ferri (Fe3+) dan air pada suasana asam, Pada reaksi 3, besi feri (Fe3+) di hidroksida dan membentuk hidroksida besi dan asam, Pada reksi 4, hasil reaksi 2 akan bereaksi dengan pyrite yang ada, dimana besi feri bertindak sebagai katalis, sehingga terbentuk besi ferrous, sulfat, dan asam. Proses pembentukan AAT terjadi secara spontan, pH dapat mencapai 2. Hal ini memacu pertumbuhan bakteri pengoksidasi sulfur (menjadi sulfat) seperti Thiobaccilus ferroxidan, sulfolobus, Acidianus,dll. Bakteri menyerang kristal pyrite sehingga semakin mudah teroksidasi. Sedangkan kemasaman yang tinggi dapat mengakibatkan:

1. Mineral basa, seperti K, Na, Ca, dan Mg mengendap 2. Mineral-mineral Fe, Mn, Al, Cu, Zn, Cd, Zn, Cd, Ni, dan Hg terlarut Jika mineral ini terbawa ke sumber air, AAT merusak produktivitas biologis sistem akuatik tersebut. Jika parah, maka air menjadi tidak aman konsumsi dan penggunaan lain, seperti irigasi, industri, dan rekreasi. Dampak negatif Air Asam Tambang (AAT) terhadap lingkungan, yaitu; biotik, abiotik, dan sosial. Dampak biotik yaitu tumbuhan tidak dapat tumbuh subur atau bahkan mati. Ikan tidak dapat hidup di lingkungan dengan pH rendah Abiotik, dapat mempercepat korosi pada peralatan tambang dapat mengurangi produktivitas kinerja alat. Dan dampak sosial yaitu air tidak dapat dipergunakan oleh masyarakat dan dapat menyebabkan penyakit, misalnya; diare, kerusakan pada gigi. Faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya AAT di suatu tempat, diantaranya adalah konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineral sulphida , keberadaan oksigen, termasuk dalam hal ini adalah asupan dari atmosfer melalui mekanisme adveksi dan difusi, jumlah dan komposisi kimia air yang ada, temperatur, dan mikrobiologi. Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pembentukan AAT sangat tergantung pada kondisi tempat

pembentukannya. Perbedaan salah satu faktor tersebut diatas menyebabkan proses pembentukan dan hasil yang berbeda. Terkait dengan faktor iklim di Indonesia, dengan temperatur dan curah hujan yang tinggi di beberapa lokasi dimana terdapat kegiatan penambangan, proses pembentukan AAT memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara-negara lain, karena memiliki kondisi iklim yang berbeda.

1.5 Metode Magang:

Prediksi dan identifikasi pembentukan AAT dapat dilakukan melalui penyelidikan karakter geokimia dari batuan. Dikenal ada dua cara untuk hal tersebut, yaitu melalui static test dan kinetic test.

Metode pengujian yang umum untuk static test meliputi: Net Acid Generation (NAG), Acid Neutralizing Capacity (ANC) dan analisa kandungan total sulfur (S) untuk mendapatkan nilai Maximum Potential Acid (MPA). Perlu diketahui bahwa nilai MPA yang dihitung berdasarkan total sulfur ini cenderung lebih besar dari potensi sebenarnya, karena yang terukur dalam total sulfur tidak hanya sulphide-sulfur, tapi juga organic-sulfur dan sulfate-sulfur. Dari nilai ANC dan MPA, kemudian dapat dihitung nilai Net Acid Production Potential (NAPP), dimana NAPP = MPA ANC. Berdasarkan nilai pH dari uji NAG dan nilai NAPP, maka selanjutnya dapat dilakukan pengklasifikasian jenis batuan berdasarkan sifat geokimianya. Sebagai contoh adalah seperti dibawah ini: NAG pH 4; NAPP0: Non Acid Forming (NAF) dan NAG pH<0;>0: Potentially Acid Forming (PAF). Selanjutnya, untuk mengetahui lebih detail kemungkinan pembentukan AAT, dilakukan kinetic test yang umum dilakukan dengan menggunakan kolom. Kondisi basah dan kering diterapkan terhadap batuan pada kolom, dan perubahan nilai parameter kualitas air yang keluar dari kolom tersebut dianalisa untuk mengetahui perilaku atau trend pembentukan AAT nya. Pada umumnya, static test dilakukan untuk mengetahui secara cepat potensi pembentukan AAT dari sejumlah batuan, sedangkan kinetic test, dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang mewakili, dilakukan untuk mengetahui karakter batuan yang dominan di sebuah lokasi tertentu, atau untuk mempertajam hasil analisa dari static test. Pengujian kolom juga dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu yang lain seperti untuk mengetahui pengaruh faktor lain (curah hujan, pencampuran dengan material lain, perubahan faktor fisik, dsb) terhadap pembentukan AAT. Untuk kegiatan magang ini, karena adanya keterbatasan waktu maka kegiatan yang dilakukan hanya static test ; yaitu uji total sulfur, MPA, ANC, pH & EC, Organik karbon, dan perhitungan NAPP. Adapun jika kinetic test bisa dilakukan akan didapat hasil interpretasi sample berdasarkan index nilai ARD, seperti berikut ini.

Tabel 2: ARD (Acid Rock Drainage) index value classification and interpretation for these samples ARD Index classification value 50 Extremely AF 40 AF >10% content of cm-scale acid generating phases and/or low (<10%) content of secondary neutralising minerals which may be in direct contact with these and/or no primary neutralising minerals identified 30 PAF <10% acid generating phases sub-cm scale phases present and/or moderate content (<40%) of secondary neutralising phases in direct contact with acid generating phases and/or low (<20%) content of primary neutalising minerals (not in direct contact with acid generating phases) identified. 20 NAF <10% disseminated mm-scale acid generating phases >30% content of cm-scale unweathered acid generating phases Interpretation

encapsulated in slow weathering ineral phases or direct spatial contact with promary neuralising phases 10 NAF No acid generating phases present

Sumber: Walters Stephen., Bradhsaw Dee., Mineralogical Characterisation Techniques for Predicting Acid Rock Drainage. Australia

Tabel 3: Metode analisis air asam tambang (AAT)


Sample preparation Basic screening tools Categorise Sample
Uncertain Tallings or waste rock sample ANC test

NAPP calculat ion

Crushing and splitting

Total S

NAG PH less than 4.5

Carbon aceous sample

NAG PH great er than 5

PAF PAF low capaci ty Furthe r investi gation and recate gorisat ion

Pulverise to -75m

NAG test PH & EC


Data evaluati on

NAF NAPP positive NAG PH less than 4.5 uncert ain

Keterangan Sumber

: Tulisan hijau tandanya pengamatan sudah dilakukan : Ian Wark Research Institute, Environmental Geochemistry

International Pty Ltd

1.6 Sampel

Sampel berasal dari PT. Pancaran Surya Abadi, Kalimantan, Indonesia. Yang akan diuji dalam penelitian ini apakah berpotensi membentuk air asam tambang.

Tabel 4: Data sampel penelitian Air Asam Tambang PT. Pancaran Surya Abadi Jenis Tanah TOP SOIL Kode sampel 01 Koordinat pengambilan X= 536567.824 Y= 9953990.689 Z= 70.206 Elevasi kedala man 0.21 M Foto sampel

02

X=536546.2330 Y=9953995.286

Z= 70.340

0.34 M

CLAY STON E (Med. Soft)

03

X= 536528.039 Y=9953957.616

Z= 61.385

1.62 M

04

X=536550.6820 Y=9953931.493

Z= 59.820

2.18 M

SAND STON E (Pasira n tidak kompa k)

05

X=536566.791 Y=9953989.674

Z= 66.718

3.28 M

06

X=536616.9584 Y=9953953.649

Z=66.4 00

3.60 M

CLAY STON E (Med. Hard)

07

X=536564.8390 Y=9953988.529

Z= 65.358

6.64 M

08

X=536529.037 Y=9953958.142

Z= 62.843

0.66 M

LATE RIT

09

X=536759.185 Y=9953528.485

Z= 63.039

2.961 M

CLAY STON E (Med. Soft) 10 X=536814.496 Y=9953731.934 Z= 59.530 7.47 M

SAND STON E (Med. Hard) 12

11

X=536658.711 Y=9953921.491

Z= 63.608

7.392 M

X=536742.796 Y=9953846.615

Z=58.4 58

12,54 M

10

BAB II KEADAAN UMUM INSTANSI

a. Sejarah singkat

Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI [GEOTEK LIPI] yang semula bernama Lembaga Geologi Pertambangan Nasional [LGPN] ini dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1963 dan berada di bawah naungan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia [MIPI] dan Dewan Urusan Riset Nasional [DURENAS]. Pada awal kelahirannya lembaga ini didirikan untuk mengorganisir dan menyediakan laboratorium modern dimana akan dilakukan Basic dan Applied Research dalam bidang-bidang Geologi, Pertambangan, dan Teknik Perminyakan. Pada tahun tujuh puluhan, tidak lama setelah lahirnya teori tektonik lempeng, hingar-bingar penelitian geologi melanda seluruh dunia. Penelitian yang terutama untuk mencari bukti-bukti geologi baru yang terkait dengan teori baru tektonik lempeng. LGPN ketika itu, bersama Direktorat Geologi [sebelum terbagi menjadi beberapa lembaga], aktif dalam penelitian geologi-geofisika baik di darat maupun di lautan. Pada tahun tujuhpuluhan ini ditandai dengan kerjasama riset internasional antara lain dengan partisipasi aktif dalam SEATAR [South East Asia Tectonic Regional]. Sejumlah institusi luar negeri yang terlibat di antaranya adalah Scripp Institution of Oceanography [USA], Kyoto University, dan BGR [Jerman]. Di bidang teknologi remote sensing LGPN merupakan institusi pertama yang membawa ke Indonesia khususnya untuk pemanfaatan citra Landsat untuk geologi. Tahun delapan puluhan, penjelajahan geologi terus berjalan. Pada tahun ini ditandai dengan Ekspedisi Snellius II yang merupakan kerjasama Indonesia dengan Belanda. Pada tahun ini pula kerjasama dengan Indonesia dengan Perancis dimulai dan BPPT lembaga riset baru bertindak sebagai koordinator. Patut dicatat pada bulan Januari 1981 tercatat lembaran hitam dalam sejarah pelayaran Indonesia dengan tenggelamnya Kapal Tampomas II di perairan Masalembo. K/R Sonne [Jerman] yang sedang berada di Selat Makassar untuk penelitian geologi

11

dan membawa sejumlah peneliti BGR-Jerman, Direktorat Geologi dan LGPN ikut berperan dalam upaya penyelamatan penumpang. Tim ini menemukan jenazah Kapten Tampomas Rivai. Kegiatan riset LGPN pada dekade ini ditandai dengan penelitian pertambangan secara intensif di Jampang Kulon, Sukabumi. Selain itu untuk pertama kalinya pemanfaatan citra Landsat untuk pengembangan wilayah dilakukan. Terumbu karang pun mulai masuk dalam agenda riset. Sedangkan dari sisi pembinaan sumberdaya manusia, maka tahun ini ditandai dengan pengiriman sejumlah peneliti LGPN ke berbagai negara antara lain Belanda, Jepang, Jerman, New Zealand, Perancis, dan USA. Pada tahun 1986 LGPN berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi. Dekade sembilan-puluhan, Indonesia khususnya di bidang kebumian ditandai dengan datangnya kapal-kapal riset K/R Baruna Jaya I-IV yang dikelola oleh BPPT. Geoteknologi untuk pertamakalinya membawa K/R Baruna Jaya III dan memimpin Ekspedisi Mentawai bersama peneliti Perancis. Ekspedisi Mentawai yang membawa sejumlah peneliti Indonesia dari BPPT, Geotek-LIPI, Lemigas dan PPGL ini menemukan struktur baru yang kemudian di sebut Zona Sesar Mentawai [Geology, vol.20, 1992]. Pada masa ini penelitian keikliman purba dengan mempelajari terumbu karang dimulai. Selain itu kerjasama dengan Caltech [California Institute of Technology] yang semula mempelajari Sesar Sumatera bergeser ke pemahaman gempa-gempa yang berasosiasi dengan zona subduksi di perairan Mentawai dengan mempelajari terumbu karang. Penelitianpenelitian yang berhubungan dengan pengembangan wilayah semakin intens dilakukan yang ditandai dengan partisipasi aktif Geotek LIPI di Lembah Baliem, Wamena, dan Bengkulu. Perannya dalam kelahiran Coremap, Brantas River Watch, bahkan RUT juga cukup signifikans. Pada masa ini pembinaan sumberdaya manusia berjalan cukup intens baik melalui pendidikan di dalam negeri maupun pengirim ke luar negeri. Milenium baru ditandai dengan berubahnya nama, sejalan dengan reorganisasi LIPI. Kini menjadi Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dan bernaung di bawah Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian [IPK]. Pada abad baru ini Indonesia ditandai dengan bencana besar yakni Gempa Aceh 26 Desember 2004.

12

Gempa yang menyebabkan gelombang tsunami ini menelan korban lebih dari 200 ribu jiwa. Penelitan Geotek LIPI bersama Caltech di Kepulauan Mentawai merupakan landmark bahwa peran basic sciences begitu nyata dalam kehidupan manusia. LIPI mendapat peran sentral dalam penyiapan Tsunami Early Warning System [TEWS]. Selain itu penemuan aktivitas hidrothermal bawah laut di perairan Sulawesi yang bekerjasama dengan CSIRO, Indian Ocean Dipole Mode di masa lalu yang dilakukan bersama ANU, riset iklim mikro kaitannya dengan perubahan lahan, pemodelan gerakan tanah maupun kegiatannya yang terkait dengan industri migas yang oleh aplikasi pertama MT di Indonesia untuk eksplorasi migas adalah merupakan susunan batu-batu yang menjadi dasar Landmark Geotek LIPI 2000-2010. Berikut adalah nama dari para ketua/kepala Puslit Geoteknologi LIPI dari awal sampai sekarang; 1963 1972: Prof. J.A. Katili 1972 1982: Dr. Ir. Fred Hehuwat 1982 1986: Ir. Sismaryanto Sadarjoen 1986 1996: Prof. Dr. Ir. Suparka S. 1996 2001: Prof. Dr. Ir. Jan Sopaheluwakan M.Sc 2001 2006 : Dr. Ir. Hery Harjono 2006 2011 : Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain 2011-2016 : Dr. Ir. Haryadi Permana

2.2 Lokasi

Kegiatan magang dilakukan di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Kompleks LIPI Gd. 70, Jl. Sangkuriang Bandung 40135.

13

2.3 Struktur Organisasi


KEPALA PUSLIT GEOTEKNOLOG I Kepala PUSLIT
Geoteknologi Dr. Ir. Haryadi Permana

STRUKTUR ORGANISASI LIPI GEOTEKNOLOGI


Bagian Tara Usaha Dr. Sukendar

Sub bagian kepegawaian Mimin Kartika, A.Md.

Sub bagian keuangan Asep Setiadi, S.E.

Sub bagian umum Dede Suherman

Sub bagian jasa dan informasi Nugraha Sastra, A.Md

Bidang sistem informasi kebumian dan tata ruang Dr.Heru Santoso M.App.Sc.

Bidang sumberdaya bumi dan rekayasa mineral Dr. Anggoro Tri Mursito, ST., M.Sc.

Bidang geologi teknik dan konservasi kebumian Dr.Ir.Adrin Tohari, M.Eng.

Bidang dinamika bumi dan bencana geologi Dr. Eko Yulianto

Bidang sarana penelitian Yayat Sudrajat, S.Si.

Kelompok jabatan fungsional

Kelompok jabatan fungsional

Kelompok jabatan fungsional

Kelompok jabatan fungsional

Subbidang sarana sistem informasi kebumian dan tata ruang

2.4 Bidang Unit Riset Geoteknologi LIPI

Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, sering disingkat Geotek LIPI, merupakan salah satu unit riset di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI]. Geotek LIPI bersama 3 [tiga] pusat riset lainnya, Pusat Penelitian Limnologi, Pusat Penelitian Metalurgi, dan Pusat Penelitian Oseanografi berada di bawah Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian [IPK].

14

Pusat penelitian yang berada di Bandung ini memiliki 4 [empat] unit riset, 2 [dua] unit pendukung riset dan 3 [tiga] UPT [Unit Pelayanan Teknis]. Adapun ke empat unit riset dan 2 unit pendukung adalah:

Bidang Sistem Informasi Kebumian dan Tata Ruang [SIKTR]; Bidang Geologi Teknik dan Konservasi Kebumian [GTKK]; Bidang Dinamika Bumi dan Bencana Geologi [DBBG]; Bidang Sumberdaya Bumi dan Rekayasa Mineral [SBRM]; Bidang Sarana Penelitian; Bagian Tata Usaha

Adapun subyek penelitian magang yang dilakukan adalah mengenai potensi air asam tambang di lahan bekas pertambangan di Kalimantan. Dimana penelitian tersebut berada di unit riset Bidang Sumberdaya Bumi dan Rekayasa Mineral [SBRM].

2.5 Sarana dan prasarana

1. Laboratorium Geofisika.

Didirikan untuk mendukung para peneliti di Puslit Geoteknologi LIPI, khususnya di bidang Geofiska. Lab ini didukung oleh peneliti yang handal, peralatan lengkap antara lain : Gravity meter, Magnetotelurik, Resistivity meter, Geolloger dengan teknisi yang berpengalaman menjadikan laboraturium geofisika menjadi salah satu ujung tombak dalam penelitian di Puslit Geoteknologi.

2. Laboratorium Fisika Mineral (Mineral Optik).

Dibangun untuk memenuhi kebutuhan para peneliti untuk melakukan analisis mineralogi. Laboratorium ini dilengkapi oleh Mikroskop polarisasi (Nikon Eclipse) untuk menganalisis petrografi dan mineragrafi, mikroskop polarisasi yang dilengkapi dengan heating stage dan seperangkat alat untuk melakukan

15

pengukuran mikrotermometer inklusi fluida, dan mikroskop binokuler, untuk analisis butiran mineral. Laboratorium berpengalaman di Fisika dalam Mineral bidang didukung uji oleh para penyelia yang

mineral

(petrografi,

mineragrafi,

mikrotermometri inklusi fluida, dan butiran mineral). Laboratorium Fisika Mineral ini didukung oleh Lab. Asah Batuan (preparasi sayatan tipis).

3. Laboratorium Kimia.

Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan penelitiannya khususnya dalam pemeriksaan batuan, ore, tanah dan endapan stream. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah preparasi contoh dan geokimia contoh, dengan instrument penunjang yang digunakan seperti Atomic Absorption Spectrofotometri (AAS) dan

Spektrofotometer.

4. Laboratorium Air Tanah. Laboratorium Air dan Tanah Puslit Geoteknologi LIPI didedikasikan untuk membantu para peneliti dalam menganalisis kualitas air dan tanah. Analisis sampel air dan tanah dilakukan oleh teknisi yang berpengalaman dengan metoda analisis yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.

5. Laboratorium Geologi Teknik.

Laboratorium Geologi Teknik didirikan untuk mendukung para peneliti di Puslit Geoteknologi LIPI, khususnya di bidang Geoteknik. Lab ini didukung oleh peneliti yang handal, peralatan lengkap dan terbaru dengan teknisi yang berpengalaman menjadikan lab geoteknik menjadi salah satu ujung tombak dalam penelitian di Puslit Geoteknologi.

16

6. Laboratorium GIS 7. Laboratorium Mikropal 8. Laboratorium Riset Bencana 9. Perpustakaan 10. Ruang hotspot 11. Foto copy

17

BAB III KEGIATAN MAGANG

3.1 Jadwal Magang

Jadwal magang selama penulis melakukan kegiatan magang di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, selama dua bulan yaitu dari tanggal 2 Agustus 2011 sampai tanggal 2 Oktober 2011 ini akan dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel 5: Jadwal kegiatan magang No. Kegiatan Penelitian Agustus 1 1 2 3 4 5 6 7


Preparasi sample Air Asam Tambang dan Drying Process Sub Grading Sample/Crushing Analisis Total Sulfur Analisis MPA (Maximum Potential Acid) Analisis Potential) Pengukuran pH dan EC Pengukuran Total Organik Karbon ANC (Acid Neutralization

Bulan September 4 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4

18

3.2 BAHAN DAN METODE 3.2.1 Preparasi Sampel Batubara & Drying Proces Tanggal: 2-5 Agustus 2011 Alat & bahan: Cara Kerja: 1. Sampel tanah sebanyak 12 sampel masing-masing dimasukan dalam nampan bersih, 2. Nampan beserta sampel tanah ditimbang dan catat berat basahnya, 3. Sampel tanah dikeringanginkan selama 2-3 hari untuk mengetahui berat keringnya (persen moisture)/Drying process Tabel 6: Bobot Masing-Masing Sample Tanah (Kg) Kode Sampel Bobot Baki Bobot Baki+sampel 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 1,7 1,9 2,75 3 2,45 2,35 2,1 2,4 2,85 3,1 3 3,55 1,5 1,7 2,55 2,8 2,25 2,15 1,9 2,2 2,65 2,9 2,8 3,35 Bobot sampel 12 sampel Sekop Nampan/baki Timbangan

19

Gambar 2 Menimbang Bobot Kering Sampel Tanah

Gambar 3: Mengaduk/Mengeringkan Sampel Tanah (Drying Process)

3.2.2 Sub-grading sample/crushing Tanggal: 9-12 Agustus 2011 Alat & bahan: Cara Kerja: 1. Sampel yang telah dikeringanginkan, ditimbang bobot keringnya, Sample Penumbuk porselen Sekop Timbangan Pengayak/mesin screening Pengayak 60 mesh & 230 mesh Plastik, spidol Koas

20

2. Separuh pada masing-masing sample tanah ditumbuk halus, 3. Hasil tumbukan disaring bertingkat menggunakan penyaring 60 mesh dan 230 mesh, 4. Hasil saringan dimasukan dalam plastik dan beri label.

Tabel 7: Hasil Bobot Kering Sampel (Kg) Kode sampel Bobot baki Bobot sampel 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 1,6 1,85 2,45 2,65 2,3 2,2 1,85 2,1 2,7 2,8 2,75 3,325 baki + Bobot sampel 1,4 1,65 2,25 2,45 2,1 2 1,65 1,9 2,5 2,6 2,55 3,225 kering

Gambar 4: Sub-grading Sample/crushing dengan menggunakan Pengayak/mesin screening

21

Gambar 5: Sub-grading Sample/crushing Gambar 6: Menumbuk/memperkecil dengan menggunakan Pengayak 60 mesh dan 230 mesh ukuran sampel

3.2.3 Analisis Total Sulfur Tanggal: 12-19 Agustus dan 5, 6, 7, 13, 14 September 2011 Alat & bahan: Ceramic crucible Furnace Desikator Tang antipanas Neraca analitis Kertas saring 5A, 5C Sample 230 mesh Na2CO3 (fused) MgO (fused) Nampan/baki Gelas kimia Pengaduk Corong Aquadest

Cara kerja: Ash content analysis berdasarkan JIS M-8812 1. Siapkan sampel batubara di ash crucible (ukuran 230 mesh sebanyak 1 gr),

22

2. Masukan dalam muffle furnace sampel pada suhu 815 25C selama 3 jam, 3. Dinginkan crucible perlahan-lahan. Total sulfur analysis berdasarkan JIS M-8819 1. Siapkan fused MgO pada suhu 550C dan Na2CO3 pada suhu 700 C selama 1 jam, 2. Siapkan sample batubara, fused MgO, fused Na2CO3 (dengan

perbandingan 1:2:1) pada sulfur crucible type B (timbang sulfur crucible type B dalam keadaan kosong), 3. Masukan sample batubara, fused MgO, fused Na2CO3 yang sudah

disiapkan sebelumnya dalam muffle furnace sample dan reagent tadi dengan disertai crucible cap pada suhu 800 25C selama 1,5 jam, 4. Dinginkan crucible perlahan-lahan, lalu timbang, 5. Siapkan gelas kimia & hotplate, 6. Masukan aquadest sebanyak 50 ml & HCl 25 ml kedalam gelas kimia tadi dan didihkan selama 5 menit, 7. Dinginkan, lalu saring pada kertas saring advantec 5A/5B menggunakan funnel dan gelas kimia 250 ml, bersihkan dan cuci gelas kimia, crucible dan capnya dengan aquadest tadi sampai mempunyai total volume 250 ml, 8. Ambil filtrate dan masukan BaCl2 (85 gr/L) sebanyak 25 ml (sedikit demi sedikit), sambil dipanaskan kembali diatas hotplate, sampai mencapai titik didih pertama, 9. Dinginkan, biarkan 12 jam, gelas kimia ditutup petri disc, 10. Saring filtrasi dengan menggunakan kertas saring advantec 5C, setelah selesai cuci/bilas gelas kimia, dan pengaduknya dengan aquadest, 11. Satukan residunya dan kertas saringnya, dan masukan kedalam sulfur crucible type A, kemudian panaskan dalam furnace pada suhu 800 25C selama 30 menit (timbang sulfur crucible type A dan capnya dalam keadaan kosong). Kalkulasi: TS = [(Mend-Minit) / M sample] * 13,74

23

Berikut ini adalah gambar beberapa tahapan/kegiatan analisis Total Sulfur:

Gambar 7: Sampel (-230 mesh)

Gambar 8: Menimbang bobot sampel

Gambar 9: Simpan desicator

Gambar 10: Memasukan HCl dalam sampel

Gambar 11: Penyaringan dengan kertas saring 5A/5B

Gambar 12: Hasil saringan dipanaskan diatas hotplate

Gambar 13: Panaskan sampel dalam furnace

3.2.4 Analisis MPA (Maximum Potential Acid) Tanggal: 24 Agustus 2011 Kalkulasi: MPA = kg CaCO3 kg/t = %S x 31,25, kg H2SO4kg/t = %S x 30,58 (ini yang digunakan)

24

3.2.5 Analisis ANC (Acid Neutrealising Capacity) Tanggal: 6, 7, 27 September 2011 Alat dan Bahan: Aquadest HCL 0,1 N HCL 0,5 N NaOH 0,1 N NaOH 0,5 N Gelas kimia, 250 ml Batang pengaduk Buret, 100 ml Hot plate pH meter Buffer 0,01 g Cara Kerja: 1. Membuat larutan NaOH 0,5 N, sebanyak 3 lt: Timbang 60 g NaOH dan tambahkan air bebas ion sampai 3 lt. NaOH 0,1 N, sebanyak 2 lt (pengenceran): VI . NI = V2 . N2 V1 . 0,5 = 2 . 0,1 V1 = 0,2 / 0,5 = 0,4 lt HCL 0,5 N, sebanyak 3 lt HCL 37% N = 37/100 x 1,190/36,5 = 12,06 , N = 12,06 Ket: dalam 1 lt HCL terdapat 1,19 kg = 1190 g VI . N1 = V2 . N2 V1 . 12,06 = 0,5 . 3000 V1 = 124,4 ml HCL 0,1 N sebanyak 2 lt V1 . N1 = V2 . N2

25

V1 . 12,06 = 0,1 . 2000 V1 = 16,58 ml Dan membuat standarisasi: a. 0,1 N HCl 50 ml 0,1 N HCl dititrasi dengan 0,5 N NaOH PH 7 b. 0,1 N NaOH 20 ml 0,1 N NaOH dititrasi dengan 0,1 N HCl PH 7 c. 0,5 N HCl 20 ml 0,5 N HCl dititrasi dengan 0,5 N NaOH PH 7

d. 0,5 N NaOH 20 ml 0,5 N NaOH dititrasi dengan 0,1 N HCl PH 7 2. Letakan 0,5 g sampel (60 mesh) dalam satu lembar alumunium foil, 3. Tambahkan satu atau dua tetes HCl (dengan perbandingan 1:3) ke dalam sampel, adanya CaCO3 diindikasikan dengan adanya gelembung atau karakter fizz (fizz rating), bisa juga dengan bunyi, bahkan untuk reaksi yang kuat dapat melubangi lembar alumunium foil, 4. Timbang 2 g sampel (60 mesh) masukan kedalam gelas kimia 250 ml, 5. Tambahkan secara hati-hati HCl berdasarkan petunjuk di tabel 11 kedalam gelas kimia yang telah berisi sampel, 6. Panaskan hingga mendidih, putar gelas kimia dengan batang pengaduk tiap 5 menit, sampai reaksi selesai. Catatan: Reaksi selesai ketika tidak ada lagi gelembus gas yang terlihat dan sampel sudah menempati rata didasar gelas kimia, 7. Tambahkan air destilasi sampai volume 125 ml, 8. Didihkan hingga bergelembung selama 1 menit dan dinginkan segera. Tutupi selama didinginkan 9. Titrasi dengan menggunakan 0,1 N NaOH atau 0,5 N NaOH, sampai pH 7 menggunakann elektrometrik pH meter dan buret. Titrasi dengan NaOH harus sesuai dengan molaritas HCl pada step 5. Catatan: titrasi dengan NaOH sampai terbaca pH 7, selama kurang lebih 30 detik, 10. Jika kurang dari 3 ml NaOH yang diperlukan untuk mencapai pH 7, itu artinya HCl yang ditambahkan tidak cukup untuk menetralisasi semua bahan berisi 2 g sampel tersebut. Maka duplikat sampel harus diberikan dengan volume/konsentrasi yang lebih tinggi, seperti di tabel 1

26

11. Kerjakan blanko untuk tiap volume dan normalitas dengan menggunakan step 5, 6, 7, 8, 9.

Tabel 8: Deskripsi Fizz Rating dan volume serta molaritas yang harus ditambahkan dengan HCl pada sampel berdasarkan nilai Fizz Ratingnya, juga volume NaOH yang akan dititrasi. Fizz Rating Dekripsi HCl Molaritas (M) 0-Tidak ada 1-Sedikit Tidak ada reaksi Reaksi sedikit; 0,1 terdapat 0,1 Molarit as (M) 0,1 0,1 NaOH Volume (ml) 20 40

beberapa gelembung kecil tiap detik nya 2-Sedang Terdapat gelembung besar 0,5 dengan hanya sedikit jumlah letupan 3-Kuat Terdapat gelembung yang 0,5 sangat kuat/besar, termasuk adanya letupan yang besar Sumber: Noll et al., 1988 ; Sobek et al., 1978 0,5 80 0,5 40

Gambar 14: Panaskan sampel untuk menganalisis ANC

Gambar 15: larutan NaOH dan HCl

Gambar 16: Titrasi ANC

27

3.2.6 Pengukuran pH dan EC Tanggal: 23 Agustus 2011 Alat dan Bahan: Cup plastik dan Spatula Sampel (60 mesh) Aquadest pH scan 3, double function EC tester low, 0 to 1990 s EC tester high, 0 to 19,90 s Cara Kerja: 1. Timbang 10 g sample tanah (60 mesh), 2. Masukan dalam cup plastik, 3. Tambahkan aquadest sebanyak 5 ml, 4. Catatan: jangan diaduk! 5. Diamkan sampai air menyerap kedalam sample secara keseluruhan dengan sendirinya. Setelah itu baru dapat diaduk, 6. Amati dan ukur pH serta EC nya.

28

3.2.7 Menentukan jumlah organik karbon Tanggal: 7, 10 oktober 2011 Material: 1. Muffle furnace 2. Drying oven 3. Desicator 4. Buffer 5. Crucibles or evaporating dishes Prosedur: 1. Ukur bobot crucible kosong dan catat hasilnya, 2. Ukur berat sampel (60 mesh) sebanyak 10 gr, dan letakan di crucible, 3. Letakan di furnace dan panaskan selama 4 jam, 105 C, 4. Pindahkan sampel dan diamkan di desicaror, 5. Timbang berat sampel, 6. Letakan sampel difurnace dan panaskan selama 7 jam, 400C, 7. Pindahkan sampel dan diamkan di desicator, 8. Timbang bobot sample akhir, Kalkulasi: D = B-A E= C-A F=DE G = (F / D) x 100

3.2.8 Net Acid Production Potential (NAPP) Tanggal: 16 Oktober 2011 Kalkulasi: NAPP = MPA ANC.

29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 ANALISIS TOTAL SULFUR Hasil pengamatan analisis toral sulfur akan dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 9: Hasil Pengamatan Analisis Total Sulfur Kode Kod M1 M2 M3 M4 Kod e cc M1 M4 TS (gr)

Samp e cc le 01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 334 519 201 135 96 53 103 2 233 107 367 891 63 347 261 225 259 225 20,828 21,2286 21,095 21,4953 21,225 21,6244 20,820 21,2203 20,653 21,0533 20,615 21,0145 20,604 20,7110 20,693 20,5850 20,505 20,9053 20,533 20,9323 20,857 21,2572 21,050 21,4502 20,839 21,239 21,214 21,615 20,781 21,1803 20,921 21,3215 20,743 21,615 20,919 21,147 22,432 22,737 22,822 22,423 22,251 22,213 22,311 22,058 22,022 22,147 22,456 22,648 22,311 22,058 22,370 22,526 22,346 22,512 22,221 22,514 22,603 22,225 22,047 22,020 21,997 21,763 21,856 21,952 22,256 22,475 22,120 22,489 22,165 22,319 22,042 22,195

42 216 275 313 330 36 379 202 202 71 349 53 7 162 379 355 216 42

10,218 10,139 10,056 9,515 9,8156 10,046 10,244 10,052 10,052 9,9846 9,977 10,194 10,133 10,089 10,244 9,480 10,139 10,219

10,254 10,175 10,096 9,553 9,8524 10,081 10,295 10,097 10,079 10,020 10,224 10,228 10,199 10,155 10,292 9,522 10,189 10,270

1,2400 1,2263 1,3981 1,2881 1,2641 1,1920 1,7348 1,5423 0,9240 1,2160 1,560 1,1954 2,260 2,2465 1,6694 1,4668 1,7519 1,7622

30

10A 10B 11A 11B 12A 12B Blank o1 Blank o2

103 91 390 61 61 391 332

20,711 21,1112 20,846 21,2463 20,939 21,339 20,768 21,170 20,768 21,1670 20,616 21,0169 20,693 -

22,315 22,447 22,523 22,374 22,371 22,226 21,867

22,039 22,161 22,190 22,039 22,157 22,018 21,613

338 201 333 71 162 246 330

9,555 21,224 9,7097 9,9853 10,088 9,975 9,8163

9,605 21,279 9,744 10,037 10,127 10,029 9,8600

1,7381 1,8961 1,1679 1,7656 1,3190 1,8790 1,5011

261

20,781 -

21,978

21,721

53

10,194

10,236

1,3019

Keterangan: M1 : Wcc kosong (gr) M2 : Wcc + sampel (= 0,4 gr) M3 : Wcc + sampel + PRx (MgO dan Na2CO3) (gr) M4 : Wcc setelah di furnace (gr) Contoh perhitungan: Kalkulasi: TS = [(Mend-Minit) / M sample] * 13,74 Keterangan: Mend = Wcc setelah di furnace (gr), Minit = Wcc kosong (gr) Sample 1. TS = [(10,254 gr 10,218 gr)/0,4 gr] *13,74 = 1,2400 gr

31

Tabel 9: Nilai Akhir Total Sulfur Dikurangi Blanko No. Sample code 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 10A 10B 11A 11B 12A 12B -0,0619 -0,0756 0,0962 -0,0138 -0,0378 -0,1099 0,4329 0,2423 -0,376 -0,084 0,26 -0,1046 0,96 0,9465 0,3694 0,1668 0,5 0,5 0,4381 0,5961 -0,1321 0,5 0,1019 0,579 TS (gr)

32

Pembahasan: Metode ini bertujuan untuk mengukur total sulfur dalam sampel. Jika semua kandungan total sulfur yang terjadi dalam bentuk pirit, perhitungan potensi sulfur dari maximum potential acidity (MPA) disesuaikan dengan potensi keasaman sulfur yang sebenarnya. Tetapi jika sebagian kandungan total sulfur yang terjadi dalam bentuk lain, maximum potential acidity (MPA) yang dihitung berarti terlalu tinggi. Artinya bahwa perhitungan tersebut diragukan, jadi perhitungan berikutnya harus dibuat dalam bentuk lain. Salah satu tanda adanya potensi Air asam tambang adalah nilai sulfat yang tinggi, yaitu 500 - 10.000 mg/L) atau (0,5 10 gr/L). Hal ini tercermin dengan hasil pengujian ini, dari sampel 1 sampai sample 12, didapat nilai analisis total sulfur yang cukup tinggi, yaitu pada sampel 7A sebesar 0,96 g/l, sample 7B sebesar 0,9465 g/l, sample 9A sebesar 0,5 g/l, sample 9B sebesar 0,5 g/l, sample 10B sebesar 0,5961 g/l, sample 11B sebesar 0,5 g/l, dan sample 12B sebesar 0,579 g/l (seperti pada tinta merah).

33

4.2 ANALISIS MPA Hasil pengamatan analisis MPA akan dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 11: Hasil Perhitungan MPA Sample 01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 10A 10B 11A 11B 12A 12B TS (%) -0,0619 -0,0756 0,0962 -0,0138 -0,0378 -0,1099 0,4329 0,2423 -0,376 -0,084 0,26 -0,1046 0,96 0,9465 0,3694 0,1668 0,5 0,5 0,4381 0,5961 -0,1321 0,5 0,1019 0,579 MPA -1,8929 -2,3118 2,9418 -0,4220 -1,1156 -3,3361 13,2381 7,4095 -11,4981 -2,5687 7,9508 -3,1987 29,3568 28,9440 11,2963 5,1007 15,29 15,29 13,397 18,2287 -4,0396 15,29 3,1161 17,7058

34

Pembahasan: Setelah analisis total sulfur ditentukan, selanjutnya dapat dihitung MPA (Maximum Potential Acid), dengan asumsi semua bersumber dari mineral pirit (FeS2) dengan hasil dinyatakan sebagai satuan kilogram dari H2SO4 per ton batuan (Kg H2SO 4 /t). Biasanya nilai MPA adalah antara 0 dan 200 Kg H2SO4 /t. Analisis MPA biasanya dikombinasikan dengan analisis ANC untuk interpretasi. Salah satu tanda adanya potensi Ais Asam Tambang adalah asam yang tinggi. Hal ini tercermin dengan hasil pengujian ini didapat nilai MPA yang cukup tinggi. Yaitu nilai MPA yang antara 0 dan 200 Kg H2SO4 /t. Yaitu pada sampel 2A sebesar 2,9418, sampel 4A sebesar 13,2391, sampel 4B sebesar 7,4085, sampel 6A sebesar 7,9508, sampel 7A sebesar 29,3568, sampel 7B sebesar 28,9440, sampel 8A sebesar 11,2963, sampel 8B sebesar 5,1007, sampel 9A sebesar 15,29, sampel 9B sebesar 15,29, sampel 10A sebesar 13,397, sampel 10B sebesar 18,2287, sampel 11B sebesar 15,29, sampel 12A sebesar 3,1161, sampel 12B sebesar 17,7058, yang semuanya dalam satuan Kg H2SO4 /t (seperti pada tinta merah).

35

4.3 ANALISIS ANC Analisis ANC dilakukn dengan melakukan kalkulasi/perhitungan ANC. Hasil pengujian ANC: Kalkulasi: ANC = [Y x M HCl /wt] x C Keterangan: Y B = (Volume HC yang ditambahkan) (Vol NaOH yang dititrasi x B) = (Volume HCl pada blanko) / (Volume NaOH yang dititrasi pada blanko)

M HCl = Molaritas HCl Wt C = Bobot sample (= 2 gr) = Faktor konversi, C = 49.0 (untuk menghitung kg H2SO4/t), C = 5.0 (untuk

menghitung % CaCO3). Contoh perhitungan ANC: Sample 1 Diketahui: B = (40 / 66,73) = 0,5994 Y = (40 (61,66 x0,6) = 3 ANC = (3 x 0,1 / 2) x 49 = 7,35 Hasil dari pengujian ANC terdapat dalam tabel 12.

36

Tabel 12: Hasil ANC test Sampel Wsampel (gr) Fizz HCl yang pH awal Hasil titrasi NaOH (N) 0,1 0,1 0,1 0,1 0,5 0,5 0,26 0,10 0,57 0,59 1,54 1,54 0,71 0,53 0,84 0,85 1,59 1,59 0,84 0,83 0,86 0,78 0,85 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1 0,1 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1 0,1 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1 (ml) 61,66 7,35 63,67 4,41 62,05 6,78 61,50 7,595 81,76 8,45 83,40 -11 81,37 13,11 81,46 13,11 79,22 39,2 80,61 22,17 63,02 5,39 63,95 19,6 81,98 6,125 80.01 29,28 40,34 20,58 41,83 3,68 78,48 17,4 76,27 -14,1 40,19 22,3 39,63 28,78 41,55 6,50 40,66 17,2 40,87 14,3 41,33 8,58 5,98 ANC

Rating ditambahkan (ml) (N) 0,1 0,1 0,1 0,1 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1 0,1 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1 0,1 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1

01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 10A 10B 11A 11B 12A 12B Blanko 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 -

1 1 1 1 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 -

40 40 40 40 80 80 80 80 80 80 40 40 80 80 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 20

37

Blanko 2 Blanko3 Blanko 4

40 40 80

0,1 0,5 0,5

1,45 0,76 0,64

0,1 0,5 0,5

66,73 41,97 82,27

Hasil Standarisasi: 50 ml 0,1 HCl dititrasi dengan 0,5 NaOH, hasil 141,31 ml 20 ml 0,1 NaOH dititrasi dengan 0,1 HCl, hasil 16,50 ml 20 ml 0,5 HCl dititrasi dengan 0,5 NaOH, hasil 20,58 ml 20 ml 0,5 NaOH dititrasi dengan 0,1 HCl, hasil 122,89 ml

Pembahasan: Analsisi ANC pada prinsipnya adalah jumlah basa penetral, termasuk karbonat yang terdapat dalam material overburden yang dapat ditemukan dengan melakukan pengujian dengan asam klorida (HCl). Caranya, sampel dan asam klorida dipanaskan agar terjadi reaksi, selanjutnya tentukan banyaknya asam yang ditambahkan (volume) untuk selanjutnya dititrasi dangan NaOH. (Jackson, 1958). Sebelumnya harus ditentukan fizz rating. Fizz rating yang terdapat dalam perhitungan ANC ditentukan untuk masing-masing sampel yaitu untuk memastikan penambahan asam yang tepat agar dapat bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3) yang ada. Selama perngujian ANC, sampel jangan dibiarkan mendidih. Jika sampai mendidih, buang sampel dan uji ulang lagi. sebelum mentitrasi dengan asam, isi buret dengan asam lalu dinginkan sesaat. Sebelum mentitrasi dengan basa, isi buret dengan basa lalu dinginkan sesaat untuk memastikan titran yang bebas sudah ditambahkan kedalam sampel. Acid Neutrealising Capacity (ANC) sebagai salah satu metode melihat potensi AAT pada prinsipnya adalah alat mengukur buffering capacity atau kemampuan menetralisir asam (biasanya ditandai dengan hadirnya mineral karbonat). Hal ini ditentukan dengan penambahan sejumlah tertentu HCl pada sampel yang telah ditentukan, dan ketika sampel sudah bereaksi (dengan pemanasan), titrasi dengan NaOH untuk menentukan jumlah HCl yang terdapat dan bereaksi dengan sampel.

38

Potesi ANC pada penelitian ini cukup bervariasi. Nilai ANC terkecil terdapat pada sampel 8B yaitu sebesar 3,68, dan nilai ANC terbesar terdpaat pada sampel 5A yaitu sebesar 39,2. Dan terdapat nilai minus (seperti pada tinta merah) yaitu pada sampel 3B dan 9B. hal ini mungkin dikarenakan saat titrasi dengan NaOH terlalu banyak sehingga nilai ANC keliru.

4.4 PENGUKURAN PH DAN EC Hasil pengukuran PH dan EC dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 13: Hasil Pengukuran pH dan EC Kode sampel 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 pH 5,66 5,48 4,45 5,47 4,75 4,95 3,88 4,84 4,57 4,01 4,21 4,45 EC (s) 40 30 30 20 20 30 630 80 30 830 120 690

Pembahasan: Pengukuran pH pada prinsipnya adalah analisis berbasis lapangan untuk menentukan keasaman mudah larut dalam batuan dan umumnya digunakan sebagai alat kualitatif untuk mengidentifikasi dan mengelola daerah asam. Analisis ini dilakukan dengan mencampur sampel dalam perbandingan volume 1:5 dengan air deionisasi. Sebuah sampel dengan pH kurang dari 4,5 menunjukkan tingkat keasaman yang tinggi.

39

Salah satu tanda adanya potensi Ais asam tambang adalah nilai pH yang rendah. Yaitu Ph dibawah 5,5 seperti yamg ditemukan dalam analalisis ini nilai pH sampel 1 sampai sampel 12 bernilai rendah.

40

4.5 ANALISIS JUMLAH ORGANIK KARBON Hasil pengukuran jumlah (%) organik karbon dijelaskan pada tabel berikut

Tabel 14: Hasil Pengukuran jumlah (%) Organik Karbon Kode sample 01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 10A 10B 11A 11B 12A 12B Kod e cc 103 225 135 334 367 391 107 53 44 89 151 233 61 261 59 390 259 63 332 91 2 347 96 274 20,7096 20,9169 20,8177 20,8269 20,8541 20,6007 20,5170 20,5946 20,5699 21,0477 20,8506 20,4893 20,7658 20,7769 21,0903 20,9355 20,7409 20,8370 20,6893 20,8451 20,5751 21,2114 20,6511 21,1853 30,6552 30,8544 30,7612 30,7709 30,6672 30,4225 30,1974 30,1972 30,5634 30,5756 30,8455 30,4867 30,6064 30,6193 30,9003 30,7475 30,3506 30,4386 29,8575 29,9904 30,4913 31,1190 30,3790 30,9206 30,5239 30,7260 30,6504 30,6917 30,6365 30,3670 30,1745 30,1526 30,5488 30,5672 30,8369 30,4777 30,5638 30,5402 30,8460 30,7057 30,3974 30,4596 28,6441 28,8264 30,2058 30,9053 30,2351 30,7601 9,944 9,938 9,943 9,944 9,813 9,822 9,681 9,602 9.993 9,528 9,995 9,997 9,840 9,842 9,810 9,812 9,609 9,601 9,168 9,145 9,916 9,908 9,728 9,735 9,813 9,809 9,832 9,865 9,782 9,766 9,657 9,558 9,979 9,519 9,986 9,988 9,798 9,763 9,755 9,770 9,656 9,622 7,955 7,981 9,630 9,694 9,584 9,575 13,1 12,9 11,1 7,9 3,1 5,6 2,4 4,4 1,4 0,9 0,9 0,9 4,2 7,9 5,5 4,2 -4,7 -2,1 121,3 116,4 28,6 21,4 14,4 16 1,31 % 1,29 % 1,11 % 0,79 % 0,31 % 0,56 % 0,24 % 0,44 % 0,14 % 0,09 % 0,09 % 0,09 % 0,42 % 0,79 % 0.55 % 0,42 % -0,47 % -0,21 % 12,13 % 11,64 % 2,86 % 2,14 % 1,44 % 1,6 % A B C D E F G

41

Keterangan: A: Wcc kosong (gr), B: Wcc + sampel setelah pemanasan 4 jam 105C, C: Wcc + sampel setelah pemanasan 7 jam 400C, D: W sampel setelah pemanasan 4 jam 105C, E: W sampel setelah pemanasan 7 jam 400C, F: Bahan organik yang teroksidasi dengan pemanasan, G: % bahan organik sampel

Pembahasan: Pada penelitian ini ditemukan jumlah bahan organik yang bervariasi dari sampel 1 sampai sampel 12. Didapat bahwa jumlah bahan organik terendah terdapat pada sampel 5B, 6A, dan 6B yaitu sebesar 0,09%, jumlah bahan organik tertinggi terdapat pada sampel 10A yaitu sebesar 12,13%, dan jumlah bahan organik yang minus (seperti pada tinta merah) terdapat pada sampel 9A dan 9B yaitu sebesar -0,47% dan -0,21% hal ini mungkin dikarenakan kesalahan sewaktu menimbang.

42

4.6 PERHITUNGAN Net Acid Production Potential (NAPP) Hasil perhitungan NAPP dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 15: Hasil perhitungan NAPP Sample 01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 10A 10B 11A 11B 12A 12B MPA -1,8929 -2,3118 2,9418 -0,4220 -1,1156 -3,3361 13,2381 7,4095 -11,4981 -2,5687 7,9508 -3,1987 29,3568 28,9440 11,2963 5,1007 15,29 15,29 13,397 18,2287 -4,0396 15,29 3,1161 17,7058 ANC 7,35 4,41 6,78 7,595 8,45 -11 13,11 13,11 39,2 22,17 5,39 19,6 6,125 29,28 20,58 3,68 17,4 -14,1 22,3 28,78 6,50 17,2 14,3 8,58 NAPP -9,243 -6,7218 -3,8382 -8,017 -9,566 7,639 0,1281 -5,7005 -50,698 -24,739 2,5608 -22,799 23,2318 -0,336 -9,2837 1,4207 -2,11 29,39 -8,903 -10,55 -10,54 -1,91 -11,18 9,1258 Interpretasi NAF NAF NAF NAF NAF PAF PAF NAF NAF NAF PAF NAF PAF NAF NAF PAF NAF PAF NAF NAF NAF NAF NAF PAF

43

Hasil interpretasi perhitungan NAPP dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 16 Ringkasan untuk menafsirkan asam-basa hasil perhitungan Kisaran nilai NAPP
> 10 KGH 2 SO 4 / t NAPP (MPA-ANC) Sangat berpotensi membentuk asam (PAF) Cukup berpotensi membentuk asam (PAF) Rendah tidak berpotensi membentuk asam (NAF) Tidak berpotensi membentuk asam (NAF) NAG Sangat berpotensi membentuk asam (PAF) Cukup berpotensi membentuk asam (PAF) Rendah tidak berpotensi membentuk asam (NAF)

1-10 KGH 2 SO 4 / t

0-1 KGH 2 SO 4 / t

-1-10 KGH 2 SO 4 / t

Pembahasan: Net Acid Production Potential (NAPP) adalah hasil selisih antara MPA dan ANC, yaitu NAPP = MPA - ANC, dan dihitung dalam satuan kg H2SO4/ton batuan (Kg H2SO4/ t). Nilai positif NAPP mengindikasikan bahwa terdapat asam, sementara nilai negatif NAPP terdapat penetral asam. Net Acid Production Potential (NAPP) adalah hasil selisih antara MPA dan ANC, Nilai positif NAPP mengindikasikan bahwa sampel berpotensi membentuk asam (PAF), sementara nilai negatif NAPP mengindikasikan bahwa sampel tidak berpotensi membentuk asam (NAF). Dari hasil penelitian yang kami lakukan, didapat bahwa yang berpotensi membentuk asam (PAF) yaitu pada sampel 3B, 4A, 6A, 7A, 8B, 9B, 12B. sedangkan yang tidak berpotensi membentuk asam (NAF) yaitu pada sampel 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 4B, 5A, 5B, 6A, 6B, 7B, 8A, 9A, 10A, 10B, 11A, 11B, 12A.

44

4.7 Hasil keseluruhan magang (static test) Hasil penelitian analsis Air Asam Tambang akan disajikan pada tabel 17. Tabel 17: Hasil Seluruh Kegiatan Magang (Static Test) No Kode Samp el 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 01A 01B 02A 02B 03A 03B 04A 04B 05A 05B 06A 06B 07A 07B 08A 08B 09A 09B 10A 10B 11A 11B 12A 12B -0,0619 -0,0756 0,0962 -0,0138 -0,0378 -0,1099 0,4329 0,2423 -0,376 -0,084 0,26 -0,1046 0,96 0,9465 0,3694 0,1668 0,5 0,5 0,4381 0,5961 -0,1321 0,5 0,1019 0,579 -1,8929 -2,3118 2,9418 -0,4220 -1,1156 -3,3361 13,2381 7,4095 -11,4981 -2,5687 7,9508 -3,1987 29,3568 28,9440 11,2963 5,1007 15,29 15,29 13,397 18,2287 -4,0396 15,29 3,1161 17,7058 7,35 4,41 6,78 7,595 8,45 -11 13,11 13,11 39,2 22,17 5,39 19,6 6,125 29,28 20,58 3,68 17,4 -14,1 22,3 28,78 6,50 17,2 14,3 8,58 4,45 4,21 4,01 4,57 4,84 3,88 4,95 4,75 5,47 4,45 5,48 TS % MPA ANC pH Past e 5,66 % organik karbon 1,31 % 1,29 % 1,11 % 0,79 % 0,31 % 0,56 % 0,24 % 0,44 % 0,14 % 0,09 % 0,09 % 0,09 % 0,42 % 0,79 % 0.55 % 0,42 % -0,47 % -0,21 % 12,13 % 11,64 % 2,86 % 2,14 % 1,44 % 1,6 % -9,243 -6,7218 -3,8382 -8,017 -9,566 7,639 0,1281 -5,7005 -50,698 -24,739 2,5608 -22,799 23,2318 -0,336 -9,2837 1,4207 -2,11 29,39 -8,903 -10,55 -10,54 -1,91 -11,18 9,1258 NAPP Inte rpre tasi NAF NAF NAF NAF NAF PAF PAF NAF NAF NAF PAF NAF PAF NAF NAF PAF NAF PAF NAF NAF NAF NAF NAF PAF

45

Pembahasan:

Berdasarkan tabel diatas, dilihat dari hasil static test, seperti; analisis total sulfur, MPA, ANC, pH, % organik karbon, dan NAPP, beberapa sample yang diteliti pada kegiatan magang ini berpotensi membentuk air asam tambang (AAT). Salah satu tanda adanya potensi Air asam tambang adalah nilai sulfat yang tinggi, yaitu 0,5 10 gr/l). Hal ini tercermin dengan hasil pengujian ini, dari sampel 1 sampai sample 12, didapat nilai analisis total sulfur yang cukup tinggi, yaitu pada sampel 7A sebesar 0,96 g/l, sample 7B sebesar 0,9465 g/l, sample 9A sebesar 0,5 g/l, sample 9B sebesar 0,5 g/l, sample 10B sebesar 0,5961 g/l, sample 11B sebesar 0,5 g/l, dan sample 12B sebesar 0,579 g/l. Salah satu tanda adanya potensi Ais Asam Tambang yang lain adalah asam yang tinggi. Hal ini tercermin dengan hasil pengujian ini didapat nilai MPA yang cukup tinggi. Yaitu nilai MPA yang antara 0 dan 200 Kg H2SO4 /t. Yaitu pada sampel 2A sebesar 2,9418, sampel 4A sebesar 13,2391, sampel 4B sebesar 7,4085, sampel 6A sebesar 7,9508, sampel 7A sebesar 29,3568, sampel 7B sebesar 28,9440, sampel 8A sebesar 11,2963, sampel 8B sebesar 5,1007, sampel 9A sebesar 15,29, sampel 9B sebesar 15,29, sampel 10A sebesar 13,397, sampel 10B sebesar 18,2287, sampel 11B sebesar 15,29, sampel 12A sebesar 3,1161, sampel 12B sebesar 17,7058, yang semuanya dalam satuan Kg H2SO4 /t Potesi ANC pada penelitian ini cukup bervariasi. Nilai ANC terkecil terdapat pada sampel 8B yaitu sebesar 3,68, dan nilai ANC terbesar terdapat pada sampel 5A yaitu sebesar 39,2. Salah satu tanda adanya potensi Ais asam tambang adalah nilai pH yang rendah.Nilai pH yang didapat juga rendah. Yaitu sampel 1 s/d 12 ber-pH rendah, pH dibawah 5,5. Pada penelitian ini ditemukan jumlah bahan organik yang bervariasi dari sampel 1 sampai sampel 12. Didapat bahwa jumlah bahan organik terendah terdapat pada sampel 5B, 6A, dan 6B yaitu sebesar 0,09%, jumlah bahan organik tertinggi terdapat pada sampel 10A yaitu sebesar 12,13%, dan jumlah bahan

46

organik yang minus terdapat pada sampel 9A dan 9B yaitu sebesar -0,47% dan 0,21% hal ini mungkin dikarenakan kesalahan sewaktu menimbang. Berdasarkan perhitungan NAPP yang telah kami lakukan, didapat bahwa yang berpotensi membentuk asam (PAF) yaitu pada sampel 3B, 4A, 6A, 7A, 8B, 9B, 12B. sedangkan yang tidak berpotensi membentuk asam (NAF) yaitu pada sampel 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 4B, 5A, 5B, 6A, 6B, 7B, 8A, 9A, 10A, 10B, 11A, 11B, 12A. Sedangkan untuk kinetik test belum bisa dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama sehingga belum bisa didapatkan apakah sample yang kita teliti ini termasuk potential acid forming (PAF), non acid forming (NAF), atau uncertain (UC).

47

BAB V REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG

5.1 Keadaan Umum Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang terutama dengan penambangann sistem terbuka (open pit mining) mempunyai sifat yang buruk untuk pertumbuhan

tanaman/vegetasi. Sifat fisik tanah sudah sangat buruk; tekstur tanah didominasi oleh pasir berkerikil dengan permeabilitas sangat cepat, kapasitas menahan air kurang dari 20%. Bila tekstur tanahnya liat berlumpur maka permeabilitasnya sangat lambat sehingga sering tergenang air. Kemasaman tanah sangat bergantung pada bahan induk tanahnya. Kandungan hara seperti N, P, K sangat rendah serta aktivitas biologi tanah pun sangat rendah. Hampir tidak ada tanaman yang dapat tumbuh baik disitu. Kemiringan lereng berkisar dari 5-25%.

5.2 Kebutuhan Reklamasi

Pada lahan bekas tambang, keadaan sumberday alam (tanah, vegetasi, air) pada umumnya sudah berubah dan terganggu oleh kegiatan penambangan. Lapisan tanah dikikis dan sering dibuang, walaupun disadari bahwa untuk membentuknya kembali dibutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan/jutaan tahun. tanah sesungguhnya berfungsi sebagai media utama pertumbuhan tanaman, filter secara biologi, dan secara langsung mempengaruhi tata air suatu ekosistem. Fungsi hidrologi suatu DAS akan dirubah secara nyata (siginificant) oleh kegiatan penambangan, sering mengakibatkan perubahan drastis dari jumlah dan kualitas baik sumberdaya air, aliran permukaan, maupun air bawah tanah. Debu dari kegiatan penambangan sering menurunkan kualitas udara. Pelepasan gas ke udara, seperti H2S, NH4, NH3, dan NO2 sering terjadi dalam kegiatan penambangan. Sistem biologi pada semua skala dirubah dan dirusak oleh penambangan.

48

Pertumbuhan penduduk yang terus berjalan mengakibatkan tekanan pada kebutuhan sumberdaya alam yang mengharuskan masyarakat mengkonversikan dan menggunakan sumberdaya alam secara bijaksana. Apabila kita merusak atau mengganggu sumber daya alam serius, maka sumberdaya alam tersebut mungkin tidak akan dapat dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang. Etika konservasi menyatakan bahwa kita harus memelihara dan/atau memperbaiki sumberdaya alam sejauh yang dapat dilakukan apabila SDA itu telah dirusak atau diganggu oleh setiap tipe pembangunan. Dengan demikian etika konservasi menghimbau dilakukannya reklamasi semua lahan yang sudah terganggu atau rusak dan mengembalikannnya pada penggunaan yang produktif. Hampir semua tipe penggunaan lahan adalah berbasis pertumbuhan vegetasi seperti pertanian, kehutanan, penggembalaan, dan rekreasi. Oleh sebab itu, untuk memenuhi etika konservasi maka diperlukan upaya untuk

mengembalikan potensi maksimum pertumbuhan tanaman dalam mereklamasi lahan bekas tambang yang sudah sangat rusak. Mungkin generasi sekarang tidak akan sempat memanfaatkan lahan yang direklamasi sampai potensi maksimalnya, tetapi dalam rencana reklamasi kita tidak boleh mengabaikan manfaat yang diperoleh oleh generasi yang akan datang. Lahan produktif adalah sumberdaya yang sangat berharga tetapi sangat terbatas sehingga harus dikonversikan oleh generasi sekarang untuk digunakan oleh generasi yang akan datang. Untuk itu banyak pemerintah negara membuat undang-undang untuk mereklamasi lahan bekas tambang atau lahan yang sudah rusak agar potensi produktivitasnya dapat dikembalikan. Walau biaya reklamasi lahan rusak itu kelihatannya mahal, tetapi kalau dihitung satuan biaya tersebut per satuan keuntungan yang sudah diambil atau per satuan produksi yang sudah dihasilkan mungkin biaya tersebug sudah sangat wajar. Di Amerika biaya reklamasi lahan bekas tambang mencapai US$ 4000 US$ 10.000,- per hektar; namun biaya ini sesungguhnya hanya beberapa sen dolar saja per metrik ton batubara yang sudah diambil atau hanya sekian sen dollar per kilo watt listrik yang dihasilkan.

49

5.3 Teknologi Reklamasi

Teknologi reklamasi lahan yang sudah sangat rusak akibat penambangan adalah tergantung pada keadaan setiap lokasi. Namun dalam membuat rencana reklamasi dan pemilihan teknologi reklamasi mana yang dipakai perlu dijawab 2 pertanyaan berikut: 1. Penggunaan (apa) bagaimana yang memberikan potensi tertinggi didaerah tersebut berdasarkan karakteristik tanah dan lahan yang ada diatasnya, topografi dan bentuk lahan, iklim lokal dan suberdaya air? 2. Teknologi apa yang diperlukan untuk mencapai potensi tersebut? penggunaan lahan setelah penambangan mungkin atau tidak merupakan penggunaan yang paling potensial. Namun teknologi yang dipakai untuk reklamasi seharusnya adalah teknologi yang tidak merintangi generasi datang mengubah penggunaan lahan tersebut untuk tujuan lain yang mungkin sesuai. Falsafah dan pendekatan ini akan menjamin bahwa sumberdaya alam daerah tersebut akan dikonservasikan sebaik mungkin.

Untuk mengimplementasikan pendekatan ini, maka peraturan seharusnya menganjurkan agar survey harus dilakukan pada suatu daerah sebelum daerah tersebut terusik melalui penambangan untuk menentukan sifat-sifat hidrologinya, sifat-sifat jenis vegetasinya, serta sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dengan adanya informasi tersebut, rencana reklamasi dapat dikembangkan/desain untuk menjawab pertanyaan dan kriteria diatas. Jika ada lapisan tanah yang mengandung unsur-unsur yang tidak baik untuk pertumbuhan tanaman seperti pirit, dapat disusun cara untuk megatasinya agar tidak memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan tanaman. Sebaliknya bila ada lapisan tanah yang menguntungkan tanaman seperti lapisan atas tanah (top soil) maka lapisan tersebut dapat dipisahkan, disimpan, dan kemudian disebar keatas tanah permukaannya yang sudah dibentuk kembali. Dari informasi sumberdaya tadi maka keputusan dapat diambil sehubungan dengan ketebalan lapisan tanah yang tersedia untuk disebar kembali pada puing-puing tanah yang sudah dibentuk

50

kembali. Bangunan-bangunan hidrologi/tata air dan bangunan pencegah erosi dapat direncanakan dengan tepat. Suatu rencana reklamasi lahan yang baik dapat dibuat untuk mengatasi semua masalah yang sudah teridentifikasi. Teknologi reklamasi lahan bekas tambang tersedia sangat banyak dan bervariasi, tetapi dapat dikelompokan pada; a) teknologi yang memodifikasi sifat merugikan dari puingpuing tanah rusak; b) teknologi yang dapat menutupi puing-puing tanah rusak, dan c) teknologi yang menstabilkan tanah rusak.

5.4 Memodifikasi Lapisan Atas Tanah

Teknik untuk memodifikasi sifat tanah atas yang merugikan pertumbuhan tanaman dan tata air cukup banyak dan bervariasi yang harus disesuaikan dengan sifat-sifat tanahnya. Lapisan tanah masam sering diperbaiki dengan menggunakan kapur, dolomit, batuan fosfat, atau bahan-bahan bersifat basa. Apabila kemasaman diakibatkan oleh pencucian basa-basa dari lapisan tumpukan tanah, maka permberian kapur adalah cara reklamasi yang tepat. Namun apabila kemasaman tanah diakibatkan oleh oksidasi pirit yang dikandung oleh tumpukan puing tanah, maka pemberian kapur dalam jumlah banyak dan dalamn waktu yang panjang akan dibutuhkan untuk menetraliasai kemasaman tanah tersebut. hal ini mungkin tidak praktis apabila tidak ada deposit kapur di sekitar daerah tersebut. Lahan bekas tambang yang mempunyai sifat yang tidak baik untuk pertumbuhan tanaman sering ditimbun sebagai cara untuk mereklamasinya. Dalam menimbun bahan/puing yang tidak diinginkan, upaya pencegahan bahaya akibat pencucian dan kebocoran dari bahan tersebut harus dilakukan sebelumnya. Untungnya dalam semua pertambangan batubara yang lahan bekas tambangnya perlu ditimbun lapisan persis dibawah lorong penambangan sering hampir kedap dan dapat mencegah infiltrasi oksigen yang dapat mengoksidasi phyrit tersebut. bahan yang sering dipakai untuk menimbun puing yang tidak diinginkan tersebut adalah tanah asal atau puing tanah yang kualitasnya baik. Ketebalan tanah yang diperlukan untuk menimbun puing yang tidak diinginkan tersebut sangat

51

tergantung pada kualitas tanah penimbun dan puing yang ditimbun. Ketebalan tersebut berkisar dari 60-100 cm dan bila kualitas puing yang ditimbun tidak terlalu merugikan maka ketebalan penimbunan bisa kurang dari 60 cm. Dalam semua kasus, pemisahan dan penyebaran kembali tanah yang berasal dari topsoil dan subsoil sangat baik, penimbunan bagian bawah digunakan subsoil dan penimbunan bagian atas digunakan topsoil. Berdasarkan pengalaman penimbunan pada beberapa lokasi menunjukan bahwa reklamasi yang terbaik melalui penimbunan diperoleh apabila dilakukan perataan dengan kontur yang sesuai pada puing yang akan ditimbun. Penimbunan tanah asal setebal 40-60 cm sudah cukup untuk memberikan kondisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman pada bekas tambang yang mengandung garam. Karena penimbunan dengan top soil sangat baik, maka ketebalan top soil 5-30 cm diatas timbunan subsoil sudah sangat efektif. Dengan cara ini maka produktifitas lahan yang sudah direklamasi lebih tinggi dari lahan sebelum ditambang. Pada umumnya, pemisahan dan penyebaran kembali tanah top soil dan sub soil dalam penimbunan lebih baik dari pencampuran keduanya. Pencampuran menyebabkan pengenceran hara yang tersedia pada top soil, penurunan siklus hara, dan penerimaan keuntungan top soil sebagai sumber benih maupun keragaman jenis vegetasi. Apabila lapisan topsoil tersedia sedikit dan tidak cukup menutup seluruh area dengan ketebalan yang diinginkan, maka lebih baik topsoil yang tersedia disebar keseluruh area dengan lebih tipis daripada disebar pada area sempit dengan ketebalan yang diinginkan. Dengan cara ini maka seluruh area akan ditumbuhi vegetasi walaupun tipis dan sudah cukup mencegah pengkerakan permukaan tanah dan dapat meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan dan erosi. Hal ini menunjukan bahwa tanah dan penyimpanan tanah lapisan atas sangat penting dalam proses penambangan dan reklamasi.

52

5.5 Stabilisasi Lokasi yang Direklamasi

Lokasi yang direklamasi pada umumnya berlereng miring dan tanahnya terlepas-lepas. Hal ini juga akan terjadi pada lahan yang baru saja dibentuk topografinya dan ditutupi dengan tanah lapisan atas (top soil). Kondisi ini mengakibatkan tanah sangat mudah tererosi oleh air maupun angin. Oleh sebab itu lokasi ini harus segera diproteksi sambil melakukan penanaman. Untuk mengontrol aliran permukaan dan erosi pada lahan baru saja dibentuk permukaannya dan disebar dengan topsoil adalah dengan pemberian penutup tanah seperti mulsa. Tipe-tipe mulsa yang sering dipakai adalah mulsa jerami, rumput-rumputan atau mulsa limbah atau hasil pabrik. Mulsa rumput-rumputan dapat juga berfungsi sebagai sumber benih selain sebagai penutup tanah. Mulsahydro (hydromulching) sering juga dipakai terutama pada lokasi yang berlereng curam seperti potongan jalan atau dareah yang sulit dijangkau. Tanaman berbiji seering digunakan sesegera mungkin setelah penempatan topsoil karena tanaman berbiji (rumput-rumputan) atau legume merayap dapat segera berkecambah dan tumbuh menutup lahan. Tanaman rumput dan legume merayap akan segera menutup tanah dengan baik dan efektif meningkatkan infiltrasi, menurunkan aliran permukaan dan erosi sehingga sangat baik didaerah relatif kering. Apabila tanah tidak tersedia maka mulsa residue/limbah pabrik atau amelioran kimia sangat diperlukan untuk menciptakan media pertumbuhan tanaman. Bahan amelioran yang sering dipakai adalah serbuk gergaji, gypsum, dan/atau pupuk nitrogen pada laha bekas tambang yang tidak ada tanahnya. Tanah bekas tambang sebaiknya dianalysis kandungan haranya agar dapat ditentukan hara yang perlu ditambahkan dalam reklamasi. Waktu pemberian pupuk sangat tergantug pada tanaman apa yang ditanam dalam program reklamasi. Apabila rumput tahunan yang akan ditanam, pemupukan lebih baik ditunda sampai setelah tanaman tumbuh untuk mencegah kompetisi dengan tanaman setahun yang ditanam karena tanaman tersebut segera merespon pupuk yang diberikan. Namun pemberian bahan organik termasuk limbah rumah tangga,

53

kompos, dan pupuk kandang dapat digunakan segera untuk memenuhi kebutuhan hara dan bahan organik. Pengelolaan air pada lahan yang telah direklamasi sangat penting untuk menjamin stabilisasi hidrologi jangka panjang lokasi tersebut. Seperti pada lahan pertanian, pembuatan terus guludan, teras bangku, kontur, saluran air, bangunan terjunan, dan bangunan lain sangat diperlukan untuk konservasi air terutama didaerah yang berlereng curam dan dilokasi yang mungkin terjadi konsentrasi air.

5.6 Mengembalikan Produktivitas Lahan

Teknologi yang didiskusikan diatas mempunyai tingkat keberhasilan yang bervariasi dalam mengembalikan potensi produktivitas lahan yang secara drastis telah terganggu oleh kegiatan penambangan. Apakah lahan tersebut akan digunakan untuk pertanian, penggembalaan, kehutanan, atau untuk dareah reklamasi, pertumbuhan keberhasilan reklamasi. Pada daerah yang mempunyai lapisan fragipan (lapisan padat dengan BO yang tinggi) atau lapisan horizon B yang masam, maka lapisan yang tidak baik ini harus dipindahkan dan dikubur. Untuk lokasi yang tanahnya dalam atau puing tanah yang tidak mempunyai sifat buruk terhadap pertumbuhan tanaman, maka lokasi tersebut sangat sesuai (feseable) untuk mengembalikan potensi vegetasi adalah kriteria utama dalam menilai

produktivitas lahannya. Secara umum, diperlukan paling sedikit 60-100 cm kedalaman perakaran untuk dpaat dipertimbangkan sebagai lokasi yang mungkin dikembalikan produktivitasnya sebagai dareah produksi pertanian. Untuk itu daerah tersebut sering ditanami dengan rumput dan/atau rumput + kacangkacangan merayap pada 3-4 tahun pertama dalam program reklamasi. Hal ini diperlukan untuk mengkonsolidasikan dan memantapkan tanahnya supaya lebih baik dari segi sifat fisik maupun kimianya. Masalah pemadatan (compaction) adalah faktor yang sangat dominan dalam kegagalan reklamasi. Pengurangan kepadatan tanah membutuhkan teknik reklamasi mekanik dan biologi yang tepat yang kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama.

54

Didaerah yang beriklim basah, terutama kehutanan (hutan) mungkin menjadi tipe penggunaan lahan yang final dalam program reklamasi. Seperti pada penanaman rumput tahunan dan tanaman setahun, pada umumnya dengan teknik reklamasi yang cukup, maka penanaman spesies kayu-kayuan yang sama dengann yang tumbuh disekitarnya dapat dilakukan. Seperti praktek yang umumnya dilakukan bahkan pada lokasi yang rencana final penggunaan lahannya adalah hutan, kebanyakan lokasinya ditanami terlebih dahulu dengan rumput-rumputan pada beberapa tahun pertama, baru kemudian ditanami kayu-kayuan.

Teknik rehabilitasi mekanik yang umum diperlukan dan diterapkan dalam rangka mengembalikan produktivitas lahan adalah: 1. Memindahkan tumpukan tanah dilokasi yang berlerang curam berbukit agar lebih landai lerengnya dan mudah menstabilkan serta mudah menumbuhan tanaman/vegetasi. 2. Dalam persiapan, tergantung pada posisi lekukan, perencanaan saluran air harus pada posisi yang tepat. Semua saluran, terjunan, dan saluran diversi harus direncanakan pada posisi yang tepat sehingga tidak akan ada air yang tergenang, kecuali pada tempat yang memang direncanakan sebagai check dam atau kolam. 3. Rencanakan jalan mobil maupun jalan manusia serta gorong-gorong yang diperlukan, sehingga mudah memindahkan puing, mengangkut tanaman, pupuk, pupuk kandang, dan air untuk mengairi. 4. Parit-parit sepanjang garis kontur harus dibangun secara bersambung pada lokasi yang lerengnya panjang dan gundul. Parit tersebut akan bermanfaat menahan air dan tanah yang tererosi dari bagian atas lereng. 5. Teras-teras perlu dibangun sekaligus untuk menyebarkan puing-puing tumpukan tanah sehingga lebih mudah menanam tanaman konservasi dan menstabilkan tanah. 6. Bangunan bronjong dan terjunan pada saluran terutama apabila lereng saluran curam, lebih dari 45% 7. Apabila memungkinkan dan diperlukan harus dibangun kantong penahan sedimen (sediment trap) pada saluran utama yang lerengnya <20%

55

8. Pada saluran yang kecil, bangunan penahan aliran/sedimen dari kayu atau tumpukan batu berupa check dam kecil. 9. Bangunan penahan aliran /sedimen dari kayu yang diisi batu pada saluran yang curam terutama pada saluran yang rawan longsor. 10. Bangunan penahan longsor tebing pada saluran yang mudah longsor. 11. Bangunan saluran terjunan apabila ada jatuhan air melebihi 3 meter.

56

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa hampir semua lahan bekas tambang sudah rusak berat. Sifat fisik dan kimia tanah pada lahan bekas tambang umumnya buruk; tanahnya bertekstur pasir, berkerikil/berbatu, permeabilitas sangat cepat, kemampuan menahan air kecil (<20%), dan kandungan hara (N, P, K) rendah; pada lahan tertentu kandungan NA+ tinggi, kepadatan sangat tinggi, dan permeabilitas sangat lambat. Selain itu, keadaan rusak tersebut dapat menimbulkan aliran permukaan dan erosi yang tinggi sehingga dapat mengakibatkan banjir dan sedimen dibagian hilir daerah tambang (Sinukaban, Naik, 2007). Seperti pada penelitian ini, Analisis terbentuknya air asam tambang di lahan bekas pertambangan batubara di Kalimantan ini dilakukan dengan 12 sample overburden/bahan penutup tanah dengan berbeda-beda kedalamannya. Hasil sementara yang bisa didapat dari kegiatan magang ini berdasarkan analisi static test yaitu; analisis total sulfur, MPA, ANC, PH dan EC, organik karbon, dan perhitungan NAPP, didapat bahwa terdapat beberapa sample yang berpotensi membentuk asam (PAF) yaitu pada sampel 3B, 4A, 6A, 7A, 8B, 9B, 12B. Sedangkan yang tidak berpotensi membentuk asam (NAF) yaitu pada sampel 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 4B, 5A, 5B, 6A, 6B, 7B, 8A, 9A, 10A, 10B, 11A, 11B, 12A.

57

6.2 Saran

Saran yang dapat diberikan melalui Praktik Kerja Lapang ini yaitu : 1. Harus dilakukan penelitian yang lebih teliti dan orang yang sudah berpengalaman sebelumnya di pengerjaan tes analisis air asam tambang ini di static test maupun kinetic test agar hasil yang didapat akurat, 2. Penelitian harus dilengkapi oleh bahan dan alat yang mendukung kegiatan penelitian, juga menyediakan waktu yang cukup banyak karena static test dan kinetic test memerlukan waktu yang banyak, 3. Harus dilanjutkan dengan kinetic test untuk mempertajam hasil analisa dari static test dan untuk mendapatkan hasil apakah sampel termasuk PAF, NAF, atau UC dengan tepat, 4. Perlu adanya pengulangan terhadap beberapa sample yang eror hasilnya di beberapa pengujian 5. Lahan bekas penambangan menyebabkan lahan rusak dan berdampak buruk bagi lingkungan sekitar (misal akibat adanya pengaruh air asam tambang batubara), maka diperlukan upaya reklamasi lahan bekas penambangan. Teknik reklamasi yang diperlukan agar lahan bekas penambangan dapat dimanfaatkan misal untuk kegiatan pertanian sangat tergantung pada keadaan biofisik lahan bekas tambang. Namun secara umum reklamasi dapat dilakukan melalui kegiatan modifikasi lapisan atas tanah, penutupan puing tanah yang rusak, stabilisasi lahan dan pengembalian produktivitas lahan.

58

LAMPIRAN

Lampiran 1: Kegiatan Harian Magang di LIPI Geoteknologi Bandung

Tanggal 2 Agustus 2011 3 Agustus 2011 4 Agustus 2011 5 Agustus 2011 8 Agustus 2011 9 Agustus 2011 10 Agustus 2011 11 Agustus 2011 12 Agustus 2011 15 Agustus 2011 16 Agustus 2011 17 Agustus 2011 18 Agustus 2011 19 Agustus 2011 22 Agustus 2011 23 Agustus 2011 24 Agustus 2011 25 Agustus 2011 26 Agustus 2011 29 Agustus 2011 30Agustus 2011 31 Agustus 2011 1 September 2011 2 September 2011 5 September 2011

Kegiatan Preparasi sampel dan drying process Preparasi sampel dan drying process Preparasi sampel dan drying process Preparasi sampel dan drying process Sub-grading sample/crushing Sub-grading sample/crushing Sub-grading sample/crushing Sub-grading sample/crushing Analisis total sulfur Analisis total sulfur Analisis total sulfur Analisis total sulfur Analisis total sulfur Analisis total sulfur IZIN MAGANG KEPERLUAN KULIAH Pengukuran pH dan EC Analisis MPA Analisis total sulfur Analisis total sulfur LIBUR LEBARAN LIBUR LEBARAN LIBUR LEBARAN LIBUR LEBARAN LIBUR LEBARAN Analisis total sulfur

59

6 September 2011 7 September 2011 8 September 2011 9 September 2011 12 September 2011 13 September 2011 14 September 2011 15 September 2011 16 September 2011 19 September 2011 20 September 2011 21 September 2011 22 September 2011 23 September 2011 26 September 2011 27 September 2011 28 September 2011 29 September 2011 30 September 2011 3 Oktober 2011 4 Oktober 2011 5 Oktober 2011 6 Oktober 2011 7 Oktober 2011 10 Oktober 2011 11 Oktober 2011 12 Oktober 2011 16 Oktober 2011

Analisis total sulfur, Analisis ANC Analisis total sulfur, Analisis ANC IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH Analisis total sulfur Analisis total sulfur IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH Analisis ANC Analisis ANC IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH Analisis ANC Analisis ANC Analisis ANC IZIN MAGANG KARENA KULIAH IZIN MAGANG KARENA KULIAH Analisis jumlah organik karbon Analisis jumlah organik karbon Analisis jumlah organik karbon Perhitungan NAPP

60

DAFTAR PUSTAKA

Ian Wark Research Institute, Environmental Geochemistry International Pty Ltd Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. P.p. 47 50. U.S. Environment Protection Agency, Cincinati, Ohio, 45268. EPA600/2-78-054. Sinukaban, Naik. 2007. Rehabilitasi Lahan Bekas Penambangan Sebagai Upaya Perwujudan Pertanian Berkelanjutan. Direktorat Jenderal RLPS. Bogor. Sinukaban, Naik. 2007. Konservasi Tanah dan Air Kunci Pembangunan Berkelanjutan. Direktorat Jenderal RLPS. Bogor. Sobek, A.A., Schuller, W.A., Freeman, J.R., and Smith, R.M. 1978. Walters Stephen., Bradhsaw Dee., Mineralogical Characterisation Techniques for Predicting Acid Rock Drainage. Australia

Anonim, available online at: http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.crl.co. z/research/MDframework_3.2.asp&ei=jd2aTrs16J2IBqqtKwC&sa=X&oi translate&ct=result&resnum=9&ved=0CF4Q7gEwCA&prev=/search%3 q%3DAnalisis%2BMPA%2B(Maximum%2BPotential%2BAcid)%2Bad ah%26hl%3Did%26biw%3D1024%26bih%3D653%26prmd%3Dimvnsb Anonim, available online

at:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.dm wa.gov.au/documents/acid_mine_drainage.docx.pdf&ei=jd2aTrs16J2Ibq tKwC&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=5&ved=0CEAQ7gEwB &prev=/search%3Fq%3DAnalisis%2BMPA%2B(Maximum%2Bpotenti %2BAcid)%2Badalah%26hl%3Did%26biw%3D1024%26bih%3D653% 6prmd%3Dimvnsb Anonim, available online http://www.scribd.com/doc/49823190/air tambang (Diakses pada tgl: 16 Oktober 2011). asam-

61