Anda di halaman 1dari 10

KEPERAWATAN JIWA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

DISUSUN OLEH :

Adrian Dwi Candra (0910323094)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS TAHUN AJARAN 2012

PENDAHULUAN
Konsep diri merupakan hal yang kompleks dan abstrak, tidak dapat diraba dan tidak terwujud. Konsep Diri merupakan konsep seseorang sebagai orang yang berbeda dengan orang lain dan objek sekitarnya,terpisah dari orang lain dan objek tetapi merupakan manusia yang utuh. Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya serta lingkungan.

KATA PENGANTAR
Puji syukur yang dalam saya sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan.Dalam makalah ini saya membahas Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Konsep Diri. Dengan kasus : Seorang ibu R, usia 34 thn dirawat di Rumah Sakit setelah mengalami kecelakaan motor, yang menyebabkan kedua kakinya diamputasi. Pada saat interaksi dengan perawat klien lebih banyak mengis, menutup diri menyatakan kalau dirinya tidak berguna dan ingin cepat mati saja, ibu R menyatakan dia tidak bias hidup normal, tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya, malu dengan tetangga dan takut dicerai suami, dari hasil observasi klien terlihat menutup kakinya yang diamputasi dan selalu mengulangi kata-kata saya tidak berguna. Makalah ini dibuat untuk menentukan masalah keperawatan apa yang dihadapi ibu R dan datadata pendukung serta penjelasan mekanisme terjadinya masalah pada ibu R dan tindakan apa yang akan dilakukan oleh perawat. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi perawat dan klien yang mengalami masalah yang sama dengan kasus yang penulis bahas dalam makalah ini. Penulis ucapkan maaf jika makalah ini belumlah sempurna, penulis sadar masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Penulis

(Adrian Dwi Candra)

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN KONSEP DIRI


Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain ( Stuart & Sundeen, 1995 ). Termasuk persepsi indvidu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Lebih menjelaskan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh : fisikal, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Konsep diri belum ada saat dilahirkan, tetapi dipelajari dari pengalaman unik melalui eksplorasi diri sendiri hubungan dengan orang dekat dan berarti bagi dirinya. Dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya. Konsep diri berkembang dengan baik apabila : budaya dan pengalaman di keluarga dapat memberikan perasaan positif, memperoleh kemampuan yang berarti bagi individu / lingkungan dan dapat beraktualissasi, sehingga individu menyadari potensi dirinya. Respons individu terhadap konsep dirinya berfluktuasi sepanjang rentang konsep diri yaitu dari adaptif sampai maladaptive ( gambar 1 )

RENTANG RESPONS KONSEP DIRI

Gambar Gambar I : Rentang respon terhadap konsep diri Aktualisasi diri adalah : pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal hal positif maupun yang negative dari dirinya Harga diri rendah adalah ; individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain Identitas kacau adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek aspek identitas masa kanak kanak ke dalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis

Depersonalisasi adalah ; perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

2. Konsep diri terdiri dari 5 ( lima ) komponen ( Stuart dan Sundeen, 1991 ) : A. CITRA TUBUH (Body image) Citra tubuh adalah sikap, persepsi, keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan obyek yang kontak secara terus menerus ( anting, make up, kontak lensa, pakaian, kursi roda) dengan tubuh. Pandangan ini terus berubah oleh pengalaman dan persepsi baru. Gambaran tubuh yang diterima secara realistis akan meningkatkan keyakinan diri sehingga dapat mantap dalam menjalani kehidupan. Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh. Pada klien yang dirawat dirumah sakit umum, perubahan citra tubuh sangat mungkin terjadi. Stressor pada tiap perubahan adalah : Perubahan ukuran tubuh : berat badan yang turun akibat penyakit Perubahan bentuk tubuh : tindakan invasif, seperti operasi, suntikan, daerah pemasangan infus Perubahan struktur : sama dengan perubahan bentuk tubuh disrtai dengan pemasanagn alat di dalam tubuh Perubahan fungsi : berbagai penyakit yang dapat merubah system tubuh Keterbatasan : gerak, makan, kegiatan Makna dan obyek yang sering kontak : penampilan dan dandan berubah, pemasangan alat pada tubuh klien ( infus, fraksi, respitor, suntik, pemeriksaan tanda vital, dll)

B. IDEAL DIRI Ideal diri adalah persepsi individual tentang bagaimana dia harus berperilaku berdasarkan standart, tujuan, keinginan atau nilai pribadi tertentu. Sering disebut bahwa ideal diri sama dengan cita-cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri. Ideal diri diperlukan oleh individu untuk memacu pada tingkat yang lebih tinggi. Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi, sukar dicapai dan tidak realistis. Ideal diri yang samar dan tidak jelas dan cenderung menuntut. Pada klien yang dirawat dirumah sakit karena sakit fisik maka ideal dirinya dapat terganggu. Atau ideal diri klien terhadap hasil pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai.

Tanda dan gejala yang dapat dikaji : Mengungkapkan keputusasaan akibat penyakitnya , misalnya : saya tidak bisa ikut ujian karena sakit, saya tidak bisa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di muka saya, kaki saya yang dioperasi tidak dapat main bola. Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi, misalnya : saya pasti bisa sembuh padahal prognosa penyakitnya buruk; setelah sehat saya akan sekolah lagi padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi sekolah. C. HARGA DIRI ( Self-Esteem) Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri/cita-cita/harapan langsung menghasilkan perasaan berharga. Harga diri yang tinggi berakar dari penerimaan diri sendiri tanpa syarat, sebagai individu yang berarti dan penting, walaupun salah, gagal atau kalah. Harga diri diperoleh dari penghargaan diri sendiri dan orang lain. Faktor yang mempengaruhi harga diri tinggi adakah perasaan diterima, dicintai, dihormati serta frekwensi kesuksesan. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan. Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dan dapat terjadi secara : a. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba). Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perneal). Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan fisik. b. Kronik, yaitu perasan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negarif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

Gangguan gejala yang dapat dikaji : Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri, klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

D. PERAN DIRI Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial. Tiap individu mempunyai berbagai peran yang terintregrasi dalam pola fungsi individu. Menurut Stuart dan Sundeen ada 5 ( lima ) factor yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan peran : Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran individu Keseimbangan dan kesesuaian antara peran yang dilakukan Keselarasan harapan dan kebudayaan dengan peran Kesesuaian situasi yang dapat mendukung pelaksanaan peran Gangguan penampilan peran adalah berubah atau terhenti fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan kerja Pada klien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosial klien berubah menjadi peran sakit. Peran klien yang berubah adalah : Peran dalam keluarga Peran dalam pekerjaan/sekolah Peran dalam berbagai kelompok

Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan selama dirawat dirumah sakit. Atau setelah kembali dari rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya yang biasa.

Tanda dan gejala yang dapat dikaji : Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran Ketidakpuasan peran Kegagalan menjalankan peran yang baru Ketegangan menjalankan peran yang baru Kurang tanggung jawab Apatis/bosan/jenuh dan putus asa

Masalah keperawatan yang mungkin muncul : Perubahan penampilan peran Gangguan harga diri rendah Keputusasaan ketidakberdayaan

E. IDENTITAS DIRI Identitas diri pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, berkesinambungan, konsistensi dan keunikan individu. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja. Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas seseorang. Gangguan identitas adalah kekaburan / ketidakpastian memandang diri sendiri. Penuh dengan keraguan, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan. Tanda dan gejala yang dapat dikaji : Tidak ada percaya diri Sukar mengambil keputusan Ketergantungan Masalah dalam hubungan interpersonal Ragu / tidak yakin terhadap keinginan Projeksi ( menyalahkan orang lain )

Masalah keperawatan yang mungkin timbul : Gangguan identitas personal Perubahan penampilan peran Ketidakberdayaan Keputusasaan

Kepribadian Yang Sehat Individu dengan kepribadian yang sehat akan mengalami hal hal berikut ini : Citra tubuh yang positif dan sesuai Ideal diri yang realistic Konsep diri yang positif Harga diri yang tinggi Penampilan peran yang memuaskan Rasa identitas yang jelas

PENGKAJIAN 1. Identitas Klien Nama : Ny. R Umur : 34 th 2. Masalah keperwatan Gangguan Harga Diri Rendah Menarik Diri 3. Data Penunjang Interaksi dan komunikasi Pada saat interaksi dengan perawat klien lebih banyak mengis, menutup diri menyatakan kalau dirinya tidak berguna dan ingin cepat mati saja, ibu R menyatakan dia tidak bias hidup normal, tidak bias memenuhi kebutuhan anak-anaknya, malu dengan tetangga dan takut dicerai suami, dari hasil observasi klien terlihat menutup kakinya yang diamputasi dan selalu mengulangi kata-kata saya tidak berguna. Konsep diri a. Gambaran diri : klien menyatakan dirnya tidak lengkap lagi. b. Harga diri : klien mengalami harga diri rendah, merasa putus asa, malu dengan tetangga, tidak berguna dan ingin mati saja. c. Peran diri : kline merasa tidak bisa melakukan perannya lagi di dalam keluarga dan takut diceraikan suaminya. 4. Mekanisme terjadinya masalah Kecelakan motor Kaki klien diamputasi Harga diri rendah Menarik diri 5. Tindakan yang dilakukan perawat

PENUTUP
1. Kesimpulan Konsep diri merupakan hal yang kompleks dan abstrak, tidak dapat diraba dan tidak terwujud. Konsep Diri merupakan konsep seseorang sebagai orang yang berbeda dengan orang lain dan objek sekitarnya,terpisah dari orang lain dan objek tetapi merupakan manusia yang utuh. Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya serta lingkungan. 2. Saran Berdasarkan isi dari makalah banyak kekurangan yang terdapat pada isi yang dijelaskan dan bahasa yang di gunakan penulis sebagian besar masih teksbook. Hal ini di sebabkan karena kurangnya pemahaman dari penulis sendiri. Hendaknya dimasa yang akan datang diharapkan para penulis dan penerus selanjutnya lebih memahami lagi terhadap materi yang akan dibuatnya serta dapat menggunakan penulisan yang lebih efektif sehingga lebih mudah dipahami pembaca.

Daftar pustaka
Konsep diri , KDK, Sal 2003 Digitized by USU digital library 1