Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (NEPHROLITHIASIS)

A. Pengertian Batu perkemihan dapat timbul dari berbagai tingkat dari system perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tetapi yang paling sering ditemukan adalah di dalam ginjal ( Barbara, 1996 ). Batu ginjal adalah istilah umum batu ginjal dilokasi ginjal manapun. Batu ini terdiri atas garam kalsium, asam urat, oksalat, sistin, xantin, dan struvit. Nefrolitiasis adalah adanya timbunan zat padat yang membatu pada ginjal, mengandung komponen kristal, dan matriks organik. B. Etiologi Batu ginjal merupakan konsisi terdapatnya kristal kalsium dalam ginjal, kristal tersebut dapat berupa kalsium oksalat, kalsium fosfat maupun kalsium sitrat. Tidak ada penyebab yang bisa dibuktikan yang sering menjadi predisposisi adalah infeksi saluran kemih hiperkasiuria, hiperpospaturia, hipervitaminosis D dan hipertiroidism dan kebanyakan intake kalsium serta alkali cenderung timbul presipitasi garam kalsium dalam urine. C. Patofisiologi Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks seperti pus darah, jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi dari batu ginjal bervariasi, kira-kira tiga perempat dari batu adalah kalsium, fosfat, asam urin dan cistien.peningkatan konsentrasi larutan akibat dari intake yang rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organic akibat infeksi saluran kemih atau urin ststis sehingga membuat tempat untuk pembentukan batu. Ditambah dengan adanya infeksi meningkatkan kebasaan urin oleh produksi ammonium yang berakibat presipitasi kalsium dan magnesium pospat (long. 1996). Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori : 1. Teori supersaturasi

Tingkat kejenuhan kompone-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agresi kristal kemudian timbul menjadi batu. 2. Teori matriks Matriks merupakan mukoprotein yang terdiri dari 65% protein, 10% heksose, 3-5 heksosamin dan 10% air. Adapun matriks menyebabkan penempelan kristalkristal sehingga menjadi batu. 3. Teori kurang inhibitor Pada kondisi normal kalsium dan fosfat hadir dalam jumlah yang melampui daya kelarutan, sehingga diperlukan zat penghambat pengendapat. Phospat

mukopolisakarida dan dipospat merupakan penghambatan pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan. 4. Teori epistaxi Merupakan pembentukan baru oleh beberapa zat secra- bersama-sama, salauh satu batu merupakan inti dari batu yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contohnya ekskresi asam urayt yanga berlebihan dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium. 5. Teori kombinasi Batu terbentuk karena kombinasi dari berbagai macam teori di atas. D. Manifestasi Klinis Nyeri dan pegal di daerah pinggang. Lokasi nyeri tergantung dari dimana batu itu berada. Bila pada piala ginjal rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan. Terutama timbul pada costoverteral. (barbara. 1996) 1. Hematuria Darah dari ginjal berwarna coklat tua, dapat terjadi karena adanya trauma yang disebabkan oleh adanya batu atau terjadi kolik. 2. Infeksi Batu dapat mengakibatkan gejala infeksi traktus urinarius maupun infeksi asistemik yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal yang progresif. Kencing panas dan nyeri. Adanya nyeri tekan pada daerah ginjal

E. Pemeriksaan Penunjang 1. Urin a. PH lebih dari 7,6 b. Sediment sel darah merah lebih dari 90% c. Biakan urin d. Ekskresi kalsium fosfor, asam urat 2. Darah a. Hb b. Leukositosis c. Urium krestinin d. Kalsium, fosfor, asam urat 3. Radiologis a. Foto BNO/NP untuk melihat lokasi batu dan besar batu b. USG abdomen F. Komplikasi 1. Gagal ginjal Terjadinya karena kerusakan neuron yang lebih lanjut dan pembuluh darah yang disebut kompresi batu pada membrane ginjal oleh karena suplai oksigen terhambat. Hal ini menyebabkan iskemis ginjal dan jika dibiarkan menyebabkan gagal ginjal 2. Infeksi Dalam aliran urin yang statis merupakan tempat yang baik untuk

perkembangbiakan microorganisme. Sehingga akan menyebabkan infeksi pada peritoneal. 3. Hidronefrosis Oleh karena aliran urin terhambat menyebabkan urin tertahan dan menumpuk diginjal dan lam-kelamaan ginjal akan membesar karena penumpukan urin. 4. Avaskuler ischemia Terjadi karena aliran darah ke dalam jaringan berkurang sehingga terjadi kematian jaringan

G. Penatalaksanaan 1. Medis Terapi multidisiplin. kegawatdaruratan Terapi yang saluran diberikan kemih biasanya memerlukan tergantung pendekatan pada faktor

penyebabnya, oleh karena itu investigasi dan diagnosis menjadi sangat menentukan. Pengeluaran batu ureter (batu ginjal) dapat menyebabkan nyeri yang mendadak dan sangat pada suprapubic yang dikenal sebagai keadaan kolik ginjal akut (acute renal colic,ARC). Pasien yang menderita ARC tidak dapat seringkali gelisah dan tidak dapat berbaring lurus. Jika mereka dirawat di rumah sakit, tindakan pertama yang diberikan adalah mengatasi nyerinya, sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada banyak kasus, pasien ARC dapat mengeluarkan batu (atau batubatu) tanpa perlu intervensi medis. Jika tidak dapat, maka alphablocker atau calcium channel blocker (CCB) dapat diberikan untuk membantu proses dan mencegah perlunya intervensi bedah seperti pemasangan stent. Namun, saat ini buktibukti klinis masih sedikit dan belum ada obat golongan tersebut yang dilisensikan untuk indikasi di atas. Prednisolon dapat digunakan untuk mengurangi inflamasi pada daerah sekitar batu, sehingga membantu mengeluarkan batu dari uretra. Allopurinol dilisensikan untuk profilaksis batu ginjal kalsium oksalat dan untuk mencegah kambuh. Terapi ARC dan penyakit ginjal lainnya yang disebabkan oleh batu ginjal, memerlukan diagnosis yang akurat. Jika diagnosis telah ditegakkan, gejala dapt diterapi dengan cepat dan efektif. Pada ARC, terapi untuk nyeri sangat penting sampai batu dapat diekskresikan. Beberapa obat dapat membantu pengeluaran batu, walaupun hanya sedikit bukti yang ada untuk ini (Jurnal : Charlotte Battersby and Kevin Thomas, 2007; terj.Diana Lyrawati,2008). 2. Perawatan a. Penatalksanaan keperawatan untuk nyeri b. Beri lingkungan yang tenang untuk pasien c. Atur prosedur agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien

J. ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan pada klien oleh perawat yang berkompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang gawat darurat. Asuhan keperawatan diberikan untuk mengatasi masalah secara bertahap maupun mendadak. Asuhan keperawatan di ruang gawat darurat seringkali dipengaruhi oleh karakteristik ruang gawat darurat itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan asuhan keperawatan spesifik yang sesuai dengan keadaan ruangan. Karakteristik unik dari ruangan gawat darurat yang dapat mempengaruhi sistem asuhan keperawatan antara lain : 1. Kondisi kegawatan seringkali tidak terprediksi, baik kondisi klien dan jumlah klien yang datang ke ruang gawat darurat. 2. Keterbatasan sumber daya dan waktu. 3. Pengkajian, diagnosis dan tindakan keperawatan diberikan untuk seluruh usia, seringkali dengan data dasar yang sangat terbatas. 4. Jenis tindakan yang diberikan merupakan tindakan yang memerlukan kecepatan dan ketepatan yang tinggi. 5. Adanya saling ketergantungan yang tinggi antara profesi kesehatan yang bekerja di ruang gawat darurat. Berdasarkan kondisi di atas, prinsip umum asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat di ruang gawat darurat meliputi : 1. Penjaminan keselamatan diri perawat dan klien yang terjaga : perawat harus menerapkan prinsip Universal Precaution dan mencegah penyebab infeksi. 2. Perawat bersikap cepat dan tepat dalam melakukan triase, menentukan diagnosa keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi yang berkelanjutan. 3. Tindakan keperawatan meliputi resusitasi dan stabilisasi diberikan untuk mengatasi masalah biologi dan psikososial klien. 4. Penjelasan dan pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga diberikan untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan kerjasama klien-perawat. 5. Sistem monitoring kondisi klien harus dapat dijalankan. 6. Sistem dokumentasi yang dipakai dapat digunakan secara mudah dan cepat. 7. Penjaminan tindakan keperawatan secara etik dan legal keperawatan perlu dijaga.

Berikut penjabaran proses keperawatan yang merupakan panduan Asuhan Keperawatan di ruangan gawat darurat dengan contoh proses keperawatan klien gawat darurat. 1. Pengkajian a. Standar Perawat gawat darurat harus melakukan pengkajian fisik dan psikososial di awal dan secara berkelanjutan untuk mengetahui masalah keperawatan klien dalam lingkup kegawatdaruratan. b. Keluaran Adanya pengkajian keperawatan yang terdokumentasi untuk setiap klien gawat darurat. c. Proses Pengkajian merupakan pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi masalah keperawatan gawat darurat. Proses pengkajian terbagi dua : 1) Pengkajian Primer (primary survey) Pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah aktual/potensial dari kondisi life threatning (berdampak terhadap kemampuan pasien untuk mempertahankan hidup). Pengkajian tetap berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika hal tersebut memungkinkan. Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan : A = Airway dengan kontrol servikal Kaji : Bersihan jalan nafas Adanya/tidaknya sumbatan jalan nafas Distress pernafasan Tanda-tanda perdarahan di jalan nafas, muntahan, edema laring

B = Breathing dan ventilasi Kaji : Frekuensi nafas, usaha dan pergerakan dinding dada Suara pernafasan melalui hidung atau mulut Udara yang dikeluarkan dari jalan nafas

C = Circulation 6

Kaji : Denyut nadi karotis Tekanan darah Warna kulit, kelembaban kulit Tanda-tanda perdarahan eksternal dan internal

D = Disability Kaji : Tingkat kesadaran Gerakan ekstremitas GCS atau pada anak tentukan respon A = alert, V = verbal, P = pain/respon nyeri, U = unresponsive. Ukuran pupil dan respon pupil terhadap cahaya.

E = Eksposure Kaji : Tanda-tanda trauma yang ada.

2) Pengkajian Sekunder (secondary survey) Pengkajian sekunder dilakukan setelah masalah ABC yang ditemukan pada pengkajian primer diatasi. Pengkajian sekunder meliputi pengkajian obyektif dan subyektif dari riwayat keperawatan (riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat pengobatan, riwayat keluarga) dan pengkajian dari kepala sampai kaki. a) Pengkajian Riwayat Penyakit : Komponen yang perlu dikaji : Keluhan utama dan alasan pasien datang ke rumah sakit Lamanya waktu kejadian samapai dengan dibawa ke rumah sakit Tipe cedera, posisi saat cedera dan lokasi cedera Gambaran mekanisme cedera dan penyakit yang ada (nyeri) Waktu makan terakhir Riwayat pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi sakit sekarang, imunisasi tetanus yang dilakukan dan riwayat alergi klien. Metode pengkajian : Metode yang sering dipakai untuk mengkaji riwayat klien : 7

(signs

and : tanda dan gejala yang diobservasi dan dirasakan klien

symptoms)

A (Allergis) M (medications)

: alergi yang dipunyai klien : tanyakan obat yang telah diminum klien untuk mengatasi nyeri

(pertinent

past : riwayat penyakit yang diderita klien

medical hystori)

L (last oral intake : makan/minum terakhir; jenis makanan, solid or liquid) E (event leading to injury or illnes) : pencetus/kejadian penyebab keluhan Metode yang sering dipakai untuk mengkaji nyeri : P (provoked) : pencetus nyeri, tanyakan hal yang menimbulkan dan mengurangi nyeri Q (quality) R (radian) S (severity) T (time) : kualitas nyeri : arah penjalaran nyeri : skala nyeri ( 1 10 ) : lamanya nyeri sudah dialami klien ada penurunan atau peningkatan

kualitas makan

b) Tanda-tanda vital dengan mengukur : Tekanan darah Irama dan kekuatan nadi Irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu pernafasan Suhu tubuh

c) Pengkajian Head to Toe yang terfokus, meliputi : Pengkajian kepala, leher dan wajah Periksa rambut, kulit kepala dan wajah Adakah luka, perubahan tulang kepala, wajah dan jaringan lunak, adakah perdarahan serta benda asing. Periksa mata, telinga, hidung, mulut dan bibir 8

Adakah perdarahan, benda asing, kelainan bentuk, perlukaan atau keluaran lain seperti cairan otak. Periksa leher Nyeri tulang servikal dan tulang belakang, trakhea miring atau tidak, distensi vena leher, perdarahan, edema dan kesulitan menelan. Pengkajian dada Hal-hal yang perlu dikaji dari rongga thoraks : Kelainan bentuk dada Pergerakan dinding dada Amati penggunaan otot bantu nafas Perhatikan tanda-tanda injuri atau cedera, petekiae,

perdarahan, sianosis, abrasi dan laserasi Pengkajian Abdomen dan Pelvis Hal-hal yang perlu dikaji : Struktur tulang dan keadaan dinding abdomen Tanda-tanda cedera eksternal, adanya luka tusuk, alserasi, abrasi, distensi abdomen dan jejas Masa : besarnya, lokasi dan mobilitas Nadi femoralis Nyeri abdomen, tipe dan lokasi nyeri (gunakan PQRST) Distensi abdomen

Pengkajian Ekstremitas Hal-hal yang perlu dikaji : Tanda-tanda injuri eksternal Nyeri Pergerakan Sensasi keempat anggota gerak Warna kulit Denyut nadi perifer

Pengkajian Tulang Belakang Bila tidak terdapat fraktur, klien dapat dimiringkan untuk mengkaji : 9

Deformitas Tanda-tanda jejas perdarahan Jejas Laserasi Luka

Pengkajian Psikosossial Meliputi : Kaji reaksi emosional : cemas, kehilangan Kaji riwayat serangan panik akibat adanya faktor pencetus seperti sakit tiba-tiba, kecelakaan, kehilangan anggota tubuh ataupun anggota keluarga Kaji adanya tanda-tanda gangguan psikososial yang

dimanifestasikan dengan takikardi, tekanan darah meningkat dan hiperventilasi. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan meliputi : a. Radiologi b. Pemeriksaan laboratorium c. USG dan EKG 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa atau masalah keperawatan dapat teridentifikasi sesuai dengan kategori urgensi masalah berdasarkan pada sistem triage dan pengkajian yang telah dilakukan. Prioritas ditentukan berdasarkan besarnya ancaman kehidupan Airway, Breathing dan Circulation. Diagnosa keperawatan Gawat Darurat yang dapat muncul pada kasus sistem Perkemihan dengan diagnosa medis Nephrolithiasis antara lain : 1. Nyeri akut b.d agens cedera fisik dan kimia 2. Perubahan eliminasi urin b.d obstruksi batu 3. Ansietas b.d ancaman pada status kesehatan

10

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN DI IGD RSD ANUTAPURA PALU

A. Pengkajian 1. Identitas Klien Nama Usia Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Tanggal Pengkajian Diagnosa Medis No. MR 2. Identitas Penanggung Nama Usia Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Hubungan dgn klien 3. Pengkajian Primer Airway Breathing Tidak ada sumbatan jalan napas Spontan Dangkal dan cepat Dyspneu Takipneu RR : 28 x/menit Akral dingin Keringat dingin Nadi cepat N : 116 x/menit

: : : : : : : : : :

Tn. A 32 Tahun Laki-laki SD Petani Kristen Protestan Desa Pandere, Kec. Gumbasa 22 Oktober 2012 Nephrolithiasis 30-91-76

: : : : : : : :

Ny.M 40 Tahun Perempuan SMA URT Kristen Protestan Desa Pandere, Kec. Gumbasa Kakak

Circulation

Disability

a. GCS : E4V5M6 b. Kemampuan motorik dan sensorik : 6

11

4. Pengkajian Sekunder a. Riwayat Penyakit Sekarang : Keluhan Utama Nyeri perut sebelah kiri bawah tembus belakang, berteriak-teriak dan klien mengatakan sangat sakit. Klien mengeluh sesak dan susah bernapas. Pengkajian Nyeri (PQRST) : Klien mengatakan nyeri dirasakan tiba-tiba, nyeri seperti disayat-sayat, nyeri dirasakan dari daerah perut sebelah kiri bawah tembus ke belakang, skala nyeri yang dirasakan sampai skala 9, nyeri dirasakan sejak kemarin. b. Riwayat Penyakit Terdahulu : - Klien mengatakan mulai merasakan sakit setelah melakukan pekerjaan atau mengangkat beban berat - Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dengan klien. c. Riwayat Pengobatan : Bila sakit klien berobat ke puskesmas d. Riwayat Alergi (obat dan makanan) Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi dan makanan. 5. Tanda-Tanda Vital TD : 110/90 mmHg N : 116 x/menit

RR : 28 x/menit S : 36,5C

6. Head to Toe Kepala Tidak ada kelainan bentuk, ekspresi wajah meringis, mata seperti membelalak, berkeringat. Suara bergetar saat berbicara, tidak teraba adanya benjolan. Dada : Gerakan simetris, cepat dan dangkal, gerakan paru-paru simetris, bronchovesicular. Jantung : Irama cepat, beraturan, tidak ada bunyi jantung tambahan. Tampak penggunaan otot-otot perut saat bernapas, nyeri tekan pada daerah perut bawah sebelah kiri, terdengar bising usus. Teraba dingin pada ujung-ujung ekstremitas, ujung-ujung jari kedua tangan tampak kaku saat klien menahan rasa sakit, akral teraba dingin. 12

Leher Thoraks

Abdomen Ekstremitas

Integumen

Berkeringat dingin, turgor baik.

7. Pengkajian Psikososial : - Klien sangat cemas dengan nyeri yang dirasakannya, klien mengatakan takut bila harus menjalani operasi, klien merasa mual, gelisah, mengeluh selalu rasa ingin kencing, klien emosional saat di tanya. - Takikardi, N : 116 x/menit - Hyperventilasi, RR : 28 x/menit 8. Pemeriksaan Penunjang & Terapi Medis Radiologi USG : - Nephrolithiasis sinistra - Sludge pada GB Laboratorium Darah
- WBC : 17,5 10/UL - HB : 15,8 mg/dl Differential : - Neutro % : 88,3 % - Neutro # : 15,4 10/UL

Pemeriksaan Lain -

Terapi/Anjuran Medis Infus RL + Pethidine 1 amp/drips 24 tt/menit Injeksi Hyoscyne 1 amp/8 jam/IV Injeksi ketorolak 1 amp/8 jam/IV Pasang O2 nasal 2 - 4 lpm

13

B. Analisa Data KLASIFIKASI DATA


DO : - Mata seperti membelalak - Ekspresi wajah meringis - Berkeringat dingin - Ujung-ujung jari kedua tangan tampak kaku dan tremor - Gelisah - Nyeri tekan pada daerah perut kiri bagian bawah - Takikardi - Nadi : 116 x/menit - USG : Nephrolithiasis sinistra Sludge pada GB DS : - Klien mengeluh nyeri pada daerah perut sebelah kiri bawah tembus belakang - Klien mengatakan nyeri seperti disayatsayat - Klien mengatakan nyerinya pada skala 9 - Klien mengatakan nyeri dirasakan sejak kemarin DO : - Gelisah - Emosional saat ditanya - Berkeringat dingin - Ujung-ujung jari kaku dan tremor - Suara bergetar saat berbicara - Klien tampak kelelahan - Takikardi - N : 116 x/menit - Hyperventilasi - RR : 28 x/menit DS : - Klien mengatakan cemas dengan keadaan penyakitnya - Klien mengatakan merasa mual - Klien mengatakan takut bila harus menjalani operasi - Klien mengatakan selalu rasa ingin kencing

DIAGNOSA
Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera kimia dan fisik

Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status kesehatan

C. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Masalah 1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera kimia dan fisik 2. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status kesehatan

14

D. Asuhan Keperawatan Nama : Tn. A Usia : 32 Tahun Jenis Kelamin : L


TGL./JAM
1

No. MR : 30-91-76 Diagnosa Medis : Nephrolithiasis


PLANNING
5

SUBJEKTIF
2

OBJEKTIF
3

DIAGNOSA
4

IMPLEMENTASI
6

EVALUATION
7

30-10-2012 Pkl. 10.40

- Klien mengeluh nyeri pada daerah perut sebelah kiri bawah tembus belakang - Klien mengatakan nyeri seperti disayat-sayat - Klien mengatakan nyerinya pada skala 9 - Klien mengatakan nyeri dirasakan sejak kemarin

- Mata seperti membelalak - Ekspresi wajah meringis - Berkeringat dingin - Ujung-ujung jari kedua tangan tampak kaku dan tremor - Gelisah - Nyeri tekan pada daerah perut kiri bagian bawah - Takikardi - Nadi : 116 x/menit - USG : Nephrolithiasis sinistra Sludge pada GB

Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera kimia dan fisik

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 2 jam, nyeri akan berkurang. Kriteria Hasil : 1. Klien akan mengatatakan nyerinya berkurang 2. Ekspresi wajah biasa 3. Klien tampak rileks 4. Skala nyeri 6 Pkl. 10.50 Intervensi : 1. Kaji dan dokumentasikan TTV 1. Mengkaji dan mendokumentasikan TTV : TD : 110/90 mmHg N : 116 x/mnt P : 28 x/mnt S : 36,5C 2. Mengkaji skala nyeri klien : Klien mengatakan, skala nyerinya pada skala 9 3. Mengatur posisi klien senyaman mungkin :

Pkl. 12.30 S : - Klien mengatakan nyerinya berkurang - Klien mengatakan, skala nyeri yang dirasakan pada skala 5 0 : - TD : 110/90 mmHg - N : 80 x/menit - P : 20 x/menit - S : 36,5C - Ekspresi wajah biasa - Klien tampak rileks
A : Tujuan tercapai

2. Kaji skala nyeri klien (skala 1-10)

Ttd,

(........................)

3. Atur posisi klien senyaman mungkin

15

4. Lakukan tehnik distraksi

5. Ajarkan klien tehnik relaksasi napas dalam

6. Lakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi - IVFD RL + Pethidine 1 amp/ drips 24 tts/mnt - Hyoscyne 1 amp/8 jam/IV - Ketorolak 1 amp/8 jam/IV

6 Klien berbaring semifowler dan menghadap ke kanan 4. Melakukan tehnik distraksi dengan mengajak klien bercerita tentang halhal yang disukai klien 5. Mengajarkan klien tehnik relaksasi : Klien dapat melakukan tehnik relaksasi yang diajarkan saat merasakan nyeri 6. Melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi : - Memasang infus dengan cairan RL + Pethidine 1 amp/ drips 24 tts/mnt - Memberikan injeksi Hyoscyne 1 amp/IV - Memberikan injeksi Ketorolak 1 amp/IV

16

1 Pkl. 10. 55

2 - Klien mengatakan cemas dengan keadaan penyakitnya - Klien mengatakan merasa mual - Klien mengatakan takut bila harus menjalani operasi - Klien mengatakan selalu rasa ingin kencing

3 - Gelisah - Emosional saat ditanya - Berkeringat dingin - Ujung-ujung jari kaku dan tremor - Suara bergetar saat berbicara - Klien tampak kelelahan - Takikardi - N : 116 x/menit - Hyperventilasi - RR : 28 x/menit

4 Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status kesehatan.

5 TUJUAN : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 2 jam, ansietas bisa teratasi KRITERIA HASIL : 1. Klien akan menerima proses penyakit yang sedang dialaminya 2. Klien akan berkomunikasi dengan baik 3. Klien akan tampak lebih tenang

7 Pkl. 13.50 S: - Klien mengatakan dapat menerima kondisi yang dialaminya saat ini. - Klien memohon maaf karena merasa telah emosional saat menjawab pertanyaan - Klien tampak lebih tenang - Jari-jari tidak kaku lagi - Klien bisa berkomunikasi dengan baik Tujuan tercapai

Pkl. 11.00 INTERVENSI : 1. Kaji penyebab klien menjadi cemas O: 1. Mengkaji penyebab klien menjadi cemas : Klien takut penyakitnya menjadi lebih parah dan tidak bisa bekerja lagi 2. Memberi waktu klien untuk mengungkapkan A : perasaannya : Klien mengatakan takut akan dioperasi 3. Memberi penjelasan pada klien tentang proses penyakitnya : Menjelaskan bahwa nyeri yang dialami klien disebabkan oleh adanya batu pada saluran kemih namun

2. Beri waktu klien mengungkapkan perasaannya

3. Beri penjelasan pada klien tentang proses penyakitnya

17

4. Yakinkan dan jelaskan setiap prosedur tindakan yang diberikan

5. Dampingi klien pada setiap tindakan atau saat pemberian terapi 6. Yakinkan klien dengan menyentuh, tunjukkan rasa empati

dapat disembuhkan dengan tindakan dan pengobatan yang tepat. 4. Meyakinkan dan menjelaskan setiap prosedur tindakan yang diberikan adalah demi kesembuhan klien 5. Mendampingi klien pada setiap tindakan atau saat pemberian terapi 6. Meyakinkan klien dengan menyentuh dan menunjukkan rasa empati : Sekali-kali menpuk bahu klien perlahanlahan saat berbicara atau memberi penjelasan.

18

DAFTAR PUSTAKA

Long C,.Barbara, Perawatan Medical Bedah, Jilid 2, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, 1996 Smelltzer C, dkk,. Buku ajar keperawatan medikal bedah, jakarta, EGC, 2002 Price, S.A.,dkk,. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Volume 2,2006, EGC, Jakarta Herdman T.H, dkk,. Nanda Internasional Edisi Bahasa Indonesia, Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi, 2009-2011, EGC, Jakarta Wilkinson J .M,. Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC Edisi Bahasa Indonesia, 2006, EGC, Jakarta Doengoes, M.E.,dkk., Rencana asuhan keperawatan Edisi 3, 2000, EGC, Jakarta Sjamsuhidajat, R., dkk., Buku ajar bedah, 1998, EGC, Jakarta. Tambayong, J. Patofisiologi untuk keperawatan, 2000, EGC, Jakarta.

19

Anda mungkin juga menyukai