Anda di halaman 1dari 27

15.

DERMATITIS VENENATA (DERMATITIS KONTAK IRITAN) Dermatitis kontak iritan adalah inflamasi pada kulit yang terjadi karena kulit telah terpapar oleh bahan yang toksin atau iritatif ke kulit manusia, dan tidak disebabkan reaksi alergi. Pada anak-anak, bahan iritan yang paling sering menyebabkan DKI adalah popok bayi. Hal ini akan menyebabkan keadaan yang dinamakan diaper dermatitis, reaksi kulit di daerah yang terpapar popok bayi yang disebabkan kontak terlalu lama dengan bahan kimia alami terdapat di air seni dan tinja. Selain itu dapat pula DKI terjadi di sekitar mulut karena kulit terpapar dengan makanan bayi ataupun air liur. Pada orang dewasa, DKI terjadi seringkali karena paparan sabun dan deterjen. Efek dari dermatitis kontak bervariasi, mulai dari kemerahan yang ringan dan hanya berlangsung sekejap sampai kepada pembengkakan hebat dan lepuhan kulit. Ruam seringkali terdiri dari lepuhan kecil yang terasa gatal (vesikel). Pada awalnya ruam hanya terbatas di daerah yang kontak langsung dengan alergen (zat penyebab terjadinya reaksi alergi), tetapi selanjutnya ruam bisa menyebar. Ruam bisa sangat kecil (misalnya sebesar lubang antinganting) atau bisa menutupi area tubuh yang luas (misalnya dermatitis karena pemakaian losyen badan). Jika zat penyebab ruam tidak lagi digunakan, biasanya dalam beberapa hari kemerahan akan menghilang. Lepuhan akan pecah dan mengeluarkan cairan serta membentuk keropeng lalu mengering. Sisa-sisa sisik, gatal-gatal dan penebalan kulit yang bersifat sementara, bisa berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Pengobatan a. Hidrocortisone 1% Lini pertama pengobatan sebagai antiinflamasi bersifat ringan Diberikan secara oral jika ada tanda perdangan berat Berisi AH1, antiserotonin b. Dexamethason c. Siproheptadin (sedasi sedang)

Sediaan : 4 mg Indikasi : alergi ringan dan tidak terkomplikasi berupa urtikaria dengan angioderma kulit Mekanisme : mencegah degranulasi sel mast

Resep R/ Hidrocortisone 1% cream tube No. I 2 dd I u.e R/ Dexamethason tab mg 0,5 No. X 3 dd tab I R/ Siproheptadin tab mg 4 No. X 3 dd tab I Pro : Tn. D (30 tahun) 16. RHINITIS ALERGI A. Definisi Rhinitis alergi adalah kelainan yang merupakan manifestasi klinis reaksi hipersensitifitas tipeI (Gell& Coombs) dengan mukosa hidung sebagai organ sasaran. Berdasarkan sifat berlangsungnya, rhinitis alergi dibagi menjadi 2 : 1. 2. rhinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis). Hanya di negara dengan 4 musim. rhinitis alergi sepanjang tahun Gejala rhinitis alergi sepanjang tahun berlangsung terus-menerus atau intermitten. Meskipun lebih ringan dari rhinitis alergi musiman, tapi karena lebih presisten, komplikasinya lebih sering ditemukan. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutama anak dan dewasa muda. Namun berkurang seiring bertambahnya umur. Faktor herediter berperan, sedangkan jenis kelamin, golongan etnis dan ras tidak berpengaruh. B. Gejala Klinis 1. Bersin lebih dari 5 kali dalam satu serangan

2. Rhinore yang encer, banyak, hidung tersumbat, lakrimasi 3. Bila penyakit telah berlangsung lama (> 2 tahun), ada bayangan gelap di bawah mata (allergic shiner), allergic salute pada hidung, allergic crease. 4. Sering disertai asma, urtikaria, eksem 5. Pada rhinoskopi anterior didapatkan mukosa edema basah, pucat atau livid, disertai banyak sekret encer. C. Pengobatan Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. Terapi simptomatis dengan pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau lokal. Preparat yang dipakai adalah agonis alfa adrenoreseptor terutama untuk mengatasi sumbatan hidung, diberikan per oral biasanya dalam kombinasi dengan antihistamin seperti pseudoefedrin fenil propanolamin. Pemberian topikal harus hemat jangka pendek (4-10 hari). Efek kortikosteroid baru terasa setelah pemakaian agak lama. Pemakaian per oral dengan pemberian intermitten atau tappering off hanya untuk kasus berat, diberikan 2 minggu sebelum pemberian topikal agar efektif. Pada kasus yang berat dan lama, dapat dilakukan imunoterapi melalui desensitasi, hiposensititasi atau netralisasi. Contoh penulisan resep: R/ Loratadine tab mg 10 NoVII S 1 dd tab I R/ Otrivin lag No.I S 2 dd gtt I nasales R/ Becerfort tab No. XXI S 3 dd tab 1 Pro : Sdr. S (23th)

D. Pembahasan Obat Loratadin Merupakan obat anti histamin 1 golongan piperidin. Reaksi anafilaksis dan reaksi alergi refrakter terhadap pemberian AH1, karena bukan hanya histamin saja yang dilepaskan, namun juga autokoid lainnya. Efektivitasnya bergantung beratnya gejala akibat histamin. Loratadin merupakan antihistamin non sedatif. Otrivin Berisi Xylometazolin HCL yang termasuk dalam golongan adrenergik imidazolin alfa 2 agonis. Bekerja sebagai vasokonstriktor lokal pada mata dan lapisan mukosa hidung. Becerfort Berisi vitamin B plek, vitamin C 500mg, vitamin E yang dapat meningkatkan pertahanan tubuh. 17. SKABIES A. Definisi Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiesi varian hominis dan produknya. Skabies memiliki sinonim kudis, The Itch, gudig, gudukan, atau gatal agogo. B. Gejala Klinis Diagnosis skabies dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal: 1. Pruritus nocturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. 2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota

keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). 3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. 4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. C. Pengobatan Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati termasuk pasangan seksnya. Beberapa macam obat yang dapat dipakai pada pengobatan skabies yaitu: 1. Permetrin. Merupakan obat pilihan untuk saat ini , tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih. 2. Malation. Malation 0,5 % dengan daasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian. 3. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %). Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.

4. Sulfur. Dalam bentuk lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam. 5. Monosulfiran. Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 23 bagian dari air dan digunakan selam 23 hari. 6. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan). Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian. 7. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio. Merupakan obat pilihan. Mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal.

Contoh penulisan resep: R/ R/ Scabimite cream g 30 No. II S ue (malam) 10 jam 1 minggu sekali Cetirizine tab salut selaput mg 10 No. XIV S 2 dd tab 1 Pro : Sdr. N (19 th) D. Pembahasan Obat Obat pilihan yang disarankan untuk terapi Scabies adalah Scabimite cream dengan bahan aktifnya permethrin 5%. Permethrin bekerja dengan cara mengganggu polarisasi dinding sel saraf parasit yaitu melalui ikatan dengan natrium. Hal ini memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralisis parasit. Permethrin dimetabolisir dengan cepat di kulit, hasil metabolisme yang bersifat tidak aktif akan segera diekskresi

melalui urine. Pengobatan terdiri dari aplikasi tunggal selama 8-12 jam. Kemudian bisa diulangi dalam kurun 1 minggu. Permethrin efektif membunuh tungau namun tidak dapat memusnahkan telur, sehingga dengan penggunaan yang diberi selang waktu 1 minggu diharapkan telur sudah menetas dan larva dapat dibunuh pada pengolesan permethrine pada minggu kedua. Cetirizine adalah antihistamin, pada dosis farmakologi aktif mempunyai efek mengantuk yang lebih kecil, dengan tambahan sifat antialergi. Cetirizine dipilih karena diharapkan tidak menimbulkan efek mengantuk yang dapat mengganggu aktivitas. Cetirizine adalah reseptor H1-antagonis selektif dan pada reseptor lain efeknya dapat diabaikan, bebas dari efek antikolinergik dan antiserotonin. Cetirizine menghambat mediator histamin fase awal dari reaksi alergi, juga menurunkan migrasi sel inflamasi dan melepaskan mediator yang berhubungan dengan respon alergi yang sudah lama. Puncak level darah untuk 0,3 ug/ml dicapai antara 30- 60 menit setelah pemberian Cetirizine 10 mg. Waktu paruh plasma kira-kira 11 jam. Absorpsi cetirizine sangat konsisten pada semua subjek. Cetirizine terikat kuat pada protein plasma. Pengeluaran melalui ginjal 30 ml/menit dan waktu paruh ekskresi kira-kira 9 jam. 18. SKIZOFRENIA A. Definisi Skizofrenia adalah gangguan yang umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Skizofrenia terjadi karena kemunduran intelegensi sebelum waktunya sehingga disebut dimensia prekoks/muda. Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis yang dinyatakan dengan kelainan dalam isi dan organisasai pikiran, persepsi masukan sensori, ketegangan afek/emosional, identitas, kemauan, perilaku psikomotor dan kemampuan untuk menetapkan hubungan interpersonal yang memuaskan.

B. Gejala klinis Perjalanan penyakit skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif, dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala nonspesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahu sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi: hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan-perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala-gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual di mana gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif/psikotiknya sudah berkurang. Di samping gejala yang terjadi pada ketiga fase di atas, penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan, dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial). C. Pengobatan Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat antipsikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama) dengan dosis ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat

antipsikosis atipikal. Sebaliknya, bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasienpasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar di pasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll). APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg di antaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg di antaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan risperidon. Pada pemberian obat APG I perlu ditambahkan obat antikolinergik golongan triheksipenidil untuk mengatasi efek samping. Contoh penulisan resep: R/ Haldol tab mg 2 No. X 3 dd tab I R/ Artane tab mg 2 No. X 3 dd tab I Pro: Tn. D (40 th) D. Pembahasan Obat Haldol berisi haloperidol yang merupakan obat antipsikotik golongan I yang bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek

samping. Oleh karena itu, diberikan artane yang berisi trihexyphenidil untuk mengatasi efek sampingnya yang berupa timbulnya efek ekstrapiramidal. 19. EPILEPSI A. Definisi Epilepsi yakni cetusan muatan neuron SSP abnormal, berlebihan, sinkron, intermiten, paroksismal, unprovoked. B. Gejala klinis Kejang parsial simplek dimulai dengan muatan listrik di bagian otak tertentu dan muatan ini tetap terbatas di daerah tersebut. Penderita mengalami sensasi, gerakan, atau kelainan psikis yang abnormal, tergantung kepada daerah otak yang terkena. Jika terjadi di bagian otak yang mengendalikan gerakan otot lengan kanan, maka lengan kanan akan bergoyang dan mengalami sentakan; jika terjadi pada lobus temporalis anterior sebelah dalam, maka penderita akan mencium bau yang sangat menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan. Pada penderita yang mengalami kelainan psikis bisa mengalami dj vu (merasa pernah mengalami keadaan sekarang di masa yang lalu). Kejang Jacksonian gejalanya dimulai pada satu bagian tubuh tertentu (misalnya tangan atau kaki) dan kemudian menjalar ke anggota gerak, sejalan dengan penyebaran aktivitas listrik di otak. Kejang parsial (psikomotor) kompleks dimulai dengan hilangnya kontak penderita dengan lingkungan sekitarnya selama 1-2 menit. Penderita menjadi goyah, menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara yang aneh dan tanpa tujuan, mengeluarkan suara-suara yang tak berarti, tidak mampu memahami apa yang orang lain katakan dan menolak bantuan. Kebingungan berlangsung selama beberapa menit, dan diikuti dengan penyembuhan total. Kejang konvulsif (kejang tonik-klonik, grand mal) biasanya dimulai dengan kelainan muatan listrik pada daerah otak yang terbatas. Muatan

listrik ini segera menyebar ke daerah otak lainnya dan menyebabkan seluruh daerah mengalami kelainan fungsi. Epilepsi primer generalisata ditandai dengan muatan listrik abnormal di daerah otak yang luas, yang sejak awal menyebabkan penyebaran kelainan fungsi. Pada kedua jenis epilepsi ini terjadi kejang sebagai reaksi tubuh terhadap muatan yang abnormal. Pada kejang konvulsif, terjadi penurunan kesadaran sementara, kejang otot yang hebat dan sentakan-sentakan di seluruh tubuh, kepala berpaling ke satu sisi, gigi dikatupkan kuat-kuat dan hilangnya pengendalian kandung kemih. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala, linglung sementara dan merasa sangat lelah. Biasanya penderita tidak dapat mengingat apa yang terjadi selama kejang. Kejang petit mal dimulai pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 5 tahun. Tidak terjadi kejang dan gejala dramatis lainnya dari grand mal. Penderita hanya menatap, kelopak matanya bergetar atau otot wajahnya berkedut-kedut selama 10-30 detik. Penderita tidak memberikan respon terhadap sekitarnya tetapi tidak terjatuh, pingsan maupun menyentak-nyentak. Status epileptikus merupakan kejang yang paling serius, di mana kejang terjadi terus-menerus, tidak berhenti. Kontraksi otot sangat kuat, tidak mampu bernafas sebagaimana mestinya dan muatan listrik di dalam otaknya menyebar luas. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi kerusakan jantung dan otak yang menetap dan penderita bisa meninggal. C. Pengobatan Jika penyebabnya adalah tumor, infeksi atau kadar gula maupun natrium yang abnormal, maka keadaan tersebut harus diobati terlebih dahulu. Jika keadaan tersebut sudah teratasi, maka kejangnya sendiri tidak memerlukan pengobatan. Jika penyebabnya tidak dapat disembuhkan atau dikendalikan secara total, maka diperlukan obat anti-kejang untuk

mencegah terjadinya kejang lanjutan. Sekitar sepertiga penderita mengalami kejang kambuhan, sisanya biasanya hanya mengalami 1 kali serangan. Obat-obatan biasanya diberikan kepada penderita yang mengalami kejang kambuhan. Status epileptikus merupakan keadaan darurat, karena itu obat antikejang diberikan dalam dosis tinggi secara intravena. Obat anti-kejang sangat efektif, tetapi juga bisa menimbulkan efek samping. Salah satu diantaranya adalah menimbulkan kantuk, sedangkan pada anak-anak menyebabkan hiperaktivitas.Dilakukan pemeriksaan darah secara rutin untuk memantau fungsi ginjal, hati dan sel -sel darah. Obat anti-kejang diminum berdasarkan resep dari dokter.Pemakaian obat lain bersamaan dengan obat anti-kejang harus seizin dan sepengetahuan dokter, karena bisa merubah jumlah obat anti-kejang di dalam darah. Contoh penulisan resep: R/ Diazepam inj amp mg 5 No. I Cum disposable syringe cc 3 No. I imm R/ Fenitoin Na cap mg 100 No.XXI 3 dd cap I Pro: Tn.D (40 th) D. Mekanisme Kerja Obat Diazepam
1. Bentuk sediaan obat : ampul 2. Nama paten : valium 100 mg/cap; valdimex 5 mg/ml

3. Dosis : Untuk mengatasi status epileptikus pada orang dewasa, disuntikkan 0,2 mg/kgBB dengan kecepatan 5 mg/menit secara lambat. Dosis ini dapat

diulang seperlunya dengan tenggang waktu 15-20 menit sampai beberapa jam. Dosis maksimal 20-30 mg.sedangkan pada anak-anak dapat diberikan diazepam IV dengan dosis 0,15-0,3 mg/kgBB selama 2 menit dan dosis maksimal 5-10 mg.
4. Mekanisme kerja : peningkatan inhibisi GABA. Diazepam berikatan

dengan reseptor GABA menyebabkan pembukaan kanal klorida. Klorida masuk ke dalam sel dalam jumlah yang banyak mengakibatkan peningkatan potensiasi elektrik sepanjang membran. Hal ini berarti sel sukar teraktivasi.
5. Indikasi : status epileptikus 6. Kontraindikasi : asma

7. Efek samping : Efek samping berat dan berbahaya dan menyertai penggunaan diazepam IV adalah obstrusi saluran napas oleh lidah akibat relaksasi otot. Di samping itu dapat terjadi depresi napas sampai henti napas, hipotensi, henti jantung, kantuk. Natrium fenitoin
1. Bentuk sediaan obat : capsul (100 mg) dan ampul (50 mg/ml) 2. Nama paten : dilantin cap 3. Dosis : dewasa 300 mg/hari; anak-anak 5 mg/kgBB/hari

4. Mekanisme kerja : Berefek antikonvulsi tanpa menyebabkan depresi umum SSP dengan cara inhibisi kanan Na+ pada membran sel akson. Fenitoin juga mempengaruhi perpindahan ion melintasi membran sel, dalam hal ini khususnya menggiatkan pompa Na+, K+, Ca2+ neuron dan mengubah neurotransmitor NEPI, asetilkolin, GABA.

5. Metabolisme : absorbsi fenitoin diberikan secara peroral berlangsung

lambat, sesekali tidak lengkap; 10% dari dosis diekskresi bersama ginjal dalam bentuk utuh. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 3-12 jam.
6. Indikasi :

a. Bangkitan tonik-klonik atau epilepsi grand mal b. Epilepsi psikomotor c. Bangkitan parsial sederhana atau epilepsi fokal d. Status epileptikus 7. Efek samping : a. Pada susunan saraf pusat : diplopia, ataksia, vertigo, nistagmus, tremor b. Pada saluran cerna dan gusi : nyeri ulu hati, anoreksia, mual muntah, edema gusi c. Pada kulit : ruam morbiliform d. Lain-lain : hepatotoksisitas (ikterus, hepatitis), anemia

megaloblastik. 20. URETRITIS GONORHEA A. Definisi Uretritis gonore adalah penyakit kelamin, peradangan pada uretra yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, suatu diplokokus Gram negatif yang reservoir alaminya adalah manusia, ditandai dengan adanya pus yang keluar dari orifisium uretra eksternum (saluran uretra). Infeksi ini hampir selalu menular melalui aktivitas seksual. B. Gejala Klinis Uretritis gonore masa tunasnya sulit ditentukan oleh karena pada umumnya asimtomatis, hal ini disebabkan keadaan anatomi dan fisiologi

organ genital pada wanita berbeda dengan pria. Pada pria gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis. Penderita pria biasanya mengeluhkan sakit pada waktu kencing. Dari mulut saluran kencing keluar nanah kental berwarna kuning hijau. Setelah beberapa hari keluarnya nanah hanya pada pagi hari, sedikit dan encer serta rasa nyeri berkurang. Bila penyakit ini tidak diobati dapat timbul komplikasi berupa peradangan pada alat kelamin. Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan membengkak. Pada wanita penderita yang simtomatis umumnya mengalami gejala lokal setelah 10 hari terinfeksi. Sering duh tubuh yang keluar dari endoserviks melalui vagina tidak ditemukan, baik pada keadaan akut maupun kronis. Gejala subyektif ini jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapat kelainan obyektif. Umumnya penderita datang bila sudah ada komplikasi atau ditemukan saat pemeriksaan antenatal maupun keluarga berencana. Apabila terdapat gejala, dapat berupa kombinasi peningkatan duh tubuh yang keluar dari vagina, disuria, perdarahan uterus intermenstrual dan menoragia. Duh tubuh yang keluar dari serviks sifatnya purulen atau mukopurulen. C. Pengobatan Pemilihan obat-obatan untuk IMS harus memenuhi kriteria sebagai berikut : Angka kesembuhan/ kemanjuran tinggi Harga murah Toksisitas dan toleransi yang masih dapat diterima Diberikan dalam dosis tunggal Cara pemberian peroral

Tidak merupakan kontraindikasi pada ibu hamil atau ibu menyusui Secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal. Macam-macam obat yang dapat dipakai antara lain : Rincian pengobatan Uretritis GO Siprofloksasin Seftriakson Sefiksim Tiamfenikol* Ofloksasin* Kanamisin : 500 mg per oral, dosis tunggal, atau : 250 mg i.m. , dosis tunggal, atau : 400 mg per oral, dosis tunggal : 3,5 mg per oral, dosis tunggal atau : 400 mg per oral, dosis tunggal, atau : 2 g i.m. dosis tunggal, atau

Spektinomisin : 2 g i.m. dosis tunggal * Tidak boleh diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, anak dibawah 12 tahun dan remaja. Contoh penulisan resep: Penghasil penisilinase R/ Ceftriaxone inj mg 250 No I S imm Pro: Tn A (30 thn) Ceftriaxone merupakan cefalosporin generasi 3 yg sensitif terhadap bakteri penghasil penisilinase Bukan penghasil penisilinase R/ ampicilin tab mg 500 No. XX S 4 dd tab I a.c R/ probenesid tab mg 250 No.X S 2 dd tab I p.c Pro Tn. A (30 thn) Keterangan : Ampicilin spektrum luas. Probenesid AINS anti pirai (untuk gejala sistemik nyeri sendi) D. Mekanisme Obat

Ceftriaxone (Seftriakson) (Biotrax, Bioxon, Broadced, Cefarin, Cefsix, Ceftriaxone, Cefxon, Cephaflox, Criax, Ecotrixon, Elpicef, Foricef, Gracef, Intrix, Icephin, Rocephin, Socef, Terfacef, Termicef, Tricefin, Truec, Trixon, Tyason, Zeftrix) Golongan Antibakteri Sediaan Vial 1 gram Penyakit/Indikasi Pengobatan infeksi yang disebabkan

kuman gram positif dan negatif. Indikasi : Untuk infeksi-infeksi berat dan yang disebabkan oleh kumankuman gram positif maupun gram negatif yang resisten terhadap antibiotika lainnya, misalnya infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kemih, infeksi gonoreal, septisemia bakteri, infeksi tulang dan jaringan,

dan infeksi kulit.


Kontraindikasi : bayi dibawah 6 bulan Perhatian : Alergi terhadap penisilin, gangguan fungsi ginjal, kehamilan dan menyusui (tetapi boleh digunakan), positif palsu untuk glukosa urin (pada pengujian untuk mengurangi jumlah obat), positif palsu pada uji Coombs. Dosis : 1-2 gr melalui otot (intra muscular) atau melalui pembuluh darah Dosis maksimum: 4 gr/hari Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun : 1-2 gram sehari secara Bayi dan ank-anak dibawah 12 tahun : Bayi 14 hari : 20 50 mg/kg bb sehari Bayi 15 hari sampai 12 tahun : 20 80 mg/kg bb sehari Anak-anak dengan BB 50 kg atau lebih : dosis dewasa melalui Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, kliren kreatinin (intra vascular), lakukan setiap 24 jam, atau dibagi menjadi setiap 12 jam.

intra vena

infus paling sedikit 30 menit tidak lebih dari 10 ml/menit, dosis tidak lebih dari 2 gram perhari.

Efek samping :

Reaksi

hipersensitivitas

(urticaria,

pruritus,

ruam,

reaksi

parah

seperti anaphylaxis bisa terjadi); Efek GI (diare, N/V, diare/radang usus besar); Efek lainnya (infeksi candidal)

Dosis tinggi bisa dihubungkan dengan efek CNS (encephalopathy, convulsion); Efek hematologis yang jarang; pengaruh terhadap ginjal dan hati juga terjadi, dapat terjadi pergeseran bilirubin dari ikatan plasma.

Perpanjangan PT (prothrombin time), perpanjangan APTT (activated partial thromboplastin time), dan atauhypoprothrombinemia (dengan atau tanpa pendarahan) dikabarkan terjadi, kebanyakan terjadi dengan rangkaian sisi NMTT yang mengandung cephalosporins. Ampicilin (Ampisilin) ( aktoralin, amcilin, ampi, bannsipen, biopenam, boadapen, corsacillin, dancillin, decapen, erphacillin, atebiotic, hufam, itrapen, kalpicilin, kemocil, lactapen, medipen, megapen, metacillin, mycill, opicillin, parpicillin, penbiotic, penbritin, popypen, rampicillin, ronexol, sanpicilin, varicillin, viccilin,xepacillin, yekacillin) Golongan Antibiotik beta laktam

Sediaan Penyakit/Indikasi Kapsul/ Pengobatan infeksi : akibat yang termasuk peritonitis, : meningitis, endokarditis. lokal Pola perlu resistensi antibiotik : dipertimbangkan 1 organism sesuai :

Alasan penggunaan Antibiotik penisillin spektrum luas Menggantik an Ampisillin karena penyerapan yang baik, sedikit lebih efek

tablet 250mg, 500mg Sirup kering 125mg/5ml Serbuk untuk injeksi 500mg, vial

samping lebih

gram dalam

Indikasi : Mastoiditis, infeksi ginekologis, septicema, endokarditis, mengitis, cholecystitis, osteomyelitis Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap penisilin Perhatian : Riwayat alergi, gangguan ginjal, ruam kemerahan pada demam kelenjar (glandular fever), leukemia limfositik akut atau kronik, dan infeksi sitomegalovirus. Tidak diketahui berbahaya pada kehamilan, pada air susu jumlah sangat sedikit. Interaksi : Allupurinol Meningkatkan amoxicillin Antibakteri Antikoagulan risiko ruam saat atau ampicillin diberikan

bersama Allupurinol Absorbsi phenoxymetilpenicillin berkurang oleh neomycin INR dapat terganggu dengan pemberian penisillin spectrum luas seperti ampicillin, meskipun interaksi studi dengan gagal menunjukkan atau coumarin

Sitotoksik

phenindione Penisillin mengurangi metotrexate

pengeluaran risiko

(meningkatkan

Probenesid Esterogen Sulfinpirazon e Dosis:

toksisitas) Pengeluaran/ ekskresi penisilin dikurangi oleh probenesid (risiko kecil) Mungkin mengurangi efek kontrasepsi dari esterogen Pengeluaran penisillin dikurangi oleh sulfinpirazone

Injeksi intramuskuler, injeksi intravena lambat atau melalui infus

intravena: Infeksi berat oleh organism yang sensitive. DEWASA 500mg setiap 4-6 jam, ANAK dibawah 10 tahun, setengah dosis dewasa

Meningitis, dengan injeksi intravena lambat, DEWASA 1-2gr

setiap 3-6 jam (maksimal 14gr sehari); ANAK 120-200mg/kg sehari dalam dosis terbagi Efek samping : mual, muntah, diare, ruam (hipersensivitas atau respon toksik-dapat menjadi reaksi yang serius, hentikan pengobatan); respon hipersensitivits interstitial. 21. FLUOR ALBUS A. Definisi Fluor albus (white discharge, leukorea, keputihan) adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat genital wanita yang tidak berupa darah. Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolin. Selain itu sekret vagina juga disebabkan karena aktivitas bakteri yang hidup pada vagina yang normal. B. Gejala Klinis Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina meerupakan suatu tanda infeksi vagina. Infeksi vagina adalah sesuatu yang sering kali muncul dan sebagian besar perempuan pernah mengalaminya dan akan memberikan beberapa gejala fluor albus: 1. Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri. 2. Sekret vagina yang bertambah banyak 3. Rasa panas saat kencing 4. Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal 5. Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk termasuk urtikaria, angiodema, anafilaksis, reaksi menyerupai penyakit serum sickness), anemia hemolitik, nefritis

Vaginosis bacterial, sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu hingga kekuning-kuningan dengan bau busuk atau amis. Bau semakin bertambah setelah hubungan seksual. Trikomoniasis, sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan, berbusa dan berbau amis. Kandidiasis, sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang hingga berat dan rasa terbakar kemerahan dan bengkak didaerah genital Tidak ada komplikasi yang serius. Infeksi klamidia biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal. C. Pengobatan Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan dan menghentikan proses infeksi sesuai dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan biasanya berasal dari golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi candida dan golongan metronidazol untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit. Sediaan obat dapat berupa sediaan oral (tablet, kapsul), topikal seperti krem yang dioleskan dan ovula yang dimasukkan langsung ke dalam liang vagina. Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual, terapi juga diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual selama masih dalam pengobatan. Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim sebagai tindakan pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan yaitu dengan : 1. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan. 2. Setia kepada pasangan. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit menular seksual.

3. Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasakan untuk mengganti pembalut, pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak. 4. Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang. 5. Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina. 6. Hindari penggunaan bedak talkum, tissue atau sabun dengan pewangi pada daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.
7. Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti

meminjam perlengkapan mandi dsb. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya. Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering : 1. Candida albicans Topikal - Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu - Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari - Mikonazol nitrat 2% 1 x sehari selama 7 14 hari Sistemik - Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari - Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari - Nimorazol 2 gram dosis tunggal - Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan 2. Chlamidia trachomatis

- Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari - Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral - Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila - Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari - Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari - Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari 3. Gardnerella vaginalis - Metronidazole 2 x 500 mg - Metronidazole 2 gram dosis tunggal - Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari - Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan 4. Neisseria gonorhoeae - Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau - Amoksisiklin 3 gr im - Ampisiillin 3,5 gram im atau Ditambah : - Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau - Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari - Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari - Tiamfenikol 3,5 gram oral - Kanamisin 2 gram im - Ofloksasin 400 mg/oral Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase - Seftriaxon 250 mg im atau - Spektinomisin 2 mg im atau - Ciprofloksasin 500 mg oral Ditambah - Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau - Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari - Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

5. Virus herpeks simpleks Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas - Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari - Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari - Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder 6. Penyebab lain : Vulvovaginitis psikosomatik dengan pendekatan psikologi. Desquamative inflammatory vaginitis diberikan antibiotik, kortikosteroid dan estrogen. Contoh penulisan resep: R/ Nystatin tab vag No.VII 1 dd tab I ante noctum per vaginam R/ Metronidazole tab mg 500 No.XX 4 dd tab 1 Pro: Ny. A (35th) D. Mekanisme Obat Nystatin (Nistatin) (Candistin,cazetin, fungatin, kandistin, mycostatin, nystin) Golongan Sediaan Penyakit/Indikasi Alasan penggunaan

Antijamur

Tablet: 100.000 IU, 500.000 IU Ovula: 100.000 U

Pengobatan Candidiasis dan mukosa

Efektif kulit pengobatan

untuk oral,

membran candidiasis kulit dan vagina

Indikasi : Candidiosis mulut (oral), oesophagus, usus, vagina dan kulit Kontraindikasi : Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap nystatin Perhatian : kehamilan dan menyusui Dosis :

Kandidiosis vaginalis, per vaginal, DEWASA masukkan 1-2 ovula Kandidiosis oral, per oral, DEWASA dan ANAK >1 bulan 100.000

saat malam minimal 2 minggu U setelah makan 4x sehari biasanya untuk 7 hari, dilanjutkan selama 48jam setelah lesi/gangguan menghilang Kandidiosis usus dan oesophagus, per oral, DEWASA 500.000U 4x/hari; ANAK >1 bulan 100.000U 4x/hari; dilanjutkan selama 48 jam setelah penyembuhan klinis Efek samping : mual, muntah, diare pada dosis tinggi; iritasi mulut dan sensitisasi; ruam dan jarang terjadi eritem multiforme (Sindrome Steven Johnson) Metronidazole (Metronidazol) (Anmerob, Biatron, Corsagyl, Farizol, Farnat, Fladex, Flagyl, Flapozil, Fortagyl, Grafazol, Heronid, Mebazid, Metrofusin, Metrolet, Novagyl, Promuba, Ragyl Forte, Tismazol, Trichodazol, Trinida, Troglar, Trogyl, Yekatrizol-F) Golongan Sediaan Penyakit/Indikasi Alasan penggunaan Antibakteri lain Injeksi : 500mg dalam vial 100ml Cairan oral : 200mg/5ml Supositoria : 500mg;1gr Tablet : 200500 mg Metronidazole memiliki aktivitas yang tinggi terhadap bakteri anaerob dan protozoa. Metronidazole melalui per rectal adalah alternatif efektif terhadap rute intravena bila rute per oral tidak mungkin. Infeksi anaerob Aktivitas tinggi terhadap bakteri anaerob

Indikasi : Infeksi bakteri anaerob, termasuk radang gusi (ginggivitis) dan infeksi mulut lainnya, penyakit radang panggul-pelvic inflammatory disease (dengan ceftriaxone dan doksisiklin), tetanus, septicemia, peritonitis, abses otak, pneumonia nekrotikans, colitis berhubungan antibiotik, ulkus kaki dan dekubitus dan profilaksis bedah, bacterial vaginosis; Infeksi kulit dan jaringan lunak, gigitan giardiasis, eradikasi Helocobacter pylori Amubiasis invasif dan Giardiasis Kontraindikasi : Ketergantungan alkohol kronik Perhatian: Efek seperti Disulfiram pada penggunaan pada alkohol; gangguan hati dan ensefalopati hepatikum, pemantauan klinis dan laboratorium pada pemberian lebih dari 10 hari. Pada kehamilan, pabrik menyarankan penghindaran dosis tinggi. Pada kondisi menyusui, jumlah yang signifikan di ASI, pabrik menyarankan menghindari dosis tunggal yang besar. Interaksi : Alkohol : Reaksi menyerupai disulfiram saat metronidazol Antikoagulan : Metronidazole meningkatkan efek antikoagulan Antiepilepsi : Metronidazole menghambat metabolisme fenitoin kadar dalam darah); metabolisme metronidazole diberikan dengan alkohol koumarin (meningkatkan

ditingkatkan oleh pirimidone (menurunkan kadar dalam darah) Barbiturate : Metabolisme Metronidazole ditingkatkan oleh Sitotoksik : Metronidazole meningkatkan kadar busulfan dalam fluorurasil (meningkatkan toksisitas); metronidazole barbiturat ( menurunkan kadar dalam darah) darah ( meningkatkan resiko toksisitas), metronidazole menghambat metabolisme mungkin menurunkan bioavailibilitas mycophenolate. Disulfiram : Reaksi psikotik dilaporkan saat metronidazole Litium : Metronidazole meningkatkan risiko toksisitas litium diberikan bersama disulfiram

Esterogen : Mungkin menurunkan efek kontrasepsi esterogen Obat untuk ulkus : Metabolisme metronidazole dihambat oleh Vaksin : Antibakterial menginaktifkan vaksi tifoid oral.

Cimetidine (meningkatkan kadar dalam darah) Dosis : 500mg/hari (4-7 hari) Efek samping : mual, muntah, rasa tidak nyaman seperti metal, lidah berselaput dan gangguan saluran cerna, jarang: sakit kepala, pusing, ataksia, urin menjadi gelap, seperti mengantuk, eritema multiforme, pruritus, urtikaria, angiodema, dan anafilaksis, gangguan fungsi hati, hepatitis, jaundice, trombositopenia, anemia aplastik, mialgia, artralgia, neuropati perifer, kejang epileptiformis, leukopenia, pada dosis tinggi atau lebih lama.