Anda di halaman 1dari 36

CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.

Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan. 1. Pengamatan (Inspeksi). a. Gaya berjalan dan tingkah laku. b. Simetri tubuh dan ektremitas. c. Kelumpuhan badan dan anggota gerak. dll. d. Gerakan Volunter. Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa,

misalnya : a. Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu. b. Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti. c. Mengepal dan membuka jari-jari tangan. d. Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul. e. Fleksi dan ekstensi artikulus genu. f. Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki. g. Gerakan jari- jari kaki.

2. Palpasi otot. a. Pengukuran besar otot. b. Nyeri tekan. c. Kontraktur. d. Konsistensi ( kekenyalan ). Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada. Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal: meningitis, HNP. Kelumpuhan jenis UMN ( spastisitas ). Gangguan UMN ekstrapiramidal ( rigiditas ). Kontraktur otot. Konsistensi otot yang menurun terdapat pada. Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot. Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di motor end plate.

e. Tonus otot. Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan lutut. Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar. Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali ( dijumpai pada

kelumpuhan LMN). Hipotoni : tahanan berkurang. Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal

gerakan , ini dijumpai pada kelumpuhan UMN. Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson.

f. Kekuatan otot. Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada dua cara: Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini. Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh menahan. Cara menilai kekuatan otot : Dengan menggunakan angka dari 0-5. 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total. 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut. 2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat ( gravitasi ). 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat. 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan yang diberikan. 5 : Tidak ada kelumpuhan ( normal ).

3. Perkusi otot. Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja. a. Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi ( biasanya terdapat pada pasien mixedema, pasien dengan gizi buruk ). b. Miotonik :tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa. Anggota gerak atas. Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7,C8,T1,saraf ulnaris) Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8,T1 , saraf ulnaris ). Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8,T1,saraf ulnaris ). Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8,T1, saraf ulnaris ). Pemeriksaan abduksi ibu jari. Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7,8,saraf radialis ). Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8). Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8). Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8, saraf subskapularis). Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7,saraf torakalis ).

Pemeriksaan otot deltoid ( C5,C5, saraf aksilaris ). Pemeriksaan otot biseps ( C5,C6, saraf muskulokutaneus ). Pemeriksaan otot triseps (C6-C8, saraf radialis).

Anggota gerak bawah. a. Pemeriksaan otot kuadriseps femoris (L2-L4,saraf femoralis ). b. Pemeriksaan otot aduktor (L2-L4, saraf obturatorius). Pemeriksaan otot kelompok hamstring (L4,L5,S1,S2,saraf siatika). Pemeriksaan otot gastroknemius (L5,S1,S2,saraf tibialis ). Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1, S2, saraf tibialis)

Gerakan involunter. Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat positif, yaitu dikeluarkan aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol akibat lesi pada nukleus pengontrolnya. Susunan ekstrapiramidal ini mencakup kortex ekstrapiramidalis, nuklues kaudatus, globus pallidus, putamen, corpus luysi, substansia nigra, nukleus ruber, nukleus ventrolateralis thalami substansia retikularis dan serebelum. Tremor saat istirahat : disebut juga tremol striatal, disebabkan lesi pada corpus striatum (nukleus kaudatus, putamen, globus pallidus dan lintasan lintasan penghubungnya) misalnya kerusakan substansia nigra pada sindroma Parkinson. Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar, disebabkan gangguan mekanisme feedback oleh serebellum terhadap aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal hingga timbul kekacauan gerakan volunter. Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas, biasanya lengan atau tangan, eksplosif, cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak teratur, yang hanya terhenti pada waktu tidur. Khorea disebabkan oleh lesi di corpus striataum, substansia nigra dan corpus subthalamicus. Athetose : gerakan involenter pada ektremitas, terutama lengan atau tangan atau tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan melilit lilit , torsi ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu, siku dan pergelangan tangan. Gerakan ini dianggap sebagai manifestasi lesi di nukleus kaudatus.

Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan paravertebra, hingga menyerupai gerakan seorang yang melemparkan cakram. Gerakan ini

dihubungkan dengan lesi di corpus subthalamicus, corpus luysi, area prerubral dan berkas porel. Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa serabut otot yang masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan motor neuron. Kontraksi nampak sebagai keduten keduten dibawah kulit. Myokimia: fasikulasi benigna. Frekwensi keduten tidak secepat fasikulasi dan berlangsung lebih lama dari fasikulasi. Myokloni : gerakan involunter yang bangkit tiba tiba cepat, berlangsung sejenak, aritmik, dapat timbul sekali saja atau berkali kali ditiap bagian otot skelet dan pada setiap waktu, waktu bergerak maupun waktu istirahat.

Gait dan Station. Pemeriksaan ini hanya dilakukan bila keadaan pasein memungkinkan

untuk itu. Harus diperhitungkan adanya kemungkinan kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan pada orang orang tua atau penyandang cacat non neurologis. Pada saat pasien berdiri dan berjalan perhatikan posture, keseimbangan , ayunan tangan dan gerakan kaki dan mintalah pasien untuk melakukan. Jalan diatas tumit. Jalan diatas jari kaki. Tandem walking. Jalan lurus lalu putar. Jalan mundur Hopping. Berdiri dengan satu kaki.

Macam macam Gait: Hemiplegik gait: gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara sirkumduksi. Spastik ( scissors gait ): gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai, misalnya spastik paraparese. Tabetic gait: gaya jalan pada pasien tabes dorsalis. Steppage gait: gaya jalan seperti ayam jago, pada paraparese flaccid atau paralisis n. Peroneus. Waddling gait: gaya berjalan dengan pantat dan pinggang bergoyang berlebihan, khas untuk kelemahan otot tungkai proksimal, misalnya otot gluteus. Parkinsonian gait: gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk, kedua tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut dan panggul. Langkah dilakukan setengah diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek.

CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK.

Jenis-Jenis pemeriksaan sensorik yang sering digunakan : 1. Sensibilitas eksteroseptif atau protopatik. Terdiri dari : a. Rasa nyeri. b. Rasa suhu c. Rasa raba. 2. Sensibilitas proprioseptif. a. Rasa sikap b. Posisi dan gerak 3. Sensibilitas diskriminatif a. b. daya untuk mengenal bentuk/ukuran. daya untuk mengenal /mengetahui berat sesuatu benda dsb.

Tujuan pemeriksaan sensorik a. Menetapkan adanya gangguan sensorik. b. Mengetahui modalitasnya. c. Menetapkan polanya. d. Menyimpulkan jenis dan lokasi lesi yang mendasari gangguan sensorik yang akhirnya dinilai bersama sama dengan pemeriksaan motorik , kesadaran dll.

Tahap Pemeriksaan Sensibilitas eksteroseptif atau protopatik. a. Test untuk rasa raba halus. Alat pemeriksa : kapas. Cara pemeriksaan: - Permukaan diraba dengan ujung ujung kapas tersebut. - Dari atas ke bawah/ sebaliknya. - Dibandingkan kanan dan kiri. Yang perlu diingat: - Daerah lateral kurang peka dari medial. - Ada daerah-daerah erotogenik : leher, sekitar mammae, genetalia.

b. Test untuk rasa nyeri superficial. Alat pemeriksa : jarum bundel Cara pemeriksaan : jarum diletakkan tegak lurus dan sentuhkan pada lokasi yang akan diperiksa.

Test untuk mengetahui lokalisasi rasa nyeri : Tindakan untuk mengetahui adanya kelainan di daerah tulang belakang servikal. - Distraksi servikal. - Kompresi servikal : tindakan Lhermitte. - Tindakan valsava. - Test menelan.

Tindakan dari Tinel Untuk mengetahui tanda kesemuten akibat lesi susunan saraf perifer. Cara Pemeriksaan : Dengan melakukan penekanan pada saraf perifer - Bila hasil ya: timbul rasa nyeri ini berarti terjadi lesi irritatif. - Bila hasil nya timbul kesemuten ini berarti adanya regenerasi saraf perifer.

c. Test untuk rasa suhu. Alat pemeriksa : - Botol/tabung berisi air panas : suhu 40-45 derajat celcius. - Botol/tabung berisi air dingin : suhu 10-15 derajat celcius. Cara pemeriksaan : - Botol botol tersebut harus kering betul. - Bagian tubuh yang tertutup pakaian lebih sensitif dari bagian tubuh yang terbuka. Tahap Pemeriksaan Sensibilitas Proprioseptif a. Test untuk rasa sikap. Alat pemeriksa : bagian tubuh pasien sendiri. Cara pemeriksaan :

- Tempatkan salah satu lengan/tungkai pasien pada suatu posisi tertentu, kemudian suruh pasien untuk menghalangi pada lengan dan tungkai. - Perintahkan untuk menyentuh dengan ujung ujung telunjuk kanan, ujung jari kelingking kiri dsb.

b. Test untuk rasa gerak/posisi sendi. Alat pemeriksan : sendi sendi/jari jari tangan kaki pasien Cara pemeriksaan: - Pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan jempol jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah maupun kesamping kanan dan kiri - Pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol nya berada diatas atau dibawah atau disamping kanan /kiri.

c. Test untuk rasa getar. Alat pemeriksa : garpu tala Cara pemeriksaan: - Garpu tala digetarkan dulu/diketuk pada meja atau benda keras lalu letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien - Minta pasien menjawab untuk merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut.

Tahap Pemeriksaan Sensibilitas Diskriminatif : Test untuk membedakan bentuk dan berat benda. Alat pemeriksa : kunci, mata uang logam, kancing , jarum bundel. Cara pemeriksaan : a. Rasa stereognosis. Dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengenal benda benda yang disodorkan kepadanya.

b. Rasa Gramestesia. Untuk mengenal angka, aksara, bentuk yang digoreskan diatas kulit pasien, misalnya ditelapak tangan pasien.

c. Rasa Barognosia. Untuk mengenal berat suatu benda. d. Rasa topognosia. Untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien. Nomenklatur untuk pemeriksaan sensorik. a. Rasa eksteroseptif. Hilangnya rasa raba : ANESTESIA. Berkurangnya rasa raba : HIPESTESIA. Berlebihnya rasa raba : HIPERTESIA. b. Rasa Nyeri. Hilangnya rasa nyeri : ANALGESIA. Berkurangnya rasa nyeri : HIPALGESIA. Berlebihnya rasa nyeri : HIPERGESIA.

c. Rasa suhu. Hilangnya rasa suhu : THERMOANESTHESIA. Berkurangnya rasa suhu : THERMOHIPESTHESIA. Berlebihnya rasa suhu : THERMOHIPERESTHESIA. d. Rasa abnormal dipermukaan tubuh. kesemuten : PARESTHESIA. nyeri panas dingin yang tidak keruan : DISESTHESIA e. Rasa Propioseptif = Rasa Raba Dalam. a. rasa gerak : KINESTHESIA. b. rasa sikap : STATESTESIA. c. rasa getar : PALESTHESIA. d. rasa tekan : BARESTHESIA. f. Rasa DISKRIMINATIF Mengenal bentuk dan ukuran sesuatu dengan jalan perabaan. a. STEREOGNOSIS. Mengenal dan mengetahui berat sesuatu : BAROGNOSIS. Mengenal tempat yang diraba : TOPESTESIA, TOPOGNOSIS. Mengenal angka, aksara,bentuk yang digoreskan di atas kulit b. GRAMESTESIA. Mengenal diskriminasi 2 titik : DISKRIMINASI SPASIAL. Mengenal setiap titik dan daerah tubuh sendiri : AUTOTOPOGNOSIS.

CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. a. SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS ). Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu, selain itu untuk mengetahui apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal. Cara pemeriksaan : Salah satu hidung pasien ditutup, dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan tertentu yang tidak merangsang .Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan. Sebelumnya periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat, misalnya ingus atau polip. Contoh bahan yang sebaiknya dipakai adalah : teh, kopi,tembakau,sabun, jeruk. Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan. Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka. Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak sesuai misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng. Jika parosmia dicirikan oleh modalitas olfaktorik yang tidak menyenangkan atau yang memuakan seperti bacin , pesing dsb, maka digunakan istilah lain yaitu kakosmia. Baik dalam hal parosmia maupun kakosmia adanya perangsangan olfaktorik merupakan suatu kenyataan, hanya pengenalan nya saja tidak sesuai, tetapi bila tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan maka kesadaran akan suatu jenis bau ini adalah halusinasi, yaitu halusinasi olfaktorik.

a.

SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). Tujuan pemeriksaan : Untuk mengukur ketajaman penglihatan ( visus) dan menentukan

apakah kelainan pada penglihatan disebabkan oleh kelainan okuler lokal atau oleh kelainan saraf. Untuk mempelajari lapang pandang. Cara pemeriksaan :

1.

Pemeriksaan penglihatan ( visus ) Ketajaman penglihatan diperiksa dengan : a. b. Menutup mata yang tidak dilakukan pemeriksaan Dengan jarak 6 meter pasien dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan kartu Snellen, dan dilihat sampai barisan mana pasien dapat membaca huruf-huruf pada kartu Snellen tersebut.

c.

Apabila pasien tidak bisa membaca huruf teratas pada kartu Snellen, lakukan pemeriksaan hitung jari, dengan menggunakan jari-jari pemeriksa yang digerakkan, nilai sejauh mana jarak pasien dapat menghitung jari pemeriksa. Pada orang normal test hitung jari harus dapat dilihat dalam jarak 60 meter. contoh visus = 2/60 pasien hanya dapat melihat pergerakan jari pada jarak 2 meter

d.

Apabila pasien tidak dapat menghitung jari pemeriksa dengan jarak terdekat (1/60), maka dilakukan pemeriksaan lambaian tangan. Untuk gerakan tangan, pada orang normal dapat dilihat pada jarak 300 meter. Jika kemampuannya hanya sampai membedakan adanya gerakan , maka visusnya ialah 1/300. Contoh Visus = 3/300 pasien hanya dapat melihat pergerakan tangan pada jarak 3 meter.

e.

Namun jika pasien juga tidak dapat melihat adanya gerakan tangan, dapat dilakukan pemeriksaan cahaya. Apabila pasien hanya dapat membedakan antara gelap dan terang maka visus nya 1/~, bila dengan sinar lampu masih belum dapat melihat maka dikatakan visus pasien tersebut adalah nol.

Bila terdapat gangguan ketajaman penglihatan apakah gangguan ketajaman penglihatan yang disebabkan oleh kelainan oftalmologik ( bukan saraf ) misalnya kornea, uveitis, katarak dan kelainan refraksi maka dengan menggunakan kertas yang berlubang kecil dapat memberikan kesan adanya faktor refraksi dalam penurunan visus (pin hole test), bila dengan melihat

melalui lubang kecil huruf bertambah jelas maka faktor yang berperan mungkin gangguan refraksi.

2.

Pemeriksaan lapang pandang. Yang paling mudah adalah dengan munggunakan metode Konfrontasi

dari Donder. Dalam hal ini pasien duduk atau berdiri kurang lebih jarak 1 meter dengan pemeriksa, Jika kita hendak memeriksa mata kanan maka mata kiri pasien harus ditutup, misalnya dengan tangannya pemeriksa harus menutup mata kanannya. Kemudian pasien disuruh melihat pada mata kiri pemeriksa dan pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien. Setelah pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dan pasien dan gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. Jika pasien mulai melihat gerakan jari jari pemeriksa , ia harus memberitahu, dan hal ini dibandingkan dengan pemeriksa, apakah iapun telah melihatnya. Bila sekiranya ada gangguan kampus penglihatan ( visual field ) maka pemeriksa akan lebih dahulu melihat gerakan tersebut.Gerakan jari tangan ini dilakukan dari semua jurusan dan masing masing mata harus diperiksa.

Ada bagian bagian visual field yang buta dimana pasien tidak dapat melihatnya, ini disebut dengan SKOTOMA. a. Skotoma positif : tanpa diperiksa pasien sudah merasa adanya skotoma. b. Skotoma negatif: dengan diperiksa pasien baru merasa adanya skotoma. Macam macam gangguan visual field antara lain : hemianopsia (temporal; nasal; bitemporalis ; binasal ), homonymous hemianopsia, homonymous quadrantanopsia, total blindness dsb

Fundus oculi (funduscopy) Pemeriksaan dgn oftalmoskop. Yang diperiksa adalah keadaan retina dan diskus optikus atau papila nervi optici. Penilaian: Gambaran fundus oculi normal: Retina berwarna merah-oranye Pembuluh darah: vena lebih tebal dari arteri dan berpangkal pada pusat papil dan memancarkan cabang-cabangnya keseluruh retina dengan perbandingan a:v = 2:3 Papil N.II: berwarna kuning kemerahan, bentuk bulat, batas tegas dengan sekelilingnya, mempunyai cekungan fisiologis (cupping).

b.

SARAF OTAK III,IV,VI (NERVUS OKULOMOTORIUS,TROKLEARIS,ABDUSENS) Fungsi N III,IV,VI saling berkaitan dan diperiksa bersama-sama. Fungsinya ialah menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. Serabut otonom N III mengatur otot pupil. Cara pemeriksaan. Terdiri dari: a. Pemeriksaan kelopak mata. Membandingkan celah mata/fissura palpebralis kiri dan kanan . Ptosis adalah kelopak mata yang menutup. Lagoptalmus adalah kelopak mata yang tidak dapat tertutup. b. Pemeriksaan pupil. Lihat diameter pupil, normal besarnya 3 mm. Bandingkan kiri dengan kanan ( isokor atau anisokor ). Lihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak.

c. Pemeriksaan refleks pupil: refleks cahaya. Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil. Normal , akibat adanya cahaya maka pupil akan mengecil (miosis) Perhatikan juga apakah pupil segera miosis, dan apakah ada pelebaran kembali yang tidak terjadi dengan segera. Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil. Cahaya ditujukan pada satu pupil, dan perhatikan pupil sisi yang lain dengan memberi penghalang agar cahaya tidak langsung mengenai mata yang akan diperiksa.

d. Refleks akomodasi. Caranya, pasien diminta untuk melihat telunjuk pemeriksa pada jarak yang cukup jauh, kemudian dengan tiba tiba dekatkanlah pada pasien lalu perhatikan reflek konvergensi pasien dimana dalam keadaan normal kedua bola mata akan berputar kedalam atau nasal.

Reflek akomodasi yang positif pada orang normal tampak dengan miosis pupil. e. Refleks ciliospinal. Rangsangan nyeri pada kulit kuduk akan memberi midriasis (melebar) dari pupil homolateral. keadaan ini disebut normal f. Refleks okulosensorik. rangsangan nyeri pada bola mata/daerah sekitarnya, normal akan memberikan miosis atau midriasis yang segera disusul miosis. g. Refleks terhadap obat-obatan. Atropine dan skopolamine akan memberikan pelebaran pupil/midriasis. Pilocarpine dan acetylcholine akan memberikan miosis. h. Pemeriksaan gerakan bola mata Lihat ada/tidaknya nystagmus ( gerakan bola mata diluar kemauan pasien). Pasien diminta untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa yang digerakkan kesegala jurusan. Lihat apakah ada hambatan pada pergerakan matanya. Hambatan yang terjadi dapat pada satu atau dua bola mata. Pasien diminta untuk menggerakan sendiri bola matanya.

Pharese
MO . blique inf (N .III) MR . ectus superior (NIII)

MR . ectus m ed NIII

MR . ectus lat (NV I)


MR . ectus inf NIII

MO . bliquesup (NIV )

C. SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ). Cara pemeriksaan : Pemeriksaan motorik. a. Pasien diminta merapatkan gigi sekuatnya, kemudian meraba m . masseter dan m. Temporalis. Normalnya kiri dan kanan kekuatan, besar dan tonus nya sama.

b. Pasien diminta membuka mulut dan memperhatikan apakah ada deviasi rahang bawah, jika ada kelumpuhan maka dagu akan terdorong kesisi lesi. Sebagai pegangan diambil gigi seri atas dan bawah yang harus simetris.Bila terdapat parese disebelah kanan, rahang bawah tidak dapat digerakkan kesamping kiri. c. Cara lain pasien diminta mempertahankan rahang bawahnya

kesamping dan kita beri tekanan untuk mengembalikan rahang bawah keposisi tengah. Pemeriksaan sensorik. Dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu, kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi, pipi dan rahang bawah.

Pemeriksaan refleks. a. Refleks kornea ( berasal dari sensorik Nervus V). Kornea disentuh dengan kapas, bila normal pasien akan menutup matanya atau menanyakan apakah pasien dapat merasakan.

b. Refleks masseter / Jaw reflex ( berasal dari motorik Nervus V). Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah dagu, lalu pasien dalam keadaan mulut setengah membuka dipukul dengan hammer refleks normalnya didapatkan sedikit saja gerakan, malah kadang kadang tidak ada. Bila ada gerakan nya hebat yaitu kontraksi m.masseter, m.temporalis, m pterygoideus medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut refleks meninggi. c. Refleks supraorbital. Dengan mengetuk jari pada daerah supraorbital, normalnya akan menyebabkan mata menutup homolateral ( tetapi sering diikuti dengan menutupnya mata yang lain )

d.

SARAF OTAK VII ( NERVUS FASIALIS ).

Pemeriksaan fungsi motorik. Pasien diperiksa dalam keadaan istirahat. Perhatikan wajah pasien kiri dan kanan apakah simetris atau tidak. Perhatikan juga lipatan dahi, tinggi alis, lebarnya celah mata, lipatan kulit nasolabial dan sudut mulut. Kemudian pasien diminta untuk menggerakan wajahnya antara lain: a. b. c. d. e. Mengerutkan dahi, dibagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam. Mengangkat alis Menutup mata dengan rapat dan coba buka dengan tangan pemeriksa. Moncongkan bibir atau menyengir. Suruh pasien bersiul, dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan apakah sama kuat . Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian sisi yang lumpuh.

Persarafan supranuklear dari otot-otot dahi terletak pada kedua hemisfer serebri, sedangkan otot wajah sisanya mendapat persarafan hanya dari girus presentralis kontralateral. Akibatnya gangguan unilateral dari kortikonuklear oleh suatu lesi infark membiarkan persaarafan otot frontalis tetap utuh (paralisis sentralis) tetapi jika sebuah lesi melibatkan nukleus atau saraf perifer semua otot fasial ipsilateral mengalami kelumpuhan (paralisis perifer) Pemeriksaan fungsi sensorik. Dilakukan pada 2/3 bagian lidah depan. Pasien disuruh untuk menjulurkan lidah, kemudian pada sisi kanan dan kiri diletakkan gula, asam,garam atau sesuatu yang pahit. Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik kertas. Bahannya adalah:Glukosa 5 %, Nacl 2,5 %, Asam sitrat 1 %, Kinine 0,075 %.

Sekresi air mata. Dengan menggunakan Schirmer test ( lakmus merah ) Ukuran : 0,5 cm x 1,5 cm Warna berubah menjadi Biru : Normal: 10 15 mm ( lama 5 menit)

e.

SARAF OTAK VIII (NERVUS KOKHLEARIS, NERVUS VESTIBULARIS)

Fungsi N. Kokhlearis adalah untuk pendengaran. a. Test bisik dan detak arloji Perkiraan umum pendengaran pasien dapat disaring secara efektif dengan mengkaji kemampuan pasien mendengarkan bisikan kata atau detakan jam tangan. Bisikan lembut dilakukan oleh pemeriksa, yang sebelumnya telah melakukan ekshalasi penuh. Masing-masing telinga diperiksa bergantian. Agar telinga yang satunya tak mendengar, pemeriksa menutup telinga yang tak diperiksa dengan telapak tangan. Dari jarak 1 sampai 2 kaki dari telinga yang tak tertutup dan di luar batas penglihatan, pasien dengan ketajaman normal dapat menirukan dengan tepat apa yang dibisikkan. Bila yang digunakan detak jam tangan, pemeriksa memegang jam tangan sejauh 3 inci dari telinganya sendiri (dengan asumsi pemeriksa mempunyai pendengaran normal) dan kemudian memegang jam tangan pada jarak yang sama dari aurikulus pasien. Karena jam tangan menghasilkan suara dengan nada yang lebih tinggi daripada suara bisikan, maka kurang dapat dipercaya dan tidak dapat dipakai sebagai satu-satunya cara mengkaji ketajaman auditorius.

b.

Pemeriksaan Weber. Maksud nya membandingkan transportasi melalui tulang ditelinga kanan dan kiri pasien.Garpu tala ditempatkan didahi pasien, pada keadaan normal kiri dan kanan sama keras ( pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras ). Pendengaran tulang mengeras bila pendengaran udara terganggu, misal: otitis media kiri , pada test weber terdengar kiri lebih keras. Bila terdapat nerve deafness disebelah kiri , pada test weber dikanan terdengar lebih keras .

Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: 1. Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah kanan. 2. Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga kanan lebih hebat. 3. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu, maka di dengar sebelah kanan. 4. Tuli persepsi pada kedua telinga, tetapi sebelah kiri lebih hebat dari pada sebelah kanan.

c.

Pemeriksaan Rinne. Maksudnya membandingakn pendengaran melalui tulang dan udara dari pasien. Pada telinga yang sehat, pendengaran melalui udara didengar lebih lama dari pada melalui tulang. Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak dapat mendengarnya lagi. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positif. Pada orang normal test Rinne ini positif. Pada Conduction deafness test Rinne negatif.

d.

Pemesiksaan Schwabach. Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa yang dianggap normal. Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan didekat telinga pasien. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi, garpu tala ditempatkan didekat telinga pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa, maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek (untuk konduksi udara ). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. Bila sudah tidak mendengar lagi maka garpu tala diletakkan ditulang mastoid pemeriksa. Bila pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka dikatakan Schwabach ( untuk konduksi tulang ) lebih pendek.

Pemeriksaan N. Vestibularis. a. Test Romberg. Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya. Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya, lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. Orang yang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih.

b.

Test melangkah ditempat ( Stepping test ). Pasien disuruh berjalan ditempat, dengan mata tertutup , sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti jalan biasa. Selama test ini pasien diminta untuk berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test berlangsung.

Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien beranjak lebih dari 1meter dari tempatnya semula, atau badan terputar lebih dari 30 derajat.

Fungsi koordinasi. Tujuan pemeriksaan ini untuk menilai aktivitas serebelum. Serebelum adalah pusat yang paling penting untuk mengintegrasikan aktivitas motorik dari kortex, basal ganglia, vertibular apparatus dan korda spinalis. Lesi organ akhir sensorik dan lintasan-lintasan yang mengirimkan informasi ke serebelum serta lesi pada serebelum dapat mengakibatkan gangguan fungsi koordinasi atau sering disebut Cerebellar sign Macam-macam pemeriksaan keseimbangan Test telunjuk hidung a. b. c. Menerangkan tujuan pemeriksaan Pasien disuruh menunjuk hidungnya sendiri sambil matanya ditutup Kemudian menunjuk jari sendiri secara bergantian, jari telunjuk klien berpindah-pindah posisi selama test berlangsung d. Klien diminta untuk melakukan gerakan ini secara berlahan kemudian makin cepat dan sebaliknya e. Test dilakuakn untuk tangan kanan dan kiri

Test tumit lutut. Dalam sikap berbaring klien disuruh meletakkan tumit kiri di atas lutut kanannya, Kemudian menggerakkan tumit tersebut meyusuri tulang tibia kea rah distal sampai dorsum kaki dan ibu jari kaki, pasien diminta untuk melakukan gerakan ini secara berlahan kemudian makin cepat dan sebaliknya, Dapat pula gerakan ini dilakukan berlawanan arah dari bawah ke atas, Test dilakuakn untuk kaki kanan dan kiri

Test diadokinesia berupa: pronasi supinasi, tapping jari tangan. Dalam sikap duduk pasien disuruh meletakkan tangan di bagian atas bagian distal paha , Mula-mula secara pronasi (telapak tangan ke bawah), lalu supinasi (telapak tangan ke atas), pasien diminta untuk melakukan gerakan ini secara berlahan kemudian makin cepat dan sebaliknya, Test dilakuakn untuk tangan kanan dan kiri Tapping jari tangan dilakukan dengan menepuk pinggiran meja/paha dengan telapak tangan secara berselingan bagian volar dan dorsal tangan dengan cepat atau dengan tepukan cepat jari-jari tangan ke jempol

Test mempertahankan sikap

Tes Kalori Bila telinga kiri diberi air dingin timbul nistagmus ke kanan. Bila telinga kiri diberi air hangat timbul nistagmus ke kiri. Nistagmus sesuai dengan fasenya : fase cepat dan fase pelan. Bila nistagmus kekiri maka fase cepat kekiri.

f.

SARAF OTAK IX & X ( NERVUS GLOSOFARINGEUS & NERVUS VAGUS) Cara pemeriksaan: Pasien diminta untuk membuka mulut dan mengatakan huruf a . Jika ada gangguan maka otot stylopharyngeus tak dapat terangkat dan menyempit dan akibatnya rongga hidung dan rongga mulut masih berhubungan sehingga bocor. Jadi pada saat mengucapkan huruf aaaaah dinding pharynx terangkat sedang yang lumpuh tertinggal, dan tampak uvula tidak simetris tetapi tampak miring tertarik kesisi yang sehat. Pemeriksa menggoreskan atau meraba pada dinding pharynx kanan dan kiri dan bila ada gangguan sensibilitas maka tidak terjadi refleks muntah.

g.

SARAF OTAK XI ( NERVUS AKSESORIUS ). Cara pemeriksaan : Memeriksa tonus dari m. Trapezius. Dengan menekan pundak pasien dan pasien diminta untuk mengangkat pundaknya. Memeriksa m. Sternocleidomastoideus. Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh pemeriksa , kemudian dilihat dan diraba tonus dari m. Sternocleidomastoideus.

h.

SARAF OTAK XII ( NERVUS HIPOGLOSUS ). Cara pemeriksaan : Dengan adanya gangguan pergerakan lidah, maka perkataan perkataan tidak dapat diucapkan dengan baik hal demikian disebut: dysarthri. Dalam keadaan diam lidah tidak simetris, biasanya tergeser kedaerah lumpuh karena tonus disini menurun. Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit. Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah . Kekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan lidah kesamping pada pipi dan dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi.

KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS. 1. Saraf Olfaktorius. (N.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dan mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa:

Agenesis traktus olfaktorius Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya.

Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi countre coup, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital.

Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan peradangan selaput otak didekatnya.

Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman.

Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik).

Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang.

2. Saraf Optikus (N.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan. Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang, istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi, maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia.

Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh: a. b. c. Trauma Kepala Tumor serebri (kraniofaringioma, tumor hipfise, meningioma, astrositoma) Kelainan pembuluh darah Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral. d. Infeksi. Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut: Papiledema (khususnya stadium dini) Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi, dapat disebabkan oleh lesi desak ruang, antara lain hidrocefalus, hipertensi intakranial benigna, hipertensi stadium IV. Trombosis vena sentralis retina. Atrofi optik Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus, glaukoma, iskemia, famitral, misal: retinitis pigmentosa, penyakit leber, ataksia friedrich. e. Neuritis optik.

3. Saraf Okulomotorius (N.III) Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial, ke atas dan lateral, kebawah dan keluar. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi, sehingga reaksi pupil akan berubah. N. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata, sehingga kalau lumpuh, kelopak mata akan jatuh ( ptosis) Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: a. Ptosis, disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis. b. Fiksasi posisi mata, dengan pupil ke arah bawah dan lateral, karena tak adanya

perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior. c. Pupil yang melebar, tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut, kerusakan biasanya terjadi di perifer, paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. Penyebab kerusakan diperifer meliputi; a). Lesi kompresif seperti tumor serebri, meningitis basalis, karsinoma nasofaring dan lesi orbital. b). Infark seperti pada arteritis dan diabetes. 4. Saraf Troklearis (N. IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan kemedial. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas, sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial, mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma, biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. 5. Saraf Abdusens (N. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral, ketika pasien melihat lurus ke atas, mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral, ketika pasien melihat ke arah nasal, mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu, mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis, neurosifilis, mutiple sklerosis, perdarahan dan tumor. Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis, sinusistis, trombosis sinus kavernosus, anevrisma arteri karotis interna atau arteri komunikantes posterior, fraktur basis kranialis. 6. Saraf Trigeminus (N. V)

Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea, dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus, yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. 7. Saraf Fasialis (N. VII) Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain: Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler. Lesi LMN : Penyebab pada pons, meliputi tumor, lesi vaskuler dan siringobulbia. Pada fosa posterior, meliputi neuroma akustik, meningioma, dan meningitis kronik. Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bells palsy, fraktur, sindroma Rumsay Hunt, dan otitis media. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre, mononeuritis multipleks, dan keganasan parotis bilateral. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis, tetapi ini sangat jarang. Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah, kelopak mata tidak bisa ditutup, gangguan air mata dan ludah, gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi, ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir, sudut mulut turun, bibir tertarik kesisi

yang sehat. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit, terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Kelainan pada sekresi air mata : pengurangan produksi air mata (hipolakrimasi) pada proses penuaan, pada orang tua hasilnya hanya akan berkisar 10 mm selama 5 menit. Pasien dengan sindrom Sjgren mendapati hasil kurang dari 5 mm selama 5 menit. Dan pada Def. Vit. A sekresi air mata akan berkurang.

8. Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain: Gangguan pendengaran, berupa : Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor, misal neuroma akustik. Degenerasi misal presbiaskusis. Trauma, misal fraktur pars petrosa os temporalis, toksisitas misal aspirin, streptomisin atau alkohol, infeksi misal, sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital. Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen, otitis media, otoskleroris dan penyakit Paget. Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler Pada labirin meliputi penyakit meniere, labirinitis akut, mabuk kendaraan, intoksikasi streptomisin. Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. Pada batang otak meliputi lesi vaskuler, tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi. Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. 9. Saraf Glosofaringeus (N. IX) dan Saraf Vagus (N. X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. IX dan N. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru.

Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi, sepsis dan acute respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. Gangguan nervus IX dan N. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paru-paru. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. X) Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata) Pasca operasi trepansi serebelum Pasca operasi di daerah kranioservikal 10. Saraf Asesorius (N. XI) Gangguan N. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus). Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf, tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu. 11. Saraf Hipoglossus (N. XII) Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak, kelainan pembuluh darah, tumor dan syringobulbia. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang. Pada kerusakan N. XII pasien tidak dapat menjulurkan, menarik atau mengangkat lidahnya. Pada lesi unilateral, lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut

DAFTAR PUSTAKA

1. Baehr, M. dan M. Frotscher. Diagnosis Topik dan Neurologi DUUS, Anatomi Fisiologi Tanda Gejala. Jakarta: EGC. 2010. 2. Bickley, Lynn; Szilagui, Peter (2007). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking (9th ed.). Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 0-7818-6718-0. 3. Campbell, William W. 2005. DeJong's The Neurologic Examination, 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 4. Lumbantobing, S.M. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2011. 5. http://informatics.med.nyu.edu/modules/pub/neurosurgery/cranials.html 6. http://informatics.med.nyu.edu/modules/pub/neurosurgery/motor.html 7. http://informatics.med.nyu.edu/modules/pub/neurosurgery/sensory.html

REFRESHING PEMERIKSAAN MOTORIK, SENSORIK, SARAF CRANIAL

DISUSUN OLEH : Bellatrix Bonisa (2008730056)

DOKTER PEMBIMBING: dr. Susanto Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIANJUR PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2013