Anda di halaman 1dari 3

MALARIA KONGENITAL Malaria pada kehamilan merupakan masalah obstetri, sosial dan medis yang membutuhkan solusi multidisiplin

dan multidimensi. Ibu hamil merupakan kelompok dewasa dengan risiko utama terkena malaria dan 80% dari kematian akibat malaria di Afrika terjadi pada wanita hamil dan anak-anak di bawah 5 tahun. Di Afrika, kematian perinatal akibat malaria adalah sekitar 1500 jiwa per hari. Di daerah endemis malaria, 20-40% dari semua bayi yang lahir mungkin memiliki berat badan lahir rendah. Interaksi antara Malaria dengan Kehamilan Malaria dan kehamilan adalah dua kondisi yang saling mempengaruhi. Perubahan

fisiologis dalam kehamilan kehamilan dan perubahan patologis akibat malaria mempunyai efek sinergis terhadap kondisi masing-masing, sehingga semakin menambah masalah baik bagi ibu hamil, janinnya maupun dokter yang menanganinya. P. falciparum dapat menyebabkan keadaan yang memburuk dan dramatis untuk ibu hamil. Primigravida umumnya paling mudah terpengaruh oleh malaria, dengan gejala berupa anemia, demam, hipoglikemia, malaria serebral, edema pulmonal, sepsis dan kematian akibat malaria berat dan hemoragik. Masalah pada bayi yang baru lahir adalah berat lahir rendah, prematuritas, pertumbuhan janin terhambat , infeksi malaria dan kematian. Tabel l. Malaria dalam Kehamilan: Masalah yang berlipat ganda Lebih terjadi sering Malaria lebih sering terjadi dalam kehamilan daripada populasi umum. Penyebabnya kemungkinan karena adanya imunosupresi dan hilangnya imun yang didapat selama kehamilan Gejala lebih Atipik Dalam kehamilan, malaria cenderung menampakkan gejala atipik yang mungkin disebabkan adanya perubahan hormonal,

imunologis dan hematologis selama kehamilan. Lebih Berat Disebabkan perubahan hormonal dan imunologis, koloni parasit cenderung lebih besar 10 kali lilpat sehingga semua komplikasi P.falciparum lebih sering terjadi selama kehamilan. Lebih Fatal P.falciparum malaria dalam kehamilan cenderung lebih berat,

dengan tingkat infeksius l3% lebih tinggi daripada saat tidak hamil Terapi selektif harus Sejumlah anti malaria merupakan kontra indikasi diberikan saat hamil dan seringkali menimbulkan efek samping yang berat. Oleh karena itu terapinya sering sulit, terutama infeksi malaria berat yang disebabkan P. falciparum. Masalah lain Penanganan komplikasi malaria sering sulit karena pengaruh perubahan fisiologis selama kehamilan. Harus dilakukan

pengawasan ketat terhadap pemberian cairan, kontrol suhu dll. Keputusan untuk terminasi kehamilan juga sering dipersulit oleh risiko kematian janin, pertumbuhan janin terhambat dan ancaman persalinan prematur.

Patofisiologi Patofisiologi malaria dalam kehamilan sangat dipengaruhi oleh perubahan sistem imunologis oleh adanya organ baru yaitu plasenta. Terjadi penurunan sistem imunitas didapat yang dramatis selama kehamilan, terutama pada primigravida ditransfer kepada janin) Terdapat sejumlah hipotesis yang menjelaskan patofisiologi malaria dalam kehamilan, yaitu: Hipotesis-1: Hilangnya kekebalan antimalaria secara konsisten berhubungan dengan terjadinya imunosupresi selama kehamilan misalnya: penurunan respon limfoproliferatif, peningkatan level kortisol serum. Hal ini dikondisikan untuk mencegah penolakan terhadap janin tetapi menyebabkan ibu hamil rentan terhadap infeksi. Namun, hal ini tidak menjelaskan kerentanan terhadap malaria berkurang dialami oleh wanita multigravida. Hipotesis -2: Yang hilang adalah imunitas sel, tapi yang ditransfer adalah antibodi kekebalan pasif dari ibu yang menderita malaria. (Efek imunitas antimalaria

Hipotesis -3: Plasenta adalah organ yang baru bagi seorang primigravida sehingga memungkinan adanya imunitas host yang langsung menerobos atau adanya zat tertentu pada plasenta yang memudahkan P. falciparum untuk memperbanyak diri. Perkembangan imunitas spesifik plasenta dapat menjelaskan kerentanan menurun pada multigravida.

Bila proses terus berlanjut dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan fetus sehingga bayi yang dilahirkan dapat memiliki berat badan lahir rendah,