Anda di halaman 1dari 4

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2004

KADAR OPTIMAL AGAR NOBLE STOK LAMA UNTUK UJI AGAR GELL IMMUNODIFFUSION ENZOOTIC BOVINE LEUCOSIS
PUDJI KURNIADHI Balai Penelitian Veteriner, Jl. RE Martadinata No. 30, Bogor.

RINGKASAN
Penyakit Enzootic Bovine Leucosis (EBL) adalah penyakit infeksius yang menyerang ternak sapi, disebabkan oleh Retrovirus. Secara umum sapi perah lebih tinggi tingkat prevalensinya daripada sapi potong. Sapi-sapi impor yang memberikan reaksi positip antibodi terhadap penyakit EBL dilarang masuk ke Indonesia (harus dimusnahkan), hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya penyakit EBL ke Indonesia. Telah dilakukan suatu percobaan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan Bahan agar Noble (DIFCO) yang sudah lama disimpan (stok lama) dan sering kali dibuka tutup, yang menyebabkan kekenyalnya menjadi berkurang. Tujuan dari percobaan ini adalah mencari pemecahan masalah mengenai Bahan agar Noble yang sudah lama disimpan (stok lama) sehingga masih tetap dapat dipergunakan untuk uji Agar Gell Immunodiffusion Enzootic Bovine Leucosis dengan mengoptimalkan kadar agar Noble (stok lama). Kadar agar Noble yang dipakai untuk percobaan ini adalah 0,8 %; 1,0 %; 1,5 %; 2,0 %; 2,5 % dan 3,0 %, hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar optimal agar Noble (stok lama) adalah 1,5 % yaitu lebih kurang 2 kali dari yang seharusnya.
Kata kunci : Enzootic Bovine Leukosis, Agar Noble , Agar gell immunodifusion

PENDAHULUAN
Penyakit Enzootic Bovine Leukosis (EBL) adalah penyakit infeksius yang menyerang ternak sapi. Virus penyebab penyakit EBL ini adalah Retrovirus (Miller, 1986) yang menyerang kelenjar pertahanan (Olson, 1981). Di Australia penyakit EBL termasuk dalam katagori penyakit endemik, banyak terjadi di Australia Utara terutama pada sapi perah. Penyakit EBL juga terjadi pada sapi potong di wilayah Utara, namun tidak terjadi pada sapi potong di wilayah lain (Anonimos, 1995), secara umum kasus penyakit EBL pada sapi perah lebih banyak dibandingkan dengan sapi potong. Penularan penyakit dapat terjadi secara horisontal melalui serangga penghisap darah antara lain lalat Tabanus (Foil dkk, 1889), dan secara vertikal melalui infeksi fetus (Olson, 1981). Salah satu penyakit menular yang dikuatirkan masuk bersamaan dengan impor sapi perah adalah EBL (Adnan, 1994). Selama ini di Indonesia untuk meningkatkan mutu genetik dan populasi sapi perah, pemerintah menempuh kebijaksanaan dengan jalan mengimpor sapi perah sebanyak 100.000 ekor betina, beberapa ekor penjatan, dan mani beku dari Inggris, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Timur Tengah dan Jepang (Sudono, 1994). Penyakit EBL ini belum ada obatnya, untuk mencegah masuknya penyakit tersebut ke Indonesia, dilakukan suatu cara yaitu dengan mengkarantinakan sapi-sapi impor dan melakukan

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

95

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2004

uji serologik dengan agar gel immunodifusion (AGID) terhadap penyakit EBL (Kurniadhi, P., 1999). Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mencari pemecahan masalah mengenai Bahan agar Noble yang sudah lama disimpan (stok lama) yang sering dubuka tutup supaya masih tetap dapat dipergunakan untuk uji AGID EBL.

BAHAN DAN METODE Bahan


Percobaan dilaksanakan pada bulan Agustus 2003 di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Veteriner, Bogor. Agar Noble yang dipakai adalah agar Noble (DIFCO) stok lama yang usia pembuatannya sudah lebih dari 5 tahun, dan antigen maupun serum kontrol standar EBL berasal dari IFFA Marieux (Perancis).

Metode Pembuatan agar


Tiga ratus ml H2O dimasukkan kedalam beker gelas yang sudah diberi magnit dan ditaruh diatas alat pemutar magnit, diputar dengan putaran sedang, kemudian secara bertahap ditambahkan 0,6 gr NaOH, dilarutkan, ditambahkan 2,7 gr H3BO3 , dilarutkan, ditambahkan 21 gr NaCl, dilarutkan, dan selanjutnya larutan ini dipakai sebagai stok, kemudian larutan tersebut dibagi menjadi 6 bagian. Setiap bagian larutan (50 ml) diberi agar Noble dengan kadar yang berbeda yaitu bagian ke-1 mengandung kadar agar Noble 0,8 %, bagian ke-2 mengandung kadar agar Noble 1,0 %, bagian ke-3 mengandung kadar agar Noble 1,5 %, bagian ke-4 mengandung kadar agar Noble 2,0 %, bagian ke-5 mengandung kadar agar Noble 2,5 %, bagian ke-6 mengandung kadar agar Noble 3,0 % tanpa di kocok. Selanjutnya Bahan - Bahan tersebut diatas dipanaskan dengan menggunakan microwave selama kurang lebih 7 menit. Setelah agar larut sempurna, dengan menggunakan pipet agar tersebut dimasukkan ke dalam cawan Petri yang berdiameter 8 mm dan volumenya 18 ml dan dibiarkan membeku pada suhu kamar selama kurang lebih 30 - 60 menit.

Cara Pengujian
Semua agar dengan kadar yang berbeda dan sudah tercetak di masing-masing cawan Petri itu dilubangi dengan menggunakan alat pelubang yang terdiri dari 6 lubang di pinggir dan 1 lubang di tengahtengah. Setelah tercetak, lubang di sedot dengan menggunakan pompa penyedot. Dengan menggunakan mikropipet dan tip lubang di tengah di isi antigen EBL sebanyak 30 l, sedang lubang-lubang yang lain di isi serum standar kontrol positip sebanyak 70 l. Semua agar dengan kadar agar Noble yang berbeda itu diperlakukan sama. Selanjutnya agar tersebut di simpan dalam tempat tertutup yang didalamnya di beri alas kertas tissue yang dibasahi untuk menjaga kelembaban dan disimpan pada suhu kamar.

96

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2004

Cara Pembacaan
Pembacaan dilakukan selama 3 hari dengan menggunakan kotak pembaca yang berisi lampu TL. Apabila antara antigen EBL dan serum standar kontrol positip terbentuk garis persipitasi seperti benang putih maka dinyatakan bahwa agar tersebut bisa di pakai. Garis persipitasi yang terbentuk antara antigen EBL dan serum standar kontrol positip harus selalu bersambungan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari hasil percobaan uji AGID EBL tersebut ternyata kadar optimal agar Noble (DIFCO) yang masih dapat dipergunakan dalam pengujian yang paling baik adalah 1,5 % (Tabel.1). Sedang menurut Kurniadhi (1999) kadar agar Noble yang dipergunakan untuk uji AGID EBL adalah 0,8 %, jadi dalam hal ini kadar optimal agar Noble stok lama yang masih ideal untuk bisa dipakai lebih kurang 2 kali lebih banyak dari agar Noble yang baru. Untuk agar Noble dengan kadar 0,8 %, antara lubang yang berisi antigen dengan lubang yang berisi antibodi (serum standar positip) tidak jelas terbentuk garis persipitasi. Disamping itu jumlah cairan dalam lubang-lubang tersebut menjadi bertambah hingga sampai meluap keluar. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kekenyalan agarnya sudah berkurang yang menyebabkan larutan antigen dan serum standar sulit untuk saling mendifusi. Pada agar Noble dengan kadar 1,0 % sudah mulai terbentuk garis persipitasi, tetapi masih kurang begitu jelas, begitu pula cairannya masih meluap. Pada kondisi ini, mungkin sudah mulai terjadi reaksi imunodifusi dalam arti larutan antigen dan serum standar sudah mulai saling mendifusi, tetapi masih belum optimal. Untuk agar Noble dengan kadar 1,5 % mulai terbentuk garis persipitasi yang jelas sekali dan tebal dan jumlah cairan tetap sama seperti semula, tidak sampai meluap. Hal ini berarti bahwa reaksi imunodifusi yang terjadi sudah mencapai kondisi yang optimal. Selanjutnya pada kadar agar Noble sebesar 2,0 % garis persipitasi yang terbentuk tampak jelas dan tebal, tetapi jumlah cairannya menjadi berkurang. Kemungkinan karena agarnya sudah terlalu kenyal, sedang pada kadar 2,5 3,0 % garis persipitasinya sudah tipis sekali dan kurang jelas, karena reaki imunodifusi yang terjadi sudah kurang optimal karena agarnya terlalu keras. Kemungkinan untuk agar Noble yang sudah terlalu lama disimpan (stok lama) dan sering kali dibuka tutup sudah terjadi peruBahan stuktur kimianya, sehingga untuk pemakaiannya tidak sesuai lagi dengan aturan yang biasa direkomendasikan. Mangunwiryo (1978) dalam penelitiannya untuk menguji anti globulin kelinci dengan memakai uji Agar Gel Presipitasi (AGP) menggunakan agar 1,25 %, sedang Ronohardjo (1976) dalam membandingkan antigen dari beberapa galur virus ND dengan uji AGP memakai agar dengan kadar 1,0 %. Hasil percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa pemakaian agar Noble dari stok lama yang tersedia masih dapat digunakan dengan kadar 1,5 %.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

97

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2004

Tabel 1. Hasil uji AGID EBL dengan komposisi kadar agar Noble (DIFCO) yang berbeda. No. 1 2 3 4 5 6 Kadar agar Noble 0,8 % 1,0 % 1,5 % 2,0 % 2,5 % 3,0 % Cairan antigen dan serum dalam lubang Bertambah Bertambah Tetap Berkurang Habis Habis Garis yang terbentuk Tidak jelas Kurang jelas (tipis) Jelas sekali (tebal) Jelas (tebal) Kurang jelas (tipis) Kurang jelas (tipis)

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa agar Noble (stok lama) masih dapat dipergunakan dalam pengujian AGID EBL dengan cara mengoptimalkan kadar agar Noble yaitu dengan dinaikan menjadi lebih kurang 2 kali dari yang seharusnya.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan, A., 1994. Deteksi serologi bovine leucemia virus dengan tekni Elisa pada sapi di Indonesia. Media Veteriner 1994. Vol 1 (1) : 1 7. Disease surveillance and Control, 1995. National Disease Surveillance and Control Programs. Draft version of Animal Health in Australia 1995., 2 dan 7 Foil, L.D, D.D. French, P.G. Hoyt, C.J. Issel, D.J. Leprince, J.M. Mc. Manus, C.L. Seger., Transmission of bovine leukemia virus by Tabanus fuscicostatus. Am J Vet Res, 50 : 1171 1173. Mangunwiryo, H., 1978. Menjajagi kemungkinan penggunaan Indirect Fluorescence Antibody Tecknique untuk keperluan diagnosa penyakit hewan. LPPH, Bulletin no. 15 : 1 12 Miller, J.M., 1986. Bovine leucemia virus. Current Veterinary Therapi. Food animal practice 2. Edited by Jimmy L. Howard. W.B Saunders Company : 506 508. Olson, C., 1981. Lymphosarcoma. Current Veterinary Therapy. Food animal practice 2. Edited by Jimmy L. Howard. W.B Saunders Company : 564 566. Kurniadhi, P., 1999. Deteksi Antibodi Terhadap Virus Penyakit Enzootic Bovine Leukosis (EBL) Dengan Uji Agar Gel Immunodifusion (AGID). Pros. Lokakarya Fungsional Non Peneliti : 122 125. Ronohardjo, P., 1976. Memperbandingkan antigen-antigen beberapa isolat virus Newcastel dengan suku La Sota memakai Teknik Agar Gel difusi. LPPH, Bulletin no. 11 dan 12 : 9 14. Sudono, Adi., 1994. Suatu tanggapan masalah strategi Pemuliaan sebagai Antisipasi Terhadap Pelaksanaan Program Bioteknologi Reproduksi Pada Sapi Perah. Fakultas Peternakan Universitas Soedirman Purwokerto 5 Pebruari 1994 : 2

98

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Anda mungkin juga menyukai