Anda di halaman 1dari 38

Oleh SEPTI DEWI R.

Tujuan Perkuliahan
Review anatomi dan fisiologi sistem respirasi Respitatory disfunction Nursing Care

A. Anatomi dan fisiologi


Sistem respirasi:
Rongga hidung Farinx (tekak) Larinx (tenggorok) Trachea Bronchus Alveoli Paru Fungsi Paru

Proses Pernafasan
(Dalam dan luar) Pengendalian pernafasan (Saraf, kimiawi, faktor lain) Mekanika ventilasi:

Tekanan pleura(-5) dan tekanan alveoli (0)

B. Respiratory disfunction
Respiratory infection - AURI (faringitis, laringitis, sinusitis) - ALRI (Bronchitis, bronchiolitis, pneumonia) - TB, Pertusis Non Infection : Aspiration pneumonia, RDS, smoke inhalation Long-term respiratory disfunction: asma, Alergi

PENGKAJIAN
PENGUMPUL AN DATA IDENTIFIKASI KEBUTUHAN KLIEN

DX
INTERPRETASI DAN BUAT KEPUTUSAN DATA2 YG DIKUMPULKAN PROBLEM, ETIOLOGY, SIGN& SYMPTOMS

PERENCANAAN
INTERVENSI YG DIBERIKAN SESUAI DGN KEBUTUHAN KLIEN YG REALISTIS, DPT DIUKUR, & MEMENUHI KRITERIA HASIL SEBAGAI PETUNJUK DLM PEMBERIAN ASKEP PERAWATAN BERKESINAMBUNGAN FOKUS PD KLIEN

IDENTIFIKASI MASALAH KLIEN

DOKUMEN TASI

EVALUASI
EVALUASI ASKEP YG DIBERIKAN SDH MEMENUHI KRITERIA HASIL /TDK

IMPLEMENTASI
PELAKSANAAN RENCANA ASKEP

I. Pengkajian
Riwayat kesehatan, klien dan keluarga Observasi sign/simptom utama
Obs pernafasan (Frekuensi, irama, kedalaman, kemudahan) Obs. Adanya bukti infeksi, batuk, sputum (jenis, warna, konsistensi, volume, bau, durasi), mengi, sianosis, nyeri dada, pernafasan buruk, saturasi oksigen

Observasi sign/simptom penyerta


Penurunan BB, nafsu makan, Muntah, mual, Status hidrasi

Keadaan aktifitas
Apakah status respirasi memburuk , kapan muncul, situasi yang memperparah

Status dyspnea
Kapan muncul, waktu, sifat serangan

Status sianosis : perifer/central/diferensial, durasi, distribusi Status kardiovaskuler dan neurologi Pemeriksaan fisik : Thorax paru, Head to toe

Pemeriksaan penunjang
Foto dada BGA Lab. Darah Spirometri Uji ELISA (Enzyme Linked Immunofluorescent Assay) Agen spesifik

Spirometry
Volume Tidal (VT)
Insp dan eks setiap kali nafas (500cc)

Volume cadangan Inspirasi (IRV)


Yg dpt di insp paksa stlh insp VT N (3100cc)

Volume cadangan ekspirasi (ERV)


Stlh eksp VT N (1200 cc)

Volume residu (RV)


Jumlah udara tertinggal setelah eksp paksa (1200 cc)

Kapasitas paru total (TLC)


Udara maks yg dapat masuk setelah insp maks (600 cc) TLC= VT + IRV + ERV + RV

Kapasitas vital (VC)


Udara maks yg dapat di eksp setelah insp maks (4800 cc) VC = VT + IRV + ERV + (80% TLC)

Kapasitas Inspirasi (IC)


Udara maks yag dapat di insp sesudah eksp normal (3600 cc) IC = Vt + IRV

Kapasitas residu Fungsional (FRC)


Volume udara yang tertinggal dalam paru sesudah eksp VT N (2400 cc) FRC =ERV + RV

Parameter Analisa Gas Darah


PH (Normal ; 7,35 7,45).7,39

PCO2 (Normal : 35 45 mm Hg).37 Adalah tekanan dari gas CO2 yang terlarut dalam darah, merupakan parameter fungsi pernafasan (respirasi) Bila PCO2 < 35 mm Hg Hipokapnia Bila PCO2 > 45 mm Hg Hiperkapnia
PaO2 (Normal : 80 100 mm Hg)..96 Adalah tekanan yang ditimbulkan oleh O2 yang terlarut dalam darah Hipoksemia : adalah keadaan dimana PaO2 < 60 mm Hg Hipoksia : adalah keadaan dimana O2 jaringan tidak adekuat.

BE (Normal : -2 s/d +2 meg/L)..3 BE atau Base defisit menggambarkan secara langsung jumlah dalam Meg/L kelebihan basa/kekurangan basa
Nilai BE digunakan untuk diagnosis dan juga untuk pengobatan asidosis metabolik, dengan formula : Kebutuhan Basa = BE x BB x 0.3 meg

Standar Bikarbonat ( HCO3 ) Normal : 22-26 meg/L


Adalah konsentrasi ion (HCO3-) dalam plasma pada PCO2 : 40 mm Hg,suhu 270C dan pada keadaan hb teroksigenisasi penuh

Persentase Saturasi O2 (% sat O2, normal = 92100%)


Adalah kandungan O2 total didalam darah

Gangguan Keseimbangan Asam Basa


Asidosis Respiratorik
- Akibat pengeluaran CO2 terganggu, terjadi penumpukan CO2 dan peningkatan H2CO3. - Etiologi : - Gagal napas - Penekanan pusat pernapasan (stroke, truma kepala overdosis obat) - Sumbatan jalan napas - Gejala : - Retensi 02 Sesak - Gangguan kesadaran gelisah, letangi, stupor, coma

- Penatalaksanaan - Memperbaiki ventilasi - Intubasi & ventilasi mekanik - Pengobatan penyakit penyebab

Alkolosis Respiratorik
-

Akibat pengeluaran CO2 berlebihan pada Hiperventilasi, karena kehilangan CO2, H2CO3 berkurang.
Etiologi : - Keadaan yang menyebabkan hiperventilasi - Gangguan paru hipoksemia - Metabolisme asidosis di intoksikasi salisilat - Ventilasi mekanik berlebihan - Trauma sistim saraf pusat (SSP)

- Gejala : ansietas, kejang, tetani dan gangguan kesadaran - Penatalaksanaan - Terapi oksigen memperbaiki oksigenerasi - Penyesuaian ventilator mekanik - Pengobatan penyakit penyebab - Farmakoterapi : sedasi & tranquilizer

Asidosis Metabolik
Adalah keadaan dengan kekurangan HCO3 Etiologi : - Penimbunan asam yang berlebihan - Diabetes ketoasidosis - Gagal ginjal - Keracunan salisilat, etikan glikol - Banyak kehilangan HCO3 dari drainase gastro intes tinal atau diare Gejal : - Pernapasan kussmaul - Gangguan kesadaran : Disorientasi, gelisah, coma

Penatalaksanaan :

- Pengobatan penyakit penyebab - Pemberian HCO3 (bila anio grap (N)) - Penggantian kalium

Alkalosis Metabolik
Adalah keadaan dengan HCO3 yang berlebihan Etiologi : - Kehilangan asam melalui gastro intistinal muntah, suction NGT, diare - Masukan alkali yang berlebihan - Therapi diuretik - Cashing syndrome
Gejala : - Otot spastik, tetani, depresi pernafasan - Gangguan kesadaran - Infus saline - Koreksi kekurangan kalium - Pd. Alkolosis persister asetazolamide (Diamox) - Bahan-bahan yang bersifat asam

Penatalaksanaan :

Sistematis penilaian AGD :


1.Tentukan nilai parameter AGD contoh : PH : 7.50 nilai > (N), dinyatakan sebagai Alkalosis 2. Tentukan oksigenisasi adekuat/tdk nilai dari PaO2 & SaO2 3. Tentukan keadaan asam basa dari penilaian PH 4. Tentukan gangguan asam basa respiratorik/metabolik 5. Menentukan tingkat kompensasi tanpa kompensasi, kompensasi sebagian atau kompensasi komplit

Pengambilan darah untuk Pemeriksaan Analisa Gas Darah Mengambil darah dari pembuluh darah arteri untuk pemeriksaan Analisa Gas Darah Tujuan untuk mengetahui keseimbangan asam basa didalam darah dan mengetahui keadaan gas didalam darah

Persiapan Alat
Spuit 2,5 cc untuk dewasa, spuit 1 cc untuk bayi Anti koagulan ( Heparin ) Alkohol 70 % Bethadin Kapas steril Sarung tangan Plester dan gunting Pengalas Gabus Batu Es

Prosedur tindakan
Jelaskan pada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan. Sebelumnya ukur suhu tubuh pasien Cuci tangan dan pakai sarung tangan. Isi spuit dengan heparin hingga spuit basah dengan heparin Tentukan lokasi insersi sesuai prioritas : Arteri Radialis, arteri Brachialis, arteri Femoralis. Palpasi daerah artei yang akan dipunksi Pasang pengalas pada lokasi yang akan dipunksi, desinfeksi lokasi punksi dengan bethadin atau alkohol 70 %. Tusuk kulit tepat didaerah arteri dengan sudut antara 45 90 dengan jarum mengarah ke kepala pasien. Bila jarum mengenaui pembuluh arteri, bantu aspirasi darah sebanyak 1 cc. Cabut jarum dan segera tekan tempat penusukan dengan kapas alkohol selama 5 10 menit sampai darah tidak keluar lagi kemudian plester. Tutup jarum dengan gabus, beri etiket pada spuit.( nama pasien dan jenis pemeriksaan ), kemudian masukkan spuit dalam kantong plastik yang berisi batu es. Bereskan alat alat dan cuci tangan.

Catatan
Saat pengiriman darah untuk pemeriksaan Analisa Gas Darah, tuliskan jam pengambilan, suhu tubuh pasien, kadar Hb, dan jenis terapi / penggunaan oksigen dalam formulir pemeriksaan.

II. Nursing Problems


Kerusakan pertukaran gas Pola nafas tidak efektif Bersihan jalan nafas tidak efektif Intoleran aktifitas Perubahan nutrisi Perubahan perfusi jaringan

Suggestions for use


Nursing diagnosis Impaired gas exchange Present
AbN blood gases Hipoxia Changes in status mental

Not present
Ineffective cough cough

Nursing diagnosis Ineffective breathing pattern

Present

Not present

Appearance of the Tachicardia patients breathing: Restlessness nasal flaring, use of Ineffective accessory muscles, cough pursed lip breathing AbN blood gases Obstruction or aspiration

Nursing diagnosis Ineffective airway clearance

Present

Not present

Ineffective cough Cough Changes in rate or depth of respiration, usual cause is secretions or obstruction

AbN blood gases

Airway clearance, ineffective


If cough and gag reflexes are inefective or absent, use Risk for aspiration Intevention:
Air way management Suctioning, Aspiration precaution, cough enhancement, Oxigen therapy, positioning, respiratory monitoring, ventilation assistance,postural drainage

Gas Exchange, impaired


Use this label cautiously Perawat tidak mengobati kerusakan pertukaran gas tetapi menangani fungsi pola kesehatan yang dapat mempengaruhi penurunan oksigenasi, seperti aktivitas, tidur, nutrisi. Intoleran aktivitas PK : Pulmonary emboli

III. Nursing Consideration


Intervensi terhadap masalah keperawatan yang muncul Teknik yang tepat Pendekatan yang tepat Libatkan keluarga Berfokus pada perspektif keperawatan anak Evaluasi

Terapi Oksigen

Alat
Kanula nasal : sampai 44 % oksigen - 1 l / menit : 21 24 % - 2 l / menit : 25 28 % - 3 l / menit : 29 32 % - 4 l / menit : 33 36 % - 5 l / menit : 37 47 % - 6 l / menit : 41 44 %

Sungkup muka ; 8-12 lt/mnt, 40-60% - 4 l / menit : 35 % - 6 l / menit : 50 % - 8 l / menit : 55 % - 10 l / menit : 60 % - 12 l / menit : 65 % - 15 l / menit : 70 %

Sungkup muka dengan kantong cadangan, non rebreathing facemask dengan reservoir bag, 8-12 lt/mnt, 80100% - 6 l / menit : 60 % - 7 l / menit : 70 % - 8 l / menit : 80 % - 9 l / menit : 90 % - 10 15 l / menit : 100 %

Venturi Mask biasanya digunakan pada pasien dengan tipe ventilasi tidak teratur, hipoksemia sedang berat. Konsentrasi oksigen dapat diatur 24, 28, 35 dan 40 %