Anda di halaman 1dari 20

BAB I TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK

A. LATAR BELAKANG Gangguan jiwa adalah suatu ketidakberesan kesehatan dengan manifestasimanifestasi psikologis atau perilaku terkait dengan penderitaan yang nyata dan kinerja yang buruk, dan disebabkan oleh gangguan biologis, sosial, psikologis, genetik, fisis, atau kimiawi. Pada pasien gangguan jiwa dengan kasus Schizoprenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori; halusinasi. Terjadinya halusinasi dapat menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap lingkungan sosialnya, hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya sehingga semakin jauh dari sosialisasi dengan lingkungan disekitarnya. Macam-macam halusinasi antara lain, Halusinasi pendengaran, Halusinasi penglihatan, Halusinasi penciuman, Halusianasi pengecapan, Halusianasi raba, Halusinasi seksual, Halusinasi kinestetik, Halusinasi visceral. Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK ) Stimulasi Persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas kelompok secara bersamaan untuk mempersiapkan stimulasi yang terkait dengan pengalaman dalam kehidupan dan menetapkan alternatif penyelesaian masalah. Atas dasar tersebut, maka kami menganggap dengan Therapy Aktivitas Kelompok (TAK) klien dengan gangguan persepsi sensori dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang mengikuti therapy ini adalah klien yang sudah mampu mengontrol dirinya dari halusinasi sehingga pada saat TAK klien dapat bekerjasama dan tidak mengganggu anggota kelompok yang lain. Program terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu asuhan keperawatan dengan gangguan jiwa tidak hanya difokuskan pada aspek psikologis, fisik, dan sosial tetapi juga kognitif. Ada beberapa terapi modalitas yang dapat diterapkan salah satunya adalah terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi.

B. TUJUAN TERAPEUTIK dan REHABILITATIF


1. Tujuan terapeutik meliputi: a. Menggunakan kegiatan untuk memfasilitasi interaksi

b. Mendorong sosialisasi dengan lingkungan (hubungan dengan luar diri klien) c. Meningkatkan stimulus realitas dan respon individu d. Memotivasi dan mendorong fungsi kognitif dan afektik e. Meningkatkan rasa dimiliki f. Meningkatkan rasa percaya diri g. Belajar cara baru dalam menyelesaikan masalah 2. Adapun tujuan rehabilitatif meliputi: a. Meningkatkan kemampuan untuk ekpresi diri b. Meningkatkan kemampuan empati c. Meningkatkan keterampilan sosial d. Meningkatkan pola penyelesaian masalah

C. BEBERAPA ASPEK DARI KLIEN YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Aspek Emosi Gelisah, curiga, merasa tidak berguna, tidak dicintai, tidak dihargai, tidak diperhatikan, merasa disisihkan, merasa terpencil, klien merasakan takut dan cemas, menyendiri, menhindari dari orang lain. 2. Aspek Intelektual Klien tidak ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, jika ditanya klien menjawab seperlunya, jawaban klien sesuai dengan pertanyaan perawat. 3. Aspek Sosial Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat, klien mengatakan bersedia mengikuti terapi aktivitas, klien mau berinteraksi minimal dengan satu perawat lain ke satu klien lain. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi merupakan sebagian dari terapi aktivitas kelompok yang bisa dilaksanakan dalam praktek keperawatan jiwa. Terapi ini diharapkan dapat memacu klien untuk melakukan hubungan interpersonal yang adekuat dan mengidentifikasi secara benar stimuluspersepsi ekternal.

D. MASALAH KEPERAWATAN Therapi aktivitas kelompok sosialisasi & stimulasi persepsi ditujukan pada klien dengan masalah keperawatan : 1. Isolasi sosial : Menarik diri 2. Harga diri rendah 3. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi

E. TUJUAN
1. Tujuan Umum

Klien mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok dan memotivasi proses pikir dan afektif
2. Tujuan Khusus

a) Klien mampu mengidentifikasi dan mengklasifikasi stimulus eksternal yang diberikan melalui gambar b) Klien mampu menyebutkan identitas dirinya c) Klien mampu menyebutkan identitas klien lain d) Klien mampu berespon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara e) Klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan f) Klien mampu menterjemahkan perintah sesuai dengan permainan g) Klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditetapkan h) Klien mampu mengemukakan pendapat mengenai therapi aktivitas kelompok yang dilakukan

F. MANFAAT a. Manfaat umum


1. Meningkatkan kemampuan uji realitas (reality testing) melalui komunikasi dan

umpan balik dengan atau dari orang lain.

2. Melakukan sosialisasi. 3. Membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan afektif b. Manfaat khusus 1. Meningkatkan identitas diri 2. Meningkatkan identitas diri.Menyalurkan emosi secara konstruktif. 3. Meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal atau sosial. c. Manfaat rehabilitasi 1. Meningkatkan keterampilan ekspresi diri. 2. Meningkatkan keterampilan sosial. 3. Meningkatkan kemampuan empati. 4. Meningkatkan kemampuan atau pengetahuan pemecahan masalah

BAB II TEORI A. LANDASAN TEORI 1. Model Terapi Aktivitas Kelompok Dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari dan berfokus pada kelompok individu. Tugas leader adalah membantu kelompok memahami konflik dan membantu penyelesaian masalah. Misal ; adanya perbedaan pendapat antar anggota,

bagaimana

masalah

ditanggapi

anggotadan

leader

mengarahkan

alternatif

penyelesaian masalah. (Sundeen and Stuart, 1999)

a) Model komunikasi Dikembangkan berdasarkan teori dan prinsip komunikasi, bahwa tidak efektifnya komunikasi akan membawa kelompok menjadi tidak puas. Tujuan membantu meningkatkan ketrampilan interpersonal dan social anggota kelompok. Tugas leader adalah memfasilitasi komunikasi yang efektif antar anggota dan mengajarkan pada kelompok bahwa perlu adanya komunikasi dalam kelompok, anggota bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan, komunikasi pada semua jenis : verbal, non verbal, terbuka dan tertutup, serta pesan yang disampaikan harus dipahami orang lain. b) Model interpersonal Tingkah laku (pikiran, perasaan dan tindakan) digambarkan melalui hubungan interpersonal dalam kelompok. Pada model ini juga menggambarkan sebab akibat tingkah laku anggota merupakan akibat dari tingkah laku anggota yang lain. Terapist bekerja dengan individu dan kelompok, anggota belajar dari interaksi antar anggota dan terapist. Melalui proses ini, tingkah laku atau kesalahan dapat dikoreksi dan dipelajari. c) Model psikodrama Dengan model ini dapat memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai dengan peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang lalu, sesuai peran yang diperagakan. Anggota diharapkan dapat memainkan peran sesuai peristiwa yang pernah dialami.

2.

Metoda
a) Kelompok didaktik Kelompok social terapeutik

b) Kelompok insipirasi represif c) Psikodrama d) Kelompok interaksi bebas

3. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok a) Orientasi realitas Maksudnya adalah memberikan terapi aktivitas kelompok yang

mengalami gangguan orientasi terhadap orang, waktu dan tempat. Tujuan adalah klien mampu mengidentifikasi stimulus internal (pikiran, perasaan, sensasi somatic) dan stimulus eksternal (iklim, bunyi, situasi alam sekitar), klien dapat membedakan antara lamunan dan kenyataan, pembicaraan klien sesuai realitas, klien mampu mengenal diri sendiri dan klien mampu mengenal orang lain, waktu dan tempat. Karakteristik klien : halusinasi, waham, ilusi dan depersonalisasi yang sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, klien kooperatif, dapat berkomunikasi verbal dengan baik, dan kondisi fisik dalam keadaan sehat. b) Sosialisasi Adalah memfasilitasi psikoterapist untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal, memberi tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan iden dan tukar persepsi dan menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan. Tujuan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok, berkomunikasi, saling memperhatikan, memberikan tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan ide serta menerima stimulus eksternal. Karakteritistik klien : kurang berminat atau tidak ada inisiatif untuk mengikuti kegiatan ruangan, sering berada di tempat tidur, menarik diri, kontak social kurang, harga diri rendah, gelisah ,curiga, takut dan cemas, tidak ada inisiatif memulai pembicaraan, menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, dan dapat membina trust, mau berinteraksi dan sehat fisik. c) Stimulasi persepsi Maksudnya adalah membantu klien yang mengalami kemunduran orientasi, stimulasi persepsi dalam upaya memotivasi proses berpikir dan afektif serta mengurangi perilaku mal adaptif. Tujuan meningkatkan kemampuan orientasi realita, memusatkan perhatian, intelektual, mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang lain dan mengemukakan perasaannya. Karakteristik klien : gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai nilai, menarik diri dari realita, inisiati atau ide ide yang negatif, kondisi fisik sehat, dapat berkomunikasi verbal, kooperatif dan mengikuti kegiatan. d) Stimulasi sensori

Maksudnya adalah menstimulasi sensori pada klien yang mengalami kemunduran sensoris. Tujuan meningkatkan kemampuan sensori, memusatkan perhatian, kesegaran jasmani, dan mengekspresikan perasaan.

e) Penyaluran energi Maksudnya adalah untuk menyalurkan energi secara konstruktif. Tujuan menyalurkan energi dari destruktif menjadi konstruktif, mengekspresikan perasaan dan meningkatkan hubungan interpersonal.

4. Tahap tahap dalam terapi aktivitas kelompok. Menurut Yalom yang dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1995, fase fase dalam terapi aktivitas kelompok adalah sebagai berikut : a) Pre kelompok Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang menjadi leader, anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut dilaksanakan, proses evaluasi pada anggota dan kelompok, menjelaskan sumber sumber yang diperlukan kelompok seperti proyektor dan jika memungkian biaya dan keuangan. b) Fase awal Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi yaitu orientasi, konflik atau kebersamaan. a. Orientasi. Anggota mulai mengembangkan system social masing masing, dan leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak dengan anggota. b. Konflik Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan terjadi.

c. Kebersamaan

Anggota mulai bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota mulai menemukan siapa dirinya. c) Fase kerja Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan engatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina, bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, kecemasan menurun, kelompok lebih stabil dan realistic, mengeksplorasikan lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok, dan penyelesaian masalah yang kreatif. d) Fase terminasi Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses. e) Peran Perawat dalam terapi aktivitas kelompok. a. Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok. b. Sebagai leader dan co leader c. Sebagai fasilitator d. Sebagai observer e. Mengatasi masalah yang timbul pada saat pelaksanaan

B. PERSIAPAN Analisa situasi meliputi : waktu pelaksanaan, jumlah perawat, pembagian tugas perawat, alat bantu yang dipakai dan persiapan ruangan.

a. Uraian tugas perawat (therapist): 1. Leader dan Co-Leader bertugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari dinamisasi kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok untuk menetapkan tujuan dan membuat peraturan. Pemimpin dan anggota kelompok mendiskusikan apa yang harus dilakukan selanjutnya, memotivasi kesatuan kelompok dan membantu kelompok untuk berkembang dan bergerak secara dinamis

2. Fasilitator bertugas memberikan stimulus kepada anggota kelompok lain agar dapat mengikuti jalannya kegiatan dalam kelompok 3. Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya aktivitas therapi, peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta yang drop out (tidak dapat mengikuti kegiatan sampai selesai) b. Proses Seleksi 1. Berdasarkan observasi prilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat 2. Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai prilaku klien sehari-hari serta kemungkinan dilakukan therapi kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan 3. Melakukan kontak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan dilakukan c. Program antisipasi masalah Suatu intervensi keperawatan yang dilakukan dalam mengantisipasi keadaan yang bersifat darurat atau emergensi yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan kegiatan therapi aktivitas kelompok.

C. KEGIATAN 1. Perkenalan Kelompok perawat memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin oleh leader. Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok.

2. Kegiatan Klien mencari pasangan yang tepat, melakukan perkenalan dengan pasangan, melakukan perkenalan di depan kelompok, melakukan perintah permainan dan memberikan jawaban atas pertanyaan dari kelompok. 3. Evaluasi Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya tentang kegiatan

4. Terminasi/Penutup Leader menjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan kembali tujuan dan manfaat kegiatan.

D. KRITERIA EVALUASI Presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai dengan yang direncanakan : 80% klien mendapatkan pasangan yang tepat 90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas dirinya 90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas klien lain 80% dari jumlah klien mampu bersepon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara 80% dari jumlah klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan 70% dari jumlah klien mampu menterjemahkan perintah permainan 70% dari jumlah klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditentukan 50% dari jumlah klien mau mengemukakan pendapat tentang therapi aktifitas kelompok yang dilakukan E. RENCANA PELAKSANAAN 1. Peserta : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

9. 10.

2. Masalah Keperawatan Menarik diri Harga diri rendah Halusinasi

3. Persiapan a. Analisa Situasi 1) Waktu Pelaksanaan Hari/Tanggal Waktu Alokasi Waktu : Jumat, 08 Februari 2013 : 15.00-16.00 WIB : Perkenalan dan pengarahan (5 menit) Permainan (35 menit) Ekpress feeling (15 menit) Penutup (5 menit)

2) Jumlah Perawat Mahasiswa Perawat Ruangan : 5 Orang : 1 orang

3) Pembagian Tugas Leader Co leader : Tri hanggara W : Beni Dwi J

Motifator

:Ria Intan D T Matilda Miranti S

Observer

: Erni Nur S

4) Alat Bantu Tape Recorder & Kaset Gambar-gambar berpasangan Kotak kecil Balon dan kertas perintah

b. Proses Pelaksanaan 1) Perkenalan Kelompok pembimbing perawat untuk memperkenalkan memulai diri, urutan ditunjuk oleh leader

menyebut

nama,

kemudian

menjelaskan tujuan dan peraturan kegiatan dalam kelompok Bila akan mengemukakan perasaannya klien diminta untuk lebih dulu menunjukkan tangannnya Bila klien ingin keluar untuk minum, BAB/BAK harus minta ijin pada perawat Pada akhir perkenalan pemimpin mengevaluasi kemampuan identifikasi terhadap perawat dengan menanyakan nama perawat yang ditunjuk oleh leader 2) Permainan Klien yang telah diseleksi dikumpulkan di tempat yang cukup luas dan duduk membentuk lingkaran

Leader memberikan urutan secara acak untuk berpasangan Selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai urutan yang telah

ditentukan sebelumnya. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan identitas selengkapnya : nama, alamat, serta ketrampilan yang dimiliki. Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya.
Kemudian co leader memutar kaset lagu dangdut untuk berjoget bersama

masing-masing pasangan dengan berpegangan tangan. Musik dihentikan selanjutnya masing-masing pasangan mengambil kertas undian. Setelah kertas perintah dibaca, masing-masing pasangan melakukan kegiatan yang diminta. Setelah selesai, Leader, Co leader dan motifator memotivasi klien lain untuk menanyakan sesuatu kepada klien yang sedang didepan. Kemudian klien yang didepan menjawab pertanyaan tersebut, setelah klien menjawab pertanyaan perawat memberikan reinforcement positip dan memperjelas apa yang dibicarakan /dijawab oleh klien. Kemudian dilemparkan kepada klien lagi sehingga klien memiliki persepsi yang positip/baik tanpa dipengaruhi oleh perawat. Kemudian dilanjutkan dengan pasangan berikutnya dengan cara yang sama Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara

3) Peer Review (Evaluasi Kelompok) Klien dapat mengemukakan perasaannya setelah memperkenalkan dirinya Klien mengemukakan perasaannya setelah disapa oleh klien lain dengan menyebut nama Klien mengemukakan pendapat tentang kegiatan ini 4) Terminasi Klien dapat menyebutkan kembali tujuan kegiatan

Leader menjelaskan kembali tentang tujuan dan manfaat dari kegiatan kelompok ini Antisipasi Masalah a. Penanganan klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok Memanggil klien Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab sapaan perawat atau klien yang lain b. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit Panggil nama klien Tanya alasan klien meninggalkan permainan Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi

c.

Bila ada klien lain ingin ikut Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada klien yang telah dipilih Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin dapat diikuti oleh klien tersebut Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi peran pada permainan tersebut

BAB III PELAKSANAAN

Tanggal Waktu Tempat Jumlah peserta Metode Pembagian tugas anggota Leader Co leader Motifator

: Jumat, 08 Februari 2013 : 15.00-16.00 WIB : Kakak Tua : 10 Orang : Bermain dan bernyanyi bersama.

: Tri hanggara W :Beni Dwi J :Ria Intan D T Matilda Miranti S

Observer Jalannya Acara

: Erni Nur S :

1. FASE PERKENALAN.

Mengumpulkan anggota diruang Perawatan Kakak Tua Perawat melakukan kontrak ulang untuk mengikuti TAK, perawat berhasil mengumpulkan 10 orang klien sesuai dengan rencana semula.

Leader memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kegiatan TAK kepada klien kemudian co leader menjelaskan aturan permainan.

2. FASE KERJA Klien yang telah diseleksi dikumpulkan di tempat yang cukup luas dan duduk membentuk lingkaran. Leader memberikan urutan secara acak untuk berpasangan Selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai urutan yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan identitas selengkapnya : nama,

alamat, serta ketrampilan yang dimiliki. Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya. Kemudian co leader memutar kaset lagu dangdut untuk berjoget bersama masingmasing pasangan dengan berpegangan tangan. Musik dihentikan selanjutnya masingmasing pasangan mengambil kertas undian. Setelah kertas perintah dibaca, masingmasing pasangan melakukan kegiatan yang diminta. Setelah selesai, Leader, Co leader dan motifator memotivasi klien lain untuk menanyakan sesuatu kepada klien yang sedang didepan. Kemudian klien yang didepan menjawab pertanyaan tersebut, setelah klien menjawab pertanyaan perawat memberikan reinforcement positip dan memperjelas apa yang dibicarakan /dijawab oleh klien. Kemudian dilemparkan kepada klien lagi sehingga klien memiliki persepsi yang positip/baik tanpa dipengaruhi oleh perawat. Kemudian dilanjutkan dengan pasangan berikutnya dengan cara yang sama. Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara 3. FASE TERMINASI. Melakukan sharing perasaan antara klien dan perawat tentang terapi aktifitas kelompok yang dilakukan. Klien : Merasa senang karena tidak melamun ,dapat mengurangi setress, terjalin keakraban,tidak membosankan,mengisi waktu luang Perawat : Merasa senang karena klien dapat kooperatif mengikuti kegiatan TAK. Merasa dibutuhkan oleh klien. Melakukan evaluasi : a. Proses 90 % klien berpartisipasi aktif. 90 % Klien dapat memberikan respon verbal dan non verbal yang sesuai dengan Stimulus external. 90 % Klien mampu bekerja sama dalam kelompok. 100 %Klien mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai. b. Hasil

90 % Klien mampu memperkenalkan diri /menyebutkan nama,alamt serta mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh klien lain. 80 % Klien mampu menyanyikan sebuah lagu. 50 % Klien mampu mengungkapkan manfaat kegiatan TAK. Terakhir leader menyimpulkan manfaat seluruh kegiatan dan memotifasi kepada klien untuk melakukan kegiatan serupa

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

Disusun Oleh :
1. 2. 3. 4. 5.

TRI HANGGARA W H BENY DWI JATMIKO RIA INTAN D T ERNI NUR S MATILDA MIRANTI S

PRODI D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2013

LEMBAR PENGESAHAN

Proposal Terapi Aktivitas Kelompok Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi

Telah disetujui pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing Lapangan

Pembimbing institusi

(HERU WALUYO . S.kep, Ns )

( DWI RETNOWATI. S.kep, Ns )

DAFTAR PUSTAKA

1. Herawaty, Netty, Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok, FIK Jakarta 1999 2. Gail Wiscart Stuart, Sandra J. Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, EGC, Jakarta 1995 3. Keliat, Budi Anna. 1999. Keperawatan Jiwa Terapi Aktifitas Kelompok. Jakarta: EGC